Dengan penuh penasaran dan sedikit gugup Fathir mulai membuka buku itu.
Halaman demi halaman dia buka satu persatu, mulai dari tentang riwayat hidupnya yang kedua orang tuanya berpisah dan akhirnya ia ikut bersama neneknya, mbok Minah. Hingga dihalaman yang bercerita tentang pertama pertemuannya dengan sahabatnya, Fathir.
Hari ini senin 5 september 2011, awal pertemuan ku dengan seseorang yang bernama Fathir,
Dia bertubuh tegap, tinggi besar dengan tato di punggung yang selalu dia tutupi.
(Hanya aku dan sahabat dekatnya saja yang tau, karena jika sampai guru BP tau mungkin kelar riwayat hidupnya di sekolah ini)
Karena postur, tampang dan keberaniannya, menjadikan dia anak yang ditakuti di sekolahnya.
Dia adalah centeng sekolah.
Membaca tulisan itu Fathir merasa tersanjung dan teringat masa-masa perkenalannya dengan Rey.
Waktu itu saat terjadi tawuran antar sekolah, Rey yang anak baik-baik saat itu sedang asyik membaca buku, dia tak tau menau tentang tawuran yang tengah terjadi di sekitar alun-alun kota Pekalongan. Melihat Rey yang duduk sendiri pihak musuh langsung mendatangi Rey yang masih berseragam satu sekolah dengan Fathir. Tanpa basa-basi Rey langsung dikeroyok oleh rombongan STM Wiradesa musuh bebuyutan STM dimana Rey sekolah.
Melihat anak satu sekolah dihajar musuh, rombongan Fathir langsung datang menolong.
Dan sejak saat itulah Rey berkenalan dengan Fathir, centeng sekolah.
Bersahabat dengan Fathir, lambat laun cara pandang Rey mulai berubah, semula Rey ingin menjadi anak baik-baik, sejak saat itu Rey mulai kenal dengan dunia hitam.
Tak hanya berkelahi, minum minuman beralkohol pun sudah menjadi rutinitas kebiasaannya. Rey yang dulu rajin dan tergolong anak pintar kini menjadi Rey yang sering bolos dan menjadi anak nakal.
Apapun itu, menjadi sahabat Fathir mampu membuat hidup Rey jadi sangat berwarna. Rey merasa menemukan dunianya yang baru dan merasakan indahnya kenakalan dimasa-masa remaja.
*****
Walaupun kami memilih jalan hidup yang gelap dan berlumur dosa, namun Fathir adalah sahabat terbaikku.
Aku kenal betul siapa Fathir, sejahat-jahatnya kami, kami punya aturan main yang manusiawi....
Saat tawuran kami tak pernah membawa senjata tajam, walaupun pihak musuh membawa kami tak sedikitpun gentar...
Kami tak pernah melukai atau menghina saat musuh sudah tak berdaya....
Kami juga gak akan menyakiti perempuan walaupun itu dari pihak musuh...
Dan semabuk-mabuknya kami, kami tak pernah membikin onar...
Serusak-rusaknya prilaku kami, kami tidak pernah merusak prilaku orang...
Yaa, begitulah prinsip yang kami pegang...
Membaca tulisan itu Fathir teringat masa-masa saat remaja dulu, hari-hari yang begitu indah telah dilaluinya bersama sahabat sejatinya Rey. Tak terasa air mata Fathir menetes haru, membayangkan sosok tulus dari persahabatannya dengan Rey.
*****
Hari ini 7 desember 2011, aku berkenalan dengan bidadari yang selalu hadir dalam mimpiku, begitu indah terasa saat itu, hingga saat-saat perkenalan itu selalu terbayang-bayang di kepalaku.
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri. Aku mengenalnya saat aku datang ke rumah sahabatku itu, Fathir.
Melihat tulisan itu seketika mata Fathir terbelalak, jiwanya tersentak seakan tak percaya sahabatnya mencintai adiknya.
Sudah empat tahun lebih Rey menyimpan rahasia itu darinya.
"Tapi kenapa Rey menyembunyikan semua ini dariku...???
Bukankah Rey juga yang mendukung dan membela mati-matian saat Raisya hendak pacaran dengan Rendi...???
Kenapa Rey yang menjelaskan padaku agar aku merestui hubungan Raisya dengan Rendi sementara Rey sendiri mencintai Raisya...???" Hati Fathir terus bertanya-tanya.
Ditengah pikirannya yang kacau, Fathir kembali membuka lembar demi lembar buku itu.
Hari ini, 16 juli 2012 aku bersama sahabat-sahabatku, kami semua sedang asyik minum, tak disangka sahabatku Dodi yang sudah mabuk berat tiba-tiba mulutnya ngeromet dan berkata ngelantur, bahwa ternyata Dodi juga mencintai Raisya adik Fathir.
Mendengar itu, Fathir yang juga tengah mabuk tak terima.
Fathir berprinsip, sejahat-jahatnya dia, dia ingin adiknya pacaran dengan cowok baik-baik.
Berawal dari kata-kata ngelantur Dodi, karena sama-sama mabuk perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Dodi dihajar habis-habisan oleh Fathir.
Atas kejadian ini aku jadi sadar, aku tak mungkin bisa memiliki Raisya. Biarlah aku simpan dalam-dalam rasa cinta ini....
Lebih baik aku merasakan perihnya menyimpan rasa cinta, dari pada harus merasakan kehilangan sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudara...
Bukankah jika aku bersahabat dengan Fathir, aku tetap bisa dekat dengan Raisya...???
Sementara jika aku kehilangan Fathir, itu artinya aku juga kehilangan Raisya...
Bukankah mencintai tak harus memiliki...???
Jika melihatnya saja sudah bisa membuatku bahagia, kenapa harus ada ego untuk memilikinya...???
Dengan membaca tulisan itu, akhirnya Fathir tau mengapa selama ini Rey menyembunyikan perasaannya pada Raisya.
*****
Kini 7 desember 2015 genap empat tahun aku bersahabat dengan Fathir, Fathir yang dulu arogan kini sudah mulai berubah lebih dewasa.
Aku ikut bangga saat ini dia bisa masuk universitas teknik negeri di Bandung. Walaupun kami harus berpisah karena aku meneruskan kuliah di Pekalongan, karena aku ingin tetap membantu warung simbokku.
Tapi setidaknya tiap liburan aku masih bisa bertemu dengannya. Mendaki gunung bersama, begadang sampai malam atau sekedar kebut-kebutan di jalan raya.
Bagiku itu sudah cukup untuk mewarnai hidupku bersama Fathir.
"Fathir, you is my best friend..."
Semua kata-kata Rey dalam buku itu mampu membuat Fathir terharu dan bangga padanya.
"Kau benar-benar sahabatku Rey..." bibirnya berucap lirih. Sembari memeluk buku itu.
Namun disaat hatinya sedang haru biru, tiba-tiba hatinya tersentak mendengar ucapan petugas SAR yang sedang berbicara lewat HT dengan team SAR yang berada diatas, bahwa sebanyak 26 pendaki yang terjebak di Pasar Bubrah telah berhasil dievakuasi dengan selamat, dan saat ini mereka sedang berjalan menuju basecamp.
Mendengar itu hati Fathir sangat lega, wajahnya berbinar dan ingin segera menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Rey, aku bangga atas keberanianmu...
Kau mampu menyelamatkan banyak nyawa..." bibirnya kembali berucap lirih. Seakan siap menyambut dan siap memeluk kedatangan Rey.
****
Tak berapa lama, nampak di kejauhan iring-iringan lampu senter yang menandakan kedatangan para pendaki yang sudah dinanti-nantikan kedatangannya.
Namun saat rombongan itu telah tiba, Fathir tak menemukan sahabatnya itu, satu-persatu para pendaki itu memasuki basecamp diperhatikan, namun Fathir tetap tak menemukan Rey, bahkan ada sebagian yang dipapah karena cidera kaki, ada pula yang ditandu karena terserang hipotermia pun semua tak luput dari perhatian Fathir.
"Dimana kamu Rey...???" Ucapnya penuh kekhawatiran.
Ditengah kepanikan yang membakar jiwanya, tiba-tiba terdengar suara salah seorang team SAR yang sedang berbicara dengan anggota yang masih berada di atas. Bahwa telah ditemukan tiga pendaki dalam keadaan meninggal dunia, diduga karena terserang hipotermia.
Seketika hati Fathir terasa tersambar petir, mendengar kabar itu. Matanya terbelalak, ototnya serasa kejang dan denyut jantungnya berdebar kencang.
"Tidak... tidak... Rey akan baik-baik saja..." hatinya mencoba mengelak dari firasat di dalam pikirannya.
*****
Sementara itu, kabar meninggalnya tiga pendaki itu langsung menyebar di media sosial, grup-grup pendaki gunung di facebook langsung membicarakan kabar itu. bahkan berita itu sampai di redaksi televisi yang segera menerjunkan wartawannya untuk menuju tkp, basecamp Selo.
Hiruk-pikuk di basecamp semakin ramai, bahkan dari pihak kepolisian pun datang untuk meninjau dan mengkonfirmasi kabar itu.
Tepat pukul 00.00 dini hari petugas berhasil mengevakuasi ketiga jenazah pendaki itu. Para wartawan dari berbagai media berkumpul, petugas kepolisian, team SAR, team medis, dll. Semua sudah siap menunggu kedatangannya.
Tak terkecuali Fathir, dia berada paling depan untuk menunggu dan memastikan bahwa ketiga jenazah itu bukan sahabatnya Rey.
Saat rombongan team SAR yang membawa ketiga jenazah itu sampai, para petugas basecamp langsung menghalau, hanya team medis saja yang diperbolehkan masuk.
"Pak... tolong izinkan aku masuk...!!!
Aku ingin memastikan sahabatku...!!!" Teriak Fathir pada petugas yang berdiri di depan pintu.
Sementara para wartawan hanya bisa memotret dan mewancarai petugas SAR dari luar.
Fathir terus berusaha merengsek masuk, namun tetap dihalau petugas. Saat team medis selesai mengindentifikasi barulah Fathir diizinkan masuk.
Alangkah terkejutnya Fathir, saat melihat orang yang berbaring di kantong jenazah itu sahabatnya sendiri, Rey.
"Rey....!!!! Reeeyyy....!!!!" Fathir berteriak sekencang-kencangnya, sembari memeluk tubuh Rey.
Tak terbayang betapa sedihnya Fathir saat sahabat setianya telah terbujur kaku di perlukannya. Fathir terus berteriak histeris, tak menghiraukan sekelilingnya.
Lalu dengan pelan Fathir merebahkan tubuh Rey dengan pelan, dipukulnya dada Rey tiga kali keras sekali. Tak hanya itu, dibenturkannya kepala Rey ke kepalanya sembari menangis dan berucap,
"Seperti janjiku Rey, kalau sampai aku tau kau mencintai adikku, akan ku pukul dadamu tiga kali, dan ku benturkan kepalamu di kepalaku...
Rey... kenapa kamu tidak terus terang padaku Rey... kenapa...!!!???" Fathir terus berbicara sendiri penuh emosi, sembari menggoyang-goyangkan tubuh Rey.
"Seandainya aku tau kamu mencintai adikku, aku pasti merestui itu Rey...
Kau bukan orang jahat, kau orang terbaik yang aku kenal...
Kau sungguh orang baik Rey..." bibir Fathir terus berucap, namun nadanya mulai lemah seiring tubuhnya yang telah lunglai.
Fathir mulai tak sadarkan diri, dia berbaring lemas disamping jenazah sahabatnya.
*****
Sementara itu, berita meninggalnya tiga pendaki terus menyebar luas, di televisi dan di sosial media terus membicarakannya. Apalagi dari ketiga pendaki itu ada satu yang tidak memakai perlengkapan standar, hanya memakai kaos oblong, dan celana pendek tak memakai alas kaki.
Hal inilah yang mengundang banyak bully dari berbagai pihak.
"Pemirsa, kali ini kami melaporkan langsung dari basecamp pendakian gunung Merapi, dimana saat ini telah terjadi insiden badai besar yang menewaskan tiga orang pendaki yang diduga meninggal karena serangan badai dan udara dingin yang ekstrim..." ucap reporter televisi didepan kameramen untuk menyiarkan langsung kejadian itu.
"Tapi pemirsa, yang perlu digaris bawahi disini adalah perlunya kita meningkatkan standarisasi keselamatan dalam pendakian, selain dari pihak pengelola, dari para pendaki itu sendiri harus meningkatkan persiapan baik dari segi mental dan perlengkapan...
Disini bisa kita lihat masih ada saja seorang yang mendaki gunung dengan memakai perlengkapan yang tidak memenuhi standar , sehingga saat terjadi sesuatu diluar dugaan ini akan beresiko tinggi..." ucap reporter terus menjelaskan tentang kejadian ini.
Setelah diizinkan masuk untuk meliput, reporter itu lalu mendekat ke jenazah yang dimaksud tadi yang diikuti kameramen yang terus menshoot secara live, setelah mendekat ke jenazah itu, yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek, reporter tadi terus menjelaskan secara detail kondisi jenazah tersebut.
"Pemirsa, disini terlihat bahwa masih saja ada pendaki yang tidak mementingkan keselamatan dirinya sendiri, terlihat dari cara berpakaiannya yang alakadarnya. Bukankah di gunung kita harus membawa perlengkapan yang safety, mulai dari sepatu, baju hangat dan yang terpenting raincoat untuk melindungi kita saat terjadi hujan..." reporter tersebut terus berbicara secara live dan seakan ikut membully atas kejadian ini.
Namun saat Fathir berbaring di samping jenazah sahabatnya, sayu-sayu dia mendengar apa yang diucapkan reporter tadi.
Merasa tak terima Fathir langsung berdiri tepat di depan reporter yang sedang live.
"Maaf mbak, bukan ikut campur urusan pekerjaan anda...!!!
Apakah anda sudah konfirmasi dulu pada orang terdekat korban kenapa korban dalam keadaan demikian...???" Suara Fathir lantang melawan reporter tadi.
"Seharusnya mbak konfirmasi dulu pada saya atau saksi-saksi di TKP sebelum menjustifikasi seperti itu...!!!
Demi Allah saya saksinya, dia sahabat saya mbak... dia sependakian dengan saya...
Saya melihatnya sendiri dia sebelum kejadian itu berpakaian lengkap, lebih dari sekedar safety seperti yang anda ucapkan tadi..." Fathir menjelaskan dengan nada yang meninggi. Dia tidak terima sahabatnya disudutkan seperti itu, apalagi dia sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Mendengar ucapan Fathir, reporter tersebut hanya diam dan meminta maaf.
Dan tiba-tiba ada pendaki lain yang datang dan ikut menimpali ucapan Fathir.
"Yaa benar, aku saksinya dia pendaki terhebat...
Karena dialah nyawa kami selamat...
Dia yang tiba-tiba datang lalu berteriak kencang, memerintahkan agar kami harus segera turun karena hujan yang terjadi bukan hujan biasa, tapi badai besar yang ekstrim...
Raincoat yang aku pakai ini adalah pemberiannya saat raincoatku terhempas angin saat hendak aku pakai, dan dialah yang memberikan raincoatnya untuku..." ucap salah satu pendaki yang juga menjadi saksi kejadian itu.
"Yaa, sepatu ini juga sepatunya...
Saat kami hendak turun tapi sandal yang aku pakai putus dan dialah yang melepas sepatunya untuk diberikan padaku..."
Ucap salah satu pendaki lain lagi.
"Begitu pula dengan celana panjang ini, dia yang memberikan padaku...
Dia orang yang terbaik yang pernah aku temui..." ucap pendaki lainnya.
"Yaa, saat semua sudah turun, dia melihat sepasang senter yang bersinar dari atas, tepat sebelum puncak...
Setelah dipastikan ada dua pendaki yang baru saja turun dari puncak terjebak di lebatnya badai, dia nekat naik keatas untuk menyelamatkannya. Kami disuruh turun sementara dia mendaki ke arah dua pendaki tersebut...
Setelah itu kami tak tau lagi nasibnya...
Hingga akhirnya saat ini kita ketahui bersama, bahwa dia akhirnya gugur bersama keberaniannya..." ucap para pendaki yang menyaksikan sendiri aksi heroik seorang Rey.
*****
Sementara itu, pagi pukul 06.00wib berita itu telah menyebarkan di berita televisi.
Betapa sedihnya Raisya, melihat berita musibah itu. Tubuhnya seketika bergetar, menggigil tak kuasa menerima kenyataan ini. Air matanya tak kuasa terbendung, menggambarkan betapa kesedihan yang tengah dialami.
"Rey..." bibirnya berucap lembut memanggil nama seseorang yang selama ini memberi perhatian penuh padanya.
Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu yang menandakan ada orang yang datang.
Lalu dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, Raisya mencoba berdiri, melangkah ke pintu depan.
Setelah dibuka, betapa kagetnya dia, melihat sosok yang tengah berdiri dihadapannya.
Raisya langsung memeluknya. Erat, erat sekali hingga berapa lama tak terlepas.
"Yang sabar yaaa Sya..." laki-laki itu berucap lirih sembari membelai rambut Raisya yang masih berada dalam pelukannya.
"Kenapa ini harus terjadi pada Rey kak...???" ucap Raisya menangis sesunggukan.
Fathir tak mampu berucap apa-apa lagi, hanya bisa memeluk erat adik yang sangat dicintainya.
Lalu Fathir melepas pelukan Raisya, dan dengan pelan memberikan bungkusan kresek hitam titipan dari Rey.
"Baca ini, ini satu-satunya titipan dari Rey untuk kamu Sya..." ucap Fathir pelan lalu pergi memasuki kamarnya dengan langkah yang gontai tak berdaya.
Semantara Raisya tetap berdiri didepan pintu memandangi bungkusan itu.
Lalu Raisya melangkah masuk, dibawanya bungkusan itu ke dalam kamarnya.
Sesampainya di kamar, dibukanya bungkusan itu yang berisi catatan harian Rey, seseorang yang dengan tulus mencintainya selama ini.
Dibukanya halaman demi halaman yang menceritakan tentang kejadian-kejadian yang dialami Rey. Hingga tangannya berhenti di satu halaman yang menceritakan awal pertemuannya dengan dirinya.
Hari ini aku seperti bermimpi, bertemu dengan seseorang yang selama ini ada dalam mimpiku...
Aku tak percaya bahwa bidadari dalam mimpiku itu nyata...
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri...
Aku yakin suatu saat aku bisa berkenalan dengannya...
Dan untuk saat ini aku cukup senang bisa memandanginya...
Tulisan dari Rey itu mampu membuat bibir Raisya tersenyum, lalu tangannya kembali membuka ke lembar-lembar berikutnya.
Hari ini 7 desember 2011, aku berkenalan dengan bidadari yang selalu hadir dalam mimpiku, begitu indah terasa saat itu, hingga saat-saat perkenalan itu selalu terbayang-bayang di kepalaku.
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri. Aku mengenalnya saat aku datang ke rumah sahabatku itu, Fathir.
Membaca itu, angan Raisya terbang kembali ke era dimana dia baru pulang sekolah yang sedang memakai seragam putih biru, diajak kenalan oleh teman kakaknya. Memang dalam hati Raisya moment itu tak berarti apa-apa, namun baru dia sadari ternyata moment yang tak berarti itu sungguh sangat berkesan bagi seorang Rey.
*****
Hari ini 14 februari 2011 aku sengaja menyelipkan sebatang cokelat di tas sekolahnya. Karena aku tau saat ini dia belum punya pacar dan ingin sekali dapet cokelat seperti teman-teman yang lain.
Membaca itu dia baru sadar kalau selama ini dia yang memberikan perhatian penuh padanya, untuk kebahagiaannya.
Raisya terus membuka lembar demi lembar buku catatan itu, yang menjadikannya tau tentang pengorbanan Rey selama ini.
Bahkan dialah yang meyakinkan pada Fathir saat Raisya berpacaran dengan Herman. Fathir yang semula tidak setuju atas penjelasan Rey akhirnya mengizinkan Raisya pacaran, walaupun akhirnya hubungan itu kandas ditengah jalan.
Hingga akhirnya Raisya bertemu dengan Rendi, Rey lah yang berusaha membujuk Fathir agar hubungannya direstui. Padahal sesungguhnya Rey sendiri sangat mencintai Raisya.
Namun bagi Rey, kebahagiaan Raisya jauh lebih penting dari kebahagiaan dirinya sendiri. Walaupun dalam hatinya hancur melihat orang yang dicintainya bersama orang lain.
*****
Hari ini 12 februari 2016 aku sangat merasakan kesedihan yang mendalam, dia yang aku cinta sedang sakit di rumah sakit...
Saat aku hendak menjenguknya, ternyata Rendi telah ada bersamanya...
Terpaksa aku harus menunggu diluar hingga Rendi pulang...
Tapi ternyata buah yang aku bawa sama persis seperti buah yang Rendy bawa...
Dan yang lebih menyakitkan, Raisya lebih memilih memakan buah yang dibawakan Rendi...
Membaca itu Raisya teringat saat di Rumah Sakit, walau dia tak pernah menganggapnya ada, namun Rey lah yang setia menemaninya sampai semalaman di Rumah Sakit.
Rey akan memberikan segalanya untuk kebahagiaannya, walaupun selama ini selalu diabaikannya.
Setelah Raisya putus dengan Rendi, barulah Raisya sadar, bahwa Rey lah yang selama ini dengan tulus mencintainya, menantinya...
selalu ada disaat dia membutuhkannya...
Namun disaat Raisya mulai mencintainya, Rey harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Raisya terus membuka lembar demi lembar buku itu, yang menjelaskan betapa sayangnya Rey padanya. Setiap bait kata menceritakan keagungan cintanya yang menguras air mata untuk dibaca.
Hingga diakhir tulisannya,
"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."
Raisya menangis tersedu, merasakan penyesalan yang mendalam.
Ditutupnya buku itu lalu dipeluknya erat-erat.
Kemudian Raisya membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya.
Raisya memejamkan mata, hingga dari sudut matanya meneteskan air mata yang mengalir melewati kening hingga telinga. Merasakan setiap hembusan nafasnya sendiri, untuk menenangkan jiwanya, untuk mendamaikan hatinya.
Raisya mencoba terlelap, berharap ini semua hanya mimpi.
Yaa, semoga ini semua hanya mimpi belaka...
=============SEKIAN=============
Suasana mendung menggelayut tanpa sudut.
Nampak dua anak manusia berdiri diantara ruang buram yang berselimut kabut.
Dia adalah Rey dan Raisya.
Dua anak manusia yang memiliki cinta diwaktu yang berbeda.
Wajah Rey nampak lusuh kumal, matanya sayu menatap Raisya tak seperti biasa.
Kedua tangannya memegang pipi Raisya lalu mencium keningnya penuh cinta.
Tanpa kata Rey membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi darinya. Melangkah pelan lalu hilang diantara kabut yang tebal.
"Rey mau kemana Rey...???" Teriak Raisya dengan wajah cemasnya.
Namun Rey tak menghiraukan, tetap melangkah tenang menembus kabut yang buram.
"Rey, Rey jangan tinggalin aku Rey..." Raisya berteriak sekencang-kencangnya. Mengejar Rey yang menghilang ditengah hamparan kabut.
Namun Raisya terus mencarinya dengan memanggil-manggil namanya, ditengah kepanikannya, tak sengaja Raisya terperosok ke dalam jurang yang dalam.
"Aaaahhhh....!!!!!" Raisya menjerit keras, tubuhnya jatuh kedalam jurang yang dalam.
Tapi,
Seketika Raisya terbangun dari tidurnya, yang ternyata itu hanya mimpi belaka.
"Alhamdulillah, ternyata cuma mimpi..." gumam Raisya dalam hati sembari nafasnya yang tersengal-sengal.
Tapi alangkah kagetnya Raisya saat lampu led kecil di handphone nya menyala yang menandakan ada pesan masuk untuknya.
Setelah dibuka, ternyata ada chat bbm dari Rey. Yang isinya sebait puisi.
"PERGI"
Jika kedatanganmu tak diharapkan,
Jika keberadaanmu hanya akan membawa masalah baginya,
Hanya ada satu pilihan, "PERGI"
Waktu 4 tahun sudah cukup untuk membawa beban di hatimu...
Turunkan beban itu, lalu "PERGI"
Terkadang "PERGI" akan terasa lebih baik dari pada harus bertahan memperjuangkan hal yang menyakitkan...
Bergegas "PERGI" melangkah menjauh darinya...
Karena "PERGI" bukan berarti meninggalkan, bukan berarti tak peduli...
"PERGI" adalah belaian terlembut untuk orang yang kita cintai yang tak mungkin kita miliki...
-Reyhan-
*****
Tak terasa air mata Raisya membasahi pipinya, memikirkan Rey yang selama ini ia abaikan.
"Maafin aku Rey..." bibir Raisya bergetar, berucap lirih dengan tatapan kosong dengan pikiran yang menuju pada penyesalan hatinya.
Namun ditengah lamunannya, ia terpikir sepintas ingin menemui Rey untuk menjelaskan penyesalannya.
"Yaa, aku harus menemui Rey, aku harus kesana..." hati Raisya berucap lirih, lalu segera bergegas menuju tempat dimana Rey biasa berada.
Tempat itu adalah warung mbok Minah, tempat Rey selalu membantu simboknya yang menekuni usaha warung makan nasi megono.
*****
Pagi itu udara masih terasa dingin, suasana kampung masih cukup sepi, lalu lalang kendaraan masih jarang, namun suasana sepi itu tidak berlaku untuk warung mbok Minah, warung yang terletak di pinggiran kampung yang berbatasan dengan sawah yang membentang.
Warung Mbok Minah yang sejak pagi buta warungnya sudah ramai oleh orang-orang yang ingin membeli nasi bungkus daun pisang untuk sarapan, dengan menu spesial megono.
Yaa, megono adalah masakan khas Pekalongan, sebangsa urap yang terbuat dari nangka muda yang dirajang kecil-kecil yang dimasak dengan bumbu dan rempah-rempah. Yang membuat nasi megono ini menjadi sangat sedap dan pas sebagai menu untuk sarapan.
Apalagi nasi megono buatan mbok Minah ini, dengan racikan dan bumbu yang tepat, serta bungkus daun pisang, membuat megononya menjadi idola bagi orang-orang yang ingin membelikan sarapan untuk anggota keluarganya, bahkan tak jarang banyak pembeli yang datang dari kampung sebelah, sengaja ingin menikmati megono made in mbok Minah.
*****
Namun saat mbok Minah sedang sibuk melayani pembeli yang sudah ngantri, tiba-tiba Raisya datang dengan agak terburu.
Seperti biasa, setelah sepedanya diparkir di depan warung, Raisya langsung masuk ke warung mbok Minah.
"Mas Rey... mas Rey...
Mbok, Mas Rey nya ada mbok...???" Tanya Raisya dengan tergesa-gesa.
Belum sempat dijawab oleh mbok Minah yang sedang sibuk melayani pembeli, Raisya langsung menuju halaman belakang, ke tempat dimana Rey berada.
Namun Raisya tak menemukan Rey, tempat menyuci piring yang biasa Rey membantu simboknya juga terlihat kosong tanpa Rey.
Lalu Raisya menuju bangku di belakang yang menghadap sawah juga tak ditemuinya Rey.
Raisya duduk di bangku yang terbuat dari bambu itu, dimana Rey biasa duduk sembari memandangi pematang sawah yang kadang sesekali menulis sesuatu di buku hariannya.
"Kamu dimana Rey...???
Kini saat aku benar-benar membutuhkan kamu, tapi kau malah pergi ninggalin aku Rey..." Hati Raisya berucap lirih.
"Rey sedang mendaki gunung Ndok..." jawab mbok Minah yang tiba-tiba duduk disamping Raisya, sembari membelai rambutnya.
(Ndok adalah nama panggilan khas Pekalongan untuk anak perempuan yang masih belia).
"Mendaki ke gunung mana mbok...???
Kok mas Rey gak bilang-bilang siihh...???" Tanya Raisya dengan nada agak sebel.
"Bukankah Rey pergi sama abangmu Fathir..???" Jawab mbok Minah singkat.
"Kok kak Fathir juga gak bilang-bilang aku mbok...???" Ucap Raisya dengan wajah cemberut.
"Seng sabar ndok...
Paling besok sore juga mereka sudah pulang..." ucap Mbok Minah menenangkan.
"Tapi aku takut kalo pulang nanti sikap Rey berubah mbok...
Soalnya tadi pagi Rey bbm yang gak biasanya..." ucap Raisya curhat pada mbok Minah dengan nada yang agak panik.
"Bukankah kamu sudah terbiasa hidup tanpa Rey...???" Jawab mbok Minah singkat sedikit menyindir. Karena mbok Minah tau betul kalau selama ini Raisya sering mengacuhkan Rey.
"Tapi sekarang aku sadar kalo aku ternyata butuh Rey, mbok..." Raisya menjelaskan.
"Yasudah, aku yakin semua akan baik-baik saja... tunggu saja saat Rey pulang besok, nanti simbok bantu jelaskan sama Rey..." ucap mbok Minah menenangkan.
Pagi itu hati Raisya sungguh gelisah, tak biasanya Raisya sekhawatir itu, Raisya yang semula cuek pada Rey tapi kali ini ada kegelisahan dalam hatinya.
Rey yang selama ini memberi perhatian penuh padanya, kini tak biasanya menulis kata-kata tentang "pergi". Entah apa itu arti kata-kata itu. Yang jelas kata-kata itu mampu membuat Raisya cemas.
"Sekarang aku baru sadar Rey, kamulah yang selama ini mampu bertahan memberikan perhatian yang tulus padaku meski kadang perhatian itu sering aku abaikan....
Maafin aku Rey..." ucap Raisya dalam hati.
*****
Sementara itu, di jalur pendakian gunung Merapi, Rey dan Fathir sedang berjalan melakukan pendakian menuju puncak gunung Merapi via Selo.
Mereka berdua sudah terbiasa mendaki gunung. Karena mereka sudah sahabatan sejak kecil dan kebetulan mempunyai hobi yang sama.
Ransel besar menempel di punggung mereka masing-masing, nafas yang berderu yang diiringi detak jantung yang memompa darah mengalir lebih cepat. Membuat keringatnya bercucuran lebih deras.
Kadang sesekali mereka istirahat untuk sekedar minum dan meregangkan otot.
Yaa, pendakian gunung Merapi tergolong jalur pendakian yang cukup ekstrim, bagaimana tidak gunung yang keliatannya kecil namun jalurnya penuh tanjakan yang menguras tenaga, apalagi jalur setelah batas vegetasi, disana selain treknya yang terjal juga penuh bebatuan dan pasir yang licin.
Tapi bagi mereka semua itu tak menjadi penghalang baginya, karena baik fisik dan perlengkapan, mental mereka juga sudah teruji.
*****
Sabtu, di pos 3 atau sering disebut Watu Gajah dimana ditempat ini terdapat batu besar dan disekitarnya terdapat tanah yang datar yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda, dari sini ke pos Pasar Bubrah sudak tidak terlalu jauh.
Saat itu waktu menandakan pukul 4 sore, Fathir sedang asyik memasak di depan tenda sembari menikmati secangkir kopi hitam yang masih panas, dengan sebatang rokok yang selalu membuat hangat suasana.
Semantara Rey lebih sibuk dengan buku catatannya, bermain dengan pena yang tulus membelai selembar kertas putihnya. Sembari sesekali menghisap rokok kretek dan memainkan asapnya.
Wajahnya tenang, pandangannya sesekali menerawang menembus kabut yang menggumpal di kejauhan. Yang sesekali tangannya mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Kaya'nya ada pujangga yang sedang nulis puisi niihh...???" Celoteh Fathir sambil mengaduk sayur sop yang tengah dibuatnya.
"Aaahh lu koki restoran bintang tujuh berisik aje luuhh..." jawabnya balik mengejek.
Namun Fathir sengaja tak menimpalinya lagi. Lebih memilih senyum dan menertawakannya.
Sementara Rey lebih memilih meneruskan menulis karena suasana waktu itu terlalu syahdu untuk dilewatkan tanpa mengutarakan isi hatinya lewat pena.
Tapi entah mengapa, di ending tulisan Rey menuliskan kata-kata:
"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."
Rey nampak tertegun, wajahnya sendu seperti ada sesuatu yang dipendam selama ini.
"Thir, seandainya aku mencintai adikmu, apa yang akan kamu lakukan...???" Rey tiba-tiba bertanya pada Fathir.
Fathir seketika terperanjat, tak percaya atas yang diucapkan sahabatnya. Cukup lama Fathir terdiam, lalu dia menjawab.
"Aaahh kaya' gak tau aja, Raisya pacaran sama Rendy saja aku gak setuju, apa lagi sama kamu yang aku sudah tau seperti apa busuk-busuknya kamu..." Fathir menjawab enteng, menganggap sahabatnya Rey bercanda.
"Tapi seandainya itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan ke aku...???" Rey kembali bertanya.
"Kenapa siihh kamu Rey...???
Seandainya itu terjadi, aku akan pukul dadamu tiga kali dan membentur-benturkan kepalamu di kepalaku.... puas kamu Rey... hahaa..." jawabnya bercanda.
Namun Rey tetap diam, nampak ada kesedihan yang mendalam yang selama ini ia simpan.
Tak bisa dipungkiri sebenarnya Rey sudah jatuh hati pada Raisya dari bertahun-tahun yang lalu, tapi Rey lebih memilih menyimpan perasaannya karena ia tak enak hati jika sahabatnya Fathir mengetahui, apalagi Raisya selama ini cuek padanya dan lebih memilih Rendy sebagai kekasihnya.
Namun melihat wajah Rey yang tetap termenung, Fathir mulai curiga atas apa yang diucapkan Rey.
Saat Fathir ingin menginterogasi lebih dalam, tiba-tiba cuaca menjadi lebih ekstrim.
kabut tebal bergumpal datang disertai angin kencang. tak butuh waktu lama, seketika hujan mengguyur sangat deras.
Mereka pun segera mengemas peralatan masaknya, lalu segera masuk ke tenda.
Tapi hujan tak kunjung reda, malah angin terasa makin kencang. Dengan raincoat warna merah yang kebal air, Rey nekat keluar tenda untuk mengecek keadaan.
Namun cuaca tak seperti biasa, feeling Rey berkata,
"Ini bukan hujan biasa, ini badai besar...!!!"
Lalu Rey kembali masuk ke tenda, memberi tau pada Fathir tentang cuaca diluar.
"Thir, aku yakin ini badai...
Kita harus mengambil keputusan...
Lebih baik kita kemas tenda kita lalu turun..." ucap Rey dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tapi kita belum muncak...???" Jawab Fathir keberatan.
"Sementara jangan pikirkan muncak dulu, ini tidak memungkinkan...
Ayoo kita berkemas lalu turun...!!!" Rey memberi saran.
Lalu Fathir mencoba melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya nongol keluar dari pintu tenda persis seperti kepala kura-kura yang keluar dari tempurungnya.
Seketika wajah Fathir berubah penuh kecemasan, melihat hujan yang turun tak seperti biasanya. Bahkan tenda yang biasanya baik-baik saja saat hujan, kali ini tenda mereka sering terhempas tertiup angin.
"Oke kalo begitu..." jawab Fathir dengan wajah panik.
Lalu mereka langsung mengemasi barang-barangnya. Tenda segara dibongkar dan dimasukkan ke keril. Dan setelah semua rapi, mereka pun siap berjalan turun.
Namun saat mereka hendak turun, Rey melihat di sekitar area Pasar Bubrah masih terdapat tenda dan banyak pula pendaki yang terjebak disana.
Rey berubah pikiran, di ingin menolong mereka yang masih berada diatas.
"Thir, kamu turun duluan...
Kasih tau para pendaki lain yang masih ngecamp di bawah untuk segera turun, karena cuaca terlalu ekstrim..." ucap Rey sembari menepuk pundak Fathir.
"Gila kamu Rey, diatas sangat berbahaya, belum genap jam 5 sore tapi langit sudah sangat gelap seperti ini, dan angin juga sangat kencang itu sangat berbahaya...
Ayoo kita turun bareng aja...!!!" Fathir mengajak Rey sembari menarik tangannya agar segera turun.
"Tidak Thir, aku harus keatas, banyak pendaki yang terjebak disana... kamu turun dulu kasih tau yang lain...
Ini pilihan yang terbaik Thir..." ucap Rey menyakinkan sahabatnya. Dibawah derasnya hujan dan sabetan angin yang mampu memporak-porandakan hutan.
Sesaat semua terdiam, menatap satu sama lain.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu Rey..." ucap Fathir dengan nada yang agak berteriak bersaing dengan suara guyuran hujan yang semakin deras.
Di tengah kepanikan tiba-tiba pohon sengon disamping mereka roboh diterjang angin.
Lalu tanpa pikir panjang Rey mendorong tubuh Fathir untuk segera turun.
"Cepat turun Thir cepat..." teriak Rey pada sahabatnya. Namun Fathir tetap diam.
Keduanya kembali terdiam, Rey mebuka kupluk raincoatnya dan membiarkan rambut panjangnya basah tersiram air hujan. Lalu Rey memeluk Fathir erat sembari berkata.
"Aku akan baik-baik saja sobat, kita harus menyelamatkan mereka...
Kita ketemu di basecamp, oke...!!!???" lalu Rey melepas pelukannya, merogoh kantong raincoatnya dan mengambil buku yang sudah terbungkus kantong kresek hitam.
"Seandainya ada sesuatu terjadi, titip ini buat Raisya..." ucap Rey sembari memberikan buku itu pada Fathir.
Mereka terdiam saling memandang. Dibawah guyuran air hujan mereka tak biasanya merasakan hal seperti ini.
Selang berapa lama, tanpa berucap lagi, Rey membalikkan badan dan menuju ke arah Pasar Bubrah.
Semantara Fathir berlari menuju bawah untuk memberi informasi pada pendaki lain untuk segera berkemas dan turun.
Ditengah ketegangan jiwanya, namun Fathir yakin Rey akan baik-baik saja, dia teringat sudah sering Rey mengambil keputusan ekstrim, walau membahayakan nyawanya sendiri namun Rey tetap baik-baik saja.
Dia teringat dulu waktu masih sekolah, saat terjadi tawuran dan mereka terkepung, Rey pernah menyelamatkan teman-temannya.
Dia menyuruh Fathir dan teman-teman yang lain untuk pergi, sementara dia menghadang musuh hanya dengan pentungan kayu seorang diri, saat Fathir dan yang lain sudah lari jauh tak terlihat, Rey yang sudah membuat musuhnya kesal, seketika lari dengan jurus langkah seribunya, sehingga musuh lebih memilih mengejar Rey dibanding Fathir, namun dengan tubuh Rey yang ramping membuat Rey mudah lari kesana-kemari melompati pagar pekarangan rumah warga dan akhirnya Rey lolos dari kejaran musuh.
Yaa begitulah karakter Rey yang senang mengambil resiko.
*****
Sementara itu, Fathir terus berjalan menuruni jalur menuju pos 2, di sana tenda yang masih berdiri yang kemudian Fathir berteriak kencang agar semua pendaki bergegas turun ke basecamp.
Seketika semua sigap berkemas dan membongkar tendanya masing-masing.
Hujan dan angin masih sangat kencang, banyak pohon-pohon yang roboh yang membuat jalur menjadi teramat sulit untuk di lalui.
Tepat jam 8 malam semua pendaki berhasil evakuasi ke basecamp. Namun ada beberapa pendaki yang masih terjebak diatas karena cuaca yang sangat ekstrim.
Team SAR segera diterjunkan untuk mengevakuasi pendaki yang masih terjebak diatas, suasana kepanikan nampak di basecamp, radio HT selalu berbunyi memberi informasi satu sama lain antar petugas team SAR.
Fathir dan beberapa pendaki lain yang baru saja sampai di basecamp langsung disambut oleh para relawan basecamp, diberi minuman hangat, sembari diinterogasi tentang keadaan diatas.
Untuk memberikan informasi kepada team SAR yang sedang menuju ke atas.
Setelah semua selesai, Fathir dan pendaki lain di persilakan istirahat.
Sementara suasana di basecamp masih tetap sibuk penuh kepanikan. Komunikasi lewat HT masih saling bersautan antar team SAR. Dan tentunya kabar badai di lereng Merapi pun langsung menyebar lewat media sosial.
Namun ditengah kepanikan itu, Fathir dengan tubuh yang lelah dengan pelan merebahkan tubuh di tikar yang telah disediakan.
Pikiran menerawang menuju pada sahabat yang masih diatas sana.
"Aku yakin kamu baik-baik saja Rey..." hatinya berisik lirih.
Pikiran terus menerawang membayangkan sahabatnya, lelah yang merobek jiwanya tak mampu melelapkan matanya untuk sekedar melepas lelah. Pikiran tetap tertuju pada Rey.
Seketika lamunannya tersentak saat Fathir teringat pada seonggok buku yang terbungkus kantong kresek hitam yang berada disampingnya.
Rasa penasaran berkecamuk dalam hatinya, ia pun ingin segera membuka dan ingin tau tentang tulisan Rey selama ini.
============BERSAMBUNG===========
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI
Dijamin akan lebih seru dan penuh haru..!!!
Tepat jam 7 pagi kami mulai bergegas meninggalkan pos Pangasinan ini, dengan diawali do'a dan semangat yang kembali membara setelah terlelap di bawah pohon Edelweis selama satu jam lebih.
Perjalanan menuruni sedikit lembahan yang dilanjutkan trek yang sangat terjal, disisi kiri-kanan jalur ditumbuhi edelweis yang saat ini sedang berbunga dan merekah. Membuat jalur yang curam pun terasa lebih menyenangkan.
Terlebih buat gue pribadi, dengan tangan yang selalu menggandeng Ayuni, apalagi saat ditanjakan yang curam, gue selalu menarik tangannya dari atas dan langsung memeluknya sesampainya dia berhasil sampai atas.
Puncak memang sudah terlihat sejak dari pos Pangasinan tadi, tapi saat dilalui ternyata begitu melelahkan, dan membutuhkan waktu hampir satu jam perjalanan.
Memang puncak Ciremai tidak bisa disepelekan.
Tetapi, setelah perjuangan yang begitu melelahkan, setelah pergulatan dengan debu dan keringat yang menjadi lumpur di kulit lalu mengering terpapar, setelah nafas yang menderu-deru yang mengiringi langkah demi langkah, akhirnya kini tepat jam 8 lebih 5 menit gue dan team berhasil menggapai puncak tertinggi gunung Ciremai.
Seketika kami berlima langsung sujud syukur di titik tertinggi di Jawa Barat ini. Setelah sujud dan mengucap Allahu Akbar sekenceng-kencengnya, kami saling berpelukan menandakan kebahagiaan setelah pergulatan lama dalam pencapaian ini.
Semua letih dan lelah terbayar sudah, keindahan yang tersaji mampu melunasi perih getir penggapaian puncak ini.
"Ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Tak berapa lama bendera segera dikibarkan, bendera Merah Putih berada dititik tertinggi sementara bendera Binzah berkibar bersama dibawahnya. Dan tak lupa kami langsung berfoto bersama, Mengabadikan moment-moment yang sangat berharga ini.
Botol coca cola sebagai kuncian segera dibuka menandakan kesuksesan dalam pendakian.
Segar rasanya meneguk coca cola yang masih berbuih di ketinggian ini, tanpa sadar Ayuni terlupakan yang sedari tadi berdiri menyaksikan keindahan alam dari puncak gunung ini.
Lalu aku mendekatinya,
"Selamat yaa,,, sekarang kita sudah di puncak... dan kita telah berhasil..." ucap gue sembari menyodorkan botol coca cola untuk Ayuni.
"Makasih mas Ambonk, gue bener-bener terharu, seneng banget bisa berdiri disini... ini yang pertama kalinya buat gue..." ucap Ayuni dengan tatapannya memancar ke segala sudut keindahan di puncak gunung ini.
"Dan semoga akan ada puncak-puncak yang akan teraih kelak oleh pijakan kakimu... karena keindahan Indonesia gak cuma ada disini..." jawab gue memotong ucapan Ayuni.
Saat gue sedang asyik ngobrol dengan Ayuni tiba Adrian datang.
"Bonk yuuk kita ikut upacara disana..." ajak Adrian sambil menunjuk di dataran yang ada di sekitar puncak yang sudah dipenuhi para pendaki yang akan melakukan upacara memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia yang ke 70 tahun.
Kami pun bergegas menuju tempat upacara, dan bergabung dengan barisan.
Karena gue ketua team, otomatis gue berada didepan dari kelompok gue. Dan tak berapa lama upacara pun dimulai.
Semua terjadi sangat hikmat apalagi saat lagu kebangsaan indonesia raya dikumandangkan.
Bergetar hati gue menyaksikan bendera merah putih berkibar di puncak gunung ini, seketika batinku berkata dengan tegasnya,
Disini, dipuncak gunung ini, salah satu titik tertinggi di negeri ini, tepat di bawah kibaran sang merah putih, aku dan rekan-rekan sesama pendaki, berdiri tegap menyanyikan lagu kebanggaan negeriku "Indonesia Raya" dengan penuh antusiasme...
Seketika anganku terbang di era 70 tahun yang lalu, dimana para pendahuluku berjuang gigih merebut kemerdekaan dari tangan penjajah yang membelenggu...
Berjuang dengan segenap jiwa dan raga hingga titik darah penghabisan,
berharap pemimpin-pemimpin setelahmu bisa meneruskan pejuangan....
Tapi kenyataannya...???
Pemimpin-pemimpin di era saat ini, mengisi kemerdekaan yang engkau wariskan dengan bergelimang fasilitas kemewahan, mengumbar nafsu keegoisan...
Seakan mereka lupa sikap patriotisme yang engkau ajarkan,
Atau mereka sengaja melupa dan menganggap kisahmu telah usang dimakan zaman...???
Tetapi,
Jangan bersedih pahlawanku...!!!
Jangan menangis para pendiri bangsaku...!!!
Lihatlah...!!!
Liahatlah kami masih berdiri disini...
Berdiri tegap tak terkoyah walau angin selalu menggoyah...
Mungkin langkah kami tak sekokoh langkahmu saat mengusir para penjajah itu...
Tapi setidaknya kami bukan mereka yang buta oleh kekuasaan dan kemewahan semu...
Karena kami adalah generasi-generasi yang siap meneruskan perjuanganmu dengan sikap patriotisme...
Puncak Ciremai 17 agustus 2015
***
Tiba2 ada seseorang yang nyolek tangan gue sambil ngomong,
"Woy bro, upacaranya udah selesai dari tadi kalee...
Ngapain lu masih berdiri aje dengan tangan yg masih hormat gitu...???
Ngelamun mulu lu...
Noohh yang lain pada ngetawain... Hahahaa..."
Ucap Aldi ngeledek, ngasih tau bahwa temen2 pendaki yang lain yang dari tadi ngliatin gue yang berdiri hormat di bawah bendera.
"Ups, sori bro... Gue keasyikan ngelamun, hehehee..." Jawab gue sambil cengar-cengir...
Yaa, begitulah gue.
Kalo udah ngelamun lupa deh segalanya. Tapi gue tetep bangga jadi diri sendiri, tanpa ada yang harus ditutup-tutupi atau berlaga sok cool atau sok ganteng. Karena kekonyolan gue yang membuat temen-temen gue merasa nyaman bereng gue.
Setelah makan dan ngopi, santai, dan ngobrol ngalor ngidul entah kemana, tak terasa kami sudah 3 jam berada di puncak ini, dan kini saatnya bersiap untuk turun.
Perjalanan turun pun kami lalui dengan santai, sambil menikmati pemandangan lereng utara. Semua terasa lengkap dengan tangan gue yang masih menggandeng Ayuni.
"Ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Setelah 2 jam perjalanan turun akhirnya sampai juga di pos Batu Lingga tempat dimana temen-temen gue yang lain. Seketika Sapot yang dari tadi telah menunggu kedatangan kami, langsung memeluk gue.
"Selamat sobat... gue bangga sama lu..." ucap Sapot sambil memeluk gue dan kemudian memeluk yang lain.
"Alhamdulilkah Pot perjalanan berhasil. Kita telah mengibarkan bendera merah putih dan bendera BINZAH di puncak tertinggi gunung Ciremai...." jawab gue bangga.
"Alhamdulillah... syukur kalo gitu, gue ikut bangga..." jawab Saput sambil menepuk-nepuk pundak gue.
"Oiya, seletah sesampainya kita disini, secara resmi kepimpinan gue serahin ke elu lagi Pot..." ucap gue sambil menyodorkan lipatan bendera.
"Oke kalo begitu, gue terima lagi..." jawab Sapot singkat.
Dan tak lama gue ngobrol, tiba-tiba Tiar yang sedari tadi duduk di depan kompor langsung teriak.
"Woy kawan sini dulu laah... apa lupa sama kawanmu ini..." ucap Tiar sambil menyeduh kopi dengan nada bercanda.
"wuuiiihhh... udah sembuh aje lu... gimana kabar kaki lu yang keseleo...???" jawab gue sambil mendekat.
"Alhamdulillah Bonk, udah lumayan enakan nih karena pijitan dari lu... dari tadi udah gue coba jalan-jalan di sekitar tenda ini, walau masih pincang tapi yang penting udah bisa diajak jalan..." jawabnya dengan nada senang.
Dan kami pun berkumpul mengitari kompor yang selalu memasak air untuk menyeduh kopi dan mengisi kembali gelas-gelas yang mulai tiris karena selau diseruput sang empunya sembari ngobrol santai.
Akhirnya kami lengkap berkumpul lagi setelah sekian lama terpisah karena tugas dalam team pendakian yang berbeda.
"Woy bro, ada kabar gembira nih..." ucap Sapot dengan semangatnya.
"Apa bro kabar apa bro...???" jawab Adit sedikit penasaran.
"Iya apa Pot ada kabar apa...???" Gendut menimpali makin penasaran.
"Begini kawan-kawan, setelah ditinggal kalian ke puncak, di tempat ini terjadi jalinan asmara yang sangat romatis bak Arjuna dan Srikandi nya... hahahaa..." jawab Sapot sedikit ngeledek.
"Emang siapa Pot yang baru Jadian...???" tanya Adrian makin penasaran.
"Si Tiar akhirnya jadian sama Vitha bro, setelah sekian lama terkapar dan dirawat sama perawat yang bernama Novitha Adriani alias Vitha... hahahaa..." jawab Sapot tanpa basa basi.
"Hahahhaa... cie... cie..." seketika semua pada ngeledek Tiar.
Sementara Tiar dan Vitha pun hanya senyum dan tersipu malu.
Tetapi entah kenapa hati gue seakan hancur mendengar kabar itu, kenapa cemburu masih merajai jiwa gue...??? Padahal gue sadar cewek secantik dan selincah Vitha gak mungkin bersanding dengan gue, dan itu sangat mustahil. Tapi rasa cemburu ini tetap tak bisa gue sembunyiin.
Sementara yang lain pada sorak sorai gue cuma bisa termenung, gak bisa nyembunyiin perasaan ini.
Tapi ditengah kegalauan hati gue, tiba-tiba Ayuni yang sedari tadi duduk disamping gue langsung menggenggam tangan gue. Seakan dia tau perasaan gue dan seakan dia juga bilang,
"Jangan kuatir mas Ambonk, masih ada gue disisi lu saat ini.."
Seketika bibir gue kembali tersenyum dan kegalauan ini pun segera terobati. Dan gue lebih merasa nyaman dengan Ayuni, dia gadis yang baik, yang selalu mengerti keadaan gue, penampilannya pun apa adanya. Dan disisinya lah gue merasa bahagia.
"Ayuni, gadis berkerudung nan ayu mempesona..." kata hati gue sambil memandang wajahnya.
***
Tepat jam 2 siang setelah makan siang dan tenda telah dirapihkan, kami mulai bergegas melanjutkan perjalanan turun meninggalkan pos Batu Lingga ini.
Perjalanan pun terasa lebih menyenangkan karena gue dengan Ayuni seakan sudah semakin sehati. Sepanjang perjalanan kami selalu bergandengan tangan, seperti sepasang kekasih yang belum resmi menjalin kasih.
"Ini sungguh pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Tapi menjelang petang tiba-tiba kabut datang dan tak berapa lama hujan turun begitu lebatnya walau dimusim kemarau. Mungkin benar kata orang, di gunung Ciremai ini hujan bisa turun kapan saja bahkan di musim kemarau.
Dan hujan membuat jalur yang terjal semakin licin, ditambah malam yang mulai gelap mebuat kami sering terperosok seperti main plosotan pada anak-anak TK.
Setelah berunding akhirnya kami putuskan untuk mendirikan tenda lagi dan bermalam di jalur ini. Dan kebetulan di sekitar sini ada tenda pendaki lain juga diantaranya ada tenda ranger.
Tenda segera dibangun, namun hujan masih saja turun, membuat suasanya menjadi sangat kacau.
Ditengah kepanikan dan ketergesah-gesahan mendirikan tenda, tiba-tiba Ayuni jatuh pingsan karena kedinginan.
"Ayu'...." gue berteriak dan langsung mendekat, memapahnya masuk ke tenda Ranger yang kebetulan mempersilahkan untuk masuk ke tendanya.
Seketika Sapot mendekat,
"Ayuni kenapa Bonk, kenapa dia..." tanya Sapot panik, karena bagaimana pun juga, Ayuni masih sepupunya.
"Gue juga gak tau Pot, dari tadi dia duduk kedinginan, sementara yang lain sedang sibuk mendirikan tenda..." jawab gue panik.
"Yaudah kita urus Ayuni, biar segera sadar... gue takut dia kena hipotermia, ini sangat berbahaya..." jawab Sapot sembari mengosok-gosok telapak kakinya.
"Pot biar Vitha gantiin bajunya Ayu' yang basah, biar diganti yang kering, kita tunggu diluar aja, sebelum tubuhnya makin kedinginan... dan kalian semua selesaiin mendirikan tenda nya, dan setelah itu ganti baju yang kering juga, karena cuaca sangat dingin..." ucap salah satu Ranger memberi arahan.
Setelah semua memakai pakaian kering, gue, Vitha, Sapot dan para Ranger disana segera memberi pertolongan pada Ayuni dengan menggosok-gosok telapak kaki dan tangannya. Sementara yang lain memasak air hangat di tenda yang satunya.
Tak berapa lama Ayuni siuman, tapi dia masih menggigil kedinginan. Ranger yang lebih berpengalaman memberi perintah agar Ayuni diselimuti sleeping bag, gue pun segera mengambil sleeping bag dan memberikan padanya, lalu ranger tadi juga memerintahkan agar Vitha memeluknya dalam satu sleeping bag dan sama-sama telanjang agar tranfer panas tubuh dari Vitha menghantar ke tubuh Ayuni.
Segera para laki-laki keluar tenda dan memberi kesempatan pada Vitha untuk memberikan pertolongan pada Ayuni.
Setelah keadaan Ayuni mulai membaik, dan air hangat pun sudah siap, segera dimasukan air hangat itu ke dalam botol lalu dibungkus dengan kaos atau handul dan diletakan dibagian ketiak, leher dan pangkal paha, Ayuni dalam kondisi yang masih terbungkus sleeping bag. Tubuhnya makin hangat.
"Kenapa gak diletakkan di jari atau telapaknya aja mas..." tanya Gendut pada ranger.
"Kalo botol diletakkan di jari, darah yang dingin akan terpompa masuk ke jantung dan otak, justru itu sangat berbahaya... jadi botol harus diposisi ketiak, leher dan sela-sela paha..." jelas ranger itu secara ilmiah.
Setelah kondisi Ayuni benar-benar membaik dan mulai bisa diajak komunikasi, kami semua terasa lega dan tak lupa kami langsung memberikan teh hangat padanya.
Dan suasana tenda pun serasa lebih hangat dan damai dari sebelumnya.
Alhamdulillah akhirnya semua baik-baik saja.
Setelah semua membaik, kami pindah ke tenda kami sendiri yang sudah rapi berdiri.
Setelah malam semakin larut dan rasa kantuk mulai menyerang kami, akhirnya tepat jam 10 malem kami terlelap dan istirahat.
***
Dan paginya setelah sarapan dan olahraga peregangan otot, tepat jam 9 kami berkemas dan melanjutkan perjalanan turun.
Tak lupa kami mampir ke tenda ranger dulu yang semalem membantu kami. Untuk sekedar pamit dan mengucapkan terimakasih.
Perjalanan turun pun dimulai, lereng-lereng yang curam membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian, dan setelah berjalan begitu lama, akhirnya kami sampai di pos pendaftaran lagi... alhamdulillah...
Lega rasanya bisa memasuki perkampungan lagi, setelah sekian hari berkecimpung dengan hutan belantara dan bejibaku dengan debu dan lumpur di jalur yang sangat terjal.
Dan tanpa diduga sebelumnya, ternyata setiap pendaki yang turun, di pos pendaftaran ini, para pendaki dihadiahi sertifikat sebagai kenang-kenangan atau sebagai bukti pendakian gunung Ciremai.
Setelah makan siang di warung dekat pos pendaftaran, kamipun bergegas melanjutkan perjalanan pulang. Tak lupa kami sempatkan mampir ke gedung bersejarah Linggarjati. Disini terdapat taman yang indah, kami sempatkan berkeliling ditaman itu.
Jika di taman seindah ini bersama Ayuni, hati ini serasa ingin bergoyang dan lalu bernyayi lagu-lagu india, dan diiringi musik hindustani dan gue juga membayangkan para sahabat gue juga ikut joget sambil menabur bubuk warna-warni.
Aaah, tapi sayang ini bukan dalam film bollywood, ini kisah nyata gue.
Tapi apapun itu gue tetep ngerasa bahagia.
"Ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Setelah turun sampai di jalan raya, kami segera naik bus jurusan Jakarta, dan di bus inilah kenangan yang yang tak terlupakan dalam hidup gue, gue duduk berdua bareng Ayuni, di bangku sebelah kiri baris ke 5 dari depan. Di perjalanan kami isi dengan canda tawa dan bercerita tentang keindahan-keindahan alam di negeri Indonesia. Dan yang bikin hati gue bahagia luar biasa, saat Ayuni tertidur dipundak gue, dak dik duk rasanya, bahkan kami tertidur bersama dengan begitu dekatnya.
Tak terasa jam menunjukan pukul 10 malem, dan bus yang kami tumpangi telah sampai di terminal Pasar Rebo. Kami pun bergegas turun, dan disinilah kami saling bertukar nomor handpone.
"Yaa, ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Tapi saat ini, setelah semua berpisah menuju rumah masing-masing hati gue merasa sepi, dan baru beberapa detik berpisah dengan Ayuni tapi rasanya udah kangen seperti berhari-hari tak bertemu.
Lalu gue duduk di bangku sambil menunggu angkot menuju rumah gue, tapi di hati gue merasa ada yang kurang.
Yaa, gue baru teringat lagi kalo cerriel gue ilang entah kemana...???
Seketika pikiran gue panik, pusing mikirin tenda yang dari minjem itu...???
"Aaahh gaswat nih, gimana cara njelasinnya nih...???" gumam hati gue panik.
Tapi ditengah kepanikan yang melanda, tiba-tiba handphone gue berbunyi, setelah gue angkat.
"Haloo,,, assalamualaikun...
Apa bener ini mas Refli Ambonk...???" tanya seorang laki-laki dari telpon.
"Iya ini gue Ambonk, maaf ini siapa yaa...???" jawab gue penasaran.
"Ini gue Supri, maaf gue kemaren pas mau ke Ciremai via Palutungan, gak sengaja ada cerriel yang kebawa kelompok gue..." jawabnya sambil menerangkan kronologisnya.
"Yang bener mas...??? Alhamdulillah... makasih mas..." jawab gue riang.
"Oiya mas tapi gimana mas tau nomor hp gue...???" tanya gue lagi.
"Kan di gantungan resletingnya ada tulisan nomor HP nya... oiya posisi mas Ambonk dimana nih, kalo gue lagi di bus sebentar lagi masuk terminal Pasar Rebo..." jawab dia.
"Oohh kebetulan gue juga baru nyampe pasar rebo mas, gue tunggu di depan pintu gerbangnya ya mas... sebelumnya makasih banget nih mas..." jawab gue antusias.
Yaa, akhirnya kegalauan ini terkhiri, ternyata gantungan kunci itu memberikan manfaat yang sempurna. Bener kata Adit, cerriel itu bukan diambil orang, tapi hanya kebawa kelompok lain tanpa sengaja, dan sejatinya sesama pendaki itu saudara...
Dan sebagai saudara, jika menemukan sesuatu pasti akan berusaha mengembalikannya. Dan saat ini gue telah membuktikannya.
Semua yang gue alami dalam pendakian ini, membuat bahagia dan berkesan selama hidup gue.
"Yaa, ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
================SEKIAN===============
NB: cerita ini diilhami dari kisah nyata sahabat saya Refli Ambonk, dan foto-foto diatas diambil dari koleksi pribadi yang bersangkutan dan dari berbagai sumber. Jika ada foto yang menampilkan merk suatu produk (tas & air minum) bukan berarti kami bermaksud promosi atau ada maksud lain, ini hanya ilustrasi untuk menggambarkan dari cerita yang dimaksud.
Terimaksih telah membaca...
=====================================
Untuk awal cerita KLIK DISINI
"Ayoo kita angkat bareng, disana ada shelter yang aman buat berteduh..." perintah Sapot yang kemudian temen-temen yang lain dengan sigap mengangkat tubuh Tiar.
Setelah sampai di bangunan shelter yang agak luas, tubuh Tiar dibaringkan dengan beralaskan matras.
"Yang sakit yang mana Tiar...???" tanya gue.
"Pergelangan kaki sini Bonk..." jawab Tiar sambil menunjuk ke arah kaki kirinya.
"Ooohh jangan kuatir, kalo sakitnya di pergelangan biasanya hanya terkilir biasa, tapi kalo di ruas tulang, bisa jadi itu patah tulang, sangat berbahaya dan harus segera dievakuasi turun...." jawab gue santai karena kebetulan nenek gue emang tukang pijit keseleo yang sudah terkenal dikampung.
"Jadi gimana nih Bonk... apa perlu kita tandu turun ke basecamp atau kita minta pertolongan ranger di basecamp...???" tanya Vitha yang juga ikut panik.
"Dalam kondisi seperti ini, biasanya ranger enggan melakukan evakuasi, mereka akan berangkat jika kondisinya darurat, jika hanya keseleo atau hal-hal yang belum dianggap darurat mereka bisaanya gak merespon laporan tersebut..." jawab Adrian yang sudah hafal betul karakteristik ranger di gunung Ciremai ini.
"Lantas gimana nih kalo begitu.." tanya Gendut yang juga ikut-ikutan panik.
"Jangan kuatir, untuk keseleo seperti ini, gue masih bisa nanganin..." jawab gue sok ahli pijit.
"Oke, kita langsung aja praktekin yang diajarkan nenek gue dan sekaligus gue juga pernah liat di acara dr. Oz di tivi. Begini caranya:
Luruskan kaki, rileks dan buka sepatu Anda kemudian tarik ujung kaki dengan cara melakukan penekanan ujung ujung jari ke arah atas.
Lalu suruh si penderita jongkok, Namun tumit pada bagian belakang diangkat.
Jangan lupa kompres pada bagian yang terkiliir atau cedera dengan air dingin menggunakan handuk basah.
Setelah itu kita ikat kaki yang keseleo dengan perban atau kain agar persendiannya tidak bergeser lagi...
Dan usahakan dia istirahat jangan banyak bergerak selama 15 jam..." gue memberi penjelasan sekaligus mempraktekkan ilmu pemijatan yang gue dapet dari nenek.
Dan gak lama kemudian semua tindakan medis ala dr. Oz dan perpaduan ala nenek gue kelar juga.
***
"Oke, lebih baik kita segera mendirikan tenda, sebagian membangun tenda sebagian lagi memasak...
Untuk rencana selanjutnya kita breafing nanti setelah tenda dan masakan selesai..." perintah Sapot selaku ketua team.
Sembari membangun tenda gue terus memperhatiin Vitha yang dari tadi terus menemani Tiar yang terbaring sakit, gue merasa Vitha memang orangnya perhatian ke semua orang bukan cuma gue aja, dan benar ternyata gue selama ini cuma kege'eran... nyatanya Vitha lebih perhatian sama Tiar...
Setelah 30 menit kemudian tenda sudah berdiri dan semua makanan telah tersaji, setelah acara makan selesai, kami pun melanjutkan dengan obrolan yang membahas masalaah kami.
"Gimana nih Pot, perjalanan mau dilanjutkan apa besok kita turun aja...???" tanya Gendut membuka obrolan.
"Bagaimana pun juga pendakian ini harus berhasil sampai puncak, apapun yang terjadi..." jawab Sapot.
"Loh,,, Tiar kan sakit, kakinya butuh istirahat minimal 15 jam kedepan, jadi gak mungkin dia melanjutkan pendakian ini..." ucap Vitha khawatir.
Dari ucapan Vitha nampak jelas dia lebih perhatian sama Tiar, hati gue sangat hancur saat ini, gue hanya bisa menunduk saat yang lain berdebat mengatur ulang manajemen perjalanan.
Sementara itu Sapot mencoba menjelaskan dan mencari solusi,
"Yaa, gue tau itu... tapi dalam pendakian itu ada dua sistem, yaitu:
1. HIMALAYAN TACTIC
Adalah teknik atau sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang. Teknik ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam teknik ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sebagai team pendukung yang Cuma sampai di tengah perjalanan, maka pendakian ini bisa dikategorikan sukses.
2. ALPINE TACTIC ;
Adalah teknik pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Teknik ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.
Walau dalam skala kecil, anggap saja pendakian kita ini menggunakan sistem Himalayan tactic...
Jadi sekarang team kita bagi menjadi dua team, sebagian bertahan menjaga Tiar di tenda ini, dan yang lain melanjutkan pendakian hingga sampai di puncak...
Dan sekarang masalahnya siapa aja yang mau tetap di sini nemenin Tiar dan siapa saja yang ke puncak...???" jelas Sapot memberi pilihan.
Sejenak semua terdiam, memikirkan apa aja yang kudu dipilih, dan memperhitungkan kemampuan masing-masing mengingat sebagian dari kami fisiknya sudah mulai melemah.
Setelah beberapa lama, Sapot menegaskan lagi.
"Jadi siapa yang merasa masih sanggup melanjutkan ke puncak...??? Silahkan angkat tangan..." tanya Sapot tegas.
Semua masih tetap diam, belum berani mengambil keputusan.
Tak berapa lama Sapot berdiri diantara kami, menegaskan kembali pernyataannya dengan nada lebih tinggi.
"Baik sekali lagi, siapa yang masih kuat melanjutkan ke puncak.. ???
Kita gak mungkin hanya sampai disini, bendera merah putih dan bendera team kita harus berkibar di puncak...!!! Ayoo siapa yang rela berjuang demi bendera kebanggaan kita ini..." orasi Sapot sambil menganggkat kedua bendera yang masih terlipat.
Tak berapa lama, Adit angkat tangan, yang menandakan dia siap menjadi team puncak.
Selanjutnya diikuti Gendut, Adrian dan nampak ragu-ragu Ayuni juga ikut mengangkat tangannya. Dan akupun memberanikan diri ikut dalam team puncak.
"Baiklah, berarti sekarang yang akan melanjutkan ke puncak yaitu Adit, Gendut, Ardian, Ayuni dan lu Ambonk...
Sementara yang lain tetap disini menjaga Tiar sampai membaik..." jelas Sapot dengan tegas sambil menunjuk kami yang ikut ke puncak.
Gue ngeliat, Vitha tetap diam tak mengangkat tangannya, yang menandakan dia ingin tetap disini menemani Tiar.
"Yaaa... dugaan gue bener, do'i lebih perhatian sama Tiar... mulai saat ini gue gak boleh berharap lagi sama Vitha... perhatiannya sama gue dianggapnya temen biasa seperti perhatiannya ke yang lain, dan gue ngeliat dia memang lebih perhatian sama Tiar... yaa, gue kudu ikhlas... kudu ikhlas... harus ikhlas..." hati gue ngebatin.
Sementara itu Sapot kembali berorasi dengan nada tegas.
"Baiklah kalau begitu, buat temen-temen yang ikut team ke puncak, berarti nanti jam 2 dini hari harus bangun dan bersiap melanjutkan perjalanan ke puncak, dan untuk team puncak gue tunjuk Ambonk sebagai ketua teamnya..." jelas Sapot sambil menunjuk ke arah gue yang menandakan gue diangkat sebagai ketua team puncak.
"Apa ada yang perlu ditanyakan lagi...???" tanya Sapot sebelum menutup breafing.
Sejenak semua diam, yang menandakan semua paham apa yang dijelaskan Sapot tadi.
"Baiklah breaving kita tutup dan acara dilanjut bincang-bincang santai sambil ngopi.. " Sapot menutup breaving.
Setelah itu kami lanjutkan ngobrol-ngobrol santai, sambil ngopi ketawa-ketiwi sambil mendekat ke api unggun yang kami buat sengaja tak begitu besar, hanya menggunakan ranting-ranting kecil yang kering, walau apinya gak terlalu besar tapi cukup untuk menghangatkan suasana.
Sesekali gue perhatiin Vitha yang setelah breafing langsung masuk ke tenda memilih menemani Tiar yang berbaring di tenda sedari tadi.
Cemburu memang, sakit memang, patah hati memang, inilah keadaan gue saat ini, tapi gue tetep harus nyembunyiin ini semua biar temen-temen gak ada yang tau.
Dan tak berapa lama Ayuni datang dari lokasi dapur yang kami buat di sebelah tenda bagian belakang, do'i datang sambil membawa kopi di teko kecil.
"Yuukk tambah kopinya..." ucap Ayuni sambil menuang kopi ke gelas-gelas yang udah mulai kosong sambil melirik ke arah gue, lirikannya sangat manis, manis sekali... dak dik duk hati gue berdegup...
"Aaahh kenapa perasaan gue jadi seerrr sama Ayuni siih, padahal kan sebelumnya gue lebih seerrr sama Vitha... aaahh kacau nih..." ucap hati gue gak karuan.
Dan setelah menuang kopi, entah disengaja atau tidak, tiba-tiba Ayuni duduk disamping gue.
"Wuiihh... makin gak karuan nih perasaan gue..." hati gue terus bergejolak.
Yang sebelumnya gue nampak santai kini gue jadi salah tingkah, obrolan pun jadi terasa gak konsen.
"Woy Bonk lu kok jadi gugup kaya' gitu... gara-gara Ayu yang nglendot disamping lu itu yaa...???
Lu kan sekarang jadi ketua team, lu kudu gentelmen dunk... hahahaa..." ledek Adit sambil megang secangkir kopi lalu menyeruputnya.
"Hahahaa... segitu aja grogi...
Udah Yu' jangan deket-deket die, Ayu'nya sii maen nglendot aje... ntar lama-lama Ambonk kencing di celana lhoo... hahhaa..." ucap Gendut sambil ngelirik ke Ayu'.
Obrolan malam ini sunggung santai dan berkesan, bahkan secangkir kopi ini terasa lebih nikmat dari kopi mahal di restoran ternama.
Dan hal-hal seperti inilah yang gak mungkin ditemukan dimanapun kecuali disini, di pendakian-pendakian yang penuh kehangatan ini.
***
Dan malam pun makin larut, waktu menunjukan jam 9 malam, sudah saatnya kita tidur, karena nanti jam 2 dini hari kita harus bangun untuk melanjutkan perjalanan.
Lantas semua bergegas memasuki tenda, dan tenda yang sebenarnya berkapasitas 4 orang kini harus diisi 5 orang karena tenda yang gue bawa kini entah dimana.
Dan kami pun bersiap berselancar di mimpi yang indah.
**************************************
Ups,,, untuk para pembaca yang budiman, ceritanya sampai disini dulu yaa, karena gue kudu bobok manis, oke...???
Sementara buat para pembaca silahkan bikin kopi dan sruput-sruput sambil ngabisin sebatang rokok, ceritanya kita lanjut setelah gue kebangun nanti jam 2 dini hari..
Oiya, jangan lupa kalo alarm gak bunyi, tolong bangunin gue yaakk... hehehee.
**************************************
Tepat pukul 2 dini hari, hp gue berbunyi keras karena udah gue stel alarm nya.
Yaa, kini saatnya gue harus bangkit dan bergegas untuk memulai babak baru, pendakian ke puncak tertinggi di Jawa Barat ini.
Setelah packing dan persiapan telah selesai, kami berlima sudah siap melanjutkan perjalanan di kegelapan malam, bahkan Sapot yang tak ikut rombongan pun bangun sekedar melihat persiapan kami dan seremonial pelepasan.
"Bonk gue titip kawan-kawan sama lu, lu sekarang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi di team lu, lu kudu bisa memimpin mereka...
Oiya, gue juga titip Ayu, bagaimana pun juga dia masih sepupu gue, kalo ada apa-apa sama die, lu yang kudu tanggung jawab..." Sapot memberi kata-kata pelepasan sekaligus arahan ke gue.
"Siap komandan...!!!" jawab gue sembari becanda dengan tangan diangkat seperti gaya hormat ala militer.
Tepat jam 02.15wib gue beserta rombongan bergegas melangkah di tengah kegelapan, dengan bantuan penerangan headlamp yang terikat di kepala masing-masing, kami melangkah dengan mantapnya.
"Yaa,,, ini perjalanan gue, ini cara gue menikmati kabahagiaan hidup...
Sekali lagi nama gue Ambonk, gue bukan orang hebat yang sok hebat, gue hanya pemuda biasa yang mencoba mencari bahagia, dan inilah perjalanan gue mencari kebahagiaan itu...
Nama gue Ambonk kali ini gue menjadi pemimpin di team gue, team yang membawa bendera merah putih yang akan berkibar dipuncak tertinggi gunung Ciremai ini...
Dan nama gue Ambonk, gue pemimpin yang siap memimpin dengan gagah berani, siap mengambil keputusan demi kebaikan bersama dan kepentingan bersama...
Karena nama gue Ambonk..."
Kata hati gue menggebu-gebu mengiringi perjalanan ditengah kegelapan.
Tapi tiba-tiba....????
"Woy Bonk, kita salah jalan nih...
Gak mungkin jalur pendakian sesempit ini..." teriak Aldi yang mampu menghentikan kata-kata gue yang sedari tadi ncrocos terus dihati.
"Ups... apa iyaakk...???" jawab gue clingak-clinguk.
"Iya Bonk kita salah jalur, ini jalur tisu... liat aja tuh di sekitar lu banyak tisu..." ucap Adrian kalem, yang sudah berpengalaman dengan jalur Ciremai ini.
"Lah lu kan yang sudah hapal jalurnya... kenapa lu gak di depan aja, bukannya lu team leader...???"
Ucap gue ketus.
"Yaelah... gimana Adrian mau didepan, tadi pertama jalan aja lu langsung nyosor jalan duluan sambil ngalamun dan pesam-pesem sendiri..." jawab Gendut dengan gaya Betawi.
"Yaudah yuuk balik ke jalur, lu Adrian gue tunjuk lu sebagai team leader dan lu Gendut sebagai team sapu... sementara yang lain ditengah..." gue memberi perintah.
Tapi baru mau melangkah, tiba-tiba.
"Nyoookk ..!!!!" kaki gue nginjek yang benyek-benyek
"Alamaaakk... haduuuhh... apes bener gue malam ini..." teriak gue dengan nada memelas.
"Hahahaa... " seketika yang lain pun ikut ketawa.
Bahkan Sapot yang masih ditenda ikut ketawa ngeliat gue yang salah jalur masuk jalur tisu.
"Hahaha... makanya kalo jalan konsentrasi... hahahaa..." dari kejauhan Sapot berteriak, lalu masuk tenda untuk melanjutkan tidurnya.
Sementara gue beserta teman-teman team puncak dengan semangatnya melangkah menggapai puncak atap Jawa Barat.
Gue melangkah dengan pasti, sambil sesekali mengosek-osekkan sepatu gue ke tanah dan rerumputan agar sesuatu yang benyek yang nempel di sepatu gue berharap ilang dengan sendirinya.
"Ini nih alasan kenapa kita gak boleh buang aer sembarangan, selain bisa mencemari udara juga sangat menyakitkan kalo sampai keinjek pendaki laen..." mulut gue terus ngomel walaupun sambil ngos-ngosan karena treknya yang makin menanjak.
"Gue mah kalo BAB selalu gali lobang tutup lobang bro.. " jawab Gendut sok bener.
"Bagus lah kalo begitu, pokoknya kalo gue liat orang lagi buang aer gak model gali lobang, gue teriak-teriakin tuh orang biar malu sekalian..." mulut gue terus ngomel gak jelas.
"Laah, kalo yang lagi buang aer cewek gimana Bonk, lu belum teriak dia udah teriakin lu duluan... lu disangkanya mau ngintip... hahahaa..." semua pun ikut ketawa.
Guyonan demi guyonan selama perjalanan membuat lelah pun tak terasa, pos demi pos telah kami lalui. Dengan sesekali istirahat sekedar minum atau ngemil makanan kecil yang kami bawa.
Tepat pukul 5 sebelum fajar kami tiba di pos Pengasinan.
"Lihatlah kawan, ini adalah pos Pengasianan, pos terakhir sebelum sampai puncak...
Dan lihatlah disana... tanjakan itu akan mengantarkan kita sampai ke puncak tertinggi di Jawa Barat ini...
Dan lihatlah diufuk timur... Sang mentari sedang asyik mengintip kita dengan cahaya nya yang keemasan...
Dan inilah Indonesia yang sesungguhnya...
Kecantikan negeri kita yang sebenar-benarnya..." ucap Adrian menjelaskan.
"Wow... beatifull..." bibir Ayuni berucap dengan matanya yang berbinar-binar.
Gue yang sedari tadi bergulat dengan kegelapan, kini kembali dihadirkan dengan keindahan dunia yang sesungguhnya.
Nampak di hadapan gue dengan gagahnya puncak Ciremai yang berdiri tinggi menjulang, sementara di ufuk timur nampak warna keemasan yang mengindahkan pandangan alam, dan di samping gue telah berdiri seorang bidadari yang memancarkan aura ayu nya yang juga mampu mengindahkan hati gue...
Dan awanpun dengan anggunnya berbondong mengitari tanah dimana kami berdiri.
"Yaa... inilah negeri diatas awan..." bisik hati gue dengan mengambil nafas panjang untuk menghirup lebih banyak udara yang segar di pagi ini.
Entah semalem ngimpi apa, tiba-tiba tangan Ayuni dengan pelan memegang tangan gue, seketika hatiku berdegup lebih kencang. Bahkan gue tak sanggup memandang ke arahnya.
Bahkan untuk meliriknya gue tak punya nyali, tapi gue yakin ada cinta diantara kami.
Pagi ini sungguh pagi yang sangat romantis dalam sejarah kehidupan gue.
Entah berapa lama kami berpegangan tangan, tapi rasanya gue ingin terus memegang tangannya yang halus.
"Disini indah sekali ya mas...???" tanya Ayuni basa-basi.
"Iyaa... alasan inilah gue selalu mendaki... karena ditempat-tempat seperti inilah jiwa gue merasa damai..." jawab gue sok puitis.
"Tapi sayang ya mas, kita gak menuin sunrise dipuncak... gue gak bisa bayangin senengnya kalo pas sunrise dipuncak..." ucap Ayuni berandai-andai.
"Yaah mungkin belum rejekinya, gue yakin suatu saat lu bakal ngrasain sunrise dipuncak... dan semoga saja itu sama gue...." jawabku sambil ngrayu.
Gue ngeliat mata Ayuni tersipu malu, dan gue ngerasa ada cinta di hati Ayuni.
"Ini sungguh pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Ahmad Pajali Binzah
September 11, 2015
New Google SEO
Bandung, Indonesia"Ayoo kita angkat bareng, disana ada shelter yang aman buat berteduh..." perintah Sapot yang kemudian temen-temen yang lain dengan sigap mengangkat tubuh Tiar.
Setelah sampai di bangunan shelter yang agak luas, tubuh Tiar dibaringkan dengan beralaskan matras.
"Yang sakit yang mana Tiar...???" tanya gue.
"Pergelangan kaki sini Bonk..." jawab Tiar sambil menunjuk ke arah kaki kirinya.
"Ooohh jangan kuatir, kalo sakitnya di pergelangan biasanya hanya terkilir biasa, tapi kalo di ruas tulang, bisa jadi itu patah tulang, sangat berbahaya dan harus segera dievakuasi turun...." jawab gue santai karena kebetulan nenek gue emang tukang pijit keseleo yang sudah terkenal dikampung.
"Jadi gimana nih Bonk... apa perlu kita tandu turun ke basecamp atau kita minta pertolongan ranger di basecamp...???" tanya Vitha yang juga ikut panik.
"Dalam kondisi seperti ini, biasanya ranger enggan melakukan evakuasi, mereka akan berangkat jika kondisinya darurat, jika hanya keseleo atau hal-hal yang belum dianggap darurat mereka bisaanya gak merespon laporan tersebut..." jawab Adrian yang sudah hafal betul karakteristik ranger di gunung Ciremai ini.
"Lantas gimana nih kalo begitu.." tanya Gendut yang juga ikut-ikutan panik.
"Jangan kuatir, untuk keseleo seperti ini, gue masih bisa nanganin..." jawab gue sok ahli pijit.
"Oke, kita langsung aja praktekin yang diajarkan nenek gue dan sekaligus gue juga pernah liat di acara dr. Oz di tivi. Begini caranya:
Luruskan kaki, rileks dan buka sepatu Anda kemudian tarik ujung kaki dengan cara melakukan penekanan ujung ujung jari ke arah atas.
Lalu suruh si penderita jongkok, Namun tumit pada bagian belakang diangkat.
Jangan lupa kompres pada bagian yang terkiliir atau cedera dengan air dingin menggunakan handuk basah.
Setelah itu kita ikat kaki yang keseleo dengan perban atau kain agar persendiannya tidak bergeser lagi...
Dan usahakan dia istirahat jangan banyak bergerak selama 15 jam..." gue memberi penjelasan sekaligus mempraktekkan ilmu pemijatan yang gue dapet dari nenek.
Dan gak lama kemudian semua tindakan medis ala dr. Oz dan perpaduan ala nenek gue kelar juga.
***
"Oke, lebih baik kita segera mendirikan tenda, sebagian membangun tenda sebagian lagi memasak...
Untuk rencana selanjutnya kita breafing nanti setelah tenda dan masakan selesai..." perintah Sapot selaku ketua team.
Sembari membangun tenda gue terus memperhatiin Vitha yang dari tadi terus menemani Tiar yang terbaring sakit, gue merasa Vitha memang orangnya perhatian ke semua orang bukan cuma gue aja, dan benar ternyata gue selama ini cuma kege'eran... nyatanya Vitha lebih perhatian sama Tiar...
Setelah 30 menit kemudian tenda sudah berdiri dan semua makanan telah tersaji, setelah acara makan selesai, kami pun melanjutkan dengan obrolan yang membahas masalaah kami.
"Gimana nih Pot, perjalanan mau dilanjutkan apa besok kita turun aja...???" tanya Gendut membuka obrolan.
"Bagaimana pun juga pendakian ini harus berhasil sampai puncak, apapun yang terjadi..." jawab Sapot.
"Loh,,, Tiar kan sakit, kakinya butuh istirahat minimal 15 jam kedepan, jadi gak mungkin dia melanjutkan pendakian ini..." ucap Vitha khawatir.
Dari ucapan Vitha nampak jelas dia lebih perhatian sama Tiar, hati gue sangat hancur saat ini, gue hanya bisa menunduk saat yang lain berdebat mengatur ulang manajemen perjalanan.
Sementara itu Sapot mencoba menjelaskan dan mencari solusi,
"Yaa, gue tau itu... tapi dalam pendakian itu ada dua sistem, yaitu:
1. HIMALAYAN TACTIC
Adalah teknik atau sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang. Teknik ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam teknik ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sebagai team pendukung yang Cuma sampai di tengah perjalanan, maka pendakian ini bisa dikategorikan sukses.
2. ALPINE TACTIC ;
Adalah teknik pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Teknik ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.
Walau dalam skala kecil, anggap saja pendakian kita ini menggunakan sistem Himalayan tactic...
Jadi sekarang team kita bagi menjadi dua team, sebagian bertahan menjaga Tiar di tenda ini, dan yang lain melanjutkan pendakian hingga sampai di puncak...
Dan sekarang masalahnya siapa aja yang mau tetap di sini nemenin Tiar dan siapa saja yang ke puncak...???" jelas Sapot memberi pilihan.
Sejenak semua terdiam, memikirkan apa aja yang kudu dipilih, dan memperhitungkan kemampuan masing-masing mengingat sebagian dari kami fisiknya sudah mulai melemah.
Setelah beberapa lama, Sapot menegaskan lagi.
"Jadi siapa yang merasa masih sanggup melanjutkan ke puncak...??? Silahkan angkat tangan..." tanya Sapot tegas.
Semua masih tetap diam, belum berani mengambil keputusan.
Tak berapa lama Sapot berdiri diantara kami, menegaskan kembali pernyataannya dengan nada lebih tinggi.
"Baik sekali lagi, siapa yang masih kuat melanjutkan ke puncak.. ???
Kita gak mungkin hanya sampai disini, bendera merah putih dan bendera team kita harus berkibar di puncak...!!! Ayoo siapa yang rela berjuang demi bendera kebanggaan kita ini..." orasi Sapot sambil menganggkat kedua bendera yang masih terlipat.
Tak berapa lama, Adit angkat tangan, yang menandakan dia siap menjadi team puncak.
Selanjutnya diikuti Gendut, Adrian dan nampak ragu-ragu Ayuni juga ikut mengangkat tangannya. Dan akupun memberanikan diri ikut dalam team puncak.
"Baiklah, berarti sekarang yang akan melanjutkan ke puncak yaitu Adit, Gendut, Ardian, Ayuni dan lu Ambonk...
Sementara yang lain tetap disini menjaga Tiar sampai membaik..." jelas Sapot dengan tegas sambil menunjuk kami yang ikut ke puncak.
Gue ngeliat, Vitha tetap diam tak mengangkat tangannya, yang menandakan dia ingin tetap disini menemani Tiar.
"Yaaa... dugaan gue bener, do'i lebih perhatian sama Tiar... mulai saat ini gue gak boleh berharap lagi sama Vitha... perhatiannya sama gue dianggapnya temen biasa seperti perhatiannya ke yang lain, dan gue ngeliat dia memang lebih perhatian sama Tiar... yaa, gue kudu ikhlas... kudu ikhlas... harus ikhlas..." hati gue ngebatin.
Sementara itu Sapot kembali berorasi dengan nada tegas.
"Baiklah kalau begitu, buat temen-temen yang ikut team ke puncak, berarti nanti jam 2 dini hari harus bangun dan bersiap melanjutkan perjalanan ke puncak, dan untuk team puncak gue tunjuk Ambonk sebagai ketua teamnya..." jelas Sapot sambil menunjuk ke arah gue yang menandakan gue diangkat sebagai ketua team puncak.
"Apa ada yang perlu ditanyakan lagi...???" tanya Sapot sebelum menutup breafing.
Sejenak semua diam, yang menandakan semua paham apa yang dijelaskan Sapot tadi.
"Baiklah breaving kita tutup dan acara dilanjut bincang-bincang santai sambil ngopi.. " Sapot menutup breaving.
Setelah itu kami lanjutkan ngobrol-ngobrol santai, sambil ngopi ketawa-ketiwi sambil mendekat ke api unggun yang kami buat sengaja tak begitu besar, hanya menggunakan ranting-ranting kecil yang kering, walau apinya gak terlalu besar tapi cukup untuk menghangatkan suasana.
Sesekali gue perhatiin Vitha yang setelah breafing langsung masuk ke tenda memilih menemani Tiar yang berbaring di tenda sedari tadi.
Cemburu memang, sakit memang, patah hati memang, inilah keadaan gue saat ini, tapi gue tetep harus nyembunyiin ini semua biar temen-temen gak ada yang tau.
Dan tak berapa lama Ayuni datang dari lokasi dapur yang kami buat di sebelah tenda bagian belakang, do'i datang sambil membawa kopi di teko kecil.
"Yuukk tambah kopinya..." ucap Ayuni sambil menuang kopi ke gelas-gelas yang udah mulai kosong sambil melirik ke arah gue, lirikannya sangat manis, manis sekali... dak dik duk hati gue berdegup...
"Aaahh kenapa perasaan gue jadi seerrr sama Ayuni siih, padahal kan sebelumnya gue lebih seerrr sama Vitha... aaahh kacau nih..." ucap hati gue gak karuan.
Dan setelah menuang kopi, entah disengaja atau tidak, tiba-tiba Ayuni duduk disamping gue.
"Wuiihh... makin gak karuan nih perasaan gue..." hati gue terus bergejolak.
Yang sebelumnya gue nampak santai kini gue jadi salah tingkah, obrolan pun jadi terasa gak konsen.
"Woy Bonk lu kok jadi gugup kaya' gitu... gara-gara Ayu yang nglendot disamping lu itu yaa...???
Lu kan sekarang jadi ketua team, lu kudu gentelmen dunk... hahahaa..." ledek Adit sambil megang secangkir kopi lalu menyeruputnya.
"Hahahaa... segitu aja grogi...
Udah Yu' jangan deket-deket die, Ayu'nya sii maen nglendot aje... ntar lama-lama Ambonk kencing di celana lhoo... hahhaa..." ucap Gendut sambil ngelirik ke Ayu'.
Obrolan malam ini sunggung santai dan berkesan, bahkan secangkir kopi ini terasa lebih nikmat dari kopi mahal di restoran ternama.
Dan hal-hal seperti inilah yang gak mungkin ditemukan dimanapun kecuali disini, di pendakian-pendakian yang penuh kehangatan ini.
***
Dan malam pun makin larut, waktu menunjukan jam 9 malam, sudah saatnya kita tidur, karena nanti jam 2 dini hari kita harus bangun untuk melanjutkan perjalanan.
Lantas semua bergegas memasuki tenda, dan tenda yang sebenarnya berkapasitas 4 orang kini harus diisi 5 orang karena tenda yang gue bawa kini entah dimana.
Dan kami pun bersiap berselancar di mimpi yang indah.
**************************************
Ups,,, untuk para pembaca yang budiman, ceritanya sampai disini dulu yaa, karena gue kudu bobok manis, oke...???
Sementara buat para pembaca silahkan bikin kopi dan sruput-sruput sambil ngabisin sebatang rokok, ceritanya kita lanjut setelah gue kebangun nanti jam 2 dini hari..
Oiya, jangan lupa kalo alarm gak bunyi, tolong bangunin gue yaakk... hehehee.
**************************************
Tepat pukul 2 dini hari, hp gue berbunyi keras karena udah gue stel alarm nya.
Yaa, kini saatnya gue harus bangkit dan bergegas untuk memulai babak baru, pendakian ke puncak tertinggi di Jawa Barat ini.
Setelah packing dan persiapan telah selesai, kami berlima sudah siap melanjutkan perjalanan di kegelapan malam, bahkan Sapot yang tak ikut rombongan pun bangun sekedar melihat persiapan kami dan seremonial pelepasan.
"Bonk gue titip kawan-kawan sama lu, lu sekarang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi di team lu, lu kudu bisa memimpin mereka...
Oiya, gue juga titip Ayu, bagaimana pun juga dia masih sepupu gue, kalo ada apa-apa sama die, lu yang kudu tanggung jawab..." Sapot memberi kata-kata pelepasan sekaligus arahan ke gue.
"Siap komandan...!!!" jawab gue sembari becanda dengan tangan diangkat seperti gaya hormat ala militer.
Tepat jam 02.15wib gue beserta rombongan bergegas melangkah di tengah kegelapan, dengan bantuan penerangan headlamp yang terikat di kepala masing-masing, kami melangkah dengan mantapnya.
"Yaa,,, ini perjalanan gue, ini cara gue menikmati kabahagiaan hidup...
Sekali lagi nama gue Ambonk, gue bukan orang hebat yang sok hebat, gue hanya pemuda biasa yang mencoba mencari bahagia, dan inilah perjalanan gue mencari kebahagiaan itu...
Nama gue Ambonk kali ini gue menjadi pemimpin di team gue, team yang membawa bendera merah putih yang akan berkibar dipuncak tertinggi gunung Ciremai ini...
Dan nama gue Ambonk, gue pemimpin yang siap memimpin dengan gagah berani, siap mengambil keputusan demi kebaikan bersama dan kepentingan bersama...
Karena nama gue Ambonk..."
Kata hati gue menggebu-gebu mengiringi perjalanan ditengah kegelapan.
Tapi tiba-tiba....????
"Woy Bonk, kita salah jalan nih...
Gak mungkin jalur pendakian sesempit ini..." teriak Aldi yang mampu menghentikan kata-kata gue yang sedari tadi ncrocos terus dihati.
"Ups... apa iyaakk...???" jawab gue clingak-clinguk.
"Iya Bonk kita salah jalur, ini jalur tisu... liat aja tuh di sekitar lu banyak tisu..." ucap Adrian kalem, yang sudah berpengalaman dengan jalur Ciremai ini.
"Lah lu kan yang sudah hapal jalurnya... kenapa lu gak di depan aja, bukannya lu team leader...???"
Ucap gue ketus.
"Yaelah... gimana Adrian mau didepan, tadi pertama jalan aja lu langsung nyosor jalan duluan sambil ngalamun dan pesam-pesem sendiri..." jawab Gendut dengan gaya Betawi.
"Yaudah yuuk balik ke jalur, lu Adrian gue tunjuk lu sebagai team leader dan lu Gendut sebagai team sapu... sementara yang lain ditengah..." gue memberi perintah.
Tapi baru mau melangkah, tiba-tiba.
"Nyoookk ..!!!!" kaki gue nginjek yang benyek-benyek
"Alamaaakk... haduuuhh... apes bener gue malam ini..." teriak gue dengan nada memelas.
"Hahahaa... " seketika yang lain pun ikut ketawa.
Bahkan Sapot yang masih ditenda ikut ketawa ngeliat gue yang salah jalur masuk jalur tisu.
"Hahaha... makanya kalo jalan konsentrasi... hahahaa..." dari kejauhan Sapot berteriak, lalu masuk tenda untuk melanjutkan tidurnya.
Sementara gue beserta teman-teman team puncak dengan semangatnya melangkah menggapai puncak atap Jawa Barat.
Gue melangkah dengan pasti, sambil sesekali mengosek-osekkan sepatu gue ke tanah dan rerumputan agar sesuatu yang benyek yang nempel di sepatu gue berharap ilang dengan sendirinya.
"Ini nih alasan kenapa kita gak boleh buang aer sembarangan, selain bisa mencemari udara juga sangat menyakitkan kalo sampai keinjek pendaki laen..." mulut gue terus ngomel walaupun sambil ngos-ngosan karena treknya yang makin menanjak.
"Gue mah kalo BAB selalu gali lobang tutup lobang bro.. " jawab Gendut sok bener.
"Bagus lah kalo begitu, pokoknya kalo gue liat orang lagi buang aer gak model gali lobang, gue teriak-teriakin tuh orang biar malu sekalian..." mulut gue terus ngomel gak jelas.
"Laah, kalo yang lagi buang aer cewek gimana Bonk, lu belum teriak dia udah teriakin lu duluan... lu disangkanya mau ngintip... hahahaa..." semua pun ikut ketawa.
Guyonan demi guyonan selama perjalanan membuat lelah pun tak terasa, pos demi pos telah kami lalui. Dengan sesekali istirahat sekedar minum atau ngemil makanan kecil yang kami bawa.
Tepat pukul 5 sebelum fajar kami tiba di pos Pengasinan.
"Lihatlah kawan, ini adalah pos Pengasianan, pos terakhir sebelum sampai puncak...
Dan lihatlah disana... tanjakan itu akan mengantarkan kita sampai ke puncak tertinggi di Jawa Barat ini...
Dan lihatlah diufuk timur... Sang mentari sedang asyik mengintip kita dengan cahaya nya yang keemasan...
Dan inilah Indonesia yang sesungguhnya...
Kecantikan negeri kita yang sebenar-benarnya..." ucap Adrian menjelaskan.
"Wow... beatifull..." bibir Ayuni berucap dengan matanya yang berbinar-binar.
Gue yang sedari tadi bergulat dengan kegelapan, kini kembali dihadirkan dengan keindahan dunia yang sesungguhnya.
Nampak di hadapan gue dengan gagahnya puncak Ciremai yang berdiri tinggi menjulang, sementara di ufuk timur nampak warna keemasan yang mengindahkan pandangan alam, dan di samping gue telah berdiri seorang bidadari yang memancarkan aura ayu nya yang juga mampu mengindahkan hati gue...
Dan awanpun dengan anggunnya berbondong mengitari tanah dimana kami berdiri.
"Yaa... inilah negeri diatas awan..." bisik hati gue dengan mengambil nafas panjang untuk menghirup lebih banyak udara yang segar di pagi ini.
Entah semalem ngimpi apa, tiba-tiba tangan Ayuni dengan pelan memegang tangan gue, seketika hatiku berdegup lebih kencang. Bahkan gue tak sanggup memandang ke arahnya.
Bahkan untuk meliriknya gue tak punya nyali, tapi gue yakin ada cinta diantara kami.
Pagi ini sungguh pagi yang sangat romantis dalam sejarah kehidupan gue.
"Ini sungguh pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Entah berapa lama kami berpegangan tangan, tapi rasanya gue ingin terus memegang tangannya yang halus.
"Disini indah sekali ya mas...???" tanya Ayuni basa-basi.
"Iyaa... alasan inilah gue selalu mendaki... karena ditempat-tempat seperti inilah jiwa gue merasa damai..." jawab gue sok puitis.
"Tapi sayang ya mas, kita gak menuin sunrise dipuncak... gue gak bisa bayangin senengnya kalo pas sunrise dipuncak..." ucap Ayuni berandai-andai.
"Yaah mungkin belum rejekinya, gue yakin suatu saat lu bakal ngrasain sunrise dipuncak... dan semoga saja itu sama gue...." jawabku sambil ngrayu.
Gue ngeliat mata Ayuni tersipu malu, dan gue ngerasa ada cinta di hati Ayuni.
"Ini sungguh pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Tak terasa 30 menit kami di sini pos Pangasinan, pos terakhir sebelum puncak.
"Ayo Bonk kita kanjut lagi perjalanannya..." ucap Adit bergegas menggendong daypack nya.
"Entar dulu Bonk, kita tidur dulu disini sejam lagi... gue ngantuk berat nih..." ucap Gendut yang tetap rebahan beralaskan matras di bawah pohon edelweis.
"Tapi kalo sampai puncak diatas kesiangan disana pasti panas.. " jawab Adrian sepaham dengan Adit.
"Yaelah... inikan masih jam setengah 6, tiduran sejam gak mungkin kesiangan kalii..." jawab Gendut lagi.
"Gimana Bonk lanjut apa istirahat dulu...???" tanya Ayuni dengan nada lirih.
Seketika gue bingung nentuin keputusan, dan sekarang gue sadar ternyata menjadi pemimpin itu gak mudah. Dan Sapot telah mencontohkan pada gue gimana menjadi pemimpin yang baik, dia rela melepas ego mencapai puncak demi untuk menjaga anggotanya yang sakit di pos Batu Lingga. Dia rela menjaga Tiar disana.
Dia juga mampu mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga keutuhan dan kekompakan team, sementara gue ngurus temen-temen berlima aja susahnya bukan main. Dan sekali lagi gue salut sama Sapot, bukan hanya sebagai pemimpin tetapi juga sebagai sahabat.
Setelah pergolakan yang lama akhirnya gue putusin istirahat satu jam di pos Pangasinan ini, mengingat keselamatan dan kondisi fisik lebih utama.



















