Curug Blanten, Desa Kutorojo, Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Untuk kali saya ingin mengeksplor lokasi wisata alam yang berada di daerah kabupaten Pekalongan yang baru saja diresmikan sekitar dua bulan yang lalu, tepatnya tanggal 24 april 2016. Yakni air terjun (Curug) BLANTEN.
Lokasi wisata alam air terjun yang cukup mudah dijangkau dari pusat kota Pekalongan. Yaitu cuma membutuhkan sekitar 1,5 jam perjalanan dari Pantura (kota Pekalongan) atau sekitar 40 menit dari tugu 0km Kajen.
Lokasi Curug Blanten ini tepatnya berada di dukuh Gunung Telu, desa Kutorojo, Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Jika kita dari arah kota pekalongan, kita terlebih dahulu menuju pusat kota Kajen, setelah sampai di perempatan Kajen (tugu 0km) kita ambil ke arah selatan atau menuju pasar Kajen.
Untuk menghemat biaya, sebaiknya kita membeli jajanan di pasar Kajen ini, karena selain harganya lebih murah tentu kita bisa memilih jajan sesuai selera kita. Karena di lokasi wisata nanti disana hanya ada dua warung jajan itupun di area parkir, dan di titik air terjunnya tidak ditemui pedagang satupun. Dan warung itu pun buka hanya saat wisatawan ramai seperti weekend dan hari libur.
Tetapi jika kita tidak mau repot, membeli jajanan di lokasi wisata adalah solusi yang tepat.
Setelah kita membeli jajanan pasar di pasar Kajen, perjalanan dilanjutkan ke selatan menuju arah Kandangserang, setelah berjalan sekitar 2km kita akan menemui pertigaan besar, yang ke kiri ke arah Linggo Asri dan yang ke kanan arah Kandangserang, kita ambil ke arah kanan. Dan lurus terus mengikuti jalan sekitar 20 menit (dihitung dari pasar Kajen kecepatan ±40km/jam) kita akan sampai di gang Sempuyung 2, yaitu gang menuju desa Kutorojo, patokannya sebelum tugu perbatasan Kandangserang, gangnya ada di sebelah kiri jalan, dan dipinggir gang ada baleho gambar air curug Blanten. Kalaupun kita bingung bertanya pada warga pasti akan tau karena desa Kutorojo sudah cukup terkenal di wilayah Kajen.
Dari gang ini kita akan melewati jalan aspal yang agak sedikit rusak tapi tetap layak untuk dilewati sepeda motor atau kendaraan roda empat.
Setelah berjalan sekitar 7 menit berkendara kita akan sampai di gerbang desa Kutorojo.
Dari gapuro ini perjalanan diteruskan mengikuti jalan tersebut dimana disetiap pertigaan ada plang petunjuk ke arah lokasi wisata curug Blanten.
Jadi tanpa harus bertanya pun kita tidak akan tersesat untuk mencapai curug Blanten ini.
Setelah berkendara sekitar 7 menit menyusuri jalan perkampungan lalu jalan kembali memasuki perkebunan, kita akan sampai di pintu masuk loket tempat wisata curug Blanten.
Dari loket wisata ini perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan yang baru saja jadi yang masih berupa tanah, (pas saya kesini jalan masih dikerjakan oleh warga dengan menata batu-batuan kecil agar tidak licin saat hujan) setelah menyusuri jalan baru ini tak berapa lama kita akan sampai di lokasi parkir.
Lokasi parkir ini juga masih baru dibersihkan, berupa tanah datar yang cukup luas dan lokasinya pun sangat pas untuk memarkir kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Dan juga masih rindang dan adem membuat kendaraan kita tetap aman untuk diparkir berlama-lama disini.
Di daerah parkir ini ada warung jajan sederhana yang menjajakan minuman ringan, air mineral, kopi, gorengan, snack, mie cup dll. Sangat pas untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan setelah lama perjalanan. Tapi warung ini hanya buka disaat-saat ramai pengunjung saja, jadi untuk mengantisipasi perjalanan hari biasa sebaiknya persiapkan bekal dari pasar Kajen.
Dari sini perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan setapak yang membelah hutan yang masih rimbun dan sejuk dengan trek menurun curam. Jadi diusahakan sebelum kesini kondisi badan dalam keadaan fit karena saat kita kembali jalan setapak ini akan menjadi tanjakan tajam yang akan menguras tenaga.
Sebelum sampai di lokasi curug Blanten kita juga akan disuguhi pemandangan persawahan yang indah, disana juga banyak gardu-gardu kecil yang bisa kita gunakan untuk istirahat. Dari gardu ini kita bisa menikmati pemandangan yang sangat indah serasa berada di gardu pandang mini.
Setelah melewati persawahan kita akan memasuki lagi hutan dan kembali menuruni jalur setapak, tapi dari sini curug sudah mulai terlihat jelas. Dan tak berapa lama menuruni jalur setapak kita akan sampai di titik air terjun Blanten. Mata kita akan segera disuguhi pemandangan air terjun dengan air yang jatuh melewati tebing vertikal nan indah.
Curug Blanten ini memang tidak terlalu tinggi, debit airnya juga tidak terlalu besar, tapi untuk akses yang mudah dijangkau karena dekat dengan pusat kota pemerintahan Kajen, membuat lokasi wisata alam ini layang untuk dikunjungi.
Apalagi fasilitas yang walaupun masih sederhana namun sudah memenuhi standar. Seperti tong sampah, gardu untuk berteduh, ruang ganti, pancuran air untuk mandi bilas, DLL.
Selain mandi di air terjun, bagi penggemar selfie disini spot yang tepat untuk bernarsis-narsis ria.
Dijamin foto disini akan menghasilkan foto terbaik dengan memori yang seru yang tak akan terlupakan.
Jika review dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran tentang kondisi disana secara real, silahkan tonton video berikut ini:
KESIMPULAN
Kelebihannya:
¤ air terjun ini masih baru diresmikan, otomatis suasananya masih alami dan bersih.
¤ harga tiket masuk yang sangat murah, yakni Rp 5.000,- untuk 2 orang dan sudah termasuk parkir.
¤ penduduk sekitar yang sangat ramah, hingga selalu menyapa kita saat berpapasan. Membuat hati kita nyaman saat berkunjung kesini.
¤ fasilitas yang cukup tersedia.
¤ jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.
¤ suasana hutan pinus yang masih rimbun dan alami membuat perjalanan lebih menyenangkan.
¤ lokasi parkir yang cukup luas dan adem yang mampu memuat puluhan kendaraan.
Kekurangan:
¤ debit air terjun yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu tinggi membuat pemandangan air terjunnya kurang wah dan kurang megah.
¤ kondisi airnya yang kurang jernih membuat berkurang minat untuk mandi.
¤ fasilitas toilet yang belum ada, ada ruang ganti yang bisa digunakan untuk buang air kecil namun untuk BAB belum ada fasilitas yang memenuhi standar.
¤ dilokasi air terjunnya tidak ada kedagang makanan. Jadi harus bawa bekal sendiri.
¤ jarak tempuh dari parkir yang lumayan jauh dan curam membuat kita harus hati-hati dan konsentrasi, apalagi jika musim kenghujN jalannya akan lebih licin. Dan menurut saya tidak disarankan membawa balita dibawah umur 3 tahun.
Demikianlah ulasan tentang perjalanan saya ke curug Blanten, untuk keseluruhan kalau boleh menilai saya kasih nilai 7 untuk obyek wisata ini.
Terimakasih sudah membaca dan selamat bertualang...
Jangan lupa sampah jangan dibuang sembarangan...!!!
Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat video dibawah ini, karena disini digambarkan perjalanan dari tugu 0km Kajen sampai di lokasi air terjun secara jelas dan detail.
Jika videonya susah diputar silahkan klik https://youtu.be/RJbkZ9QoP94
****************************************
****************************************
Ahmad Pajali Binzah
July 10, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaUntuk kali saya ingin mengeksplor lokasi wisata alam yang berada di daerah kabupaten Pekalongan yang baru saja diresmikan sekitar dua bulan yang lalu, tepatnya tanggal 24 april 2016. Yakni air terjun (Curug) BLANTEN.
Lokasi wisata alam air terjun yang cukup mudah dijangkau dari pusat kota Pekalongan. Yaitu cuma membutuhkan sekitar 1,5 jam perjalanan dari Pantura (kota Pekalongan) atau sekitar 40 menit dari tugu 0km Kajen.
Lokasi Curug Blanten ini tepatnya berada di dukuh Gunung Telu, desa Kutorojo, Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Jika kita dari arah kota pekalongan, kita terlebih dahulu menuju pusat kota Kajen, setelah sampai di perempatan Kajen (tugu 0km) kita ambil ke arah selatan atau menuju pasar Kajen.
![]() |
| Perempatan Kajen, atau sering disebut tugu 0km |
![]() |
| Tugu terlihat dari dekat |
Untuk menghemat biaya, sebaiknya kita membeli jajanan di pasar Kajen ini, karena selain harganya lebih murah tentu kita bisa memilih jajan sesuai selera kita. Karena di lokasi wisata nanti disana hanya ada dua warung jajan itupun di area parkir, dan di titik air terjunnya tidak ditemui pedagang satupun. Dan warung itu pun buka hanya saat wisatawan ramai seperti weekend dan hari libur.
Tetapi jika kita tidak mau repot, membeli jajanan di lokasi wisata adalah solusi yang tepat.
![]() |
| Suasana pasar Kajen |
![]() |
| Sahabat saya sedang membeli jajanan pasar |
![]() |
| Jajanan pasar seperti ini harganya relatif murah |
Setelah kita membeli jajanan pasar di pasar Kajen, perjalanan dilanjutkan ke selatan menuju arah Kandangserang, setelah berjalan sekitar 2km kita akan menemui pertigaan besar, yang ke kiri ke arah Linggo Asri dan yang ke kanan arah Kandangserang, kita ambil ke arah kanan. Dan lurus terus mengikuti jalan sekitar 20 menit (dihitung dari pasar Kajen kecepatan ±40km/jam) kita akan sampai di gang Sempuyung 2, yaitu gang menuju desa Kutorojo, patokannya sebelum tugu perbatasan Kandangserang, gangnya ada di sebelah kiri jalan, dan dipinggir gang ada baleho gambar air curug Blanten. Kalaupun kita bingung bertanya pada warga pasti akan tau karena desa Kutorojo sudah cukup terkenal di wilayah Kajen.
![]() |
| Gang menuju desa Kutorojo |
Dari gang ini kita akan melewati jalan aspal yang agak sedikit rusak tapi tetap layak untuk dilewati sepeda motor atau kendaraan roda empat.
Setelah berjalan sekitar 7 menit berkendara kita akan sampai di gerbang desa Kutorojo.
![]() |
| Gapuro desa Kutorojo |
Dari gapuro ini perjalanan diteruskan mengikuti jalan tersebut dimana disetiap pertigaan ada plang petunjuk ke arah lokasi wisata curug Blanten.
Jadi tanpa harus bertanya pun kita tidak akan tersesat untuk mencapai curug Blanten ini.
![]() |
| Plang petunjuk arah |
Setelah berkendara sekitar 7 menit menyusuri jalan perkampungan lalu jalan kembali memasuki perkebunan, kita akan sampai di pintu masuk loket tempat wisata curug Blanten.
![]() |
| Loket wisara curug Blanten |
Dari loket wisata ini perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan yang baru saja jadi yang masih berupa tanah, (pas saya kesini jalan masih dikerjakan oleh warga dengan menata batu-batuan kecil agar tidak licin saat hujan) setelah menyusuri jalan baru ini tak berapa lama kita akan sampai di lokasi parkir.
Lokasi parkir ini juga masih baru dibersihkan, berupa tanah datar yang cukup luas dan lokasinya pun sangat pas untuk memarkir kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Dan juga masih rindang dan adem membuat kendaraan kita tetap aman untuk diparkir berlama-lama disini.
![]() |
| Jalan baru, berupa tanah dengan lebar sekitar 3 meter |
![]() |
| Tempat parkir juga masih baru, cukup untuk 10 mobil dan puluhan motor |
Di daerah parkir ini ada warung jajan sederhana yang menjajakan minuman ringan, air mineral, kopi, gorengan, snack, mie cup dll. Sangat pas untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan setelah lama perjalanan. Tapi warung ini hanya buka disaat-saat ramai pengunjung saja, jadi untuk mengantisipasi perjalanan hari biasa sebaiknya persiapkan bekal dari pasar Kajen.
![]() |
| Warung sederhana tanpa atap, tapi cukup nyaman untuk melepas lelah sambil mengganjal perut. |
Dari sini perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan setapak yang membelah hutan yang masih rimbun dan sejuk dengan trek menurun curam. Jadi diusahakan sebelum kesini kondisi badan dalam keadaan fit karena saat kita kembali jalan setapak ini akan menjadi tanjakan tajam yang akan menguras tenaga.
![]() |
| Menuruni jalan setapak |
![]() |
| Saat kembali jalan setapak yang menurun berubah menjadi tanjakan curam |
Sebelum sampai di lokasi curug Blanten kita juga akan disuguhi pemandangan persawahan yang indah, disana juga banyak gardu-gardu kecil yang bisa kita gunakan untuk istirahat. Dari gardu ini kita bisa menikmati pemandangan yang sangat indah serasa berada di gardu pandang mini.
![]() |
| Gardu mini di tengah pematang sawah |
![]() |
| Penandangan dari atas gardu |
Setelah melewati persawahan kita akan memasuki lagi hutan dan kembali menuruni jalur setapak, tapi dari sini curug sudah mulai terlihat jelas. Dan tak berapa lama menuruni jalur setapak kita akan sampai di titik air terjun Blanten. Mata kita akan segera disuguhi pemandangan air terjun dengan air yang jatuh melewati tebing vertikal nan indah.
![]() |
| View Curug Blanten saat kita pertama sampai |
![]() |
| Gardu untuk berteduh di area curug Blanten |
![]() |
| Suasana yang cukup ramai, karena saya kemari pas musim libur lebaran |
Curug Blanten ini memang tidak terlalu tinggi, debit airnya juga tidak terlalu besar, tapi untuk akses yang mudah dijangkau karena dekat dengan pusat kota pemerintahan Kajen, membuat lokasi wisata alam ini layang untuk dikunjungi.
Apalagi fasilitas yang walaupun masih sederhana namun sudah memenuhi standar. Seperti tong sampah, gardu untuk berteduh, ruang ganti, pancuran air untuk mandi bilas, DLL.
![]() |
| Jangan lupa, buanglah sampah pada tempatnya |
![]() |
| Kamar ganti sederhana, juga bisa digunakan untuk buang air kecil karena di bawahnya mengalir sungai kecil. |
![]() |
| Pancuran untuk mandi bilas |
Selain mandi di air terjun, bagi penggemar selfie disini spot yang tepat untuk bernarsis-narsis ria.
Dijamin foto disini akan menghasilkan foto terbaik dengan memori yang seru yang tak akan terlupakan.
![]() |
| Selfie di air terjun utama |
![]() |
| Sahabat saya ikut-ikutan selfie, hahaa... |
![]() |
| Duduk di dahang pohon sambil menikmati pemandangan |
![]() |
| Saya selfie di air terjun sebelah kanan yang lebih kecil |
![]() |
| Sahabat saya juga ikut-ikutan selfie, hahaaa... |
Jika review dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran tentang kondisi disana secara real, silahkan tonton video berikut ini:
KESIMPULAN
Kelebihannya:
¤ air terjun ini masih baru diresmikan, otomatis suasananya masih alami dan bersih.
¤ harga tiket masuk yang sangat murah, yakni Rp 5.000,- untuk 2 orang dan sudah termasuk parkir.
¤ penduduk sekitar yang sangat ramah, hingga selalu menyapa kita saat berpapasan. Membuat hati kita nyaman saat berkunjung kesini.
¤ fasilitas yang cukup tersedia.
¤ jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.
¤ suasana hutan pinus yang masih rimbun dan alami membuat perjalanan lebih menyenangkan.
¤ lokasi parkir yang cukup luas dan adem yang mampu memuat puluhan kendaraan.
Kekurangan:
¤ debit air terjun yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu tinggi membuat pemandangan air terjunnya kurang wah dan kurang megah.
¤ kondisi airnya yang kurang jernih membuat berkurang minat untuk mandi.
¤ fasilitas toilet yang belum ada, ada ruang ganti yang bisa digunakan untuk buang air kecil namun untuk BAB belum ada fasilitas yang memenuhi standar.
¤ dilokasi air terjunnya tidak ada kedagang makanan. Jadi harus bawa bekal sendiri.
¤ jarak tempuh dari parkir yang lumayan jauh dan curam membuat kita harus hati-hati dan konsentrasi, apalagi jika musim kenghujN jalannya akan lebih licin. Dan menurut saya tidak disarankan membawa balita dibawah umur 3 tahun.
Demikianlah ulasan tentang perjalanan saya ke curug Blanten, untuk keseluruhan kalau boleh menilai saya kasih nilai 7 untuk obyek wisata ini.
Terimakasih sudah membaca dan selamat bertualang...
Jangan lupa sampah jangan dibuang sembarangan...!!!
Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat video dibawah ini, karena disini digambarkan perjalanan dari tugu 0km Kajen sampai di lokasi air terjun secara jelas dan detail.
Jika videonya susah diputar silahkan klik https://youtu.be/RJbkZ9QoP94
****************************************
****************************************
BACA JUGA:
Info Lengkap Curug Blanten, Pekalongan.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
*****
Checklis Perlengkapan Mendaki Gunung
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Semeru via Watu Rejeng turun via Eyek-Eyek
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Jika ditanya gunung mana di daerah Garut yang paling indah, tentu saya akan menjawab gunung Papandayan.
Yaa, karena menurut saya Papandayan mempunyai kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki sekaligus oleh gunung lain di daerah Garut.
Berikut beberapa alasannya:
1. Gunung Papandayan mempunyai kawah aktif yang indah dan megah, hal ini tidak dimiliki oleh gunung Cikuray atau gunung lainnya diwilayah Garut.
2. Gunung Papandayan mempunyai padang Edelweis yang masuk dalam daftar 4 padang Edelweis terbaik se-Indonesia.
3. Camping ground yg sangat luas dan mempunyai fasilitas yang cukup lengkap, mulai MCK, warung, pendataan yg baik, suplai air yg berlimpah.
4. Kondisi hutan di Gunung Papandayan masih tergolong alami dan lebat terjaga.
5. Akses yang mudah sampai dititik awal pendakian dan jalur yang landai dan tidak membutuhkan waktu lamai dalam pendakiannya. Bahkan tidak terlalu beresiko jika mengajak anak dan keluarga mendaki gunung Papandayan ini.
Jika dibanding gunung-gunung lain di Garut, gunung Papandayan ini menempati urutan paling atas untuk dikunjungi, jika dilihat dari beberapa kelebihan diatas.
Sebagai contoh, Cikuray punya hutan yang lebat tapi Cikuray tidak punya kawah, Guntur punya kawah tapi Guntur tak punya sumber air dan jalurnya gersang.
Jadi mendaki gunung Papandayan dijamin lebih seru mendapat keindahan yang lengkap..
***
Oke, saya disini tidak mau membanding-bandingkan antar gunung, tapi ingin membahas tentang pendakian gunung Papandayan, mulai dari tansport sampai tips-tips dan info lengkap sebelum melakukan pendakian.
Berikut ulasan perjalanan kami kemaren, dan sekalian saya sertakan foto-fotonya, karena bagaimanapun foto lebih bisa bercerita dari pada deretan kata-kata.
Transport.
Jika kita dari arah Jakarta sebaiknya berangkat dari terminal Kampung Rambutan, karena selain busnya lebih banyak juga melayani 24 jam, sementara Lebak Bulus mempunyai banyak keterbatasan (apalagi sekarang sedang direnovasi).
Dari Kampung Rambutan bus jurusan Garut dengan tarif Rp 52.000,- turun di terminal Guntur, garut.
Dari teeminal Guntur naik angkot jurusan Garut-Cikajang, turun di alun-alun Cisurupan.
Dari Cisurupan tak ada lagi angkutan umum, jadi kita harus carter mobil pick-up dengan tarif Rp 250.000,- per sekali jalan. Tapi jika kita tidak membawa rombongan banyak lebih baik menggunakan jasa ojek dengan tarif rata-rata Rp 25.000,- (tergantung nego)
![]() |
| Mobil pick-up yang kami carter siap mengantar ke titi awal pendakian |
Sekitar 1km sebelum area parkir Papandayan atau titik awal pendakian kita akan melewati portal untuk membyar restribusi, setiap orang akan dikenakan tarif masuk Rp 10.000,-
![]() |
| Membayar tiket masuk Rp 10.000,-/orang |
Setelah sampai area parkir, kita terlebih dahulu melapor di pos pendataan, dengan menunjukan tanda bukti restribusi tadi dan akan dimintai dana kebersihan Rp 10.000,- per rombongan.
![]() |
| Pos pendataan |
![]() |
| Pintu masuk titik awal pendakian dengan deretan warung penjual souvenir |
Titik Awal Pendakian.
Dari area parkir perjalanan dilanjut menyusuri jalan bebatuan. Sisi kiri kanan jalan terdapat pohon cantigi yang cukup rimbun. Beberapa puluh meter dari pintu masuk pohon tersebut akan berkurang dan mendekati kawah kondisi menjadi gersang, perjalanan untuk sampai di kawah Papandayan ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit sampai 30 menit.
![]() |
| Start mendaki |
![]() |
| Jalur awal bebatuan lebar, kiri kanan masih pepohonan. |
![]() |
| Pejalanan mendaki, mendekati kawah jalur mulai gersang |
![]() |
| Kawah dilihat saat pertama kali sampai |
![]() |
| Plang peringatan |
Dari kawah perjalanan terus melipir mengikuti jalur yang masih bebatuan lebar mengikuti lingkar kawah, sampai di penghujung area kawah, ada gubuk warung kecil. Ambillah jalan lurus yang mengarah ke pos 2. Jalur yang landai mengitari punggungan berupa jalan yang sudah dibuat lebar, hingga sampai di bekas longsoran, kita harus turun mengikuti jalan setapak hingga menyeberangi sungai kecil dengan aliran air yang segar dan sangat jernih. Setelah itu jalur naik lagi hingga bertemu jalan utama. Tidak lama, jalan ini akan membawa ke Pos 2.
![]() |
| Setelah melewati kawah jalur cenderung landai |
![]() |
| Narsis dulu biar kekinian, di punggungan belakang sana nampak jalur utama. |
![]() |
| Setelah turun kita akan menyeberangi sungai kecil yang jernih, lalu jalur akan menanjak. |
![]() |
| Jalur kembali mendaki |
![]() |
| Dari sini kawah sudah mulai terlihat jauh |
![]() |
| Sebelum sampai di pos 2 kita akan melihat danau di bawah sana. |
Pos 2 (Gober Hut)
Di Gober Hut ini ada lagi pos pendataan dan ada mushola serta warung. Di sini pendaki bisa beristirahat dengan nyaman setelah jalur pendakian gersang hampir tanpa teduhan yang di siang hari bisa membuat fisik cukup kelelahan.
Di pos 2 ini ada jalan yang mengarah ke Pangalengan, Kabupaten Bandung. Jarang pendaki yang naik dari arah sana, atau yang turun ke arah sana. Akses transportasi dari Kabupaten Bandung pun cukup sulit sehingga jalurnya tidak direkomendasikan.
Ambil jalan setapak menuju Pondok Saladah. Cukup hanya sekitar 10-20 menit saja berjalan santai, anda akan tiba di Pondok Saladah.
![]() |
| Istirahat sejenak di Pos 2 |
![]() |
| Di Pos 2 suasananya sangat nyaman untuk bersantai-santai ria. |
![]() |
| Perjalanan dari pos 2 ke Pondok Saladah kita akan melewati hutan dengan pohon yang unik. |
Pondok Saladah
Pondok Saladah ini adalah tempat datar yang luas dan sangat strategis untuk mendirikan tenda. Selain karena luasan-luasannya yang cocok untuk berkemah, di sini juga terdapat sumber air yang cukup melimpah. Fasilitas MCK dan banyak warung.
Dari Pondok Saladah biasanya kita menginap disini untuk melanjutkan perjalanan besok pagi atau kalau ingin menikmati sunrise tepat di Hutan mati sebaiknya berangkat pukul 04.00wib dini hari.
![]() |
| Selamat datang di Pondok Saladah |
![]() |
| Pondok Saladah adalah tanah lapang yang luas yang dikelilingi bukit dengan hutan yang masih alami |
![]() |
| Jangan lupa selpi-selpi dulu. |
![]() |
| Tenda sudah berdiri. |
![]() |
| Jangan lupa sholat. |
![]() |
| Jangan lupa juga masak-masak untuk isi perut. |
![]() |
| Padang Edelweis di sekitar Pondok Saladah |
![]() |
| Fasilitas MCK dengan air yang melimpah. |
![]() |
| Menikmati suasana pagi di depan tenda. |
Hutan Mati
Perjalanan ke kawasan Hutan Mati ini membutuhkan waktu kurang dari 1 jam, dengan melewati jalur yang sudah jelas dan tidak begitu terjal. Hutan Mati ini adalah kawasan hutan dengan pepohonan yang sudah meranggas mati karena terjangan lahar letusan tahun 2002.
Catatan, tanah hutan mati di atas Kawah Papandayan ini sangat rawan longsor, sehingga sangat dilarang untuk melewati batas aman yang telah ditentukan.
![]() |
| Selamat datang di Hutan Mati. |
![]() |
| Hamparan luas Hutan Mati. |
![]() |
| Suasana di Hutan Mati sering berkabut. |
![]() |
| Hutan Mati adalah spot terbaik untuk berfoto-foto ria. |
![]() |
| Jika hendak ke Tegal Alun, belok ke kanan naik terus, nanti disana ketemu jalan setapak. |
Tegal Alun
Untuk menuju Tegal Alun, kita harus berjalan menuju kearah kanan dari pintu Hutan Mati, atau kearah Selatan. Ikuti saja jalur itu terus hingga menemui jalan setapak. (perjalanan saya kemaren sembari memasang pita kuning agar membantu bagi pendaki lain agar mudah mengenali jalur). Sekitar satu jam perjalanan dari Hutan Mati, anda akan tiba di lapangan Edelweiss yang luar biasa luas. Itulah Tegal Alun. Jalur menuju kesini cenderung menanjak dan terjal.
![]() |
| Sebelum sampai di Tegal Alun, Hutan Mati dan Pondok Saladah akan terlihat jelas dari atas. |
![]() |
| Trek terjal, (foto diambil saat perjalanan turun) |
![]() |
| Selamat datang di Tegal Alun. |
![]() |
| Tegal Alun, padang Edelweis yang indah nan luas. |
![]() |
| Jangan lupa selpi dulu biar kekinian. |
![]() |
| Jangan lupa selpi bareng rombongan dan bendera BatikBinzah. |
![]() |
| Bendera Batik Binzah telah dibentangkan di Tegal Alun, menandakan finish perjalanan. |
Jika penjelasan dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran keadaan disana secara real, silahkan tonton video berikut...
Karena biasanya video mampu menyajikan gambaran tentang keadaan di lokasi secara nyata...
Tips dan info lengkap sebelum pendakian:
¤ Untuk menuju gunung Papandayan terlebih dahulu ke terminal Guntur, Garut. Jika dari Jakarta sebaiknya via Kampung Rambutan tarif Rp 52.000 tapi pengalaman saya kemaren 5 orang cukup membayar Rp 250.000,- saja.
Jika dari luar Jakarta silahkan cari informasi lagi untuk menuju Garut.
¤ Biaya transport yang cukup tinggi karena tidak ada angkutan umum sampai di titik awal pendakian, yang mengharuskan kita mencarter mobil atau naik ojek, jadi harus pandai-pandai menawar.
¤ gunung Papandayan termasuk gunung dengan medan yang mudah, jadi mengajak anak dan keluarga tentu lebih berkesan.
¤ Saat melewati jalur disekitar Kawah, bau menyengat belerang sangat terasa, untuk menghindari efek negatifnya sebaiknya membawa masker.
¤ Di sekitar alun-alun Cisurupan ada pasar tradisional dan minimarket bahkan supermatket, jadi tidak perlu repot-repot membawa logistik dari rumah, semua keperluan logistik tersedia disini. Bahkan mesin atm juga lengkap.
¤ Tempat mendirikan tenda paling direkomendasikan adalah di area Pondok Saladah. Karena disini terdapat warung makan, MCK, dan persediaan air yang melimpah.
Dari awal pendakian membutuhkan waktu perjalanan sekitar 4 jam untuk sampai di Pondok Saladah ini.
¤ Oohh iyaa, MCK di Pondok Saladah berbayar dan banyak warung-warung juga, jadi bawa uang cash hukumnya wajib.
¤ Jika hendak mendirikan tenda di Pondok Saladah, sebaiknya pilih area disekitar pepohonan, untuk menghindari angin dan cuaca panas disiang hari.
¤ Disepanjang pendakian, banyak dijumpai aliran air, jadi masalah air sangat melimpah dan tak perlu di khawatirkan.
¤ Puncak Tertinggi gunung Papandayan berupa puncakan yang tertutup pepohonan, selain pemandangan tidak terbuka luas dan jalur yang terjal, menurut informasi menuju puncak tidak direkomendasikan dan harus menggunakan guide.
¤ Tidak diperbolehkan mendirikan tenda di Tegal Alun, karena daerah ini sering dilalui oleh hewan buas. Selain itu, perkemahan juga berpotensi untuk merusak tanaman endemik Edelweiss (Anaphalis Javanica).
¤ Jangan lupa sampah dibawa turun kembali, karena tempat sampah hanya ada di awal titik pendakian.
=Selamat Bertualang dan salam lestari=
Saya Ahmad Pajali Binzah
*************************************
*************************************
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung








































































