Episode (8/10)
Memasuki batas wilayah negeri Pasundan. (inti cerita)
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Menembus hutan belantara Jawa bagian tengah memang sangat melelahkan, banyak aral yang melintang. Ancaman dari perampok, hewan buas dan tersesat di dalam hutan selalu mengintai. Namun dengan tekat yang bulat dan semangat yang kuat tak sedikitpun kami gentar menghadapi.
Akhirnya setelah berjalan menembus belantara yang pekat selama berhari-hari, sampailah kami di tugu perbatasan kekuasaan Majapahit, tugu itu nampak tak terawat, letaknya di tengah hutan belantara tepat sebelum kami menemui sungai besar batas wilayah Sunda Galuh.
Setelah menyeberangi sungai besar itu, tibalah kami di perkampungan yang cukup ramai.
"Maaf bu, kalau boleh tau ini kampung apa yaa...???
Sejak menyeberangi sungai Kaliwungu sana, baru kali ini aku menemukan perkampungan dengan hiruk pikuk keramaian pasarnya yang cukup ramai seperti ini...
Karena sepanjang perjalanan beberapa hari ini yang aku temui hanya hutan belantara, kalaupun ada kampung itu hanya perkampungan kecil yang penduduknya mengandalkan hasil berburu dari hutan, hampir tak kami temui pasar ataupun kegiatan perniagaan..." tanyaku pada ibu tua pedagang dipasar sambil memesan makanan sebagai bekal perjalanan.
"Ini daerah Caruban (Cirebon) nak... perkampungan diujung paling timur kekuasaan negeri Pasundan..." jawab ibu itu sembari membungkus makanan yang kami pesan.
Dan untuk asal-usul nama kota Cirebon ini, kelak di abad ke 16 disini akan menjadi pusat produksi terasi udang yang terkenal hingga ke ibu kota kerajaan dan air sisa produksi terasi tersebut banyak yang mengalir ke sungai-sungai yang pada akhirnya kota itu terkenal menjadi kota Cirebon yang artinya Ci = air, sementara Rebon = udang.
"Waahh, berarti ini sudah masuk wilayah kerajaan Sunda Galuh bu...???" Tanyaku makin sempringah.
"Iyaa Nak, ini sudah masuk wilayah Sunda Galuh... sungai itu sebagai batas wilayahnya..." jawab ibu itu sambil menunjuk ke arah sungai besar disisi timur.
"Jadi kalau mau ke pusat ibu kota kerajaan Sunda Galuh kira-kira masih jauh gak bu...???" tanyaku lagi.
"Kira-kira tujuh hari perjalanan berkuda nak, lanjutkan perjalanan kalian menuju barat, terus lurus saja mengikuti jalan ini hingga kalian menemui pelabuhan Kelapa, disitu kalian akan menemukan keramaian kota Sunda Kelapa, setelah itu pergilah ke arah selatan menelusuri jalan di pinggir sungai Ciliwung hingga sampai di daerah hulu. Disana lah letak ibu kota kerajaan Sunda Galuh nak..." jawab ibu pedagang makanan itu sembari menunjuk ke arah barat. Lalu memberikan makanan yang kami pesan.
"Berapa bu harganya...???" aku menanyakan harga makanan yanh saya beli.
"Satu kepeng aja nak..." jawab itu itu.
"Ini bu..." jawabku sembari memberikan satu keping uang logam.
Lalu perjalanan kami lanjutkan terus menuju ke arah barat, selama perjalanan hampir semua lahan sudah menjadi ladang pertanian, dan juga banyak perkampungan-perkampungan ramai disepanjang jalan menuju Sunda Kelapa, ini menandakan penyebaran penduduk di daerah Sunda sudah merata.
Jelas saja, karena wilayah Jawa bagian barat sudah mengenal sistem pemerintahan, tata kota, irigasi dan sistem pertanian yang sudah cukup lama, karena wilayah Pasundan adalah wilayah dimana kerajaan pertama di Pulau jawa berdiri. Yaitu kerajaan Salakanegara pada abad ke-3 Masehi, lalu diganti kerajaan Tarumanegara yang ibu kotanya berada di tepi sungai Citarum. Dan setelah itu kerajaan itu berkembang pesat dan terus melebarkan sayapnya, kalaupun kerajaan itu runtuh itu karena generasinya membuat kerajaan baru dan ibu kotanya tetap masih di wilayah Pasundan. Yang artinya wilayah Pasundan ini tidak pernah terjadi kekosongan kekuasaan sejak awal abad ke-3 masehi.
Berbeda dengan Jawa Tengah, yang sempat ada kerajaan seperti Kalingga dan Mataram Kuno, namun kerajaan itu runtuh dan pindah ke Kediri Jawa Timur dan pada akhirnya tanah Jawa Tengah terbengkalai tanpa perhatian pengasa.
Sedang Jawa Timur baru ada sistem kerajaan pada abad ke-12 masehi setelah kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur mendirikan Kerajaan Kediri.
Ini sebabnya wilayah di Pasundan cenderung lebih maju dan lebih merata penyebaran penduduknya, karena wilayah ini dibangun sejak berabad-abad lamanya.
****
Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan menyusuri tanah Pasundan, sampailah kami di pelabuhan Kelapa, pelabuhan yang sangat ramai dan penuh hilir mudik kapal-kapal besar dan kecil.
Lalu perjalanan diteruskan menuju pusat kota Sunda Kelapa, dan terus menuju selatan mengikuti aliran sungai Ciliwung menuju pusat ibu kota kerajaan Sunda Galuh.
Dan akhirnya setelah berjalan sekitar dua hari dari kota Sunda Kelapa sampailah kita di pusat kota kerajaan Sunda Galuh, disini sungguh nampak sangat ramai namun tetap sejuk karena lokasinya memang di daerah pegunungan (Bogor sekarang). Pusat kota itu dibentengi gunung-gunung besar di sebelah selatan yaitu gunung Gede, Gunung Pangrango dan Gunung Salak.
Setelah memasuki gerbang ibu kota aku dan Wingsang Geni langsung menuju istana untuk mengantarkan surat dari mendiang Putri Dyah Pitaloka dan mengabarkan apa yang telah terjadi tentang Perang Bubat kepada pihak istana.
Aku dan Wingsang langsung menghadap Prabu Bunisora adik ipar dari prabu Lingga Buana yang gugur dalam perang Bubat.
Karena Prabu Bunisora diberi amanat untuk memimpin kerajaan saat raja Lingga Buana beserta rombongan keluarga pergi ke Majapahit. Karena Pangeran Niskala Wastu Kencana, anak laki-laki prabu Lingga buana (adik Dyah Pitaloka) masih berumur 9 tahun belum layak diangkat menjadi raja. Kelak setelah umur 23 tahun pangeran Wastu Kencana diangkat menjadi raja menggantikan prabu Bunisora.
"Kurang ajar...!!!!
Pecundang sekali Gajah Mada ini..." lantang suara Bunisora, seketika amarahnya berapi-api. Wajahnya memerah marah, kedua telapaknya menggengam keras, tangannya bergetar hebat bagai api yang berkobar tak bisa dipadamkan.
"Pengawal, penggal kedua prajurit Majapahit ini...!!!" suaranya menggelagar sembari menunjuk ke arahku, seraya memberi perintah kepada pengawal kerajaan untuk membunuh kami.
Seketika aku kaget, orang yang sama sekali tak bersalah seperti kami harus dihukum pancung hanya karena kesalahan dari patih Gajah Mada.
Para pengawal kerajaan langsung datang memegangi kedua tangan kami, lalu menyeret kami keluar dari istana.
"Tidak...!!! Tidakkk...!!!
Ini tidak adil, seharusnya kalian menyambut kami dengan baik, karena kami mempertaruhkan nyawa kami untuk pembawa amanat dari putri raja kalian...!!!" aku terus berontak tak terima.
"Sena tenang...!!!" Wingsang menyuruhku untuk tenang.
Lalu aku melihat salah seorang resi (penasehat kerajaan) yang sudah sangat tua memberi nasehat pada Prabu Bunisora.
"Paduka, mendengar kabar ini siapapun akan marah dan tidak akan terima, tapi ketahuilah bahwa amarah itu harus sejalan dengan jalan pikiran, bagaimana pun juga, mereka orang kepercayaan dari putri Dyah Pitaloka, walaupun mereka orang Majapahit namum mereka telah mengorbankan waktu, tenaga bahkan siap mempertaruhkan nyawanya demi mengantarkan amanat dari putri Dyah Pitaloka...
Pertimbangkan lagi titahmu itu Bunisora..." ucap resi (penasehat kerajaan) kepada Prabu Bunisora penuh kebijakan.
"Baik, pengawal... penjarakan dia...!!!" suara Bunisora kembali menggegar memerintahkan pengawal untuk menyeret kami ke penjara.
"Tidaaakkk...!!!! Tidaakkkk...!!!
Ini tetap tidak adil, kalian seharusnya berterimakasih kepada kami... kami bukan penjahat, bukan seperti ini balasan kalian...!!!" Aku terus berontak.
****
Setelah kejadian itu suasana istana kembali tegang, kakacauan di istana sangat genting. Semua pasukan dikerahkan untuk waspada, berjaga-jaga andaikata Majapahit tiba-tiba menyerang.
Tak berapa lama Bunisora sebagai raja Sunda Galuh ke-23 mengeluarkan larangan bagi keluarga istana Sunda untuk menikah dengan laki-laki keluarga dari istana Majapahit. Hingga akhirnya larangan itu menyebar hingga diasumsikan larangan menikah antara orang Sunda dengan orang Jawa.
****
Sementara itu, aku dan Wingsang Geni masih dikurung dalam penjara, yang tak tahu entah sampai kapan hukuman ini selesai.
"Aku tetap tidak terima atas semua ini Wingsang, mereka sama sekali tak tau balas budi..." ucapku dendam sambil menahan emosi, bahkan air mataku tak kuasa menetes saking sakit hatinya aku pada raja Bunisora.
"Tenang Sena, kita sebagai prajurit harus siap mati kapanpun demi menjaga nama baik kerajaan. Percayalah kita pasti akan selamat..." ucap Wingsang menenangkan.
Saat aku sedang berbincang dengan Wingsang tiba-tiba ada seseorang yang datang mendekat ke ruang tahanan kami.
"Ini ada makanan untuk kalian...
Makanlah agar kesehatan kalian terjaga..." suara lembut itu seketika meredupkan api emosiku. Jiwa yang semula membara kini berubah sejuk bagai embun pagi.
"Terimakasih...
Maaf kamu siapa..." tanyaku pada gadis yang mengantar makanan ke dalam ruang tahananku.
"Namaku Dewi Maesadani Laraswati..." jawabnya lembut dengan senyum dibibirnya yang merekah.
"Namaku Jaka Sasena, biasa dipanggil Sena, ini sahabatku Wingsanggeni, dia biasa dipanggil Wingsang....
Oiya kenapa kamu mau berbuat baik kepadaku...???" akupun memperkenalkan diri dan membuka percakapan.
"Karena aku melihat kejadian di istana kemarin, aku yakin akang-akang ini orang baik karena itulah aku bersikap baik pada akang..." jawab gadis itu penuh lemah lembut khas orang Sunda.
Sejak saat itu Dewi Larasati sering berkunjung ke tahanan, membawa makanan, susu dan buah-buahan. Dilihat dari pakaiannya, Dewi Larasati bukan gadis biasa, dia terlihat anak dari keluarga kerajaan.
Entah takdir atau kebetulan, hari demi hari hubunganku dengan Larasati semakin dekat, ada kecocokan batin antara aku dan dirinya,
menjalani hidup di dalam penjara pun seakan bagai di taman bunga.
Hingga pada hari ke-15 aku dipenjara, datanglah penjaga tahanan menghampiri kami, kami diajak menghadap paduka prabu Bunisora.
"Baik atas pertimbangan jasa kalian yang telah mengantar amanat dari putri Dyah Pitaloka, maka dengan ini hukuman kalian akan aku cabut, dan kalian dibebaskan untuk kembali pulang ke negeri kalian. Kami juga akan memberi hadiah sejumlah uang dan emas sebagai ucapan terimakasih kami..." prabu Bunisora memberi titah untuk membebaskan kami pulang ke negeri kami.
Yaa, titah itu serasa angin surga yang menghembus ditengah gurun yang tandus. Bahkan wajah Wingsang pun kembali bersinar mendengar kabar itu.
Tapi bagiku Kabar gembira itu seakan menjadi kabar yang sangat buruk bagiku, karena bagiku lebih baik hidup di panjara tetapi merasa bahagia karena selalu bertemu dengan gadis pujaan hati dari pada harus bebas tetapi berpisah dengan Dewi Larasati.
Tapi titah raja tidak bisa diganggu gugat, kami harus hengkang secepatnya dari tanah Sunda. Dan itu tidak ada pilihan lain.
*****
Dan hari ini hari ke-3 setelah titah raja itu diucapkan, setelah semua keperluanku disiapkan baik kuda, bekal dan hadiah, kami harus segera bergegas meninggalkan istana serta segera angkat kaki dari tanah Sunda.
Namun saat aku harus meninggalkan gapura istana, tiba-tiba ada yang memanggilku.
"Akang Sena...!!!" ternyata Dewi Larasati memanggilku sembari berlari ke arahku.
Dan aku pun telah mendapatkan informasi bahwa Dewi Larasati adalah anak dari prabu Bunisora dari istri selirnya. Walaupun Larasati anak dari selir namun tetap saja mengharapkannya adalah suatu yang mustahil, apalagi aku orang biasa yang darahku masih berwarna merah, bukan darah biru keturunan raja-raja.
Ditambah adanya larangan bahwa orang Sunda tidak diperbolehkan menikah dengan orang Majapahit, hal itulah yang membuat aku berfikir seribu kali untuk mencintai Dewi Larasati.
"Tunggu akang..." Dewi Larasati terus berlari mendekat ke arahku.
Aku pun meloncat turun dari kuda menghampiri Dewi Larasati untuk terakhir kalinya.
"Laras, jaga dirimu, baik-baik di istana...
Aku yakin keberuntungan akan selalu berpihak padamu...
Ikhlaskan aku pergi, inilah yang terbaik untuk kita..." ucapku sembari mengusap pipi Larasati yang berdiri tepat di hadapanku, lalu aku mencium keningnya sebagai tanda perpisahan.
"Aku ingin ikut bersamamu akang..." pinta Larasati yang tidak rela melepas kepergianku.
"Itu tidak mungkin Laras, kita tidak mungkin bersama...
Darah yang ada di tubuhmu berwarna biru Laras, semantara darah yang mengalir di tubuhku ini darah yang berwarna merah, aku tidak layak untukmu Laras..." ucapku menjelaskan. Lalu aku memeluk tubuhnya erat.
"Sena..." Wingsang memberi kode saatnya kami harus pergi.
Akupun melepaskan pelukannya, lalu naik ke atas pelana kuda. Dan kami bersiap meneruskan perjalanan ini.
Aku melihat air mata Laras berlinang membasahi pipinya, seakan tak kuasa melepas kepergianku untuk kembali ke tanah leluhurku, Majapahit.
Namun, lagi-lagi perjalanan ini harus terus berjalan.
*****
Kuda yang aku tunggangi berlari semakin kencang, gapura istana makin jauh tak terlihat, namun bayangan wajah Larasati terus tergambar jelas di ingatanku, mencumbui rindu-rindu yang memainkan perasanku.
Ternyata cinta telah menguasai jiwaku.
Hari terus berganti, waktu terus berjalan, dan perjalanan ke arah timur harus tetap dilakukan.
Sesampainya di Caruban (Cirebon) dan hendak menyeberangi sungai besar batas wilayah Sunda Galuh, kegundahan hatiku makin meraja, aku seakan merasa tidak bisa hidup tanpa Larasati, aku benar-benar sedang dimabuk kepayang, bahkan untuk melangkah meninggalkan tanah Sunda pun aku tak bisa.
"Tunggu dulu Wingsang...!!!" ucapku pada Wingsang saat menaiki perahu yang hendak menyeberangkan kami ke sisi timur.
"Kenapa Sena, apa yang terjadi...???" tanya Wingsang heran.
"Aku tak sanggup meneruskan perjalanan ini Wingsang, aku ingin tinggal dan menetap disini, aku tidak bisa berpisah dengan Larasati..." ucapku pada Wingsang, curhat atas apa yang terjadi pada perasaanku.
"Itu tidak mungkin Sena...!!!
Prabu Bunisora akan marah besar jika tau anaknya menjalin kasih dengan orang sepertimu...
Ingat, kita sudah mendapatkan kebaikan dari beliau, kita dibebaskan dan diberi bekal seperti ini, sudah seharusnya berterimakasih, bukan malah melawan titahnya, apalagi menjalin hubungan dengan anaknya, itu sangat berbahaya Sena...!!!" Ucap Wingsang menjelaskan dengan nada tinggi.
"Kamu tidak akan mengerti perasaanku Wingsang...
Baik, pergilah kau sendiri ke Majapahit, biarkan aku tinggal disini menghadapi nara bahaya itu...
Aku sudah siap apapun resikonya, aku akan perjuangan cintaku ini..." jawabku menantang. Sementara Wingsang terperanjat heran mendengar kata-kataku.
Sesaat semua terdiam, membisu tak tau harus berkata apa-apa lagi. Bahkan aku melihat wajah Wingsang dipenuhi rasa kebimbangan.
"Pergilah sobat, Tugas kita sudah selesai...
Kini memang saatnya kita harus berpisah, aku sangat bangga telah mengenalmu...
Sampaikan salamku pada guru Mpu Sasora, katakan aku sangat merindukannya..." ucapku pertanda perpisahan.
Wingsang yang sedari tadi terdiam diatas perahu bersama kudanya, akhirnya memberi kode pada pemilik perahu untuk menjalankan perahunya menyeberangi sungai, tangannya melambai-lambaikan padaku seraya air matanya membasahi pipi.
"Wingsang, kau pendekar sejati, kau orang paling tangguh yang pernah aku kenal, air matamu terlalu berharga untuk ini...
Jangan cengeng Wingsang, kau harus tegar, baik-baik disana sobat..." ucapku berteriak sembari memandang perahu yang mengantar Wingsang semakin menjauh.
*****
Lagi-lagi aku harus melanjutkan petualanganku, kali ini bukan petualangan menjelajah daerah-daerah baru yang belum pernah aku jelajahi, namun petualangan menjelajahi hati seorang putri Raja, Dewi Larasati.
Walaupun penuh nara bahaya, sebagai petualang sejati aku harus bisa menghadapinya sendiri.
"Sekali lagi, perjalanan ini akan terus berjalan..."
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Ahmad Pajali Binzah
September 20, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaMemasuki batas wilayah negeri Pasundan. (inti cerita)
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Menembus hutan belantara Jawa bagian tengah memang sangat melelahkan, banyak aral yang melintang. Ancaman dari perampok, hewan buas dan tersesat di dalam hutan selalu mengintai. Namun dengan tekat yang bulat dan semangat yang kuat tak sedikitpun kami gentar menghadapi.
Akhirnya setelah berjalan menembus belantara yang pekat selama berhari-hari, sampailah kami di tugu perbatasan kekuasaan Majapahit, tugu itu nampak tak terawat, letaknya di tengah hutan belantara tepat sebelum kami menemui sungai besar batas wilayah Sunda Galuh.
Setelah menyeberangi sungai besar itu, tibalah kami di perkampungan yang cukup ramai.
"Maaf bu, kalau boleh tau ini kampung apa yaa...???
Sejak menyeberangi sungai Kaliwungu sana, baru kali ini aku menemukan perkampungan dengan hiruk pikuk keramaian pasarnya yang cukup ramai seperti ini...
Karena sepanjang perjalanan beberapa hari ini yang aku temui hanya hutan belantara, kalaupun ada kampung itu hanya perkampungan kecil yang penduduknya mengandalkan hasil berburu dari hutan, hampir tak kami temui pasar ataupun kegiatan perniagaan..." tanyaku pada ibu tua pedagang dipasar sambil memesan makanan sebagai bekal perjalanan.
"Ini daerah Caruban (Cirebon) nak... perkampungan diujung paling timur kekuasaan negeri Pasundan..." jawab ibu itu sembari membungkus makanan yang kami pesan.
Dan untuk asal-usul nama kota Cirebon ini, kelak di abad ke 16 disini akan menjadi pusat produksi terasi udang yang terkenal hingga ke ibu kota kerajaan dan air sisa produksi terasi tersebut banyak yang mengalir ke sungai-sungai yang pada akhirnya kota itu terkenal menjadi kota Cirebon yang artinya Ci = air, sementara Rebon = udang.
"Waahh, berarti ini sudah masuk wilayah kerajaan Sunda Galuh bu...???" Tanyaku makin sempringah.
"Iyaa Nak, ini sudah masuk wilayah Sunda Galuh... sungai itu sebagai batas wilayahnya..." jawab ibu itu sambil menunjuk ke arah sungai besar disisi timur.
"Jadi kalau mau ke pusat ibu kota kerajaan Sunda Galuh kira-kira masih jauh gak bu...???" tanyaku lagi.
"Kira-kira tujuh hari perjalanan berkuda nak, lanjutkan perjalanan kalian menuju barat, terus lurus saja mengikuti jalan ini hingga kalian menemui pelabuhan Kelapa, disitu kalian akan menemukan keramaian kota Sunda Kelapa, setelah itu pergilah ke arah selatan menelusuri jalan di pinggir sungai Ciliwung hingga sampai di daerah hulu. Disana lah letak ibu kota kerajaan Sunda Galuh nak..." jawab ibu pedagang makanan itu sembari menunjuk ke arah barat. Lalu memberikan makanan yang kami pesan.
"Berapa bu harganya...???" aku menanyakan harga makanan yanh saya beli.
"Satu kepeng aja nak..." jawab itu itu.
"Ini bu..." jawabku sembari memberikan satu keping uang logam.
Lalu perjalanan kami lanjutkan terus menuju ke arah barat, selama perjalanan hampir semua lahan sudah menjadi ladang pertanian, dan juga banyak perkampungan-perkampungan ramai disepanjang jalan menuju Sunda Kelapa, ini menandakan penyebaran penduduk di daerah Sunda sudah merata.
Jelas saja, karena wilayah Jawa bagian barat sudah mengenal sistem pemerintahan, tata kota, irigasi dan sistem pertanian yang sudah cukup lama, karena wilayah Pasundan adalah wilayah dimana kerajaan pertama di Pulau jawa berdiri. Yaitu kerajaan Salakanegara pada abad ke-3 Masehi, lalu diganti kerajaan Tarumanegara yang ibu kotanya berada di tepi sungai Citarum. Dan setelah itu kerajaan itu berkembang pesat dan terus melebarkan sayapnya, kalaupun kerajaan itu runtuh itu karena generasinya membuat kerajaan baru dan ibu kotanya tetap masih di wilayah Pasundan. Yang artinya wilayah Pasundan ini tidak pernah terjadi kekosongan kekuasaan sejak awal abad ke-3 masehi.
Berbeda dengan Jawa Tengah, yang sempat ada kerajaan seperti Kalingga dan Mataram Kuno, namun kerajaan itu runtuh dan pindah ke Kediri Jawa Timur dan pada akhirnya tanah Jawa Tengah terbengkalai tanpa perhatian pengasa.
Sedang Jawa Timur baru ada sistem kerajaan pada abad ke-12 masehi setelah kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur mendirikan Kerajaan Kediri.
Ini sebabnya wilayah di Pasundan cenderung lebih maju dan lebih merata penyebaran penduduknya, karena wilayah ini dibangun sejak berabad-abad lamanya.
****
Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan menyusuri tanah Pasundan, sampailah kami di pelabuhan Kelapa, pelabuhan yang sangat ramai dan penuh hilir mudik kapal-kapal besar dan kecil.
Lalu perjalanan diteruskan menuju pusat kota Sunda Kelapa, dan terus menuju selatan mengikuti aliran sungai Ciliwung menuju pusat ibu kota kerajaan Sunda Galuh.
Dan akhirnya setelah berjalan sekitar dua hari dari kota Sunda Kelapa sampailah kita di pusat kota kerajaan Sunda Galuh, disini sungguh nampak sangat ramai namun tetap sejuk karena lokasinya memang di daerah pegunungan (Bogor sekarang). Pusat kota itu dibentengi gunung-gunung besar di sebelah selatan yaitu gunung Gede, Gunung Pangrango dan Gunung Salak.
Setelah memasuki gerbang ibu kota aku dan Wingsang Geni langsung menuju istana untuk mengantarkan surat dari mendiang Putri Dyah Pitaloka dan mengabarkan apa yang telah terjadi tentang Perang Bubat kepada pihak istana.
Aku dan Wingsang langsung menghadap Prabu Bunisora adik ipar dari prabu Lingga Buana yang gugur dalam perang Bubat.
Karena Prabu Bunisora diberi amanat untuk memimpin kerajaan saat raja Lingga Buana beserta rombongan keluarga pergi ke Majapahit. Karena Pangeran Niskala Wastu Kencana, anak laki-laki prabu Lingga buana (adik Dyah Pitaloka) masih berumur 9 tahun belum layak diangkat menjadi raja. Kelak setelah umur 23 tahun pangeran Wastu Kencana diangkat menjadi raja menggantikan prabu Bunisora.
"Kurang ajar...!!!!
Pecundang sekali Gajah Mada ini..." lantang suara Bunisora, seketika amarahnya berapi-api. Wajahnya memerah marah, kedua telapaknya menggengam keras, tangannya bergetar hebat bagai api yang berkobar tak bisa dipadamkan.
"Pengawal, penggal kedua prajurit Majapahit ini...!!!" suaranya menggelagar sembari menunjuk ke arahku, seraya memberi perintah kepada pengawal kerajaan untuk membunuh kami.
Seketika aku kaget, orang yang sama sekali tak bersalah seperti kami harus dihukum pancung hanya karena kesalahan dari patih Gajah Mada.
Para pengawal kerajaan langsung datang memegangi kedua tangan kami, lalu menyeret kami keluar dari istana.
"Tidak...!!! Tidakkk...!!!
Ini tidak adil, seharusnya kalian menyambut kami dengan baik, karena kami mempertaruhkan nyawa kami untuk pembawa amanat dari putri raja kalian...!!!" aku terus berontak tak terima.
"Sena tenang...!!!" Wingsang menyuruhku untuk tenang.
Lalu aku melihat salah seorang resi (penasehat kerajaan) yang sudah sangat tua memberi nasehat pada Prabu Bunisora.
"Paduka, mendengar kabar ini siapapun akan marah dan tidak akan terima, tapi ketahuilah bahwa amarah itu harus sejalan dengan jalan pikiran, bagaimana pun juga, mereka orang kepercayaan dari putri Dyah Pitaloka, walaupun mereka orang Majapahit namum mereka telah mengorbankan waktu, tenaga bahkan siap mempertaruhkan nyawanya demi mengantarkan amanat dari putri Dyah Pitaloka...
Pertimbangkan lagi titahmu itu Bunisora..." ucap resi (penasehat kerajaan) kepada Prabu Bunisora penuh kebijakan.
"Baik, pengawal... penjarakan dia...!!!" suara Bunisora kembali menggegar memerintahkan pengawal untuk menyeret kami ke penjara.
"Tidaaakkk...!!!! Tidaakkkk...!!!
Ini tetap tidak adil, kalian seharusnya berterimakasih kepada kami... kami bukan penjahat, bukan seperti ini balasan kalian...!!!" Aku terus berontak.
****
Setelah kejadian itu suasana istana kembali tegang, kakacauan di istana sangat genting. Semua pasukan dikerahkan untuk waspada, berjaga-jaga andaikata Majapahit tiba-tiba menyerang.
Tak berapa lama Bunisora sebagai raja Sunda Galuh ke-23 mengeluarkan larangan bagi keluarga istana Sunda untuk menikah dengan laki-laki keluarga dari istana Majapahit. Hingga akhirnya larangan itu menyebar hingga diasumsikan larangan menikah antara orang Sunda dengan orang Jawa.
****
Sementara itu, aku dan Wingsang Geni masih dikurung dalam penjara, yang tak tahu entah sampai kapan hukuman ini selesai.
"Aku tetap tidak terima atas semua ini Wingsang, mereka sama sekali tak tau balas budi..." ucapku dendam sambil menahan emosi, bahkan air mataku tak kuasa menetes saking sakit hatinya aku pada raja Bunisora.
"Tenang Sena, kita sebagai prajurit harus siap mati kapanpun demi menjaga nama baik kerajaan. Percayalah kita pasti akan selamat..." ucap Wingsang menenangkan.
Saat aku sedang berbincang dengan Wingsang tiba-tiba ada seseorang yang datang mendekat ke ruang tahanan kami.
"Ini ada makanan untuk kalian...
Makanlah agar kesehatan kalian terjaga..." suara lembut itu seketika meredupkan api emosiku. Jiwa yang semula membara kini berubah sejuk bagai embun pagi.
"Terimakasih...
Maaf kamu siapa..." tanyaku pada gadis yang mengantar makanan ke dalam ruang tahananku.
"Namaku Dewi Maesadani Laraswati..." jawabnya lembut dengan senyum dibibirnya yang merekah.
"Namaku Jaka Sasena, biasa dipanggil Sena, ini sahabatku Wingsanggeni, dia biasa dipanggil Wingsang....
Oiya kenapa kamu mau berbuat baik kepadaku...???" akupun memperkenalkan diri dan membuka percakapan.
"Karena aku melihat kejadian di istana kemarin, aku yakin akang-akang ini orang baik karena itulah aku bersikap baik pada akang..." jawab gadis itu penuh lemah lembut khas orang Sunda.
Sejak saat itu Dewi Larasati sering berkunjung ke tahanan, membawa makanan, susu dan buah-buahan. Dilihat dari pakaiannya, Dewi Larasati bukan gadis biasa, dia terlihat anak dari keluarga kerajaan.
Entah takdir atau kebetulan, hari demi hari hubunganku dengan Larasati semakin dekat, ada kecocokan batin antara aku dan dirinya,
menjalani hidup di dalam penjara pun seakan bagai di taman bunga.
Hingga pada hari ke-15 aku dipenjara, datanglah penjaga tahanan menghampiri kami, kami diajak menghadap paduka prabu Bunisora.
"Baik atas pertimbangan jasa kalian yang telah mengantar amanat dari putri Dyah Pitaloka, maka dengan ini hukuman kalian akan aku cabut, dan kalian dibebaskan untuk kembali pulang ke negeri kalian. Kami juga akan memberi hadiah sejumlah uang dan emas sebagai ucapan terimakasih kami..." prabu Bunisora memberi titah untuk membebaskan kami pulang ke negeri kami.
Yaa, titah itu serasa angin surga yang menghembus ditengah gurun yang tandus. Bahkan wajah Wingsang pun kembali bersinar mendengar kabar itu.
Tapi bagiku Kabar gembira itu seakan menjadi kabar yang sangat buruk bagiku, karena bagiku lebih baik hidup di panjara tetapi merasa bahagia karena selalu bertemu dengan gadis pujaan hati dari pada harus bebas tetapi berpisah dengan Dewi Larasati.
Tapi titah raja tidak bisa diganggu gugat, kami harus hengkang secepatnya dari tanah Sunda. Dan itu tidak ada pilihan lain.
*****
Dan hari ini hari ke-3 setelah titah raja itu diucapkan, setelah semua keperluanku disiapkan baik kuda, bekal dan hadiah, kami harus segera bergegas meninggalkan istana serta segera angkat kaki dari tanah Sunda.
Namun saat aku harus meninggalkan gapura istana, tiba-tiba ada yang memanggilku.
"Akang Sena...!!!" ternyata Dewi Larasati memanggilku sembari berlari ke arahku.
Dan aku pun telah mendapatkan informasi bahwa Dewi Larasati adalah anak dari prabu Bunisora dari istri selirnya. Walaupun Larasati anak dari selir namun tetap saja mengharapkannya adalah suatu yang mustahil, apalagi aku orang biasa yang darahku masih berwarna merah, bukan darah biru keturunan raja-raja.
Ditambah adanya larangan bahwa orang Sunda tidak diperbolehkan menikah dengan orang Majapahit, hal itulah yang membuat aku berfikir seribu kali untuk mencintai Dewi Larasati.
"Tunggu akang..." Dewi Larasati terus berlari mendekat ke arahku.
Aku pun meloncat turun dari kuda menghampiri Dewi Larasati untuk terakhir kalinya.
"Laras, jaga dirimu, baik-baik di istana...
Aku yakin keberuntungan akan selalu berpihak padamu...
Ikhlaskan aku pergi, inilah yang terbaik untuk kita..." ucapku sembari mengusap pipi Larasati yang berdiri tepat di hadapanku, lalu aku mencium keningnya sebagai tanda perpisahan.
"Aku ingin ikut bersamamu akang..." pinta Larasati yang tidak rela melepas kepergianku.
"Itu tidak mungkin Laras, kita tidak mungkin bersama...
Darah yang ada di tubuhmu berwarna biru Laras, semantara darah yang mengalir di tubuhku ini darah yang berwarna merah, aku tidak layak untukmu Laras..." ucapku menjelaskan. Lalu aku memeluk tubuhnya erat.
"Sena..." Wingsang memberi kode saatnya kami harus pergi.
Akupun melepaskan pelukannya, lalu naik ke atas pelana kuda. Dan kami bersiap meneruskan perjalanan ini.
Aku melihat air mata Laras berlinang membasahi pipinya, seakan tak kuasa melepas kepergianku untuk kembali ke tanah leluhurku, Majapahit.
Namun, lagi-lagi perjalanan ini harus terus berjalan.
*****
Kuda yang aku tunggangi berlari semakin kencang, gapura istana makin jauh tak terlihat, namun bayangan wajah Larasati terus tergambar jelas di ingatanku, mencumbui rindu-rindu yang memainkan perasanku.
Ternyata cinta telah menguasai jiwaku.
Hari terus berganti, waktu terus berjalan, dan perjalanan ke arah timur harus tetap dilakukan.
Sesampainya di Caruban (Cirebon) dan hendak menyeberangi sungai besar batas wilayah Sunda Galuh, kegundahan hatiku makin meraja, aku seakan merasa tidak bisa hidup tanpa Larasati, aku benar-benar sedang dimabuk kepayang, bahkan untuk melangkah meninggalkan tanah Sunda pun aku tak bisa.
"Tunggu dulu Wingsang...!!!" ucapku pada Wingsang saat menaiki perahu yang hendak menyeberangkan kami ke sisi timur.
"Kenapa Sena, apa yang terjadi...???" tanya Wingsang heran.
"Aku tak sanggup meneruskan perjalanan ini Wingsang, aku ingin tinggal dan menetap disini, aku tidak bisa berpisah dengan Larasati..." ucapku pada Wingsang, curhat atas apa yang terjadi pada perasaanku.
"Itu tidak mungkin Sena...!!!
Prabu Bunisora akan marah besar jika tau anaknya menjalin kasih dengan orang sepertimu...
Ingat, kita sudah mendapatkan kebaikan dari beliau, kita dibebaskan dan diberi bekal seperti ini, sudah seharusnya berterimakasih, bukan malah melawan titahnya, apalagi menjalin hubungan dengan anaknya, itu sangat berbahaya Sena...!!!" Ucap Wingsang menjelaskan dengan nada tinggi.
"Kamu tidak akan mengerti perasaanku Wingsang...
Baik, pergilah kau sendiri ke Majapahit, biarkan aku tinggal disini menghadapi nara bahaya itu...
Aku sudah siap apapun resikonya, aku akan perjuangan cintaku ini..." jawabku menantang. Sementara Wingsang terperanjat heran mendengar kata-kataku.
Sesaat semua terdiam, membisu tak tau harus berkata apa-apa lagi. Bahkan aku melihat wajah Wingsang dipenuhi rasa kebimbangan.
"Pergilah sobat, Tugas kita sudah selesai...
Kini memang saatnya kita harus berpisah, aku sangat bangga telah mengenalmu...
Sampaikan salamku pada guru Mpu Sasora, katakan aku sangat merindukannya..." ucapku pertanda perpisahan.
Wingsang yang sedari tadi terdiam diatas perahu bersama kudanya, akhirnya memberi kode pada pemilik perahu untuk menjalankan perahunya menyeberangi sungai, tangannya melambai-lambaikan padaku seraya air matanya membasahi pipi.
"Wingsang, kau pendekar sejati, kau orang paling tangguh yang pernah aku kenal, air matamu terlalu berharga untuk ini...
Jangan cengeng Wingsang, kau harus tegar, baik-baik disana sobat..." ucapku berteriak sembari memandang perahu yang mengantar Wingsang semakin menjauh.
*****
Lagi-lagi aku harus melanjutkan petualanganku, kali ini bukan petualangan menjelajah daerah-daerah baru yang belum pernah aku jelajahi, namun petualangan menjelajahi hati seorang putri Raja, Dewi Larasati.
Walaupun penuh nara bahaya, sebagai petualang sejati aku harus bisa menghadapinya sendiri.
"Sekali lagi, perjalanan ini akan terus berjalan..."
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Episode (7/10)
Sejarah kota Semarang dan Pekalongan.
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Hari terus berganti, minggu terus berlalu dan bulan terus berjalan. Lelah dan jenuh yang terus menerpa namun semangat terus menyelimuti jiwaku untuk terus meneruskan perjalanan besar ini.
Dari Demak perjalanan terus menuju barat melewati jalan rawa, bukit, gunung, lembahan dan tepi-tepi pantai hingga kami sampai di daerah pelabuhan yang bernama Pragota (Semarang), kota paling barat dari kekuasaan Majapahit.
Perjalanan terus berlanjut hingga kami sampai di tepi sungai Kaliwungu.
"Hendak kemana nak...???" tanya kakek tua yang kepalanya menggenakan topi capeng yang terbuat anyaman bambu.
"Aku hendak menyeberangi sungai ini kek...??? Aku ingin meneruskan perjalanan ke arah barat sana Kek..." jawab wingsang dengan nada pelan.
"Sebaiknya urungkan saja niat kalian nak, terlalu berbahaya...!!!" jawab kakek itu dengan nada misterius.
"Kalo boleh tau, ada apa di daerah sana kek...???" Tanyaku penasaran.
"Menyeberangi sungai ini artinya keluar dari daerah cakupan Majapahit, disana masuk hutan larangan, Alas Roban dan hutan belantara lainnya...
Disana termasuk tanah yang tak bertuan, jarang dihuni orang, jarang ada perkampungan penduduk, jalan menuju ke sana juga sangat rusak dan berbahaya, disana banyak hewan buas, perampok dan disanalah tempatnya para penjahat yang bersembunyi..." jelas kakek itu seakan melarang kami untuk menembus daerah seberang sana.
"Nampaknya seram sekali kek...???" tanyaku agak merinding.
"Yaa, karena daerah sana terlalu jauh dari jangkauan kerajaan Majapahit, juga terlalu jauh dari jangkauan kerajaan pasundan. Sehingga daerah itu terbelengkalai dan tak bertuan...
Selepas menyeberangi sungai ini kalian tidak akan menemukan kota lagi sampai kalian menemui sungai besar di daerah Cirebon nan jauh disana...
Sebaiknya urungkan niat kalian, karena hanya rombongan kerajaan atau rombongan saudagar yang berani melewati jalur itu, karena mereka mempunyai pengawalanan ketat banyak prajurit...
Kalau kalian mau, tunggulah sampai ada rombongan yang lewat biar bisa barengan karena itu lebih aman..." ucap kakek itu dengan nada khas orang tua yang memberi petuah.
"Aaahh aku tidak peduli kek, ini perjalanan penting yang gak bisa ditunda-tunda lagi...
Aku sudah terbiasa menghadapi bahaya..." ucap Wingsang dengan penuh keberanian.
"Iya kek, ini perjalanan yang gak mungkin kami tunda, apapun resikonya, akan kami hadapi kek..." jawabku mengiyakan ucapan Wingsang.
"Baiklah kalau begitu, jika niat kalian sudah bulat, berangkatlah segera, kakek akan selalu berdo'a untuk keselamatan kalian...
Mari aku antar menyeberangi sungai ini dengan perahu kakek ini..." ucap kakek itu sembari membantu kami menyeberangi sungai Kaliwungu.
"Terimakasih banyak kek..." ucapku sambil naik keatas perahu milik kakek itu.
"Maaf kek, kalau boleh tau kenapa pelabuhan disini sepi dari kapal-kapal besar...???
Padahal jika diperhatikan sepertinya daerah itu bekas pelabuhan besar...???" tanyaku pada kakek sembari mendayung perahu.
"Dahulu kala saat kerajaan Mataram kuno masih berjaya, daerah Pragota ini adalah pintu gerbang pelabuhan utamanya, dari sinilah pintu perdagangan itu dibuka...
Namun setelah Mataram Kuno mengalami kehancuran dan kerajaan-kerajaan berikutnya seperti Kediri, Singosari dan yang sekarang masih berjaya yaitu Majapahit, yang kesemuanya pusat kotanya berada di Jawa bagian timur sana, sehingga daerah ini terbelangkalai, karena ini merupakan daerah paling barat dari Majapahit..." kakek pemilik perahu mencoba menjelaskan sejarah daerahnya.
"Ooo, pantas saja aku masih merasakan bekas-bekas era kejayaannya..." sahutku sembari memanggutkan kepala.
"Tapi percayalah, kelak daerah ini akan kembali menjadi kota yang sangat ramai yang kelak akan diberi nama Semarang..." kakek itu mencoba meramal. Sepertinya beliau tau tentang kota Semarang dan seakan berasal dari dimensi masa depan.
"Tapi bagaimana asal-usul nama Semarang itu kek...???" tanyaku lagi makin penasaran.
"Kelak suatu hari (abad 15 M), ada seorang pangeran dari Demak yang menyebarkan Islam ke daerah Pragota, bernama pangeran Made Pandan. Dari waktu ke waktu daerah tersebut makin subur dengan banyaknya pepohonan dan rerumputan yang tumbuh lebat, dari sela-sela kesuburan tanaman itu munculah pohon asam arang (jarang) karena pohon asam itu tumbuhnya jarang-jarang tidak sesubur pohon lainnya, sehingga kemudian disebut Semarang...
Yang kemudian hari pangeran Made Pandan diberi gelar Ki Agung Pandan Arang sebagai pendiri kota Semarang..."kakek itu mencoba menjelaskan asal usul kota Semarang.
Tak terasa kami sampai diseberang sungai sebelah barat, benar saja disini jalan setapak pun sudah tidak terlihat karena tertutup semak dan lebatnya hutan, ini menandalan jalan ini memang jarang dilewati.
Hutan belantara yang didominasi pohon jati yang sangat luas mengiringi perjalanan kami. Mungkin inilah yang disebut alas roban. Hutan dengan pohon jati yang hanya bisa tumbuh di tanah Jawa yang terkenal akan kayunya yang sangat kuat dan keras.
Saat kuda kami berjalan menyusuri jalan menembus lebatnya hutan, tiba-tiba ada beberapa orang menghadang perjalanan kami.
"Berhenti...!!!!!" ucap salah seorang dihadapan kami dengan memakai pakaian serba hitam.
Seketika suasana sangat tegang, suasana hutan yang gelap makin menambah aroma ketegangan di denyut nadi kami. Apalagi mereka sudah siap melepas pedang dari sarungnya.
Nampak watak Wingsang berubah lebih beringas dan tangannya menggenggam pedang di pinggangnya untuk segera dicabut.
"Tunggu Wingsang..." bisikku lirih sambil memberi kode untuk bersabar.
"Heeyy kalian, serahkan harta benda kalian, jika kalian ingin selamat...!!!" gertak para perampok yang jumlahnya sekitar 6 orang.
"Silahkan ambil kalau bisa...!!!" gertak Wingsang dengan nada berani.
Wingsang yang seorang prajurit dan juga murid andalan mpu Sasora memang tidak pernah gentar menghadapi nara bahaya. Sudah menjadi bagian hidupnya menghadapi masalah yang mengancam nyawanya.
Tiba-tiba keos tidak dapat dihindarkan.
"Hiaaattt....!!!!" Wingsang langsung loncat seakan terbang membumbung tinggi. Sambil mencabut pedangnya lalu menghujamkan pada mereka.
Peperangan sengit terjadi begitu serunya, detak jantungku berdebar begitu kencang saat melihat Wingsang bertarung melawan enam orang dengan ilmu kanoragannya yang begitu tinggi membuat enam perampok itu kewalahan.
Aku masih tetap duduk diatas kuda, ingin membantu Wingsang tapi dengan cara apa aku menolongnya. Aku hanya bisa gugup tak tau harus berbuat apa.
Melihat ada kesempat aku langsung meloncat sembari menghujamkan pedangku ke punggung salah satu dari mereka.
"Hiaaattt....!!!!" teriakku sambil menghujamkan keris. Seketika musuh terkapar jatuh ke tanah dengan bersimbah darah.
Melihat musuhnya berkurang Wingsang makin semangat melakukan perlawanan, hingga satu demi satu mereka tersungkur kalah.
Dan hanya tersisa tiga dari mereka yang akhirnya lari kocar-kacir meninggalkan kawan-kawannya yang sudah tersungkur tak berdaya.
Pertarungan sengit pun berakhir dan kami kembali meneruskan perjalanan ini.
****
Sembari berjalan hatiku berkata-kata:
Benar kata kakek tadi, sepanjang perjalanan aku tidak pernah menemui perkampungan bahkan seorang yang lewat pun tak ada.
Mungkin inilah mitos keangkeran Alas Roban, bahkan jalan disini sudah hampir tertutup semak belukar karena saking jarangnya dilewati orang.
Berarti kota kendal, Weleri, Batang dan seterusnya sampai di kota Cirebon, pada jaman ini memang masih berbentuk hutan belukar. Karena letaknya memang jauh dari kota kerajaan Majapahit maupun kerajaan Sunda Galuh.
Kalaupun ada perkampungan, itu pasti sekelompok orang yang hidup tidak menetap dan berpindah-pindan dengan mengandalkan berburu sebagai sumber makanannya. Karena sepanjang perjalanan kami tak pernah menemukan bekas-bekas ladang pertanian.
Hingga sampailah kami di sebuah Pantai dengan tebing yang khas yang sudah tak asing lagi bagiku.
"Sepertinya aku kenal pantai ini...???" ucapku lirih sembari mengamati tebing pantai yang menjorok ke laut.
"Maksudmu apa Sena...???" tanya Wingsang penasaran.
"Yaa, tak salah lagii, ini pantai Ujung Negoro, Batang..." jawabku antusias dengan menganggut-anggutkan kepala.
"Berarti tak lama lagi kita akan sampai di kota kelahiranku sobat...
Sebentar lagi kita akan sampai di Pekalongan...
Ayoo kita bergegas kesana, aku sudah tidak sabar lagi pulang ke kampung halamanku..." ajakku dengan semangatnya sambil memacu kuda lebih kencang.
"Baik kalau begitu, ayoo...
Hiaaa, hiaaa, hiaaa..." Wingsang juga memacu kudanya lebih kencang.
****
Tapi sayangnya setelah berjalan begitu lamanya aku tak menemukan sedikitpun tanda-tanda sebuah kota keramaian, semua masih berupa hutan belantara.
"Bagaimana ini...???
Seharusnya kita sekarang sudah berada di kota Pekalongan, tapi kenapa yang kita temui hanya hutan seperti ini...???" ucapku aga panik dengan menangak-nengok kearah sekitar.
"Apa yang terjadi ini...
Aku benar-benar ingin pulang, aku sudah lelah... aku sudah jenuh akan semua ini..." aku berteriak sekencang-kencangnya sembari merobohkan lututku ke tanah.
"Sadar Sena, sadarr...!!!!
Bukankah saat ini kita hidup jauh dimasa dimana kamu hidup, kita hidup dijaman kerajaan Majapahit Sena, kita hidup jauh dari peradapan modern, buktinya kota Pekalongan yang sering kau ceritakan yang katanya sangat ramai itu, saat ini masih berbentuk hutan belantara... sadar Sena, jalani hidup kita, jalanai takdir kita saat ini...
Aku yakin apapun yang terjadi nanti itu pasti yang terbaik..." Wingsang mencoba menjelaskan keadaan yang sedang aku alami.
Tiba-tiba terdengan suara yang menggema:
"Benar Sena, aku yang menarikmu masuk ke dimensi ini bukan tanpa alasan, jalani hidupmu Sena, kakek akan selalu menuntunmu..." suara yang menggema yang tak asing lagi bagiku.
Yaa, itu suara kakek mpu Sasora, guruku sendiri, aku yakin beliau selalu menuntunku dalam perjalanan ini.
"Baik, bangkitlah Sena... mari teruskan perjalanan kita ini..." ucap Wingsang sembari mengangkat pundakku.
"Jika ini memang tanah kelahiranku, baik akan aku tancapkan keris pemberian mpu Sasora ini di watu Ireng di sebelah selatan sana, dan kelak jika aku kembali ke dimensi pada jamanku, akan ambil lagi sebagai bukti bahwa semua ini benar-benar terjadi dalam hidupku ini..." ucapku dengan penuh keyakinan.
Akhirnya aku dan sahabatku Wingsang Geni kembali meneruskan perjalanan dan menuju Watu Ireng di kecamatan Lebak Barang.
Namun ditengah-tengah perjalanan kami menemukan suatu perkampungan kecil yang sederhana, kami segera melambatkan langkah kuda kami sambil memastikan ada orang di kampung ini.
"Datanglah kesini hai cucuku..." ucap seorang kakek tua agak kurus dengan berpakaian serba putih yang tiba-tiba menghampiri aku.
Akupun langsung turun dari kuda dan mendekat ke arahnya.
"Kakek ini siapa...???" tanyaku penuh tanda tanya.
"Hahahaa... jangan takut cucuku, akulah nenek moyangmu, darah yang mengalir ditubuhmu adalah bagian dari darahku..." jawab kakek itu sembari membuka kedua tagannya lalu memelukku.
"Aku yakin kau adalah garis keturunan dariku, aroma tubuhmu sama dengan aroma tubuhku...
Aku tahu, kau datang dari masa depan, dan mpu Sasora ingin mempertemukan aku dengan garis keturunanku dari masa depan...
Inilah makna dari perjalananmu ini nak..." jelas kakek penuh kelembutan sembari terus memelukku.
Dan akupun tak mampu menahan tangis, aku memeluknya erat seperti merasakan memeluk kakekku sendiri. Berada disini seperti berada di kampungku sendiri.
Kampung inilah yang akan menjadi cikal bakal dari kota kelahiranmu nak...
Kelak jika Majapahit telah runtuh pusat kerajaan akan bergeser ke Jawa Tengah, mulai dari kerajaan Demak, Pajang, Mataram semua akan berpusat di Jawa Tengah...
Hal itulah yang akan menjadikan daerah-daerah di timur sungai Kaliwungu yang semula sepi menjadi lebih ramai dengan banyaknya pendatang yang bermukim disini.
"Lalu bagaimana dengan sejarah kota Pekalongan kek...???" tanyaku penasaran.
"Walau saat ini masih sepi, kelak akan ada kerajaan Islam yang bernama Mataram yang pusat ibu kotanya tak jauh dari sini (Jogjakarta). Dan otomatis daerah ini lambat laun akan lebih terurus dan lebih ramai.
Kelak negeri kita akan terjajah oleh bangsa asing, dan karena itulah Sultan Agung Mataram memerintahkan ki Bau Rekso untuk melakukan perlawanan ke Batavia melawan VOC. Namun dalam perperangan itu ki Bau Rekso mengalami kekalahan.
Karena malu dan merasa gagal dalam tugas, Ki Bau Rekso memilih enggan kembali ke Mataram. Dan lebih memilih bertapa NGALONG di sekitar daerah sini, untuk menyusun kekuatan kembali guna melawan VOC lagi. dan karena bertapa NGALONG itulah (siang bersembunyi malam menyusun kekuatan) kelak nama daerah ini diberi nama Pekalongan.
Sedangkan munculnya nama Pekalongan menurut versi abad XVII adalah di masa Sultan Agung saat Ki Bau Rekso gugur saat melawan melawan VOC yang ke dua di Batavia pada tanggal 21 September 1628.
Begitulah kurang lebihnya sejarah Pekalongan nak..." ucap kakek menjelaskan panjang lebar.
"Terimakasih kek atas penjelasannya yang sangat berarti ini, yang membuat aku makin bangga Kepada tanah kelahiranku sendiri..." jawabku sembari mencium tangan kakek. Lalu aku bergegas berdiri.
"Mau kemana lagi nak...???" tanya kakek.
"Aku ingin ke Watu Ireng kek, aku ingin menancapkan keris ini disana sebagai bukti jika kelak aku telah kembali ke dimensiku, keris ini akan menjadi bukti dari perjalananku saat ini yang benar-benar nyata..." ucapku menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, hati-hatilah dijalan..." ucap kakek memberi do'a.
Setelah pamit aku kembali meneruskan perjalanan untuk ke Watu Ireng, yaitu suatu bukit batu yang yang berwarna hitam yang terletak di selatan Pekalongan. Setelah sampai langsung aku tancapkan keris pemeberian mpu Sasora ini kedalam retakan batu hingga menancap tak terlihat.
Lalu aku langsung bergegas meneruskan perjalananku kembali, perjalanan panjang menuju kerajaan Sunda Galuh.
Dan lagi-lagi aku dapatkan satu pembelajaran dalam hidupku tentang sejarah kota kelahiranku.
Sekali lagi, perjalanan ini akan terus berjalan...
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya silahkan KLIK DISINI
Ahmad Pajali Binzah
September 18, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaSejarah kota Semarang dan Pekalongan.
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Hari terus berganti, minggu terus berlalu dan bulan terus berjalan. Lelah dan jenuh yang terus menerpa namun semangat terus menyelimuti jiwaku untuk terus meneruskan perjalanan besar ini.
Dari Demak perjalanan terus menuju barat melewati jalan rawa, bukit, gunung, lembahan dan tepi-tepi pantai hingga kami sampai di daerah pelabuhan yang bernama Pragota (Semarang), kota paling barat dari kekuasaan Majapahit.
Perjalanan terus berlanjut hingga kami sampai di tepi sungai Kaliwungu.
"Hendak kemana nak...???" tanya kakek tua yang kepalanya menggenakan topi capeng yang terbuat anyaman bambu.
"Aku hendak menyeberangi sungai ini kek...??? Aku ingin meneruskan perjalanan ke arah barat sana Kek..." jawab wingsang dengan nada pelan.
"Sebaiknya urungkan saja niat kalian nak, terlalu berbahaya...!!!" jawab kakek itu dengan nada misterius.
"Kalo boleh tau, ada apa di daerah sana kek...???" Tanyaku penasaran.
"Menyeberangi sungai ini artinya keluar dari daerah cakupan Majapahit, disana masuk hutan larangan, Alas Roban dan hutan belantara lainnya...
Disana termasuk tanah yang tak bertuan, jarang dihuni orang, jarang ada perkampungan penduduk, jalan menuju ke sana juga sangat rusak dan berbahaya, disana banyak hewan buas, perampok dan disanalah tempatnya para penjahat yang bersembunyi..." jelas kakek itu seakan melarang kami untuk menembus daerah seberang sana.
"Nampaknya seram sekali kek...???" tanyaku agak merinding.
"Yaa, karena daerah sana terlalu jauh dari jangkauan kerajaan Majapahit, juga terlalu jauh dari jangkauan kerajaan pasundan. Sehingga daerah itu terbelengkalai dan tak bertuan...
Selepas menyeberangi sungai ini kalian tidak akan menemukan kota lagi sampai kalian menemui sungai besar di daerah Cirebon nan jauh disana...
Sebaiknya urungkan niat kalian, karena hanya rombongan kerajaan atau rombongan saudagar yang berani melewati jalur itu, karena mereka mempunyai pengawalanan ketat banyak prajurit...
Kalau kalian mau, tunggulah sampai ada rombongan yang lewat biar bisa barengan karena itu lebih aman..." ucap kakek itu dengan nada khas orang tua yang memberi petuah.
"Aaahh aku tidak peduli kek, ini perjalanan penting yang gak bisa ditunda-tunda lagi...
Aku sudah terbiasa menghadapi bahaya..." ucap Wingsang dengan penuh keberanian.
"Iya kek, ini perjalanan yang gak mungkin kami tunda, apapun resikonya, akan kami hadapi kek..." jawabku mengiyakan ucapan Wingsang.
"Baiklah kalau begitu, jika niat kalian sudah bulat, berangkatlah segera, kakek akan selalu berdo'a untuk keselamatan kalian...
Mari aku antar menyeberangi sungai ini dengan perahu kakek ini..." ucap kakek itu sembari membantu kami menyeberangi sungai Kaliwungu.
"Terimakasih banyak kek..." ucapku sambil naik keatas perahu milik kakek itu.
"Maaf kek, kalau boleh tau kenapa pelabuhan disini sepi dari kapal-kapal besar...???
Padahal jika diperhatikan sepertinya daerah itu bekas pelabuhan besar...???" tanyaku pada kakek sembari mendayung perahu.
"Dahulu kala saat kerajaan Mataram kuno masih berjaya, daerah Pragota ini adalah pintu gerbang pelabuhan utamanya, dari sinilah pintu perdagangan itu dibuka...
Namun setelah Mataram Kuno mengalami kehancuran dan kerajaan-kerajaan berikutnya seperti Kediri, Singosari dan yang sekarang masih berjaya yaitu Majapahit, yang kesemuanya pusat kotanya berada di Jawa bagian timur sana, sehingga daerah ini terbelangkalai, karena ini merupakan daerah paling barat dari Majapahit..." kakek pemilik perahu mencoba menjelaskan sejarah daerahnya.
"Ooo, pantas saja aku masih merasakan bekas-bekas era kejayaannya..." sahutku sembari memanggutkan kepala.
"Tapi percayalah, kelak daerah ini akan kembali menjadi kota yang sangat ramai yang kelak akan diberi nama Semarang..." kakek itu mencoba meramal. Sepertinya beliau tau tentang kota Semarang dan seakan berasal dari dimensi masa depan.
"Tapi bagaimana asal-usul nama Semarang itu kek...???" tanyaku lagi makin penasaran.
"Kelak suatu hari (abad 15 M), ada seorang pangeran dari Demak yang menyebarkan Islam ke daerah Pragota, bernama pangeran Made Pandan. Dari waktu ke waktu daerah tersebut makin subur dengan banyaknya pepohonan dan rerumputan yang tumbuh lebat, dari sela-sela kesuburan tanaman itu munculah pohon asam arang (jarang) karena pohon asam itu tumbuhnya jarang-jarang tidak sesubur pohon lainnya, sehingga kemudian disebut Semarang...
Yang kemudian hari pangeran Made Pandan diberi gelar Ki Agung Pandan Arang sebagai pendiri kota Semarang..."kakek itu mencoba menjelaskan asal usul kota Semarang.
Tak terasa kami sampai diseberang sungai sebelah barat, benar saja disini jalan setapak pun sudah tidak terlihat karena tertutup semak dan lebatnya hutan, ini menandalan jalan ini memang jarang dilewati.
Hutan belantara yang didominasi pohon jati yang sangat luas mengiringi perjalanan kami. Mungkin inilah yang disebut alas roban. Hutan dengan pohon jati yang hanya bisa tumbuh di tanah Jawa yang terkenal akan kayunya yang sangat kuat dan keras.
Saat kuda kami berjalan menyusuri jalan menembus lebatnya hutan, tiba-tiba ada beberapa orang menghadang perjalanan kami.
"Berhenti...!!!!!" ucap salah seorang dihadapan kami dengan memakai pakaian serba hitam.
Seketika suasana sangat tegang, suasana hutan yang gelap makin menambah aroma ketegangan di denyut nadi kami. Apalagi mereka sudah siap melepas pedang dari sarungnya.
Nampak watak Wingsang berubah lebih beringas dan tangannya menggenggam pedang di pinggangnya untuk segera dicabut.
"Tunggu Wingsang..." bisikku lirih sambil memberi kode untuk bersabar.
"Heeyy kalian, serahkan harta benda kalian, jika kalian ingin selamat...!!!" gertak para perampok yang jumlahnya sekitar 6 orang.
"Silahkan ambil kalau bisa...!!!" gertak Wingsang dengan nada berani.
Wingsang yang seorang prajurit dan juga murid andalan mpu Sasora memang tidak pernah gentar menghadapi nara bahaya. Sudah menjadi bagian hidupnya menghadapi masalah yang mengancam nyawanya.
Tiba-tiba keos tidak dapat dihindarkan.
"Hiaaattt....!!!!" Wingsang langsung loncat seakan terbang membumbung tinggi. Sambil mencabut pedangnya lalu menghujamkan pada mereka.
Peperangan sengit terjadi begitu serunya, detak jantungku berdebar begitu kencang saat melihat Wingsang bertarung melawan enam orang dengan ilmu kanoragannya yang begitu tinggi membuat enam perampok itu kewalahan.
Aku masih tetap duduk diatas kuda, ingin membantu Wingsang tapi dengan cara apa aku menolongnya. Aku hanya bisa gugup tak tau harus berbuat apa.
Melihat ada kesempat aku langsung meloncat sembari menghujamkan pedangku ke punggung salah satu dari mereka.
"Hiaaattt....!!!!" teriakku sambil menghujamkan keris. Seketika musuh terkapar jatuh ke tanah dengan bersimbah darah.
Melihat musuhnya berkurang Wingsang makin semangat melakukan perlawanan, hingga satu demi satu mereka tersungkur kalah.
Dan hanya tersisa tiga dari mereka yang akhirnya lari kocar-kacir meninggalkan kawan-kawannya yang sudah tersungkur tak berdaya.
Pertarungan sengit pun berakhir dan kami kembali meneruskan perjalanan ini.
****
Sembari berjalan hatiku berkata-kata:
Benar kata kakek tadi, sepanjang perjalanan aku tidak pernah menemui perkampungan bahkan seorang yang lewat pun tak ada.
Mungkin inilah mitos keangkeran Alas Roban, bahkan jalan disini sudah hampir tertutup semak belukar karena saking jarangnya dilewati orang.
Berarti kota kendal, Weleri, Batang dan seterusnya sampai di kota Cirebon, pada jaman ini memang masih berbentuk hutan belukar. Karena letaknya memang jauh dari kota kerajaan Majapahit maupun kerajaan Sunda Galuh.
Kalaupun ada perkampungan, itu pasti sekelompok orang yang hidup tidak menetap dan berpindah-pindan dengan mengandalkan berburu sebagai sumber makanannya. Karena sepanjang perjalanan kami tak pernah menemukan bekas-bekas ladang pertanian.
Hingga sampailah kami di sebuah Pantai dengan tebing yang khas yang sudah tak asing lagi bagiku.
"Sepertinya aku kenal pantai ini...???" ucapku lirih sembari mengamati tebing pantai yang menjorok ke laut.
"Maksudmu apa Sena...???" tanya Wingsang penasaran.
"Yaa, tak salah lagii, ini pantai Ujung Negoro, Batang..." jawabku antusias dengan menganggut-anggutkan kepala.
"Berarti tak lama lagi kita akan sampai di kota kelahiranku sobat...
Sebentar lagi kita akan sampai di Pekalongan...
Ayoo kita bergegas kesana, aku sudah tidak sabar lagi pulang ke kampung halamanku..." ajakku dengan semangatnya sambil memacu kuda lebih kencang.
"Baik kalau begitu, ayoo...
Hiaaa, hiaaa, hiaaa..." Wingsang juga memacu kudanya lebih kencang.
****
Tapi sayangnya setelah berjalan begitu lamanya aku tak menemukan sedikitpun tanda-tanda sebuah kota keramaian, semua masih berupa hutan belantara.
"Bagaimana ini...???
Seharusnya kita sekarang sudah berada di kota Pekalongan, tapi kenapa yang kita temui hanya hutan seperti ini...???" ucapku aga panik dengan menangak-nengok kearah sekitar.
"Apa yang terjadi ini...
Aku benar-benar ingin pulang, aku sudah lelah... aku sudah jenuh akan semua ini..." aku berteriak sekencang-kencangnya sembari merobohkan lututku ke tanah.
"Sadar Sena, sadarr...!!!!
Bukankah saat ini kita hidup jauh dimasa dimana kamu hidup, kita hidup dijaman kerajaan Majapahit Sena, kita hidup jauh dari peradapan modern, buktinya kota Pekalongan yang sering kau ceritakan yang katanya sangat ramai itu, saat ini masih berbentuk hutan belantara... sadar Sena, jalani hidup kita, jalanai takdir kita saat ini...
Aku yakin apapun yang terjadi nanti itu pasti yang terbaik..." Wingsang mencoba menjelaskan keadaan yang sedang aku alami.
Tiba-tiba terdengan suara yang menggema:
"Benar Sena, aku yang menarikmu masuk ke dimensi ini bukan tanpa alasan, jalani hidupmu Sena, kakek akan selalu menuntunmu..." suara yang menggema yang tak asing lagi bagiku.
Yaa, itu suara kakek mpu Sasora, guruku sendiri, aku yakin beliau selalu menuntunku dalam perjalanan ini.
"Baik, bangkitlah Sena... mari teruskan perjalanan kita ini..." ucap Wingsang sembari mengangkat pundakku.
"Jika ini memang tanah kelahiranku, baik akan aku tancapkan keris pemberian mpu Sasora ini di watu Ireng di sebelah selatan sana, dan kelak jika aku kembali ke dimensi pada jamanku, akan ambil lagi sebagai bukti bahwa semua ini benar-benar terjadi dalam hidupku ini..." ucapku dengan penuh keyakinan.
Akhirnya aku dan sahabatku Wingsang Geni kembali meneruskan perjalanan dan menuju Watu Ireng di kecamatan Lebak Barang.
Namun ditengah-tengah perjalanan kami menemukan suatu perkampungan kecil yang sederhana, kami segera melambatkan langkah kuda kami sambil memastikan ada orang di kampung ini.
"Datanglah kesini hai cucuku..." ucap seorang kakek tua agak kurus dengan berpakaian serba putih yang tiba-tiba menghampiri aku.
Akupun langsung turun dari kuda dan mendekat ke arahnya.
"Kakek ini siapa...???" tanyaku penuh tanda tanya.
"Hahahaa... jangan takut cucuku, akulah nenek moyangmu, darah yang mengalir ditubuhmu adalah bagian dari darahku..." jawab kakek itu sembari membuka kedua tagannya lalu memelukku.
"Aku yakin kau adalah garis keturunan dariku, aroma tubuhmu sama dengan aroma tubuhku...
Aku tahu, kau datang dari masa depan, dan mpu Sasora ingin mempertemukan aku dengan garis keturunanku dari masa depan...
Inilah makna dari perjalananmu ini nak..." jelas kakek penuh kelembutan sembari terus memelukku.
Dan akupun tak mampu menahan tangis, aku memeluknya erat seperti merasakan memeluk kakekku sendiri. Berada disini seperti berada di kampungku sendiri.
Kampung inilah yang akan menjadi cikal bakal dari kota kelahiranmu nak...
Kelak jika Majapahit telah runtuh pusat kerajaan akan bergeser ke Jawa Tengah, mulai dari kerajaan Demak, Pajang, Mataram semua akan berpusat di Jawa Tengah...
Hal itulah yang akan menjadikan daerah-daerah di timur sungai Kaliwungu yang semula sepi menjadi lebih ramai dengan banyaknya pendatang yang bermukim disini.
"Lalu bagaimana dengan sejarah kota Pekalongan kek...???" tanyaku penasaran.
"Walau saat ini masih sepi, kelak akan ada kerajaan Islam yang bernama Mataram yang pusat ibu kotanya tak jauh dari sini (Jogjakarta). Dan otomatis daerah ini lambat laun akan lebih terurus dan lebih ramai.
Kelak negeri kita akan terjajah oleh bangsa asing, dan karena itulah Sultan Agung Mataram memerintahkan ki Bau Rekso untuk melakukan perlawanan ke Batavia melawan VOC. Namun dalam perperangan itu ki Bau Rekso mengalami kekalahan.
Karena malu dan merasa gagal dalam tugas, Ki Bau Rekso memilih enggan kembali ke Mataram. Dan lebih memilih bertapa NGALONG di sekitar daerah sini, untuk menyusun kekuatan kembali guna melawan VOC lagi. dan karena bertapa NGALONG itulah (siang bersembunyi malam menyusun kekuatan) kelak nama daerah ini diberi nama Pekalongan.
Sedangkan munculnya nama Pekalongan menurut versi abad XVII adalah di masa Sultan Agung saat Ki Bau Rekso gugur saat melawan melawan VOC yang ke dua di Batavia pada tanggal 21 September 1628.
Begitulah kurang lebihnya sejarah Pekalongan nak..." ucap kakek menjelaskan panjang lebar.
"Terimakasih kek atas penjelasannya yang sangat berarti ini, yang membuat aku makin bangga Kepada tanah kelahiranku sendiri..." jawabku sembari mencium tangan kakek. Lalu aku bergegas berdiri.
"Mau kemana lagi nak...???" tanya kakek.
"Aku ingin ke Watu Ireng kek, aku ingin menancapkan keris ini disana sebagai bukti jika kelak aku telah kembali ke dimensiku, keris ini akan menjadi bukti dari perjalananku saat ini yang benar-benar nyata..." ucapku menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, hati-hatilah dijalan..." ucap kakek memberi do'a.
Setelah pamit aku kembali meneruskan perjalanan untuk ke Watu Ireng, yaitu suatu bukit batu yang yang berwarna hitam yang terletak di selatan Pekalongan. Setelah sampai langsung aku tancapkan keris pemeberian mpu Sasora ini kedalam retakan batu hingga menancap tak terlihat.
Lalu aku langsung bergegas meneruskan perjalananku kembali, perjalanan panjang menuju kerajaan Sunda Galuh.
Dan lagi-lagi aku dapatkan satu pembelajaran dalam hidupku tentang sejarah kota kelahiranku.
Sekali lagi, perjalanan ini akan terus berjalan...
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya silahkan KLIK DISINI
Episode (6/10)
Sejarah kabupaten Rembang dan Demak
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Perjalanan yang kami lalui sudah semakin jauh, sudah berminggu-minggu lamanya kami menyusuri jalan menuju ke arah dimana matahari tenggelam.
Berbagai halangan dan rintangan yang menghalang telah kami lewati, mulai dari jalan yang terjal, perompak yang mencoba menjegal kami, bahkan penguasa setempat yang arogan dan mencoba menghalangi perjalanan ini, tapi itu semua telah kami lewati dengan gagah berani.
Hutan, sungai, sawah, ladang dan pemukiman penduduk selalu mewarnai perjalanan ini.
Hingga disini di tanah yang jauh dari pusat kota Majapahit, tempat yang teramat asing bagi kami karena kondisi disini tidak seperti pada daerah-daerah sebelumnya.
"Daerah apa ini, kenapa disini banyak ladang tanaman tebu...???" ucap Wingsang dengan nada heran.
"Yaa ini ladang tebu, mungkin ini yang orang sering bilang pohon gula, sepertinya ini daerah penghasil gula yang sering diceritakan kakek Mpu sasora, dimana di daerah barat nan jauh, ada daearah penghasil gula yang akan memasok untuk keperluan masyarakat Majapahit..." jawabku mencoba menjelaskan.
"Yaa, sepertinya benar, karena sepanjang perjalanan tadi aku sering melihat pedati yang mengangkut tebu hasil panenan..." Wingsang mengiyakan.
Saat kami menyusuri jalan di tengah-tengah ladang tebu, aku melihat ada bapak-bapak yang sedang kesulitan memperbaiki gerobak pedatinya yang rusak sendirian.
"Maaf pak, apa ada yang bisa saya bantu...???" tanya Wingsang menawarkan bantuan.
"Roda gerobakku rusak nak, mungkin sudah terlalu tua umur gerobak ini..." jawabnya singkat.
"Baik pak, coba aku perbaiki..." jawab Wingsang sembari turun dari kudanya dan langsung mencoba melihat keadaan roda gerobak itu.
Aku pun dengan sigap juga membantunya.
Dan setelah itu aku dan wingsang mencoba memperbaiki, setelah berapa lama akhirnya roda itu selesai diperbaiki.
"Sepertinya sudah normal kembali ini pak, walaupun sudah tua, tapi aku yakin gerobak ini masih layak pakai hingga beberapa tahun kedepan, hanya sedikit butuh perawatan ekstra..." ucap Wingsang setelah selesai memperbaiki roda gerobak itu.
"Terimakasih nak, atas bantuannya..." jawab bapak tua itu dengan wajah yang kembali bersinar.
"Oiya pak, kalau boleh tau ini daerah apa yaa...???" tanyaku pada bapak pemilik gerobak itu.
"Oohh ini wilayah Rembang nak, daerah penghasil gula terbesar di bumi Jawa..." jawab bapak itu mencoba menjelaskan.
"Benar kata kakek Sasora...." ucap hatiku sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Namanya sangat unik, kalo boleh tau bagaimana asal-usul kenapa daerah ini diberi nama Rembang...???" tanya Wingsang penasaran.
"Begini ceritanya nak:
Kira-kira sekitar tahun 1336 Saka, ada orang-orang Campa Banjarmlati yang berjumlah delapan keluarga yang pandai membuat gula tebu ketika di negaranya sana…
Orang-orang tadi pindah untuk membuat gula merah yang tidak dapat dipatahkan itu. Berangkatnya melalui lautan menuju arah barat hingga mendarat di sekitar sungai yang pinggir kiri dan kanannya tumbuh tak teratur pohon bakau. Kepindahannya itu di pimpin oleh kakek Pow Le Din, mereka mengadakan do’a dan semedi, kemudian dimulai menebang pohon bakau tadi yang kemudian di teruskan oleh orang-orang lainnya.
Tanah lapang itu kemudian di buat tegalan dan pekarangan serta perumahan yang selanjutnya menjadi perkampungan, dan kampung itu kemudian dinamakan kampung : Kabongan; mengambil kata dari sebutan pohon bakau, menjadi Ka-bonga-an (Kabongan)
Pada suatu hari saat fajar menyingsing di bulan Waisaka; orang-orang akan mulai ngrembang (mbabat/memangkas) tebu. Sebelum dimulai mbabat diadakanlah upacara suci Sembayang dan semedi di tempat tebu serumpun (dua tebu yang tumbuh bersama) yang akan dipangkas untuk tebu “Penganten”.
Upacara pemangkasan itu dinamakan “ngRembang”, sehingga kota ini diberi nama Rembang hingga saat ini.”
Menurut para sesepuh, upacara ngRembang sakawit ini dilaksanakan pada hari Rabu Legi, saat di nyanyikan Kidung, Minggu Kasadha. Bulan Waisaka, Tahun Saka 1337 dengan Candra Sengkala : Sabda Tiga Wedha Isyara.
Dan upacara itu tetap dilakukan hingga kini..." bapak pemilik gerobak itu menjelaskan sejarah kotanya panjang lebar.
"Baik pak, terimakasih banyak atas informasinya..." ucap Wingsang sambil menundukan kepalanya lalu kembali menaiki kudanya.
"Sama-sama nak, aku juga berterimakasih banyak atas bantuan memperbaiki gerobakku ini..." ucap bapak itu sambil melebarkan senyumnya yang menandakan ucapan banyak terimakasih.
Lalu aku dan Wingsanggeni kembali meneruskan perjalanan menyusuri perkampungan kota Rembang yang dikelilingi ladang tebu yang sangat luas.
****
Perjalanan terus berlanjut melewati banyak wilayah yang beraneka ragam budaya dan sejarahnya. Setelah melewati Rembang kami juga melewati Pati, Kudus dan wilayah rawa-rawa.
"Wilayah apa ini...???
Kenapa jarang ada perkampungan disini" Wingsang kembali penasaran dengan apa yang dilewatinya, karena sepanjang perjalanan dipenuhi rawa-rawa.
"Entahlah aku juga kurang tau... yang terlihat disini hanya rawa-rawa tanpa berpenghuni..." aku pun hanya bisa menggerutu sambil tetap menunggang kuda dengan jalan pelan karena jalan banyak lumpur yang membelah rawa.
Hingga akhirnya kami menemukan beberapa rumah yang membentuk perkampungan kecil di tengah hutan.
"Maaf kek kalau boleh tau ini kampung apa kek...???" tanyaku pada seorang kakek yang sedang menanam sayuran di pekarangan rumahnya.
"Ini kampung Galah Wangi nak, tapi kami menyebutnya kampung kecil yang damai..." jawab kakek itu sembari mendekat kearah kami.
"Ayoo lah nak, mampir ke rumah kami, istirahatlah sebentar di kampung kami ini..." kakek itu menawarkan kami untuk singgah.
"Ooohh terimakasih kek, aku sangat senang sekali..." jawabku dengan wajah nyengir, sambil melompat turun dari pelana kuda lalu berjalan memasuki halaman rumah kakek itu.
"Silahkan duduk nak..." ucap kakek itu mempersilahkan kami untuk duduk dibangku bambu di depan rumahnya.
Tak lama kemudian kakek itu meminta istrinya untuk membuatkan kami segelas air wedang hangat rebusan rempah-rempah.
"Silahkan diminum nak..." ucap istri kakek dengan senyumnya yang khas dengan gigi yang mulai menghilang dari baris gusinya.
"Terimakasih banyak nek, maaf sudah merepotkan..." jawabku sembari nyengir.
"Oiyaa kek, kalo boleh tau ini wilayah apa kek...???" tanya Wingsang sambil menyeruput wedang hangatnya.
"Ini masih kekuasaan Majapahit nak, tapi daerah ini jarang dijangkau oleh pemerintah, karena memang disini jauh dari pusat kota Trowulan..." jawab kakek itu tenang dengan wajah yang sudah keriput karena faktor usia.
"Ooo, pantas jalan disini sangat rusak dan jarang dilewati orang..." jawab Wingsnag sembari manggut-manggut.
"Yaa, karena daerah ini dikelilingi rawa-rawa dan kadang banjir dimana-mana...
Tapi menurut terawangan kakek, kelak disini akan menjadi pusat keramaian yang akan menyinari seluruh pelosok tanah Jawa..." jawab kakek itu dengan wajah yang menerawang jauh keatas.
"Maksud kakek...???" tanyaku makin penasaran.
"Yaa, disini kelak akan menjadi pusat pemerintahan kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa... yaitu kerajaan Demak Bintoro. Setelah Majapahit nanti mengalami kemunduran lalu hancur, kerajaan Demak ini yang akan menggantikan kejayaannya,
Nama Demak itu berasal dari kata bahasa Arab yaitu Dhima' yang berarti rawa, karena disini memang daerah rawa-rawa...
Dan raja pertama Demak adalah Raden Patah yang masih keturunan raden Brawijaya, raja terakhir Majapahit...
Jadi bisa dikatakan, daerah ini kelak akan menjadi daerah yang akan menggantikan kejayaan kerajaan Majapahit nak..." jelas kakek itu dengan ramalannya yang sangat akurat.
"Terimakasih atas penjelasannya kek, aku yakin apapun yang akan terjadi nanti itu pasti yang terbaik buat kita semua, khususnya masyarakat Jawa..." jawabku mengiyakan ramalan kakek.
"Baik, kalo begitu kami pamit dulu kek, sudah cukup lama kami disini untuk menumpang istirahat... terimakasih banyak atas semuanya kek..." Winggsang pamit lalu kami kembali meneruskan perjalanan kami.
Dan tentunya setiap langkah dalam perjalanan ini akan berisi pembelajaran baru tentang sejarah dan kehidupan di tanah Jawa.
Perjalanan ini akan terus berjalan.
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Ahmad Pajali Binzah
September 17, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaSejarah kabupaten Rembang dan Demak
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Perjalanan yang kami lalui sudah semakin jauh, sudah berminggu-minggu lamanya kami menyusuri jalan menuju ke arah dimana matahari tenggelam.
Berbagai halangan dan rintangan yang menghalang telah kami lewati, mulai dari jalan yang terjal, perompak yang mencoba menjegal kami, bahkan penguasa setempat yang arogan dan mencoba menghalangi perjalanan ini, tapi itu semua telah kami lewati dengan gagah berani.
Hutan, sungai, sawah, ladang dan pemukiman penduduk selalu mewarnai perjalanan ini.
Hingga disini di tanah yang jauh dari pusat kota Majapahit, tempat yang teramat asing bagi kami karena kondisi disini tidak seperti pada daerah-daerah sebelumnya.
"Daerah apa ini, kenapa disini banyak ladang tanaman tebu...???" ucap Wingsang dengan nada heran.
"Yaa ini ladang tebu, mungkin ini yang orang sering bilang pohon gula, sepertinya ini daerah penghasil gula yang sering diceritakan kakek Mpu sasora, dimana di daerah barat nan jauh, ada daearah penghasil gula yang akan memasok untuk keperluan masyarakat Majapahit..." jawabku mencoba menjelaskan.
"Yaa, sepertinya benar, karena sepanjang perjalanan tadi aku sering melihat pedati yang mengangkut tebu hasil panenan..." Wingsang mengiyakan.
Saat kami menyusuri jalan di tengah-tengah ladang tebu, aku melihat ada bapak-bapak yang sedang kesulitan memperbaiki gerobak pedatinya yang rusak sendirian.
"Maaf pak, apa ada yang bisa saya bantu...???" tanya Wingsang menawarkan bantuan.
"Roda gerobakku rusak nak, mungkin sudah terlalu tua umur gerobak ini..." jawabnya singkat.
"Baik pak, coba aku perbaiki..." jawab Wingsang sembari turun dari kudanya dan langsung mencoba melihat keadaan roda gerobak itu.
Aku pun dengan sigap juga membantunya.
Dan setelah itu aku dan wingsang mencoba memperbaiki, setelah berapa lama akhirnya roda itu selesai diperbaiki.
"Sepertinya sudah normal kembali ini pak, walaupun sudah tua, tapi aku yakin gerobak ini masih layak pakai hingga beberapa tahun kedepan, hanya sedikit butuh perawatan ekstra..." ucap Wingsang setelah selesai memperbaiki roda gerobak itu.
"Terimakasih nak, atas bantuannya..." jawab bapak tua itu dengan wajah yang kembali bersinar.
"Oiya pak, kalau boleh tau ini daerah apa yaa...???" tanyaku pada bapak pemilik gerobak itu.
"Oohh ini wilayah Rembang nak, daerah penghasil gula terbesar di bumi Jawa..." jawab bapak itu mencoba menjelaskan.
"Benar kata kakek Sasora...." ucap hatiku sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Namanya sangat unik, kalo boleh tau bagaimana asal-usul kenapa daerah ini diberi nama Rembang...???" tanya Wingsang penasaran.
"Begini ceritanya nak:
Kira-kira sekitar tahun 1336 Saka, ada orang-orang Campa Banjarmlati yang berjumlah delapan keluarga yang pandai membuat gula tebu ketika di negaranya sana…
Orang-orang tadi pindah untuk membuat gula merah yang tidak dapat dipatahkan itu. Berangkatnya melalui lautan menuju arah barat hingga mendarat di sekitar sungai yang pinggir kiri dan kanannya tumbuh tak teratur pohon bakau. Kepindahannya itu di pimpin oleh kakek Pow Le Din, mereka mengadakan do’a dan semedi, kemudian dimulai menebang pohon bakau tadi yang kemudian di teruskan oleh orang-orang lainnya.
Tanah lapang itu kemudian di buat tegalan dan pekarangan serta perumahan yang selanjutnya menjadi perkampungan, dan kampung itu kemudian dinamakan kampung : Kabongan; mengambil kata dari sebutan pohon bakau, menjadi Ka-bonga-an (Kabongan)
Pada suatu hari saat fajar menyingsing di bulan Waisaka; orang-orang akan mulai ngrembang (mbabat/memangkas) tebu. Sebelum dimulai mbabat diadakanlah upacara suci Sembayang dan semedi di tempat tebu serumpun (dua tebu yang tumbuh bersama) yang akan dipangkas untuk tebu “Penganten”.
Upacara pemangkasan itu dinamakan “ngRembang”, sehingga kota ini diberi nama Rembang hingga saat ini.”
Menurut para sesepuh, upacara ngRembang sakawit ini dilaksanakan pada hari Rabu Legi, saat di nyanyikan Kidung, Minggu Kasadha. Bulan Waisaka, Tahun Saka 1337 dengan Candra Sengkala : Sabda Tiga Wedha Isyara.
Dan upacara itu tetap dilakukan hingga kini..." bapak pemilik gerobak itu menjelaskan sejarah kotanya panjang lebar.
"Baik pak, terimakasih banyak atas informasinya..." ucap Wingsang sambil menundukan kepalanya lalu kembali menaiki kudanya.
"Sama-sama nak, aku juga berterimakasih banyak atas bantuan memperbaiki gerobakku ini..." ucap bapak itu sambil melebarkan senyumnya yang menandakan ucapan banyak terimakasih.
Lalu aku dan Wingsanggeni kembali meneruskan perjalanan menyusuri perkampungan kota Rembang yang dikelilingi ladang tebu yang sangat luas.
****
Perjalanan terus berlanjut melewati banyak wilayah yang beraneka ragam budaya dan sejarahnya. Setelah melewati Rembang kami juga melewati Pati, Kudus dan wilayah rawa-rawa.
"Wilayah apa ini...???
Kenapa jarang ada perkampungan disini" Wingsang kembali penasaran dengan apa yang dilewatinya, karena sepanjang perjalanan dipenuhi rawa-rawa.
"Entahlah aku juga kurang tau... yang terlihat disini hanya rawa-rawa tanpa berpenghuni..." aku pun hanya bisa menggerutu sambil tetap menunggang kuda dengan jalan pelan karena jalan banyak lumpur yang membelah rawa.
Hingga akhirnya kami menemukan beberapa rumah yang membentuk perkampungan kecil di tengah hutan.
"Maaf kek kalau boleh tau ini kampung apa kek...???" tanyaku pada seorang kakek yang sedang menanam sayuran di pekarangan rumahnya.
"Ini kampung Galah Wangi nak, tapi kami menyebutnya kampung kecil yang damai..." jawab kakek itu sembari mendekat kearah kami.
"Ayoo lah nak, mampir ke rumah kami, istirahatlah sebentar di kampung kami ini..." kakek itu menawarkan kami untuk singgah.
"Ooohh terimakasih kek, aku sangat senang sekali..." jawabku dengan wajah nyengir, sambil melompat turun dari pelana kuda lalu berjalan memasuki halaman rumah kakek itu.
"Silahkan duduk nak..." ucap kakek itu mempersilahkan kami untuk duduk dibangku bambu di depan rumahnya.
Tak lama kemudian kakek itu meminta istrinya untuk membuatkan kami segelas air wedang hangat rebusan rempah-rempah.
"Silahkan diminum nak..." ucap istri kakek dengan senyumnya yang khas dengan gigi yang mulai menghilang dari baris gusinya.
"Terimakasih banyak nek, maaf sudah merepotkan..." jawabku sembari nyengir.
"Oiyaa kek, kalo boleh tau ini wilayah apa kek...???" tanya Wingsang sambil menyeruput wedang hangatnya.
"Ini masih kekuasaan Majapahit nak, tapi daerah ini jarang dijangkau oleh pemerintah, karena memang disini jauh dari pusat kota Trowulan..." jawab kakek itu tenang dengan wajah yang sudah keriput karena faktor usia.
"Ooo, pantas jalan disini sangat rusak dan jarang dilewati orang..." jawab Wingsnag sembari manggut-manggut.
"Yaa, karena daerah ini dikelilingi rawa-rawa dan kadang banjir dimana-mana...
Tapi menurut terawangan kakek, kelak disini akan menjadi pusat keramaian yang akan menyinari seluruh pelosok tanah Jawa..." jawab kakek itu dengan wajah yang menerawang jauh keatas.
"Maksud kakek...???" tanyaku makin penasaran.
"Yaa, disini kelak akan menjadi pusat pemerintahan kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa... yaitu kerajaan Demak Bintoro. Setelah Majapahit nanti mengalami kemunduran lalu hancur, kerajaan Demak ini yang akan menggantikan kejayaannya,
Nama Demak itu berasal dari kata bahasa Arab yaitu Dhima' yang berarti rawa, karena disini memang daerah rawa-rawa...
Dan raja pertama Demak adalah Raden Patah yang masih keturunan raden Brawijaya, raja terakhir Majapahit...
Jadi bisa dikatakan, daerah ini kelak akan menjadi daerah yang akan menggantikan kejayaan kerajaan Majapahit nak..." jelas kakek itu dengan ramalannya yang sangat akurat.
"Terimakasih atas penjelasannya kek, aku yakin apapun yang akan terjadi nanti itu pasti yang terbaik buat kita semua, khususnya masyarakat Jawa..." jawabku mengiyakan ramalan kakek.
"Baik, kalo begitu kami pamit dulu kek, sudah cukup lama kami disini untuk menumpang istirahat... terimakasih banyak atas semuanya kek..." Winggsang pamit lalu kami kembali meneruskan perjalanan kami.
Dan tentunya setiap langkah dalam perjalanan ini akan berisi pembelajaran baru tentang sejarah dan kehidupan di tanah Jawa.
Perjalanan ini akan terus berjalan.
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Episode (5/10)
Sejarah kota Tuban
Untuk awal cerita sikahkan KLIK DISINI
Setelah meninggalkan Surabaya kami melewati perjalanan yang cukup menantang, jalan yang sepi dan hutan yang masih belantara, bahkan beberapa sungai tanpa jembatan yang harus kami seberangi dengan berenang. Namun aku dan Wingsanggeni tak pernah gentar sedikit pun, kami tetap terus memacu kuda dengan semangatnya.
Tak jarang kami juga melewati kebun, sawah, ladang dan perkampungan penduduk yang cukup ramai dan ramah. Bahkan tak jarang juga kami melewati jalan yang cukup lebar dan banyak lalu lalang pedati perniagaan dan juga patroli dari prajurit kerajaan.
Hingga kami bertemu muara sungai yang cukup luas yang tak mungkin kami seberangi dengan tangan kosong. Namun di tengah kebingungan ini aku melihat beberapa perahu jukung yang siap mengantar para warga yang lalu-lalang untuk menyeberangi sungai ini.
Kamipun mendekat ke pemilik jukung itu.
"maaf pak apa bisa saya minta tolong untuk menyeberangkan kami dan kuda-kuda kami ke ujung seberang sungai ini...???" aku mencoba berkomunikasi dengan bapak-bapak tua pemilik perahu jukung.
"Dengan senang hati kisanak, aku akan mengantar kalian sampai di seberang sana. Karena ini memang sudah menjadi tanggung jawabku..." pemik jukung itu menyambut ramah.
"Baik terimakasih pak..." jawab Wingsang sambil menuntun kudanya masuk ke jukuk itu.
"Maaf kalo boleh tau, ini sungai apa yaa pak, kok sungai ini sungguh besar sekali, bahkan lebih besar dari sungai Brantas...???" tanyaku pada bapak pemilik jukung.
"Ini sungai Bengawan Solo nak, sungai ini menang sangat besar dan termasuk sungai yang terpanjang di negeri Majapahit ini, karena itulah kota diseberang sana dijadikan kota kabupaten yang maju oleh kerajaan Majapahit dan disana juga terdapat pelabuhan yang cukup besar, karena sungai ini bisa menghubungkan jalur kapal perniagaan menuju wilayah Jawa bagian selatan..." jelas bapak itu sambil mengayuh dayung Jukungnya.
"Kalo boleh tau kota apa diseberang sana pak...???" tanyaku dengan nada heran dan penasaran.
"Disana adalah kota kadipaten Tuban nak, kota nya Ranggalawe..." jawabnya singkat.
"Oohh iya aku ingat, Ranggalawe adalah salah satu orang yang berjasa besar atas berdirinya Majapahit, beliau anak dari Arya Wiraraja bupati Songmeneb (nama lama Sumenep, Madura)
Beliau diutus ayahnya untuk membantu Raden Wijaya dalam membabat hutan Carik untuk dibangun kerajaan, beliau juga membantu melawan perang Tar-Tar melawan Mongol dan perang melawan kerajaan Kediri, beliau sangat berjasa besar dalam pembentukan awal kerajaan Majapahit ini..." jawab sahabatku Wingsang Geni.
"Yaa, karena itulah Raden Wijawa menghadiahi wilayah Tuban ini, dan menunjuknya sebagai adipati Tuban...
Walau pada akhirnya........." belum selesai bercerita aku memotong pembicaraannya.
"Pada akhirnya apa pak...???" dengan penasaran aku nyelak bertanya pada bapak pemilik Jukung.
"Pada akhirnya Ranggalawe harus mati sebagai pemberontak..." jelas bapak pemilik jukung itu sambil menundukan kepalanya.
"Kok bisa begitu pak...???" tanyaku makin penasaran.
"Begini ceritanya:
Ranggalawe bisa memberontak terhadap Kerajaan Majapahit karena dihasut seorang pejabat licik bernama Mahapati. Pemberontakan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam perjuangan dari pada Nambi.
Ranggalawe yang bersifat pemberani dan emosional suatu hari menghadap Raden Wijaya di ibu kota dan langsung menuntut agar kedudukan Nambi digantikan Sora. Namun Sora sama sekali tidak menyetujui hal itu dan tetap mendukung Nambi sebagai patih.
Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe membuat kekacauan di halaman istana. Sora keluar menasihati Ranggalawe, yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada raja. Namun Ranggalawe memilih pulang ke Tuban .
Mahapati yang licik ganti menghasut Nambi dengan melaporkan bahwa Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan di Tuban. Maka atas izin raja, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit didampingi Lembu Sora dan Kebo Anabrang untuk menghukum Ranggalawe.
Mendengar datangnya serangan, Ranggalawe segera menyiapkan pasukannya. Ia menghadang pasukan Majapahit di dekat Sungai Tambak Beras. Perang pun terjadi di sana. Ranggalawe bertanding melawan Kebo Anabrang di dalam sungai. Kebo Anabrang yang pandai berenang akhirnya berhasil membunuh Ranggalawe secara kejam.
Melihat keponakannya disiksa sampai mati, Lembu Sora merasa tidak tahan. Ia pun membunuh Kebo Anabrang dari belakang. Pembunuhan terhadap rekan inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Lembu Sora pada tahun 1300 .
Begitulah cerita singkatnya nak..." bapak pemilik jukung itu mencoba menjelaskan tentang Ranggalawe.
"Ooohh sekarang aku mengerti pak, berarti yang menjadi penghasut dan pengadu domba adalah Mahapati...??? Dia berhasil mengadu domba antara Ranggalawe dan pihak istana..." ucapku menyesalkan apa yang terjadi pada Ranggalawe.
"Yaa begitulah yang terjadi, Ranggalawe yang sangat berjasa besar akhirnya harus mati sebagai pemberontak hanya karena hasutan dan fitnah dari Mahapati..." jawab bapak pemilik jukung dengan wajah murung menerawang ke jaman itu sambil terus mendayung jukungnya.
"Aku juga menyesalkan kejadian itu pak, makasih banyak atas penjelasannya..." jawabku singkat.
"Tapi biarpun bagaimana, kami sebagai masyarakat Tuban tetap menganggap bahwa Ranggalawe sebagai seorang pahlawan dan selalu kami kagumi..." jelas bapak itu lagi menimpali, wajahnya mengisaratkan bahwa beliau sangat menghormati Ranggalawe.
"Iyaa pak, aku juga sangat menghargai beliau, dari kisah tadi aku jadi lebih mengerti tantang sejarah berdirinya Majapahit, khususnya kadipaten Tuban ini..." jawabku menenangkan.
"Baiknya, sekarang kita sudah sampai disisi barat sungai Bengawan Solo ini, silahkan mendarat nak..." bapak itu mempersilahkan kami untuk melangkah ke tepian sungai yang telah dipasang dermaga kecil untuk bersandar jukung penyeberangan.
"Oiya pak, berapa ongkosnya pak...???" tanya Wingsang pada bapak pemilik Jukung.
"Dua kepeng aja nak..." jawab bapak itu.
"Baik ini kek, tak perlu ada kembalian..." jawab Wingsang sambil memberikan beberapa kepeng uang koin.
"Tapi ini terlalu banyak nak..." jawab bapak itu lagi sambil terheran atas uang yang diberikan Wingsang.
"Tidak pak, itu pantas buat bapak yang mengabdi membantu orang untuk menyeberangi sungai yang sangat besar ini..." jawab Wingsang tenang.
"Baiklah kalau begitu, makasih nak atas semua ini..." jawabnya dengan wajah yang berseri.
"Sama-sama pak, bapak juga banyak bercerita pada kami yang sangat berarti bagi kami..." jawab Wingsang sembari menaiki kudanya dan siap kembali melanjutkan perjalanannya.
"Hati-hati dijalan kisanak... semoga perjalanan kalian berkesan dan penuh pengalaman, Tuhan memberkati kalian..." ucap kakek itu sembari melambaikan tangannya.
Aku dan sahabatku Wingsanggeni kembali memacu kudanya untuk memasuki kota Tuban, kota penuh sejarah yang mengiringi berdirinya Majapahit.
Setelah beberapa saat memacu kuda, nampak di hadapan sana kota yang cukup ramai dan cukup padat, makin tak sabar aku mendekatinya.
Setelah mendekat, dan masuk gapuranya ternyata memang tak sia-sia sang Ranggalawe mengorbankan hidupnya untuk membangun kota ini. Kota ini termasuk kota besar dengan pasar dan pelabuhan yang cukup ramai oleh aktivitas perdagangan.
Bahkan pertanian dan irigasinya cukup baik dan tertata. Ini membuktikan kadipaten Tuban memang layak disebut kotanya Ranggalawe sang pemberani dan berwibawa. Karena memang tak mudah membangun sebuah kota tanpa keberanian dan kewibawaan.
"Gimana Sena, apa sebaiknya kita bermalam disini saja, atau terus melanjutkan perjalanan...???" tanya Wingsang sambil duduk di pelana kuda.
"Ada baiknya kita mencari tempet bermalam di sini, karena kita telah menempuh jarak yang lumayan jauh, lagian kuda kita perlu istirahat, jadi gak perlu nunggu malam dulu kita beristirahat...
Kita cari penginapan, lalu kita jalan-jalan mengenal kota kadipaten Tuban ini..." jelasku panjang lebar.
"Baiklah kalau begitu kita kesana saja mencari penginapan yang nyaman..." ajak Wingsang.
Yaa, sore itu kami habiskan menelusuri kota Tuban, dari pelabuhan sampai ke pusat kota, bahkan sampai di daerah selatan yang penuh persawahan dan irigasi yang baik. Ini benar-benar wilayah yang makmur sentosa.
Setelah itu, paginya kami meneruskan perjalanan ke barat. Kembali menyusuri jalan untuk menuju kerajaan Sunda Galuh, entah berapa lama lagi kami menyusuri petualangan ini, padahal baru sepuluh hari kami meninggalkan Trowulan rasanya sudah rindu sekali ingin pulang ke padepokan kakek Sasora, tapi inilah tugas, inilah tanggung jawab mengemban amanat, seberat dan selelah apapun kami harus tunaikan kewajiban ini.
Tak ada kata kembali sebelum amanat disampaikan. Aku yakin aku akan mampu melewati kejenuhan ini. Aku yakin perjalanan ini akan mendewasakan jiwaku, membentuk karakterku dan menambah wawasanku atas kecintaan pada tanah airku.
Yaa, aku akan terus melangkah, aku akan terus bertualang hingga aku benar-benar memahami arti dari perjalananku ini.
Apalagi ada sahabatku Wingsang Geni yang selalu menemani setiap kisah yang aku ukir. Ini adalah perjalanan besar seorang pengembara.
"Hiaa... Hiaa... Hiaaa...!!!!" aku dan Wingsanggeni terus memacu kuda dengan gagahnya.
Karena kami memang tercipta sebagai prajurit yang harus gagah berani.
Menghadapi rintangan yang akan menghadang...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan....
========== BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Ahmad Pajali Binzah
September 14, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaSejarah kota Tuban
Untuk awal cerita sikahkan KLIK DISINI
Setelah meninggalkan Surabaya kami melewati perjalanan yang cukup menantang, jalan yang sepi dan hutan yang masih belantara, bahkan beberapa sungai tanpa jembatan yang harus kami seberangi dengan berenang. Namun aku dan Wingsanggeni tak pernah gentar sedikit pun, kami tetap terus memacu kuda dengan semangatnya.
Tak jarang kami juga melewati kebun, sawah, ladang dan perkampungan penduduk yang cukup ramai dan ramah. Bahkan tak jarang juga kami melewati jalan yang cukup lebar dan banyak lalu lalang pedati perniagaan dan juga patroli dari prajurit kerajaan.
Hingga kami bertemu muara sungai yang cukup luas yang tak mungkin kami seberangi dengan tangan kosong. Namun di tengah kebingungan ini aku melihat beberapa perahu jukung yang siap mengantar para warga yang lalu-lalang untuk menyeberangi sungai ini.
Kamipun mendekat ke pemilik jukung itu.
"maaf pak apa bisa saya minta tolong untuk menyeberangkan kami dan kuda-kuda kami ke ujung seberang sungai ini...???" aku mencoba berkomunikasi dengan bapak-bapak tua pemilik perahu jukung.
"Dengan senang hati kisanak, aku akan mengantar kalian sampai di seberang sana. Karena ini memang sudah menjadi tanggung jawabku..." pemik jukung itu menyambut ramah.
"Baik terimakasih pak..." jawab Wingsang sambil menuntun kudanya masuk ke jukuk itu.
"Maaf kalo boleh tau, ini sungai apa yaa pak, kok sungai ini sungguh besar sekali, bahkan lebih besar dari sungai Brantas...???" tanyaku pada bapak pemilik jukung.
"Ini sungai Bengawan Solo nak, sungai ini menang sangat besar dan termasuk sungai yang terpanjang di negeri Majapahit ini, karena itulah kota diseberang sana dijadikan kota kabupaten yang maju oleh kerajaan Majapahit dan disana juga terdapat pelabuhan yang cukup besar, karena sungai ini bisa menghubungkan jalur kapal perniagaan menuju wilayah Jawa bagian selatan..." jelas bapak itu sambil mengayuh dayung Jukungnya.
"Kalo boleh tau kota apa diseberang sana pak...???" tanyaku dengan nada heran dan penasaran.
"Disana adalah kota kadipaten Tuban nak, kota nya Ranggalawe..." jawabnya singkat.
"Oohh iya aku ingat, Ranggalawe adalah salah satu orang yang berjasa besar atas berdirinya Majapahit, beliau anak dari Arya Wiraraja bupati Songmeneb (nama lama Sumenep, Madura)
Beliau diutus ayahnya untuk membantu Raden Wijaya dalam membabat hutan Carik untuk dibangun kerajaan, beliau juga membantu melawan perang Tar-Tar melawan Mongol dan perang melawan kerajaan Kediri, beliau sangat berjasa besar dalam pembentukan awal kerajaan Majapahit ini..." jawab sahabatku Wingsang Geni.
"Yaa, karena itulah Raden Wijawa menghadiahi wilayah Tuban ini, dan menunjuknya sebagai adipati Tuban...
Walau pada akhirnya........." belum selesai bercerita aku memotong pembicaraannya.
"Pada akhirnya apa pak...???" dengan penasaran aku nyelak bertanya pada bapak pemilik Jukung.
"Pada akhirnya Ranggalawe harus mati sebagai pemberontak..." jelas bapak pemilik jukung itu sambil menundukan kepalanya.
"Kok bisa begitu pak...???" tanyaku makin penasaran.
"Begini ceritanya:
Ranggalawe bisa memberontak terhadap Kerajaan Majapahit karena dihasut seorang pejabat licik bernama Mahapati. Pemberontakan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih. Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih berjasa dalam perjuangan dari pada Nambi.
Ranggalawe yang bersifat pemberani dan emosional suatu hari menghadap Raden Wijaya di ibu kota dan langsung menuntut agar kedudukan Nambi digantikan Sora. Namun Sora sama sekali tidak menyetujui hal itu dan tetap mendukung Nambi sebagai patih.
Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe membuat kekacauan di halaman istana. Sora keluar menasihati Ranggalawe, yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada raja. Namun Ranggalawe memilih pulang ke Tuban .
Mahapati yang licik ganti menghasut Nambi dengan melaporkan bahwa Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan di Tuban. Maka atas izin raja, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit didampingi Lembu Sora dan Kebo Anabrang untuk menghukum Ranggalawe.
Mendengar datangnya serangan, Ranggalawe segera menyiapkan pasukannya. Ia menghadang pasukan Majapahit di dekat Sungai Tambak Beras. Perang pun terjadi di sana. Ranggalawe bertanding melawan Kebo Anabrang di dalam sungai. Kebo Anabrang yang pandai berenang akhirnya berhasil membunuh Ranggalawe secara kejam.
Melihat keponakannya disiksa sampai mati, Lembu Sora merasa tidak tahan. Ia pun membunuh Kebo Anabrang dari belakang. Pembunuhan terhadap rekan inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Lembu Sora pada tahun 1300 .
Begitulah cerita singkatnya nak..." bapak pemilik jukung itu mencoba menjelaskan tentang Ranggalawe.
"Ooohh sekarang aku mengerti pak, berarti yang menjadi penghasut dan pengadu domba adalah Mahapati...??? Dia berhasil mengadu domba antara Ranggalawe dan pihak istana..." ucapku menyesalkan apa yang terjadi pada Ranggalawe.
"Yaa begitulah yang terjadi, Ranggalawe yang sangat berjasa besar akhirnya harus mati sebagai pemberontak hanya karena hasutan dan fitnah dari Mahapati..." jawab bapak pemilik jukung dengan wajah murung menerawang ke jaman itu sambil terus mendayung jukungnya.
"Aku juga menyesalkan kejadian itu pak, makasih banyak atas penjelasannya..." jawabku singkat.
"Tapi biarpun bagaimana, kami sebagai masyarakat Tuban tetap menganggap bahwa Ranggalawe sebagai seorang pahlawan dan selalu kami kagumi..." jelas bapak itu lagi menimpali, wajahnya mengisaratkan bahwa beliau sangat menghormati Ranggalawe.
"Iyaa pak, aku juga sangat menghargai beliau, dari kisah tadi aku jadi lebih mengerti tantang sejarah berdirinya Majapahit, khususnya kadipaten Tuban ini..." jawabku menenangkan.
"Baiknya, sekarang kita sudah sampai disisi barat sungai Bengawan Solo ini, silahkan mendarat nak..." bapak itu mempersilahkan kami untuk melangkah ke tepian sungai yang telah dipasang dermaga kecil untuk bersandar jukung penyeberangan.
"Oiya pak, berapa ongkosnya pak...???" tanya Wingsang pada bapak pemilik Jukung.
"Dua kepeng aja nak..." jawab bapak itu.
"Baik ini kek, tak perlu ada kembalian..." jawab Wingsang sambil memberikan beberapa kepeng uang koin.
"Tapi ini terlalu banyak nak..." jawab bapak itu lagi sambil terheran atas uang yang diberikan Wingsang.
"Tidak pak, itu pantas buat bapak yang mengabdi membantu orang untuk menyeberangi sungai yang sangat besar ini..." jawab Wingsang tenang.
"Baiklah kalau begitu, makasih nak atas semua ini..." jawabnya dengan wajah yang berseri.
"Sama-sama pak, bapak juga banyak bercerita pada kami yang sangat berarti bagi kami..." jawab Wingsang sembari menaiki kudanya dan siap kembali melanjutkan perjalanannya.
"Hati-hati dijalan kisanak... semoga perjalanan kalian berkesan dan penuh pengalaman, Tuhan memberkati kalian..." ucap kakek itu sembari melambaikan tangannya.
Aku dan sahabatku Wingsanggeni kembali memacu kudanya untuk memasuki kota Tuban, kota penuh sejarah yang mengiringi berdirinya Majapahit.
Setelah beberapa saat memacu kuda, nampak di hadapan sana kota yang cukup ramai dan cukup padat, makin tak sabar aku mendekatinya.
Setelah mendekat, dan masuk gapuranya ternyata memang tak sia-sia sang Ranggalawe mengorbankan hidupnya untuk membangun kota ini. Kota ini termasuk kota besar dengan pasar dan pelabuhan yang cukup ramai oleh aktivitas perdagangan.
Bahkan pertanian dan irigasinya cukup baik dan tertata. Ini membuktikan kadipaten Tuban memang layak disebut kotanya Ranggalawe sang pemberani dan berwibawa. Karena memang tak mudah membangun sebuah kota tanpa keberanian dan kewibawaan.
"Gimana Sena, apa sebaiknya kita bermalam disini saja, atau terus melanjutkan perjalanan...???" tanya Wingsang sambil duduk di pelana kuda.
"Ada baiknya kita mencari tempet bermalam di sini, karena kita telah menempuh jarak yang lumayan jauh, lagian kuda kita perlu istirahat, jadi gak perlu nunggu malam dulu kita beristirahat...
Kita cari penginapan, lalu kita jalan-jalan mengenal kota kadipaten Tuban ini..." jelasku panjang lebar.
"Baiklah kalau begitu kita kesana saja mencari penginapan yang nyaman..." ajak Wingsang.
Yaa, sore itu kami habiskan menelusuri kota Tuban, dari pelabuhan sampai ke pusat kota, bahkan sampai di daerah selatan yang penuh persawahan dan irigasi yang baik. Ini benar-benar wilayah yang makmur sentosa.
Setelah itu, paginya kami meneruskan perjalanan ke barat. Kembali menyusuri jalan untuk menuju kerajaan Sunda Galuh, entah berapa lama lagi kami menyusuri petualangan ini, padahal baru sepuluh hari kami meninggalkan Trowulan rasanya sudah rindu sekali ingin pulang ke padepokan kakek Sasora, tapi inilah tugas, inilah tanggung jawab mengemban amanat, seberat dan selelah apapun kami harus tunaikan kewajiban ini.
Tak ada kata kembali sebelum amanat disampaikan. Aku yakin aku akan mampu melewati kejenuhan ini. Aku yakin perjalanan ini akan mendewasakan jiwaku, membentuk karakterku dan menambah wawasanku atas kecintaan pada tanah airku.
Yaa, aku akan terus melangkah, aku akan terus bertualang hingga aku benar-benar memahami arti dari perjalananku ini.
Apalagi ada sahabatku Wingsang Geni yang selalu menemani setiap kisah yang aku ukir. Ini adalah perjalanan besar seorang pengembara.
"Hiaa... Hiaa... Hiaaa...!!!!" aku dan Wingsanggeni terus memacu kuda dengan gagahnya.
Karena kami memang tercipta sebagai prajurit yang harus gagah berani.
Menghadapi rintangan yang akan menghadang...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan....
========== BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Episode 4 sampai 7 menceritakan tentang sejarah berdirinya kota-kota di Jawa,
Jika ingin melewati sejarah dan kisah perjalanannya silahkan klik langsung ke inti cerita di episode 8 KLIK DISINI
Jika ingin melewati sejarah dan kisah perjalanannya silahkan klik langsung ke inti cerita di episode 8 KLIK DISINI
Episode (4/10)
Sejarah kota Surabaya.
Untuk awal cerita KLIK DISINI
Ini adalah petualangan terbesarku, yang akan menyusuri bumi Jawa Dwipa dari pusat kerajaan Majapahit hingga ujung barat tanah Jawa yaitu kerajaan Sunda Galuh.
Saat melangkah keluar dari gerbang ibu kota, rasanya jiwa petualanganku bergetar hebat, jantungku berdegup kencang mengiringi kuda yang aku tunggangi memacu langkahnya menderu menyusuri jalan besar penghubung ibu kota dan pelabuhan raya di pesisir utara, Surabaya.
Ini adalah perjalananku, ini adalah kisah hidupku...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan.
****
Setelah memacu kuda ku begitu lamanya aku pun istirahat disuatu pasar yang cukup ramai, aku berhenti di warung untuk sekedar istirahat dan mengisi perut, juga sambil membiarkan kuda-kuda yang kami tunggangi memakan rumput dan tak lupa aku membeli garam dan gula aren untuk menambah stamina kuda-kuda kami.
"Kalau boleh tau, ini pasar apa yaa kek...??? Sejak dari Trowulan aku rasa ini pasar yang paling ramai sepanjang perjalanan kami...
Disini juga masyarakatnya sangat maju banyak rumah-rumah dan penginapan yang sudah tertata rapi...???" tanya Wingsanggeni pada warung sambil melahap makannya.
"Ini pasar Mojokerto nak, daerah paling strategis untuk transit dan istirahat karena ini memang daerah pertengahan antara Trowulan dan pelabuhan Surabaya, daerah ini memang ramai karena ini tempat transit para saudagar dan para petinggi kerajaan yang sedang lalu lalang di jalur perniagaan dan jalur utama.
Disini juga ada dermaga ditepi sungai Brantas, para kapal-kapal dagang dan kapal kerajaan sering istirahat disini setelah menempuh perjalanan yang melelahkan..." jawab kakek pemilik warung sambil mengaduk wedang jahe rempah pesanan kami.
"Ooohh pantesan daerah ini sungguh sangat maju dan berkembang, masyarakatnya juga sangat makmur..." jawab Wingsang Geni mengiyakan.
"Iya nak, ini berkat kemajuan dan perkembangan yang pesat dari kerajaan majapahit...
Ini nak diminum wedangnya, biar menambah stamina dalam perjalanan kalian...
Ngomong-ngomong kisanak ini dari mana mau kemana...???
Dilihat dari postur kalian, kalian pasti bukan orang sembarangan..." tanya kakek sambil meletakkan dua gelas wedang disamping kami.
"Aaahh kami pemuda biasa kek yang sekedar ingin jalan-jalan saja.." jawabku mencoba menutupi identitas kami.
"Tapi keliatannya tubuh kalian kekar-kekar, seperti prajurit saja...???" kakek itu mencoba bertanya lagi.
"Aahh itu karena kami sering bekerja di sawah membantu orang tua kami saja kek..." jawab Wingsang mengalihkan.
"Iyaa benar kek, hehhee..." aku pun mengiyakan ucapan wingsang.
"Oohh iyaa kek, disini kira-kira dimana yaa kami bisa bermalam...???" tanya Wingsang mengalihkan pembicaraan.
"Masalah losmen atau penginapan jangan kuatir nak, disini tempatnya para musyafir beristirahat. Jadi mau yang mahal atau mau yang paling murah banyak tersedia disini, kalau di sebelah sana, kebanyakan diisi oleh orang-orang berjubah dan berjenggot panjang, banyak yang bilang mereka itu saudagar dari tanah arab, sementara losmen yang di sebelah sana kebanyakan diisi oleh para saudagar dari kulit kuning yang bermata sipit, dan sebelahnya kebanyak dari tanah Hindustan...
Kalau yang di depan sana yang paling spesial adalah asrama yang dibuat khusus untuk menginap para abdi negara, entah itu keluarga istana atau prajurit, yang jelas komplek itu khusus untuk orang-orang kerajaan yang ingin beristirahat dalam perjalanannya...
Dan biasanya dari mereka semua banyak yang berkumpul disini untuk makan malam, mereka sangat akur walau berasal dari latar belakang dan negara yang berbeda..." jelas kakek itu panjang lebar.
"Aahh berarti kalau aku tunjukin tanda anggota prajuritku, aku bisa menginap di komplek depan sana, waahh keren niihh..." ucap hatiku berbungah-bungah.
"Jadi rencana kalian nanti akan menginap dimana nak...??? Kalau kalian tidak banyak uang, boleh kok menginap disini dengan cuma-cuma..." kakek itu menawarkan warungnya untuk kami tumpangi.
"Aaahh iya juga, kalau aku menginap disana pasti identitasku akan ketahuan oleh warga disini, dan juga didalam sana kami pasti diintograsi tujuan apa kami melakukan perjalanan ini, sementara saat ini ibu kota masih dalam keadaan genting..." ucap hatiku bimbang.
"Gimana nak...??? Kenapa kalian hanya melamun saja...???" ucap kakek itu lagi.
"Eee baik kek, kami menginap disini saja, sekalian kami bisa lebih banyak mendengar cerita dari kakek, sekalian kami memang suka yang gratis-gratis kek hehee..." jawabku nyleneh.
Paginya saat matahari memancarkan sinar jingganya yang menyinari dedaunan dan menghangatkan suasana di pagi ini setelah diguyur hujan semalam.
Aku dan Wingsang sudah terbangun dan sarapan dengan menu khas masakan kakek yang baik hati.
"Baik kek maturmuwun atas tumpangannya pada kami, kami sangat berhutang budi pada kakek..." ucap wingsang pamit.
"Hahaha.. tak mengapa nak, aku malah senang bisa mengenal kalian...
Lanjutkanlah perjalanannya, semoga perjalanan kalian menyenangkan...
Oiya untuk ke kota Surabaya silahkan mengikuti jalan ini saja, karena jalan ini merupakan jalan raya utama yang jalurnya mengikuti alur pinggir sungai Brantas yang akhirnya akan menuju pelabuhan Surabaya..."
"Baik kek makasih banyak... hia, hia, hiaaaa..." aku dan Sahabatku Wingsang Geni kembali memacu kuda dengan semangatnya.
***
Pagi itu setelah sarapan dan pamit pada kakek pemilik warung kami berdua melanjutkan perjalanan mengikuti jalan berbatu yang menjulur dari ujung selatan ke ujung utara, mengikuti kelok alur sungai Brantas, jalan ini jalan terbesar yang menghubungkan ibu kota Trowulan dengan pelabuhan terbesar yang terletak di pesisir Surabaya.
Hutan dan ladang pertanian kami lewati silih berganti, jika malam kami harus menginap di rumah warga kadang jika kemalaman di hutan kami harus tidur dengan bivak seadanya.
Sesekali kami menjumpai rombongan para saudagar yang membawa barang dagangan seperti kain sutra, tembikar dan barang-barang dagangan lain yang diangkut dengan pedati, menuju ibukota Trowulan.
Sementara banyak juga hasil pertanian dan rempah-rempah yang diangkut menuju pelabuhan untuk dijual ke negeri seberang.
Karena pada masa ini, Majapahit sebenarnya masih dalam masa keemasan. Sepanjang perjalanan sering aku jumpai warga dengan wajah yang sempringah dan bersinar menandakan era kemakmuran di negeri Majapahit.
***
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di kota terbesar kedua di negeri Majapahit, yaitu Surabaya, kota di pesisir utara dengan pelabuhan terbesarnya, hiruk-pikuk perdagangan yang terkenal hingga ke belahan bumi yang lain.
Kota yang terkenal akan keberaniannya melawan bahaya, dan juga kota bersejarah tentang berdirinya kerajaan Majapahit itu sendiri.
Yaa, di kota inilah dahulu para leluhur Majapahit berperang mempertaruhkan nyawanya mengusir pasukan Tar-Tar dari Mongol yang berhasil dipukul mundur oleh Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan Majapahit.
Bahkan hingga kini hari bersejarah itu ditetapkan sebagai hari jadi kota Surabaya (31 mei 1293).
Pasukan Mongol utusan Kubilai Khan itu yang datang dari laut digambarkan sebagai SURO (ikan hiu/berani) sementara pasukan Raden Wijaya dari darat digambarkan Boyo (buaya/bahaya) yang digabung menjadi Suroboyo atau dengan kata lain mengandung arti berani menghadapi bahaya.
"Inilah Surabaya Sena, kota dengan seribu pesona dan sejarahnya...
Selamat datang di kota kebanggan kita Sena..." ucap Wingsang padaku tepat di pintu gerbang kota Surabaya.
"Yaa, aku sangat senang berada disini Wingsang...
Kita bisa bebas menjelajahi kota ini tanpa dibebankan tugas negara... hhahaha..." ucapku dengan wajah sempringah sambil memacu kuda memasuki kota Surabaya.
"Tapi ingat kawan, ada tugas besar di pundak kita untuk secepatnya mengantar surat wasiat ke negeri Sunda Galuh..." teriak Wingsang sambil memacu kuda mengejar aku.
"Hahahaa, tapi setidaknya kita bisa sekedar santai menikmati perjalanan ini kawan... hia, hia, hiaaa..." ucapku lagi sambi memacu kuda lebih kencang.
Rasanya bisa senang bisa mengilingi dan mengenal lebih dekat dengan kota ini, di sini serasa berada di daerah lain seperti bukan di negeri Majapahit, rumah-rumah dan bangunan disini tak semuanya berbentuk joglo, banyak rumah yang dibangun menyerupai adat dan khas daerah asalnya dari pemiliknya. Karena di kota ini sudah sangat homogen penduduknya, mulai dari kerajaan-kerajaan sekitar bahkan sampai dari benua yang berbeda. Banyak pendatang-pendatang dari India, Arab, China bahkan Madagaskar dan Afrika yang menetap dan membentuk suatu komunitas disini. Namun semua hidup rukun harmoni dan selaras dengan budaya Majapahit.
Di kota ini aku juga merasakan nuansa yang sudah lama aku tak merasakannya lagi, yaa suara adzan yang berkumandang mengingatkanku pada zamanku, dimana Islam sudah menjadi agama mayoritas di nusantara ini. Tapi disini di zaman ini aku mulai merasakan kehadiran ajaran ini sudah mulai mewarnai kehidupan di bumi nusantara.
Yaa Islam dimasa ini sudah mulai berkembang di pesisir dan mulai menyebar ke bagian hulu. Di Surabaya ini nuansa islami sudah mulai kental mewarnai sendi-sendi kehidupan kota.
Hampir 60% penduduk Surabaya beragama Islam. Karena di sini selain penduduk lokal, banyak pendatang dari Arab, China, India yang mayoritas membawa dan mengajarkan agama Islam.
Dan keberadaan ini bukan tidak diketahui oleh petinggi kerajaan, namun memang konsep Majaphit dan leluhur masyarakat Jawa yang pada umumnya lebih terbuka dan menjunjung tinggi sikap toleransi.
****
Setelah berjalan menyusuri keramaian kota, akhirnya aku dan Wingsang sampai di pesisir pantai.
"Aaahh rasanya senang sekali bisa melihat pantai, udara yang semilir ini mendamaikan hati rasanya Wing..." ucapku pada Wingsang sambil menatap ke arah laut lepas dengan rambut panjangku melambai-lambai tertiup angin.
"Yaa, sebagai abdi dalem kita memang jarang ditugaskan keluar ibu kota, jadi pamandangan pantai seperti ini rasanya sangat menyenangkan..." jawab Wingsang sambil menuntun kudanya berjalan ditepi pantai.
"Oh iyaa Wing, ayo kita kesana karena kita sudah cukup lama bersantai-santai disini..." ajakku pada Wingsang sambil menunjuk arah Pelabuhan.
"Baiklah ayo kita kesana..." jawab Wingsang bersemangat.
Dan kami pun kembali memacu kuda menuju dermaga pelabuhan melewati tepian pantai. Nampak juga dari kejauhan para kapal-kapal Besar yang lalu-lalang di laut lepas. Di pelabuhan juga nampak kapal-kapak yang sedang bersandar bongkar-muat barang-barang dagangan.
"Inilah pelabuhan Surabaya Sena... pelabuhan paling ramai senusantara... disinilah pintu gerbang Majapahit dengan dunia luar..." jelas Wingsang dengan wajah berbinar.
"Yaa, dari sinilah Majapahit melebarkan sayapnya hingga seantero Nusantara..." akupun mengiyakan.
Pelabuhan ini sangatlah luas, banyak dermaga dengan kesibukan yang berbeda-beda. Ada dermaga khusus untuk kapal dagang Nusantara, ada dermaga khusus untuk kapal dagang antar benua, ada dermaga untuk angkutan orang yang ingin berlayar, bahkan ada dermaga khusus untuk kapal kerajaan yang siap untuk mengangkut pasukan perang.
"Ayoo Sena kita segera cari kapal yang siap mengantar kita berlayar ke kerajaan Sunda Galuh..." Wingsang mengajakku mencari kapal.
"Tapi tunggu dulu Wing, apa kita harus menempuh jalur laut...???
Apa gak bisa perjalanan ini ditempuh lewat jalur darat saja...???" tanyaku menolak.
"Jalur laut jauh menghemat energi, waktu dan biaya Sena...
Sebagai prajurit, menghemat energi jauh lebih penting dari pada memilih jalur lain yang belum tentu hasilnya dan penuh resiko.. karena dalam perjalaanan ini, kita tidak tau bagaimana sambutan kerajaan Pasundan nanti, apakah mereka bisa menerima kita ataukah perang yang mereka tabuhkan untuk kita...
Jadi dalam hal ini menghemat energi jauh lebih baik..." Wingsang mencoba menjelaskan.
"Tapi coba banyangkan, apa gunanya kakek Sasora memberi kita kuda ini, apa gunanya kakek Sasora memberikan kita keris untuk senjata, apa gunanya kakek memberikan kita uang yang cukup banyak kalo toh kita hanya diam sambil bersantai di dalam kapal...???
Apapun resiko diperjalanan nanti, baik itu rampok, penguasa lokal, bahkan sungai besar tanpa jembatan pun aku siap menghadapi... karena hakekatnya perjalanan ini perjalanan pengembaraan..." aku menjelaskan dengan nada tegas.
"Baik kalau itu maumu Sena, aku sebagai sahabat dan orang yang ditugaskan kakek Sasora untuk mendampingimu, siap untuk selalu ada dalam perjalananmu..." jawab Wingsang sembari menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan ini lewat jalur darat, kita susuri jalan besar ataupun jalan setapak, kita seberangi sungai walau tanpa jembatan, kita hadapi aral yang melintang, kita tunaikan tugas kita hingga di negeri Sunda Galuh...!!!
Percayalah, dari perjalanan ini kita akan menemukan pembelajaran hidup yang lebih berarti...
Rawe rawe rantas, malang malang putung...!!!!" ucapku penuh semangat.
Tak perlu menunggu lama, aku dan sahabatku Wingsanggeni memacu kudanya dengan semangat untuk menelusuri jengkal demi jengkal tanah Jawa menuju negeri Sunda Galuh.
****
Yaa, ini adalah petualnganku, inilah cerita hidupku...
Akan aku isi cerita ini dengan indah dan berarti...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan...
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Ahmad Pajali Binzah
September 13, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaSejarah kota Surabaya.
Untuk awal cerita KLIK DISINI
Ini adalah petualangan terbesarku, yang akan menyusuri bumi Jawa Dwipa dari pusat kerajaan Majapahit hingga ujung barat tanah Jawa yaitu kerajaan Sunda Galuh.
Saat melangkah keluar dari gerbang ibu kota, rasanya jiwa petualanganku bergetar hebat, jantungku berdegup kencang mengiringi kuda yang aku tunggangi memacu langkahnya menderu menyusuri jalan besar penghubung ibu kota dan pelabuhan raya di pesisir utara, Surabaya.
Ini adalah perjalananku, ini adalah kisah hidupku...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan.
****
Setelah memacu kuda ku begitu lamanya aku pun istirahat disuatu pasar yang cukup ramai, aku berhenti di warung untuk sekedar istirahat dan mengisi perut, juga sambil membiarkan kuda-kuda yang kami tunggangi memakan rumput dan tak lupa aku membeli garam dan gula aren untuk menambah stamina kuda-kuda kami.
"Kalau boleh tau, ini pasar apa yaa kek...??? Sejak dari Trowulan aku rasa ini pasar yang paling ramai sepanjang perjalanan kami...
Disini juga masyarakatnya sangat maju banyak rumah-rumah dan penginapan yang sudah tertata rapi...???" tanya Wingsanggeni pada warung sambil melahap makannya.
"Ini pasar Mojokerto nak, daerah paling strategis untuk transit dan istirahat karena ini memang daerah pertengahan antara Trowulan dan pelabuhan Surabaya, daerah ini memang ramai karena ini tempat transit para saudagar dan para petinggi kerajaan yang sedang lalu lalang di jalur perniagaan dan jalur utama.
Disini juga ada dermaga ditepi sungai Brantas, para kapal-kapal dagang dan kapal kerajaan sering istirahat disini setelah menempuh perjalanan yang melelahkan..." jawab kakek pemilik warung sambil mengaduk wedang jahe rempah pesanan kami.
"Ooohh pantesan daerah ini sungguh sangat maju dan berkembang, masyarakatnya juga sangat makmur..." jawab Wingsang Geni mengiyakan.
"Iya nak, ini berkat kemajuan dan perkembangan yang pesat dari kerajaan majapahit...
Ini nak diminum wedangnya, biar menambah stamina dalam perjalanan kalian...
Ngomong-ngomong kisanak ini dari mana mau kemana...???
Dilihat dari postur kalian, kalian pasti bukan orang sembarangan..." tanya kakek sambil meletakkan dua gelas wedang disamping kami.
"Aaahh kami pemuda biasa kek yang sekedar ingin jalan-jalan saja.." jawabku mencoba menutupi identitas kami.
"Tapi keliatannya tubuh kalian kekar-kekar, seperti prajurit saja...???" kakek itu mencoba bertanya lagi.
"Aahh itu karena kami sering bekerja di sawah membantu orang tua kami saja kek..." jawab Wingsang mengalihkan.
"Iyaa benar kek, hehhee..." aku pun mengiyakan ucapan wingsang.
"Oohh iyaa kek, disini kira-kira dimana yaa kami bisa bermalam...???" tanya Wingsang mengalihkan pembicaraan.
"Masalah losmen atau penginapan jangan kuatir nak, disini tempatnya para musyafir beristirahat. Jadi mau yang mahal atau mau yang paling murah banyak tersedia disini, kalau di sebelah sana, kebanyakan diisi oleh orang-orang berjubah dan berjenggot panjang, banyak yang bilang mereka itu saudagar dari tanah arab, sementara losmen yang di sebelah sana kebanyakan diisi oleh para saudagar dari kulit kuning yang bermata sipit, dan sebelahnya kebanyak dari tanah Hindustan...
Kalau yang di depan sana yang paling spesial adalah asrama yang dibuat khusus untuk menginap para abdi negara, entah itu keluarga istana atau prajurit, yang jelas komplek itu khusus untuk orang-orang kerajaan yang ingin beristirahat dalam perjalanannya...
Dan biasanya dari mereka semua banyak yang berkumpul disini untuk makan malam, mereka sangat akur walau berasal dari latar belakang dan negara yang berbeda..." jelas kakek itu panjang lebar.
"Aahh berarti kalau aku tunjukin tanda anggota prajuritku, aku bisa menginap di komplek depan sana, waahh keren niihh..." ucap hatiku berbungah-bungah.
"Jadi rencana kalian nanti akan menginap dimana nak...??? Kalau kalian tidak banyak uang, boleh kok menginap disini dengan cuma-cuma..." kakek itu menawarkan warungnya untuk kami tumpangi.
"Aaahh iya juga, kalau aku menginap disana pasti identitasku akan ketahuan oleh warga disini, dan juga didalam sana kami pasti diintograsi tujuan apa kami melakukan perjalanan ini, sementara saat ini ibu kota masih dalam keadaan genting..." ucap hatiku bimbang.
"Gimana nak...??? Kenapa kalian hanya melamun saja...???" ucap kakek itu lagi.
"Eee baik kek, kami menginap disini saja, sekalian kami bisa lebih banyak mendengar cerita dari kakek, sekalian kami memang suka yang gratis-gratis kek hehee..." jawabku nyleneh.
Paginya saat matahari memancarkan sinar jingganya yang menyinari dedaunan dan menghangatkan suasana di pagi ini setelah diguyur hujan semalam.
Aku dan Wingsang sudah terbangun dan sarapan dengan menu khas masakan kakek yang baik hati.
"Baik kek maturmuwun atas tumpangannya pada kami, kami sangat berhutang budi pada kakek..." ucap wingsang pamit.
"Hahaha.. tak mengapa nak, aku malah senang bisa mengenal kalian...
Lanjutkanlah perjalanannya, semoga perjalanan kalian menyenangkan...
Oiya untuk ke kota Surabaya silahkan mengikuti jalan ini saja, karena jalan ini merupakan jalan raya utama yang jalurnya mengikuti alur pinggir sungai Brantas yang akhirnya akan menuju pelabuhan Surabaya..."
"Baik kek makasih banyak... hia, hia, hiaaaa..." aku dan Sahabatku Wingsang Geni kembali memacu kuda dengan semangatnya.
***
Pagi itu setelah sarapan dan pamit pada kakek pemilik warung kami berdua melanjutkan perjalanan mengikuti jalan berbatu yang menjulur dari ujung selatan ke ujung utara, mengikuti kelok alur sungai Brantas, jalan ini jalan terbesar yang menghubungkan ibu kota Trowulan dengan pelabuhan terbesar yang terletak di pesisir Surabaya.
Hutan dan ladang pertanian kami lewati silih berganti, jika malam kami harus menginap di rumah warga kadang jika kemalaman di hutan kami harus tidur dengan bivak seadanya.
Sesekali kami menjumpai rombongan para saudagar yang membawa barang dagangan seperti kain sutra, tembikar dan barang-barang dagangan lain yang diangkut dengan pedati, menuju ibukota Trowulan.
Sementara banyak juga hasil pertanian dan rempah-rempah yang diangkut menuju pelabuhan untuk dijual ke negeri seberang.
Karena pada masa ini, Majapahit sebenarnya masih dalam masa keemasan. Sepanjang perjalanan sering aku jumpai warga dengan wajah yang sempringah dan bersinar menandakan era kemakmuran di negeri Majapahit.
***
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di kota terbesar kedua di negeri Majapahit, yaitu Surabaya, kota di pesisir utara dengan pelabuhan terbesarnya, hiruk-pikuk perdagangan yang terkenal hingga ke belahan bumi yang lain.
Kota yang terkenal akan keberaniannya melawan bahaya, dan juga kota bersejarah tentang berdirinya kerajaan Majapahit itu sendiri.
Yaa, di kota inilah dahulu para leluhur Majapahit berperang mempertaruhkan nyawanya mengusir pasukan Tar-Tar dari Mongol yang berhasil dipukul mundur oleh Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan Majapahit.
Bahkan hingga kini hari bersejarah itu ditetapkan sebagai hari jadi kota Surabaya (31 mei 1293).
Pasukan Mongol utusan Kubilai Khan itu yang datang dari laut digambarkan sebagai SURO (ikan hiu/berani) sementara pasukan Raden Wijaya dari darat digambarkan Boyo (buaya/bahaya) yang digabung menjadi Suroboyo atau dengan kata lain mengandung arti berani menghadapi bahaya.
"Inilah Surabaya Sena, kota dengan seribu pesona dan sejarahnya...
Selamat datang di kota kebanggan kita Sena..." ucap Wingsang padaku tepat di pintu gerbang kota Surabaya.
"Yaa, aku sangat senang berada disini Wingsang...
Kita bisa bebas menjelajahi kota ini tanpa dibebankan tugas negara... hhahaha..." ucapku dengan wajah sempringah sambil memacu kuda memasuki kota Surabaya.
"Tapi ingat kawan, ada tugas besar di pundak kita untuk secepatnya mengantar surat wasiat ke negeri Sunda Galuh..." teriak Wingsang sambil memacu kuda mengejar aku.
"Hahahaa, tapi setidaknya kita bisa sekedar santai menikmati perjalanan ini kawan... hia, hia, hiaaa..." ucapku lagi sambi memacu kuda lebih kencang.
Rasanya bisa senang bisa mengilingi dan mengenal lebih dekat dengan kota ini, di sini serasa berada di daerah lain seperti bukan di negeri Majapahit, rumah-rumah dan bangunan disini tak semuanya berbentuk joglo, banyak rumah yang dibangun menyerupai adat dan khas daerah asalnya dari pemiliknya. Karena di kota ini sudah sangat homogen penduduknya, mulai dari kerajaan-kerajaan sekitar bahkan sampai dari benua yang berbeda. Banyak pendatang-pendatang dari India, Arab, China bahkan Madagaskar dan Afrika yang menetap dan membentuk suatu komunitas disini. Namun semua hidup rukun harmoni dan selaras dengan budaya Majapahit.
Di kota ini aku juga merasakan nuansa yang sudah lama aku tak merasakannya lagi, yaa suara adzan yang berkumandang mengingatkanku pada zamanku, dimana Islam sudah menjadi agama mayoritas di nusantara ini. Tapi disini di zaman ini aku mulai merasakan kehadiran ajaran ini sudah mulai mewarnai kehidupan di bumi nusantara.
Yaa Islam dimasa ini sudah mulai berkembang di pesisir dan mulai menyebar ke bagian hulu. Di Surabaya ini nuansa islami sudah mulai kental mewarnai sendi-sendi kehidupan kota.
Hampir 60% penduduk Surabaya beragama Islam. Karena di sini selain penduduk lokal, banyak pendatang dari Arab, China, India yang mayoritas membawa dan mengajarkan agama Islam.
Dan keberadaan ini bukan tidak diketahui oleh petinggi kerajaan, namun memang konsep Majaphit dan leluhur masyarakat Jawa yang pada umumnya lebih terbuka dan menjunjung tinggi sikap toleransi.
****
Setelah berjalan menyusuri keramaian kota, akhirnya aku dan Wingsang sampai di pesisir pantai.
"Aaahh rasanya senang sekali bisa melihat pantai, udara yang semilir ini mendamaikan hati rasanya Wing..." ucapku pada Wingsang sambil menatap ke arah laut lepas dengan rambut panjangku melambai-lambai tertiup angin.
"Yaa, sebagai abdi dalem kita memang jarang ditugaskan keluar ibu kota, jadi pamandangan pantai seperti ini rasanya sangat menyenangkan..." jawab Wingsang sambil menuntun kudanya berjalan ditepi pantai.
"Oh iyaa Wing, ayo kita kesana karena kita sudah cukup lama bersantai-santai disini..." ajakku pada Wingsang sambil menunjuk arah Pelabuhan.
"Baiklah ayo kita kesana..." jawab Wingsang bersemangat.
Dan kami pun kembali memacu kuda menuju dermaga pelabuhan melewati tepian pantai. Nampak juga dari kejauhan para kapal-kapal Besar yang lalu-lalang di laut lepas. Di pelabuhan juga nampak kapal-kapak yang sedang bersandar bongkar-muat barang-barang dagangan.
"Inilah pelabuhan Surabaya Sena... pelabuhan paling ramai senusantara... disinilah pintu gerbang Majapahit dengan dunia luar..." jelas Wingsang dengan wajah berbinar.
"Yaa, dari sinilah Majapahit melebarkan sayapnya hingga seantero Nusantara..." akupun mengiyakan.
Pelabuhan ini sangatlah luas, banyak dermaga dengan kesibukan yang berbeda-beda. Ada dermaga khusus untuk kapal dagang Nusantara, ada dermaga khusus untuk kapal dagang antar benua, ada dermaga untuk angkutan orang yang ingin berlayar, bahkan ada dermaga khusus untuk kapal kerajaan yang siap untuk mengangkut pasukan perang.
"Ayoo Sena kita segera cari kapal yang siap mengantar kita berlayar ke kerajaan Sunda Galuh..." Wingsang mengajakku mencari kapal.
"Tapi tunggu dulu Wing, apa kita harus menempuh jalur laut...???
Apa gak bisa perjalanan ini ditempuh lewat jalur darat saja...???" tanyaku menolak.
"Jalur laut jauh menghemat energi, waktu dan biaya Sena...
Sebagai prajurit, menghemat energi jauh lebih penting dari pada memilih jalur lain yang belum tentu hasilnya dan penuh resiko.. karena dalam perjalaanan ini, kita tidak tau bagaimana sambutan kerajaan Pasundan nanti, apakah mereka bisa menerima kita ataukah perang yang mereka tabuhkan untuk kita...
Jadi dalam hal ini menghemat energi jauh lebih baik..." Wingsang mencoba menjelaskan.
"Tapi coba banyangkan, apa gunanya kakek Sasora memberi kita kuda ini, apa gunanya kakek Sasora memberikan kita keris untuk senjata, apa gunanya kakek memberikan kita uang yang cukup banyak kalo toh kita hanya diam sambil bersantai di dalam kapal...???
Apapun resiko diperjalanan nanti, baik itu rampok, penguasa lokal, bahkan sungai besar tanpa jembatan pun aku siap menghadapi... karena hakekatnya perjalanan ini perjalanan pengembaraan..." aku menjelaskan dengan nada tegas.
"Baik kalau itu maumu Sena, aku sebagai sahabat dan orang yang ditugaskan kakek Sasora untuk mendampingimu, siap untuk selalu ada dalam perjalananmu..." jawab Wingsang sembari menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan ini lewat jalur darat, kita susuri jalan besar ataupun jalan setapak, kita seberangi sungai walau tanpa jembatan, kita hadapi aral yang melintang, kita tunaikan tugas kita hingga di negeri Sunda Galuh...!!!
Percayalah, dari perjalanan ini kita akan menemukan pembelajaran hidup yang lebih berarti...
Rawe rawe rantas, malang malang putung...!!!!" ucapku penuh semangat.
Tak perlu menunggu lama, aku dan sahabatku Wingsanggeni memacu kudanya dengan semangat untuk menelusuri jengkal demi jengkal tanah Jawa menuju negeri Sunda Galuh.
****
Yaa, ini adalah petualnganku, inilah cerita hidupku...
Akan aku isi cerita ini dengan indah dan berarti...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan...
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Episode 4 sampai 7 menceritakan tentang sejarah berdirinya kota-kota di Jawa,
Jika ingin melewati sejarah dan kisah perjalanannya silahkan klik langsung ke inti cerita di episode 8 KLIK DISINI
Waktu hari minggu kemarin (28/8) saat menghadiri pesta resepsi pernikahan salah satu team work Batik Binzah, lokasinya ada di daerah Tenjo kabupaten Bogor. Dalam benak saya setelah itu saya mau kemana...???
Setelah tanya kiri-kanan termasuk tanya sama mbah google akhirnya ketemu jawabannya, yaitu tak jauh dari daerah Tenjo terdapat lokasi wisata yang masih cukup baru yang masih ngehits dikalangan para pemburu spot berselfie-selfie ria. Yaa, lokasi tepatnya ada di kampung Cigaru, Desa Cisoka, kecamatan Cisoka, kabupaten Tanggerang.
Oke saya disini tidak mau membahas tentang acara resepsi dari team kami tersebut, tapi ingin mengulas lebih dalam dan lebih mengeksplore Danau yang airnya konon berwarna biru dan kadang bisa berubah-ubah warnanya itu.
Untuk bisa mencapai ke lokasi wisata Telaga Biru Cisoka atau sering disebut Danau Biru Cigaru (karena letaknya di kampung Cigaru), dari Jakarta lebih mudah ditempuh menggunakan angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi, karena jika menggunakan kendaraan pribadi tentunya akan memakan waktu dan energi lebih, selain macet jarak dari Jakarta ke Cisoka akan melewati jalur yang panjang, berbeda dengan menggunakan transportasi kereta api.
Dan sebagai backpacker saya akan membahas transportasi dengan angkutan umum.
Pertama-tama dari Jakarta kita menuju stasiun terdekat untuk membeli tiket KRL dengan tarif Rp 4.000,- jurusan stasiun Tigaraksa, Tanggerang.
Kerena tempat tinggal saya di Kebayoran Lama jadi saya memulai start perjalanan dari stasiun Kebayoran Lama, dari sini perjalanan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan kereta.
![]() |
| Harga tiket KRL hanya Rp 4.000,- |
![]() |
| Sebelum berangkat selfie-selfie dulu. |
![]() |
| Kita turun di stasiun Tigaraksa , Tanggerang. |
Setalah sampai di stasiun Tigaraksa kita bisa istirahat dulu di depan stasiun untuk sekedar bersantai ria sambil mencari informasi atau pun sekedar untuk mengisi perut sambil wisata kuliner, karena di depan stasiun ini banyak terdapat warung makan dan pedagang makanan gerobak.
Setelah itu kita bisa meneruskan perjalanan dengan naik angkot dengan tujuan pertigaan gang SMA N 08 Cisoka.
Untuk menuju pangkalan angkot, dari stasiun kita ke kiri jalan kaki sekitar 300m. Ketemu pertigaan belok kanan dikit, lokasipangkalan angkot tersebut ada di depan Indomaret. Atau tanya pada orang disana tempat dimana angkot itu mangkal.
Setelah naik angkot sekitar 30 menit kita akan sampai di gang SMA N 08 Cisoka, dari sini kita bisa naik ojek atau berjalan kaki (kalau jalan kaki mungkin akan memakan waktu sekitar 20 menit).
Karena waktu itu sopir angkotnya menawarkan diri untuk mengantar masuk sampai di depan gerbang lokasi wisata dan mau menunggu saya untuk mengantar sampai kembali ke stasiun lagi, setelah saya pikir-pikir ulang mengingat saya mengajak anak kecil dan hari menjelang sore (sekitar jam 3 sore) apalagi waktu itu langit agak mendung, jadi tawaran itu saya terima dan deal dengan harga Rp 65.000,- jadi kalo PP kena Rp 130.000,-
Lumayan sar-serlah sama naik ojek biayanya gak beda jauh, apalagi ditunggiun sampai jam 5 sore. Pokoknya serasa kaya' punya sopir pribadi dehh, hahaa...
![]() |
| Jalan kaki dikit biar sehat, didepan sudah keliatan kok tempat wisatanya... |
Sekedar tips, kalau naik ojek atau carter angkot sebaiknya turun sebelum gerbang wisata, karena jika jalan kaki kita tidak dipungut biaya tiket masuk. Karena para penjaga tiket hanya akan meminta restribusi pada para pengendara motor ataupun mobil saja.
Setelah berjalan sekitar 200m dari gerbang, kita akan sampai di Telaga Biru Cigaru. Disini kita akan disuguhi pemandangan danau yang katanya bekas penambangan pasir dengan air yang berwarna biru jernih. Konon katanya air disini bisa berubah-ubah warnanya sesuai keadaan cuaca, kalau pas panas terik airnya akan nampak lebih biru cerah dan terlihat dasar pasirnya yg putih, tapi kalau pas sore atau mendung gini airnya agak biru tua.
![]() |
| Ini dia Danau Biru Cisoka. |
![]() |
| Airnya nampak biru, apalagi kalau pas terik matahari, katanya warnanya akan lebih nyala biru. |
![]() |
| Jangan lupa selfie di Danau Biru. |
Di lokasi wisata ini terdapat dua danau, yang disebelah kanan airnya cenderung biru, namun yang disebelah kiri airnya cenderung kehijau-hijauan dan lebih luas. Walaupun airnya tak sebiru danau disebelahnya namun pemandangan di danau ini lebih asri karena disekitatnya masih ada pepohonan yang cukup lebat.
![]() |
| Ini dia danau disebelahnya, airnya nampak lebih kehijau-hijauan. |
![]() |
| Airnya berwarna hijau jernih, namun kalau terkena matahari katanya akan nampak lebih hijau. |
![]() |
| Jangan lupa selfie di Danau yang Hijau. |
![]() |
| Disini ada patung badaknya juga... Ini bukan iklan produk larutan lhoo... hehhee... |
![]() |
| Suasananya cukup tenang untuk santai. |
Di danau yang hijau ini juga terdapat perahu kecil yang bisa kita sewa untuk mengelilingi danau dengan tarif Rp 20.000,- dan kita akan diatar mengelilingi danau yang cukup luas dengan nahkodanya yang ramah dan siap menceritakan asal-usul tentang danau tersebut.
![]() |
| Disini ada perahunya juga. |
![]() |
| Bisa untuk praweding juga niihh... Ups, karena sudah terlanjur nikah, jadinya foto pascaweding aja dehh... hehhee... |
![]() |
| Jangan lupa selfie dari belakang biar sopir perahunya bisa ikut eksiZz... hehhee... |
Jika review dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran tentang kondisi disana secara real, silahkan tonton video berikut ini:
KESIMPULAN
Kelebihan:
• Telaga Biru Cisoka tergolong tempat wisata alam baru di daerah Tanggerang, jadi masih tergolong ngehits untuk saat ini, dan wajib kita kunjungi.
• Karena masih baru otomatis keadaannya masih cukup bersih.
• Transportasi menuju lokasi cukup mudah ditempuh dengan angkutan umum.
• Jarak tempuh dari ibu kota tergolong masih sangat dekat dan tidak membutuhkan biaya transport yang tinggi.
• Air danau yang sangat jernih dan keadan alam yang masih asri membuat pengunjung akan betah berlama-lama di danau ini untuk sekedar bersantai atau merefres otak.
• Di lokasi wisata banyak terdapat warung-warung kecil sehingga kita tidak perlu kuatir masalah makan atau jajan.
• Tarif masuk yang relatif murah, bahkan gratis jika kita tidak membawa kendaraan pribadi.
Kekurangan:
• Masih minimnya sarana dan prasarana pendukung seperti pembatas tebing, toilet, gardu pandang, tempat sampah dan area parkir yang memadai.
• Belum dikelola secara baik oleh pemerintah jadi terkesan hanya tempat wisata lokal yang dikelola oleh warga setempat.
• Untuk menjaga kejernihan air, disini dilarang mandi dan berenang di danau, jadi wisatawan hanya bisa menikmati pemandangannya saja. Walaupun katanya ada wacana untuk membangun kolam renang dan oemandian disini namun saat ini kita tidak bisa menikmati kejernihan air tersebut untuk berenang.
• Warung-warung kecil yang berjualan disekitar danau belum ditata rapih sehingga terkesan kumuh dan berantakan.
Mungkin ini saja yang bisa saya review tentang perjalanan saya kemarin ke Telaga Biru Cisoka.
Semoga artikel ini bermanfaat dan memberi gambaran tentang keadaan disana buat teman-teman yang ingin bertualang ke Telaga Biru Cisoka.
Selamat bertualang...
Salam lestari dari saya, Ahmad Pajali Binzah.
****************************************
****************************************
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung

























































