Di suatu malam tepat di malam bulan purnama, perempuan pedagang tahu itu baru saja membunuh suaminya sendiri, dengan senapan milik suaminya yang terpajang di tembok kamar, dengan wajah yang masih gugup setelah membuang jasad suaminya, ia langsung lari menerobos gelapnya malam dan menyibak semak belukar menuju rumahnya, lalu ditutupnya pintu rumah rapat-rapat.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal dan keringat yang masih terus mengucur, dia berdiri di balik pintu berharap tak ada yang menyaksikan kejadian itu. Ketakutan yang teramat sangat masih menghantui dirinya, membayangkan detik-detik dimana ia melepaskan peluru bertubi-tubi ke tubuh suaminya.
Rengekan minta ampun pun tak dihiraukan lagi, karena kebencian dan luka hati sudah mengendap dalam hati, sadis memang tapi itulah yang terjadi.
Perempuan pedagang tahu itu namanya Minul, sudah hampir 8 bulan ia menikah dengan laki-laki keturunan kompeni. Harapan mengarungi bahtera cinta penuh dengan kebahagiaan harus berakhir dengan cara yang tragis.
Benar kata pepatah, jika orang tua tak merestui maka jalanpun tak semulus yang kita bayangkan.
*****
Walau keluarga dan penduduk kampung tak merestui hubungannya, namun Minul tetap nekat berpacaran dengan laki-laki yang dianggap sebagai penjajah itu. Karena dalam benaknya dia akan hidup enak jika punya suami keturunan belanda. Semua serba kecukupan dan tentunya gengsi akan melonjak tinggi.
Apalagi usia Minul masih tergolong muda pantas saja pemikirannya masih sebatas gengsi dan harta, lagi pula laki-laki kompeni itu juga memang dimabuk kepayang dan bertekuk lutut mengharap cinta dari Minul.
Singkat cerita mereka pun nekat melangsungkan pernikahan, dan lelaki kompeni itu rela pindah keyakinan agar keluarga dan penduduk desa merestui.
Walau pada akhirnya hubungan pernikahan itu harus kandas di tangah jalan, karena sang suami ternyata suka berjudi dan main perempuan.
Padahal sebelumnya ada laki-laki pejuang yang mengingatkan bahwa laki-laki kompeni itu memang suka berjudi dan main perempuan. Karena waktu itu Minul sedang dimabuk kepayang hingga nasehat dari siapapun tak pernah digubrisnya lagi.
Hingga akhirnya kesabaran Minul mencapai batasnya, tak kuat menanggung beban dan derita, Minul pun tega menghabisi nyawa suaminya sendiri.
*****
"Suami saya diculik pejuang..." begitu jawaban Minul saat diinterogasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Agar Minul lepas dari jeratan hukum yang berlaku saat itu, karena memang sudah menjadi hal wajar jika seseorang keturunan belanda tiba-tiba hilang diculik pejuang.
Minul pun menjalani kehidupannya kembali seperti semula walaupun kini ada gelar janda muda yang tersemat pada dirinya.
Mendengar kabar kejandaan Minul menjadikan para pemuda berniat ingin mendekatinya, apalagi Minul juga tergolong perempuan seksi, kulitnya yang putih dan bodinya yang aduhai membuat banyak lelaki yang tergila-gila.
Sempat beberapa kali hati Minul tambatkan hati pada laki-laki, mulai dari pegawai kantoran sampai pedagang makanan. Bahkan Minul sempat punya hubungan dengan laki-laki kompeni lagi, tapi hubungan itu tak berlangsung lama karena ternyata laki-laki kompeni itu sudah beristri.
*****
Hingga akhirnya hati Minul kembali tertambat pada seorang laki-laki, kali ini bukan dari kalangan kompeni atau pejuang melainkan pada laki-laki pribumi yang mempunyai profesi pedagang, dia bernama Sugeng. Yaa, Sugeng berjualan buah dan sayur yang tak jauh dari kios Minul berjualan tahu, mungkin karena itulah keduanya merasa ada kecocokan.
Walau cuma pedagang sayur Sugeng termasuk orang kaya di kampungnya, calon pewaris harta dari sang ibu tercinta, lahannya membentang ditanami cengkeh dan kopi, rumah kontrakan dan losmen milik ibunya bercecer dimana-mana.
"Pantas saja hati Minul tertambat padanya" begitu banyak orang mengira.
Tetapi saat hubungan keduanya sedang mesra-mesranya, lagi-lagi lelaki pejuang itu hadir kembali untuk mengingatkan dan menasehati Minul,
"Dia bukan laki-laki yang cocok untukmu Nul..." begitu ucap lelaki pejuang yang tiba-tiba hadir tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
"Apa maksudmu...???
Kami saling mencintai..." ucap minul dengan nada ketus.
"Dia laki-laki lemah...!!! Dia juga sangat temperamen..." Lelaki pejuang itu berkata tegas namun tak menghadap ke arah Minul. Hanya terlihat sebagian punggungnya yang terkena remang cahaya.
"Kamu jangan mengada-ngada, dia itu orang baik, kami sudah saling cocok..." Minul membela. Namun lelaki pejuang itu tetap tak membalingkan tubuhnya, tetap tak menghadap Minul. Menjadikan sosoknya sangat misterius.
"Bukankah kamu tau bagaimana dia menduda...??? Selama bertahun-tahun dia menelantarkan sang istri, tak pernah memberi kepastian statusnya. Bahkan hingga saat ini yang katanya dia akan menikahimu saja, dia belum resmi bercerai...
Bagaimana dia bisa menyelesaikan masalah-masalahmu kelak, sementara masalahnya sendiri yang begitu penting saja ditunda-tunda dan disepelekan...???" Lelaki pejuang itu berkata lantang, dengan topi tetap menutupi wajahnya.
"Jangan pernah urusi urusanku...!!!" Minul mulai marah dan langsung mengambil senapan yang tergantung di dinding, lalu menodongkan ke arah lelaki pejuang itu.
"Pergi dari sini atau akan aku bunuh kau...!!!" Minul menggertak emosi.
"Aku datang karena kepedulianku dan aku akan pergi demi kebaikanmu...
Tak perlu mengusirku, aku sudah kenyang oleh senjata seperti itu...
Baiklah aku pergi, semoga kehidupanmu selalu dalam kebahagiaan, karena dengan itu aku tak akan mungkin lagi untuk datang..." ucap lelaki pejuang itu tenang, lalu dalam sekejap tiba-tiba menghilang.
Minul bernafas lega, sembari meletakkan senapan yang ada di tangannya. Berharap laki-laki pejuang itu tak pernah datang lagi padanya.
****
Minggu demi minggu berganti bulan, bulan demi bulan berganti tahun, Minul merasa bahagia karena tak pernah diganggu lelaki pejuang lagi, hubungan Minul dan Sugeng juga kian dekat, membuat keduanya semakin lengket.
Namun sekian lama hubungan itu terjalin, hingga kini belum ada tanda-tanda Sugeng akan serius melamarnya.
Hingga di suatu ketika, telah habislah kesabaran Minul.
"Sebenarnya mas Sugeng itu serius gak sama aku...???" Minul menuntut keseriusan Sugeng. Namun ekspresi Sugeng terlihat datar, tetap diam tak bergeming.
"Bukankah hubungan kita sudah lama...??? Kapan kita akan menikah mas...???
Aku malu sama tetangga..." ucap Minul dengan nada kian meninggi.
"Aku belum siap Nul..." jawab Sugeng singkat sembari menundukan kepalanya.
Mendengar itu Minul seketika naik darah, lagi-lagi diambilnya senapan yang terpajang di dinding lalu ditodongkan ke arah Sugeng.
"Aku sudah terbiasa tersakiti, tapi aku juga sudah terbiasa menghabisi nyawa orang yang menyakitiku dengan senapan ini..." Minul mengancam, siap menarik pelatuk senapan itu.
Melihat itu Sugeng seketika terkejut ketakutan.
"Baik, baik, baik Nul aku akan segera melamarmu..." jawab Sugeng panik.
Dan karena tekanan itu akhirnya mereka pun melangsungkan acara pernikahan di kampung, dengan acara sederhana dan pesta alakadarnya.
Dari pernikahan itu, merekapun menjalani kehidupan rumah tangganya penuh bahagia, karena memang Minul sangat mencintai suaminya.
*****
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tak terasa hampir dua tahun mereka menjalani mahligai rumah tangga, namun pernikahan mereka belum juga dikaruniai keturunan, walaupun demikian Minul tetap bersabar dan setia pada Sugeng.
Hingga di suatu ketika tragedi itu terulang kembali, lagi-lagi senapan andalannya kembali ditodongkan tepat mengarah ke kepala Sugeng.
"Aku tak sudi lagi punya suami sepertimu..." ucap Minul penuh amarah.
Tak berapa lama, tiba-tiba,
"Doorrr....!!!! Doorrr...!!!! Doorrr...!!!" Lagi-lagi senapan itu memakan korban.
Minul membabi buta melontarkan peluru ke tubuh suaminya, rengekan minta ampun pun tak dihiraukan lagi, karena kebencian dan luka hati sudah mengendap dalam hati, sadis memang tapi itulah yang terjadi.
Seorang Sugeng yang selama ini dicintainya ternyata hanya seorang pemalas, yang tak mau bekerja keras. Selama ini beban hidupnya ada di pundak sang istri yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai laki-laki. Sugeng juga seorang cemburuan, sering bertindak kasar dan arogan.
Apalagi sudah beberapa bulan ini Minul diacuhkan, hanya karena uang dari berjualan tak sebanyak biasanya. Bahkan Minul tak pernah diberi perhatian, Nasibnya digantung, ditinggal begitu saja seperti istri pertamanya dulu.
Hingga akhirnya kesabaran Minul mencapai batasnya, tak kuat menanggung beban dan derita, lagi-lagi Minul pun tega menghabisi nyawa suaminya sendiri.
Malam itu tepat di malam bulan purnama dengan wajah yang masih gugup setelah membuang jasad suaminya, ia langsung lari menerobos gelapnya malam dan menyibak semak belukar menuju rumahnya, lalu ditutupnya pintu rumah rapat-rapat.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal dan keringat yang masih terus mengucur, dia berdiri di balik pintu berharap tak ada yang menyaksikan kejadian itu. Ketakutan yang teramat sangat masih menghantui dirinya, membayangkan detik-detik dimana ia melepaskan peluru bertubi-tubi ke tubuh suaminya.
Lalu Minul merebahkan tubuhnya diatas kasur, mengambil nafas panjang mencoba tenang.
*****
Tiba-tiba lelaki pejuang itu datang kembali, sosok misterius dengan topi yang selalu menutupi wajahnya.
"Sudah aku ingatkan dia bukan laki-laki yang cocok untukmu..." ucap lelaki pejuang itu tenang, dengan tuhuhnya yang terlihat samar.
"Sebenarnya siapa dirimu...!!!???
Kenapa kamu selalu mengganggu hidupku...!!!???" Ucap Minul dengan nada tinggi, terkejut atas kehadiran lelaki pejuang itu.
"Aku hanya lelaki pejuang, kamu tak perlu tau siapa aku...." ucap lelaki pejuang itu dengan nada tenang.
"Tapi kenapa kamu selalu mengganggu kehidupanku...???" Tanya Minul dengan nada tetap meninggi.
"Karena aku peduli padamu..." jawabnya singkat.
"Tapi sepertinya aku mengenalimu...
Dan tak mungkin kamu peduli padaku kalau kita tak saling kenal..." ucap Minul penasaran, lalu mendekati lelaki pejuang itu.
Dengan langkah berlahan mencoba mendekati, lalu Minul memberanikan diri membuka topi yang sedang dipakainya. Dan akhirnya terlihatlah sosok wajah yang selama ini tertutupi.
"Mas Endar...???" ucap Minul terkejut, saat mengetahui sosok laki-laki di balik topi itu.
Ternyata lelaki pejuang yang selama ini sering dianggapnya sosok misterius itu, dia adalah sosok yang telah lama dikenalnya, dia teman kecil Minul sewaktu di kampung dulu.
Lalu keduanya saling menatap lama, tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir mereka.
Wajahnya terlihat begitu jelas, tatapannya yang menyejukkan dan ucapannya yang menenangkan membuat hati Minul kembali tenang.
"Aku tak mungkin bisa membiarkanmu dalam keadaan seperti ini Nul..." ucap lelaki pejuang itu lirih, sembari memeluk tubuh Minul untuk menentramkan jiwanya.
Perasaan Minul terasa tenang saat berada dipelukan lelaki pejuang. Dan Minul pun menyadari bahwa laki-laki yang dianggapnya menyebalkan itu ternyata laki-laki yang sangat peduli padanya.
"Kenapa mas Endar sepeduli itu sama aku...???" Tanya Minul dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
"Karena aku mencintaimu Nul..." jawabnya pelan sembari membelai rambutnya.
"Kalau memang selama ini kamu cinta sama aku, kanapa tak pernah berterus terang atau berusaha memiliki aku...???" Minul kembali bertanya dengan penuh penyesalan.
"Jika saja statusku memungkinkan untuk memilikimu, tentu tak akan pernah aku biarkan kamu sampai menjanda seperti ini..." ucap lelaki pejuang penuh makna.
"Apa maksudmu mas...???" Tanya Minul tak memahami. Melepas pelukannya lalu menatap mata lelaki itu.
"Jika saja statusku memungkinkan untuk memilikimu, tentu aku akan berjuang mati-matian untuk memilikimu..." lelaki pejuang itu menjelaskan. Sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Aku adalah seorang pejuang Nul, aku tak ingin hidupmu dalam masalah hanya karena aku...
Jika kita nekat menjalin kasih, tentu banyak rintangan yang sangat berat yang akan kita hadapi...
Hidupmu akan terseret kedalam masalahku...
Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu Nul..." lelaki pejuang itu kembali menjelaskan. Dengan kedua tangannya masih menempel di pipi Minul.
Dan Minul pun hanya bisa terdiam membisu, memahami kata-kata dari pejuang itu.
Keduanya saling bertatapan lama, bibir mereka tak mampu berucap lagi, namun pandangan mata keduanya jauh menembus ke hati.
Lalu lelaki pejuang itu melepaskan kedua tangannya, membalikkan badan untuk melangkah pergi.
"Jangan tinggalin aku lagi mas..." bibir Minul berucap lirih.
Mendengar itu langkah lelaki pejuang itu terhenti, lalu menolehkan kepalanya sembari berkata,
"Percayalah Nul, ini yang terbaik untukmu...
Jalani kehidupanmu akupun akan menjalani kehidupanku...
Suatu saat kamu akan mengerti, bahwa cinta yang sesungguhnya memang tak harus memiliki...
Percayalah,
Semua yang aku lakukan ini adalah yang terbaik untukmu...
Jika suatu saat nanti dirimu merasa terluka, ingatlah bahwa ada satu laki-laki yang sangat mencintaimu, sangat menyayangimu, dan selalu ingin memuliakan dirimu..." ucap lelaki pejuang itu, lalu melanjutkan langkahnya pergi menghilang ditelan kegelapan malam.
"Mas Endaaarrr..."
Minul berteriak memanggil lelaki pejuang itu, sembari tak kuasa menahan tangis, tubuhnya seketika lunglai merobohkan lututnya ke lantai, mengharap lelaki pejuang itu untuk kembali memeluknya lagi.
*****
Minul pun menjalani kehidupannya kembali seperti semula walaupun kini ada gelar janda muda yang tersemat pada dirinya.
Mendengar kabar kejandaan Minul menjadikan para pemuda berniat ingin mendekatinya, apalagi Minul juga tergolong perempuan seksi, kulitnya yang putih dan bodinya yang aduhai membuat banyak lelaki yang tergila-gila.
Namun kali ini Minul lebih memilih sendiri, menjalani kehidupannya tanpa seorang laki-laki.
Minul hanya berharap semoga keadaan cepat berubah, mengharap negerinya segera merdeka.
Agar lelaki pejuang itu berhenti bergerilya dan menajalani kehidupan sebagaimana mestinya.
Mungkin dengan seperti itu Minul berharap bisa hidup bersama lelaki pejuang itu.
Menjalani sisa hidupnya penuh bahagia.
=============SEKIAN=============
Baca juga cerpen tentang petualangan:
Jantung Laela berdegup cepat saat tangannya dengan sigap mengemasi baju-bajunya, lalu dengan langkah jinjit pelan Laela melangkahkan kakinya lewat pintu belakang, agar paman yang selama ini merawatnya tak mengetahui kepergiannya.
Malam itu Laela berencana kabur dari rumah pamannya itu karena tak tahan lagi atas perjodohan dirinya dengan lelaki kaya anak kepala desa.
Dengan langkah setengah berlari membelah pekatnya malam melewati pematang sawah, tak peduli kadal ataupun ular langkahnya terus menderu tanpa henti hingga sampai di perempatan jalan di sudut desa, Laela dengan nafas yang masih tersengal matanya merayap ke segala arah mencari seseorang yang seharusnya telah menunggunya disana.
"Kamu nyariin aku yaa...???" Bisik seorang laki-laki sembari menepuk pundak Laela.
"Aaahh kamu kirain gak nepatin janji..." ucap Laela sembari menengok ke arah laki-laki itu.
Dia adalah Adrian, seorang dokter muda yang sedang magang di puskesmas di kampung Wonosari dimana Laela tinggal.
Laela dan Adrian sudah enam bulan ini menjalin kasih. Karena keluarga Laela tak merestui hubungannya, akhirnya mereka putuskan untuk pergi dari kampung itu untuk menemui orang tua Adrian di kota.
Saat mereka hendak bergegas pergi langkah mereka dihadang oleh laki-laki berbadan kekar.
"Tunggu...!!!!" Gertak laki-laki itu dengan nada emosi. Dia adalah Badhar anak pak kades yang hendak dijodohkan dengan Laela.
"Mau kemana kalian...!!!???" Ucap Badhar sembari menunjuk geram.
"Ini bukan urusanmu Badhar..." jawab Laela singkat.
"Jelas ini urusanku karena kau calon istriku..." Badhar makin emosi.
"Laela tak pernah mencintaimu Badhar, mengertilah...
Biarkan kami pergi..." ucap Adrian menghiba. Dengan pembawaan yang kalem Adrian tak terpancing emosi.
"Hei kau...!!!!
Kau tak ubahnya seperti Rahwana yang bermuka rama...!!!
Akan ku habisi kau...!!!" Badhar makin emosi sembari menarik baju Adrian dan hendak memukulnya.
"Cukup Badhar, cukup...!!!!
Ingat, kalo kamu menyakiti Adrian berarti kau telah menyakiti aku...
Bukankah kamu sangat mencintai aku...???
Seharusnya kau biarkan aku bahagia menjalani garis kehidupanku sendiri...
Ingat Badhar, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi...
Biarkan aku memilih dengan siapa aku akan menjalani kehidupanku...
Bukan malah memaksa kehendak egomu..." Laela menjelaskan dengan nada tinggi.
Sementara Badhar hanya bisa terdiam diri, terpaku karena kata-kata Laela.
Tak berapa lama mereka pergi meninggalkan Badhar. Melangkah tenang sembari bergandengan tangan lalu hilang ditelan kegelapan malam.
Badhar tetap berdiri kaku, membisu bak patung batu, tak tau harus berbuat apa, ia hanya bisa mengikhlaskan gadis yang dicintainya pergi bersama pujaan hatinya.
"Jika ini yang terbaik untukmu, aku ikhlas Laela...
Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kau cari, percayalah aku disini tetap menyayangimu....." ucap hatinya lirih lalu membalikan badan, melangkah pulang.
*******
Sementara itu, sesampainya di kota Adrian mengajak Laela untuk menemui orang tuanya. Namun tak disangka kedua orang tuanya juga tak merestui hubungan itu.
"Dia perempuan kampung Adrian, dia tak pantas menjadi pendamping hidupmu..." ucap ayahnya dengan nada keras hingga ucapannya sampai di telinga Laela.
Hati Laela pun hancur, mendengar kata-kata orang tuanya Adrian. Ia pun langsung pergi meninggalkan rumah itu, lalu Adrian mencoba mengejarnya.
"Adrian, tak pantas kau kejar dia...!!!" Gertak sang ayah namun Adrian pun tetap pergi tak menghiraukan ucapan ayahnya.
Adrian berlari mengejar Laela yang pergi karena merasa sakit hati.
"Maaf Laela, maafkan kedua orang tuaku...
Mungkin mereka butuh waktu untuk mengerti kita..." ucap Adrian meyakinkan hati Laela.
"Tidak Adrian, memang benar kata ayahmu... aku hanya perempuan kampung yang tak pantas bersanding dengan dokter muda Sepertimu..." ucap Laela tau diri.
"Apapun keadaannya aku akan tetap bersamamu Laela...
Yakinlah kita akan selalu bersama..." Adrian terus menyakinkan Laela sembari memegang kedua bahunya lalu mengusap air matanya.
*****
Sejak saat itu mereka putuskan pergi dari rumah, menjalani hidup bersama di sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota.
Sementara sang ayah terus mencari informasi tentang anaknya, anak buahnya disebar di penjuru kota untuk mencari keberadaan Adrian dan Laela. Namun tetap tak membuahkan hasil.
*****
Tiga bulan telah berlalu, Adrian merasa perlu mengajak Laela kembali menemui orang tuanya untuk meyakinkan bahwa Laela lah yang pantas menajdi istrinya.
Namun setelah menemuinya, pendirian orang tuanya tetap teguh bahwa mereka tetap tak merestui hubungan itu.
"Adrian...!!! Apa kau sudah lupa dengan nasib Hermawan kakak kandungmu...???
Apa kau ingin nasibmu seperti dia...!!!???" Gertak sang ayah kembali mengingatkan nasib kakaknya yang hampir mirip dengan kisah hidup Adrian.
Seperti yang Adrian tau, kakaknya telah diusir dari rumah karena nekat mencintai gadis yang tak direstui ayahnya. Hingga saat ini pun sang kakak tak diketahui keberadaannya.
"Kakakmu pun sekarang menjadi gembel karena tak menuruti keinginan papa...!!!" Ayah Adrian terus mengancam.
"Bukankah cita-cintamu ingin melanjutkan studi di Australia....??? Menjadi dokter ternama dan kelak akan mengantikan posisi papa memimpin rumah sakit yang kita punya...???" sang ayah merayu.
"Kamu satu-satunya harapan kami nak..." sang ibu pun ikut menghiba.
Hati Adrian kembali goyah, membahagiakan orang tuanya atau tetap memilih menikahi kekasihnya.
Adrian hanya terdiam diri, pikirannya kacau bagai buah simalakama.
"Liatlah Adrian, surat rekomendasi S2 mu sudah keluar dan tiket pesawat sudah papa siapkan, minggu depan kamu harus berangkat...!!!"
Namun Adrian hanya berdiam diri sembari tangannya tetap menggenggam tangan Laela. Mengisyaratkan bahwa Adrian tak mungkin bisa pisah dari Laela.
Melihat itu sang ayah sangat murka.
"Baik Adrian, papa beri dua pilihan, ambil tiket pesawat ini dan usir perempuan itu atau kau akan dicoret dari daftar pewaris harta papa...!!!???"
Mendengar itu Adrian sangat shock, jiwanya kembali tertekan, seketika pikirannya melayang mengenang kembali ke masa lampau, dimana dirinya teringat saat kecil dulu.
*****
Waktu itu umur Adrian masih sekitar sepuluh tahun, saat sedang bermain di teras rumahnya bersama sang ayah, Adrian bertanya pada ayahnya.
"Papah nanti kalo Adrian besar boleh gak jadi dokter kaya' papah...???" Tanya Adrian polos.
"Kok kamu ngomong gitu sayang...???" Ayahnya balik tanya sembari mengelus rambut Adrian.
"Soalnya aku pingin kaya' papah, bisa ngobatin orang sakit, punya rumah sakit buat nolongin banyak orang..." jawab Adrian dengan nada khas anak kecil.
"Pasti nak, kamu bisa menjadi seperti papah, bahkan kamu harus lebih baik dari papah...
Papah ingin suatu saat nanti kamu yang meneruskan usaha papah, dan aku yakin rumah sakit yang papah punya akan lebih besar jika kamu yang pegang..." sang ayah memberi motivasi pada Adrian dengan kedua tangannya memegang pundak Adrian.
"Iya pah, aku pasti gak akan ngecewain papah..." Adrian berjanji.
"Tapi perlu kamu tau nak, mewujudkan sebuah cita-cita besar itu tak semudah membalikan tangan nak...
Seperti papahmu dulu yang sangat gigih memperjuangankan cita-cita,
Dan semua pasti ada cobaan dan rintangan yang berat..." ucap sang ayah sembari matanya menerawang jauh, semantara Adrian hanya bisa terdiam memahami kata-kata sang ayah.
"Suatu saat nanti kamu akan hilang kepolosanmu, kamu akan menjadi pemuda yang tampan dan cerdas, dan disana godaan itu akan datang, pasti banyak perempuan-perempuan murahan yang akan mengodamu agar kamu terjerumus dalam dunia mereka dan langkahmu akan semakin sulit untuk mewujudkan impian-impianmu itu..." sang ayah kembali menjelaskan panjang lebar.
"Adrian ngerti pah, aku janji akan jaga diri baik-baik..." ucap Adrian sembari menganggukan kepalanya.
"Anak pintar, papah sangat sayang kamu nak..." ucap ayah lalu mencium kening Adrian.
*****
Teringat ucapan-ucapan ayah dahulu, Adrian seketika melepas tangan Laela lalu menampar keras pipinya.
"Dasar perempuan murahan...!!!!
Mungkin kau yang dimaksud papahku dulu, bahwa kau hanyalah perempuan penggoda...!!!" Emosi Adrian seketika memuncah.
"Mas kamu setega itu padaku...!!!???" Laela langsung menangis kencang, tak percaya apa yang dia dengar dari mulut kekasihnya.
"Pergi dari sini pergiiii...!!!" Adrian mengusir Laela.
Tanpa banyak kata, Laela pun pergi dengan hati yang sangat hancur.
Melihat itu Adrian langsung terungkur dengan lutut roboh ke lantai, menangis histeris menandakan jiwanya tergoncang. Lalu kedua orang tuanya langsung memapah Adrian masuk ke kamarnya.
*****
Sementara itu Laela terus berlari tanpa henti, membawa hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Semua harapannya telah sirna sekejap mata, tak tau lagi harus kemana dia pergi.
Hingga akhirnya dia menyadari, bahwa laki-laki terbaik baginya hanyalah Badhar. Laki-laki yang selama ini selalu melindunginya, menjaganya dan selalu memuliakannya.
Badhar teman bermainnya sedari kecil, selalu memberi perhatian penuh padanya dan semua itu tak pernah berubah hingga dewasa.
Pikiran Laela melayang ke masa lampau, membayangkan saat-saat kecil dulu.
Waktu itu saat Laela masih kecil, sang ibu masih bekerja di rumah pak Prapto ayahnya Badhar. Tak bisa dipungkiri dulu saat Laela masih kecil ibunya bekerja pada orang tua Badhar, ibunya lah yang merawat Badhar sejak kecil karena orang tua Badhar sangat sibuk oleh pekerjaan.
Sejak itulah Badhar dan Laela sering bermain bersama. Hingga suatu saat Badhar dengan polosnya bertanya dengan ibunya Laela,
"Bik, kalo udah besar nanti boleh gak aku nikah sama Laela...???" Tanya Badhar polos.
"Huutttss kamu itu kan anak orang kaya, sementara Laela kan anak bibik..." jawab sang Bibik.
"Yaa gak papa Bik, aku cuma pingin maen-maen terus sama Laela sampai besar nanti, aku pingin jagain Laela..." ucap Badhar yang waktu itu masih 12 tahun.
"Yasudah yang penting kamu jangan nakalin Laela yaa... jangan bikin Laela nangis..." ucap ibu Laela.
"Iya Bik aku pasti bisa jagain Laela terus..."
Entah kenapa sejak saat itu Badhar selalu perhatian pada Laela, persahabatan sejak kecil hingga remaja.
Hingga akhirnya ibunda Laela menginggal dan Laela harus hidup bersama Pamannya.
Badhar tetap setia menemani Laela, namun makin dewasa Badhar timbul perasaan lebih dari sekedar persahabatan, semakin hari sikapnya semakin posesif, dia juga tumbuh menjadi laki-laki sangar dan arogan. Hingga siapapun yang mendekati Laela pasti dihajar oleh anak buah Badhar. Dan karena itulah Laela mulai tak nyaman dekat dengan Badhar.
Namun dibalik arogansinya sebenarnya Badhar ingin melindungi Laela dari godaan laki-laki yang hanya akan menyakitinya.
*****
Dan saat ini saat semuanya telah terjadi, saat hati Laela hancur oleh laki-laki yang mencampakannya begitu saja, Laela menyadari bahwa apa yang ditakutkan Badhar benar-benar terjadi.
"Maafkan aku Badhar, sekarang aku sadar bahwa kamulah laki-laki yang mampu mencintai aku setulus itu, mengorbankan segalanya demi kabahagiaanku..." hati Laela berucap lirih penuh penyesalan, sembari berjalan dibawah guyuran hujan.
"Badhar maafin aku...!!!!" Laela berteriak kencang, menangis histeris ditangah guyuran hujan, menggambarkan betapa hancur hatinya.
"Seandainya masih bisa, saat ini pula aku ingin memelukmu, mengucapkan maaf yang terdalam dari relung hatiku...
Tapi aku merasa tak pantas lagi untukmu, aku yang tak mampu menjaga kesucianku...
Maafkan aku Badhar..." hati Laela berucap lirih sembari kakinya terus melangkah menyusuri jalan ditengah guyuran hujan. Langkahnya gontai, lesu tanpa arah tujuan.
*****
Semetara itu,
Lima hari telah berlalu, namun Adrian masih tetap mengurung diri dalam kamarnya, hatinya sungguh tergoncang menghadapi jalan hidupnya kini. Di satu sisi Adrian ingin mewujudkan cita-cita dan membahagiakan kedua orang tuanya, namun di sisi lain sebenarnya dia sangat mencintai Laela.
Tetapi Laela sudah terlanjur membenci, telponnya tak pernah diangkat, pesan-pesannya juga tak pernah dibalas, bahkan handphone-nya sudah tak aktif lagi.
Sementara tiket keberangkatan tinggal satu hari lagi, dan besok Adrian harus terbang untuk meneruskan studinya di Australia.
"Tak ada waktu banyak, aku harus menemui Laela untuk meminta maaf atas semuanya...
Dan aku akan berjanji jika semua cita-cita telah tercapai aku akan menikahi Laela..." batin Adrian berucap sembari bergegas pergi mencari Laela.
*****
"Maaf Laela sudah tidak tinggal disini lagi..." ucap ibu yang punya kontrakan.
"Sekarang Laela tinggal dimana bu...???" Tanya Adrian panik.
"Maaf ibu tak tau, tapi bukankah dulu perginya sama mas Adrian...???" Jawab ibu itu.
"Iya bu, tapi dia pergi ninggalin aku bu...
Yaudah bu makasih atas infonya..." Adrian kembali pulang tanpa membuahkan hasil.
*****
Hari ini hari keberangkatan telah tiba, Adrian melangkah lesu dengan menyeret koper ditangannya memasuki ruang bandara yang akan menerbangkannya.
Ditengah langkahnya yang gontai, tiba-tiba ada yang memanggil.
"Adrian..." seseorang memanggilnya dengan suara yang khas, kalem, tenang tapi tegas.
Seketika langkah Adrian terhenti, membalikkan badan mencari sumber suara yang memanggilnya.
Alangkah terkejutnya Adrian melihat sosok yang ada di hadapannya.
"Baru kali ini aku melihat laki-laki dengan nama besar namun hatinya sangat kerdil..." ucap seseorang yang ada dihadapan Adrian.
"Apa maksudmu Badhar...!!!???" Tanya Adrian penuh heran.
"Andai saja almarhumah Laela tak melarangku untuk menyakitimu, mungkin saat ini juga sudah ku pecahkan kepalamu...!!!!" Gertak Badhar geram penuh emosi, sembari menarik kerah baju Adrian hingga kedua wajahnya saling berdekatan. Nampak raut muka Badhar sangat murka sementara Adrian sangat ketakutan.
"Laela kenapa Badhar...???" Adrian shock mendengar ucapan Badhar.
"Dia memilih mengakhiri jalan hidupnya..." jawab Badhar singkat, sembari melempar tubuh Adrian hingga tersungkur ke lantai tak berdaya.
Lalu Badhar pergi meninggalkannya begitu saja, dengan langkah tegap yang menggambarkan kemarahan sosok seorang Badhar.
Yaa, begitulah Bashar...
**************************************
**************************************
Tiga bulan kemudian tiba-tiba tersiar berita di surat kabar nasional dengan judul:
"Seorang dokter muda asal Indonesia ditemukan tewas di apartemennya yang diduga bunuh diri karena depresi"
=============SEKIAN=============
Baca juga cerpen tentang petualangan:
Dengan penuh penasaran dan sedikit gugup Fathir mulai membuka buku itu.
Halaman demi halaman dia buka satu persatu, mulai dari tentang riwayat hidupnya yang kedua orang tuanya berpisah dan akhirnya ia ikut bersama neneknya, mbok Minah. Hingga dihalaman yang bercerita tentang pertama pertemuannya dengan sahabatnya, Fathir.
Hari ini senin 5 september 2011, awal pertemuan ku dengan seseorang yang bernama Fathir,
Dia bertubuh tegap, tinggi besar dengan tato di punggung yang selalu dia tutupi.
(Hanya aku dan sahabat dekatnya saja yang tau, karena jika sampai guru BP tau mungkin kelar riwayat hidupnya di sekolah ini)
Karena postur, tampang dan keberaniannya, menjadikan dia anak yang ditakuti di sekolahnya.
Dia adalah centeng sekolah.
Membaca tulisan itu Fathir merasa tersanjung dan teringat masa-masa perkenalannya dengan Rey.
Waktu itu saat terjadi tawuran antar sekolah, Rey yang anak baik-baik saat itu sedang asyik membaca buku, dia tak tau menau tentang tawuran yang tengah terjadi di sekitar alun-alun kota Pekalongan. Melihat Rey yang duduk sendiri pihak musuh langsung mendatangi Rey yang masih berseragam satu sekolah dengan Fathir. Tanpa basa-basi Rey langsung dikeroyok oleh rombongan STM Wiradesa musuh bebuyutan STM dimana Rey sekolah.
Melihat anak satu sekolah dihajar musuh, rombongan Fathir langsung datang menolong.
Dan sejak saat itulah Rey berkenalan dengan Fathir, centeng sekolah.
Bersahabat dengan Fathir, lambat laun cara pandang Rey mulai berubah, semula Rey ingin menjadi anak baik-baik, sejak saat itu Rey mulai kenal dengan dunia hitam.
Tak hanya berkelahi, minum minuman beralkohol pun sudah menjadi rutinitas kebiasaannya. Rey yang dulu rajin dan tergolong anak pintar kini menjadi Rey yang sering bolos dan menjadi anak nakal.
Apapun itu, menjadi sahabat Fathir mampu membuat hidup Rey jadi sangat berwarna. Rey merasa menemukan dunianya yang baru dan merasakan indahnya kenakalan dimasa-masa remaja.
*****
Walaupun kami memilih jalan hidup yang gelap dan berlumur dosa, namun Fathir adalah sahabat terbaikku.
Aku kenal betul siapa Fathir, sejahat-jahatnya kami, kami punya aturan main yang manusiawi....
Saat tawuran kami tak pernah membawa senjata tajam, walaupun pihak musuh membawa kami tak sedikitpun gentar...
Kami tak pernah melukai atau menghina saat musuh sudah tak berdaya....
Kami juga gak akan menyakiti perempuan walaupun itu dari pihak musuh...
Dan semabuk-mabuknya kami, kami tak pernah membikin onar...
Serusak-rusaknya prilaku kami, kami tidak pernah merusak prilaku orang...
Yaa, begitulah prinsip yang kami pegang...
Membaca tulisan itu Fathir teringat masa-masa saat remaja dulu, hari-hari yang begitu indah telah dilaluinya bersama sahabat sejatinya Rey. Tak terasa air mata Fathir menetes haru, membayangkan sosok tulus dari persahabatannya dengan Rey.
*****
Hari ini 7 desember 2011, aku berkenalan dengan bidadari yang selalu hadir dalam mimpiku, begitu indah terasa saat itu, hingga saat-saat perkenalan itu selalu terbayang-bayang di kepalaku.
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri. Aku mengenalnya saat aku datang ke rumah sahabatku itu, Fathir.
Melihat tulisan itu seketika mata Fathir terbelalak, jiwanya tersentak seakan tak percaya sahabatnya mencintai adiknya.
Sudah empat tahun lebih Rey menyimpan rahasia itu darinya.
"Tapi kenapa Rey menyembunyikan semua ini dariku...???
Bukankah Rey juga yang mendukung dan membela mati-matian saat Raisya hendak pacaran dengan Rendi...???
Kenapa Rey yang menjelaskan padaku agar aku merestui hubungan Raisya dengan Rendi sementara Rey sendiri mencintai Raisya...???" Hati Fathir terus bertanya-tanya.
Ditengah pikirannya yang kacau, Fathir kembali membuka lembar demi lembar buku itu.
Hari ini, 16 juli 2012 aku bersama sahabat-sahabatku, kami semua sedang asyik minum, tak disangka sahabatku Dodi yang sudah mabuk berat tiba-tiba mulutnya ngeromet dan berkata ngelantur, bahwa ternyata Dodi juga mencintai Raisya adik Fathir.
Mendengar itu, Fathir yang juga tengah mabuk tak terima.
Fathir berprinsip, sejahat-jahatnya dia, dia ingin adiknya pacaran dengan cowok baik-baik.
Berawal dari kata-kata ngelantur Dodi, karena sama-sama mabuk perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Dodi dihajar habis-habisan oleh Fathir.
Atas kejadian ini aku jadi sadar, aku tak mungkin bisa memiliki Raisya. Biarlah aku simpan dalam-dalam rasa cinta ini....
Lebih baik aku merasakan perihnya menyimpan rasa cinta, dari pada harus merasakan kehilangan sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudara...
Bukankah jika aku bersahabat dengan Fathir, aku tetap bisa dekat dengan Raisya...???
Sementara jika aku kehilangan Fathir, itu artinya aku juga kehilangan Raisya...
Bukankah mencintai tak harus memiliki...???
Jika melihatnya saja sudah bisa membuatku bahagia, kenapa harus ada ego untuk memilikinya...???
Dengan membaca tulisan itu, akhirnya Fathir tau mengapa selama ini Rey menyembunyikan perasaannya pada Raisya.
*****
Kini 7 desember 2015 genap empat tahun aku bersahabat dengan Fathir, Fathir yang dulu arogan kini sudah mulai berubah lebih dewasa.
Aku ikut bangga saat ini dia bisa masuk universitas teknik negeri di Bandung. Walaupun kami harus berpisah karena aku meneruskan kuliah di Pekalongan, karena aku ingin tetap membantu warung simbokku.
Tapi setidaknya tiap liburan aku masih bisa bertemu dengannya. Mendaki gunung bersama, begadang sampai malam atau sekedar kebut-kebutan di jalan raya.
Bagiku itu sudah cukup untuk mewarnai hidupku bersama Fathir.
"Fathir, you is my best friend..."
Semua kata-kata Rey dalam buku itu mampu membuat Fathir terharu dan bangga padanya.
"Kau benar-benar sahabatku Rey..." bibirnya berucap lirih. Sembari memeluk buku itu.
Namun disaat hatinya sedang haru biru, tiba-tiba hatinya tersentak mendengar ucapan petugas SAR yang sedang berbicara lewat HT dengan team SAR yang berada diatas, bahwa sebanyak 26 pendaki yang terjebak di Pasar Bubrah telah berhasil dievakuasi dengan selamat, dan saat ini mereka sedang berjalan menuju basecamp.
Mendengar itu hati Fathir sangat lega, wajahnya berbinar dan ingin segera menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Rey, aku bangga atas keberanianmu...
Kau mampu menyelamatkan banyak nyawa..." bibirnya kembali berucap lirih. Seakan siap menyambut dan siap memeluk kedatangan Rey.
****
Tak berapa lama, nampak di kejauhan iring-iringan lampu senter yang menandakan kedatangan para pendaki yang sudah dinanti-nantikan kedatangannya.
Namun saat rombongan itu telah tiba, Fathir tak menemukan sahabatnya itu, satu-persatu para pendaki itu memasuki basecamp diperhatikan, namun Fathir tetap tak menemukan Rey, bahkan ada sebagian yang dipapah karena cidera kaki, ada pula yang ditandu karena terserang hipotermia pun semua tak luput dari perhatian Fathir.
"Dimana kamu Rey...???" Ucapnya penuh kekhawatiran.
Ditengah kepanikan yang membakar jiwanya, tiba-tiba terdengar suara salah seorang team SAR yang sedang berbicara dengan anggota yang masih berada di atas. Bahwa telah ditemukan tiga pendaki dalam keadaan meninggal dunia, diduga karena terserang hipotermia.
Seketika hati Fathir terasa tersambar petir, mendengar kabar itu. Matanya terbelalak, ototnya serasa kejang dan denyut jantungnya berdebar kencang.
"Tidak... tidak... Rey akan baik-baik saja..." hatinya mencoba mengelak dari firasat di dalam pikirannya.
*****
Sementara itu, kabar meninggalnya tiga pendaki itu langsung menyebar di media sosial, grup-grup pendaki gunung di facebook langsung membicarakan kabar itu. bahkan berita itu sampai di redaksi televisi yang segera menerjunkan wartawannya untuk menuju tkp, basecamp Selo.
Hiruk-pikuk di basecamp semakin ramai, bahkan dari pihak kepolisian pun datang untuk meninjau dan mengkonfirmasi kabar itu.
Tepat pukul 00.00 dini hari petugas berhasil mengevakuasi ketiga jenazah pendaki itu. Para wartawan dari berbagai media berkumpul, petugas kepolisian, team SAR, team medis, dll. Semua sudah siap menunggu kedatangannya.
Tak terkecuali Fathir, dia berada paling depan untuk menunggu dan memastikan bahwa ketiga jenazah itu bukan sahabatnya Rey.
Saat rombongan team SAR yang membawa ketiga jenazah itu sampai, para petugas basecamp langsung menghalau, hanya team medis saja yang diperbolehkan masuk.
"Pak... tolong izinkan aku masuk...!!!
Aku ingin memastikan sahabatku...!!!" Teriak Fathir pada petugas yang berdiri di depan pintu.
Sementara para wartawan hanya bisa memotret dan mewancarai petugas SAR dari luar.
Fathir terus berusaha merengsek masuk, namun tetap dihalau petugas. Saat team medis selesai mengindentifikasi barulah Fathir diizinkan masuk.
Alangkah terkejutnya Fathir, saat melihat orang yang berbaring di kantong jenazah itu sahabatnya sendiri, Rey.
"Rey....!!!! Reeeyyy....!!!!" Fathir berteriak sekencang-kencangnya, sembari memeluk tubuh Rey.
Tak terbayang betapa sedihnya Fathir saat sahabat setianya telah terbujur kaku di perlukannya. Fathir terus berteriak histeris, tak menghiraukan sekelilingnya.
Lalu dengan pelan Fathir merebahkan tubuh Rey dengan pelan, dipukulnya dada Rey tiga kali keras sekali. Tak hanya itu, dibenturkannya kepala Rey ke kepalanya sembari menangis dan berucap,
"Seperti janjiku Rey, kalau sampai aku tau kau mencintai adikku, akan ku pukul dadamu tiga kali, dan ku benturkan kepalamu di kepalaku...
Rey... kenapa kamu tidak terus terang padaku Rey... kenapa...!!!???" Fathir terus berbicara sendiri penuh emosi, sembari menggoyang-goyangkan tubuh Rey.
"Seandainya aku tau kamu mencintai adikku, aku pasti merestui itu Rey...
Kau bukan orang jahat, kau orang terbaik yang aku kenal...
Kau sungguh orang baik Rey..." bibir Fathir terus berucap, namun nadanya mulai lemah seiring tubuhnya yang telah lunglai.
Fathir mulai tak sadarkan diri, dia berbaring lemas disamping jenazah sahabatnya.
*****
Sementara itu, berita meninggalnya tiga pendaki terus menyebar luas, di televisi dan di sosial media terus membicarakannya. Apalagi dari ketiga pendaki itu ada satu yang tidak memakai perlengkapan standar, hanya memakai kaos oblong, dan celana pendek tak memakai alas kaki.
Hal inilah yang mengundang banyak bully dari berbagai pihak.
"Pemirsa, kali ini kami melaporkan langsung dari basecamp pendakian gunung Merapi, dimana saat ini telah terjadi insiden badai besar yang menewaskan tiga orang pendaki yang diduga meninggal karena serangan badai dan udara dingin yang ekstrim..." ucap reporter televisi didepan kameramen untuk menyiarkan langsung kejadian itu.
"Tapi pemirsa, yang perlu digaris bawahi disini adalah perlunya kita meningkatkan standarisasi keselamatan dalam pendakian, selain dari pihak pengelola, dari para pendaki itu sendiri harus meningkatkan persiapan baik dari segi mental dan perlengkapan...
Disini bisa kita lihat masih ada saja seorang yang mendaki gunung dengan memakai perlengkapan yang tidak memenuhi standar , sehingga saat terjadi sesuatu diluar dugaan ini akan beresiko tinggi..." ucap reporter terus menjelaskan tentang kejadian ini.
Setelah diizinkan masuk untuk meliput, reporter itu lalu mendekat ke jenazah yang dimaksud tadi yang diikuti kameramen yang terus menshoot secara live, setelah mendekat ke jenazah itu, yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek, reporter tadi terus menjelaskan secara detail kondisi jenazah tersebut.
"Pemirsa, disini terlihat bahwa masih saja ada pendaki yang tidak mementingkan keselamatan dirinya sendiri, terlihat dari cara berpakaiannya yang alakadarnya. Bukankah di gunung kita harus membawa perlengkapan yang safety, mulai dari sepatu, baju hangat dan yang terpenting raincoat untuk melindungi kita saat terjadi hujan..." reporter tersebut terus berbicara secara live dan seakan ikut membully atas kejadian ini.
Namun saat Fathir berbaring di samping jenazah sahabatnya, sayu-sayu dia mendengar apa yang diucapkan reporter tadi.
Merasa tak terima Fathir langsung berdiri tepat di depan reporter yang sedang live.
"Maaf mbak, bukan ikut campur urusan pekerjaan anda...!!!
Apakah anda sudah konfirmasi dulu pada orang terdekat korban kenapa korban dalam keadaan demikian...???" Suara Fathir lantang melawan reporter tadi.
"Seharusnya mbak konfirmasi dulu pada saya atau saksi-saksi di TKP sebelum menjustifikasi seperti itu...!!!
Demi Allah saya saksinya, dia sahabat saya mbak... dia sependakian dengan saya...
Saya melihatnya sendiri dia sebelum kejadian itu berpakaian lengkap, lebih dari sekedar safety seperti yang anda ucapkan tadi..." Fathir menjelaskan dengan nada yang meninggi. Dia tidak terima sahabatnya disudutkan seperti itu, apalagi dia sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Mendengar ucapan Fathir, reporter tersebut hanya diam dan meminta maaf.
Dan tiba-tiba ada pendaki lain yang datang dan ikut menimpali ucapan Fathir.
"Yaa benar, aku saksinya dia pendaki terhebat...
Karena dialah nyawa kami selamat...
Dia yang tiba-tiba datang lalu berteriak kencang, memerintahkan agar kami harus segera turun karena hujan yang terjadi bukan hujan biasa, tapi badai besar yang ekstrim...
Raincoat yang aku pakai ini adalah pemberiannya saat raincoatku terhempas angin saat hendak aku pakai, dan dialah yang memberikan raincoatnya untuku..." ucap salah satu pendaki yang juga menjadi saksi kejadian itu.
"Yaa, sepatu ini juga sepatunya...
Saat kami hendak turun tapi sandal yang aku pakai putus dan dialah yang melepas sepatunya untuk diberikan padaku..."
Ucap salah satu pendaki lain lagi.
"Begitu pula dengan celana panjang ini, dia yang memberikan padaku...
Dia orang yang terbaik yang pernah aku temui..." ucap pendaki lainnya.
"Yaa, saat semua sudah turun, dia melihat sepasang senter yang bersinar dari atas, tepat sebelum puncak...
Setelah dipastikan ada dua pendaki yang baru saja turun dari puncak terjebak di lebatnya badai, dia nekat naik keatas untuk menyelamatkannya. Kami disuruh turun sementara dia mendaki ke arah dua pendaki tersebut...
Setelah itu kami tak tau lagi nasibnya...
Hingga akhirnya saat ini kita ketahui bersama, bahwa dia akhirnya gugur bersama keberaniannya..." ucap para pendaki yang menyaksikan sendiri aksi heroik seorang Rey.
*****
Sementara itu, pagi pukul 06.00wib berita itu telah menyebarkan di berita televisi.
Betapa sedihnya Raisya, melihat berita musibah itu. Tubuhnya seketika bergetar, menggigil tak kuasa menerima kenyataan ini. Air matanya tak kuasa terbendung, menggambarkan betapa kesedihan yang tengah dialami.
"Rey..." bibirnya berucap lembut memanggil nama seseorang yang selama ini memberi perhatian penuh padanya.
Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu yang menandakan ada orang yang datang.
Lalu dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, Raisya mencoba berdiri, melangkah ke pintu depan.
Setelah dibuka, betapa kagetnya dia, melihat sosok yang tengah berdiri dihadapannya.
Raisya langsung memeluknya. Erat, erat sekali hingga berapa lama tak terlepas.
"Yang sabar yaaa Sya..." laki-laki itu berucap lirih sembari membelai rambut Raisya yang masih berada dalam pelukannya.
"Kenapa ini harus terjadi pada Rey kak...???" ucap Raisya menangis sesunggukan.
Fathir tak mampu berucap apa-apa lagi, hanya bisa memeluk erat adik yang sangat dicintainya.
Lalu Fathir melepas pelukan Raisya, dan dengan pelan memberikan bungkusan kresek hitam titipan dari Rey.
"Baca ini, ini satu-satunya titipan dari Rey untuk kamu Sya..." ucap Fathir pelan lalu pergi memasuki kamarnya dengan langkah yang gontai tak berdaya.
Semantara Raisya tetap berdiri didepan pintu memandangi bungkusan itu.
Lalu Raisya melangkah masuk, dibawanya bungkusan itu ke dalam kamarnya.
Sesampainya di kamar, dibukanya bungkusan itu yang berisi catatan harian Rey, seseorang yang dengan tulus mencintainya selama ini.
Dibukanya halaman demi halaman yang menceritakan tentang kejadian-kejadian yang dialami Rey. Hingga tangannya berhenti di satu halaman yang menceritakan awal pertemuannya dengan dirinya.
Hari ini aku seperti bermimpi, bertemu dengan seseorang yang selama ini ada dalam mimpiku...
Aku tak percaya bahwa bidadari dalam mimpiku itu nyata...
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri...
Aku yakin suatu saat aku bisa berkenalan dengannya...
Dan untuk saat ini aku cukup senang bisa memandanginya...
Tulisan dari Rey itu mampu membuat bibir Raisya tersenyum, lalu tangannya kembali membuka ke lembar-lembar berikutnya.
Hari ini 7 desember 2011, aku berkenalan dengan bidadari yang selalu hadir dalam mimpiku, begitu indah terasa saat itu, hingga saat-saat perkenalan itu selalu terbayang-bayang di kepalaku.
Dia adalah Raisya, adik dari sahabatku sendiri. Aku mengenalnya saat aku datang ke rumah sahabatku itu, Fathir.
Membaca itu, angan Raisya terbang kembali ke era dimana dia baru pulang sekolah yang sedang memakai seragam putih biru, diajak kenalan oleh teman kakaknya. Memang dalam hati Raisya moment itu tak berarti apa-apa, namun baru dia sadari ternyata moment yang tak berarti itu sungguh sangat berkesan bagi seorang Rey.
*****
Hari ini 14 februari 2011 aku sengaja menyelipkan sebatang cokelat di tas sekolahnya. Karena aku tau saat ini dia belum punya pacar dan ingin sekali dapet cokelat seperti teman-teman yang lain.
Membaca itu dia baru sadar kalau selama ini dia yang memberikan perhatian penuh padanya, untuk kebahagiaannya.
Raisya terus membuka lembar demi lembar buku catatan itu, yang menjadikannya tau tentang pengorbanan Rey selama ini.
Bahkan dialah yang meyakinkan pada Fathir saat Raisya berpacaran dengan Herman. Fathir yang semula tidak setuju atas penjelasan Rey akhirnya mengizinkan Raisya pacaran, walaupun akhirnya hubungan itu kandas ditengah jalan.
Hingga akhirnya Raisya bertemu dengan Rendi, Rey lah yang berusaha membujuk Fathir agar hubungannya direstui. Padahal sesungguhnya Rey sendiri sangat mencintai Raisya.
Namun bagi Rey, kebahagiaan Raisya jauh lebih penting dari kebahagiaan dirinya sendiri. Walaupun dalam hatinya hancur melihat orang yang dicintainya bersama orang lain.
*****
Hari ini 12 februari 2016 aku sangat merasakan kesedihan yang mendalam, dia yang aku cinta sedang sakit di rumah sakit...
Saat aku hendak menjenguknya, ternyata Rendi telah ada bersamanya...
Terpaksa aku harus menunggu diluar hingga Rendi pulang...
Tapi ternyata buah yang aku bawa sama persis seperti buah yang Rendy bawa...
Dan yang lebih menyakitkan, Raisya lebih memilih memakan buah yang dibawakan Rendi...
Membaca itu Raisya teringat saat di Rumah Sakit, walau dia tak pernah menganggapnya ada, namun Rey lah yang setia menemaninya sampai semalaman di Rumah Sakit.
Rey akan memberikan segalanya untuk kebahagiaannya, walaupun selama ini selalu diabaikannya.
Setelah Raisya putus dengan Rendi, barulah Raisya sadar, bahwa Rey lah yang selama ini dengan tulus mencintainya, menantinya...
selalu ada disaat dia membutuhkannya...
Namun disaat Raisya mulai mencintainya, Rey harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Raisya terus membuka lembar demi lembar buku itu, yang menjelaskan betapa sayangnya Rey padanya. Setiap bait kata menceritakan keagungan cintanya yang menguras air mata untuk dibaca.
Hingga diakhir tulisannya,
"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."
Raisya menangis tersedu, merasakan penyesalan yang mendalam.
Ditutupnya buku itu lalu dipeluknya erat-erat.
Kemudian Raisya membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya.
Raisya memejamkan mata, hingga dari sudut matanya meneteskan air mata yang mengalir melewati kening hingga telinga. Merasakan setiap hembusan nafasnya sendiri, untuk menenangkan jiwanya, untuk mendamaikan hatinya.
Raisya mencoba terlelap, berharap ini semua hanya mimpi.
Yaa, semoga ini semua hanya mimpi belaka...
=============SEKIAN=============
Suasana mendung menggelayut tanpa sudut.
Nampak dua anak manusia berdiri diantara ruang buram yang berselimut kabut.
Dia adalah Rey dan Raisya.
Dua anak manusia yang memiliki cinta diwaktu yang berbeda.
Wajah Rey nampak lusuh kumal, matanya sayu menatap Raisya tak seperti biasa.
Kedua tangannya memegang pipi Raisya lalu mencium keningnya penuh cinta.
Tanpa kata Rey membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi darinya. Melangkah pelan lalu hilang diantara kabut yang tebal.
"Rey mau kemana Rey...???" Teriak Raisya dengan wajah cemasnya.
Namun Rey tak menghiraukan, tetap melangkah tenang menembus kabut yang buram.
"Rey, Rey jangan tinggalin aku Rey..." Raisya berteriak sekencang-kencangnya. Mengejar Rey yang menghilang ditengah hamparan kabut.
Namun Raisya terus mencarinya dengan memanggil-manggil namanya, ditengah kepanikannya, tak sengaja Raisya terperosok ke dalam jurang yang dalam.
"Aaaahhhh....!!!!!" Raisya menjerit keras, tubuhnya jatuh kedalam jurang yang dalam.
Tapi,
Seketika Raisya terbangun dari tidurnya, yang ternyata itu hanya mimpi belaka.
"Alhamdulillah, ternyata cuma mimpi..." gumam Raisya dalam hati sembari nafasnya yang tersengal-sengal.
Tapi alangkah kagetnya Raisya saat lampu led kecil di handphone nya menyala yang menandakan ada pesan masuk untuknya.
Setelah dibuka, ternyata ada chat bbm dari Rey. Yang isinya sebait puisi.
"PERGI"
Jika kedatanganmu tak diharapkan,
Jika keberadaanmu hanya akan membawa masalah baginya,
Hanya ada satu pilihan, "PERGI"
Waktu 4 tahun sudah cukup untuk membawa beban di hatimu...
Turunkan beban itu, lalu "PERGI"
Terkadang "PERGI" akan terasa lebih baik dari pada harus bertahan memperjuangkan hal yang menyakitkan...
Bergegas "PERGI" melangkah menjauh darinya...
Karena "PERGI" bukan berarti meninggalkan, bukan berarti tak peduli...
"PERGI" adalah belaian terlembut untuk orang yang kita cintai yang tak mungkin kita miliki...
-Reyhan-
*****
Tak terasa air mata Raisya membasahi pipinya, memikirkan Rey yang selama ini ia abaikan.
"Maafin aku Rey..." bibir Raisya bergetar, berucap lirih dengan tatapan kosong dengan pikiran yang menuju pada penyesalan hatinya.
Namun ditengah lamunannya, ia terpikir sepintas ingin menemui Rey untuk menjelaskan penyesalannya.
"Yaa, aku harus menemui Rey, aku harus kesana..." hati Raisya berucap lirih, lalu segera bergegas menuju tempat dimana Rey biasa berada.
Tempat itu adalah warung mbok Minah, tempat Rey selalu membantu simboknya yang menekuni usaha warung makan nasi megono.
*****
Pagi itu udara masih terasa dingin, suasana kampung masih cukup sepi, lalu lalang kendaraan masih jarang, namun suasana sepi itu tidak berlaku untuk warung mbok Minah, warung yang terletak di pinggiran kampung yang berbatasan dengan sawah yang membentang.
Warung Mbok Minah yang sejak pagi buta warungnya sudah ramai oleh orang-orang yang ingin membeli nasi bungkus daun pisang untuk sarapan, dengan menu spesial megono.
Yaa, megono adalah masakan khas Pekalongan, sebangsa urap yang terbuat dari nangka muda yang dirajang kecil-kecil yang dimasak dengan bumbu dan rempah-rempah. Yang membuat nasi megono ini menjadi sangat sedap dan pas sebagai menu untuk sarapan.
Apalagi nasi megono buatan mbok Minah ini, dengan racikan dan bumbu yang tepat, serta bungkus daun pisang, membuat megononya menjadi idola bagi orang-orang yang ingin membelikan sarapan untuk anggota keluarganya, bahkan tak jarang banyak pembeli yang datang dari kampung sebelah, sengaja ingin menikmati megono made in mbok Minah.
*****
Namun saat mbok Minah sedang sibuk melayani pembeli yang sudah ngantri, tiba-tiba Raisya datang dengan agak terburu.
Seperti biasa, setelah sepedanya diparkir di depan warung, Raisya langsung masuk ke warung mbok Minah.
"Mas Rey... mas Rey...
Mbok, Mas Rey nya ada mbok...???" Tanya Raisya dengan tergesa-gesa.
Belum sempat dijawab oleh mbok Minah yang sedang sibuk melayani pembeli, Raisya langsung menuju halaman belakang, ke tempat dimana Rey berada.
Namun Raisya tak menemukan Rey, tempat menyuci piring yang biasa Rey membantu simboknya juga terlihat kosong tanpa Rey.
Lalu Raisya menuju bangku di belakang yang menghadap sawah juga tak ditemuinya Rey.
Raisya duduk di bangku yang terbuat dari bambu itu, dimana Rey biasa duduk sembari memandangi pematang sawah yang kadang sesekali menulis sesuatu di buku hariannya.
"Kamu dimana Rey...???
Kini saat aku benar-benar membutuhkan kamu, tapi kau malah pergi ninggalin aku Rey..." Hati Raisya berucap lirih.
"Rey sedang mendaki gunung Ndok..." jawab mbok Minah yang tiba-tiba duduk disamping Raisya, sembari membelai rambutnya.
(Ndok adalah nama panggilan khas Pekalongan untuk anak perempuan yang masih belia).
"Mendaki ke gunung mana mbok...???
Kok mas Rey gak bilang-bilang siihh...???" Tanya Raisya dengan nada agak sebel.
"Bukankah Rey pergi sama abangmu Fathir..???" Jawab mbok Minah singkat.
"Kok kak Fathir juga gak bilang-bilang aku mbok...???" Ucap Raisya dengan wajah cemberut.
"Seng sabar ndok...
Paling besok sore juga mereka sudah pulang..." ucap Mbok Minah menenangkan.
"Tapi aku takut kalo pulang nanti sikap Rey berubah mbok...
Soalnya tadi pagi Rey bbm yang gak biasanya..." ucap Raisya curhat pada mbok Minah dengan nada yang agak panik.
"Bukankah kamu sudah terbiasa hidup tanpa Rey...???" Jawab mbok Minah singkat sedikit menyindir. Karena mbok Minah tau betul kalau selama ini Raisya sering mengacuhkan Rey.
"Tapi sekarang aku sadar kalo aku ternyata butuh Rey, mbok..." Raisya menjelaskan.
"Yasudah, aku yakin semua akan baik-baik saja... tunggu saja saat Rey pulang besok, nanti simbok bantu jelaskan sama Rey..." ucap mbok Minah menenangkan.
Pagi itu hati Raisya sungguh gelisah, tak biasanya Raisya sekhawatir itu, Raisya yang semula cuek pada Rey tapi kali ini ada kegelisahan dalam hatinya.
Rey yang selama ini memberi perhatian penuh padanya, kini tak biasanya menulis kata-kata tentang "pergi". Entah apa itu arti kata-kata itu. Yang jelas kata-kata itu mampu membuat Raisya cemas.
"Sekarang aku baru sadar Rey, kamulah yang selama ini mampu bertahan memberikan perhatian yang tulus padaku meski kadang perhatian itu sering aku abaikan....
Maafin aku Rey..." ucap Raisya dalam hati.
*****
Sementara itu, di jalur pendakian gunung Merapi, Rey dan Fathir sedang berjalan melakukan pendakian menuju puncak gunung Merapi via Selo.
Mereka berdua sudah terbiasa mendaki gunung. Karena mereka sudah sahabatan sejak kecil dan kebetulan mempunyai hobi yang sama.
Ransel besar menempel di punggung mereka masing-masing, nafas yang berderu yang diiringi detak jantung yang memompa darah mengalir lebih cepat. Membuat keringatnya bercucuran lebih deras.
Kadang sesekali mereka istirahat untuk sekedar minum dan meregangkan otot.
Yaa, pendakian gunung Merapi tergolong jalur pendakian yang cukup ekstrim, bagaimana tidak gunung yang keliatannya kecil namun jalurnya penuh tanjakan yang menguras tenaga, apalagi jalur setelah batas vegetasi, disana selain treknya yang terjal juga penuh bebatuan dan pasir yang licin.
Tapi bagi mereka semua itu tak menjadi penghalang baginya, karena baik fisik dan perlengkapan, mental mereka juga sudah teruji.
*****
Sabtu, di pos 3 atau sering disebut Watu Gajah dimana ditempat ini terdapat batu besar dan disekitarnya terdapat tanah yang datar yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda, dari sini ke pos Pasar Bubrah sudak tidak terlalu jauh.
Saat itu waktu menandakan pukul 4 sore, Fathir sedang asyik memasak di depan tenda sembari menikmati secangkir kopi hitam yang masih panas, dengan sebatang rokok yang selalu membuat hangat suasana.
Semantara Rey lebih sibuk dengan buku catatannya, bermain dengan pena yang tulus membelai selembar kertas putihnya. Sembari sesekali menghisap rokok kretek dan memainkan asapnya.
Wajahnya tenang, pandangannya sesekali menerawang menembus kabut yang menggumpal di kejauhan. Yang sesekali tangannya mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Kaya'nya ada pujangga yang sedang nulis puisi niihh...???" Celoteh Fathir sambil mengaduk sayur sop yang tengah dibuatnya.
"Aaahh lu koki restoran bintang tujuh berisik aje luuhh..." jawabnya balik mengejek.
Namun Fathir sengaja tak menimpalinya lagi. Lebih memilih senyum dan menertawakannya.
Sementara Rey lebih memilih meneruskan menulis karena suasana waktu itu terlalu syahdu untuk dilewatkan tanpa mengutarakan isi hatinya lewat pena.
Tapi entah mengapa, di ending tulisan Rey menuliskan kata-kata:
"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."
Rey nampak tertegun, wajahnya sendu seperti ada sesuatu yang dipendam selama ini.
"Thir, seandainya aku mencintai adikmu, apa yang akan kamu lakukan...???" Rey tiba-tiba bertanya pada Fathir.
Fathir seketika terperanjat, tak percaya atas yang diucapkan sahabatnya. Cukup lama Fathir terdiam, lalu dia menjawab.
"Aaahh kaya' gak tau aja, Raisya pacaran sama Rendy saja aku gak setuju, apa lagi sama kamu yang aku sudah tau seperti apa busuk-busuknya kamu..." Fathir menjawab enteng, menganggap sahabatnya Rey bercanda.
"Tapi seandainya itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan ke aku...???" Rey kembali bertanya.
"Kenapa siihh kamu Rey...???
Seandainya itu terjadi, aku akan pukul dadamu tiga kali dan membentur-benturkan kepalamu di kepalaku.... puas kamu Rey... hahaa..." jawabnya bercanda.
Namun Rey tetap diam, nampak ada kesedihan yang mendalam yang selama ini ia simpan.
Tak bisa dipungkiri sebenarnya Rey sudah jatuh hati pada Raisya dari bertahun-tahun yang lalu, tapi Rey lebih memilih menyimpan perasaannya karena ia tak enak hati jika sahabatnya Fathir mengetahui, apalagi Raisya selama ini cuek padanya dan lebih memilih Rendy sebagai kekasihnya.
Namun melihat wajah Rey yang tetap termenung, Fathir mulai curiga atas apa yang diucapkan Rey.
Saat Fathir ingin menginterogasi lebih dalam, tiba-tiba cuaca menjadi lebih ekstrim.
kabut tebal bergumpal datang disertai angin kencang. tak butuh waktu lama, seketika hujan mengguyur sangat deras.
Mereka pun segera mengemas peralatan masaknya, lalu segera masuk ke tenda.
Tapi hujan tak kunjung reda, malah angin terasa makin kencang. Dengan raincoat warna merah yang kebal air, Rey nekat keluar tenda untuk mengecek keadaan.
Namun cuaca tak seperti biasa, feeling Rey berkata,
"Ini bukan hujan biasa, ini badai besar...!!!"
Lalu Rey kembali masuk ke tenda, memberi tau pada Fathir tentang cuaca diluar.
"Thir, aku yakin ini badai...
Kita harus mengambil keputusan...
Lebih baik kita kemas tenda kita lalu turun..." ucap Rey dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tapi kita belum muncak...???" Jawab Fathir keberatan.
"Sementara jangan pikirkan muncak dulu, ini tidak memungkinkan...
Ayoo kita berkemas lalu turun...!!!" Rey memberi saran.
Lalu Fathir mencoba melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya nongol keluar dari pintu tenda persis seperti kepala kura-kura yang keluar dari tempurungnya.
Seketika wajah Fathir berubah penuh kecemasan, melihat hujan yang turun tak seperti biasanya. Bahkan tenda yang biasanya baik-baik saja saat hujan, kali ini tenda mereka sering terhempas tertiup angin.
"Oke kalo begitu..." jawab Fathir dengan wajah panik.
Lalu mereka langsung mengemasi barang-barangnya. Tenda segara dibongkar dan dimasukkan ke keril. Dan setelah semua rapi, mereka pun siap berjalan turun.
Namun saat mereka hendak turun, Rey melihat di sekitar area Pasar Bubrah masih terdapat tenda dan banyak pula pendaki yang terjebak disana.
Rey berubah pikiran, di ingin menolong mereka yang masih berada diatas.
"Thir, kamu turun duluan...
Kasih tau para pendaki lain yang masih ngecamp di bawah untuk segera turun, karena cuaca terlalu ekstrim..." ucap Rey sembari menepuk pundak Fathir.
"Gila kamu Rey, diatas sangat berbahaya, belum genap jam 5 sore tapi langit sudah sangat gelap seperti ini, dan angin juga sangat kencang itu sangat berbahaya...
Ayoo kita turun bareng aja...!!!" Fathir mengajak Rey sembari menarik tangannya agar segera turun.
"Tidak Thir, aku harus keatas, banyak pendaki yang terjebak disana... kamu turun dulu kasih tau yang lain...
Ini pilihan yang terbaik Thir..." ucap Rey menyakinkan sahabatnya. Dibawah derasnya hujan dan sabetan angin yang mampu memporak-porandakan hutan.
Sesaat semua terdiam, menatap satu sama lain.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu Rey..." ucap Fathir dengan nada yang agak berteriak bersaing dengan suara guyuran hujan yang semakin deras.
Di tengah kepanikan tiba-tiba pohon sengon disamping mereka roboh diterjang angin.
Lalu tanpa pikir panjang Rey mendorong tubuh Fathir untuk segera turun.
"Cepat turun Thir cepat..." teriak Rey pada sahabatnya. Namun Fathir tetap diam.
Keduanya kembali terdiam, Rey mebuka kupluk raincoatnya dan membiarkan rambut panjangnya basah tersiram air hujan. Lalu Rey memeluk Fathir erat sembari berkata.
"Aku akan baik-baik saja sobat, kita harus menyelamatkan mereka...
Kita ketemu di basecamp, oke...!!!???" lalu Rey melepas pelukannya, merogoh kantong raincoatnya dan mengambil buku yang sudah terbungkus kantong kresek hitam.
"Seandainya ada sesuatu terjadi, titip ini buat Raisya..." ucap Rey sembari memberikan buku itu pada Fathir.
Mereka terdiam saling memandang. Dibawah guyuran air hujan mereka tak biasanya merasakan hal seperti ini.
Selang berapa lama, tanpa berucap lagi, Rey membalikkan badan dan menuju ke arah Pasar Bubrah.
Semantara Fathir berlari menuju bawah untuk memberi informasi pada pendaki lain untuk segera berkemas dan turun.
Ditengah ketegangan jiwanya, namun Fathir yakin Rey akan baik-baik saja, dia teringat sudah sering Rey mengambil keputusan ekstrim, walau membahayakan nyawanya sendiri namun Rey tetap baik-baik saja.
Dia teringat dulu waktu masih sekolah, saat terjadi tawuran dan mereka terkepung, Rey pernah menyelamatkan teman-temannya.
Dia menyuruh Fathir dan teman-teman yang lain untuk pergi, sementara dia menghadang musuh hanya dengan pentungan kayu seorang diri, saat Fathir dan yang lain sudah lari jauh tak terlihat, Rey yang sudah membuat musuhnya kesal, seketika lari dengan jurus langkah seribunya, sehingga musuh lebih memilih mengejar Rey dibanding Fathir, namun dengan tubuh Rey yang ramping membuat Rey mudah lari kesana-kemari melompati pagar pekarangan rumah warga dan akhirnya Rey lolos dari kejaran musuh.
Yaa begitulah karakter Rey yang senang mengambil resiko.
*****
Sementara itu, Fathir terus berjalan menuruni jalur menuju pos 2, di sana tenda yang masih berdiri yang kemudian Fathir berteriak kencang agar semua pendaki bergegas turun ke basecamp.
Seketika semua sigap berkemas dan membongkar tendanya masing-masing.
Hujan dan angin masih sangat kencang, banyak pohon-pohon yang roboh yang membuat jalur menjadi teramat sulit untuk di lalui.
Tepat jam 8 malam semua pendaki berhasil evakuasi ke basecamp. Namun ada beberapa pendaki yang masih terjebak diatas karena cuaca yang sangat ekstrim.
Team SAR segera diterjunkan untuk mengevakuasi pendaki yang masih terjebak diatas, suasana kepanikan nampak di basecamp, radio HT selalu berbunyi memberi informasi satu sama lain antar petugas team SAR.
Fathir dan beberapa pendaki lain yang baru saja sampai di basecamp langsung disambut oleh para relawan basecamp, diberi minuman hangat, sembari diinterogasi tentang keadaan diatas.
Untuk memberikan informasi kepada team SAR yang sedang menuju ke atas.
Setelah semua selesai, Fathir dan pendaki lain di persilakan istirahat.
Sementara suasana di basecamp masih tetap sibuk penuh kepanikan. Komunikasi lewat HT masih saling bersautan antar team SAR. Dan tentunya kabar badai di lereng Merapi pun langsung menyebar lewat media sosial.
Namun ditengah kepanikan itu, Fathir dengan tubuh yang lelah dengan pelan merebahkan tubuh di tikar yang telah disediakan.
Pikiran menerawang menuju pada sahabat yang masih diatas sana.
"Aku yakin kamu baik-baik saja Rey..." hatinya berisik lirih.
Pikiran terus menerawang membayangkan sahabatnya, lelah yang merobek jiwanya tak mampu melelapkan matanya untuk sekedar melepas lelah. Pikiran tetap tertuju pada Rey.
Seketika lamunannya tersentak saat Fathir teringat pada seonggok buku yang terbungkus kantong kresek hitam yang berada disampingnya.
Rasa penasaran berkecamuk dalam hatinya, ia pun ingin segera membuka dan ingin tau tentang tulisan Rey selama ini.
============BERSAMBUNG===========
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI
Dijamin akan lebih seru dan penuh haru..!!!
Oleh: Ahmad Pajali Binzah.
"Nung, jujur aku sangat sayang sama kamu...
Rasa ini sudah ada jauh-jauh hari sebelum kamu mengenal aku..." ucap Tedy pada Inung gadis yang dicintainya, yang sedari tadi duduk di sampingnya.
Namun Inung tetap diam tak bergeming, membisu bak patung batu yang baru saja diukir.
"Kenapa kamu diam saja Nung...???
Apa aku salah jika aku sangat mencintaimu...???" ucap Tedy lagi dengan nada yang agak meninggi.
Namun Inung tetap membisu sembari sesekali memandangi sekitar, seolah ada sesuatu yang ditunggu.
"Aku tau Nung kalo kamu sudah ada yang punya, tapi apakah aku salah jika rasa cinta ini ada...???
Cinta ini terlalu tulus untukmu Nung, hingga tak terpikir olehku untuk memilikimu...
Aku hanya ingin kau tau tentang perasaan ini, dan mengizinkan aku untuk mencintaimu...
Karena bagiku, bisa mencintaimu adalah suatu yang bisa membahagiakan hidupku Nung..." Tedy tetap mengutarakan isi hatinya walau gadis yang disampingnya selalu mengacuhkannya.
Lagi-lagi Inung tetap diam seribu bahasa, asyik dengan kesendiriannya bersama handphone yang selalu dimainkannya.
Hingga tak berapa lama Inung berdiri, dengan wajah yang bersinar dihiasi lengkungan senyum di bibirnya yang tersimpul manja, tangannya melambai tak sabar akan kehadirannya.
"Mas Bayu..." teriak Inung menyambut Bayu, laki-laki yang sudah dipacarinya beberapa tahun yang lalu.
Lalu mereka bertemu, saling berpelukan yang menandakan keduanya sudah lama saling mengenal.
"Mas Tedy, aku pergi dulu yaa...
Makasih udah nemenin Inung disini..." ucap Inung seraya pergi meninggalkan Tedy bersama Bayu kekasih hatinya.
*****
"Aaahhh,,, pantesan Inung sedari tadi diam saja...
Ternyata sedari tadi aku hanya mampu berbicara dalam hati, bibirku terkunci tak mampu melontarkan kata-kata untuk mengutarakan rasa cinta yang ada..."
Dan lagi-lagi Tedy hanya bisa duduk manis memandangi gadis pujaannya pergi, bergandeng tangan mesra bersama kekasihnya.
============= SEKIAN =============
Prastyo Hardiano Binzah, seorang kontraktor dan pengusaha sukses di bidang property yang namanya sudah tak asing lagi di kalangan pembisnis-pembisnis property dikota metropolitan ini.
Dan kali ini mas Pras panggilan akrabnya, lagi-lagi memenangkan tender pembangunan gedung baru di salah satu kampus swasta di kota ini, saat dia datang untuk meninjau pengerjaan proyek itu, disitulah Prasetyo berkenalan dengan mahasiswi dikampus tersebut. Yang kelak akan menjadi sumber bencana dalam bahtera kehidupannya.
"Namaku Keisya..." Ucap gadis cantik nan sexy ini, sambil mengedipkan matanya dengan tatapan manja sembari menggigit bibirnya sendiri yang membuat Prasetyo langsung terpikat hati sejak pandangannya pertama kali.
Keisya namanya gadis terpopuler dikampus itu, wajahnya yang sangat cantik, rambutnya yang terurai sebahu, tatapan matanya yang menggoda dan body mulusnya yang mempesona, juga tato abstrak berwarna hitam-merah yang terlukis di pinggulnya yang selalu mengintip dari sela-sela kaos cingkrang yang selalu dipakainya, membuat hampir semua mahasiswa di kampus itu tergoda, bahkan banyak diantara mereka yang tergila-gila padanya, tak terkecuali Prasetyo.
Tapi sayangnya Keisya bukan gadis kelas ecek-ecek, dia seperti artis papan atas yang tak mau dipacari oleh cowok-cowok berkantong cekak, dia lebih memilih om-om pejabat atau pengusaha-pengusaha yang sudah benar-benar sukses. Bahkan seorang sekelas Prasetyo pun belum masuk kriteria levelnya.
Hal inilah yang membuat Prasetyo makin tergila-gila, semakin mengejarnya. Padahal biasanya Prasetyo lah yang sering dikejar-kejar gadis disekitarnya. Bagaimapun Prasetyo adalah sosok yang tampan, dengan perawakan tinggi proposional, dengan rambut cepaknya yang terkesan makin bersih, apalagi dengan kekayaannya yang cukup melimpah diusianya yang masih muda, tak heran banyak wanita yang jatuh hati padanya.
Tetapi kali ini Prasetyo harus bertekuk lutut pada gadis yang baru saja dikenalnya. Mempersembahkan seluruh hati dan segala cintanya.
"Keisya, aku sangat mencintaimu... Pliss mengertilah perasaanku ini, aku sangat membutuhkanmu..." Rayu Prasetyo sambil berteriak didepan kost Keisya. Tapi Kaisya tetap melangkah cepat meninggalkannya memasuki rumah yang ia sewa didekat kampus itu.
"Keisya...!!!" Teriaknya lagi.
Akhirnya Keisya berhenti dan kembali melangkah ke arah Prasetyo.
"Hey mas, aku tak percaya apa yang semua mas Pras ucapkan itu... Selama ini banyak kok orang seperti mas Pras ini, tapi ujung-ujungnya ternyata cowok pelit dan kere..." Ucap Keisya tanpa basa basi sambil jemarinya memainkan rambutnya yang terkesan menyeplekan ucapan Prasetyo.
"Jadi apa maksudmu Keisya...???" Tanya Prasetyo terheran.
"Iyaa mereka semua kere, gak bisa memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan hidupku yang gak murah ini... Ingat mas, di dunia ini gak ada yang gratis, semua pakai uang... Dan perlu mas Pras tau, aku lebih suka sama pejabat-pejabat yang royal...
Hhmm... Bagi aku mereka lebih menggoda... Dari pada cowok keren tapi kere..." Jelasnya.
"Lagian aku tau kok, mas Pras sudah berkeluarga juga, sama seperti om-om yang biasa mengajakku berkencan, tapi bedanya mereka berani membayarku mahal..." Imbuhnya.
Mas Pras sedikit tercengangang, terdiam sesaat.
"Ooo,,, jadi itu yang kamu pikirkan... Seperti yang orang-orang tau, uang bagiku tak ada artinya... Bahkan aku jauh lebih royal dari pejabat-pejabat itu, asal kamu mau, aku bisa berikan apa yang kamu ingankan Keisya..." Ucap mas Pras sambil menyentuh dagu Keisya dan mendekatkan wajahnya di wajah Keisya dengan senyum khasnya yang mengisaratkan ia siap memenuhi semua keinginan Keisya.
"Ini baru cowok yang gue cari..." Ucap Keisya dalam hati berbunga-bunga. Dengan mata yang berbinar-binar dan bibir yang makin menggoda.
"Oke dehh kalo begitu, ayuukk kita masuk mas, kita nikmati malam ini penuh kehangatan..." Ucap Keisya penuh manja dengan senyum yang menggoda sambil menarik dasi mas Pras menggiringnya masuk ke kost'an.
Malam itu menjadi awal dari cerita cinta terlarang, seorang gadis liar bertemu dengan laki-laki flamboyan. Permainannya yang agresif membuat Prastyo makin membara terbelenggu dalam dekapan eksotisme Keisya.
***
Cerita percintaan itu terus berlanjut. Hingga disuatu hari, setelah mereka selesai bercinta.
"Mas Pras, sebenarnya aku udah gak betah tinggal disini... Aku pingin tinggal ditempat yang lebih nyaman..." Ucap Keisya penuh manja yang masih dalam pelukan Prasetyo setelah selesai memadukan kisah cinta terlarangnya.
"Hmmm... Baiklah, nanti aku cariin apartemen yang mewah sepesial buat kamu yang paling cantik..." Jawab Prasetyo santai sambil menyolek hidung Keisya dengan jari telunjuknya, lalu mendekap erat tubuh mulusnya yang masih tanpa busana.
Prasetyo adalah sosok laki-laki yang flamboyan, walaupun mempunyai hubungan gelap dengan banyak perempuan diluar, tetapi dia tetap bisa menyembunyikannya dari sang istri.
Sebagai sosok pengusaha sukses, segala macam kehidupan malam pernah dia coba, dan baginya kehidupan ini adalah suatu kesenangan dunia yang tiada batasnya.
Tapi dari itu semua, hanya Keisya lah yang mampu membuat dia bertekuk lutut, semua permintaannya tak mampu dia tolak, perhiasan, apartemen, mobil mewah, kucuran dana setiap minggunya mencapai puluhan juta dan masih banyak lagi, karena baginya, tidak ada yang lebih bisa memberikan kepuasan batinnya selain cinta dari Keisya.
***
Waktu berjalan begitu cepat, satu tahun telah berlalu. Keadaan telah banyak berubah, Prasetyo yang terkenal sangat cerdas sekarang tak ubahnya seperti kerbau yang dicocol hidungnya.
Dia sudah tak sedinamis sebelumnya, langkahnya dikendalikan oleh cinta yang membutakan matanya. Pandangannya tak lagi tajam kedepan, hanya mampu sebatas paha dan selakangan.
Jarinya tak mampu lagi menunjuk tegas arah bisnisnya, tetapi hanya mampu sebatas merada dada dan puting-puting payudara.
Bibirnya tak mampu lagi berbicara indah saat presentasi didepan kliennya, kini bibirnya hanya bisa untuk melumat bibir-bibir sexy yang merah merona.
Dia terkungkung oleh nafsu dunia yang menyesatkan. Kini bisnisnya hancur berantakan, proyek-proyek yang dikerjakannya tak lagi menghasilkan seperti yang diharapkan para kliennya, tender-tender yang biasa dimenangkannya kini harus rela berpindah ke tangan perusahaan-perusahaan pesaing. Dan akhirnya kini perusahaannya dinyatakan pailit.
***
"Keisya, akhir bulan ini apartemen yang kita tinggali ini sewanya akan habis, aku tak mampu lagi memperpanjang sewanya... Dan sekarang kamu bebas, aku gak akan cemburu kamu akan bergaul dengan siapa, silahkan om-om mana yang akan kamu dekati, aku janji gak akan melarangmu lagi..." Ucap Prasetyo dengan wajah yang tertunduk tak mampu lagi menatap mata Keisya.
"Kenapa mas, apa mas Pras sudah gak cinta lagi sama aku...???" Tanya Keisya terkejut.
"Gak Keisya, sampai saat ini aku tetap cinta sama kamu, tapi keadaannya sekarang sudah berubah, perusahaanku telah pailit Keisya, aku sudah tak punya apa-apa lagi, jangankan untuk memenuhi kebutuhanmu, untuk keluargaku sendiri aku sudah tak sanggup..." Jawab Prasetyo dengan nada lemah.
"Apa mas...???" Ucap Keisya tak percaya. Semberi meletakkan bokongnya dikasur empuk di apartemen itu, menggigit jarinya dengan lemas. Sementara Prasetyo tetap berdiri lemah di hadapannya.
Sejenak semua terdiam, bibir-bibir mereka seolah kelu membeku, kamar mewah yang biasanya diisi gairah-gairah liar, kini dingin bak di kutup utara.
"Yaa,,, aku sudah tak punya apa-apa, sekarang aku izinkan kamu mencari laki-laki lain yang lebih kaya, yang mampu memenuhi semua keinginanmu..." Ucap Prasetyo sembari melangkah lesu meninggalkan kamar apartemen itu.
***
"Aku minta cerai...!!!
Ternyata kepercayaanku selama ini mas sia-siakan... Teganya kamu punya istri lagi diluar sana, aku gak nyangka mas...!!!" Bentak Melly, istri Prasetyo setelah mengetahui bahwa suaminya telah nikah sirih dengan Keisya.
Ternyata kepercayaanku selama ini mas sia-siakan... Teganya kamu punya istri lagi diluar sana, aku gak nyangka mas...!!!" Bentak Melly, istri Prasetyo setelah mengetahui bahwa suaminya telah nikah sirih dengan Keisya.
Istri yang selama ini tulus menemaninya, sosok yang selama ini penurut kini berubah seperti api yang berkobar yang sukar dipadamkan.
"Maafin aku Mell... Aku menyesal... Sekarang aku sadar bahwa kamulah yang terbaik untukku..." Prasetyo menangis tersedu-sedu, bersimpuh dihadapan istrinya.
"Wanita mana mas yang sanggup dimadu, diduakan cintanya... Apalagi sekarang bisnismu hancur karena pelacur itu... Apa yang bisa kamu banggakan lagi mas...???" ucapnya lagi penuh emosi.
"Braakk!!!" Mely membanting pintu rumah dengan membawa koper dan barang-barangnya. Wanita yang telah 3 tahun lamanya menjalani mahligai rumah tangga, kini harus pergi meninggalkan dirinya yang telah menghianati cintanya.
Prasyetyo tersungkur dalam kehancuran, seakan kakinya lemah tak mampu lagi mengejar langkah istrinya yang pergi meninggalkannya...
"Melly,,, jangan tinggalin aku...." teriak Prasetyo lirih yang diiringi air matanya yang tak mampu terbendung lagi.
Penyesalan yang datang diakhir cerita adalah hal yang sering terjadi. Padahal kasih sayang seorang istri yang tulus dalam menemani perjalanan hidup kita adalah sesuatu hal yang sangat berharga, yang seharusnya kita jaga. Namun bagi sebagian laki-laki kadang hal itu tak pernah terlihat, karena mata kita telah tertutup oleh gemerlap dunia, namun saat kegagalan menjegal langkah kita, barulah kita tersadar bahwa kita telah menyia-nyiakan istri yang selalu setia memeluk kita.
***
Yaa, ini adalah akhir dari kisah cinta yang dialami Prasetyo, penyesalan menghantui hari-harinya adalah buah dari apa yang ia lakukan sebelumnya.
Ditengah kehancurannya, dia harus kehilangan istri dan juga harus rela melepas istri sirihnya, Keisya. Wanita yang mampu membangkitkan gairah cintanya namun juga yang telah menghancurkan pundi-pundi kehidupannya.
"Aku tak bisa menyalahkan istriku yang pergi meninggalkan aku, karena aku telah menghianatinya dengan kebodohanku...
Aku juga tak bisa menyalahkan Keisya, karena bagaimanapun juga diantara kami tak ada ikatan cinta yang tulus, Keisya mau denganku hanya karena hartaku, saat aku tak memiliki apa-apa lagi sudah sepantasnya dia juga pergi..." Ucap hati Prasetyo.
Aku juga tak bisa menyalahkan Keisya, karena bagaimanapun juga diantara kami tak ada ikatan cinta yang tulus, Keisya mau denganku hanya karena hartaku, saat aku tak memiliki apa-apa lagi sudah sepantasnya dia juga pergi..." Ucap hati Prasetyo.
Pergolakan batinnya kian menjadi-jadi, penyesalan dan kesedihan mampu membuat Prasetyo makin terpuruk kedalam lembah kehancuran yang makin dalam.
Sudah hampir seminggu Prasetyo tak keluar rumah, dia hanya mengurung diri dikamar, bahkan dia sering melupakan rasa lapar yang menggerus perutnya. Hari-harinya diisi dengan lamunan-lamunan semu, sesekali merintih memanggil istrinya.
"Melly... Maafkan aku..." Ucap bibirnya lirih penuh lara.
Yaa, nama Melly lah yang sering iya panggil dalam lamunannya, merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan memeluk guling yang mengingatkan ia pada sang istri tercinta. Di tempat tidur itulah dia biasa menghabiskan hari-harinya dulu bersama istri tercinta sepulang bekerja, canda tawa yang dulu dirasakan kini sirna entah kemana.
"Melly,,, kamu dimana sayang, aku merindukanmu disini... Aku butuh kamu disaat-saat seperti ini... Melly, pliisss temui aku lagii..." Ucap bibir Prasetyo seperti orang gila, merintih berbicara sendiri bersama kesendiriannya.
Prasetyo masih tetap berharap sang istri kembali dalam pelukannya, selalu memanggil nama Melly di sela-sela lamunannya. Walau semua itu terasa sia-sia.
***
Setelah sekian lama hanya terebah ditempat tidur, Prasetyo mulai bangkit dari kasur empuknya, mencoba berdiri dengan tubuh yang lemah dan makin rapuh, karena sudah sekian lama dia tak pernah menghirup udara diluar rumah.
Bergegas bangun dari tempat tidur, Kakinya mulai memijak lantai kamar yang berdebu tak seperti dulu yang selalu bersih, teringat mbok Rasmi yang selalu setia membersihkan disetiap jengkal sudut rumahnya. Tapi mbok Rasmi sudah tak disini, teringat saat dia berbincang untuk terakhir kalinya.
"Mbok,,, mulai sekarang mbok boleh mencari pekerjaan lain, mbok boleh ninggalin aku sendiri disini..." Ucapnya penuh keputus-asaan.
"Tapi Den, mbok masih betah disini menemani Aden..." Jawab mbok Rasmi.
"Aku sudah tak punya apa-apa lagi mbok, mbok harus mencari orang lain yang bisa memberikan penghasilan pada mbok Rasmi, karena aku tau keluarga mbok di kampung masih membutuhkan kiriman dari mbok Rasmi..."
Ucap Prasetyo menjelaskan.
Hari itu adalah hari terakhir mbok Rasmi tinggal di rumah ini, membuat kesendirian Prasetyo makin terasa sendiri. Membuat debu-debu bersuka cita datang berbondong-bondong memenuhi semua sudut ruangan di rumah ini.
Prasetyo mulai berjalan meninggalkan tempat tidurnya membuka pintu kamar mandi dengan pelannya, mendekatlah dia di depan cermin yang tertempel di dinding.
Sejenak dia mulai termenung di depan cermin itu, menatap wajahnya yang tak sebersih dulu, wajahnya mulai tumbuh rambut-rambut halus disekitar bibir dan pipi bawahnya. Yaa,,, Kumis, bewok, jambangnya mulai tumbuh liar tak beraturan. Dia teringat dahulu, dirinya yang selalu rajin mencukur kumis dan bewoknya di kamar mandi hotel.
Dia melihat wajahnya persis seperti dalam iklan pisau pencukur rambut di televisi. Setelah keluar dari kamar mandi, kehadirannya pasti disambut gadis cantik yang sudah siap diatas kasur dengan seprey putih dengan tubuh bugil nan molek yang hanya tertutup selimut putih khas hotel berbintang. Yang akan mengantarkannya dalam kepuasan birahi yang memuncak.
Tapi kini, setelah keluar dari kamar mandi hanya bantal guling yang bisu yang selalu setia menunggunya diatas kasur itu.
Lalu Prasetyo melanjutkan langkahnya, membuka pintu kamar pelan tak bertenaga, menuju dapurnya yang kotor tak terurus lagi, dia mulai memanaskan air dan menyeduh kopi sendiri.
Teringat dahulu saat-saat berada dipuncak kesuksesan, saat pelayan cafe kelas atas membuatkan kopi spesial untuk dia dan rekan-rekan bisnisnya, diiringi musik jaz yang sayu-sayu yang mengiringi perbincangan membicarakan proyek-proyek besar dengan omset milyaran.
Tapi kini dia harus menyeduh secangkir kopi sendiri, membawanya ke teras depan rumahnya dengan tangannya sendiri.
Di teras depan rumahnya Prasetyo duduk menyandarkan tubuhnya di kursi sandar yang terbuat dari rotan di depan rumah.
Teringat dahulu saat dia duduk disofa empuk di ruang karaoke dengan ditemani gadis pemandu lagu yang tubuhnya syarat terbuka penuh nafsu yang menggoda hasratnya untuk mencumbu. Bahkan sering lantunan lagunya terlupakan karena berdurunya lumatan bibir gadis-gadis pemandu lagu itu yang tanpa jeda melumat bibirnya penuh nafsu.
Teringat dahulu saat dia duduk disofa empuk di ruang karaoke dengan ditemani gadis pemandu lagu yang tubuhnya syarat terbuka penuh nafsu yang menggoda hasratnya untuk mencumbu. Bahkan sering lantunan lagunya terlupakan karena berdurunya lumatan bibir gadis-gadis pemandu lagu itu yang tanpa jeda melumat bibirnya penuh nafsu.
Tapi kali ini dia hanya sendiri di kursi rotan dengan bersandar dan menerawang pada masa-masa itu. Yang membuat dirinya yang sendiri makin merasa sendiri.
Hanya secangkir kopi dan sebatang rokok yang menemaninya saat ini.
Setelah sebatang rokok menempel di bibirnya, dipantiknya korek api untuk menyalakan rokok kesukaannya. Teringat dahulu saat dia tak pernah menyalakan rokoknya sendiri, karena pasti ada gadis-gadis clubing yang selalu menyalakan korek api untuknya, dan lalu mengajaknya bergoyang turun melantai dihiasi sinar gemerlap di kegelapan, diiringi suara musik disko yang dimainkan oleh DJ kenamaan, bahkan tak jarang DJ memutarkan lagu khusus untuknya karena bagi sebagian orang yang ada di sana, nama Prasetyo Hardiano Binzah sudah tak asing lagi bagi mereka.
Uang jutaan rupiah sudah biasa dihabiskan dalam semalam, baginya kesenangan adalah segalanya.
Yaa,,, lagi-lagi dia dihadapkan kenyataan yang pahit, sekarang tak ada lagi lampu gemerlapan yang menyilaukan itu, yang ada sekarang hanya secercah sinar matahari yang menembus dari sela-sela dedaunan dari pohon rimbun yang tumbuh didepan rumahnya.
Jangankan gadis-gadis cantik, teman-temannya dulu yang selalu mengajaknya berpesta pun kini entah kemana, handpone yang dulu sering berdering kini berubah membisu tanpa suara bagai sebongkah batu bata yang siap tersusun menjadi dinding-dinding penjara yang siap mengurungnya, tak ada yang menghubunginya, tak ada yang memperdulikannya.
"Kini aku bukan siapa-siapa lagi, tak ada yang mau menemaniku apalagi peduli, aku bagai seonggok tubuh mati yang bernyawa...
Yaa,,, seonggok tubuh mati yang masih bernyawa..." Ucapnya dalam hati.
"Aku benar-benar rapuh saat ini, aku merasa tak pernah seputus-asa ini..." Ucapnya lagi.
Disela-sela kegalauannya, disela-sela keputusasaannya di teringat satu hal, pada Dia yang tak pernah meninggalkannya walau dirinya selalu meninggalkannya...
Pada Dia yang tak pernah melupakannya walau dirinya sering melupakannya...
Yaa,,, Dia adalah sang Pencipta alam semesta, Tuhan yang selalu memberi anugerah pada setiap hambanya. Tuhan yang maha Pengasih lagi maha Penyayang...
Seketika hatinya terenyuh, dia tak mampu membendung air mata penyesalannya lagi, lalu sekuat tenaga ia segera bangkit dari tempat duduk, bergegas pergi mendekat keran air yang ada di belakang rumahnya, dibasuhnya muka lengan dan bagian-bagian tubuhnya seperti yang disyaratkan dalam berwudhu, air yang membasahi kulitnya sangat terasa menyegarkan, menyejukkan dan memadamkan dari bara api yang selama ini membakar jiwanya. Diambilnya sarung dan sajadah yang entah kapan terakhir kali dipakainya.
Dalam sujudnya dia meletakkan seluruh hiruk-pikuk beban hidupnya, dalam tangan yang menengadah dan memanjatkan do'a-do'a seakan semangatnya terisi kembali seperti handpone yang tercolok dengan charger untuk mengisi batre yang telah lama habis.
Batinnya kembali tenang, udara segar yang mengalir melewati celah-celah fentilasi yang begitu kecilpun seakan terasa mampu menyegarkan paru-parunya.
Tubuhnya yang masih terbungkus sarung dan baju koko, tak terasa terebah dan terlelap diatas sajadah itu.
Dalam lelap tidurnya karena terlepas beban hidup yang membelenggu selama ini, tiba-tiba handpone-nya berbinyi "tluutt,,,Tluutt..." Dua kali dentingan handpone-nya mampu membuatnya terjaga dari tidur pulasnya.
Setelah diambilnya handpone itu, ternyata ada satu sms yang meminta untuk segera dibaca...
"Mas aku ada didepan rumah, tolong buka pintunya..." Sms dari wanita yang selama ini dikenalnya membuat Prasetyo langsung bergegas bangkit dari tidurnya, melangkah dengan semangat menuju pintu didepan rumah.
Mungkin inilah jawaban dari do'a yang ia panjatkan, seorang wanita yang dirindukannya kembali, yang akan mengobati kerinduan hatinya, menjadi penawar sakitnya.
Setelah dibukanya pintu itu, dihadapannya telah berdiri sosok wanita pujaan hatinya dulu, wanita yang menemaninya selama ini.
Seketika bibirnya tersenyum bahagia setelah melihat wanita itu berdiri tepat di hadapannya. Tak lama wanita itu langsung memeluk tubuh Prasetyo yang mulai kurus dan lemah.
"Maafin aku mas Pras, aku janji gak akan ninggalin kamu lagi..." Ucap wanita itu sambil mendekap erat tubuh Prasetyo.
Bibir Prasetyo tak mampu berucap apa-apa lagi, air matanya meleleh tak terasa, membanjiri kering batinnya yang tersiksa, dia hanya mampu memeluk erat tubuh pujaan hatinya.
Setelah berapa lama, wanita itu melepaskan pelukannya, dan memandangi wajah Prasetyo yang mulai lusuh penuh rambut-rambut halus yang memenuhi sebagian wajahnya.
"Kamu tetap ganteng mas, meski bewokan seperti itu..." Ucap wanita itu sambil tersenyum yang makin merekah, yang membuat hati Prasetyo makin berbunga-bunga.
Merekapun saling menatap begitu dalam dan lama, melepas kerinduan ini yang sekian lama terpisah.
"Keisya,,, akhirnya aku bisa memelukmu lagi hari ini... Aku sangat merindukanmu Keisya..." Bibir Pras berucap lirih. Yang diikuti anggukan Keisya yang mengisyaratkan ia mengerti apa yang dialami Prasetyo saat ini.
"Karena itulah mas aku datang kesini, aku tau kini kamu dalam keterpurukan, sementara istrimu pergi meninggalkanmu, jadi aku ingin menemanimu dan tak akan membiarkanmu dalam kesendirian mas..." Ucap Keisa sambil memeluk tubuhnya lagi.
"Ta'tapi aku sudah tak punya apa-apa lagi Kei..." Ucap Pras sambil ternbata-bata.
"Iya mas aku tau, tapi aku sekarang sadar, bahwa aku lebih membutuhkan cintamu dari pada hartamu...
Aku sadar bahwa hanya mas Pras lah yang mampu membuat hatiku bahagia, yang bisa membuatku benar-benar merasa nyaman...
Aku tak peduli lagi atas kemewahan dunia, hidup bersamamu lah yang mampu membuatku bahagia mas..." Ucap Keisa penuh cinta.
Aku sadar bahwa hanya mas Pras lah yang mampu membuat hatiku bahagia, yang bisa membuatku benar-benar merasa nyaman...
Aku tak peduli lagi atas kemewahan dunia, hidup bersamamu lah yang mampu membuatku bahagia mas..." Ucap Keisa penuh cinta.
"Seperti yang mas Pras selalu ucakan padaku, Bahwa hidup itu harus tetap optimist, harus tetap semangat apapun keadaannya...
Seperti yang mas Pras sering ucapkan, Jika aku menemukan mas Pras dalam keputus-asaan berarti itu bukan mas Pras...
Dan aku ingin orang yang ada dihadapanku ini adalah mas Pras, Prasetyo Hardiano Binzah...
Dengan embel-embel nama Binzah dibelakang nama lengkapmu, yang menandakan bahwa kamu adalah terlahir dari generasi Binzah yang terkenal ulet dan pantang menyerah itu...
Seperti yang mas Pras bilang, mas Pras adalah penemerus dari klan Binzah yang kuat, kamu harus seperti ayahmu atau kakek-kakekmu dulu...
Kuat, pemberani dan ulet...
Kuat, pemberani dan ulet...
Dan kamu adalah mas Prasku yang dulu, yang penuh gairah hidup...
Dan lagi umur mas Pras baru 33 tahun, itu artinya jalan kita masih panjang mas, kita pasti bisa melalui ini semua..." Ucap Keisa memberi semangat sembari meletakkan kedua tangannya di pipi Prasetyo.
Mengelus-elus kumis, jambang dan bewoknya yang mulai tumbuh di sebagian wajahnya.
Dan bagi Prasetyo, sentuhan itulah yang mampu menenangkan hatinya.
Aku ingin menjadi istrimu yang sah, aku ingin melahirkan anak dari benihmu mas, yang kelak akan menjadi generasi-generasi pengusaha yang hebat di negeri ini..." Imbuh Keisya meyakinkan Prasetyo.
Seketika Prasetyo memeluk tubuh Keisya dengan erat.
***
Akhirnya mereka memulai lagi awal dari cerita yang sesungguhnya, cerita dari ketulusan cinta, bukan cinta karena harta. Dalam dunia ini, semua bisa saja terjadi, semua bisa saja berubah. Dan manusia-manusia yang mau berubahlah mereka yang mampu memenangkan pergulatan hidup ini, yang mampu menemukan kebahagiaan yang sejati...
Semoga cerita ini mampu memberi inspirasi bagi kita semua... Semoga...
Terimakasih sudah membaca,
Saya Ahmad Pajali Binzah
Terimakasih sudah membaca,
Saya Ahmad Pajali Binzah
================SEKIAN===============
Baca juga cerpen tentang petualangan:











