Dulu jika mendengar kata "Wisata Pekalongan" mungkin yang terbesit dalam pikiran kita hanya wisata pantai, wisata Linggo Asri dan satu lagi wisata kulinernya.
Tapi lima tahun belakangan ini, muncul destinasi wisata dan tempat-tempat wisata baru. Mulai dari Petungkriyono yang mulai bebenah dengan destinasi wisata alamnya, mulai dari curug, wisata pendakian, kebun stroberi, river tubing, hingga kopi Owa Jawa yang terus dieksplore hingga mendongkrak nama Pekalongan.
Begitu juga dengan tempat-tempat lain seperti Lebak Barang, Kandang Serang, Talun, Lolong DLL.
Dan akhir-akhir ini, kurang lebih satu tahun belakangan, muncullah nama baru di dunia pariwisata Pekalongan, kini mulai populer nama desa Lemahabang, kecamatan Doro. Setidaknya ada dua lokasi wisata baru di Lemahabang ini, yakni Watu Bahan dan curug Madu Resmi.
Dan disini saya akan mencoba mereview lokasi wisata tersebut.
Oke kita mulai reviewnya.
Diantara dua lokasi wisata baru tersebut, kali ini saya lebih fokus untuk membahas wisata Watu Bahan. (Untuk curug Madu akan saya ulas di lain artikel)
Pertama-tama untuk mencapai desa Lemahabang, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi, dari pasar Doro kita belok ke kanan menuju arah Karanganyar, sekitar 200 meter dari pasar, setelah melewati jembatan, kita akan bertemu pertigaan, kita ambil kiri menuju ke arah selatan. Kita lurus saja terus sekitar 5km, hingga bertemu pertigaan Lemahabang.
Jika kita pengguna transportasi umum, dari Kota Pekalongan cukup naik bus jurusan pasar Doro, lalu dilanjut naik ojek ke desa Lemahabang.
Karena rumah saya berada di Desa Jrebeng Kembang kec. Karangdadap, tepatnya di dukuh Kedolon, jadi untuk perjalanan kali ini saya lebih memilih menggunakan sepeda motor karena lebih praktis dan ekonomis.
Oke kita lanjut reviewnya,
Jika telah sampai di pasar Doro, tujuan utama kita adalah ke desa Lemahabang.
Dan setelah berkendara sekitar 15 menit dari pasar Doro, kita akan sampai di pertigaan Lemahabang, di pertigaan ini jika kita akan menuju Watu Bahan kita ambil kanan, namun jika curug Madu yang kita tuju kita ambil kearah kiri.
Atau kita bisa mampir dulu di rumahnya mas Alam Kartika Milana yang berada tepat di pertigaan Lemahabang, karena rumahnya mas Alam tersebut juga dijadikan sebagai pusat informasi wisata Lemahabang.
Dan pengalaman saya mampir di rumah mas Alam ini, penyambutan sangat ramah, bahkan dia bersedia menjelaskan dan mengantar saya jalan-jalan ke semua spot menarik di desa Lemahabang ini.
![]() |
| Saya (jaket orange) mas Alam (kaos putih) Antok (jaket abu) sedang berpose didepan pusat informasi wisata Lemahabang yang rumahnya terletak tepat di pertigaan. |
Oke, berhubung kali ini saya akan mereview wisata Watu Bahan, jadi perjalanan dilanjutkan lurus mengikuti plang petunjuk arah, dari pertigaan ini akan menempuh jarak sekitar 3km dengan jalan aspal mulus, namun sekitar 1km sebelum lokasi wisata, kondisi jalan belum beraspal masih jalan batu.
![]() |
| Plang petunjuk arah, nampak jalan masih berbatu |
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3km dengan kondisi jalan yang cukup menantang, dan memakan waktu sekitar 10 menit, akhirnya kita akan sampai di area wisata Watu Bahan adventure dengan membayar retribusi sebesar Rp 5.000,- dan biaya parkir Rp 2.000,-
Disini tempatnya sangat asri dan sejuk, letaknya di lembahan yang diapit dua punggungan dengan hutan yang masih alami, disebelah barat parkiran juga terdapat pohon selfie yang berdiri dipinggir sungai yang airnya sangat jernih.
Dilokasi ini juga terdapat deretan warung makan, mushola, area parkir yang sangat luas, ada juga wahana flaying fox. Bahkan komunitas-komunitas tertentu sering mengadakan acara disini, seperti jambore, camping, dan acara motor trail.
![]() |
| Area parkir |
![]() |
| Plang petunjuk arah ke parkiran |
![]() |
| Jembatan menuju pohon selfie |
![]() |
| Duduk santai di pohon selfie sembari menikmati gemericik aliran sungai. |
![]() |
| Jangan lupa ngupi... |
Setelah istirahat dan bersantai-santai ria sambil menikmati kopi, perjalanan kembali dilanjutkan menuju lokasi Watu Bahan.
Dari area parkir menyeberang jalan menuju ke timur mengikuti plang petunjuk arah. Perjalanan menanjak mengikuti trek yang sudah tertata rapi. Di sepanjang jalur kita juga bisa menemukan spot-spot menarik untuk sekadar bersantai atau berfoto-foto ria.
![]() |
| Trek menuju lokasi Watu Bahan |
![]() |
| Di sepanjang jalur banyak tempat duduk untuk sekedar istirahat atau menikmati pemandangan. |
![]() |
| Sebelum sampai di Watu Bahan, disini juga terdapat Tambi Cinta, yakni pohon dengan akar yang unik. |
Setelah berjalan menanjak selama sekitar lima menit, kita akan sampai di lokasi yang sangat fenomenal ini, yaitu jejeran balok-balok batu besar yang tertata rapi hingga tinggi menjulang. Sesaat seketika sampai disini, kita akan langsung takjub disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa ini.
![]() |
| Selamat datang di Watu Bahan. |
![]() |
| Saya sedang mengamati Watu Bahan. |
![]() |
| Sahabat saya sedang terheran-heran, hahaa... |
Deretan balok batu ini jumlahnya sangat banyak, mungkin jika digali lebih dalam lagi tentunya kita akan menemukan deretan balok batu yang jumlahnya jauh lebih banyak. Mungkin juga seluruh bukit ini adalah terdiri dari ribuan balok batu yang membentuk struktur bukit, dan tentunya masih dibutuhkan peran pemerintah daerah dalam mengeksplorasi kawasan ini untuk mengungkap misteri Watu Bahan agar sumber daya yang dimiliki di desa Lemahabang ini bisa mengangkat citra kabupaten Pekalongan dalam dunia pariwisata maupun sejarah ilmu pengetahuan.
Oke kembali ke topik, setelah kita sampai di lokasi Watu Bahan, kita bisa berjalan mengitari lokasi balok-balok batu sambil mengamati fenomena alam ini.
Disini kita boleh berfoto, memegang atau sekedar mengamati batuan tersebut, namun dilarang keras mencoret-coret, naik ke bagian batu atau berusaha mengubah posisi struktur batuan.
Oiya, setelah berjalan mengitari lokasi Watu Bahan, disini juga terdapat pohon selfie yang dapat digunakan untuk bersantai menikmati pemandangan atau sekedar berfoto-foto ria.
![]() |
| Pohon selfie, cocok untuk yang gemar fotografi. |
![]() |
| Saya lagi belajar memotret. Hahaa... |
![]() |
| Santai sejenak |
![]() |
| Deretan Watu Bahan |
Oiya, mengenai berbagai macam pendapat tentang Watu Bahan ini, banyak cerita atau versi yang berkembang di kalangan masyarakat luas.
Banyak yang berpendapat bahwa Watu Bahan tersebut merupakan bakal bahan untuk membuat bangunan masjid, ada pula yang mengatakan bahwa itu merupakan candi peninggalan Mataram kuno, ada pula yang berpendapat bahwa itu ada kaitannya dengan situs Gunung Padang di Jawa Barat.
Dan ada pula yang menghubung-hubungkan dengan hal mistis yang mengatakan tempat ini merupakan portal menuju ke dimensi dunia lain.
Yang seakan informasi tersebut mendahului hasil penelitian secara ilmiah dan justru akan menyesatkan pola pikir masyarakat luas.
Karena perlu diketahui, jenis batuan yang membentuk balok-balok batu tersebut merupakan proses alam biasa yang terbentuk oleh proses geologi (yang sering disebut Columnar Join), dimana hal tersebut juga terjadi di berbagai wilayah di belahan bumi ini.
Berikut saya lampirkan foto-foto serupa yang saya ambil dari google:
Tetapi jika dibandingkan dengan situs Gunung Padang di Jawa Barat, memang ada beberapa kesamaan, diantaranya jenis batuan alam yang serupa. Namun pertanyaannya sekarang, apakah situs Watu Bahan ini ada campur tangan peradaban manusia seperti yang terjadi di situs Gunung Padang...???
Seperti yang kita ketahui, situs Gunung Padang adalah bangunan punden berundak yang terbuat dari balok-balok batu vulkanik yang terbentuk oleh proses alam namun telah disusun oleh peradaban manusia di masa lampau.
Sementara di Watu Bahan ini, perlu kajian penelitian lebih lanjut, apakah bentuk strukturnya terjadi secara alami atau ditata oleh tangan-tangan peradaban manusia.
Biarlah pemerintah sebagai pihak yang berwenang bersama team arkeolog untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Agar misteri keberadaan batuan tersebut terungkap lebih jelas.
![]() |
| Situs GUNUNG PADANG saat saya mereview perjalanan kesana |
![]() |
| Sketsa Gunung Padang. |
Namun apapun itu, bagi kita-kita yang hobi traveling atau sekedar jalan-jalan mencari spot fotografi terbaik, melancong kesini dijamin punya kesan tersendiri dan sangat menyenangkan.
KESIMPULAN
Kelebihan:
● lokasi wisata ini cenderung masih baru, otomatis masih ngehits dan wajib dikunjungi.● lokasinya yang masih asri dan adem membuat suasana menjadi sangat menyenangkan.
● tiket masuk yang relatif masih terjangkau dan fasilitas yang sudah sangat memenuhi standar, mulai dari area parkir, camping ground, mushola, toilet, pohon selfie, deretan warung makan, jalur yang sudah tertata rapi, dll.
● harga makanan di warung sekitar lokasi masih sangat wajar, jadi jangan ragu-ragu mampir ke warung untuk sekedar menikmati secangkir kopi atau gorengan yang tersaji hangat.
● trek dari parkiran ke lokasi Watu Bahan yang relatif dekat hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit membuat tempat wisata ini bisa dikunjungi bersama keluarga, dan bisa mengajak balita.
● disepanjang jalur banyak lokasi untuk berselfie-selfie ria, jadi buat yang suka narsis disini surganya.
Kekurangan
● akses jalan menuju lokasi wisata ini masih perlu diperhatikan oleh pemerintah, karena bagaimanapun juga kondisi akses jalan sangat mempengaruhi minat seseorang untuk datang ke suatu tempat.
● di sekitar Watu Bahan belum ada gazebo atau gardu untuk berteduh. Jadi jika hujan tiba-tiba datang pengunjung akan berlarian menuruni jalur menuju parkiran, dan ini sangat berbahaya dan mengurangi kenyamanan.
Untuk lebih jelasanya silahkan tonton video saya berikut ini:
Demikianlah review perjalanan saya ke lokasi wisata Watu Bahan, Lemahabang, Doro. Semoga membantu bagi teman-teman yang ingin berkunjung kesana.
Semoga bermanfaat, salam traveler mania...
Saya Ahmad Pajali Binzah
*************************************
*************************************
BACA JUGA:
Info Lengkap Curug Blanten, Pekalongan.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
*****
Checklis Perlengkapan Mendaki Gunung
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Semeru via Watu Rejeng turun via Eyek-Eyek
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Perjalanan kali ini masih tentang Petungkriyono. Yaa, karena daerah ini memang menyimpan sejuta pesona dan daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang datang berkunjung ke tempat ini. Terlebih bagi kami yang memang terlahir sebagai warga Pekalongan. Walau sebenarnya Petungkriyono bukan lagi destinasi wisata lokal, namun sudah mencakup sekala nasional.
Oke, gak usah bertele-tele. Mari kita mulai reviewnya untuk membahas tentang wanawisata Curug Lawe di Petungkriyono.
Untuk menuju kawasan ini, terlebih dahulu harus menuju Petungkriyono. Kalau kita dari Pantura (kota Pekalongan) kita menuju ke selatan. Atau baca di artikel saya yang ini: Menjelajahi Petungkriyono, detail demi detail.
![]() |
| Start awal dari rumah saya di desa Jrebeng Kembang, Karangdadap. Memakan waktu sekitar 1jam 30menit perjalanan santai. |
![]() |
| Plang petunjuk arah |
![]() |
| Land mark baru Petungkriyono. |
![]() |
| Saat perjalanan kita akan disuguhi pemandangan sawah dan hutan. |
Setelah perjalanan sekitar satu jam, kita sampai di gerbang curug Lawe yang ada di kanan jalan.
Untuk memasuki kawasan wanawisata ini, kita akan ditarik retribusi sebesar Rp 5.000/orang dan parkir sebesar Rp 2.000/motor. Jadi kalau berboncengan dengan sepeda motor berdua total yang harus dikeluarkan yaitu Rp 12.000,-
Namun harga tiket segitu serasa cukup murah jika dilihat dari pengelolaannya yang cukup baik, karena untuk fasilitas disini cukup lengkap, mulai dari parkir yang adem dan rapi, juga banyak terdapat deretan warung, disini juga terdapat mushola, MCK, camping ground, jalan yang mulai ditata, dan yang terpenting ada tempat yang lagi hits dikalangan anak muda yang suka narsis yaitu pohon selfie.
![]() |
| Gerbang selamat datang curug Lawe. |
![]() |
| Kondisi parkiran. |
![]() |
| Santai sejenak diwarung untuk sekedar menikmati kopi Owa Jawa. |
![]() |
| Menu sederhana namun istimewa. |
![]() |
| Mushola |
![]() |
| Gerbang menuju area camping ground. |
Setelah kita memasuki gerbang dan sejenak bersantai-santai ria di warung untuk sekedar menikmati secangkir kopi "Owa Jawa" yang khas Petungkriyono.
Perjalanan dilanjutkan menuju pohon selfie, berjalan melewati jalan yang cukup lebar sekitar 5 menit.
![]() |
| Kondisi jalan menuju pohon selfie. |
![]() |
| Menikmati pemandangan yang super spektakuler. |
![]() |
| Pas buat santai. |
![]() |
| Sebenernya disini banyak pohon yang telah dipasang papan untuk selfie, namun kami tidak sempat memotret satu persatu. |
![]() |
| Jangan lupa selfie. |
![]() |
| Selfie bareng team. |
Setelah melepas lelah santai sejenak dan berselfie-selfie ria, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi air terjun.
Tetapi bagi kalian yang mempunyai keterbatasan waktu dan fisik yang kurang prima, apalagi mengajak balita dibawah 3 tahun sebaiknya urungkan niat untuk ke lokasi air terjun. Karena selain memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 1 jam 15 menit dari lokasi pohon selfie, juga untuk menuju kesana aksesnya sangat sulit, selain terjal dan naik turun bukit juga melewati hutan belantara dan tebing-tebing licin.
![]() |
| Perhatikan petunjuk arah biar gak kesasar. |
![]() |
| Foto di pos ujung jalan batu, sebelum memasuki jalur setapak. |
![]() |
| Plang petunjuk arah. |
![]() |
| Jalur setapak membelah hutan rimba. |
![]() |
| Melewati tebing yang cukup licin, harap berhati-hati. |
![]() |
| Jangan lupa narsiZz... |
![]() |
| NarsieZz lagii... hahaa... |
Namun setelah pergulatan yang cukup menantang dan memakan waktu lama, akhirnya kita akan sampai di titik tujuan utama, yaitu curug Lawe.
Dan sesampainya disini, semua itu kan terbayar oleh kesejukan dan keindahan yang disajikan curug ini.
Karena disini kita akan terasa berada jauh dari kehidupan kota, apalagi pengunjung yang sampai ke titik ini relatif sedikit. Pengalaman kami kemaren yang notabene hari libur lebaran, sesampainya kami di air terjun tidak ada pengunjung lain, baru setelah 15 menitan ada pengunjung lain yang datang.
So, kalau mau kesini sebaiknya ajak rombongan, minimal 3 orang. Untuk mengantisipasi kesepian dijalan.
![]() |
| Inilah curug Lawe itu. |
![]() |
| Curugnya sangat tinggi. |
KESIMPULAN
Kelebihan:
● lokasi wisata ini masih tergolong baru dan masih alami, jadi udara dan keindahannya masih terjaga.
● harga tiket yang masih tergolong murah dan terjangkau. Cocok bagi wisatawan berkantong pas-pasan.
● fasilitas yang cukup memadai, dan masih dalam proses membangun. Sehingga kenyaman akan masih terus ditingkatkan.
● jarak dari lokasi wisata lain di Petungkriyono relatif dekat, jadi bisa digabung ke lokasi lain untuk satu kali perjalanan.
● bagi pecinta kopi, lidah dan selera kita akan dimanjakan oleh kopi asli Petungkriyono. Yang mempunyai cita rasa khas tersendiri.
● harga makanan di warung yang ada di lokasi pun cenderung murah dan masuk akal. Jadi jangan ragu-ragu untuk mampir ke warung untuk sekedar membeli gorengan dan kopi nikmat.
● kejenihan airnya masih sangat segar dan bersih. Membuat suasana lebih menyenangkan sepanjang perjalanan melipir di sungai.
● jalur relatif aman, banyak petunjuk jalan dan disetiap tebing yang licin telah terpasang tangga dan tali pegangan.
Kekurangan:
● jarak tempuh dari gerbang sampai lokasi air terjun sangatlah jauh. Sehingga bagi yang kebetulan fisiknya kurang prima akan sangat melelahkan.
Saran saya semoga kedepannya motor bisa dibawa masuk hingga mendekati air terjun.
● dari lokasi pohon selfie ke air terjun tidak terdapat gasebo atau gardu, jadi jika terjadi hujan di perjalanan kita tidak bisa berteduh.
Saran saya sebaiknya bawa jas hujan sendiri.
● walau lokasi ini tergolong bersih, tapi di setiap pos-pos tidak menyediakan tong sampah. Hanya kubangan tanah sebagai tempat sampah.
Saran saya jangan buang sampah sembarangan, sampah wajib dibawa kembali.
Dan saran saya untuk mengelola, sebaiknya di titik-titik tertentu disediakan tong sampah, agar kebersihan tetap terjaga.
● kurangnya informasi di lokasi wisata, terbukti waktu saya kembali dari air terjun banyak para pengunjung yang hendak menuju kesana, padahal waktu itu sudah sekitar jam 4 sore. Dan saya sendiri yang menyarankan kepada mereka untuk mengurungkan niatnya karena waktu tidak memungkinkan.
Saran saya sebaiknya kita datang sebelum jam 2 siang. Karena jika kita inginbke lokasi air terjun dibutuhkan minimal 3 jam PP.
Jika sudah terlanjur sore, sebaiknya kita sampai pohon selfie saja.
Dan saran saya kepada pengelola, sebaiknya ditempatkan petugas di pos-pos tertentu untuk memantau dan memberi informasi kepada pengunjung. Jika sudah jam 3 sore sebaiknya jalur menuju air terjun ditutup.
● jalur terlalu ekstrim dan tidak cocok untuk balita.
Saran saya jika membawa balita dibawah 3 tahun sebaiknya jangan ke lokasi aie terjun, cukup di pohon selfie saja.
● lokasi wanawisata ini tergolong susah diakses dengan angkutan umum. Jalurnya juga tidak bisa dilewati bus ukuran besar.
Saran saya sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi.
Penilaian saya pribadi:
Kenyamanan nilai 90
Akses ke lokasi nilai 70
Pelayanan nilai 80
Fasilitas nilai 80
Kesejukan nilai 95
Kejernihan air nilai 100
Debit air nilai 60
Demikian review perjalanan saya ke curug Lawe, Petungkriyono. Semoga dapat membantu bagi teman-teman yang ingin pelancong kesana.
Semoga bermanfaat...
Salam Rimba, Salam Lestari
Saya Ahmad Pajali Binzah
*************************************
*************************************
Kawasan Petungkriyono memang menyimpan sejuta keindahan alam yang mampu membuat hati kita decak kagum saat menikmati keindahannya.
Dan sebenarnya masih banyak spot-spot yang belum terekspos oleh khalayak umum. Salah satunya lokasi yang baru saja kami kunjungi ini. Yaa, masyarakat lokal menyebutnya kedung Sipingit, atau nama populernya adalah black canyon Pekalongan.
Lokasi aliran sungai yang di kiri kanannya terdapat tebing bebatuan hitam dengan air segar yang berwarna hijau kebiruan yang membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona dan ingin lekas menyeburkan diri untuk berenang.
Sebenarnya untuk menikmati destinasi wisata ini sudah ada basecamp wahana petualangan yang memang mengelola secara resmi kawasan kedung Sipingit ini, yaitu "Welo Asri".
Dan saya pribadi menyarankan bagi teman-teman yang ingin berwisata kesini menggunakan jasa Welo Asri, selain sangat safety juga tingkat kenyamanan dan kesenangan kita sangat diutamakan. Karena kita akan diberi peralatan yang lengkap dan dipandu serta didampingi oleh para kru yang profesional.
Namun kita harus merogoh kocek yang lumayan untuk dapat menikmati wahana ini, yaitu sebesar Rp 75.000/orang. Harga yang sesuai untuk sebuah petualangan yang aman dan menyenangkan.
Bagi teman-teman yang berkantong kecak, saya ada opsi lain agar bisa menikmati kesegaran bermain air di Kedung Sipingit ini secara gratiss tiss tiiisss...
Tentunya kita harus menyiapkan fisik dan mental yang prima. Namun sekali lagi saya tetap menyarankan untuk menggunakan jasa "Welo Asri" untuk menjamin keselamatan kita dalam bertualang.
Sekali lagi tips ini hanya untuk kamu-kamu yang memang bermental petualang dan suka bermain dengan resiko.
Oke, kita mulai reviewnya.
Untuk mencapai kedung Sipingit, kita terlebih dahulu menuju ke Petungkriyono tepatnya di desa Kayupuring. Setelah sampai di kawasan ini, kita cari titik yang terdekat dengan aliran sungai, yaitu kita berhenti dan memarkirkan kendaraan kita di sekitar jembatan, Lokasi jembatan letaknya sekitar 500m sebelum basecamp Welo Asri.
Setelah kita parkir kendaraan (pastikan kunci ganda agar lebih aman) kita melipir mengikuti jalan tadi, karena jika kita langsung mengikuti aliran sungai jalurnya sangat terjal dan berbahaya. Jadi sebaiknya kita lewat jalan raya, lalu sekitar 300m berjalan kaki menuju utara, kita akan menemui jalur setapak disebelah kiri jalan. Kita ikuti saja hingga akhirnya kita akan sampai di tepi aliran sungai.
Setelah itu kita ikuti aliran sungai ini menuju keatas (selatan) karena lokasi kedung Sipingit ini berada diatas aliran sungai. Setelah berjalan beberapa saat sampailah kita di lokasi yang kita tuju, Kedung Sipingit, surga tersembunyi di belantara Petungkriyono.
Disini kita tidak menemukan sipapun, disini juga suasana sangat sepi dan sangat asri. karena lokasi ini memang bukan untuk umum, kita bisa berenang dan bermain air sepuasnya, namun kita harus berhati-hati dan tetap mengutamakan faktor keselamatan. Selain arus yang sangat deras juga kedalam air yang sangat dalam. So, buat yang tidak bisa berenang lebih baik main dipinggir-pinggir saja.
Sekali lagi, tips ini hanya untum kamu-kamu yang suka tantangan dan punya jiwa petualang yang tinggi.
Kalau masih ragu lebih baik mundur...
Jangan lupa, jaga keindahan dan kelestarian alam ini, agar generasi penerus kita tetap bisa menikmati keindahan alam yang maha spektakuler ini...
Selamat Bertualang...!!!
Jika review dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran tentang kondisi disana secara real, silahkan tonton video berikut ini:
Alkisah di sebuah pematang sawah ada tambak budidaya ikan, yang sekelilingnya ditentengi tembok tinggi, bahkan warga sekitar pun jarang ada yang berani masuk karena di pintunya dijaga oleh dua orang penjaga. Konon budidaya ikan itu bukan ikan sembarangan, ikan itu adalah ikan naga yang harganya terkenal sangat mahal. Tak heran jika kolam budidaya itu selalu dijaga ketat dan tak semua orang diizinkan masuk.
Namun dari sekian banyak warga kampung yang takut mendekati lokasi itu, justru ada beberapa anak kecil yang sering bermain di kolam budidaya itu, bahkan para penjaga yang terkenal sangat sangar pun membolehkan anak-anak kecil itu bermain ke dalam.
Ternyata tak lain karena di dalam lokasi kolam itu seorang kakek-kakek tua yang bernama pak Karso yang bertugas memberi makan dan merawat ikan-ikan itu sangat akrab dengan anak-anak.
Yaa, karena anak-anak tersebut sering membantu pekerjaan sang kakek dalam memberi makan dan merawat ikan. Dan kakek itu merasa terbantu sekaligus merasa terhibur dengan kehadiran anak-anak yang sering datang sepulang sekolah.
Singkat cerita, saat anak-anak yang sedang asyik bermain di kolam ikan itu, tiba-tiba juragan sang pemilik kolam datang dan langsung memarahi anak-anak itu yang kedapatan sedang bermain di kolam, apalagi anak-anak itu sedang bermain kapal-kapalan yang terbuat dari daun lalu dilepaskan ke air hingga tertiup angin dan akhirnya kandas tenggelam ke dalam kolam.
Melihat itu sang juragan marah besar, karena petak-petak kolamnya kotor oleh sampah-sampah daun. Saking marahnya sang juragan, membuat anak-anak itu langsung kalang-kabut lari meninggalkan lokasi budidaya ikan naga itu. Tak pelak sang penjaga pun kena semprot oleh juragan pemilik kolam.
Bahkan kakek tua sebagai penanggung jawab kalom tak luput dari omelan sang juragan.
"Ternyata ini penyebab kolam-kolamku kotor oleh sampah-sampah itu...!!!???" Sang juragan memarahi kakek penjaga.
Nampak kakek hanya terdiam, bahkan dua penjaga gerbangpun tak sanggup berkata apa-apa lagi. Semua hanya diam ketakutan melihat kemarahan sang pemilik kolam.
"Bukankah pak Karso sudah aku beri tanggung jawab untuk menjaga kolam-kolam ini, kenapa pak Karso izinkan anak-anak kecil itu masuk dan bermain ditempat ini...!!!???" Sang juragan meluapkan kemarahannya.
"Ta ta tapi mereka hanya bermain dan selama ini tidak mengganggu ikan-ikan disini..." jawab kakek terbata-bata.
"Aku tidak peduli apa jawabanmu, yang jelas aku ingin tempat ini steril dari orang-orang luar, paham...!!!???" bentak sang juragan sembari menginggalkan pak Karso.
Saat sebelum pergi sang juragan berhenti tepat didepan dua penjaga gerbang.
"Mulai hari ini, aku tidak mau lagi ada orang lain masuk tanpa seizinku, kalau masih terulang lagi kejadian seperti ini, kalian akan aku pecat...!!!" Gertak sang juragan pada kedua penjaga gerbang sembari melangkah menuju mobilnya.
*******
Seminggu telah berlalu, sang kakek merasa kesepian, yang biasanya jam sepulang sekolah banyak anak-anak kecil yang membantu sekaligus menghiburnya, kini sepanjang hari sang kakek selalu sendiri mengurus ikan-ikan peliharaan. Apalagi jika sang majikan datang sering marah-marah tak jelas, padahal sang kakek sudah bekerja untuknya sudah hampir tujuh tahun lamanya, namun gara-gara hal itu sang juragan menjadi tak ramah lagi. Hingga akhirnya sang kakek memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dan sang juragan pun tak keberatan, justru mengungkapkan bahwa sebenarnya ia sudah berencana memberhentikannya.
"Bagus, justru aku tak repot-repot memecat pak Karso, lagian usia bapak ini sudah tak layak bekerja disini, diluar banyak yang sedang mencari kerja..." ucap sang juragan sombong.
*******
Akhirnya selepas berhenti sebagai penjaga ikan, sang kakek sekarang bekerja sebagai petani yang menggarap pekarangan dibelakang rumahnya sendiri, berbagai tanaman ia tanam seperti jagung, singkong, dan berbagai tanaman sayuran dan juga terdapat sepetak kolam budidaya ikan, berbagai hewan ternak juga ia pelihara seperti ayam, bebek dan kambing, untuk sekedar menyambung hidupnya bersama istri tercinta yang sudah sama-sama renta.
Namun yang membuat sang kakek bahagia setiap menjelang siang sehabis pulang sekolah banyak anak-anak yang datang untuk sekedar bermain dan membantu sang kakek.
Namun yang membuat sang kakek bahagia setiap menjelang siang sehabis pulang sekolah banyak anak-anak yang datang untuk sekedar bermain dan membantu sang kakek.
Kini pekarangan rumahnya menjadi lebih asri dan hijau, kolam ikannya walau bukan ikan mahal karena bibitnya didapat dari pasar dengan harga murah namun ikan tersebut sehat dan berkembang biak. Walau hidup dengan sederhana namun kehidupan kakek jauh lebih baik dan berkecukupan. Apalagi banyak tetangga dan anak-anak yang sering bermain kerumahnya. Sang kakek benar-benar tak merasa kesepian.
Suatu hari, disaat anak-anak sedang asyik bermain tiba-tiba mereka berlarian pergi ketakutan. Sang kakek heran saat ditengok ternyata sang juragan yang dulu datang kerumahnya.
"Ada apa gerangan juragan sudi mampir ke gubukku ini...???" Tanya sang kakek, sembari mempersilahkan sang juragan duduk di bangku kayu di samping pekarangan rumahnya.
"Aku bangkrut pak, semua ikan dalam kolam-kolamku mati satu persatu..." ucap sang juragan mencurahkan kesedihannya pada sang kakek.
Sang kakekpun hanya bisa diam tak tau harus berkata apa-apa lagi.
"Kalau pak Karso sudi, kiranya bapak mau bekerja sama denganku lagi, mau merawat dan menjaga kolam lagi...
Aku janji akan memberi upah yang lebih dan memberikan kebebasan buat pak Karso mengizinkan siapapun masuk ke lokasi kolam..." ucap sang juragan menghiba.
Namun sang kakek tetap diam tak bergeming.
"Aku ingin kita mulai dari awal lagi, seperti dulu pak, karena aku baru sadar semenjak bapak kerja di kolamku, panen ikan terus meningkat...
Namun saat pak Karso berhenti bekerja, lambat laun ikan-ikanku mati satu persatu..." ucap sang juragan terus menghiba.
"Tapi maaf gan, aku sudah nyaman bekerja dirumah, sudah sepantasnya aku pensiun untuk bekerja mencari uang, aku ingin hidup damai bersama warga di kampung ini..." ucap sang kakek menolak halus.
Sesaat suasana nampak hening, semua nampak terdiam tanpa bahasa.
"Baik jika memang itu keputusan pak Karso aku tidak bisa memaksa, tapi jika kiranya sudi, tolong beritahu resep agar ikan-ikan dikolam bisa sehat seperti ikan-ikan pak Karso disini..." ucap sang juragan sembari terkagum dengan ikan piaraan sang kakek.
"Jika ingin tau rahasianya, tanyakan pada anak-anak itu..." sang kakek berucap sembari menunjuk kearah anak-anak yang sedang bermain di kolam miliknya dengan daun yang dilepas tertiup angin sampai ketengah kolam.
"Horeee kapalku yang menang, sudah sampai tengah duluan..." ucap anak-anak sirak sorai bermain kapal-kapalan dikolam ikan.
"Omong kosong, anak-anak kecil itu hanya mengganggu saja..."
Mendengar ucapan pak Karso dan melihat anak-anak kecil yang sedang bermain itu, justru sang juragan kembali marah, tanpa basa basi sang juragan pergi meninggalkan rumah pak Karso.
*****
Yaa, tanpa disadari anak-anak yang sedang bermain kapal-kapalan dengan daun itu adalah rahasia kenapa ikan-ikan itu tumbuh sehat dan mudah berkembang biak, karena daun yang digunakan untuk bermain itu bukan daun biasa, daun itu adalah daun ketapang yang bermanfaat bagi kesehatan dan perkembangan ikan.
Sejak saat itu, daun ketapang dikenal sebagai resep di dunia budidaya ikan.
Karena menurut penelitian di dunia medern saat ini ternyata kandungan zat pada daun Ketapang mampu mebuat ikan sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit, sehingga menjadikan ikan tumbuh dengan kualitas terbaik.
=============SEKIAN=============
Baca juga cerpen tentang petualangan:


































































