Diangkat dari kisah nyata
Penulis: Ahmad Pajali Binzah
Genre: Action - Romance
Pagi itu saat kabut tipis samar-samar masih menyelimuti hamparan sawah, bahkan sinar mentari pun belum mampu mengusir sang embun pagi yang setia membasuh dedaunan sesaat diguyur hujan. Nampak laki-laki tua sedang berjalan tertatih dengan tongkat kayu sebagai penopang langkahnya yang gontai, laki-laki tua itu memakai seragam loreng tentara kebanggaannya.
Dan bukan tanpa alasan laki-laki tua itu melakukan perjalanan sejauh itu, tak lain dan tak bukan dirinya ingin menepati janji yang pernah diucapkannya sewaktu masih muda dulu.
***
Kisah ini berawal sekitar 55 tahun yang lalu, saat sepasang kekasih yang saling mencintai, saling berjanji untuk setia sehidup semati, namun pada akhirnya harus terpisahkan oleh takdir.
Dia adalah Hardi Pramono yang sudah lama menjalin kasih dengan Sumiati gadis desa yang sederhana.
***
Waktu itu saat mereka berboncengan sepeda sepulang sekolah, melewati jalan raya Capgawen yang menghubungkan kecamatan Kedungwuni dan Karangdadap, saat itu jalan masih berbatu dan sepeda adalah transportasi utama, selain delman, becak dan pedati. Banyak juga lalu lalang pejalan kaki. Kadang sesekali ada mobil yang lewat itu pun hanya orang-orang tertentu yang mengendarai. Begitulah sekilas gambaran tentang kabupaten Pekalongan pada tahun 1960an.
Saat Pramono mengayuh sepedanya, tiba-tiba langit mendung menghitam,
"Jedeerr.... Deeerrr..." petir menyambar dua kali keras sekali.
Seketika Sumiati langsung memeluk tubuh Pramono dengan eratnya.
Lalu Pramono menghentikan sepedanya di gubuk tua bekas warung yang sudah tak ditempati lagi.
"Mas Pram aku takut sekali mas..." ucap Sumiati menggigil sembari memeluk erat kekasihnya.
"Jangan takut Sum, selama masih ada aku kamu akan baik-baik aja..." ucap Pramono menenangkan.
Sumiati pun merasakan ketenangan berada di dekapan tubuh Pramono.
"Tapi mas, aku takut kalo suatu saat nanti kita gak bisa bersama-sama lagi, aku takut kamu ninggalin aku mas..." ucap Sumiati dengan nada sedih.
"Percayalah Sum, itu gak akan terjadi, aku gak akan pernah ninggalin kamu...
Apapun yang terjadi aku akan berjuang mati-matian untuk kamu, tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiranku untuk meninggalkanmu...
Bukankah kamu tau, betapa aku sangat menyayangimu, bahkan jauh-jauh hari sebelum kamu menyayangiku...???
Ingat Sum, namaku Hardi Pramono, orang yang akan selalu mencintaimu seumur hidupku...
Lihatlah Sum, langit disana yang mulai gelap itu, tak sedikitku menggetarkan rasa tukutku...
ucap Pramono dengan nada yang optimis, lalu memeluk Sumiati dengan lembutnya.
"Apakah yang kamu ucapkan itu serius mas...???" tanya Sumiati lirih dengan tubuh yang masih memeluk Pramono.
Seketika Pramono melepaskan pelukan nya, dan menatap dalam-dalam mata Sumiati sambil mengangguk pelan.
Lalu Pramono melangkah menuju pematang sawah sambil berteriak.
"Hai langit, dengarlah aku berjanji...
Aku sangat mencintai Sumiati, sangat teramat sangat mencintainya...!!!
Selama aku masih hidup, selama itu pula aku akan berjuang untuknya, apapun yang terjadi aku tak akan pernah menyerah...!!!
Jika Tuhan mendengar janjiku, turunkan hujanmu wahai langit...!!!"
"Jedeerr... Deeerrr...!!!!"
Seketika petir menyambar dua kali keras sekali, dan hujan pun turun dengan derasnya.
Pramono tetap berdiri tenang di tengah sawah, melebarkan kedua tangannya dengan muka menengadah ke atas, sembari tersenyum menikmati tiap tetes air yang turun dari langit.
Lalu Sumiati berlari ke arahnya dan langsung memeluk tubuhnya.
Mereka pun saling berpeluk erat di bawah guyuran sang hujan, menikmati derasnya air yang membasahi tubuh mereka.
"Aku percaya padamu mas, demikian juga aku, aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapan pun..." ucap Sumiati dengan nada haru sembari tetap memeluk erat dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Pramono.
"Air hujan ini menjadi saksi betapa aku sangat menyayangimu Sum, aku berjanji akan berjuang untuk kebahagiaanmu, sampai kita benar-benar bersatu dan menua bersama...
Bahkan sampai salah satu dari kita harus menghembuskan nafas terakhir, entah itu kamu atau aku yang lebih dulu...
Tapi yang jelas saat itulah aku akan berada disampingmu, berpegang erat tangan kita dan saling menatap untuk yang terakhir kalinya..."
Begitulah janji mereka untuk tetap setia sehidup semati.
***
Tiga tahun Kemudian, Juli 1967. Mereka akhirnya lulus sekolah, setelah lulus Sumiati memilih untuk meneruskan pendidikan nya di jurusan keguruan, karena cita-citanya ingin mengabdi pada bangsa untuk menjadi guru, sementara Pramono memutuskan memilih untuk masuk akademi militer, karena ingin meneruskan perjuangan sang ayah yang juga tentara.
Dari sinilah benih-benih perpisahan itu bermula.
"Mas, kenapa kamu tetap ngotot ingin menjadi tentara...???
Kenapa gak bareng aku aja masuk sekolah keguruan...???
Biar kita bisa menjadi guru dan mengabdi untuk bangsa ini bersama-sama...
Bukankah kamu pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku mas...???"
Sumiati berharap kekasihnya mau ikut bersamanya di jurusan keguruan.
"Percayalah Sum, aku tak akan pernah Meninggalkanmu...
Aku memilih jalan ini karena wasiat dari ayahku dulu, sebelum ayah gugur di medan perang melawan penjajah, beliau berpesan pada ibuku agar kelak anaknya bisa meneruskan perjuangannya menjadi seorang tentara...
Bukankah menjadi tentara juga termasuk berbakti pada bangsa dan negara, guru dan tentara adalah profesi yang sama-sama mulia Sum..."
Ucap Pramono meyakinkan kekasihnya sembari memegang kedua tangan Sumiati dan menatapnya dalam.
"Tapi aku gak ingin seperti ibumu yang kehilangan orang yang sangat dicintainya karena berjuang membela negara..." Sumiati menangis lalu memeluk Pramono.
"Heeyy... jangan nangis sayang, sekarang ini kita sudah merdeka lebih dari 20 tahun, gak mungkin penjajah itu datang lagi... jadi jangan khawatir yang berlebihan yaa..." Pramono meyakinkan Sumiati dengan senyum manisnya.
Dibalik penampilan garangnya, Pramono tetap mempunyai sisi wajah yang meneduhkan, hingga setiap kali Sumiati menatap wajah Pramono kegundahan hatinya pun mereda.
***
Waktu berjalan begitu cepat, empat tahun kemudian setelah mereka lulus dan masuk di profesi yang dicita-citakan, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Mereka telah membuktikan, bahwa cinta mampu menyatukan mereka walau sisi pandang mereka jauh berbeda.
Tepat 26 maret 1972 mereka melangsungkan acara pernikahan dengan sederhana.
Dan beberapa bulan kemudian Sumiati pun mengandung anak pertama. Dan setelah lahir anak itu diberi nama Dirga Pranomo. Nama Dirga diambil dari kependekan kata Dirgantara, karena sang ayah berharap kelak anaknya mempunyai jiwa patriotisme yang tinggi.
***
Belum genap anaknya berumur satu tahun, tepat pada tahun 1975, pemerintah Republik Indonesia tengah melakukan operasi militer yang diberi sandi operasi Seroja di Timor Leste, melawan pasukan Fretilin (Front Revolusioner Independen Timor Timur) yang menginginkan kemerdekaannya.
Dan Pramono ditugaskan di daerah konflik tersebut, Timor Leste.
################################
Sebagai catatan:
Sejarah Timor Leste berawal dengan kedatangan orang dari Portugal pada awal abad ke-15 dan menjajahnya pada pertengahan abad itu juga.
Setelah terjadi beberapa bentrokan dengan Belanda, dibuat perjanjian pada 1859 di mana Portugal memberikan bagian barat pulau itu.
Pada tahun 1945 setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Timor Leste bagian timur masih tetap dibawah kekuasaan Portugal, sementara Timor Barat masuk wilayah Indonesia karena bekas jajahan Belanda.
Pada tahun 1975, ketika terjadi Revolusi Bunga di Portugal dan Gubernur terakhir Portugal di Timor Leste, Lemos Pires, tidak mendapatkan jawaban dari Pemerintah Pusat di Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang terjadi perang saudara, maka Lemos Pires memerintahkan untuk menarik tentara Portugis yang sedang bertahan di Timor Leste.
Setelah itu FRETILIN menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 28 November 1975.
Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi kevakuman pemerintahan di Timor Leste, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia).
Tak lama kemudian, kelompok pro-integrasi mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan FRETILIN yang berhaluan Komunis.
Ketika pasukan Indonesia mendarat di Timor Leste pada tanggal 7 Desember 1975, FRETILIN didampingi dengan ribuan rakyat mengungsi ke daerah pegunungan untuk untuk melawan tentara Indonesia. Lebih dari 200.000 orang dari penduduk ini kemudian mati di hutan karena pemboman dari udara oleh militer Indonesia serta ada yang mati karena penyakit dan kelaparan.
Setelah pertempuran sengit yang memakan waktu lama, pada akhirnya Fretelin berhasil dikalahkan. Timor Leste berhasil diambil alih dan namanya diubah menjadi Timor Timur yang menjadi propinsi ke 27 Republik Indonesia.
Namun setelah itu Ftetilin tetap melakukan serangan (dalam skala kecil) terus menerus. Dari yang sebelumnya perang terbuka beralih menjadi perang gerilya.
Hingga akhirnya pada tanggal 30 Agustus 1999 (setelah pemerintahan Soeharto tumbang dan digantikan Bj Habiebie) diadakan lah referendum, di bawah perjanjian yang disponsori oleh PBB antara Indonesia dan Portugal, dan mayoritas penduduk Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia.
Dan setelah itu Timor Leste resmi menjadi negara yang merdeka dan mendeklarasikan Republik Demokratik Timor Leste.
![]() |
| Dikutip dari: https://id.wikipedia.org/ |
################################
Kembali ke cerita:
Setelah pasukan TNI mendarat di kota Dili, Pramono ditugaskan ke lokasi Gunung Matebean, salah satu gunung tertinggi di Tanah Lorosae, Timor Leste, untuk membantu pasukan lain yang nyaris kalah ketika sepertiga dari jumlah pasukan Indonesia tewas.
Karena pasukan Fretilin yang sangat menguasai medan, dan jumlahnya yang lebih besar, pasukan TNI mulai terkepung. Bahkan pasukan yang dipimpin Pramono yang berjumlah 30 personel hanya tinggal tersisa 5 personel saja.
Disuatu malam, saat Pramono dan rekan-rekannya bersembunyi di tengah hutan, saat hendak istirahat ternyata keberadaannya telah diketahui musuh, dan malam itu mereka telah terkepung. Tiba-tiba suara tembakan menghentak memecah kesunyian malam. Puluhan peluru keluar dari moncong senapan musuh, tembakan demi tembakan mengarah padanya. Seakan tak memberi kesempatan pada mereka untuk menyelamatkan diri.
"Deerr...!!! Deerr...!!! Deerr...!!! Boomm....!!!" tembakan dan suara dentuman bom terus bergantian menyerang mereka.
Pramono dan kawan-kawan kocar kacir tak karuan, suasana kacau balau tak beraturan.
"Deerr...!!!" tak disangka satu peluru menembus lengan kiri Pramono.
Ditengah kepanikannya, tanpa pikir panjang Pramono sebagai komandan kompi memberi intruksi kepada anggotanya.
"Haryo, kamu bersama Sutan, Toni dan Ridwan cepat lari ke atas bukit itu, dibalik bukit itu banyak tentara kita... biar aku sendiri menghalau mereka...!!!" perintah Pramono sembari memegang lengan kirinya yang berlumuran darah.
"Tapi Pram...??? Aku gak mungkin ninggalin kamu disini... sangat berbahaya...!!! Kita harus tetap bersatu" jawab Haryo sembari panik. Sementara suara tembakan ke arah mereka terus meledak tanpa henti.
"Justru itu, kalo kita tetap bersama, kita semua akan mati ditangan mereka...!!!
Biar aku yang menghalau mereka, biar aku yang mengecohkan mereka...
Sementara kalian ke atas bukit itu, aku akan mencoba lari ke lembahan ke arah sungai di bawah sana...
Mereka akan mengejarku, sementara kalian naik ke bukit itu jangan menyalakan apapun dan jangan menembak sama sekali, biar jejak kalian tak terlacak...!!!" Pramono menjelaskan tak-tiknya sembari membalas tembakan kearah musuh.
"Deerr...!!! Deerr...!!! Deerr...!!! Boomm....!!!" tembakan dan suara dentuman bom terus bergantian menyerang mereka.
"Ayoo...!!! Serang mereka...!!! Mereka yang menjajah tanah kita, kita harus habisi mereka...!!!" teriak sang komandan pasukan Fretilin dengan bengis.
"Go...!!! Go...!!! Go...!!! Go...!!! Lakukan perintah sesuai tak-tik kita... cepat Haryo cepat...!!!" Pramono terus berteriak.
"Tidak Pram, lebih baik kami mati bersama dari pada membiarkanmu mati dikepung mereka...!!!" jawab Haryo sembari tetap membalas tembakan musuh.
"Bodoh, lebih baik mati satu untuk menyelamatkan yang lain dari pada semua mati sia-sia disini...!!!" jelas Pramono di tengah kepanikan.
"Tapi Pram...!!!???" Haryo memotong pembicaraan.
"Ini perintah...!!! Saya komandan kalian... cepat ikuti perintah...!!!" gertak Pramono.
"Lebih baik kami mati bersamamu Pram, aku bangga bisa mati bersamamu sebagai prajuritmu...!!!" ucap Toni yang sedari tadi fokus membalas tembakan lawan sambil bersembunyi dibalik pohon besar.
Sesaat semua terasa hening, walaupun sebenarnya musuh masih terus menembak dan menyerang. Pramono terharu mendengar ucapan kawan-kawannya yang rela mati bersama. Mereka saling memandang satu sama lain, seakan tak lagi menghiraukan tembakan musuh. Semua seakan siap mati ditempat itu.
"Deerr...!!! Deerr...!!! Deerr...!!! Boomm....!!!" tembakan dan suara dentuman bom terus bergantian menyerang mereka. Namun mereka seakan tak memperdulikannya.
"Tidak kawan, kalian tidak akan mati disini...
Lihat darahku sedari tadi telah tertumpah disini, ini menandan di tanah ini akan menjadi kuburanku...
Kalian harus tetap selamat, sebagai tentara aku bangga jika mati di medan perang..." ucap Pramono penuh semangat juang.
Mendengar itu, mereka seakan tak menghiraukan tembakan dan dentuman yang menyerang mereka, mereka seakan kagum pada sosok Pramono, seorang komandan yang rela mengorbankan jiwanya demi keselamatan prajuritnya.
"Oiya Haryo, jika kamu pulang nanti, titip salam buat istri dan anakku, katakan pada mereka bahwa aku sangat menyayangi mereka...
Jaga mereka baik-baik...!!!" ucap Pramono dengan mata yang berkaca-kaca.
Sesaat Haryo terdiam, dia tak tau apa yang sahabatnya ucapkan, dia hanya merasa itu adalah permintaan terakhirnya, dan tanpa sadar air matanya menetes tak tega meninggalkan sahabatnya harus mati ditempat ini.
Disaat kebekuan itu, tiba-tiba "Booomm...!!!" sebuah granat meledak tepat di dekat mereka.
"Ayoo cepat kalian pergiii...!!!
Go...!!! Go...!!! Go...!!!" teriak Pramono memberi intruksi.
"Tapi Pram...!!!???" jawab Haryo.
"Tidak ada tapi-tapian, aku komandanmu, lakukan perintah cepat...!!! Cepatt...!!!" perintah Pramono membentak. Lalu dia berdiri bergegas lari menuruni lembah sembari menembaki musuh.
"Deerr... deerr... deerr... deerr... deerr... deerr..." Pramono membabi buta memberondong ke arah musuh.
Sementara Haryo dan rekan-rekannya terpaku membisu melihat aksi heroik dari sang komandannya, hingga tak terasa mereka semua meneteskan air mata, lalu mereka berlari ke atas bukit tanpa melepas tembakan satupun. Mereka berlari merunduk menembus semak belukar menerobos pekatnya malam.
Sementara pasukan Fretilin terus mengejar ke arah tembakan Pramono. Mereka mengira musuhnya lari ke lembah. Dan akhirnya Haryo dan ketiga rekannya selamat dari kejaran pasukan musuh. Ini membuktikan strategi Pramono berhasil.
***
Sesampainya di atas bukit, Haryo dan ketiga kawannya istirahat, menyaksikan pasukan Fretilin menyerbu komandannya dengan berondongan peluru dan denduman granat. Mereka berempat menangis haru tak tega membayangkan nasib komandan sekaligus teman seperjuangannya.
"Selamat jalan kawan, kami bangga pernah mengenalmu, kamu adalah perwira tertangguh yang pernah kami kenal, sesungguhnya kamu tidak mati sia-sia..." ucap Haryo lirih sembari menahan tangisnya.
Lalu mereka meneruskan perjalanannya naik turun bukit dengan sikap siaga. Setelah pejalanan lama, menjelang pagi akhirnya mereka sampai di camp pasukan TNI, mereka pun disambut hangat oleh beberapa prajurit di sana, setelah istirahat dan mendapat pertolongan medis, mereka menceritakan kejadian mereka saat dikepung pasukan musuh dan semua yang ada disana tertunduk mendengar cerita heroik sang komandan kompi yang rela mengorbankan jiwa raganya.
"Selamat jalan kawan... semoga kamu tenang di alam sana... pengorbananmu tak akan pernah kami lupakan..." semua pasukan mengheningkan cipta.
Tahun 1976 setelah pertempuran berkecamuk, pasukan TNI kewalahan dan terkepung oleh pasukan Fretilin, atas alasan keamanan camp-camp di daerah pedalaman akhirnya ditarik mundur dan pasukan TNI hanya menguasai pusat-pusat kota, sementara daerah-daerah pedalaman masih dalam kekuasaan Fretilin.
November 1976 beberapa prajurit ditarik mundur untuk dipulangkan, untuk istirahat mengobati trauma setelah berbulan-bulan melakukan pertempuran sengit, dan Haryo juga ikut dipulangkan dalam rombongan itu.
***
Setelah sampai di Jawa dan tiba di maskas besar Yonif 407 Wonopringgo Pekalongan, Haryo langsung bergegas menghampiri rumah Sumiati, untuk menyampaikan kabar tentang suaminya yang gugur di medan perang.
Mendengar kabar itu, Sumiati langsung tersungkur tak kuasa menahan tangisnya. Sumiati berteriak histeris dan tak sadarkan diri.
Inilah alasan kenapa saat lulus sekolah dulu Sumiati melarang kekasihnya menjadi tentara, inilah alasan kenapa dia ingin kekasihnya menjadi guru sepertinya, karena dia benar-benar takut seperti ibunda Pramono yang ditinggal orang yang sangat disayanginya gugur di medan perang. Dan saat ini dia merasakan hal yang sama dengan ibu mertuanya itu.
Namun semua ini sudah terlanjur terjadi.
***
Berhari-hari Sumiati mengurung diri di kamarnya, banyak kerabat, teman dan saudara yang datang menjenguknya, tapi guratan-guratan kesedihan masih menghiasi wajah Sumiati. Kehilangan orang yang sangat disayangi sungguh-sungguh sangat menyiksa batinnya.
Apalagi saat Dirga Pramono buah hati mereka mulai belajar bicara, "papah" ucapan polos dari anaknya sungguh membuat hatinya semakin teriris, bagaimana tidak bocah satu tahun itu mulai belajar bicara dan kata "papah" adalah kata yang sering diucapkannya, sementara sosok yang disebut-sebut sang anak sudah pergi jauh meninggalkan mereka berdua.
Tapi bagaimanapun juga, Dirga satu-satunya yang bisa menghibur saat Sumiati benar-benar merindukan sosok suaminya.
Yaa, cita-citanya hanya satu, mendidik Dirga hingga besar dan menjadi anak yang berbakti pada bangsa dan negaranya seperti yang dicita-citakan suaminya.
***
Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun pun berganti, sebagai wanita normal hari-hari Sumiati merasa kesepian, apalagi setelah Haryo sering datang untuk menjenguk keadaan mereka, karena Haryo juga mendapat wasiat terakhir sahabatnya untuk menjaga Sumiati dan Dirga.
Lambat laun hati Sumiati mulai terbuka untuk memulai lembaran baru, dan Sumiati pun mulai tertarik dengan kebaikan Haryo, apalagi sebenarnya Haryo sedari masih SMA sudah menyimpan rasa cinta pada Sumiati, namun pada waktu itu Sumiati hanya mencintai Pramono.
Mungkin alasan itulah mengapa Haryo sampai saat ini belum menikah.
"Jadi itu alasan kamu sampai sekarang masih melajang mas...???" tanya Sumiati yang mulai akrab dengan Haryo.
"Iya Sum, jujur dari dulu aku sangat sayang sama kamu, tapi aku sadar kapasitasku, aku gak mungkin merebutmu dari Pramono sahabatku sendiri...
Karena bagiku cinta adalah sebuah ketulusan dan keikhlasan..." jawabnya sembari menunduk dengan mata yang berkaca.
"Jika kamu ada hati sedikit saja untukku, aku sangat senang Sum...
Bukan maksud aku lancang, tapi aku benar-benar serius ingin menikah denganmu...
Aku memang tak sehebat dia Sum,
Tapi aku siap menjadi suamimu dan selalu menjagamu Sum..." tambahnya lagi meyakinkan.
"Aku belum bisa mas, aku masih ingin sendiri dulu entah sampai kapan aku tak tau... walau sebenarnya kadang aku merasa kesepian dan butuh sosok pendamping lagi..." ucap Sumiati lembut dengan mata menerawang ke langit.
"Aku ngerti Sum, tapi aku akan menunggumu sampai kapanpun Sum, karena aku benar-benar sayang sama kamu Sum..." jelas Haryo sembari menggenggam tangan Sumiati. Dan Sumiati pun merasakan kehadiran sosok baru dalam hidupnya setelah mengenal lebih dekat dengan Haryo.
***
Beberapa bulan kemudian akhirnya Sumiati memutuskan untuk mau menerima cinta dari Haryo. Dan mereka pun melangsungkan upacara pernikahannya.
Akhirnya hari-hari Sumiati kembali berseri, ada kebahagiaan yang mengisi ruang hatinya, bahkan ternyata Haryo sosok yang sangat baik dan perhatian, dia tak hanya mencintai dirinya tetapi juga menyayangi Dirga anak dari suaminya dahulu. Walau sebenarnya dia takut jika sewaktu-waktu Haryo kembali diterjunkan ke medan perang.
***
Hampir satu tahun telah berlalu, kini Sumiati tengah mengandung anak dari Haryo. Merekapun sangat bahagia dan tengah menyiapkan kehadiran buah hatinya.
Disela-sela kebahagiaannya, suatu hari ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Sumiati pun bergegas membuka pintu, alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu itu, sosok yang selama ini telah dianggapnya telah hilang. Kini hadir kembali di hadapannya.
Yaa, dialah Hardi Pramono suami yang dulu sangat dicintainya kini kembali ada di hadapannya.
Suami yang dianggapnya telah gugur di medan perang ternyata dia masih hidup dan kini hadir di depan matanya.
"Mas Pram...???" ucap Sumiati terkejut luar biasa, antara tidak percaya apakah ini nyata atau hanya fatamorgana, bahagia, takut, canggung, sedih dan haru. Semua campur aduk dalam dirinya.
Sekejap Sumiati ingin memeluknya tapi dia ingat bahwa dia sudah bersuamikan Haryo. Sementara Pramono begitu bahagianya dapat melihat Sumiati kembali dan langsung memeluknya.
Tapi alangkah kagetnya dia, saat mengetahui orang yang dicintainya tengah hamil tua.
"Apa yang terjadi Sum...???" tanya Pramono dengan wajah terheran.
Seketika tangis Sumiati pecah, Sumiati menangis histeris langsung merobohkan tubuhnya, berlutut di hadapan Pramono.
"Maafin aku mas... maafin aku...
Aku mendapat kabar bahwa kamu telah gugur di medan perang, aku sangat sedih mas, aku sangat terpukul...
Hampir dua tahun aku bertahan sendiri berjuangan untuk membesarkan anak kita, tapi bagaimanapun juga anak kita butuh sosok ayah mas...
Hingga akhirnya aku putuskan nenikah lagi dengan Haryo mas...
Maafin aku mas... maafin akuuu...." Sumiati mengangis sesunggukan.
Mendengar itu hati Pramono hancur berkeping-keping, seakan dia juga ingin merobohkan tubuhnya. Namun dengan sekuat tenaga menahan tangisnya. Lalu kedua tangannya memegang bahu Sumiati dan mengajaknya berdiri.
"Kamu tidak bersalah Sum, sama sekali tidak bersalah...
Keadaanlah yang memaksa kita begini..."
Ucap Pramono menenangkan sembari memapah Sumiati masuk dan duduk disofa depan.
Tak berapa lama Haryo datang dari dalam.
"Pramono...???" ucap Haryo terheran dan sangat senang. Lalu ia lari mendekat.
Tapi saat melihat Sumiati menangis sesunggukan, dan menyadari semua yang terjadi lantas Haryo terpaku dan hanya menundukan kepala.
"Maafkan aku Pram..." ucap Haryo menunduk.
"Apanya yang perlu dimaafkan...???
Dalam hal ini tak ada yang bersalah..." jawab Pramono bijak, menyembunyikan kesedihannya, agar terlihat tetap terlihat tegar. Walau sebenarnya dalam hatinya hancur lembur berantakan.
Lalu Pramono mendekat dan memeluk sahabatnya itu.
"Kau tetap sahabatku Haryo, kau yang mampu menjaga Sumiati, tolong bahagiakan dia...
Mungkin kau yang ditakdirkan untuk menjadi penjaga hatinya..." ucap Pramono dengan nada menahan tangis.
Haryo pun tak kuasa menahan tangis.
Sementara Suniati hanya bisa tertunduk menangis di sofa itu.
"Sekali lagi maaf Pram, aku sungguh tak menyangka kamu berhasil selamat dari pertempuran itu..." ucap Haryo terheran.
"Ceritanya panjang Har..." ucap Pramono menunduk, seakan tak mampu membayangkan tragedi yang menimpanya.
Sesaat semua diam, seakan hening memberi jeda bagi mereka.
Lalu Pramono berusaha mengangkat wajahnya berusaha menceritakan kejadian demi kejadian yang dialaminya.
"Begini ceritanya Har..."
Pramono mencoba menceritakan awal trgedi itu.
============BERSAMBUNG=============
Kisah Selanjutnya KLIK DISINI
Sendang Drajat, sumur keramat yang berada dipuncak gunung Lawu itu menjadi awal dari kisah kejadian-kejadian yang akan menimpa Satriyo.
Satriyo, pemuda paruh baya yang sudah tujuh hari berada disekitar sumur Sendang Drajat. Bukan untuk semedi atau ngalap berkah seperti para peziarah-peziarah pada umumnya. Tapi sekedar melepas penat dari hiruk pikuk kehidupan dunia.
Umur satriyo memang sudah tak muda lagi, bulan depan genap 37 tahun. Namun hidupnya sering dihabiskan untuk keluar masuk hutan, bahkan tak jarang dia tinggal di hutan berminggu-minggu lamanya.
Perawakannya yang tinggi proposional, dengan rambut gondrong ikal sebahu, kumis dan bewoknya yang dibiarkan tumbuh liar, tatapan matanya tanjam seperti elang, gaya pakaiannya pun mencerminkan seorang pendaki gunung pada umumnya, selalu mamakai kaos oblong dan celana belel yang membuat penampilannya nampak kumel, namun dengan pembawaan yang tenang, sabar dan berwibawa membuat teman-teman sesama pendaki selalu segan dan menghormatinya.
Turun naik gunung dan keluar masuk hutan sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya, tinggal di daerah-daerah pedalaman pun sudah terbiasa, tak jarang dia mengembara di pedalaman Kalimantan, Sulawesi, Sumatra dll. Tetapi dengan begitu bukan berarti dia tak punya anak istri, bukan pula berarti dia seorang pemalas yang tak punya pekerjaan. Walau penampilannya nampak kumuh dan urakan sebenarnya dia seorang pekerja keras, dia pengusaha yang cukup sukses di daerahnya. Peternakan sapi, butik, konveksi, rumah makan dan pabrik produksi tahu-tempe hanya sebagian dari usahanya, banyak lagi bisnis-bisnis lain yang ia geluti.
Semua bisnisnya dia serahkan pada istri, adik dan saudara-saudaranya, tapi dia selalu rutin memantau setiap perkembangannya, bahkan tak jarang saat salah satu bisnisnya mengalami masalah, dia turun langsung mengambil alih kepemimpinannya. Bisa dipastikan saat dia menangani masalah di bisnisnya baru beberapa hari saja bisnisnya langsung kembali stabil, karena keputusan-keputusannya selalu tepat mengenai sasaran. Begitu pula Satriyo mengatasi masalah pada bisnis-bisnisnya yang lain.
Bahkan dia selalu berkata pada adik-adiknya,
"Jangan kuatir bisnis-bisnis kita akan mengalami kemunduran, selama aku dan generasiku masih ada, maka selama itu pula bisnis kita akan selalu terus maju dan berkembang, karena jiwaku selalu bersama bisnis-bisnis itu...
Dan tugas kalian hanyalah menjalankannya...
Jika ada masalah, segera panggil aku... percayalah masalah itu akan takut melihat kehadiranku..."
Begitulah kata-kata yang selalu ditanamkan pada adik dan saudara-saudaranya
Satriyo memang sosok yang cerdas tapi pakem, dia jarang bicara tapi kecerdasannya sangat luar biasa.
Walau kekayaannya yang melimpah tidak membuat dia sombong atau angkuh, tetapi justru membuatnya lebih bersahaja, dermawan dan rendah hati. Bukan mobil mewah atau pakaian branded yang dia pakai, justru motor butut dan baju-baju kumel yang selalu ia kenakan.
Begitulah sosok Satriyo, sosok pengusaha sukses namun tetap bersahaja. Begitu pula saat dia mendaki gunung Lawu ini, dia hanya mengendarai motor Honda CB100 bersama adik sepupunya yang masih kuliah semester dua, Antok namanya.
***
Dan kali ini sudah tujuh hari dia berkutat di puncak gunung Lawu, mulai dari warung mbok Yem sampai warung pak Prapto ia tinggali. Meraka sudah seperti keluarganya sendiri. Bahkan tak jarang dia menyendiri di petilasan-petilasan yang ada di puncak Lawu ini.
Malam ini saat dia duduk menyendiri mencari ketenangan jiwa di pendopo yang terletak di samping sumur Sendang Drajat yang terkenal keramat itu.
Dengan ditemani segelas kopi dan sebatang rokok yang membuat mulutnya selalu mengebul bak cerobong kereta Tawang Jaya.
Tiba-tiba nuansa mistis begitu terasa, pekatnya malam menambah horor suasana, angin pun bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang seakan berbisik ke telinganya dan berkata,
"Sudah saatnya pulang Satriyo..."
Seketika Satriyo langsung terkejut dan bangun dari lelap lamunannya. Dilihatnya kanan kiri ke semua penjuru Sendang Drajat itu, seakan dia tak percaya atas apa yang dia dengar. Dan sekali lagi angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang seakan berbisik dengan suara mirip nenek tua, jelas sekali.
"Cepatlah pulang nak, aku akan menuntunmu dan menjagamu..."
Seketika Satriyo berdiri, dengan tatapan matanya mencari dari mana asal sosok suara itu. Dan suasana pun menjadi sangat mistis, apalagi aura keramat yang dipancarkan dari sumur Sendang Drajat makin menjadi-jadi.
Tak seperti biasanya, sosok Satriyo yang pemberani kini seperti ketakutan yang sangat-sangat, bahkan untuk memandang kearah Sendang Drajat pun dia tak tak punya nyali.
Satriyo segera bergegas menuju warung pak Prapto yang tak jauh dari situ, dibangunkannya Antok yang sedang tertidur pulas.
"Ayo Tok kita pulang...." ucap Satriyo agak tergesah sambil mengemas baju dan perlengkapannya kedalam rangsel.
"Masa' malem-malem koyo ngene arep bali kang...???" jawab Antok yang masih ngantuk dengan logat bahasa khas Pekalongan.
"Aku ada urusan, dan kita harus segera pulang..." jawabnya lagi sembari merapikan ranselnya.
"Yowes kalo begitu kang, tapi aku mau pipis dulu..." jawab Antok sembil melangkah keluar menuju kamar mandi yang ada di samping warung pak Prapto.
***
Malam itu pula mereka bergegas turun, tak lupa sebelumnya dia pamit dan itung-itungan membayar makanan pada pak Prapto.
Dengan langkah yang lebih cepat dan suasanya yang tak seperti biasa, bau-bau dupa dan kemenyan selalu semerbak sepanjang jalan membuat aura mistis semakin terasa, pancaran sinar rembulan yang mengintip dari sela-sela dedaunan atap hutan semakin membuat suasana semakin terasa angker.
Yaa, tak bisa dipungkiri bahwa gunung Lawu ini masih dianggap sakral oleh masyarakat Jawa, bahkan yang biasanya Antok berjalan di belakang kini dia meminta agar selalu didepan. Mereka berdua terus melangkah turun menyusuri jalur setapak di kegelapan hutan.
Tepat pukul 03.00wib mereka sampai di gapuro basecamp. Suasana yang sebelumnya terasa mencekap kini berubah menjadi tenang. Mereka pun langsung masuk ke basecamp dan istirahat.
Karena saking lelahnya, tak terasa mereka langsung terlelap dalam tidurnya.
***
Dan paginya, tepat pukul 07.00wib mereka terbangun dan bergegas melanjutkan perjalanan pulang.
Tas rengsel pun ditata di belakang motornya dan diikat dengan posisi dibelakang joknya, persis seperti para pemudik yang hendak mudik lebaran.
Setelah semua rapi mereka pun segera memacu motor bututnya dan seperti biasa Antok yang didepan, karena Satriyo lebih senang dibelakang menikmati pemandangan. Hanya sesekali saja saat Antok kelelahan baru Satriyo menggantikannya didepan.
Perjalanan menuruni lereng ke arah barat melewati Tawang Mangu, disinilah mata Satriyo berbinar menikmati jengkal demi jengkal keindahan lereng pegunungan. Dengan pemandangan ladang yang nenghijau juga hutan-hutan yang merimbun
Dan perjalanan terus ke arah barat menuju kota Solo lalu dilanjutkan ke Pekalongan.
Sesampainya di Solo mereka istirahat disekitar keraton untuk mencari makan. Setalah makan mereka istirahat di bawah pohon beringin yang rindang tepat disamping gerbang keraton Surakarta.
"Kang kenapa siih kita semalem terburu-buru turun, tapi setelah turun kita malah santai-santai disini, bukannya tetep tancep gas biar cepat sampai rumah..." tanya Antok heran.
"Hmm... gak ada apa-apa Tok, aku merasa sudah terlalu lama di puncak, jadi pingin segera turun aja... dan kenapa kita istirahat disini, karena perjalanan menggunakan motor itu maksimal 2 jam harus berhenti istirahat... sangat berbahaya jika kita memaksakan terus berjalan..." jawab Satriyo tenang sambil menghisap sebatang rokok lalu menyebulkan asapnya dengan santai melewati mulut dan hidungnya.
"Tapi kenapa kali ini kita pakai motor sii kang...??? Bukannya biasanya waktu ke Semeru, Arjuna dan gunung-gunung lainnya kita naik kereta...???" tanya Antok lagi.
"Yaa,,, karena naik motor kita lebih santai dan bisa jalan-jalan sesuka hati...
Tapi pendakian menggunakan motor itu tidak disarankan untuk jarak jauh luar propinsi...
Jarak yang terlalu jauh akan sangat berbahaya karena setelah mendaki biasanya tubuh kita mengalami kelelahan yang hebat..." jawabnya dengan nada tenang.
Karena bagaimana pun juga mendaki menggunakan sepeda motor tidak dianjurkan untuk jarak jauh diatas 200km.
***
Setelah istirahat cukup, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan kembali, melewati jalan protokol kearah barat. Dengan kecepatan sedang mereka melintasi jalan kota yang padat.
Ditengah perjalanaan, tiba-tiba.
"Braakk..." motor mereka kesrempet mobil dan terjatuh.
Sontak orang-orang yang ada disana langsung berbondong-bondong datang menolongnya. Satriyo yang terpelanting pun segera bangun, dia melihat adiknya terkapar di aspal ditengah jalan dan sedang dikerubuti orang-orang. Sontak Satrio berteriak sambil bangkit mendekat.
"Antok...!!!!" teriak Satriyo sambil mendekat kearah Antok yang masih digotong orang-orang yang ada disana.
Antok yang digotong lalu dibawa ke tepi jalan tepat di depan toko kelontong. dengan tangan yang berdarah-darah. Lalu tak berapa lama Satriyo mendekatinya.
"Kamu gak apa-apa kan Tok...???" tanya Satriyo panik.
"Aku rak popo kang..." jawab Antok sambil membersihkan darah yang ada dilengannya. Dan salah satu orang yang disana memberikan obat merah padanya.
"Iya mas dia gak apa-apa cuma lecet dikit aja tangannya, masalah motor masih bisa dibetulin dibengkel ntar, yang penting masih bisa buat jalan..." jawab salah satu warga disana.
"Syukurlah... makasih pak atas pertolongannya..." jawab Satriyo dengan menganggukkan kepalanya menandakan ia sangat berterimakasih yang mendalam.
"Oiya mas itu mobil yang nyrempet disana coba mas samperin, sebelum orangnya kabur..." ucap warga yang lain lagi.
Satriyo pun segera mendekati mobil yang berhenti sekitar jarak 10 meter. Nampak sang pemilik mobil sedang mengecek bodi mobilnya.
setelah Satriyo mendekat lalu mencoba berbicara pada sang pemilik mobil.
"Maaf bu gimana tadi kronologisnya, itu adik saya terluka..." ucap Satriyo membuka pembicaraan.
"Lhoo... apa urusannya dengan saya.. wong kami ndak salah kok... yaa gak tante...???" ucap laki-laki muda pemilik mobil dengan nada ketus. Sambil minta diiyakan oleh tantenya yang semobil.
Kedua pemilik mobil itu bukanya menanggapi baik-baik, tetapi malah pasang wajah angkuh dan sombong.
"Mas dan ibu ini seharusnya punya etika, seharusnya kalau terjadi kecelakaan setidaknya hampiri dulu korbannya, dan saya tidak suka anda berbicara dengan tangan bersila dada seperti itu..." jawab Satriyo kesal.
Lalu pemilik mobil itu menurunkan tangannya tapi masih tetap bergaya angkuh.
"Hee,,, jangan sembarangan dengan kami yaa... kami punya kenalan banyak anggota..." ucap ibu pemilik mobil dengan nada mengancam.
"Lha terus...???" jawab Satriyo tenang.
"Baik kami akan panggil anggota, kita urus di kantor..." ibu itu mengancam dengan mencoba menelpon seseorang. Bisa dipastikan ibu itu memang bukan orang sembarangan, penampilannya dengan rambut pirang dan kacamata yang selalu melingkari matanya, cincin dan jam tangan mewah, dan logat bahasanya yang selalu minta dihormati, persis seperti istri-istri pejabat dinegeri ini.
Satriyo lantas kembali ke tempat Antok yang sedari tadi duduk di tepi jalan, lalu dia memesan teh manis di warung angkringan tak jauh dari situ.
"Pie kang...???" tanya Antok sambil menahan rasa sakitnya.
"Ora popo, pemilik mobil itu wonge agak sombong, biarin aja kita ikuti maunya..." jawab Satriyo sambil melihat kedua pemilik mobil itu sibuk menelpon kesana kemari dan dengan wajah panik.
Sementara Satriyo dan Antok tetap santai menikmati teh manis dan gorengan di warung angkringan.
Dari sini kita dapat melihat, dimana seseorang yang terbiasa hidup terhomat akan sangat takut jika keluar dari lingkaran kehidupannya apalagi menghadapi masalah diluar, lalu dia pasti akan berusaha meminta bantuan dan mengerahkan segala kemampuannya.
Sementara itu kita juga dapat melihat dimana seseorang yang lebih bersahaja dan sederhana akan lebih tenang dalam menghadapi masalah yang menghadang.
***
Sekitar 20 menit telah berlalu, akhirnya mobil polisi datang ke TKP, lalu mengajak mereka menyelesaikan dikantor polisi terdekat.
Setelah sampai di kantor polisi mereka dipertemukan untuk didamaikan.
"Maaf sebelumnya, apa bisa diperkenalkan dulu nama anda-anda ini...???" ucap pak polisi membuka pembicaraan
"Saya ibu Tutwuri Setianingsih, dan ini keponakan saya Hendrik..." jawab ibu itu.
"Saya Satriyo pak, dan ini adik saya Antok..." jawab Satriyo tenang.
"Oke saya tanya sama saudara Antok dulu sebagai yang mengendarai sepeda motor, jadi bagaimana kronologisnya mas Antok...???" tanya polisi yang berbadan kurus.
"Begini pak, saya naik motor dari arah timur mau menyalip mobil ibu ini, tapi saat saya sudah hampir berada didepan, tapi mobil ibu ini tidak memberi saya jalan sama sekali, tetap melaju dengan kecepatannya. Otomatis keseimbangan motor saya tidak bisa dikendaliakan, dan terjadilah insiden itu..." Antok menjelaskan kronologi dengan bahasa yang agak ngedok Jawa.
"Apa benar seperti itu ibu Tutwuri...???" tanya polisi pada ibu pemilik.
"Yaa dia mau nyalip saya, tapi saya tidak tau kejadian pastinya karena semua terjadi begitu saja, tapi yang pasti mobil kami berjalan tidak dalam kecepatan tinggi..." ucap ibu Tutwuri.
"Jadi posisi ibu ada di sebelah kiri...???" tanya polisi berbadan kurus.
"Iya benar, tapi kami mengendari mobil kami dengan kecepan stabil..." jawab Hendrik agak ngotot.
"Walaupun kecepatan stabil seharusnya anda memberi jalan saat ada yang mau mendahului, kalau gak mau didahului yaa ambil jalur kanan... Jangan asal stabil aja masa bodoh ada yang mau nyalip atau nggak yang penting terjang terus...
Dan saya dalam posisi benar karena menyalip dari kanan..." Antok juga ngotot.
"Memang seharusnya mobil berada dijalur kanan kecuali kalau mau berhenti atau mau belok kiri saja..." ucap polisi berbadan kurus seakan membenarkan pihak Antok.
Saat polisi berbadan kurus itu mau melanjutkan pembicaraannya tiba-tiba datang polisi berbadan gendut dengan perut yang menyembul kedepan.
"Maaf kalo boleh tau gimana kronologisnya ini..." tanpa basa-basi polisi gendut memotong pembicaraan.
Setelah dijelaskan dari awal, lalu polisi gendut itu berbicara panjang lebar dan membawa-bawa pasal undang-undang seakan tidak memberi jeda bagi yang lain untuk berbicara.
"Menurut hemat saya, mobil memang seharusnya ada di jalur kanan, tapi untuk mobil yang kecepatan rendah juga tidak salah ada di jalur kiri... jadi ibu ini tetap tidak bisa diberatkan secara undang-undang, apa perlu saya bacakan pasalnya...???" ucap polisi gendut panjang lebar seakan sekuat tenaga membela ibu Tutwuri.
"Tidak perlu pak...!!!" jawab Satriyo singkat memotong pembicaraan.
"Jadi dalam kasus ini ibu Tutwuri tidak bisa disalahkan dalam hal hukum, tapi biasanya dalam hal ini kalau ibu Tutwuri memberi bantuan atau kebaikan gak ada salahnya, tapi sifatnya suka rela, gak ada paksaan dalam hukum..." ucap polisi gendut tetap membela. Namun nampak kedua polisi itu mengisyaratkan pada ibu Tutwuri untuk memberi bantuan pada korban.
"ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun..." jawab ibu Tutwuri dan Hendrik pun juga mengiyakan dengan logat angkuh.
"Oke bu, kalau itu jalan pikiran ibu... tetapi logikanya jika mobil ibu dalam kecepatan rendah seharusnya mobil ibu mudah untuk didahului, tapi kenyataannya mobil ibu seakan tidak memberikan kesempatan pada kami untuk mendahului, warga disana sebagai saksinya...
Mungkin ibu tidak bisa disalahkan dalam hal hukum tetapi kami juga tidak dapat disalahkan dalam hal hukum juga, karena kami menyalip dari kanan...
Dan seharusnya dalam satu insiden yang kedua-duanya tidak bisa disalahkan, sementara ibu tak mengalami kerugian apa-apa, dan dipihak lain mengalami luka dan motornya juga rusak, apa ibu tak punya perasaan untuk sekedar peduli..." ucap Satriyo yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Dan ingat bu, waktu saya datang menghampiri ibu, apa yang saya ucapkan...???
Apakah saya menuntut anda...???
Apakah saya meminta bantuan kepada anda...???
Saya hanya datang menanyakan kepedulian ibu, seharusnya ibu punya etika saat terjadi insiden setidaknya ibu datang menjenguk keadaan kami yang terluka...
Bukan berhenti untuk mengecek mobil anda sendiri lalu berdiri dengan angkuhnya...
Bahkan warga dan orang-orang yang ada disana pun yang tak ada sangkutannya lebih peduli dan mau menolong kami...
Sementara anda yang bersangkutan hanya berdiri di mobil anda dengan kesombongan anda..." Satriyo menambahi.
Sejenak semua yang ada di sana terdiam.
Lalu ibu itu bicara lagi.
"Yang penting saya tidak bersalah dan sekali lagi, ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun..."
"Saya ulangi, ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun..." ibu Turwuri berbicara dengan angkuhnya.
"Iya memang dalam hal apapun ibu Tutwuri gak bisa dituntut sedikitpun..." ucap polisi gendut membela ibu itu.
"Maaf, dari awal siapa yang menuntut ibu, saya sama sekali tidak menuntut apapun...
Bahkan ibu sendiri yang sibuk menelpon kesana kemari melapor polisi...
Sementara kami hanya santai... kami hanya ingin etika dari ibu untuk datang ke kami menanyakan keadaan kami karena bagaimana pun juga kami sebagai korban..." jawab Satriyo tegas.
"Baik lah kalau begitu, karena ibu ini tetap teguh pada pendiriannya, jadi apakah mas-mas ini tidak keberatan...???" jawab polisi kurus mencoba menengahi.
"Dari awal saya tidak nenuntut apapun pak, cuma saya tidak suka dengan sikap ibu ini yang sangat keras hati..." jawab Satriyo.
"Yaa sudah... yang penting kita selesaikan dengan kekeluargaan... kita semua harus legowo..." ucap pak polisi kurus mendinginkan keadaan.
"Baik kalau begitu, saya minta dibuatkan surat pernyataan kalau kalian tidak akan menuntut kami..." ibu itu meminta polisi membuatkan surat pernyataan.
"Hhhmmm ibu masih takut kami menuntut...??? Nampak sekali ketakutan ibu yang seharusnya tak perlu ditakutkan... karena kami tak sejahat ibu..." jawab Satriyo santai dengan senyum khasnya seakan menertawakan sikap ibu itu.
Ibu itu lantas keluar bersama polisi gendut. Diluar nampak mereka asyik ngobrol sekaligus ingin menunjukan bahwa ibu itu mempunyai kedekatan dengan pejabat-pejabat kepolisian.
Benar saja, banyak anggota polisi yang datang langsung bersalaman dengan ibu Tutwuri, saking tunduknya pada ibu Tutwuri bersalaman pun seakan mereka seperti mau mencium tangannya.
Padahal sebagai aparat penegak hukum, tak sepantasnya menghormati seseorang terlalu berlebihan selain kepada atasan atau komandannya.
Tak seharusnya seorang penegak hukum menunjukkan kedekatannya dengan orang masih dalam kasus hukum.
Dan seharusnya, semua orang mempunyai kesetaraan yang sama dimata hukum.
Tapi inilah yang sering terjadi di negeri kita, orang yang mempunyai kekayaan dan kekuasaan akan cenderung kebal terhadap hukum.
***
Saat ibu Tutwuri diluar, sementara didalam kantor, nampak polisi sedang sibuk mengetik surat pernyataan, Satriyo menatap Hendrik dengan tajamnya. Dan Hendrik pun tak sengaja juga menatapnya. Nampak keduanya saling bertatapan sangat lama.
Dalam pandangan Hendrik yang melihat tatapan Satriyo yang sangat tajam itu, tiba-tiba dia melihat wajah Satriyo berubah menjadi sosok harimau dan mengaung tepat dihadapannya.
Seketika Hendrik berteriak ketakutan, seperti kesurupan.
"Haaahhh...!!! Haaahhh...!!! Haaahhh...!!!" teriak Hendrik histeris dengan kedua tangannya memegangi kepalanya.
Ibu Tutwuri langsung masuk mendekat pada Hendrik.
"Kamu kenapa Hen... kamu kenapa...???" ucap ibu itu ketakutan.
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang, kencang sekali.
Setelah berapa lama suasana kembali tenang.
Satriyo dan Antok pergi meninggalkan kantor polisi itu.
Mengendarai motor antiknya lagi, dengan gaya gembel jalanan. Menerjang jalan menikmati sepoy angin yang menerpa tubuhnya disepanjang jalan.
Tak berapa lama nampak mobil mewah yang dikendarai Hendrik dan ibu Tutwuri itu melintas menyalip motor butut mereka berdua.
Hingga sampai di pertigaan jalan tol, mobil itu belok ke kanan menuju jalan tol ke arah Semarang, sementara Satriyo dan Antok tetap berjalan lurus menuju utara.
Dijalan tol tersebut ibu Tutwuri nampak kesal dan terus berbicara pada Hendrik keponakannya:
"Orang-orang kumel kaya' gitu harus diberi pelajaran... dari penampilannya saja mereka pasti pengangguran yang gak punya pekerjaan... mereka mungkin berniat mau memeras kita, dasar gembel...!!!" Ibu itu terus ngomel terus, sementara Hendrik tetap diam melamun sambil nyetir.
"Hen... hendrik... kamu kenapa gak biasa-biasanya melamun terus seperti itu... ada apa kamu Hen... lagian tadi kamu juga teriak-teriak histeri sendiri dikantor polisi... ada apa Hen...???" ibu itu mencoba mengintrogasi.
"Aku takut tante, aku takut...
Laki-laki tadi menurutku bukan manusia biasa... dia siluman harimau... aku melihat tatapan matanya tajam sekali, dan tiba-tiba wajahnya berubah menjadi Harimau yang menyeramkan... mengaum didepanku tante... aku takut tante, sampai sekarang wajah itu tetap terbayang diotakku tante..." ucap Hendrik panik.
Mobil mereka melaju dengan kencangnya di jalur tol, satu jam kemudian mereka mulai ambil kiri dan keluar dari jalan tol.
Tak berapa lama mereka keluar mereka melaju mengendarai mobilnya masih dalam kecepatan tinggi menuju jalan utama
Hendrik terus melamun terbayang sosok harimau itu, hingga tiba-tiba Hendrik melihat sosok harimau itu lagi mengaum tepat didepan matanya. Seketika Hendrik berteriak bak kesurupan.
"Haaahhh...!!! Haaahhh...!!! Haahhh...!!!" Hendrik berteriak histeris lagi sambil kedua tangannya memegangi kepalanya.
Mobil pun lepas kendali dan menabrak pohon di pinggir jalan...
"Brakkk...!!!" mobil itu menghantam keras sekali, bemper bagian depan ringsek dengan mesin yang mengepulkan asap yang tebal.
Nampak ibu Tutwuri dan Hendrik berlumuran darah didalam mobil itu.
"Hen, kamu gak apa-apa kan Hen..." ibu itu berucap sambil menggoyang-goyang tubuh Hendrik, tak berapa lama Hendrik tersadar.
"Iya tante aku gak apa-apa... tapi kakiku kejepit tante... aaahhh..." ucap hendrik sambil merintih.
"Toloongg...!!! Toloongg....!!!" ibu Tutwuri terus teriak minta tolong.
Mereka terjebak dalam mobil itu sangat lama, mobil-mobil yang lewat pun seakan tak menghiraukan mereka berdua, tak ada warga atau orang yang kebetulan lewat, karena keluar dari tol memang jarang terdapat rumah warga atau warung-warung pinggir jalan. Jalur ini jalur sepi.
Karena bisa dipastikan, setiap terjadi kecelakaan yang selalu sigap menolong adalah warga setempat atau pemotor yang kebetulan lewat, akan jarang terjadi pengendara mobil yang ikut berhenti, apalagi peduli.
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang, kencang sekali.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba kebetulan ada motor yang lewat dan berhenti didepannya.
Pengendara motor itu berhenti dan turun dari motornya lalu mendekati mobil nahas tersebut yang dari jauh terdengar teriakan minta tolong. Dengan asap yang masih terus mengebul.
Setelah mendekat laki-laki itu berkata,
"Maaf bu, seperti yang ibu tadi katakan... ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun...
Sekali lagi, ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun..." laki-laki itu ternyata Satriyo yang berucap tenang sambil tersenyum.
"Dan semoga saja kenalan-kenalan ibu yang katanya pejabat dan aparat itu mau membantu ibu saat ini... semoga saja..." lalu Satrio melangkah dengan pelan dan gagahnya meninggalkan mobil itu dengan santainya, kakinya melangkah pasti menggenakan sepatu gunung dengan celana jeans rombeng dan jaket belel, gayanya persis seperti koboy yang berjalan di dataran kering di Amerika sana.
Satriyo bukan orang yang kejam, tapi dia hanya ingin memberi pelajaran pada orang-orang yang dianggapnya sombong melebihi batas kewajaran.
"Heeyy siapa sebenarnya dirimu...???" tanya ibu Tutwuri sambil menahan rasa sakitnya.
Seketika Satriyo menghentikan langkahnya dan berkata:
"Aku hanya pendaki gunung Lawu..."
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang, kencang sekali.
============SEKIAN============
By: Ahmad Pajali Binzah
Foto: Chicco Jerikho
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
Kembali aku bersihkan carriel dan sepatu gunung serta alat-alat pendakian lain yang telah lama teronggok tak terpakai di gudang belakang rumahku. Ku tepuk-tepuk topi rimba dan debu-debu yang menempel pun beterbangan memenuhi ruang gudang di rumahku.
Sudah empat tahun lebih aku pensiun mendaki, bukan karena cidera otot atau tak punya waktu luang lagi, tetapi karena kecintaanku pada kekasihku, kekasih yang selalu memberiku imajinasi, hingga untuk membuatnya bahagia aku harus rela mengorbankan kecintaanku pada hobiku sendiri.
"Ini tentang cinta yang menentang kecintaan.." ucap hatiku yang susah aku ucapkan dengan bibirku. Sambil memakai topi yang entah kapan terakhir kali aku memakainya. Dengan tersenyum-senyum di depan cermin usang yang menempel di tembok yang mulai rapuh. Aku usap cermin itu dengan telapak tanganku agar bayangan wajahku terlihat lebih jelas yang menggambarkan kegantenganku dimasa lalu.
"Tapi apapun itu, demikian kecintaanku pada kekasihku, aku harus ikhlas meninggalkan kecintaanku pada hobiku..." ucap hatiku lagi. Dengan menatap atap-atap ruangan itu yang mulai lapuk tak tertata.
"Begitu cintakah aku pada dirinya hingga aku tega meninggalkan barang-barang kesayanganku ini begitu lamanya tak terurus disini. Hingga untuk menjemputnya lagi butuh kejadian yang sangat luar biasa dalam sejarah kehidupanku ini, yang mampu memporak-porandakan peradaban yang ada dalam jiwaku...???" tangisku sambil memeluk topi rimba kesayanganku dulu.
"Maafkan aku sobat, kaulah yang selama ini menemani perjalananku, melindungiku dari teriknya matahari yang menyambar dan membakar rambutku... Maafkan aku jika selama ini aku meninggalkankanmu di tempat sepengap ini..." ucapku meneteskan air mata dengan memandangi topi rimbaku, dan sesekali menatap carriel yang masih tergelantung di dinding ruangan itu.
Aku mendatangi carriel itu lalu ku gendong di punggungku, kupakai lagi topi rimba yang sedari tadi aku pegangi, dan bibirku dengan semangatnya berkata,
"Inilah aku, sang pendaki yang akan tetap mendaki... dan saat ini aku tetap menjadi aku seperti aku empat tahun yang lalu..."
Aku merasa begitu gagahnya berdiri di depan cermin, aku seperti menemukan kembali jiwaku yang telah lama hilang.
Teringat saat carriel dan topi ini aku kenakan, dengan sepatu gunung yang melapisi pijakanku, saat hendak mendaki gunung Merapi dan saat itu aku bertemu nenek tua yang sedang istirahat di batu besar di pinggir jalur, karena kelelahan setelah menggendong seikat kayu bakar yang dicarinya dari dalam hutan.
"Kamu nampak seperti tentara nak, gagah dan ganteng sekali dirimu..." ucap nenek tua yang pipinya mulai keriput mengikuti perjalanan usianya.
Aku hanya bisa mengucapkan "terimakasih" dengan bibir tersenyum dan hati yang tersanjung.
Tapi saat ini hatiku bertanya-tanya, kenapa aku yang seganteng ini harus tersakiti oleh penghianatan cinta...???
cinta yang selama ini aku perjuangankan, yang selama ini aku agung-agungkan...??? Empat tahun lamanya aku mengabdikan hidupku sepenuhnya untuk kebahagiaannya. Sejak masa-masa kuliah hingga memasuki gerbang dunia kerja.
Bahkan aku sampai tak mengerti kenapa aku bisa sebodoh itu, lebih bodoh dari sibodoh yang berpura-pura bodoh. Bagaimana tidak, sejak aku resmi menjalin cinta dengan dirinya, salah satu syarat dan yang diwanti-wanti olehnya yaitu aku harus berhenti mendaki. Bahkan untuk berkunjung ke sekretariat mapala dikampus pun harus minta izin terlebih dahulu, dan pasti aku mendapatkan jawaban dengan lemparan muka cemberutnya yang sangat kecut.
Padahal selama ini sekretariatlah yang menjadi rumah keduaku dimana saat jam kosong kuliah pasti aku sempatkan tidur dipaflon atas beralaskan sleepingbag dengan mp3 yang berteriak-teriak dikupingku yang tertutup headset.
Tapi lagi-lagi cinta telah membutakan hatiku, begitu luluhnya aku di hadapannya, jangankan untuk membantahnya, untuk tidak berkata "iya"pun bibirku tak sanggup menahannya. Jiwaku didekte oleh cinta buta yang membutakan pandangan batinku, bahkan aku malu pada laki-laki buta tukang pijit yang setiap malam lewat didepan rumahku dengan tongkat yang selalu menuntun langkahnya. Yang berbanding terbalik dengan kisahku, cinta yang seharusnya menjadi tongkat untuk menuntun langkahku, malah berbalik mencongkel kedua mataku.
"Pedih memang kisahku ini" ucap hatiku lirih.
Kalau disebut aku laki-laki beruntung, mungkin memang iya, karena dialah wanita terindah yang pernah aku miliki, wanita idaman yang selalu aku idam-idamkan. Impian yang menjadi kenyataan.
Bahkan saat pertama aku mengenalnya, tak terbayang olehku untuk memilikinya, karena begitu bersinar aura yang ada pada dirinya.
Tapi kalau dibilang aku laki-laki paling menderita, mungkin juga iya, bagaimana tidak kesetiaan dan kepercayaanku selama empat tahun lamanya harus berujung dengan penghianatan yang sangat menyakitkan. Janji setia sehidup-semati yang pernah terucap harus terkoyak oleh cinta segi tiga yang dibuat olehnya.
***
Suatu hari saat aku sedang memegang handphone-nya, ada sebuah pesan masuk yang seketika aku baca, sebuah tulisan yang tak terbayang sebelumnya, yang mampu menggoreskan luka di hati yang mendalam.
"Dia teman kantorku..." ucapnya ngeles dengan tatapan yang tak tentu arah, memencar entah kemana. Menunjukkan kebohongan yang keluar dari mulut manisnya.
Tak berapa lama handphone-nya yang masih ada di genggamanku bergetar lagi.
"Sayang kok gak dibales...???" Kata-kata dalam sms itu membuka tabir kebohongannya yang tak sanggup tertutupi oleh kebohongan berikutnya.
Rambut gondrong ku berubah memerah seperti lidah api dari neraka, semua iblis dan dedemit dari pasar bubrah pawai arak-arakan memasuki jiwaku, aku kesurupan, tubuhku menggigil dengan tangan yang bergetar, ular besar penghuni alas Roban pun datang melilit dadaku, meremukkan seisi kerongkonganku, hingga nafasku sesak tersengal-sengal. Darah pun terpompa mengalir deras ke ubun-ubunku, aku tak lagi bisa menahan emosi.
Seketika hape yang aku genggam, berubah menjadi puing-puing yang berserakan dilantai dengan suara "Praakk!!!" Pecah berantakan ke segala arah, persis menyerupai bentuk hatiku saat itu.
Handphone yang aku hadiahkan tepat di hari ulang tahunnya, yang seharusnya menjadi penghubung hubungan ini, malah menjadi belati tajam yang menikam punggungku dalam-dalam.
"Terimakasih, terimakasih atas kejutan penuh pelajaran ini...!!!" Ucap bibirku dengan tatapan tajam menatap wajahnya yang diselimuti rasa sesal yang merajam.
Lalu aku berjalan mundur dengan tetap menatap matanya yang berkaca, aku melihat bibirnya bergetar,
"Sayang maafin aku..." suaranya nampak berat penuh rasa bersalah, seraya merobohkan tubuhnya ke lantai dengan lutut sebagai penyokongnya. Tatapannya memang memilukan, menghiba memintaku untuk kembali memeluknya, tapi sayangnya luka di hatiku ini sudah teramat dalam.
Lalu aku membalikkan langkahku, berjalan kedepan meninggalkan dirinya yang tersungkur penuh sesal, dan aku angkat tangan kiriku yang melambai mengenyahkan, seakan berkata "masa bodoh dengan kehidupanmu..."
***
Sesampainya dirumah, kubuka pintu kulkas lalu kutenggak air dingin untuk mendinginkan kerongkonganku dari panasnya hati yang terbakar. Air yang mengalir dari teko plastik terus mengucur masuk ke rongga mulut serta meluber membasahi leher dan bajuku, "haaaahh... lega rasanyaa..." dengan nafas panjang serasa melegakan segala kekacauan yang ada dalam organ-organ tubuhku.
Dalam kegundahan hatiku yang mampu menguras air mataku, seketika anganku terbang melayang pada satu ruangan yang ada di belakang rumah, tempat dimana aku menyimpan semua alat-alat pendakianku.
"Yaaa... aku tidak sendiri, sahabat setiaku masih tetap setia menungguku didalam gudang itu..." ucap hatiku lirih sambil melangkah menuju ruang paling belakang rumahku.
"Welcome to my life once"
Selamat datang kehidupanku yang dulu...
Kehidupan dimana aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, menjadi diriku sendiri tanpa harus takut ada yang terluka...
===============SEKIAN===============
By: Ahmad Pajali Binzah
Untuk cerita sebelumnya KLIK DISINI
Sebelum melanjutkan kisah pendakian ini, alangkah baiknya kita memahami lagi karakter dari keempat pendaki tersebut.
#Faisal: sang pencetus ide sekaligus pemimpin rombongan, perawakan tinggi ideal, berpenampilan rapi, perfecionis, sangat cerdas, ambisius, kepemimpinan tinggi, berfikir rasional, dan gigih dalam berjuang, kadang otoriter.
#Dea: secara pola pikir hampir sama dengan Faisal, rasional, tidak percaya mitos, punya rasa penasaran yang tinggi, lebih modern.Ikut rombongan karena sepaham dengan Faisal.
#Arya: pendiam, kharismatik, lebih sopan dan lembut, penyayang, setia kawan, pemberani, perawakan gagah, masih sedikit percaya mitos.
Ikut rombongan karena Dea kekasihnya.
#Rio: emosional, perawakan pendek, berfikir dangkal, penakut, sangat percaya mitos.
Ikut rombongan karena Arya sahabat dekatnya.
****
Setelah berjalan berapa lama, tibalah mereka di batas hutan, sebelum memasuki hutan mereka sempat mengamati sekeliling untuk memastikan tidak ada kakek juru kunci.
"Kemaren kakek itu nongol di atas batu ini kan, dan sekarang tidak ada, berarti secara tidak langsung beliau mengizinkan kita masuk..." celetuk Faisal meyakinkan teman-temannya.
"Iya, aku ingat betul kakek itu kemarin disini..." Dea mengiyakan.
"Baiklah kalo begitu, ayoo kita masuk ke hutan..." ajak Arya sembari merangkul Dea.
"Tunggu dulu...!!!" ucap Faisal menyetop teman-temannya.
"Ingat kawan-kawan...!!! Sebentar lagii kita akan memasuki hutan, jadi saat kita didalam sana, tak ada alasan untuk kembali sebelum mencapai puncak, kecuali kalo ada sesuatu yang memang tidak memungkinkan...
Dan sebelum kita memasuki hutan ini, siapa yang masih ragu...???
Jika masih ragu, aku persilahkan mundur..." tegas Faisal.
Semua nampak terdiam, tak ada jawaban sama sekali.
"Baik, kalo kalian diam berarti kita semua sudah mantap untuk melanjutkan perjalanan ini...
Dan sekali lagi ingat, apapun yang terjadi kita harus tetap bersama, jangan sampai terpisah...
Baiklah sebelum kita memasuki hutan ini, mari kita berdo'a agar kita diberi kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan ini..." ucap Faisal panjang lebar.
Setelah selesai berdo'a mereka melanjutkan perjalanan memasuki hutan.
Di dalam hutan suasana nampak tenang, rimbun dan pekatnya atap hutan membuat cahaya matahari jarang menembus ke lantai hutan, disini masih ada jalan setapak yang biasa dilalui penduduk dalam mencari kayu atau obat-obatan.
Perjalanan menyusuri jalan setapak sedikit menanjak, makin jauh hutan semakin rapat, banyak berkicauan burung-burung liar dan beberapa kera bergelantungan di ranting-ranting pohon.
Setelah sekitar satu jam berjalan sampailah mereka di danau peri. Tapi alangkah terkejutnya mereka saat melihat kondisi danau tersebut, tak sesuai yang dikatakan orang-orang disekitar kampung tadi.
"Looohh... kok air danaunya gak jernih, jadi pekat putih kehijauan gini...
Lihaatt... banyak ikan dan katak yang mati disana....???" Ucap Dea penuh heran.
"Wah benar yang dikatakan kakek itu, kalo kita waktu itu nekat malam-malam mendirikan tenda disekitar sini, pasti kita akan bernasib sama seperti ikan-ikan itu..." ucap Arya.
"Waahh jangan-jangan benar yang semua ramalan kakek itu, jika kita nekat memasuki hutan ini kita akan celaka..." ucap Rio sembari menggigil ketakutan.
"Tenang tenang tenang Rio, jangan panik dulu..." ucap Arya menenangkan sembari merangkul Rio.
"Ayoo kita pulang saja, kalo gak kita pasti akan celaka..." ucap Rio ketakutan.
"Tunggu dulu, tidak ada yang ganjil dalam hal ini, ini hanya perubahan air danau yang biasa terjadi pada danau-danau bekas gunung berapi. Ini hanya perubahan biasa, jadi jangan terlalu takut pada hal sekecil ini..." jelas Faisal.
"Iya memang, seperti di danau-danau volkanik lainnya, biasanya danau tersebut airnya kadang tiba-tiba berubah warna, dan kadang menimbulkan gas beracun, mungkin juga hal tersebut yang terjadi pada danau ini..." Dea juga mencoba menjelaskan.
"Ayoo kita jangan lama-lama disini, siapa tahu disini masih beracun..." ajak Faisal.
"Tidak, aku tidak mau meneruskan perjalanan ini, ini pasti penuh kutukan, seperti yang diramalkan kakek itu..." Rio menolak tidak ingin melanjutkan.
"Heehh bukankah sudah aku bilang, setelah memasuki hutan ini tak ada alasan untuk kembali sebelum sampai puncak... kecuali memang ada hal-hal yang urgen yang membuat kita harus turun...
Tapi aku tetap yakin, bahwa kita akan baik-baik saja..." ucap Faisal menjelaskan.
"Kamu sungguh gila Sal, demi ekpedisi konyolmu ini rela mempertaruhkan nyawa kami... aku yakin kita pasti celaka, ayoo kita turun segeraa..." ucap Rio panik bukan kepalang.
"Benar kata Faisal Rio, kita semua akan baik-baik saja, dan ini hanya imajinasimu saja..." Arya menenangkan.
Setelah Arya membujuk Rio, Rio pun tenang karena Arya adalah orang yang Rio percaya dan orang yang paling dekat dengannya.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan lagi.
"Ayoo kita pasang pita dari tali rafiah berwarna kuning ini, disetiap pohon yang akan kita lewati, dengan jarak yang tidak terlalu jauh, agar kita tidak mudah tersesat nanti..." ucap Faisal pada teman-temannya.
Perjalanan berlanjut, setapak demi setapak terus menanjak, sesampainya di punggungan dari atas nampak hamparan hutan yang berbukit-bukit bak permadani yang membentang.
"Woow,,, indah sekali..." Faisal bergumam lirih.
"Waah,,, berarti perjalanan kita masih sangat jauh, kita baru melewati satu punggungan bukit, dan didepan sana masih banyak punggungan-punghungan yang harus kita lewati..." ucap Rio mengeluh.
"Yaaa... bahkan puncak yang terlihat itu bukan puncak sebenarnya, itu hanya puncak bayangan, dan puncak yang sesungguhnya jauh ada dibalik punggungan-punggungan itu..." ucap Faisal menjelaskan.
"Tapi jangan kuatir kawan, perjalanan ini akan kita lalui dengan indah..." ucap Dea dengan senyum manisnya sambil menepuk pundak Rio.
Setelah beristirahat sejenak di puncak punggungan, merekapun melanjutkan perjalanan dengan menuruni punggungan menuju ke lembah, tapi tak lama mereka turun dari punggungan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan melintas nya seekor ular besar.
"Huuh,,, awaass...!!!" Teriak Faisal yang berjalan didepan saat melihat ular seketika meloncat menghindar dan mengingatkan pada teman-temannya yang berada di belakang.
Seketika semua terkejut dan berteriak kalang kabut.
"Tenang,,, tenang,,, tenang,,," ucap Arya menenangkan teman-temannya.
"Jangan ada yang bergerak, biasanya ular tidak menganggap kita ancaman jika kita tidak bergerak..." tambah Arya menjelaskan.
Seketika semuanya terdiam dan tahan nafas, lalu ular itu pergi dengan sendirinya.
"Lihat...!!! Lihatt...!!! Memang benarkan apa yang diramalkan kakek itu, ada banyak ular disini... ini bahaya, aku gak mau mati disini... ayoo kita pulang sekarang..." lagi-lagi Rio merengek minta pulang.
"Tenang Rio, dihutan memang banyak ular, itu wajar..." jelas Faisal.
"Tidak, ini tidak wajar...!!! Ini persis ramalan kakek itu... kita akan mati diserang ribuan ular disini..." Rio makin panik.
"Heehh... memangnya kakek itu Tuhan apa, tau semua tentang takdir kita...???" Tegas Faisal kesal.
"Percayalah kita akan baik-baik saja...!!!" Tambah Faisal menenangkan.
"Iya Rio kita akan baik-baik saja... sekali kita masuk hutan artinya kita pernah berkomitmen untuk selalu kompak dan terus menggapai tujuan..." jelas Dea.
"Tenang Rio, selama masih ada aku, kamu pasti baik-baik saja, kita semua pasti akan baik-baik saja..." ucap Arya menenangkan.
Setelah semua tenang, perjalananpun segera dilanjutkan.
"Baik, kita ambil jalur melipir... kita jangan menuruni lembahan ini, karena disana ada rawa-rawa yang tentunya berbahaya untuk dilewati...
kita melipir saja mengitari punggungan...
Ambil golok kalian, kita menebas membuka jalur...!!!" Perintah Faisal untuk siap menebas hutan membuat jalur melipir.
Perjalanan dilanjutkan dengan membuka jalur sendiri, hutan dan semak yang lebat membuat langkah mereka makin lambat, tak terasa hari mulai sore, dan mereka putuskan untuk beristirahat dan bermalam di punggungan itu.
"Teman-teman, sekerang jam sudah menunjukan pukul 5 sore, kita hentikan perjalanan kita disini, kita istirahat dan bermalam disini saja, karena disini lokasinya sangat nyaman.." ucap Faisal.
"Iya nih, disini juga gak terlalu rimbun semak belukarnya, jadi lebih bersih dan nyaman untuk memasak dan istirahat..." imbuh Dea.
"Baiklah, Dea dan Rio biar yang urus makanan, aku dan Arya biar yg membersihkan tempat ini dan mendirikan tenda..." jelas Faisal.
"Oke, mari kita kerjakan tugas kita masing-masing..." perintah Arya.
Setelah semua rapi dan makanan telah selesai dimasak, mereka pun berkumpul dan mereka membuat api unggun dari ranting-ranting yang kering sebagai penerangan sekaligus penghangat suasana. Karena api unggun juga mampu mengusir binatang-binatang berbahaya.
"Perjalanan hari ini sangat melelahkan yaa...???" Ujar Dea sambil mengunyah nasi dan gorengan tempe dengan sayur sop penuh kol dan wortel sebagai sayurannya.
"Iyaa, sejak bikin jalur tadi perjalanan jadi lebih lambat..." tegas Arya.
"Yaah gak papalah, yang penting malam ini kita masih bisa makan nasi, setelah seharian tadi cuma roti mulu hehee..." ucap Rio becanda.
"Hahahaa,,, yang penting nikmati saja perjalanan ini, semua akan menjadi kisah seru dalam pengalaman kita dan akan indah jika kita kenang kelak..." jelas Faisal.
"Oiya, ngomong-ngomong berapa punggungan yang harus kita lewati Sal...???" Tanya Arya.
"Kalo dilihat dari peta, sejak awal kita masuk hutan kalo diitung ada 12 punggungan sebelum kita sampai dipuncak... dan sekarang kita baru melewati 1 punggungan saja..." jelas Faisal.
"Waduh, masih 11 punggungan lagi dunk...??? Bisa berhari-hari kita hidup di hutan ini nih..." keluh Rio.
"Yaa gak juga Rio, menurut perkiraanku paling sekitar 3 hari lagi kita sudah sampai puncak dan kira-kira satu minggu kita sudah turun..." jelas Dea.
"Jangan mikirin itu dulu, yang penting nikmati saja perjalanan ini dengan senang hati...." jelas Arya.
Obrolan malam itu sungguh hangat dan mampu melepaskan penat di pikiran...
Secangkir kopi dan sebatang rokok mampu meleburkan beban di pundak.
Setelah selesai makan dan ngobrol, mereka beranjak tidur ke dalam tenda.
***
Pagi itu udara sangat sejuk, cahaya matahari menembus dari sela-sela daun pepohonan yang membuat suasana sedikit hangat, dan merekapun bangun dari tidurnya dengan keluar dari sleeping bag masing-masing bak kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya.
"Wuuuihh... sejuk sekali udaranya..." ucap Arya sembari meregangkan otot-ototnya.
Dan yang lain juga ikut menggerakkan otot-ototnya sembari berjalan menikmati udara di pagi itu.
"Yuukk... bagi tugas kaya' kemarin, ada yang memasak lagi dan yang lain bebenah..." ajak Faisal.
Setelah sarapan dan santai-santai sejenak, merekapun kembali meneruskan perjalanan. Arya mendapat jatah didepan dan menebas jalur.
Vegetasi yang dilalui adalah pohon-pohon besar dengan semak daun lebar, banyak juga pohon pakis dan semak berduri.
Bahkan merekapun saling bergantian menebas jalur.
Setelah berjalan sekitar 2 jam, nampak didepan ada air terjun yang indah.
"Lihat,,, disana ada air terjun..." ucap Arya sembari menunjuk kearah air terjun.
"Woow,,,, indah bangett..." ucap Dea kagum.
"Ini yang dikatakan kakek itu, air terjun bidadari..." ucap Rio.
"Yaaa ini air terjun Bidadari seperti yang dikatakan kakek itu, berarti kita sudah melewati 2 punggungan dan ketinggian kita sudah diatas 1000mdpl..." jelas Faisal penuh ilmiah.
Tak lama mereka sampai dibawah air terjun itu, dan segera melepaskan baju yang mereka pakai untuk segera mandi.
"Cihuuuiii..." ucap Rio girang.
Dan mereka semua pun ikut riuh dalam kegembiraan.
"Arya, aku tau Dea itu kekasihmu, tapi semasih kita berada di hutan ini, aku harap kamu bisa menjaga kesucian tempat ini dengan tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma yang ada..." teriak Faisal pada Arya bersaing dengan bisingnya deburan air terjun. disaat mereka berada di guyuran air yang deras.
"Okee,,, aku tau itu kok... apalagi ini tempat sucinya para bidadari aku sangat menghormati itu..." teriak Arya sambil menyelam kedalam air.
Sementara Rio asyik melompat dari atas batu.
"Hiaaaattt..." "byuuurrr" Rio meloncat.
"Hahahaaa...." mereka asyik bermain air hari itu.
Setelah selesai bermain air merekapun menyalakan kompor dan merebus mie instan dan kopi.
Dengan menikmati pemandangan yang indah dan menyantap mie rebus, mereka merasa seakan berada di surga bersama bidadari kahyangan.
Setelah semuanya rapi, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan menaiki lereng disekitar air terjun.
Perjalanan menanjak hingga keatas punggungan lagi dan terus menyisir kearah lembahan.
Setelah berjalan cukup lama dan melewati beberapa punggungan, mereka putuskan untuk istirahat di lembahan di tepi sungai kecil sambil membuka logistik.
"Hei Arya, buka perbekalan dan ambil roti dan slei coklatnya, udah laper nih..." ucap Faisal.
"Oia, sekalian ambil air juga buat persediaan air kita..." perintah Faisal pada Dea.
Di tepi sungai yang gemericik dan jernih itu mereka istirahat siang dan menyantap snack yang mereka bawa.
Bahkan mereka menyempatkan tidur siang di bawah rimbun pepohonan.
Setelah istirahat sejenak, jam menunjukkan pukul 3 sore, merekapun segera melanjutkan perjalanannya.
Berjalan menanjak menyusuri lereng terjal menuju punggungan dengan hutan yang lebat dan nampak berkabut pekat.
Saat memasuki hutan tersebut, suasana hutan serasa lebih seram dan menakutkan, jalur dipenuhi lumut dan sangat lembab, kabut mulai menutupi pandangan.
"Huuft jalurnya kok jadi serem gini sih..." ucap Dea.
"Iyaa niihh,,, diatas sana juga kabut mulai menutupi pandangan..." ucap Rio sambil menunjuk ke arah depan.
"Huuft,,, jarak pandang jadi pendek..." ucap Arya.
"Waahh ini yang diramalkan kakek itu, kita akan buta oleh kabut ini..." keluh Rio.
"Baik, kita istirahat disini dulu, ingat jangan saling berjauhan..." ucap Faisal.
"Ayoo cari tempat yang agak lapang untuk istirahat..." ajak Dea.
"Disini aja Sal, disini agak lapang..." ucap Arya.
Mereka duduk berdekatan dan sambil menggigil, karena selain berkabut tubuh mereka basah karena lumut yang lembab.
"Ayoo ganti baju kalian dengan raincoat, dan pakai ini..." perintah Faisal sembari memberikan headlamp warna kuning.
Merekapun segera ganti pakaian, dan memakai headlamp dikepala mereka masing-masing.
"Setidaknya dengan headlamp kuning ini, kita bisa melihat satu sama lain, dan jangan lupa jarak kita jangan berjauhan...
Ayoo lanjutkan lagi perjalanan kita..." ajak Faisal.
Kabut pekat yang diiringi gerimis dan jalur yang licin membuat langkah mereka gontai, Faisal yg didepan dengan golok yang selalu menebas membuat jalur, sementara Arya dibelakang sebagai team penyapu.
Saat mereka berjalan menembus pekatnya kabut, tiba-tiba, "braakkk..." tubuh Dea jatuh ke tanah.
"Sal tunggu Saall... Dea pingsan Sal..." teriak Rio yang tepat di belakang Dea.
"Deaaa..." Arya berteriak lari langsung memeluk Dea kekasihnya.
"Dea kenapa Rio...???" Tanya Faisal.
"Dea bangun Dea..." Arya menepuk pipi Dea.
"Baik kita istirahat dulu... sembari menunggu Dea sadar, aku yakin Dea kecape'an..." perintah Faisal.
"Rio bikin bivak, biar Dea gak keujanan..." perintah Arya.
"Tenang Arya, Dea akan baik-baik saja, dia hanya kelelahan saja..." ucap Faisal menenangkan.
Setelah jas hujan dibentangkan membentuk bivak, mereka berteduh dibawahnya.
Dan semua berganti pakaian kering.
"Masukan air hangat kedalam kantong plastik dan letakkan di perutnya untuk menghangatkan tubuh Dea..." perintah Arya.
Dan tak lama kemudian Dea tersadar, tapi tubuhnya masih lemah.
"Baik malam ini kita istirahat disini saja, aku yakin besok Dea akan kembali fit..." ucap Faisal optimis.
"Iya pasti, yang penting Dea harus tetap doyan makan yaa..." ucap Arya sembari menyuapi Dea makanan.
"Ayoo Rio kamu ikut aku mencari shelter yang lebih luas dan mendirikan tenda disana, sebelum gelap semuanya harus sudah rapi..." ajak Faisal sambil bergegas mencari lokasi bertenda.
Faisal dan Rio membuka tenda dan di depannya dibuat api unggun agar lebih hangat, dengan cara ini kita akan terhindar juga dari binatang-binatang yang berbahaya.
Saat malam beranjak, semua sudah berada didalam tenda dan dengan api unggun yang menyala didepannya.
"Arya, apa sebaiknya kita pulang saja... aku takut terjadi apa-apa sama Dea..." bisik Rio.
"Sebenarnya aku juga menghawatirkan Dea, tapi aku juga gak mungkin menyerah begitu saja..." jawab Arya.
"Tapi apa kamu tidak sadar kalau kita cuma dimanfaatkan sama Faisal, ini semua adalah ambisinya Faisal..." bisik Rio mempengaruhi Arya.
"Tapi apapun itu tidak penting bagiku, yang jelas ini semua memang rencana kita bersama..." Arya tak terpengaruh.
"Kalian ngomongin apa siihh....??? Aku yakin besok Dea akan pulih..." ucap Faisal santai yang ternyata mendengarkan obrolan mereka.
"Tapi Sal, aku punya firasat bahwa kita akan celaka seperti yang diramalkan kakek itu..." balas Rio.
"Hei,,, lagi-lagi itu yang kamu omongin..." Faisal sewot.
"Tapi kenyataannya semua yang diramalkan kakek itu benar, mulai dari danau yang mematikan, ular yang berbahaya, air terjun dan hutan berkabut ini... semua benar..." ucap Rio ngotot.
"Dan lagi kakek itu juga bilang bahwa dihutan inilah para dedemit dan setan itu tinggal... ya kan Arya...???" Ucap Rio lagi.
Arya pun hanya bisa terdiam menganggukan kepalanya.
"Tapi memang ada benarnya juga kata Rio Sal, semua yang terjadi ini sama persis seperti yang diramalkan kakek itu..." akhirnya Arya berucap.
"Tapi bukan berarti kita harus menggagalkan perjalanan ini kan...???" Ucap Faisal.
"Lebih penting mana nyawa Dea dengan ambisi konyolmu itu..." ucap Rio emosi.
"Tidak, ini bukan konyol, ini adalah ekspedisi hebat...!!!" Jawab Faisal optimis.
"Apa kau bilang...??? Hebat...??? Ini yang disebut hebat dengan mengorbankan nyawa temanmu sendiri...???" Ucap Rio.
"Hee jangan asal bicara kamu...!!! Dea akan baik-baik saja..." jawab Faisal.
"Tenang tenang,,, semua tenang...!!! Baik kita tunggu saja kondisi Dea besok, baru kita bicarakan lagi... Lebih baik kita istirahat malam ini..." ajak Arya menenangkan suasana.
Merekapun masuki tenda dan dilanjutkan tidur.
***
Pagi itu nampak cahaya terang yang menembus pekatnya kabut disela-sela dedaunan.
Arya terbangun lebih dulu dan dia terkejut bukan kepalang mendapati kekasihnya sudah tidak ada di sampingnya.
"Dea... Dea mana Dea...???" Ucap Arya panik.
Serentak Faisal dan Rio terbangun.
"Ada apa Arya...??? Apa yang terjadi...???" Ucap Rio gugup.
"Dea menghilang Rio... Dea gak ada disini..." cerita Arya.
"Dimana dia, dimana...??? Ayoo kita cari...!!!" Ajak Faisal.
Mereka pun langsung beranjak dari tidurnya, mengabil headlamp dan langsung mencari Dea.
"Deaaa...!!! Deaaa...!!!" mereka berteriak memanggil di tengah pekatnya kabut.
"Deaaa...!!! Deaaa...!!! Deaaa...!!!" mereka terus memanggil-manggil penuh kepanikan.
Berjalan sudah begitu jauh tapi belum ada tanda-tanda jejak Dea.
Meraka berputar-putar di daerah sekitar tenda pun juga tidak menemukan jejaknya.
"Huaaaa.... Deaa... dimana dirimuu... huhuhuuu..." Arya berteriak menangis histeris.
"Aaaaaachh....!!!" Arya terus menjerit menangis sekencang-kencangnya.
"Arya, tenang Arya... kita pasti menemukannya..." Faisal menenangkan.
"Heeehh...!!! ini semua salahmu...!!! kita semua kehilangan Dea..." gertak Rio sambil mendorong dada Faisal.
Namun Faisal hanya bisa diam, tetap berdiri dengan menundukkan kepalanya.
"Ini karena ambisi konyolmu,,, semua jadi begini... ini semua persis apa yang diramalkan kakek itu...
Aku yakin Dea jadi tumbal dedemit disini..." imbuh Rio penuh emosi.
"Seandainya kamu gak ngotot mendaki kesini, ini gak bakalan terjadi, kita telah melanggar peringatan kakek penjaga hutan ini, inilah kutukan yang harus kita terima atas kelancangan kita..." Rio terus ngeromet dan berbicara ngawur
"Diam...!!! Aku siap bertanggung jawab atas semua ini, tapi aku yakin Dea akan kita temukan, gak mungkin ada setan memakan manusia, itu tahayul....!!!" Jelas Faisal kesal.
"Tahayul atau tidak, tapi itu kenyataannya..." Rio melawan.
"Apa dengan menyalahkan aku lantas Dea ketemu...??? Tidak mungkin, kita harus mencari lagi... kita harus mencari Dea sampai ketemu...!!!" Ujar Faisal realistis.
"Haaaiii para setan dan dedemit...!!!
kalo memang kamu yang mengambil Dea, kembalikan dia kesini, ayoo hadapi aku sajaa...!!!" Faisal berteriak menantang dedemit penghuni hutan.
Tapi tak ada tanda-tanda balasan dari penghuni disitu, semua tetap vakum terdiam tanpa tanda apa-apa.
"Lihat...!!! Lihat...!!! Dedemit pun tak berani menampakkan batang hidungnya pada kita... mereka pengecut seperti kamu Rio...
Ingat, namaku Faisal tak takut pada setan atau dedemit manapun..." ucap Faisal lantang.
Melihat Faisal yang emosi dan Arya yang menangis tersedu, Rio akhirnya diam.
Semua terdiam, didepan tenda mereka hanya bisa duduk lesu, Arya nampak paling shok, dia duduk menunduk, menangis tersedu-sedu.
"Haaaaaahhh..." sesekali Arya menangis berteriak.
Faisal dan Rio tak bisa berbuat apa-apa lagi, nampak mereka putus asa.
Saat Arya sedang menangis tersedu-sedu tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Heiii,,,, kamu kenapa sayaaangg..." suara yang tak asing lagi bagi Arya.
Saat Arya menengok dia terkejut bukan kepalang, Arya langsung memeluknya.
"Deaa...???" Dari mana saja kamu..." Arya memeluk erat Dea.
"Aku baik-baik aja kok, tadi pagi tuh aku terbangun duluan, aku kebelet mau buang air, jadi yaa aku mencari tempat yang aman dunk..." ucap Dea ngeledek.
"Tapi kenapa waktu kami teriak-teriak memanggil mu kamu gak jawab...??? Bikin kami panik aja..." ucap Faisal sambil mendekat dan memeluk mereka berdua.
"Iyaa bikin panik aja kamu..." imbuh Rio sambil memeluk juga.
Mereka saling berpelukan erat.
"Heee,,, masa' lagi enak-enak buang air suruh nyautin, nanggung dunkk... nanti kalian pada ngintip lagii... hehehee..." jawab Dea bercanda.
"Syukurlah kalo semua baik-baik saja... ayoo kita istirahat sambil masak-masak..." ajak Faisal.
Setelah mereka sarapan dan istirahat sambil breafing tentang arah perjalanan.
"Sal kira-kira berapa lama lagi kita akan sampai puncak...???" Tanya Dea.
"Untuk lebih pastinya aku sendiri kurang tau, karena disini medannya sangat berkabut pekat, kita dibuat buta orientasi... bagaimana bisa membaca medan, jarak pandang kita saja gak lebih dari 10 meter. Lagian vegetasi disini sangat rapat, jadi kita gak bisa liat tanda-tanda alam sekitar..." jelas Faisal.
"Jadi kita akan berjalan kearah mana nih...???" Tanya Arya.
"Menurut feeling ku kita sedang berada di sekitar sini, jadi kita harus memotong dua punggungan lagi, setelah itu kita sampai di punggungan yang besar ini..." jelas Faisal sambil nunjuk peta.
"Dan dari punggungan inilah kita melipir terus yang akan berujung di puncak...." lanjut Faisal.
"Tapi apakah dipuncak nanti akan berkabut pekat seperti ini terus...???" Tanya Rio.
"Kemungkinan besar tidak, sepengetahuanku biasanya hutan lumut yang berkabut seperti ini hanya ada di badan gunung, sementara di kaki dan di puncak gunung cenderung bersih... dan saat kita melewati lembahan terakhir, dari situ kita harus mengambil air sebanyak-banyaknya, karena yang akan kita lalui berikutnya adalah punggungan terus, biasanya jalur punggungan jarang ada mata airnya..." jelas Faisal panjang lebar.
"Oke, yuukk kita lanjutkan perjalanan kita..." ajak Dea penuh semangat.
Pagi itu sekitar jam 9 pagi mereka pelanjutkan perjalanan.
Dengan melewati hutan lumut yang sangat lembab dan jarak pandang juga sangat terbatas, mereka menyusuri lereng, menuruni lembahan dan mendaki punggungan.
Setelah perjalanan yang begitu melelahkan, akhirnya mereka keluar dari hutan berkabut itu.
"Waaaoooww.... akhirnya sampai juga kita di hutan yang lebih sejuk ini... aku seakan bosan dengan hutan lumut tadi... huuuffftt...." celoteh Dea sambil duduk di tepian hutan.
"Huuuuhhh,,, kita disini seperti di negeri diatas awan yaa..." tegas Arya.
"Yaa... kita telah melewati hutan lembab dengan kabut abadinya... dan kita telah berada di hutan yang lebih kering... yang artinya kita akan segera sampai puncak..." jelas Faisal.
"Yuuhuuuyyy... yeaahh..." ucap Rio girang sambil menikmati pemandangan sekitarnya.
Sejenak mereka menikmati pemandangan yang disuguhkan alam semesta, menatap detail demi detailnya pemandangan sekitarnya...
"Kenapa siihh hutan tadi selalu berkabut terus..???" Tanya Rio penuh heran sambil melihat hutan kabut dibawahnya.
"Yaah namanya juga gunung kemulan, jadi yaa berkabut terus... kalo gak berkabut yaa namanya gunung telanjang..." jawab Arya bercanda.
"Yaaelah ditanya bener-bener jawabannya ngawur gitu..." Rio sewot.
"Disini selalu berkabut karena selain ketinggian disini sudah diatas 1000mdpl, juga kontur tanahnya yang berbukit-bukit yang membuat angin dan suhu disini cenderung stabil dan tenang, apalagi hutan disini masih sangat lebat dan curah hujan yang cukup tinggi membuat keadaan selalu lembab dan basah, inilah yang membuat kabut selalu menyelimuti sepanjang tahun....
Berbeda dengan gunung-gunung yang berbentuk strato yang cenderung kering, apalagi yang hutannya sudah gersang, membuat kondisi semakin kering, jadi kabut hanya melintas saja... kalaupun berkabut pekat itu hanya di jam-jam tertentu saja...." jelas Faisal panjang lebar.
"Dan kelebihan dari gunung yang berbentuk pegunungan yang berundak-undak adalah mata air cenderung lebih banyak, di banding dengan gunung strato... dengan catatan hutannya masih terjaga ..
Makanya gunung-gunung seperti Sindoro, Sumbing, Merapi akan sulit mendapatkan sumber air disana....
Berbeda dengan gunung Argopuro, Gede-Pangrango, gunung Salak, pegunungan Petungkriono dan gunung-gunung lain yang masih lebat hutannya, disana pasti lebih banyak mata air yang berlimpah..." imbuh Faisal panjang lebar.
"Ooooo..." jawab Rio sambil manggut-manggut.
"Makanya kita harus bisa menjaga hutan kita agar tetap lestari..." ucap Dea mengingatkan.
"Baiklah kalo begitu, yuukk kita turuni satu lembahan lagi, sampai disana, kita ambil air sebanyak-banyaknya karena perjalanan kita akan melewati punggungan hingga ke puncak..." ajak Faisal.
"Okee kawan..." sahut Arya penuh semangat.
Setelah sampai di dasar lembahan, disana terdapat sumber air yang lumayan kecil. Disana mereka beristirahat sambil memakan snack yang mereka bawa.
"Inilah lembahan terakhir kawan, dari sini kita akan menaiki punggungan dan mengikuti hingga sampai puncak..." ucap Faisal sambil wajahnya menengadah keatas menatap punggungan yang besar.
"Sal, tapi alangkah lebih baiknya kita masak-masak dulu saja disini, mumpung disini air masih melimpah,,, karena perjalanan kita selanjutnya harus menghemat air...." usul Dea.
"Iyaaa,,, disini kita masak-masak saja mumpung dekat dengan air..." tambah Arya.
"Baiklah kita istirahat lama disini... karena hari juga sudah mulai sore kita buka tenda di sekitar sini,,, tapi harus naik lagi beberapa meter, karena terlalu dekat dengan sungai akan berbahaya..." perintah Faisal.
"Ayoo nyari tempat yang strategis Rio..." ajak Arya.
"Iyaa kita bagi-bagi tugas seperti biasanya..." ucap Dea.
Akhirnya mereka berbagi tugas untuk bertenda di lereng punggungan itu.
Sore itu cuaca sangat cerah, sangat kontras jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya yang penuh kabut pekat.
"Disini keadaan lebih nyaman, disini juga binatang-binatang seperti Ular, kalajengking, lebah dan binatang-binatang lainnya akan jarang berada disini, biasanya hanya jenis-jenis mamalia dan burung saja yang biasa hidup disini... karena kita sudah berada di ketinggian 2000mdpl... cuma yang bikin galau dinginnya broo... menusuk tulang... hihihiii...." jelas Faisal sambil menggigil kedinginan.
"Iyaa karena makin tinggi udara makin dingin,,,
Huhuhuuu,, dinginnya gak nahan niihh... sleeping bag gak mampu menangkal dinginnya udara disini kayaknya..." tambah Arya.
"Ayoo kita mendirikan tenda dan di sisi-sisinya diberi dedaunan agar lebih hangat..." ajak Dea.
"Jangan lupa bikin api unggun juga Rio..." perintah Faisal.
Kali ini Faisal dan Arya jatahnya memasak, sementara Rio dan Dea merapi-rapikan tenda.
Setelah makan dan ngobrol santai, mereka akhirnya masuk tenda dan sleeping bag masing-masing dan tidur pulas.
***
Pagi itu, sunrise terasa sangat indah. Tak seperti hari-hari sebelumnya, sunrise kali ini sangatah menakjubkan langit seperti bertaburan emas 24 karat.
"Waaaooww... beautyfull...." celetuk Dea.
Yaaa... walaupun sedikit terhalang pepohonan, sunrise terlihat sangat indah..." ucap Arya sambil memeluk Dea dari belakang.
"Sssttt... woooyy... ingat komitmen kita dari awal bro... tempat ini terlalu suci untuk kita kotori dengan ulah kita..." tegas Faisal.
"Yaaelaaahh... cuma beginian doank..." elak Arya.
"Biarin napa Sal, lagian kan cuma berpelukan doank..." bela Rio.
Pagi itu sangat berkesan buat mereka, karena sudah beberapa hari mereka lalui penuh dengan rintangan yang sangat berat.
Dan setelah sarapan dan berkemas mereka segera melanjutkan perjalanan.
"Ayoo kita mulai lagi perjalanan kita yang tinggal beberapa langkah lagi...
Jangan lupa pakai hernes dengan memakai webing seperti yang aku ajarkan kemaren..." ajak Faisal penuh semangat.
"Tinggal beberapa langkah lagi apaan, masih jauh kaleee... liat aja tuh masih jauh gituu..." gerutu Rio.
"Yaaah namanya juga buat penyemangat..." bela Arya.
"Yaudah yuukk pakai hernesnya, kemudian kita lanjut lagi perjalanannya..." ajak Dea.
Setelah mereka berjalan sekitar 30 menit, sampailah mereka diatas punggungan, disana terlihat jelas puncak yang mereka tuju.
"Lihat itu dia puncaknya...!!!" Ucap Faisal sambil menunjuk kearah puncak.
"Hooreeee... asyiikkk... yeee...." merekapun girang bersorak-sorai.
Perjalanan mereka tinggal beberapa langkah lagi, dengan semangatnya mereka melangkah, seakan ada energi tambahan yang merasuki tubuh mereka.
Mereka berjalan menyusuri punggungan yang mengarah ke puncak tertinggi gunung Kemulan.
"Ini adalah mutiara yang tersembunyi selama ini, keindahan yang sengaja leluhur kita sembunyikan agar kelestariannya terjaga...
Ini adalah alasan mengapa penduduk sekitar mensakralkan tempat ini....
Maafkan aku Tuhan atas kelancangan hambaMu ini, yang telah menerobos kedalam sekat-sekat pembatas keindahan alam yang sengaja Kau ciptakan...
Dan saat ini aku sadar, inilah alasan mengapa Kau ciptakan mutiara yang indah ini begitu tersembunyi dengan dikelilingi pegunungan yang berlapis-lapis...
Dan terimakasih Tuhan atas izinMu kali ini memperlihatkan mutiara yang tersembunyi itu pada kami..." hati Faisal terus berkata-kata sembari terus berjalan menuju puncak yang selama ini diharapkan sambil sesekali menengok ke belakang.
"Waaoooww,,, ternyata kita sudah melewati banyak punggungan...." ujar Faisal dalam hati.
Siang itu tepat pukul 11.15wib, mereka berempat menginjakkan kaki di puncak gunung kemulan. Cuaca sangat cerah, angin berhembus sangat kencang, seakan menyambut kedatangan mereka.
"Dea, ayoo buruan dikit, kamu yang aku persilahkan menginjakan kaki pertama kali..." ajak Faisal sembari mempersilahkan Dea melangkah lebih dulu.
Sesampainya di puncak Dea langsung sujud diatas tanah bebatuan itu.
"Yuhhuuuu... Allahu akbar..." Dea langsung sujud syukur sesampainya di puncak.
Diiringi yang lain, dan mereka saling berpelukan. Merayakan kemenangan mereka.
Dan merekapun segera mengibarkan bendera kebanggaan mereka sebagai simbolis bahwa mereka telah sukses menggapai puncak kejayaan.
"Inilah puncak tertinggi gunung Kemulan, gunung yang selalu aku idam-idamkan...
gunung yang terbesar dari deretan pegunungan disekitarnya...
Bagai setupa terbesar Candi Borobudur yang dikelilingi ribuan setupa-setupa kecil disekelilingnya...
Yaaa, setupa-setupa kecil itulah yang selama ini melindungi setupa besar dari jamahan tangan-tangan jail seperti kami...
Maaf kan aku telah menyentuhmu wahai kesucian puncak abadi..." hati Faisal terus berkata-kata.
"Woiii jangan melamun aja Sal... angin disini sangat kencang, berbahaya kawan..." tegur Arya sambil menepuk pundak Faisal.
Tak lama Faisal berdiri mengambil tali yang kemudian dilemparkan ke teman-temannya.
"Kawan-kawan, ikatkan tali ini ke hernes kalian. Disini angin terlalu kencang dan puncaknya pun tidak terlalu luas, ini sangat berbahaya..." teriak Faisal sembari melempar tali.
Saat semua telah terikat pada tali dan telah terancor pada salah satu batu yang kuat, mereka sempatkan bersantai-santai ria sambil memasak air untuk membikin kopi.
Rasa lelah yang sebelumnya mendera, kini semua hilang tergantikan rasa syukur dan bahagia yang tiada tara.
"Toss dulu kawan... Tooosss..." ucap Faisal sambil menghentakan secangkir kopi bersama teman-temannya.
"Yo'iii..." sahut teman-temannya.
"Hahahaaa..." merekapun tertawa bersama.
Puncak gunung kemulan adalah puncak suci yang belum pernah tersentuh sebelumnya...
Dimana puncaknya sangat indah, nampak pemandangan hamparan hutan yang hijau nan luas bak permadani yang bergelombang membentang tak berujung.
*****
Setelah lama di puncak gunung kemulan, akhirnya mereka berkemas dan siap untuk turun.
"Ayoo kawan-kawan kita segera turun kembali melewati jalur yang kita lalui sebelumnya..." ajak Faisal.
"Oke, sebelum kita turun ada baiknya kita berdoa dulu, karena aku yakin perjalanan turun akan lebih sulit dari yang kita bayangkan..." ucap Arya penuh kedewasaan.
Setelah mereka berdoa, akhirnya perjalanan turunpun segera dimulai.
Mereka menyusuri jalur yang mereka buat sebelumnya.
Perjalanan menurun akan lebih cepat karena hanya mengikuti jalur sebelumnya yang sudah terpasang tanda pita kuning dari tali rafia, yang sebelumnya sengaja dipasang sebagai penanda jalur.
"Oke teman-teman, sembari kita turun kita cabut kembali tali rafia yang terpasang..." perintah Faisal.
"Kenapa harus dilepas Sal...???" Tanya Rio.
"Karena aku tidak ingin meninggalkan apapun di tempat ini..." jelas Faisal.
"Tapi kan, itu bisa sebagai tanda jalur untuk pendaki lain..." tanya Rio lagi.
"Aku tidak ingin ada manusia lain yang melakukan kebodohan seperti kita..." jelas Faisal lagi.
"Yaudah yuk kita turun..." ajak Dea.
Setelah itu mereka terus melanjutkan perjalanan turun.
Tidak seperti saat mendaki yang sering istirahat, untuk perjalanan turun ini mereka lebih cepat dan jarang istirahat.
Tak terasa dua punggungan telah mereka lewati, kini mereka siap memasuki kawasan hutan berkabut lagi...
"Huuft... kita memasuki hutan kabut lagi nihh... kita kudu ekstra hati-hati karena perjalanan akan semakin susah saat jalan licin seperti ini..." ucap Faisal.
"Ini nih jalur yang paling membosankan..." ucap Rio.
"Tapi juga jalur yang paling asoy... karena kita jadi sering main plosotan... hahahaa..." ujar Dea bercanda.
Setelah berjalan begitu lamanya, tak terasa hari sudah mulai sore. Kabut makin pekat, cahaya makin redup.
"Hey Sal, gimana nih... mau dilanjutin atau kita bermalam disini...???" Ucap Arya.
Faisal berhenti dari langkahnya, sesaat mengamati sekelilingnya.
"Ayoo kita lanjutin lagi sebentar, cari tempat yang nyaman buat mendirikan tenda..." ajak Faisal.
"Tapi aku terlalu lelah Sal..." keluh Rio.
"Ayoo broo dikit lagi aja..." ajak Arya sambil merangkul Rio.
Merekapun akhirnya melanjutkan perjalanannya, dengan langkah yang mulai gontai mereka terus melangkah, tiba-tiba...
"Bruuugg..." Rio terpeleset jatuh ke lereng yang curam.
Seketika semua teman-temannya langsung lari mengejarnya.
"Rioooo....!!! Riooo.....!!!" Teriak Faisal dan Arya yang suaranya menggema oleh pantulan dasar jurang.
"Rio kamu gak apa-apa kan...???" Teriak Dea makin panik.
Mereka sama sekali tak melihat Rio, karena kabut yang sangat pekat dan hari pun mulai gelap.
============BERSAMBUNG===========
Bagaimana akhir dari perjalanan ini...???
Apakah benar kata kakek juru kunci, bahwa mereka mendapat kutukan, jika sampai di puncak mereka tak akan bisa kembali dan pulang dengan selamat...???
Yuuk, kita lanjut ceritanya yang tentunya lebih seru dan menegangkan, serta banyak hikmah dan pembelajaran yang akan kita dapat...
Karena di ending cerita ini, akan berisi tentang penjelasan misteri yang sesungguhnya terjadi...
Untuk akhir cerita KLIK DISINI























.jpg)








.jpg)





