Suasana mendung menggelayut tanpa sudut.
Nampak dua anak manusia berdiri diantara ruang buram yang berselimut kabut.
Dia adalah Rey dan Raisya.
Dua anak manusia yang memiliki cinta diwaktu yang berbeda.
Wajah Rey nampak lusuh kumal, matanya sayu menatap Raisya tak seperti biasa.
Kedua tangannya memegang pipi Raisya lalu mencium keningnya penuh cinta.
Tanpa kata Rey membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi darinya. Melangkah pelan lalu hilang diantara kabut yang tebal.
"Rey mau kemana Rey...???" Teriak Raisya dengan wajah cemasnya.
Namun Rey tak menghiraukan, tetap melangkah tenang menembus kabut yang buram.
"Rey, Rey jangan tinggalin aku Rey..." Raisya berteriak sekencang-kencangnya. Mengejar Rey yang menghilang ditengah hamparan kabut.
Namun Raisya terus mencarinya dengan memanggil-manggil namanya, ditengah kepanikannya, tak sengaja Raisya terperosok ke dalam jurang yang dalam.
"Aaaahhhh....!!!!!" Raisya menjerit keras, tubuhnya jatuh kedalam jurang yang dalam.
Tapi,
Seketika Raisya terbangun dari tidurnya, yang ternyata itu hanya mimpi belaka.
"Alhamdulillah, ternyata cuma mimpi..." gumam Raisya dalam hati sembari nafasnya yang tersengal-sengal.
Tapi alangkah kagetnya Raisya saat lampu led kecil di handphone nya menyala yang menandakan ada pesan masuk untuknya.
Setelah dibuka, ternyata ada chat bbm dari Rey. Yang isinya sebait puisi.
"PERGI"
Jika kedatanganmu tak diharapkan,
Jika keberadaanmu hanya akan membawa masalah baginya,
Hanya ada satu pilihan, "PERGI"
Waktu 4 tahun sudah cukup untuk membawa beban di hatimu...
Turunkan beban itu, lalu "PERGI"
Terkadang "PERGI" akan terasa lebih baik dari pada harus bertahan memperjuangkan hal yang menyakitkan...
Bergegas "PERGI" melangkah menjauh darinya...
Karena "PERGI" bukan berarti meninggalkan, bukan berarti tak peduli...
"PERGI" adalah belaian terlembut untuk orang yang kita cintai yang tak mungkin kita miliki...
-Reyhan-
*****
Tak terasa air mata Raisya membasahi pipinya, memikirkan Rey yang selama ini ia abaikan.
"Maafin aku Rey..." bibir Raisya bergetar, berucap lirih dengan tatapan kosong dengan pikiran yang menuju pada penyesalan hatinya.
Namun ditengah lamunannya, ia terpikir sepintas ingin menemui Rey untuk menjelaskan penyesalannya.
"Yaa, aku harus menemui Rey, aku harus kesana..." hati Raisya berucap lirih, lalu segera bergegas menuju tempat dimana Rey biasa berada.
Tempat itu adalah warung mbok Minah, tempat Rey selalu membantu simboknya yang menekuni usaha warung makan nasi megono.
*****
Pagi itu udara masih terasa dingin, suasana kampung masih cukup sepi, lalu lalang kendaraan masih jarang, namun suasana sepi itu tidak berlaku untuk warung mbok Minah, warung yang terletak di pinggiran kampung yang berbatasan dengan sawah yang membentang.
Warung Mbok Minah yang sejak pagi buta warungnya sudah ramai oleh orang-orang yang ingin membeli nasi bungkus daun pisang untuk sarapan, dengan menu spesial megono.
Yaa, megono adalah masakan khas Pekalongan, sebangsa urap yang terbuat dari nangka muda yang dirajang kecil-kecil yang dimasak dengan bumbu dan rempah-rempah. Yang membuat nasi megono ini menjadi sangat sedap dan pas sebagai menu untuk sarapan.
Apalagi nasi megono buatan mbok Minah ini, dengan racikan dan bumbu yang tepat, serta bungkus daun pisang, membuat megononya menjadi idola bagi orang-orang yang ingin membelikan sarapan untuk anggota keluarganya, bahkan tak jarang banyak pembeli yang datang dari kampung sebelah, sengaja ingin menikmati megono made in mbok Minah.
*****
Namun saat mbok Minah sedang sibuk melayani pembeli yang sudah ngantri, tiba-tiba Raisya datang dengan agak terburu.
Seperti biasa, setelah sepedanya diparkir di depan warung, Raisya langsung masuk ke warung mbok Minah.
"Mas Rey... mas Rey...
Mbok, Mas Rey nya ada mbok...???" Tanya Raisya dengan tergesa-gesa.
Belum sempat dijawab oleh mbok Minah yang sedang sibuk melayani pembeli, Raisya langsung menuju halaman belakang, ke tempat dimana Rey berada.
Namun Raisya tak menemukan Rey, tempat menyuci piring yang biasa Rey membantu simboknya juga terlihat kosong tanpa Rey.
Lalu Raisya menuju bangku di belakang yang menghadap sawah juga tak ditemuinya Rey.
Raisya duduk di bangku yang terbuat dari bambu itu, dimana Rey biasa duduk sembari memandangi pematang sawah yang kadang sesekali menulis sesuatu di buku hariannya.
"Kamu dimana Rey...???
Kini saat aku benar-benar membutuhkan kamu, tapi kau malah pergi ninggalin aku Rey..." Hati Raisya berucap lirih.
"Rey sedang mendaki gunung Ndok..." jawab mbok Minah yang tiba-tiba duduk disamping Raisya, sembari membelai rambutnya.
(Ndok adalah nama panggilan khas Pekalongan untuk anak perempuan yang masih belia).
"Mendaki ke gunung mana mbok...???
Kok mas Rey gak bilang-bilang siihh...???" Tanya Raisya dengan nada agak sebel.
"Bukankah Rey pergi sama abangmu Fathir..???" Jawab mbok Minah singkat.
"Kok kak Fathir juga gak bilang-bilang aku mbok...???" Ucap Raisya dengan wajah cemberut.
"Seng sabar ndok...
Paling besok sore juga mereka sudah pulang..." ucap Mbok Minah menenangkan.
"Tapi aku takut kalo pulang nanti sikap Rey berubah mbok...
Soalnya tadi pagi Rey bbm yang gak biasanya..." ucap Raisya curhat pada mbok Minah dengan nada yang agak panik.
"Bukankah kamu sudah terbiasa hidup tanpa Rey...???" Jawab mbok Minah singkat sedikit menyindir. Karena mbok Minah tau betul kalau selama ini Raisya sering mengacuhkan Rey.
"Tapi sekarang aku sadar kalo aku ternyata butuh Rey, mbok..." Raisya menjelaskan.
"Yasudah, aku yakin semua akan baik-baik saja... tunggu saja saat Rey pulang besok, nanti simbok bantu jelaskan sama Rey..." ucap mbok Minah menenangkan.
Pagi itu hati Raisya sungguh gelisah, tak biasanya Raisya sekhawatir itu, Raisya yang semula cuek pada Rey tapi kali ini ada kegelisahan dalam hatinya.
Rey yang selama ini memberi perhatian penuh padanya, kini tak biasanya menulis kata-kata tentang "pergi". Entah apa itu arti kata-kata itu. Yang jelas kata-kata itu mampu membuat Raisya cemas.
"Sekarang aku baru sadar Rey, kamulah yang selama ini mampu bertahan memberikan perhatian yang tulus padaku meski kadang perhatian itu sering aku abaikan....
Maafin aku Rey..." ucap Raisya dalam hati.
*****
Sementara itu, di jalur pendakian gunung Merapi, Rey dan Fathir sedang berjalan melakukan pendakian menuju puncak gunung Merapi via Selo.
Mereka berdua sudah terbiasa mendaki gunung. Karena mereka sudah sahabatan sejak kecil dan kebetulan mempunyai hobi yang sama.
Ransel besar menempel di punggung mereka masing-masing, nafas yang berderu yang diiringi detak jantung yang memompa darah mengalir lebih cepat. Membuat keringatnya bercucuran lebih deras.
Kadang sesekali mereka istirahat untuk sekedar minum dan meregangkan otot.
Yaa, pendakian gunung Merapi tergolong jalur pendakian yang cukup ekstrim, bagaimana tidak gunung yang keliatannya kecil namun jalurnya penuh tanjakan yang menguras tenaga, apalagi jalur setelah batas vegetasi, disana selain treknya yang terjal juga penuh bebatuan dan pasir yang licin.
Tapi bagi mereka semua itu tak menjadi penghalang baginya, karena baik fisik dan perlengkapan, mental mereka juga sudah teruji.
*****
Sabtu, di pos 3 atau sering disebut Watu Gajah dimana ditempat ini terdapat batu besar dan disekitarnya terdapat tanah yang datar yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda, dari sini ke pos Pasar Bubrah sudak tidak terlalu jauh.
Saat itu waktu menandakan pukul 4 sore, Fathir sedang asyik memasak di depan tenda sembari menikmati secangkir kopi hitam yang masih panas, dengan sebatang rokok yang selalu membuat hangat suasana.
Semantara Rey lebih sibuk dengan buku catatannya, bermain dengan pena yang tulus membelai selembar kertas putihnya. Sembari sesekali menghisap rokok kretek dan memainkan asapnya.
Wajahnya tenang, pandangannya sesekali menerawang menembus kabut yang menggumpal di kejauhan. Yang sesekali tangannya mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Kaya'nya ada pujangga yang sedang nulis puisi niihh...???" Celoteh Fathir sambil mengaduk sayur sop yang tengah dibuatnya.
"Aaahh lu koki restoran bintang tujuh berisik aje luuhh..." jawabnya balik mengejek.
Namun Fathir sengaja tak menimpalinya lagi. Lebih memilih senyum dan menertawakannya.
Sementara Rey lebih memilih meneruskan menulis karena suasana waktu itu terlalu syahdu untuk dilewatkan tanpa mengutarakan isi hatinya lewat pena.
Tapi entah mengapa, di ending tulisan Rey menuliskan kata-kata:
"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."
Rey nampak tertegun, wajahnya sendu seperti ada sesuatu yang dipendam selama ini.
"Thir, seandainya aku mencintai adikmu, apa yang akan kamu lakukan...???" Rey tiba-tiba bertanya pada Fathir.
Fathir seketika terperanjat, tak percaya atas yang diucapkan sahabatnya. Cukup lama Fathir terdiam, lalu dia menjawab.
"Aaahh kaya' gak tau aja, Raisya pacaran sama Rendy saja aku gak setuju, apa lagi sama kamu yang aku sudah tau seperti apa busuk-busuknya kamu..." Fathir menjawab enteng, menganggap sahabatnya Rey bercanda.
"Tapi seandainya itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan ke aku...???" Rey kembali bertanya.
"Kenapa siihh kamu Rey...???
Seandainya itu terjadi, aku akan pukul dadamu tiga kali dan membentur-benturkan kepalamu di kepalaku.... puas kamu Rey... hahaa..." jawabnya bercanda.
Namun Rey tetap diam, nampak ada kesedihan yang mendalam yang selama ini ia simpan.
Tak bisa dipungkiri sebenarnya Rey sudah jatuh hati pada Raisya dari bertahun-tahun yang lalu, tapi Rey lebih memilih menyimpan perasaannya karena ia tak enak hati jika sahabatnya Fathir mengetahui, apalagi Raisya selama ini cuek padanya dan lebih memilih Rendy sebagai kekasihnya.
Namun melihat wajah Rey yang tetap termenung, Fathir mulai curiga atas apa yang diucapkan Rey.
Saat Fathir ingin menginterogasi lebih dalam, tiba-tiba cuaca menjadi lebih ekstrim.
kabut tebal bergumpal datang disertai angin kencang. tak butuh waktu lama, seketika hujan mengguyur sangat deras.
Mereka pun segera mengemas peralatan masaknya, lalu segera masuk ke tenda.
Tapi hujan tak kunjung reda, malah angin terasa makin kencang. Dengan raincoat warna merah yang kebal air, Rey nekat keluar tenda untuk mengecek keadaan.
Namun cuaca tak seperti biasa, feeling Rey berkata,
"Ini bukan hujan biasa, ini badai besar...!!!"
Lalu Rey kembali masuk ke tenda, memberi tau pada Fathir tentang cuaca diluar.
"Thir, aku yakin ini badai...
Kita harus mengambil keputusan...
Lebih baik kita kemas tenda kita lalu turun..." ucap Rey dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tapi kita belum muncak...???" Jawab Fathir keberatan.
"Sementara jangan pikirkan muncak dulu, ini tidak memungkinkan...
Ayoo kita berkemas lalu turun...!!!" Rey memberi saran.
Lalu Fathir mencoba melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya nongol keluar dari pintu tenda persis seperti kepala kura-kura yang keluar dari tempurungnya.
Seketika wajah Fathir berubah penuh kecemasan, melihat hujan yang turun tak seperti biasanya. Bahkan tenda yang biasanya baik-baik saja saat hujan, kali ini tenda mereka sering terhempas tertiup angin.
"Oke kalo begitu..." jawab Fathir dengan wajah panik.
Lalu mereka langsung mengemasi barang-barangnya. Tenda segara dibongkar dan dimasukkan ke keril. Dan setelah semua rapi, mereka pun siap berjalan turun.
Namun saat mereka hendak turun, Rey melihat di sekitar area Pasar Bubrah masih terdapat tenda dan banyak pula pendaki yang terjebak disana.
Rey berubah pikiran, di ingin menolong mereka yang masih berada diatas.
"Thir, kamu turun duluan...
Kasih tau para pendaki lain yang masih ngecamp di bawah untuk segera turun, karena cuaca terlalu ekstrim..." ucap Rey sembari menepuk pundak Fathir.
"Gila kamu Rey, diatas sangat berbahaya, belum genap jam 5 sore tapi langit sudah sangat gelap seperti ini, dan angin juga sangat kencang itu sangat berbahaya...
Ayoo kita turun bareng aja...!!!" Fathir mengajak Rey sembari menarik tangannya agar segera turun.
"Tidak Thir, aku harus keatas, banyak pendaki yang terjebak disana... kamu turun dulu kasih tau yang lain...
Ini pilihan yang terbaik Thir..." ucap Rey menyakinkan sahabatnya. Dibawah derasnya hujan dan sabetan angin yang mampu memporak-porandakan hutan.
Sesaat semua terdiam, menatap satu sama lain.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu Rey..." ucap Fathir dengan nada yang agak berteriak bersaing dengan suara guyuran hujan yang semakin deras.
Di tengah kepanikan tiba-tiba pohon sengon disamping mereka roboh diterjang angin.
Lalu tanpa pikir panjang Rey mendorong tubuh Fathir untuk segera turun.
"Cepat turun Thir cepat..." teriak Rey pada sahabatnya. Namun Fathir tetap diam.
Keduanya kembali terdiam, Rey mebuka kupluk raincoatnya dan membiarkan rambut panjangnya basah tersiram air hujan. Lalu Rey memeluk Fathir erat sembari berkata.
"Aku akan baik-baik saja sobat, kita harus menyelamatkan mereka...
Kita ketemu di basecamp, oke...!!!???" lalu Rey melepas pelukannya, merogoh kantong raincoatnya dan mengambil buku yang sudah terbungkus kantong kresek hitam.
"Seandainya ada sesuatu terjadi, titip ini buat Raisya..." ucap Rey sembari memberikan buku itu pada Fathir.
Mereka terdiam saling memandang. Dibawah guyuran air hujan mereka tak biasanya merasakan hal seperti ini.
Selang berapa lama, tanpa berucap lagi, Rey membalikkan badan dan menuju ke arah Pasar Bubrah.
Semantara Fathir berlari menuju bawah untuk memberi informasi pada pendaki lain untuk segera berkemas dan turun.
Ditengah ketegangan jiwanya, namun Fathir yakin Rey akan baik-baik saja, dia teringat sudah sering Rey mengambil keputusan ekstrim, walau membahayakan nyawanya sendiri namun Rey tetap baik-baik saja.
Dia teringat dulu waktu masih sekolah, saat terjadi tawuran dan mereka terkepung, Rey pernah menyelamatkan teman-temannya.
Dia menyuruh Fathir dan teman-teman yang lain untuk pergi, sementara dia menghadang musuh hanya dengan pentungan kayu seorang diri, saat Fathir dan yang lain sudah lari jauh tak terlihat, Rey yang sudah membuat musuhnya kesal, seketika lari dengan jurus langkah seribunya, sehingga musuh lebih memilih mengejar Rey dibanding Fathir, namun dengan tubuh Rey yang ramping membuat Rey mudah lari kesana-kemari melompati pagar pekarangan rumah warga dan akhirnya Rey lolos dari kejaran musuh.
Yaa begitulah karakter Rey yang senang mengambil resiko.
*****
Sementara itu, Fathir terus berjalan menuruni jalur menuju pos 2, di sana tenda yang masih berdiri yang kemudian Fathir berteriak kencang agar semua pendaki bergegas turun ke basecamp.
Seketika semua sigap berkemas dan membongkar tendanya masing-masing.
Hujan dan angin masih sangat kencang, banyak pohon-pohon yang roboh yang membuat jalur menjadi teramat sulit untuk di lalui.
Tepat jam 8 malam semua pendaki berhasil evakuasi ke basecamp. Namun ada beberapa pendaki yang masih terjebak diatas karena cuaca yang sangat ekstrim.
Team SAR segera diterjunkan untuk mengevakuasi pendaki yang masih terjebak diatas, suasana kepanikan nampak di basecamp, radio HT selalu berbunyi memberi informasi satu sama lain antar petugas team SAR.
Fathir dan beberapa pendaki lain yang baru saja sampai di basecamp langsung disambut oleh para relawan basecamp, diberi minuman hangat, sembari diinterogasi tentang keadaan diatas.
Untuk memberikan informasi kepada team SAR yang sedang menuju ke atas.
Setelah semua selesai, Fathir dan pendaki lain di persilakan istirahat.
Sementara suasana di basecamp masih tetap sibuk penuh kepanikan. Komunikasi lewat HT masih saling bersautan antar team SAR. Dan tentunya kabar badai di lereng Merapi pun langsung menyebar lewat media sosial.
Namun ditengah kepanikan itu, Fathir dengan tubuh yang lelah dengan pelan merebahkan tubuh di tikar yang telah disediakan.
Pikiran menerawang menuju pada sahabat yang masih diatas sana.
"Aku yakin kamu baik-baik saja Rey..." hatinya berisik lirih.
Pikiran terus menerawang membayangkan sahabatnya, lelah yang merobek jiwanya tak mampu melelapkan matanya untuk sekedar melepas lelah. Pikiran tetap tertuju pada Rey.
Seketika lamunannya tersentak saat Fathir teringat pada seonggok buku yang terbungkus kantong kresek hitam yang berada disampingnya.
Rasa penasaran berkecamuk dalam hatinya, ia pun ingin segera membuka dan ingin tau tentang tulisan Rey selama ini.
============BERSAMBUNG===========
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI
Dijamin akan lebih seru dan penuh haru..!!!
Jika ingin jalan-jalan menikmati liburan di sebuah pulau dengan pasirnya yang putih, air yang jernih dan yang terpenting tidak terlalu jauh dari ibu kota Jakarta, tidak salah lagi pasti pulau Tidung pilihan favoritnya.
Yaa, karena pulau Tidung termasuk pulau yang paling Favorit diantara pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Karena pulau ini termasuk pulau yang terdekat jarak tempuhnya, pulau dengan fasilitas sarana dan prasarananya paling lengkap, pulau dengan homestay paling banyak, pulau dengan jalur lalu lintas penyeberangan paling ramai, pulau paling lengkap pilihannya mulai dari keramaian hingga pulau tak berpenghuni di Tidung Kecil, pulau dengan Jembatan Cintanya yang terkenal dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan pulau Tidung ini jika dibanding dengan pulau lain di Kepulauan Seribu.
Aaahh gak usah banyak cakaplaahh...
Kita mulai saja review perjalanan saya kemaren ke Pulau Tidung ini yang tentunya pasti bikin penasaran para pecinta traveling.
*****
Okee, kita mulai reviewnya.
Pertama-tama kita harus menuju dermaga Muara Angke, jika menggunakan tranportasi umum ikuti rute ini:
Naik kereta Commuter Line arah Jakarta Kota, turun di Stasiun Jakarta Kota.
Menyeberang ke depan gedung Museum Bank Mandiri.
Lanjutkan naik bus Kopami 02 arah Muara Karang, turun di Pluit.
Lanjut lagi naik angkot merah KWK B 01 arah Muara Angke, turun di Muara Angke.
Jika naik bus, cari bus yang jurusan Pluit lalu naik lagi angkot merah seperti diatas.
Tapi untuk yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya saya menyarankan naik kendaraan pribadi, taxi atau ojek online, karena lebih cepat dan praktis.
Tapi berhubung perjalanan saya kemaren menggunakan sepeda motor, saya langsung menuju pelabuhan Muara Angke dan parkir motor di Pasar Ikan, dengan tarif parkir yang agak mahal yakni Rp 20.000/motor.
Dari Pasar Ikan ini berjalan mengikuti plang petunjuk arah ke dermaga, yakni ke sebelah barat dan menyeberangi jembatan kecil yang terbuat dari bambu (katanya jembatan aslinya lagi di renovasi).
Setelah menyeberangi jembatan kita akan memasuki kawasan dermaga, jangan bingung langsung saja ke loket penjualan tiketnya yang berada di depan pintu masuk. Atau kalo bingung langsung tanya saja ke petugas yang ad disana (jangan tanya sama calo yaa).
Beli tiket yang menuju pulau Tidung, dengan harga Rp 45.000,- untuk sekali jalan.
Setelah itu masuk kepelabuhan dan menuju dermaga 3, dimana disana sudah bersandar kapal yang akan menyeberangkan kita ke Pulau Tidung.
![]() |
| Plang petunjuk dermaga 3 |
![]() |
| Para penumpang yang siap menaiki kapal menuju pulau Tidung. |
![]() |
| Keadaan didalam kapal. |
![]() |
| Kapal siap melaju. |
Setelah menyeberangi laut selama kurang lebih 2 jam perjalanan, kita akan sampai di dermaga pulau Tidung dengan pemandangan yang kontras dengan dermaga Muara Angke, disini airnya jauh lebih jernih, masih tergolong bersih dari sampah dan pemandangan pulau-pulau kecil disekitarnya dengan pasir putih di pantainya membuat suasana terasa lebih menyenangkan sesampainya di dermaga ini.
Setelah turun, langsung saja kita keluar dari Dermaga. Untuk mencari homestay/penginapan.
Tapi berhubung rencana saya sengaja mau ngecamp di pantai Tidung Kecil jadi saya langsung menuju Jembatan Cinta.
Oiya sekedar info, ngecamp di Tidung Kecil sangat aman karena disana dikelola oleh balai Konservasi Laut, dimana ada petugas yang mendatanya. So, jangan kuatir masalah keamanan.
Jalan-jalan dengan membawa tenda selain memberikan pengalaman yang berbeda juga dapat menghemat biaya.
![]() |
| Plang petunjuk arah. |
![]() |
| Selamat datang di Jembatan Cinta. |
![]() |
| Jembatan Cinta yang fenomenal. |
![]() |
| Suasana pantai terlihat dari atas Jembatan Cinta. |
![]() |
| Siap naik Banana Boat. |
![]() |
| Meluncurrr.... |
![]() |
| Habis mandi isi peyut duyu... hahaa... |
![]() |
| Sebelum menyeberang ke Tidung Kecil, kita foto2 dulu di Jembatan Cinta. |
![]() |
| Sudah lumayan jauh. |
![]() |
| Airnya sangat jernih. Jika diperhatikan banyak ikan2 kecil yang berenang di sekitar karang. |
![]() |
| Riani asyik ngeliat ikan. |
Setelah menyeberangi Jembatan Cinta sekitar 15 menit, kita akan sampai di pulau Tidung Kecil dan memasuki kawasan konservasi. Jadi penjaga kebersihan dan tidak membuat kegaduhan hukumnya sangat wajib.
![]() |
| Selamat Datang Di Wilayah Konservasi Pulau Tidung Kecil. |
Setelah itu perjalanan masih dilanjutkan terus ke timur menuju balai konservasi laut yang terletak di tengah-tengah pulau Tidung. Perjalanannya pun melewati rimbun pepohonan yang masih terjaga dan cenderung adem. Jika dibandingkan Tidung Besar yang sudah terlalu padat oleh pemukiman penduduk.
![]() |
| Berjalan di Tidung Kecil. |
![]() |
| Menembus hutan. |
Setelah berjalan sekitar 10 menit kita akan sampai di gedung Balai Konservasi Laut untuk mengurus perizinan membuka tenda di wilayah ini. Dengan mencatat data diri dan membayar retribusi sebesar Rp 15.000,- kita bisa mendirikan tenda di daerah ini.
Lokasi camp pun berada tepat dibelakang gedung balai Konservasi tersebut.
![]() |
| Balai Konservasi. |
![]() |
| Disini juga terdapat lokasi pelestarian Penyu. |
![]() |
| Ini dia lokasi untuk mendirikan tenda. |
Setelah tenda berdiri kita bisa langsung menikmati keindahan pantai dengan berkeliling mengelilingi pantai. Jika kurang puas kita bisa langsung menyeburkan diri kedalam air yang sangat jernih. Dengan ombak yang kecil dan kedalaman yang hanya sepaha orang dewasa dengan radius sampai 200 meter lebih dari bibir pantai, membuat pantai ini sangat aman untuk bermain air sampai ke tengah. Selama kondisi cuaca memungkinkan.
![]() |
| Bermain bersama Riani. |
![]() |
| Main pasir di laut. |
![]() |
| Jangan lupa Selfie. |
![]() |
| Disini main ke tengah-tengah laut masih aman. |
![]() |
| Ombaknya relatif kecil jadi aman untuk bermain balita, selagi dalam pengawasan orang tuanya. |
![]() |
| Selfie bersama. |
Setelah mandi dan bersih-bersih kita bisa santai sejenak menikmati semilir angin pantai. Untuk masalah mandi bilas dan MCK jangan kuatir, di samping gedung Balai Konservasi ada mushola dan kamar mandi +toiletnya.
![]() |
| Mushola dan MCK |
![]() |
| Setelah bersih2, Selfie lagiii... hahaa... |
Jika sudah malam kita juga bisa jalan-jalan kembali ke Tidung Besar untuk sekedar menikmati udara malam di daerah Jembatan Cinta. Disini suasananya cenderung ramai dan romantis buat yang ngajak pasangannya.
Disini juga ada rumah makan yang selalu ramai hingga larut malam, dengan menu utama seafood, nasi goreng, air kelapa, dan otak-otak ikan.
![]() |
| Suasana di Jembatan Cinta dimalam hari. |
![]() |
| Makan2 kita. |
![]() |
| Abis itu tidur di tenda, ZZzzzz... |
Untuk paginya kita bisa packing dan kembali ke Tidung Besar. Jangan lupa berenang lagi di pantai Jembatan Cinta dan main banana boat, dijamin seru. Baru sekitar jam 10an kita kembali ke dermaga dan siap meluncur ke Jakarta.
Oiya sebelum pulang jangan lupa membeli ole-oleh dulu, jika uang kita kehabisan jangan kuatir, disini ada mesin ATM BERSAMA.
![]() |
| Jangan lupa shopping, hahaa... |
![]() |
| ATM bank DKI (atm bersama) |
Atau kunjungi channel youtube kami di https://youtu.be/HLG32Dqrvzs
Tips dan Info Lengkap
● untuk memastikan agar mendapat tiket kapal sebaiknya sampai dermaga sebelum jam 7 pagi, standar jam 6 sudah standby di dermaga. Karena kapal biasanya berangkat jam 8 pagi.
● agar bisa sampai dermaga Muara Angke lebih pagi, sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi atau ojek online, karena jika menggunakan angkutan umum dijamin akan memakan waktu lebih lama.
● untuk menghindari calo, sebaiknya jika sudah sampai dermaga jangan tengak-tengok, langsung saja ke loket pembelian tiket, jika bingung langsung saja tanyakan pada petugas dermaga.
● sebelum naik ke kapal sebaiknya sempatkan waktu ke toilet, karena di dalam kapal (setau saya) tidak ada toiletnya. Kalaupun ada pasti kondisinya sangat kotor.
● bagi yang suka mabuk perjalanan, sebaiknya persiapkan obat anti mabuk dan minyak angin.
● sesampainya di dermaga Tidung, jangan lupa tanyakan keberangkatan kapal ke Jakarta untuk esok hari, agar besok tidak ketinggalan kapal.
● masalah penginapan jangan terlalu kuatir, disini jumlahnya sangat banyak, bahkan liburan akhir tahunpun jika kita mau, banyak rumah warga yang bisa disewa alias homestay dadakan (tetapi tanpa AC).
Jika ingin booking bisa hub nomor ini:
+62 816-1719-0294 homestay lumayan nyaman dan strategis. Untuk tarif silahkan nego sendiri. Biasanya antara 200rb sampai 400rb tergantung ukuran dan jumlah kamar.
● jika ingin ngecamp sebaiknya lapor dulu di balai konservasi laut, dengan membayar 15rb kita bisa menikmati keindahan malam dengan suasana yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Disana juga disediakan tempat sampah dengan tong yang sangat besar, fasilitas MCK, mushola, dan air bersih yang berlimpah.
● jika ingin ngecamp, sebaiknya bisa ikuti alur berikut ini:
Sesampainya di dermaga langsung menuju Jembatan Cinta, setelah foto-foto langsung menyeberang ke Tidung Kecil dan mendirikan tenda disana masak dan makan-makan.
Sekitar jam 2 setelah panas tidak terlalu terik, kita bisa main air di laut dan menikmati pantai sampai sore hari.
Sehabis maghrib kita bisa jalan-jalan ke Tidung Besar dan menikmati malam bersama wisatawan yang lain, karena Tidung Besar cenderung lebih ramai.
Disini juga banyak rumah makan yang menyediakan makanan seafood yang sangat lezat.
Setelah larut malam kita kembali ke tenda untuk santai-santai atau tidur.
Pagi bangun lebih pagi dan bongkar tenda, sekitar jam 7 atau jam 8 kita bergegas meninggalkan lokasi camp dan menuju ke Jembatan Cinta.
Di Jembatan Cinta antara jam 7 sampai jam 10 siang suasananya sangat pas untuk berenang dan bermain banana boat.
Sekitar jam 10 siang kita bisa menuju dermaga dan bersiap kembali ke Jakarta.
Tapi untuk musim liburan, seperti long weekend, tahun baru, dan hari-hari besar lain, biasanya kapal berangkat 3 kali, yaitu jam 8, jam 10 dan jam 1 siang.
Bahkan liburan tahun baru ini (saking banyaknya pengunjung) pihak dermaga menjamin semua wisatawan akan mendapat tiket kapal, walau untuk sore hari.
● estimasi biaya:
Parkir Muara Angke 20rb,
Kapal ke Tidung 45rb, PP jadi 90rb.
Penginapan 200rb-400rb, jika ngecam 15rb.
Kalau cape bisa naik becak 20rb
Masalah makan bisa dikira-kira sendiri.
● jangan lupa jaga etika dan kebersihan selama kita bepergian. Hormati adat istiadat setempat demi kebaikan kita bersama.
Mungkin ini saja review yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang ingin melancong ke Pulau Tidung. Selamat bertualang...!!!
Salam traveler dari saya, Ahmad Pajali Binzah.
************************************
************************************
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Istri: pah, tahun baru ini kita liburan kemana...???
Suami: di rumah aja, kita menghemat...
Istri: masa' sii paahh, tahun baru kita di rumah aja...??? Ntar nyesel lhoo...
Tahun baru kan setahun sekali...
Masa' di rumah doank...
Suami: iyaa juga yaa...??? baik, tahun baru kita ke Bali...
Akhirnya berkat penjelasan sang istri, sang suami luluh juga. Dan tahun baru kali ini, mereka rayakan penuh suka cita di pulau Dewata Bali.
*****
Sebulan kemudian,
Istri: paahh bentar lagi tgl 14 februari lhoo...
Suami: Lha terus...???
Istri: iiihh papah gak romantis deehh...
Masa' hari valentine gak dirayain...
Setahun sekali lhoo valentine itu...
Jalan-jalan donk paahh ke tempat-tempat romantis, biar hubungan kita makin mesra lagii...
Suami: yaudah hari valentine kita ke Jogja.
Dan akhirnya hari velentine mereka rayakan penuh suka cita di kota Jogja.
*****
Sebulan kemudian,
Istri: paah bentar lagi tgl 23 maret lhoo...
Suami: Lha terus...???
Istri: masa' hari ultah pernikahan kita papah lupa sii...!!!???
Hari ultah pernikahan setahun sekali lhoo... dirayain dunk paahh...
Jalan-jalan kek, gak usah jauh-jauh, ke Bandung juga seru, yang penting berkesan...
Suami: yaudah ultah kita ke Bandung.
Dan akhirnya ultah pernikahan mereka dirayakan penuh suka cita di daerah Bandung.
*****
Sebulan kemudian,
Istri: paahh, bentar lagi tgl 12 april Lhoo...
Suami: terus...???
Istri: iiihh masa' papah lupa sii sama hari ulang tahun anak kita sendiri...
Hari ulang tahun kan setahun sekali... dirayain dunk paahh...
Jalan-jalan kek, gak usah jauh-jauh, ke Bogor kaya'nya juga seru, yang penting anak kita bahagia...
Suami: yaudah, hari ulang tahun kita ke Bogor...
Dan akhirnya ultah anak mereka dirayakan penuh suka cita di Bogor.
*****
Sebulan kemudian,
Istri: paahh bentar lagi kan hari lebaran, ntar kalo kita mudik, jangan lupa jalan-jalan yaa paahh...
Kalo bisa yang jauh sekalian, biar tetangga-tetangga kampung pada terkesima...
Ke Lombok kaya'nya seru niih paahh... disana lagi booming lhoo tempat wisatanya...
Suami: kalo mudik aku males jalan-jalan...
Istri: iiihh papah, masa' libur panjang di Kampung doank siii, kok gak kemana-mana, sayang dunk paahh...
Libur panjang kaya' gitu kesempatannya cuma ada setahun sekali lhoo... ntar nyeselll....????
Suami: yaudah libur lebaran kita jalan-jalan ke Lombok.
Dan akhirnya libur lebaran mereka dirayakan penuh suka cita di Lombok.
*****
Dan satu tahun kemudian,
Istri: paahh bentar lagi tahun baru lhoo... taukan alasannya...
Suami: iyaa, setahun sekali kan...??? Hihihiiii...
Istri: jadi kita rayain kemana niihh paahh...???
Suami: Hihihiiii... (tetap ketawa gak jelas)
Istri: iiihh papah sekarang gak asyik deehh...
Tiba-tiba seorang suster datang menghampiri: maaf bu, waktu jenguknya sudah habis, kami akan segera memberi suntikan obat penenang buat pasien kami...
Lalu sang istri pun melangkah meninggalkan ruang yang di depannya terdapat taman yang yang cukup luas dan di tengah-tengahnya terdapat papan bertuliskan:
"RSJ Grogol, Jakarta Barat"
*****
Melihat itu sang istri langsung berteriak histeris sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Dokter: kaya'nya ibu itu obatnya sudah tidak berpengaruh... suster, suntik obat lagi pasien itu...
Suster: baik dok...
Dan akhirnya tahun baru kali ini, mereka rayakan penuh suka cita, ketawa-ketiwi bersama di Rumah Sakit Jiwa.
Hahahaaa...
Salam koplak dari saya, Ahmad Pajali Binzah.
==========SEKIAN==========
Oleh: Ahmad Pajali Binzah.
"Nung, jujur aku sangat sayang sama kamu...
Rasa ini sudah ada jauh-jauh hari sebelum kamu mengenal aku..." ucap Tedy pada Inung gadis yang dicintainya, yang sedari tadi duduk di sampingnya.
Namun Inung tetap diam tak bergeming, membisu bak patung batu yang baru saja diukir.
"Kenapa kamu diam saja Nung...???
Apa aku salah jika aku sangat mencintaimu...???" ucap Tedy lagi dengan nada yang agak meninggi.
Namun Inung tetap membisu sembari sesekali memandangi sekitar, seolah ada sesuatu yang ditunggu.
"Aku tau Nung kalo kamu sudah ada yang punya, tapi apakah aku salah jika rasa cinta ini ada...???
Cinta ini terlalu tulus untukmu Nung, hingga tak terpikir olehku untuk memilikimu...
Aku hanya ingin kau tau tentang perasaan ini, dan mengizinkan aku untuk mencintaimu...
Karena bagiku, bisa mencintaimu adalah suatu yang bisa membahagiakan hidupku Nung..." Tedy tetap mengutarakan isi hatinya walau gadis yang disampingnya selalu mengacuhkannya.
Lagi-lagi Inung tetap diam seribu bahasa, asyik dengan kesendiriannya bersama handphone yang selalu dimainkannya.
Hingga tak berapa lama Inung berdiri, dengan wajah yang bersinar dihiasi lengkungan senyum di bibirnya yang tersimpul manja, tangannya melambai tak sabar akan kehadirannya.
"Mas Bayu..." teriak Inung menyambut Bayu, laki-laki yang sudah dipacarinya beberapa tahun yang lalu.
Lalu mereka bertemu, saling berpelukan yang menandakan keduanya sudah lama saling mengenal.
"Mas Tedy, aku pergi dulu yaa...
Makasih udah nemenin Inung disini..." ucap Inung seraya pergi meninggalkan Tedy bersama Bayu kekasih hatinya.
*****
"Aaahhh,,, pantesan Inung sedari tadi diam saja...
Ternyata sedari tadi aku hanya mampu berbicara dalam hati, bibirku terkunci tak mampu melontarkan kata-kata untuk mengutarakan rasa cinta yang ada..."
Dan lagi-lagi Tedy hanya bisa duduk manis memandangi gadis pujaannya pergi, bergandeng tangan mesra bersama kekasihnya.
============= SEKIAN =============
Episode: Kembali ke dimensi waktu
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Tak terasa sudah dua hari kami hidup dipelarian, bersembunyi di pekat belantara lereng gunung Salak sebelah timur.
Dan setelah mengatur rencana matang-matang, akhirnya kami putuskan untuk meneruskan perjalanan ke arah barat menuju tanah Suarnadwipa (Sumatera).
Dan rencana kami akan melewati jalur selatan menuju Sukabumi lalu menuju selat Sunda, karena jalur itu dinilai cukup aman menghindari pasukan Sunda Galuh.
Tapi na'as nya, saat kami menuruni lereng menuju jalan utama, ternyata keberadaan kami telah diketahui mata-mata kerajaan. Dan ternyata kami telah dikepung oleh prajurit Sunda Galuh secara besar-besar yang dipimpin oleh Jayadipati sendiri.
"Mau kemana kalian...???
Sampai ke ujung dunia pun kalian tak akan bisa lepas dari genggamanku...!!!" Jayadipati menggertak sembari mengepalkan tangannya erat-erat yang menandakan amarahnya menyala-nyala.
"Putri, kembali ke istana...!!!
Aku diperintahkan baginda untuk membawamu pulang ke istana..." Jayadipati menyuruh Dewi Larasati untuk kembali.
"Tidak...!!! Aku tidak mau kembali, aku ingin selalu bersama akang Sena..." Dewi Larasati menolak tegas.
"Prajurit, bawa putri kembali...!!!" Jayadipati memerintahkan prajuritnya untuk membawa paksa Dewi Larasati kembali ke istana. Lalu beberapa prajurit menangkap Dewi Larasati.
"Tidak, lepaskan aku..." Dewi Larasati terus meronta.
"Lepaskan dia, putri sudah dewasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri...!!!" Wingsang menggertak Jayadipati.
"Dia putri kerajaan, tak pantas bersama kalian...!!!
Masih berani kau bicara...!!!???
Pasukan, habisi mereka...!!!!" Jayadipati marah besar.
Lalu pertarungan pun tak dapat dihindarkan, kejadian Perang Bubat kembali terulang, namun ini lakonnya terbalik, dimana dua orang dari Majapahit dibantai habis-habisan oleh prajurit Sunda Galuh yang jumlahnya tak terhitung.
Yaa, cerita-cerita tentang keberanian jiwa-jiwa ksatria akan terus ada dimana harga diri dan cinta harus dijunjung tinggi.
*****
Walau diserang dan dibantai ribuan prajurit, namun kami tak sedikit pun gentar atau pun goyah, justru perlawanan kami semakin sengit,
Aku, Wingsang dan kuda-kuda terhebat kami tak pernah takut menghadapi nara bahaya. baru kali ini jiwa ksatriaku tumbuh dan tak sedikitpun merasa gentar.
Biasanya saat terjadi peperangan aku hanya menjerit histeris ketakutan, namun kali ini seakan aku merasakan menjadi prajurit sejati seperti apa yang diteladankan Wingsanggeni.
Karena kalah jumlah akhirnya kuda kami roboh dan kami harus berperang langsung berhadapan. Ditengah serbuan ribuan musuh aku melihat Wingsang semakin tak berdaya, namun semangatnya tetap berkobar untuk terus mengayunkan pedangnya ke arah musuh, dan anehnya walaupun kami diserang ribuan musuh, namun tubuh kami tak pernah terluka sedikit pun.
Hingga akhirnya kami harus tertangkap dan berhasil diringkus oleh mereka.
Lalu Jayadipati mendekat,
"Hhhmmm, lumayan juga ilmu kanoraganmu anak muda..." Jayadipati menggertak sembari mengangkat dagu Wingsanggeni.
"Cuuuhhh...!!!" dengan emosi Wingsanggeni meludah ke muka Jayadipati.
"Pengecuutt...!!!!" teriak Wingsang menantang Jayadipati.
Namun Jayadipati memilih melangkah mundur lalu berkata,
"Penggal kepalanya...!!!!" teriak Jayadipati penuh amarah.
Sementara Dewi Larasati terus berontak menyaksikan pembantaian ini.
Namun setelah beberapa kali pedang diayunkan ke lehernya, Wingsang tetap sama sekali tak terluka.
"Hahahaa... pedang kalian terlalu tumpul...!!!!
Apa kalian tidak bisa membuat senjata yang lebih tajam...???
Jika ingin membunuhku, ambillah keris buatan mpu Sasora ini, tusukkan ke perutku...!!!" tantang Wingsanggeni dengan tubuh yang mulai lemah sembari menengok ke pinggang yang terselip keris mpu Sasora.
Lalu Wingsang menghadap ke arahku sembari mengangutkan kepalanya yang mengisaratkan,
"ini sudah waktunya Sena..."
Seketika Jayadipati mendekat dan mengambil keris yang terselip di pinggang Wingsang lalu menusukkan nya ke perut sahabatku itu, rasanya aku tak tega melihat semua ini.
Wingsang yang kedua tangannya masih ringkus oleh prajurit mereka, tak berdaya perutnya terhunus oleh kerisnya sendiri. Darah mengucur dengan derasnya yang melemahkan seluruh jiwa dan raganya, namun wajah Wingsang tetap tenang dan tersenyum.
Setelah itu dengan sigap pedang besar mengayun tepat dileher Wingsang.
Siang itu, aku melihat sendiri sahabat terbaikku harus gugur dihadapanku sendiri.
"Tidaaakkkk....!!!" aku menjerit histeris.
Tak berapa lama, Jayadipati dengan keris yang masih berlumuran darah itu datang menghampiriku yang sudah tak berdaya diringkus oleh prajurit mereka. Lalu menusukkan keris itu tepat di perutku.
Aku merasakan saktinya keris mpu Sasora yang menghunus perutku dan merobek lambungku.
"Akanggg...!!!!" Dewi Larasati berteriak histeris.
Seketika pedang besar yang ada diatas leherku siap mengayun untuk memenggalku. Dalam hitungan detik pedang itu mendarat tepat di leherku.
Aku merasakan kepalaku ringan melayang ke udara lalu mendarat jatuh ke tanah. Aku masih dapat melihat tubuhku tanpa kepala dengan leher yang terputus bersimbah darah, lalu kalung pemberian kakek Mpu Sasora lepas dari leherku dan jatuh berserakan jatuh ke tanah.
Aku ingat pesan Mpu Sasora waktu memberikan kalung itu padaku,
"Pakailah ini nak, kalung ini akan menjagamu selama kau ada di dimensi ini, jika suatu saat kalung ini lepas dan menyentuh bumi, maka kamu akan terseret kembali ke dimensi waktu di jaman dimana kamu hidup..."
Sesaat setelah kalung itu jatuh berserakan ke tanah, badai datang kencang sekali, angin puting beliung menggulung-gulung dengan pusaran awan yang sangat besar.
Aku terseret masuk dalam pusaran itu, menyeret jiwaku terbang melayang ke langit hitam.
Dari jauh aku melihat Dewi Larasati mendekat ke jasadku, lalu bangkit dan merebut keris di tangan Jayadipati, tanpa pikir panjang Dewi Larasati menusukkan keris itu tepat di perutnya sendiri lalu merobohkan tubuhnya tepat diatas jasadku.
"Aku ikut denganmu akang..." begitulah kata-kata terakhir yang terucap lirih dari bibir Dewi Larasati.
Dan aku pun makin terseret kencang memasuki pusaran ke dimensi waktu dimana aku semula berada. Dimensi waktu di tahun 2016.
"Aaaahhhhh...." aku berteriak keras, rohku terseret jauh menembus dimensi waktu yang berbeda.
Lalu,
"Tuutt... tuutt... tuutt..." alat pendeteksi jantung bekerja optimal yang menandakan pasien yang dalam kondisi koma kembali tersadar.
"Panggil dokter, cepat panggil dokter..." teriak ibu-ibu untuk segera memanggil dokter.
Tak berapa lama dokter datang dan mengecek kondisi pasien,
"Dia mulai sadarkan diri..." ucap dokter itu optimis.
"Laras, Laras, dimana kamu..." pasien itu menggil-manggil nama kekasihnya.
Yaa pasien itu adalah aku, yang entah berapa lama aku bertualang ke dimensi waktu yang berbeda.
"Nak, bangun nak, ini ibumu...
Siapa Laras nak...???" ucap ibu sembari menggoyang tubuhku pelan.
"Aku dimana...???" aku mulai sadarkan diri sembari sedikit demi sedikit mencoba membuka mata.
"Kamu di RSUD Kajen nak..." ucap ibuku dengan wajah panik.
"Lalu dimana Laras...???" ucapku lagi sembari melihat sekeliling.
"Laras siapa nak...???" tanya ibuku lagi.
Lantas sejenak semua terdiam.
"Kenapa aku ada disini...???" tanyaku agak ling-lung.
"Kamu sudah 6 bulan ini koma Fer...???" jawab Antok teman sependakianku dulu.
"Siapa itu Fer...???" tanyaku agak heran.
"Iyaa kamu itu Ferdi, namamu Ferdi..." jawab Antok lagi.
"Aku Jaka Sasena, bukan Ferdi..." jawabku lagi dengan nada masih lemah.
"Kamu Ferdi bro, kamu sudah lama koma dan berbaring di rumah sakit ini sejak 6 bulan yang lalu...
Kamu jatuh ke jurang saat kita hendak turun dari gunung Penanggungan..." ucap Heru pemimpin team saat pendakian gunung Penanggungan dulu.
"Oohh aku mulai ingat..." jawabku pelang sembari memegangi kepalaku yang masih terasa berat.
"Alhamdulillah akhirnya kamu tersadar anakku..." ucap ibu yang tak asing lagi wajahnya diingatanku.
"Maakk...." ucapku lirih sembari menatap ke wajah ibuku.
"Bagaimana aku bisa koma selama itu mak...???" tanyaku pada ibuku.
"Yaa, sejak kamu terpeleset jatuh ke jurang, dan hampir 5 hari team SAR melakukan pencarian, akhirnya kamu ditemukan disebuah goa dilereng sebelah barat gunung Penanggungan nak, namun sejak saat itu kondisimu dalam keadaan tak sadarkan diri, kamu langsung dibawa di rumah sakit di daerah Surabaya, setelah dirawat lama disana, dokter mengisaratkan bahwa kamu koma berkepanjangan, dokter juga heran karena makin hari tubuhmu makin kekar padahal hanya infus yang masuk dalam tubuhmu. Dan semua kondisi tubuhmu juga makin membaik walau dalam keadaan koma.
Karena itulah pihak rumah sakit merujuk ke RSUD Kajen, kabupaten Pekalongan ini agar perawatannya tidak jauh dari tempat tinggal kita..." ucap ibu menjelaskan kronologis kejadiannya.
"Tapi bagaimana dengan biayanya maakk...???" ucapku khawatir akan biaya rumah sakit yang sudah berbulan-bulan lamanya.
"Jangan kuatir nak, semua biaya ditanggung pemerintah dan dinas ke-purbakala-an, karena pada saat kamu ditemukan disebuah goa, disana juga ditemukan banyak benda-benda purba kala peninggalan jaman kerajaan dulu, mulai dari perkakas yang terbuat dari tembaga, keramik, juga ditemukan keping emas dalam jumlah yang sangat banyak.
Dan setelah diteliti benda-benda bersejarah itu peninggalan dari jaman Majapahit nak..." ucap ayahku yang sedari tadi duduk disamping ibuku.
"Aaahh, apa benar apa yang aku alami selama ini benar-benar terjadi...???" ucap hatiku heran.
Lalu aku bergegas bangkit dari tempat tidurku.
"Mau kemana nak...???" tanya ibuku sembari menahan aku untuk bangkit.
"Tidak mak, jika kisah yang aku alami itu benar, berarti seharusnya ada keris di bukit Watu Ireng di kecamatan Kandang Serang mak...
Aku ingin membuktikannya..." ucapku sembari bangkit untuk bergegas pergi. Dengan melepas selang infus yang masih menempel di tanganku.
"Antok, kamu bawa motorkan...???
Antarkan aku ke bukit Watu Ireng..." aku mengajak Antok untuk mengantarku pergi.
"Baik Fer aku siap..." lalu aku dan Antok menuju lokasi Watu Ireng, batu besar yang berwarna hitam yang ada di kecamatan Kandang Serang.
Sementara ibu, keluarga dan teman-temanku yang lain siap menyusul sembari menghubungi pihak yang terkait untuk membuktikan benda-benda bersejarah itu.
*****
Sesampainya disana aku langsung mendekat ke batu itu, lalu mengingat-ingat dimana dulu aku menancapkan keris itu.
Tak berapa lama akhirnya aku menemukan kerisnya, lalu aku cabut lagi dari rekahan yang ada di batu hitam itu.
"Yaa, ternyata petualanganku menjelajahi bumi Jawa Dwipa di masa lalu benar-benar terjadi. Aku telah masuk ke dimensi waktu ratusan tahun yang lalu..." ucapku pada Antok teman sekampungku yang juga ikut dalam pendakian gunung Penanggungan yang na'as itu.
Lalu beberapa rombongan datang, mulai dari team arkeolog, dokter, bupati dan pihak-pihak yang berwenang.
Mereka menyusul ke tempat ini untuk mendengar keteranganku tentang benda-benda bersejarah itu, termasuk keris yang baru saja aku ambil.
"Ini keris bersejarah yang dibuat oleh Mpu Sasora, guruku sekaligus salah satu orang paling sakti di era Majapahit, silahkan diteliti..." ucapku sembari memberikan keris itu pada bapak Bupati untuk segera diteliti.
Lalu aku kembali melangkah meninggalkan mereka.
"Perjalanan ini memang sudah usai, namun ada perjalanan lain yang telah menantiku untuk aku jelajahi,
Yaa, petualanganku dalam mencari sahabat dan kekasihku, Wingsanggeni dan Dewi Larasati...
Karena aku yakin, saat ini mereka pasti sedang tersesat di jamanku ini...
Yaa, karena perjalanan ini akan terus berjalan...."
============= SEKIAN =============
NB: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada nama atau peristiwa kejadian yang sama itu hanya kebetulan semata...
Namun untuk nama-nama tokoh dalam kerajaan dan latar belakang sejarah diambil dari berbagai sumber dan referensi sejarah...
By: Ahmad Pajali Binzah
*foto-foto diatas hanya ilustrasi, diambil dari koleksi pribadi dan dari berbagai sumber.
================================
Ahmad Pajali Binzah
September 21, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaUntuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Tak terasa sudah dua hari kami hidup dipelarian, bersembunyi di pekat belantara lereng gunung Salak sebelah timur.
Dan setelah mengatur rencana matang-matang, akhirnya kami putuskan untuk meneruskan perjalanan ke arah barat menuju tanah Suarnadwipa (Sumatera).
Dan rencana kami akan melewati jalur selatan menuju Sukabumi lalu menuju selat Sunda, karena jalur itu dinilai cukup aman menghindari pasukan Sunda Galuh.
Tapi na'as nya, saat kami menuruni lereng menuju jalan utama, ternyata keberadaan kami telah diketahui mata-mata kerajaan. Dan ternyata kami telah dikepung oleh prajurit Sunda Galuh secara besar-besar yang dipimpin oleh Jayadipati sendiri.
"Mau kemana kalian...???
Sampai ke ujung dunia pun kalian tak akan bisa lepas dari genggamanku...!!!" Jayadipati menggertak sembari mengepalkan tangannya erat-erat yang menandakan amarahnya menyala-nyala.
"Putri, kembali ke istana...!!!
Aku diperintahkan baginda untuk membawamu pulang ke istana..." Jayadipati menyuruh Dewi Larasati untuk kembali.
"Tidak...!!! Aku tidak mau kembali, aku ingin selalu bersama akang Sena..." Dewi Larasati menolak tegas.
"Prajurit, bawa putri kembali...!!!" Jayadipati memerintahkan prajuritnya untuk membawa paksa Dewi Larasati kembali ke istana. Lalu beberapa prajurit menangkap Dewi Larasati.
"Tidak, lepaskan aku..." Dewi Larasati terus meronta.
"Lepaskan dia, putri sudah dewasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri...!!!" Wingsang menggertak Jayadipati.
"Dia putri kerajaan, tak pantas bersama kalian...!!!
Masih berani kau bicara...!!!???
Pasukan, habisi mereka...!!!!" Jayadipati marah besar.
Lalu pertarungan pun tak dapat dihindarkan, kejadian Perang Bubat kembali terulang, namun ini lakonnya terbalik, dimana dua orang dari Majapahit dibantai habis-habisan oleh prajurit Sunda Galuh yang jumlahnya tak terhitung.
Yaa, cerita-cerita tentang keberanian jiwa-jiwa ksatria akan terus ada dimana harga diri dan cinta harus dijunjung tinggi.
*****
Walau diserang dan dibantai ribuan prajurit, namun kami tak sedikit pun gentar atau pun goyah, justru perlawanan kami semakin sengit,
Aku, Wingsang dan kuda-kuda terhebat kami tak pernah takut menghadapi nara bahaya. baru kali ini jiwa ksatriaku tumbuh dan tak sedikitpun merasa gentar.
Biasanya saat terjadi peperangan aku hanya menjerit histeris ketakutan, namun kali ini seakan aku merasakan menjadi prajurit sejati seperti apa yang diteladankan Wingsanggeni.
Karena kalah jumlah akhirnya kuda kami roboh dan kami harus berperang langsung berhadapan. Ditengah serbuan ribuan musuh aku melihat Wingsang semakin tak berdaya, namun semangatnya tetap berkobar untuk terus mengayunkan pedangnya ke arah musuh, dan anehnya walaupun kami diserang ribuan musuh, namun tubuh kami tak pernah terluka sedikit pun.
Hingga akhirnya kami harus tertangkap dan berhasil diringkus oleh mereka.
Lalu Jayadipati mendekat,
"Hhhmmm, lumayan juga ilmu kanoraganmu anak muda..." Jayadipati menggertak sembari mengangkat dagu Wingsanggeni.
"Cuuuhhh...!!!" dengan emosi Wingsanggeni meludah ke muka Jayadipati.
"Pengecuutt...!!!!" teriak Wingsang menantang Jayadipati.
Namun Jayadipati memilih melangkah mundur lalu berkata,
"Penggal kepalanya...!!!!" teriak Jayadipati penuh amarah.
Sementara Dewi Larasati terus berontak menyaksikan pembantaian ini.
Namun setelah beberapa kali pedang diayunkan ke lehernya, Wingsang tetap sama sekali tak terluka.
"Hahahaa... pedang kalian terlalu tumpul...!!!!
Apa kalian tidak bisa membuat senjata yang lebih tajam...???
Jika ingin membunuhku, ambillah keris buatan mpu Sasora ini, tusukkan ke perutku...!!!" tantang Wingsanggeni dengan tubuh yang mulai lemah sembari menengok ke pinggang yang terselip keris mpu Sasora.
Lalu Wingsang menghadap ke arahku sembari mengangutkan kepalanya yang mengisaratkan,
"ini sudah waktunya Sena..."
Seketika Jayadipati mendekat dan mengambil keris yang terselip di pinggang Wingsang lalu menusukkan nya ke perut sahabatku itu, rasanya aku tak tega melihat semua ini.
Wingsang yang kedua tangannya masih ringkus oleh prajurit mereka, tak berdaya perutnya terhunus oleh kerisnya sendiri. Darah mengucur dengan derasnya yang melemahkan seluruh jiwa dan raganya, namun wajah Wingsang tetap tenang dan tersenyum.
Setelah itu dengan sigap pedang besar mengayun tepat dileher Wingsang.
Siang itu, aku melihat sendiri sahabat terbaikku harus gugur dihadapanku sendiri.
"Tidaaakkkk....!!!" aku menjerit histeris.
Tak berapa lama, Jayadipati dengan keris yang masih berlumuran darah itu datang menghampiriku yang sudah tak berdaya diringkus oleh prajurit mereka. Lalu menusukkan keris itu tepat di perutku.
Aku merasakan saktinya keris mpu Sasora yang menghunus perutku dan merobek lambungku.
"Akanggg...!!!!" Dewi Larasati berteriak histeris.
Seketika pedang besar yang ada diatas leherku siap mengayun untuk memenggalku. Dalam hitungan detik pedang itu mendarat tepat di leherku.
Aku merasakan kepalaku ringan melayang ke udara lalu mendarat jatuh ke tanah. Aku masih dapat melihat tubuhku tanpa kepala dengan leher yang terputus bersimbah darah, lalu kalung pemberian kakek Mpu Sasora lepas dari leherku dan jatuh berserakan jatuh ke tanah.
Aku ingat pesan Mpu Sasora waktu memberikan kalung itu padaku,
"Pakailah ini nak, kalung ini akan menjagamu selama kau ada di dimensi ini, jika suatu saat kalung ini lepas dan menyentuh bumi, maka kamu akan terseret kembali ke dimensi waktu di jaman dimana kamu hidup..."
Sesaat setelah kalung itu jatuh berserakan ke tanah, badai datang kencang sekali, angin puting beliung menggulung-gulung dengan pusaran awan yang sangat besar.
Aku terseret masuk dalam pusaran itu, menyeret jiwaku terbang melayang ke langit hitam.
Dari jauh aku melihat Dewi Larasati mendekat ke jasadku, lalu bangkit dan merebut keris di tangan Jayadipati, tanpa pikir panjang Dewi Larasati menusukkan keris itu tepat di perutnya sendiri lalu merobohkan tubuhnya tepat diatas jasadku.
"Aku ikut denganmu akang..." begitulah kata-kata terakhir yang terucap lirih dari bibir Dewi Larasati.
Dan aku pun makin terseret kencang memasuki pusaran ke dimensi waktu dimana aku semula berada. Dimensi waktu di tahun 2016.
"Aaaahhhhh...." aku berteriak keras, rohku terseret jauh menembus dimensi waktu yang berbeda.
Lalu,
"Tuutt... tuutt... tuutt..." alat pendeteksi jantung bekerja optimal yang menandakan pasien yang dalam kondisi koma kembali tersadar.
"Panggil dokter, cepat panggil dokter..." teriak ibu-ibu untuk segera memanggil dokter.
Tak berapa lama dokter datang dan mengecek kondisi pasien,
"Dia mulai sadarkan diri..." ucap dokter itu optimis.
"Laras, Laras, dimana kamu..." pasien itu menggil-manggil nama kekasihnya.
Yaa pasien itu adalah aku, yang entah berapa lama aku bertualang ke dimensi waktu yang berbeda.
"Nak, bangun nak, ini ibumu...
Siapa Laras nak...???" ucap ibu sembari menggoyang tubuhku pelan.
"Aku dimana...???" aku mulai sadarkan diri sembari sedikit demi sedikit mencoba membuka mata.
"Kamu di RSUD Kajen nak..." ucap ibuku dengan wajah panik.
"Lalu dimana Laras...???" ucapku lagi sembari melihat sekeliling.
"Laras siapa nak...???" tanya ibuku lagi.
Lantas sejenak semua terdiam.
"Kenapa aku ada disini...???" tanyaku agak ling-lung.
"Kamu sudah 6 bulan ini koma Fer...???" jawab Antok teman sependakianku dulu.
"Siapa itu Fer...???" tanyaku agak heran.
"Iyaa kamu itu Ferdi, namamu Ferdi..." jawab Antok lagi.
"Aku Jaka Sasena, bukan Ferdi..." jawabku lagi dengan nada masih lemah.
"Kamu Ferdi bro, kamu sudah lama koma dan berbaring di rumah sakit ini sejak 6 bulan yang lalu...
Kamu jatuh ke jurang saat kita hendak turun dari gunung Penanggungan..." ucap Heru pemimpin team saat pendakian gunung Penanggungan dulu.
"Oohh aku mulai ingat..." jawabku pelang sembari memegangi kepalaku yang masih terasa berat.
"Alhamdulillah akhirnya kamu tersadar anakku..." ucap ibu yang tak asing lagi wajahnya diingatanku.
"Maakk...." ucapku lirih sembari menatap ke wajah ibuku.
"Bagaimana aku bisa koma selama itu mak...???" tanyaku pada ibuku.
"Yaa, sejak kamu terpeleset jatuh ke jurang, dan hampir 5 hari team SAR melakukan pencarian, akhirnya kamu ditemukan disebuah goa dilereng sebelah barat gunung Penanggungan nak, namun sejak saat itu kondisimu dalam keadaan tak sadarkan diri, kamu langsung dibawa di rumah sakit di daerah Surabaya, setelah dirawat lama disana, dokter mengisaratkan bahwa kamu koma berkepanjangan, dokter juga heran karena makin hari tubuhmu makin kekar padahal hanya infus yang masuk dalam tubuhmu. Dan semua kondisi tubuhmu juga makin membaik walau dalam keadaan koma.
Karena itulah pihak rumah sakit merujuk ke RSUD Kajen, kabupaten Pekalongan ini agar perawatannya tidak jauh dari tempat tinggal kita..." ucap ibu menjelaskan kronologis kejadiannya.
"Tapi bagaimana dengan biayanya maakk...???" ucapku khawatir akan biaya rumah sakit yang sudah berbulan-bulan lamanya.
"Jangan kuatir nak, semua biaya ditanggung pemerintah dan dinas ke-purbakala-an, karena pada saat kamu ditemukan disebuah goa, disana juga ditemukan banyak benda-benda purba kala peninggalan jaman kerajaan dulu, mulai dari perkakas yang terbuat dari tembaga, keramik, juga ditemukan keping emas dalam jumlah yang sangat banyak.
Dan setelah diteliti benda-benda bersejarah itu peninggalan dari jaman Majapahit nak..." ucap ayahku yang sedari tadi duduk disamping ibuku.
"Aaahh, apa benar apa yang aku alami selama ini benar-benar terjadi...???" ucap hatiku heran.
Lalu aku bergegas bangkit dari tempat tidurku.
"Mau kemana nak...???" tanya ibuku sembari menahan aku untuk bangkit.
"Tidak mak, jika kisah yang aku alami itu benar, berarti seharusnya ada keris di bukit Watu Ireng di kecamatan Kandang Serang mak...
Aku ingin membuktikannya..." ucapku sembari bangkit untuk bergegas pergi. Dengan melepas selang infus yang masih menempel di tanganku.
"Antok, kamu bawa motorkan...???
Antarkan aku ke bukit Watu Ireng..." aku mengajak Antok untuk mengantarku pergi.
"Baik Fer aku siap..." lalu aku dan Antok menuju lokasi Watu Ireng, batu besar yang berwarna hitam yang ada di kecamatan Kandang Serang.
Sementara ibu, keluarga dan teman-temanku yang lain siap menyusul sembari menghubungi pihak yang terkait untuk membuktikan benda-benda bersejarah itu.
*****
Sesampainya disana aku langsung mendekat ke batu itu, lalu mengingat-ingat dimana dulu aku menancapkan keris itu.
Tak berapa lama akhirnya aku menemukan kerisnya, lalu aku cabut lagi dari rekahan yang ada di batu hitam itu.
"Yaa, ternyata petualanganku menjelajahi bumi Jawa Dwipa di masa lalu benar-benar terjadi. Aku telah masuk ke dimensi waktu ratusan tahun yang lalu..." ucapku pada Antok teman sekampungku yang juga ikut dalam pendakian gunung Penanggungan yang na'as itu.
Lalu beberapa rombongan datang, mulai dari team arkeolog, dokter, bupati dan pihak-pihak yang berwenang.
Mereka menyusul ke tempat ini untuk mendengar keteranganku tentang benda-benda bersejarah itu, termasuk keris yang baru saja aku ambil.
"Ini keris bersejarah yang dibuat oleh Mpu Sasora, guruku sekaligus salah satu orang paling sakti di era Majapahit, silahkan diteliti..." ucapku sembari memberikan keris itu pada bapak Bupati untuk segera diteliti.
Lalu aku kembali melangkah meninggalkan mereka.
"Perjalanan ini memang sudah usai, namun ada perjalanan lain yang telah menantiku untuk aku jelajahi,
Yaa, petualanganku dalam mencari sahabat dan kekasihku, Wingsanggeni dan Dewi Larasati...
Karena aku yakin, saat ini mereka pasti sedang tersesat di jamanku ini...
Yaa, karena perjalanan ini akan terus berjalan...."
============= SEKIAN =============
NB: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada nama atau peristiwa kejadian yang sama itu hanya kebetulan semata...
Namun untuk nama-nama tokoh dalam kerajaan dan latar belakang sejarah diambil dari berbagai sumber dan referensi sejarah...
By: Ahmad Pajali Binzah
*foto-foto diatas hanya ilustrasi, diambil dari koleksi pribadi dan dari berbagai sumber.
================================
Baca juga cerpen tentang petualangan:
Episode (9/10)
Perjuangan cinta Sejati (inti cerita)
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Setelah Wingsang pergi meneruskan perjalanan pulang ke Majapahit, aku memutuskan untuk kembali ke ibu kota Sunda Galuh, memperjuangkan cinta yang aku miliki, karena bagiku lebih baik menantang mara bahaya untuk sebuah kebahagiaan cinta dari pada harus berdiam diri tanpa merasakan manisnya cinta, karena hakekatnya cinta memang harus diperjuangkan.
Sesampainya di ibu kota aku menyamar sebagai pedagang daging rusa dan daging kambing di pasar dekat istana. Dengan harapan masih ada kemungkinan menyusup ke istana jika ada kesempatan untuk bertemu Dewi Larasati.
Benar saja, baru beberapa hari berjualan daging, aku mendapat pesanan dari juru masak istana, daging rusa dan daging kambing untuk diantar ke dapur istana.
Saat mengantar daging, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, saat melihat Dewi Larasati sedang berjalan di taman, aku langsung berusaha menemuinya.
"Ssstt... Laras..." aku memanggil lirih saat melihatnya sedang berjalan di taman.
Lalu aku mengatakan kalau aku tidak jadi pulang ke Majapahit, aku putuskan untuk tinggal di Sunda Galuh untuk manjadi pedagang di pasar dekat istana, dan sejak saat itu Dewi Larasati sering menyamar menjadi wanita biasa untuk bisa leluasa ke pasar menemui aku. Larasati sering membantuku seharian berjualan daging dipasar, dia juga sering membawakan aku makanan, dia memang wanita berdarah biru namun tetap bersahaja. Kerena itulah aku makin sayang padanya.
Hari berganti, minggu berlalu dan bulan terus berjalan, hubunganku dengan Larasati makin dekat, gelora asmara di jiwa seakan makin erat susah untuk dilepaskan.
Hingga disuatu hari, ada salah satu orang Istana yang mengetahui keberadaan kami dan mata-mata itu telah mengetahui semuanya tentang kami. Hingga kabar itu tembus ke baginda Prabu Bunisora. Dan akhirnya beliau memerintahkan pengawal kerajaan untuk menyeret kami untuk dihukum.
"Lancang sekali kau...!!!
Sudah aku beri kabaikan namun kau berani melawan titahku...!!!
Dikasih hati minta jantung...!!!" suara Prabu Bunisora menggelagar lantang, seakan seisi istana tergoncang bagai ada gempa yang melanda.
"Maaf baginda, aku sangat mencintai putri baginda...
Aku tak bisa hidup tanpanya..." jawabku pelan menghiba.
"Tidak mungkin...!!!!
Aku tidak mungkin menjilat ludahku sendiri, aku sudah putuskan menerbitkan larangan kerabat istana untuk menikah dengan pihak Majapahit, apalagi dengan laki-laki berkasta Sudra sepertimu...!!!" Prabu Bunisora makin marah tak terkendali.
"Pengawal, seret dia keluar istana, penggal kepalanya di depan penduduk Sunda Galuh, untuk menunjukan aku tidak main-main dengan ucapanku..." raja Bunisora berteriak keras memerintahkan pengawal untuk menghukum mati aku.
Kali ini aku hanya diam, tenang tanpa memohon ampun atau pun berontak, karena aku ingat pesan sahabatku Wingsanggeni bahwa sebagai prajurit harus siap menghadapi kematiannya kapanpun dan dimanapun.
Lalu aku diseret keluar istana, dihadapan orang-orang pasar kedua tanganku dipegang erat dan aku harus menunduk untuk siap dipenggal kepalaku. Sementara didalam istana putri Dewi Larasati terus menangis menghiba pada ayahnya untuk mengampuni aku.
"Wahai para penduduk Sunda Galuh, hari ini kita menyaksikan orang yang berani melawan titah raja, dan sebagai hukumannya dia harus dihukum mati hari ini juga..." teriak Jayadipati, panglima kerajaan yang terkenal sadis dan kejam.
Dalam hatiku bertanya-tanya,
"Apakah ini akhir dari petualanganku, apakah ini akhir dari kisah hidupku, apakah aku harus mati sebagai penentang titah raja, seorang yang berdarah Jawa yang mencintai gadis berdarah Sunda. Tapi apapun itu, aku menghadapi kematian ini untuk membuktikan kekuatan cinta pada dunia...." hatiku terus berkata-kata.
Kedua tanganku dipegang erat oleh para prajurit Sunda, kakiku ditendang agar aku roboh berlutut di hadapan algojo, punggungku diinjak menekan ke depan agar leher dan kepalaku siap untuk dipenggal, aku melihat Jayadipati mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di atas leherku.
Sementara orang-orang hanya bisa menatapku dengan wajah tegang sembari menahan nafasnya dengan detak jantung yang berdebar kencang. Wajah-wajah tegang terukir disemua orang yang menyaksikan kejadian ini.
Saat pedang yang ada di tangan Jayadipati siap diayunkan tepat di leherku, tiba2 deru suara kaki kuda menderu-deru mendekati kami.
"Hiaa... Hiaaa...Hiaaaa...
Kdugruk... kdugruk... kdugruk... kdugruk..." suara sepatu kuda menderu-nderu mendekat ke arah kerumunan.
Dari kejauhan aku melihat sahabatku Wingsanggeni datang ke arahku, dengan pedang yang diangkat tinggi-tinggi pada tangan kanannya sembari terus memacu kudanya.
"Tungguu...!!!!
Kalau kalian berani hadapi aku...!!!" dari jauh Wingsang berteriak lantang.
Seketika semua perhatian tertuju ke arahnya, kerumunan warga seketika pecah menghindari serudukan kuda jantan nan gagah. Semua orang minggir menghindar dari terjangan kuda Wingsang.
Jayadipati yang siap memenggal kepalaku perhatiannya seketika langsung pada Wingsanggeni.
Setelah mendekat kudanya langsung menendang ke arah Jayadipati, panglima sekaligus algojo itu seketika tubuhnya langsung terpental jatuh ke tanah.
Semua prajurit yang memegangi tubuhku langsung dihajar dengan pedangnya.
"Sena, cepat larii...!!!
Cepat selamatkan dirimu... Jangan hirauakan aku..." perintah Wingsang sembari menghajar pasukan lawan.
Sesaat setelah terjadinya keributan ini dari dalam istana nampak Dewi Larasati berlari ke arahku, aku pun langsung menghampirinya lalu mengajaknya melarikan diri, disaat bersamaan kuda kesayanganku datang lalu aku dan Dewi Larasati langsung naik ke atas kuda itu dan siap pergi meninggalakan kekacauan.
Dari jauh aku melihat Wingsang sedang bertarung melawan Jayadipati beserta puluhan prajurit Sunda Galuh, nampak disana sangat kacau sekali namun aku harus pergi mengikuti perintah sahabatku.
"Sungguh, kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri pengorbanan dari seorang sahabat yang rela mengorbankan nyawanya demi sahabat seperjuangannya. Kau memang seorang ksatria sejati Wingsang, aku bangga pernah mengenalmu..." ucap hatiku seraya meneteskan air mata yang tak sanggup melihat pengorbanan dari sahabatku sendiri.
*****
Aku dan Dewi Larasati pergi ke arah selatan menuju kaki gunung Salak, disana aku rasa lebih aman untuk masa palarianku sementara ini.
Malam itu, aku dan Dewi Larasati sedang istirahat di tengah hutan di lereng sebelah timur gunung Salak. Membuat bivak dari ranting kayu dan dedaunan untuk sekedar istirahat dan tidur, kami juga membuat api unggun untuk menghangatkan udara gunung yang dingin menusuk tulang.
"Sungguh berani sahabatmu itu akang, rela mengorbankan nyawanya untuk kita berdua..." ucap Dewi Larasati sembari menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Begitulah Wingsanggeni, dia sangat setia kawan dan rela berkorban demi aku... dari sejak aku bertemu dengannya dia selalu mendampingi perjakananku, dia benar-benar sahabat sejati..." ucapku mengenang keberanian sahabatku.
"Aaahh kata siapa...???" tiba-tiba sosok yang sedang kami ceritakan datang dan duduk disamping kami.
"Wingsang...???" tanyaku kaget.
"Hahahaaa... kamu kira aku sudah mati hanya karena menghadapi prajurit yang jumlahnya tak seberapa itu...???" ucap Wingsang dengan nada bercanda.
"Aaahh syukurlah sobat, kita masih bisa bertemu lagii... aku sangat senang sekali..." ucapku seraya merangkul pundak sahabatku itu.
"Iyaa mas, kami sangat menghawatirkanmu..." ucap Dewi Larasati mengiyakan ucapanku.
"Oiya, ngomong-ngomong kenapa kamu gak jadi kembali ke Majapahit...???" Tanyaku lagi.
"Hahaa... tidak mungkin aku setega itu meninggalkanmu kawan, apalagi aku sudah diberi amanat kakek Sasora untuk setia menjaga keselamatanmu dalam perjalanan ini...
Dan sebetulnya dari Caruban (Cirebon) aku nengikuti gerak gerikmu kemanapun kamu pergi...
Tapi aku sengaja mengawasimu dari kejauhan karena aku tidak mau mengganggu dua orang sejoli yang sedang dimabuk cinta..." ucapnya sambil meledekku.
"Aahh mas bisa aja..." Dewi Larasati pun tersipu malu.
"Jadi bagaimana menurutmu rencana kita selanjutnya Wingsang...???
Apa kita langsung pulang ke Majapahit bersama Dewi Larasati...???" tanyaku bimbang untuk menentukan arah.
"Jangan dulu Sena, jika pelarian kita menuju Majapahit kita akan memberi masalah baru untuk Majapahit, kedua kerajaan yang sedang dilanda ketegangan ini akan semakin memanas dengan kasus yang kita bawa...
Ini masalah pribadi jangan sampai dibawa ke ranah yang lebih besar..." ucap Wingsang penuh perhitungan.
"Jadi kita sebaiknya kemana...???
Apa kita akan terus di tanah Pasundan ini...???" tanyaku lagi.
"Tidak, itu sangat berbahaya...
Untuk sementara waktu, satu atau dua hari kita bisa tinggal disini, untuk memantau perkembangannya sembari mengatur strategi...
Seperti yang kita tau, bahwa pihak istana masih gencar-gencarnya mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk mencari keberadaan kita..." jawab Wingsang menjelaskan.
"Apa sebaiknya pelarian kita kearah barat Wingsang, menyeberangi selat Sunda menuju tanah Suwarnadwipa (Sumatera)...???" tanyaku memberi ide.
"Yaa, itu ide yang bagus, jika kita ke tanah Suwarnadwipa kita akan jauh lebih aman...
Baiklah, sebaiknya kita istirahat dulu, besok kita bicarakan lagi..." ucap Wingsang sembari membaringkan tubuhnya diatas tumpukan rumput yang telah dilapisi daun pisang.
*****
Pagi itu masih terasa sunyi, namun sinar mentari sudah mengusik kebekuan udara malam, yang menggantikan galap menjadi terang.
Aku terbangun dari tidur nyenyakku yang telah menghapus lelah dalam tubuhku. Tapi aku mendapati tempat tidur Wingsang sudah kosong.
"Kemana Wingsang...???" tanya hatiku.
"Laras, Wingsang menghilang Laras..." aku membangunkan Laras yang sedang tertidur pulas.
"Waahh, kemana dia...???" jawabnya sembari mengusap kedua matanya.
"Kalian pada kenapa siihh, gaduh amattt..." tiba-tiba Wingsang datang dengan memanggul seekor rusa buruannya.
"Bruukk...!!!" Wingsang membanting hasil buruannya itu tepat dihadapan kami.
"Waahh keren sekali niihh, hari ini kita makan enakk..." ucapku penuh kegembiraan.
Pagi itu seekor rusa dipanggang di hadapan kami lalu setelah matang sedikit-demi sedikit daging empuknya masuk mengisi perut kami.
"Inilah perjalananku, inilah kisah hidupku, apapaun yang terjadi nanti akan aku hadapi...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan..."
============ BERSAMBUNG ============
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI
Ahmad Pajali Binzah
September 21, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaPerjuangan cinta Sejati (inti cerita)
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Setelah Wingsang pergi meneruskan perjalanan pulang ke Majapahit, aku memutuskan untuk kembali ke ibu kota Sunda Galuh, memperjuangkan cinta yang aku miliki, karena bagiku lebih baik menantang mara bahaya untuk sebuah kebahagiaan cinta dari pada harus berdiam diri tanpa merasakan manisnya cinta, karena hakekatnya cinta memang harus diperjuangkan.
Sesampainya di ibu kota aku menyamar sebagai pedagang daging rusa dan daging kambing di pasar dekat istana. Dengan harapan masih ada kemungkinan menyusup ke istana jika ada kesempatan untuk bertemu Dewi Larasati.
Benar saja, baru beberapa hari berjualan daging, aku mendapat pesanan dari juru masak istana, daging rusa dan daging kambing untuk diantar ke dapur istana.
Saat mengantar daging, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, saat melihat Dewi Larasati sedang berjalan di taman, aku langsung berusaha menemuinya.
"Ssstt... Laras..." aku memanggil lirih saat melihatnya sedang berjalan di taman.
Lalu aku mengatakan kalau aku tidak jadi pulang ke Majapahit, aku putuskan untuk tinggal di Sunda Galuh untuk manjadi pedagang di pasar dekat istana, dan sejak saat itu Dewi Larasati sering menyamar menjadi wanita biasa untuk bisa leluasa ke pasar menemui aku. Larasati sering membantuku seharian berjualan daging dipasar, dia juga sering membawakan aku makanan, dia memang wanita berdarah biru namun tetap bersahaja. Kerena itulah aku makin sayang padanya.
Hari berganti, minggu berlalu dan bulan terus berjalan, hubunganku dengan Larasati makin dekat, gelora asmara di jiwa seakan makin erat susah untuk dilepaskan.
Hingga disuatu hari, ada salah satu orang Istana yang mengetahui keberadaan kami dan mata-mata itu telah mengetahui semuanya tentang kami. Hingga kabar itu tembus ke baginda Prabu Bunisora. Dan akhirnya beliau memerintahkan pengawal kerajaan untuk menyeret kami untuk dihukum.
"Lancang sekali kau...!!!
Sudah aku beri kabaikan namun kau berani melawan titahku...!!!
Dikasih hati minta jantung...!!!" suara Prabu Bunisora menggelagar lantang, seakan seisi istana tergoncang bagai ada gempa yang melanda.
"Maaf baginda, aku sangat mencintai putri baginda...
Aku tak bisa hidup tanpanya..." jawabku pelan menghiba.
"Tidak mungkin...!!!!
Aku tidak mungkin menjilat ludahku sendiri, aku sudah putuskan menerbitkan larangan kerabat istana untuk menikah dengan pihak Majapahit, apalagi dengan laki-laki berkasta Sudra sepertimu...!!!" Prabu Bunisora makin marah tak terkendali.
"Pengawal, seret dia keluar istana, penggal kepalanya di depan penduduk Sunda Galuh, untuk menunjukan aku tidak main-main dengan ucapanku..." raja Bunisora berteriak keras memerintahkan pengawal untuk menghukum mati aku.
Kali ini aku hanya diam, tenang tanpa memohon ampun atau pun berontak, karena aku ingat pesan sahabatku Wingsanggeni bahwa sebagai prajurit harus siap menghadapi kematiannya kapanpun dan dimanapun.
Lalu aku diseret keluar istana, dihadapan orang-orang pasar kedua tanganku dipegang erat dan aku harus menunduk untuk siap dipenggal kepalaku. Sementara didalam istana putri Dewi Larasati terus menangis menghiba pada ayahnya untuk mengampuni aku.
"Wahai para penduduk Sunda Galuh, hari ini kita menyaksikan orang yang berani melawan titah raja, dan sebagai hukumannya dia harus dihukum mati hari ini juga..." teriak Jayadipati, panglima kerajaan yang terkenal sadis dan kejam.
Dalam hatiku bertanya-tanya,
"Apakah ini akhir dari petualanganku, apakah ini akhir dari kisah hidupku, apakah aku harus mati sebagai penentang titah raja, seorang yang berdarah Jawa yang mencintai gadis berdarah Sunda. Tapi apapun itu, aku menghadapi kematian ini untuk membuktikan kekuatan cinta pada dunia...." hatiku terus berkata-kata.
Kedua tanganku dipegang erat oleh para prajurit Sunda, kakiku ditendang agar aku roboh berlutut di hadapan algojo, punggungku diinjak menekan ke depan agar leher dan kepalaku siap untuk dipenggal, aku melihat Jayadipati mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di atas leherku.
Sementara orang-orang hanya bisa menatapku dengan wajah tegang sembari menahan nafasnya dengan detak jantung yang berdebar kencang. Wajah-wajah tegang terukir disemua orang yang menyaksikan kejadian ini.
Saat pedang yang ada di tangan Jayadipati siap diayunkan tepat di leherku, tiba2 deru suara kaki kuda menderu-deru mendekati kami.
"Hiaa... Hiaaa...Hiaaaa...
Kdugruk... kdugruk... kdugruk... kdugruk..." suara sepatu kuda menderu-nderu mendekat ke arah kerumunan.
Dari kejauhan aku melihat sahabatku Wingsanggeni datang ke arahku, dengan pedang yang diangkat tinggi-tinggi pada tangan kanannya sembari terus memacu kudanya.
"Tungguu...!!!!
Kalau kalian berani hadapi aku...!!!" dari jauh Wingsang berteriak lantang.
Seketika semua perhatian tertuju ke arahnya, kerumunan warga seketika pecah menghindari serudukan kuda jantan nan gagah. Semua orang minggir menghindar dari terjangan kuda Wingsang.
Jayadipati yang siap memenggal kepalaku perhatiannya seketika langsung pada Wingsanggeni.
Setelah mendekat kudanya langsung menendang ke arah Jayadipati, panglima sekaligus algojo itu seketika tubuhnya langsung terpental jatuh ke tanah.
Semua prajurit yang memegangi tubuhku langsung dihajar dengan pedangnya.
"Sena, cepat larii...!!!
Cepat selamatkan dirimu... Jangan hirauakan aku..." perintah Wingsang sembari menghajar pasukan lawan.
Sesaat setelah terjadinya keributan ini dari dalam istana nampak Dewi Larasati berlari ke arahku, aku pun langsung menghampirinya lalu mengajaknya melarikan diri, disaat bersamaan kuda kesayanganku datang lalu aku dan Dewi Larasati langsung naik ke atas kuda itu dan siap pergi meninggalakan kekacauan.
Dari jauh aku melihat Wingsang sedang bertarung melawan Jayadipati beserta puluhan prajurit Sunda Galuh, nampak disana sangat kacau sekali namun aku harus pergi mengikuti perintah sahabatku.
"Sungguh, kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri pengorbanan dari seorang sahabat yang rela mengorbankan nyawanya demi sahabat seperjuangannya. Kau memang seorang ksatria sejati Wingsang, aku bangga pernah mengenalmu..." ucap hatiku seraya meneteskan air mata yang tak sanggup melihat pengorbanan dari sahabatku sendiri.
*****
Aku dan Dewi Larasati pergi ke arah selatan menuju kaki gunung Salak, disana aku rasa lebih aman untuk masa palarianku sementara ini.
Malam itu, aku dan Dewi Larasati sedang istirahat di tengah hutan di lereng sebelah timur gunung Salak. Membuat bivak dari ranting kayu dan dedaunan untuk sekedar istirahat dan tidur, kami juga membuat api unggun untuk menghangatkan udara gunung yang dingin menusuk tulang.
"Sungguh berani sahabatmu itu akang, rela mengorbankan nyawanya untuk kita berdua..." ucap Dewi Larasati sembari menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Begitulah Wingsanggeni, dia sangat setia kawan dan rela berkorban demi aku... dari sejak aku bertemu dengannya dia selalu mendampingi perjakananku, dia benar-benar sahabat sejati..." ucapku mengenang keberanian sahabatku.
"Aaahh kata siapa...???" tiba-tiba sosok yang sedang kami ceritakan datang dan duduk disamping kami.
"Wingsang...???" tanyaku kaget.
"Hahahaaa... kamu kira aku sudah mati hanya karena menghadapi prajurit yang jumlahnya tak seberapa itu...???" ucap Wingsang dengan nada bercanda.
"Aaahh syukurlah sobat, kita masih bisa bertemu lagii... aku sangat senang sekali..." ucapku seraya merangkul pundak sahabatku itu.
"Iyaa mas, kami sangat menghawatirkanmu..." ucap Dewi Larasati mengiyakan ucapanku.
"Oiya, ngomong-ngomong kenapa kamu gak jadi kembali ke Majapahit...???" Tanyaku lagi.
"Hahaa... tidak mungkin aku setega itu meninggalkanmu kawan, apalagi aku sudah diberi amanat kakek Sasora untuk setia menjaga keselamatanmu dalam perjalanan ini...
Dan sebetulnya dari Caruban (Cirebon) aku nengikuti gerak gerikmu kemanapun kamu pergi...
Tapi aku sengaja mengawasimu dari kejauhan karena aku tidak mau mengganggu dua orang sejoli yang sedang dimabuk cinta..." ucapnya sambil meledekku.
"Aahh mas bisa aja..." Dewi Larasati pun tersipu malu.
"Jadi bagaimana menurutmu rencana kita selanjutnya Wingsang...???
Apa kita langsung pulang ke Majapahit bersama Dewi Larasati...???" tanyaku bimbang untuk menentukan arah.
"Jangan dulu Sena, jika pelarian kita menuju Majapahit kita akan memberi masalah baru untuk Majapahit, kedua kerajaan yang sedang dilanda ketegangan ini akan semakin memanas dengan kasus yang kita bawa...
Ini masalah pribadi jangan sampai dibawa ke ranah yang lebih besar..." ucap Wingsang penuh perhitungan.
"Jadi kita sebaiknya kemana...???
Apa kita akan terus di tanah Pasundan ini...???" tanyaku lagi.
"Tidak, itu sangat berbahaya...
Untuk sementara waktu, satu atau dua hari kita bisa tinggal disini, untuk memantau perkembangannya sembari mengatur strategi...
Seperti yang kita tau, bahwa pihak istana masih gencar-gencarnya mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk mencari keberadaan kita..." jawab Wingsang menjelaskan.
"Apa sebaiknya pelarian kita kearah barat Wingsang, menyeberangi selat Sunda menuju tanah Suwarnadwipa (Sumatera)...???" tanyaku memberi ide.
"Yaa, itu ide yang bagus, jika kita ke tanah Suwarnadwipa kita akan jauh lebih aman...
Baiklah, sebaiknya kita istirahat dulu, besok kita bicarakan lagi..." ucap Wingsang sembari membaringkan tubuhnya diatas tumpukan rumput yang telah dilapisi daun pisang.
*****
Pagi itu masih terasa sunyi, namun sinar mentari sudah mengusik kebekuan udara malam, yang menggantikan galap menjadi terang.
Aku terbangun dari tidur nyenyakku yang telah menghapus lelah dalam tubuhku. Tapi aku mendapati tempat tidur Wingsang sudah kosong.
"Kemana Wingsang...???" tanya hatiku.
"Laras, Wingsang menghilang Laras..." aku membangunkan Laras yang sedang tertidur pulas.
"Waahh, kemana dia...???" jawabnya sembari mengusap kedua matanya.
"Kalian pada kenapa siihh, gaduh amattt..." tiba-tiba Wingsang datang dengan memanggul seekor rusa buruannya.
"Bruukk...!!!" Wingsang membanting hasil buruannya itu tepat dihadapan kami.
"Waahh keren sekali niihh, hari ini kita makan enakk..." ucapku penuh kegembiraan.
Pagi itu seekor rusa dipanggang di hadapan kami lalu setelah matang sedikit-demi sedikit daging empuknya masuk mengisi perut kami.
"Inilah perjalananku, inilah kisah hidupku, apapaun yang terjadi nanti akan aku hadapi...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan..."
============ BERSAMBUNG ============
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI



















































