Perjalanan kali ini masih tentang Petungkriyono. Yaa, karena daerah ini memang menyimpan sejuta pesona dan daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang datang berkunjung ke tempat ini. Terlebih bagi kami yang memang terlahir sebagai warga Pekalongan. Walau sebenarnya Petungkriyono bukan lagi destinasi wisata lokal, namun sudah mencakup sekala nasional.
Oke, gak usah bertele-tele. Mari kita mulai reviewnya untuk membahas tentang wanawisata Curug Lawe di Petungkriyono.
Untuk menuju kawasan ini, terlebih dahulu harus menuju Petungkriyono. Kalau kita dari Pantura (kota Pekalongan) kita menuju ke selatan. Atau baca di artikel saya yang ini: Menjelajahi Petungkriyono, detail demi detail.
![]() |
| Start awal dari rumah saya di desa Jrebeng Kembang, Karangdadap. Memakan waktu sekitar 1jam 30menit perjalanan santai. |
![]() |
| Plang petunjuk arah |
![]() |
| Land mark baru Petungkriyono. |
![]() |
| Saat perjalanan kita akan disuguhi pemandangan sawah dan hutan. |
Setelah perjalanan sekitar satu jam, kita sampai di gerbang curug Lawe yang ada di kanan jalan.
Untuk memasuki kawasan wanawisata ini, kita akan ditarik retribusi sebesar Rp 5.000/orang dan parkir sebesar Rp 2.000/motor. Jadi kalau berboncengan dengan sepeda motor berdua total yang harus dikeluarkan yaitu Rp 12.000,-
Namun harga tiket segitu serasa cukup murah jika dilihat dari pengelolaannya yang cukup baik, karena untuk fasilitas disini cukup lengkap, mulai dari parkir yang adem dan rapi, juga banyak terdapat deretan warung, disini juga terdapat mushola, MCK, camping ground, jalan yang mulai ditata, dan yang terpenting ada tempat yang lagi hits dikalangan anak muda yang suka narsis yaitu pohon selfie.
![]() |
| Gerbang selamat datang curug Lawe. |
![]() |
| Kondisi parkiran. |
![]() |
| Santai sejenak diwarung untuk sekedar menikmati kopi Owa Jawa. |
![]() |
| Menu sederhana namun istimewa. |
![]() |
| Mushola |
![]() |
| Gerbang menuju area camping ground. |
Setelah kita memasuki gerbang dan sejenak bersantai-santai ria di warung untuk sekedar menikmati secangkir kopi "Owa Jawa" yang khas Petungkriyono.
Perjalanan dilanjutkan menuju pohon selfie, berjalan melewati jalan yang cukup lebar sekitar 5 menit.
![]() |
| Kondisi jalan menuju pohon selfie. |
![]() |
| Menikmati pemandangan yang super spektakuler. |
![]() |
| Pas buat santai. |
![]() |
| Sebenernya disini banyak pohon yang telah dipasang papan untuk selfie, namun kami tidak sempat memotret satu persatu. |
![]() |
| Jangan lupa selfie. |
![]() |
| Selfie bareng team. |
Setelah melepas lelah santai sejenak dan berselfie-selfie ria, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi air terjun.
Tetapi bagi kalian yang mempunyai keterbatasan waktu dan fisik yang kurang prima, apalagi mengajak balita dibawah 3 tahun sebaiknya urungkan niat untuk ke lokasi air terjun. Karena selain memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 1 jam 15 menit dari lokasi pohon selfie, juga untuk menuju kesana aksesnya sangat sulit, selain terjal dan naik turun bukit juga melewati hutan belantara dan tebing-tebing licin.
![]() |
| Perhatikan petunjuk arah biar gak kesasar. |
![]() |
| Foto di pos ujung jalan batu, sebelum memasuki jalur setapak. |
![]() |
| Plang petunjuk arah. |
![]() |
| Jalur setapak membelah hutan rimba. |
![]() |
| Melewati tebing yang cukup licin, harap berhati-hati. |
![]() |
| Jangan lupa narsiZz... |
![]() |
| NarsieZz lagii... hahaa... |
Namun setelah pergulatan yang cukup menantang dan memakan waktu lama, akhirnya kita akan sampai di titik tujuan utama, yaitu curug Lawe.
Dan sesampainya disini, semua itu kan terbayar oleh kesejukan dan keindahan yang disajikan curug ini.
Karena disini kita akan terasa berada jauh dari kehidupan kota, apalagi pengunjung yang sampai ke titik ini relatif sedikit. Pengalaman kami kemaren yang notabene hari libur lebaran, sesampainya kami di air terjun tidak ada pengunjung lain, baru setelah 15 menitan ada pengunjung lain yang datang.
So, kalau mau kesini sebaiknya ajak rombongan, minimal 3 orang. Untuk mengantisipasi kesepian dijalan.
![]() |
| Inilah curug Lawe itu. |
![]() |
| Curugnya sangat tinggi. |
KESIMPULAN
Kelebihan:
● lokasi wisata ini masih tergolong baru dan masih alami, jadi udara dan keindahannya masih terjaga.
● harga tiket yang masih tergolong murah dan terjangkau. Cocok bagi wisatawan berkantong pas-pasan.
● fasilitas yang cukup memadai, dan masih dalam proses membangun. Sehingga kenyaman akan masih terus ditingkatkan.
● jarak dari lokasi wisata lain di Petungkriyono relatif dekat, jadi bisa digabung ke lokasi lain untuk satu kali perjalanan.
● bagi pecinta kopi, lidah dan selera kita akan dimanjakan oleh kopi asli Petungkriyono. Yang mempunyai cita rasa khas tersendiri.
● harga makanan di warung yang ada di lokasi pun cenderung murah dan masuk akal. Jadi jangan ragu-ragu untuk mampir ke warung untuk sekedar membeli gorengan dan kopi nikmat.
● kejenihan airnya masih sangat segar dan bersih. Membuat suasana lebih menyenangkan sepanjang perjalanan melipir di sungai.
● jalur relatif aman, banyak petunjuk jalan dan disetiap tebing yang licin telah terpasang tangga dan tali pegangan.
Kekurangan:
● jarak tempuh dari gerbang sampai lokasi air terjun sangatlah jauh. Sehingga bagi yang kebetulan fisiknya kurang prima akan sangat melelahkan.
Saran saya semoga kedepannya motor bisa dibawa masuk hingga mendekati air terjun.
● dari lokasi pohon selfie ke air terjun tidak terdapat gasebo atau gardu, jadi jika terjadi hujan di perjalanan kita tidak bisa berteduh.
Saran saya sebaiknya bawa jas hujan sendiri.
● walau lokasi ini tergolong bersih, tapi di setiap pos-pos tidak menyediakan tong sampah. Hanya kubangan tanah sebagai tempat sampah.
Saran saya jangan buang sampah sembarangan, sampah wajib dibawa kembali.
Dan saran saya untuk mengelola, sebaiknya di titik-titik tertentu disediakan tong sampah, agar kebersihan tetap terjaga.
● kurangnya informasi di lokasi wisata, terbukti waktu saya kembali dari air terjun banyak para pengunjung yang hendak menuju kesana, padahal waktu itu sudah sekitar jam 4 sore. Dan saya sendiri yang menyarankan kepada mereka untuk mengurungkan niatnya karena waktu tidak memungkinkan.
Saran saya sebaiknya kita datang sebelum jam 2 siang. Karena jika kita inginbke lokasi air terjun dibutuhkan minimal 3 jam PP.
Jika sudah terlanjur sore, sebaiknya kita sampai pohon selfie saja.
Dan saran saya kepada pengelola, sebaiknya ditempatkan petugas di pos-pos tertentu untuk memantau dan memberi informasi kepada pengunjung. Jika sudah jam 3 sore sebaiknya jalur menuju air terjun ditutup.
● jalur terlalu ekstrim dan tidak cocok untuk balita.
Saran saya jika membawa balita dibawah 3 tahun sebaiknya jangan ke lokasi aie terjun, cukup di pohon selfie saja.
● lokasi wanawisata ini tergolong susah diakses dengan angkutan umum. Jalurnya juga tidak bisa dilewati bus ukuran besar.
Saran saya sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi.
Penilaian saya pribadi:
Kenyamanan nilai 90
Akses ke lokasi nilai 70
Pelayanan nilai 80
Fasilitas nilai 80
Kesejukan nilai 95
Kejernihan air nilai 100
Debit air nilai 60
Demikian review perjalanan saya ke curug Lawe, Petungkriyono. Semoga dapat membantu bagi teman-teman yang ingin pelancong kesana.
Semoga bermanfaat...
Salam Rimba, Salam Lestari
Saya Ahmad Pajali Binzah
*************************************
*************************************
Kawasan Petungkriyono memang menyimpan sejuta keindahan alam yang mampu membuat hati kita decak kagum saat menikmati keindahannya.
Dan sebenarnya masih banyak spot-spot yang belum terekspos oleh khalayak umum. Salah satunya lokasi yang baru saja kami kunjungi ini. Yaa, masyarakat lokal menyebutnya kedung Sipingit, atau nama populernya adalah black canyon Pekalongan.
Lokasi aliran sungai yang di kiri kanannya terdapat tebing bebatuan hitam dengan air segar yang berwarna hijau kebiruan yang membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona dan ingin lekas menyeburkan diri untuk berenang.
Sebenarnya untuk menikmati destinasi wisata ini sudah ada basecamp wahana petualangan yang memang mengelola secara resmi kawasan kedung Sipingit ini, yaitu "Welo Asri".
Dan saya pribadi menyarankan bagi teman-teman yang ingin berwisata kesini menggunakan jasa Welo Asri, selain sangat safety juga tingkat kenyamanan dan kesenangan kita sangat diutamakan. Karena kita akan diberi peralatan yang lengkap dan dipandu serta didampingi oleh para kru yang profesional.
Namun kita harus merogoh kocek yang lumayan untuk dapat menikmati wahana ini, yaitu sebesar Rp 75.000/orang. Harga yang sesuai untuk sebuah petualangan yang aman dan menyenangkan.
Bagi teman-teman yang berkantong kecak, saya ada opsi lain agar bisa menikmati kesegaran bermain air di Kedung Sipingit ini secara gratiss tiss tiiisss...
Tentunya kita harus menyiapkan fisik dan mental yang prima. Namun sekali lagi saya tetap menyarankan untuk menggunakan jasa "Welo Asri" untuk menjamin keselamatan kita dalam bertualang.
Sekali lagi tips ini hanya untuk kamu-kamu yang memang bermental petualang dan suka bermain dengan resiko.
Oke, kita mulai reviewnya.
Untuk mencapai kedung Sipingit, kita terlebih dahulu menuju ke Petungkriyono tepatnya di desa Kayupuring. Setelah sampai di kawasan ini, kita cari titik yang terdekat dengan aliran sungai, yaitu kita berhenti dan memarkirkan kendaraan kita di sekitar jembatan, Lokasi jembatan letaknya sekitar 500m sebelum basecamp Welo Asri.
Setelah kita parkir kendaraan (pastikan kunci ganda agar lebih aman) kita melipir mengikuti jalan tadi, karena jika kita langsung mengikuti aliran sungai jalurnya sangat terjal dan berbahaya. Jadi sebaiknya kita lewat jalan raya, lalu sekitar 300m berjalan kaki menuju utara, kita akan menemui jalur setapak disebelah kiri jalan. Kita ikuti saja hingga akhirnya kita akan sampai di tepi aliran sungai.
Setelah itu kita ikuti aliran sungai ini menuju keatas (selatan) karena lokasi kedung Sipingit ini berada diatas aliran sungai. Setelah berjalan beberapa saat sampailah kita di lokasi yang kita tuju, Kedung Sipingit, surga tersembunyi di belantara Petungkriyono.
Disini kita tidak menemukan sipapun, disini juga suasana sangat sepi dan sangat asri. karena lokasi ini memang bukan untuk umum, kita bisa berenang dan bermain air sepuasnya, namun kita harus berhati-hati dan tetap mengutamakan faktor keselamatan. Selain arus yang sangat deras juga kedalam air yang sangat dalam. So, buat yang tidak bisa berenang lebih baik main dipinggir-pinggir saja.
Sekali lagi, tips ini hanya untum kamu-kamu yang suka tantangan dan punya jiwa petualang yang tinggi.
Kalau masih ragu lebih baik mundur...
Jangan lupa, jaga keindahan dan kelestarian alam ini, agar generasi penerus kita tetap bisa menikmati keindahan alam yang maha spektakuler ini...
Selamat Bertualang...!!!
Jika review dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran tentang kondisi disana secara real, silahkan tonton video berikut ini:
Alkisah di sebuah pematang sawah ada tambak budidaya ikan, yang sekelilingnya ditentengi tembok tinggi, bahkan warga sekitar pun jarang ada yang berani masuk karena di pintunya dijaga oleh dua orang penjaga. Konon budidaya ikan itu bukan ikan sembarangan, ikan itu adalah ikan naga yang harganya terkenal sangat mahal. Tak heran jika kolam budidaya itu selalu dijaga ketat dan tak semua orang diizinkan masuk.
Namun dari sekian banyak warga kampung yang takut mendekati lokasi itu, justru ada beberapa anak kecil yang sering bermain di kolam budidaya itu, bahkan para penjaga yang terkenal sangat sangar pun membolehkan anak-anak kecil itu bermain ke dalam.
Ternyata tak lain karena di dalam lokasi kolam itu seorang kakek-kakek tua yang bernama pak Karso yang bertugas memberi makan dan merawat ikan-ikan itu sangat akrab dengan anak-anak.
Yaa, karena anak-anak tersebut sering membantu pekerjaan sang kakek dalam memberi makan dan merawat ikan. Dan kakek itu merasa terbantu sekaligus merasa terhibur dengan kehadiran anak-anak yang sering datang sepulang sekolah.
Singkat cerita, saat anak-anak yang sedang asyik bermain di kolam ikan itu, tiba-tiba juragan sang pemilik kolam datang dan langsung memarahi anak-anak itu yang kedapatan sedang bermain di kolam, apalagi anak-anak itu sedang bermain kapal-kapalan yang terbuat dari daun lalu dilepaskan ke air hingga tertiup angin dan akhirnya kandas tenggelam ke dalam kolam.
Melihat itu sang juragan marah besar, karena petak-petak kolamnya kotor oleh sampah-sampah daun. Saking marahnya sang juragan, membuat anak-anak itu langsung kalang-kabut lari meninggalkan lokasi budidaya ikan naga itu. Tak pelak sang penjaga pun kena semprot oleh juragan pemilik kolam.
Bahkan kakek tua sebagai penanggung jawab kalom tak luput dari omelan sang juragan.
"Ternyata ini penyebab kolam-kolamku kotor oleh sampah-sampah itu...!!!???" Sang juragan memarahi kakek penjaga.
Nampak kakek hanya terdiam, bahkan dua penjaga gerbangpun tak sanggup berkata apa-apa lagi. Semua hanya diam ketakutan melihat kemarahan sang pemilik kolam.
"Bukankah pak Karso sudah aku beri tanggung jawab untuk menjaga kolam-kolam ini, kenapa pak Karso izinkan anak-anak kecil itu masuk dan bermain ditempat ini...!!!???" Sang juragan meluapkan kemarahannya.
"Ta ta tapi mereka hanya bermain dan selama ini tidak mengganggu ikan-ikan disini..." jawab kakek terbata-bata.
"Aku tidak peduli apa jawabanmu, yang jelas aku ingin tempat ini steril dari orang-orang luar, paham...!!!???" bentak sang juragan sembari menginggalkan pak Karso.
Saat sebelum pergi sang juragan berhenti tepat didepan dua penjaga gerbang.
"Mulai hari ini, aku tidak mau lagi ada orang lain masuk tanpa seizinku, kalau masih terulang lagi kejadian seperti ini, kalian akan aku pecat...!!!" Gertak sang juragan pada kedua penjaga gerbang sembari melangkah menuju mobilnya.
*******
Seminggu telah berlalu, sang kakek merasa kesepian, yang biasanya jam sepulang sekolah banyak anak-anak kecil yang membantu sekaligus menghiburnya, kini sepanjang hari sang kakek selalu sendiri mengurus ikan-ikan peliharaan. Apalagi jika sang majikan datang sering marah-marah tak jelas, padahal sang kakek sudah bekerja untuknya sudah hampir tujuh tahun lamanya, namun gara-gara hal itu sang juragan menjadi tak ramah lagi. Hingga akhirnya sang kakek memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dan sang juragan pun tak keberatan, justru mengungkapkan bahwa sebenarnya ia sudah berencana memberhentikannya.
"Bagus, justru aku tak repot-repot memecat pak Karso, lagian usia bapak ini sudah tak layak bekerja disini, diluar banyak yang sedang mencari kerja..." ucap sang juragan sombong.
*******
Akhirnya selepas berhenti sebagai penjaga ikan, sang kakek sekarang bekerja sebagai petani yang menggarap pekarangan dibelakang rumahnya sendiri, berbagai tanaman ia tanam seperti jagung, singkong, dan berbagai tanaman sayuran dan juga terdapat sepetak kolam budidaya ikan, berbagai hewan ternak juga ia pelihara seperti ayam, bebek dan kambing, untuk sekedar menyambung hidupnya bersama istri tercinta yang sudah sama-sama renta.
Namun yang membuat sang kakek bahagia setiap menjelang siang sehabis pulang sekolah banyak anak-anak yang datang untuk sekedar bermain dan membantu sang kakek.
Namun yang membuat sang kakek bahagia setiap menjelang siang sehabis pulang sekolah banyak anak-anak yang datang untuk sekedar bermain dan membantu sang kakek.
Kini pekarangan rumahnya menjadi lebih asri dan hijau, kolam ikannya walau bukan ikan mahal karena bibitnya didapat dari pasar dengan harga murah namun ikan tersebut sehat dan berkembang biak. Walau hidup dengan sederhana namun kehidupan kakek jauh lebih baik dan berkecukupan. Apalagi banyak tetangga dan anak-anak yang sering bermain kerumahnya. Sang kakek benar-benar tak merasa kesepian.
Suatu hari, disaat anak-anak sedang asyik bermain tiba-tiba mereka berlarian pergi ketakutan. Sang kakek heran saat ditengok ternyata sang juragan yang dulu datang kerumahnya.
"Ada apa gerangan juragan sudi mampir ke gubukku ini...???" Tanya sang kakek, sembari mempersilahkan sang juragan duduk di bangku kayu di samping pekarangan rumahnya.
"Aku bangkrut pak, semua ikan dalam kolam-kolamku mati satu persatu..." ucap sang juragan mencurahkan kesedihannya pada sang kakek.
Sang kakekpun hanya bisa diam tak tau harus berkata apa-apa lagi.
"Kalau pak Karso sudi, kiranya bapak mau bekerja sama denganku lagi, mau merawat dan menjaga kolam lagi...
Aku janji akan memberi upah yang lebih dan memberikan kebebasan buat pak Karso mengizinkan siapapun masuk ke lokasi kolam..." ucap sang juragan menghiba.
Namun sang kakek tetap diam tak bergeming.
"Aku ingin kita mulai dari awal lagi, seperti dulu pak, karena aku baru sadar semenjak bapak kerja di kolamku, panen ikan terus meningkat...
Namun saat pak Karso berhenti bekerja, lambat laun ikan-ikanku mati satu persatu..." ucap sang juragan terus menghiba.
"Tapi maaf gan, aku sudah nyaman bekerja dirumah, sudah sepantasnya aku pensiun untuk bekerja mencari uang, aku ingin hidup damai bersama warga di kampung ini..." ucap sang kakek menolak halus.
Sesaat suasana nampak hening, semua nampak terdiam tanpa bahasa.
"Baik jika memang itu keputusan pak Karso aku tidak bisa memaksa, tapi jika kiranya sudi, tolong beritahu resep agar ikan-ikan dikolam bisa sehat seperti ikan-ikan pak Karso disini..." ucap sang juragan sembari terkagum dengan ikan piaraan sang kakek.
"Jika ingin tau rahasianya, tanyakan pada anak-anak itu..." sang kakek berucap sembari menunjuk kearah anak-anak yang sedang bermain di kolam miliknya dengan daun yang dilepas tertiup angin sampai ketengah kolam.
"Horeee kapalku yang menang, sudah sampai tengah duluan..." ucap anak-anak sirak sorai bermain kapal-kapalan dikolam ikan.
"Omong kosong, anak-anak kecil itu hanya mengganggu saja..."
Mendengar ucapan pak Karso dan melihat anak-anak kecil yang sedang bermain itu, justru sang juragan kembali marah, tanpa basa basi sang juragan pergi meninggalkan rumah pak Karso.
*****
Yaa, tanpa disadari anak-anak yang sedang bermain kapal-kapalan dengan daun itu adalah rahasia kenapa ikan-ikan itu tumbuh sehat dan mudah berkembang biak, karena daun yang digunakan untuk bermain itu bukan daun biasa, daun itu adalah daun ketapang yang bermanfaat bagi kesehatan dan perkembangan ikan.
Sejak saat itu, daun ketapang dikenal sebagai resep di dunia budidaya ikan.
Karena menurut penelitian di dunia medern saat ini ternyata kandungan zat pada daun Ketapang mampu mebuat ikan sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit, sehingga menjadikan ikan tumbuh dengan kualitas terbaik.
=============SEKIAN=============
Baca juga cerpen tentang petualangan:
Tak salah memang jika kabupaten Bogor diberi julukan negeri seribu curug. Karena jika dilihat dari banyaknya tempat wisata air terjun yang sudah dikelola, Bogor menang menempati peringkat tertinggi, bukan berarti daerah lain tidak ada yang memiliki air terjun yang lebih banyak namun di Bogor ini lokasi-lokasi air terjunnya sudah dikelola dengan baik dan dijadikan komoditi pariwisata secara serius.
Oke, saya tidak mau membahas masalah banyak-banyakan air terjun, namun saya akan membahas air terjun yang lokasinya masih di sekitar wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, yaitu curug Cilember.
Jika kita masih bingung mau kemana saat liburan dan tak ingin jauh-jauh dari ibu kota Jakarta, jawabnya adalah berwisata ke curug Cilember pastinya. Karena selain jarak tempuh yang tak begitu jauh, traveling kesini dijamin mempunyai kesan tersendiri untuk sekedar merefresh otak dari kejenuhan rutinitas sehari-hari.
Mari kita bahas bersama semua tentang curug ini.
Akses tranportasi
untuk menuju curug ini kita bisa menggunakan moda transportasi umum atau dengan kendaraan pribadi. Jika kita menggunakan transportasi umum sebaiknya gunakan jasa kereta KRL, dengan rute seperti ini:
Naik KRL jurusan stasiun Bogor, sesampainya di stasiun Bogor dilanjut dengan naik angkot jurusan Bubulak-Sukasari turun di daerah Sukasari dengan tarif 4.000/orang, setelah itu naik lagi angkot jurusan Sukasari-Cisarua turun di pertigaan Hamkam dengan tarif 8.000/orang. Dari sini kita harus naik ojek untuk lokasi wisata dengan jarak sekitar 4km, biasanya ojek akan mematok tarif sekitar 25.000/orang.
Jika tidak mau ribet, dari stasiun Bogor kita bisa pesan ojek online langsung ke lokasi wisata dengan tarif sekitar 50.000/order sekali jalan.
Atau jika kita menggunakan kendaraan pribadi kita cukup mengarahkan tujuan kita ke Bogor, lalu dari Bogor kita ambil jurusan ke Cisarua. Sebelum Cisarua ada gang dengan gapura bertuliskan curug Cilember kita belok kiri. Ikuti jalan tersebut sekitar 4km kita akan sampai di tempat tujuan. Jangan kuatir nyasar karena sepanjang jalan banyak plang petunjuk jalan.
![]() |
| Plang petunjuk arah |
Setelah sampai kita akan disambut gapura pintu masuk lokasi wisata Curug Cilember. Sebelum gapura kita akan diarahkan ke kanan menuju tempat parkir. Di lokasi parkir ini, bagi pengendara sepeda motor diwajibkan menitipkan helm pada petugas parkir.
![]() |
| Suasana sesaat setelah sampai di lokasi wisata |
![]() |
| Narsis dulu |
Walau perjalanan menuju tempat wisata ini tergolong cukup melelahkan, namun sesampainya disini pikiran kita akan kembali terefresh, dan rasa lelah itu kan segera terobati dengan suasana sejuk dan udara yang masih bersih.
Jangan heran jika sesampainya kita disini, kita akan bertemu banyak wisatawan keturunan Arab dan banyak petunjuk jalan yang menggunakan bahasa Arab, bahkan di loket penjualan tiket pun cuma ada tulisan berhabasa Arab dan bahan Inggris. Karena memang di daerah Bogor sini dianggap sebagai tempat favorit oleh wisatawan dari Tanah Arab.
![]() |
| Jangan lupa foto di papan nama biar kaya orang-orang |
![]() |
| Beli tiket dulu, jangan lupa pakai bahasa arab yaa... |
Trek dan fasilitas wisata
Setelah sampai dan membeli tiket, kita akan segera memasuki kawasan wisata air terjun dengan melewati jalan setapak yang sudah tersusun batu dengan rapi. Lebar jalan sekitar 1 meter dan banyak plang petunjuk arah. Jadi selain treknya landai dan rapi, juga dijamin gak akan membingungkan pengunjung.
Di sepanjang jalur juga banyak fasilitas yang sudah memenuhi standar seperti tempat sampah, gasebo untuk istirahat, jembatan bambu, penyewaan tenda, toilet, musholla dan warung-warung makan yang sudah tertata dengan baik.
![]() |
| Jalur menuju air terjun |
![]() |
| Fasilitas tempat sampah |
![]() |
| Gazebo |
![]() |
| Taman kupu-kupu |
![]() |
| Penyewaan tenda |
Di lokasi tempat wisata ini terdapat 7 tingkat air terjun, namun yang paling favorit dan mudah dijangkau adalah curug Cilember 7, karena jika kita naik ke tingkat berikutnya tentunya makin terjal dan butuh perjuangan yang lebih ekstra. Karena saya mengajak balita, jadi saya lebih memilih air terjun paling bawah.
Setelah berjalan sekitar 15 menit jalan santai (jalan ala anak balita), akhirnya kita akan sampai di titik air terjun yang sangat populer di kawasan Bogor ini.
Disini suasananya sangat sejuk khas air terjun pada umumnya, kita juga bisa mandi, bermain air, berfoto-foto ria atau sekedar duduk-duduk dibatu untuk menikmati pemandangan. Suasana yang saya foto ini pada hari rabu bukan weekend, jika hari libur tentunya suasananya akan lebih ramai dan meriah oleh para wisatawan.
![]() |
| Foto di air terjun |
![]() |
| Nama lengkap: Sabina Fitria Rinjani nama panggilan: Riani nama populer: Ai' |
![]() |
| Ibunya ikut narsis |
![]() |
| Takut kepleset |
![]() |
| Narsis lagiii |
![]() |
| Jangan lupa beli oleh-oleh |
KESIMPULAN
Kelebihan:
● tempat wisata ini masih tergolong dekat dengan ibu kota Jakarta, jadi untuk kesini bisa dijangkau satu hari perjalanan, dan tak perlu menyewa villa atau penginapan. Tapi bagi yang suka jalan santai dan menikmati kesegaran udara pegunungan dan ketenangan malam menyewa villa keputusan terbaik.
● banyaknya fasilitas yang sudah memadai dan pengelolaan yang sangat baik membuat pengujung merasa nyaman dan bisa menjadi tempat wisata favorit keluarga terutama bagi yang membawa balita.
● jarak tempuh dari pintu masuk ke lokasi air terjun tergolong sangat dekat hanya 15 menit jalan kaki ala balita dan sepanjang jalan dipenuhi rimbun pepohonan membuat perjalanan menjadi sangat menyenangkan.
● terdapat tempat penangkaran kupu-kupu menjadi nilai positif bagi yang ingin wisata edukasi bagi anak-anaknya.
● tiket masuk yang masih terjangkau yakni hanya 10.000/orang di hari biasa dan 15.000/orang dihari libur.
● banyak penyewaan tenda dan adanya kawasan camping ground, jadi bagi yang ingin menikmati suasana berbeda menginap di tenda menikmati suasana malam dikawasan ini yang tentunya keamanan dan keselamatan pengunjung sudah terjamin.
Kekurangan:
• tempat wisata ini tergolong susah diakses dari angkutan umum, jadi sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi, kecuali bagi backpacker sejati yang suka melancong dengan menggunakan angkutan umum.
• jalan menuju lokasi masih cukup sempit, jadi saat ada kendaraan lain dari lawan arah, salah satu harus mengalah dan menepi. Dan saya juga gak bisa membayangkan jika ada dua bus besar berpapasan, karena saat saya hendak pulang ada beberapa bus wisata yang sedang menuju ke lokasi wisata.
• tarif parkir yang relatif mahal, untuk kendaraan roda dua dipatok Rp 5.000 namun helm diwajibkan dititipkan ke petugas, sehingga untuk total biaya parkir+helm menjadi Rp10.000.
• minimnya petunjuk dan keterangan berbahasa Indonesia dan kebanyakan menggunakan berbahasa Arab membuat kita terasa asing dinegeri sendiri. Dan merasa tidak diprioritaskan.
• debit air tidak terlalu besar membuat kita tidak merasa wah sesaat sampai di titik lokasi. Dan juga kejernihan airnya tidak terlalu jernih dan cenderung keruh.
• dilokasi wisata ini cenderung sering hujan, sebaiknya datang lebih pagi dan bawa payung atau jas hujan untuk persiapan. Tapi jika lupa membawa, di lokasi banyak yang menjual payung dan jas hujan plastik. Dengan tarif yang lumayan mahal yakni payung Rp 40.000 dan jas hujan tipis Rp 15.000.
Penilaian saya pribadi:
Kenyamanan nilai 90
Akses ke lokasi nilai 80
Pelayanan parkir nilai 60
Suasana kesejukan nilai 90
Fasilitas nilai 90
Kejernihan air nilai 70
Sekian dulu review saya tentang curug Cilember, semoga dapat membantu bagi teman-teman yang ingin melancong ke curug ini.
selamat bertualang...
-Ahmad Pajali Binzah-
************************************
************************************
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Sesaat setelah aku pijakkan kaki turun dari minibus yang mengantarkan aku sampai di depan stasiun kereta di kota Solo ini, mataku langsung tertuju pada pemandangan yang menarik perhatianku. Pemandangan yang tak lazim dan mampu membuat hatiku bertanya-tanya, siapakah dia? Ada apa dengan dirinya?
Ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
"Aaahh masih lama ini keretanya, masih ada sekitar dua jam lagi..." gumamku dalam hati.
Lalu aku melangkah menuju warung kopi yang tak jauh dari stasiun. Ku lepaskan ransel besar yang selalu mencekik rongga dadaku agar semua sendi dan tulang punggungku terasa lega hingga aku bisa bernafas lepas.
Lalu aku memesan segelas es kopi capucino untuk mendinginkan seluruh kerongkonganku sembari mengamati seseorang yang membuat hatiku penasaran.
"Merhatiin apa mas...???" Tanya ibu pemilik warung sembari mengaduk gelas lalu menyuguhkan es capucino pesananku.
"Aahh gak kok bu..." jawabku singkat sembari menerima gelas besar yang berisi es capucino dan aku pun tak sabar untuk meminumnya.
Sesekali aku menengok ke arah pertigaan jalan sembari memperhatikannya. Lalu aku ambil gorengan hangat dan cabe rawit, langsung ku kunyah untuk sekedar mengganjal perut untuk mengusir rasa lapar.
"Iri... iri... iri... anan... anan... maju maju..." begitulah ucapannya untuk mengatur lalu lintas di pertigaan itu yang sedari tadi aku perhatikan.
Dengan tangan yang selalu tertekuk, pipi dan bibirnya tebal, mata sipit dan giginya gupis tak rata, postur tubuhnya yang gembul, Sorot matanya polos dan mimik wajahnya yang selalu datar.
Yaa, dialah anak keterbelakangan mental yang sedari tadi aku perhatikan, walau dengan kekurangannya ia sangat aktif mengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan jalan.
Dalam hati selalu bertanya-tanya, "dimanakah orang tuanya, bukankah anak seperti dirinya butuh perhatian dan pendidikan khusus?" Ucap hatiku penuh heran. Hingga aku lupa kalau aku sedang mengunyah gorengan.
Lalu anak yang sedari tadi aku perhatikan itu, berjalan terseok menuju warung dimana aku berada.
"Buk, es teh atuk yaa, dibung'us..." katanya dengan nada polos. Sembari mengusap keringatnya dengan haduk kecil yang mengalungi lehernya.
Setelah es teh pesanan jadi, dia pun merogoh kantong celananya dan memberikan uang receh tiga ribu rupiah dan langsung berjalan meninggalkan warung kopi ini.
"Dia anak idiot, orang-orang sini memanggilnya Situmbal..." celetuk pemilik warung.
Aku langsung terperanjat mendengar ucapan ibu pemilik warung dengan bahasa blak-blakan.
"Kenapa dipanggilnya Situbal bu...???" Aku kembali bertanya karena tak kuasa menahan rasa penasaran di pikiran ini.
"Sebenarnya dia bukan anak orang sembarangan..." jawab ibu itu sembari membersihkan meja lalu mengambil gelas dan piring bekas pembeli yang baru saja pergi untuk dicuci di ruang belakang.
Rasa penasaran yang kian menjadi, akhirnya aku beranikan diri untuk mengikuti anak itu. Tak lupa ku rogoh kantong celanaku lalu ku ambil uang lima puluh ribuan dan ku berikan ke ibu pemilik warung.
"Ini bu, aku ambil gorengan tiga sama es capucino... kembaliannya ntar yaa bu, sekalian aku titip tas ranselku dulu..." lalu aku segera berjalan mengejar anak tadi.
Ibu pemilik warung hanya bisa mengiyakan sembari menatapku penuh heran.
*****
Keluar dari warung aku sudah tak melihatnya lagi, tengak-tengok ke segala penjuru pun nihil ku dapati, tapi yang jelas dia berjalan ke arah timur dan tanpa pikir panjang aku langsung mengejar kearah anak itu pergi. Setelah beberapa lama aku berjalan sembari sesekali berlari kecil, dari jauh mulai terlihat seorang anak dengan kaos oblong biru yang berjalan terseok, tak lain itu pasti anak yang aku maksud.
Setelah mulai dekat, dan ingin aku dekati untuk aku ajak ngobrol agar aku lebih dekat mengenal dirinya. Namun anak itu malah menghindar dan belok ke gedung perkantoran yang megah, aku pun mengejarnya ke dalam hingga aku dihadang oleh security di gerbang.
"Maaf ada keperluan apa mas...???" Tanya security itu seakan tak mengizinkan aku masuk. Mungkin penampilanku yang lusuh dan kumel karena baru turun dari mendaki gunung hingga security itu seakan menganggapku tak layak masuk ke gedung perkantoran itu. Tapi bukankah anak tadi juga berpenampilan kumal bahkan lebih kumal dari aku?
"Ooh maaf pak, saya cuma ingin mencari teman saya yang barusan masuk kesana pak..." jawabku pada pak security itu.
"Ooh dia dek Apie steveanus...??? Dia kalau jam segini memang waktunya pulang..." jawab security itu menjelaskan, namun membuatku makin penasaran.
"Tapi bukankah dia baru saja jadi tukang parkir di pertigaan sana pak...???" Tanyaku dengan mimik wajah heran.
"Iyaa, tapi kalo sudah jam segini dia akan menemui ibunya untuk diantar pulang...
Dia anak bu Meilin pemilik perusahaan ini..." jawabnya security itu yang mampu mebuat hatiku terperanjat tak percaya.
Lalu aku mengurungkan niatku untuk masuk mengikuti anak itu, membalikkan badan berjalan meninggalkan gedung yang berdiri menjulang. Namun dari jauh aku melihat anak itu sedang ngobrol dengan seorang ibu.
Tapi alangkah terkejutnya aku, melihat bahwa ibu itu adalah ibu yang pernah ku temui di jalur pendakian gunung Lawu kemarin.
"Yaa, aku ingat betul ibu itu yang kemarin ketemu di sebuah petilasan di dalam kawasan Cemoro Sewu tepat sekitar 300m setelah memasuki gerbang pendakian..." ucap hatiku yakin, hingga tanpa sadar aku kembali mendekat.
Aku ingat betul ibu itu, dimana saat itu aku hendak mendaki, dan ibu itu baru saja keluar dari area bangunan pemujaan bersama asistennya.
"Habis ini kita mau kemana lagi bu...???" Ucap asistennya, wanita paruh baya yang selalu setia mendampingi tuannya.
"Habis ini kita ke gunung Kawi Jawa Timur, kita lanjut lagi ritual disana..." jawab ibu itu tenang sembari berjalan turun, menuju parkiran.
Aku yang berpapasan dan mendengar ucapan mereka serasa aneh, masih saja ada di kehidupan saat ini orang-orang menjadikan gunung sebagai tempat untuk sesembahan dan ritual hal-hal yang berbau mistik. Tapi saat itu aku tak terlalu peduli, karena bagiku gunung adalah suatu tempat yang indah untuk mendekatkan diri pada alam semesta beserta Sang Penciptanya.
*****
Lamunanku kembali terjaga lalu aku kembali memperhatikan percakapan Steve dengan ibunya.
Lalu aku mencoba melangkah lebih dekat lagi, mencoba mendengarkan percakapan mereka, walau tak terdengar jelas namun setidaknya aku tau apa yang mereka bicarakan dari mimik wajahnya.
"Ayo mama kita pulang..." ajak anak itu dengan suara besar agak cedal khas anak keterbelakangan mental, sembari merengek menarik-narik tangan ibunya.
"Steve, mama masih banyak pekerjaan, kamu pulang dulu saja biar diantar pak Karso..." jawab ibunya merayu Stave agar mau pulang diantar sopir.
Namun anak itu tetap ingin pulang bersama ibunya, terus menarik-narik tangannya. Lalu anak itu berlari meninggalkan ibunya yang sontak dikejar security gerbang.
"Jangan pak, biarkan dia pulang sendiri...
Sudah biasa seperti itu..." ucap ibu Meilin dengan nada judes, melarang security mengejarnya.
Bagiku ini pemandangan yang sangat kontras dimana anak yang berpakaian lusuh merengek minta diantar pulang oleh ibunya yang berpenampilan sangat rapi. Namun ibunya seakan tak peduli sama sekali.
"Dia tumbal pesugihan orang tuanya, bahkan ayahnya telah meninggal sesaat dia dilahirkan..." ucap kakek tua yang tiba-tiba datang sembari menepuk pundakku yang sedang khusu' memperhatikan perbincangan antara ibu dan anak yang sangat janggal itu.
Belum sempat aku bertanya lagi tentang Stave, kakek itu segera pergi dengan tongkat kayu dengan jalannya yang mulai membungkuk. Lalu hilang setelah menyeberang jalan tertutup lalu-lalang lalu-lintas jalan.
Dan kembali ku alihkan perhatianku pada Stave yang lari meninggalkan ibunya.
Melihat anaknya pergi seakan ibunya tak menghiraukan, ibu itu malah kembali masuk ke gedung, seakan tak mengkhawatirkan tentang kepergian anaknya.
Dari kejadian ini aku mulai bisa menyimpulkan bahwa keberadaan Stave baginya seakan sudah tak dianggap lagi. Pantas saja semua orang menyebutnya Situmbal. Tumbal keserakahan seorang ibu yang tak punya hati.
Jika memang cerita yang aku dengar ini benar adanya, atau hanya sebatas isu dan mitos belaka, namun apapun itu menelantarkan anak demi karirnya adalah sebuah tindakan yang tak pantas dilakukan oleh seorang ibu. Anak yang memiliki keterbelakangan mental bukanlah suatu aib atau beban bagi keluarga, namun sebagai orang tua justru seharusnya memberi perhatian lebih pada anaknya.
Di dalam lamunanku aku kembali tersadar bahwa aku sedang berada di kota orang, kembali ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
"Waduh 15 menit lagi keretanya datang..." ucapku dalam hati penuh kepanikan.
Dan akupun langsung lari menuju warung kopi untuk mengambil tas rangselku lalu segera menuju stasiun untuk melanjutkan perjalananku.
*****
Namun setelah aku sampai di warung kopi aku melihat banyak orang berkerumun tak biasa. Aku juga melihat ada bercak darah diaspal tapat di pertigaan yang menandakan ada bekas kecelakaan.
Lalu aku masuk ke warung kopi itu untuk mengambil tas ranselku, aku mencoba bertanya pada ibu pemilik warung.
"Ada apa bu, kok ramai di depan sana...???" Tanyaku sembari mengangkat tas ransel untuk ku gendong di punggungku.
"Itu mas, Situmbal kecelakaan..." jawab ibu itu singkat dengan raut wajah yang terlihat cemas.
Aku langsung terperanjat mendengar kabar itu, seakan tak percaya semua yang terjadi ini. Walaupun aku baru saja mengenal sosoknya, namun seakan aku ikut merasakan kehilangan.
Namun jam arloji yang melingkar di lenganku menunjukkan bahwa 5 menit lagi kereta akan datang. Dan tak ada waktu lagi selain harus bergegas pergi. Aku berlari menuju stasiun yang tak jauh dari warung itu, sembari sesekali menengok ke belakang melihat dimana orang-orang masih berkerumun di bekas kecelakaan.
"Apapun yang terjadi padamu, semoga semua ini yang terbaik Stave..." ucap hatiku sembari melangkah memasuki stasiun kereta api.
Sesaat setelah sampai di dalam stasiun, kereta pun datang tepat waktu, dengan nafas yang masih tersengal-sengal aku langsung naik dan mencari tempat duduk yang sesuai di tiket keretaku.
Dan aku pun duduk di samping jendela agar pandanganku lebih luas menikmati perjalanan.
Lalu kembali ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
Waktu menunjukkan pukul 13.35wib dan kereta pun berjalan sesuai jadwal keberangkatan.
Sesaat setelah sampai di dalam stasiun, kereta pun datang tepat waktu, dengan nafas yang masih tersengal-sengal aku langsung naik dan mencari tempat duduk yang sesuai di tiket keretaku.
Dan aku pun duduk di samping jendela agar pandanganku lebih luas menikmati perjalanan.
Lalu kembali ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
Waktu menunjukkan pukul 13.35wib dan kereta pun berjalan sesuai jadwal keberangkatan.
"Selamat tinggal kota Solo, selamat tinggal Stave...
Sebuah nama, sebuah kota yang tak mungkin ku lupa..."
Sebuah nama, sebuah kota yang tak mungkin ku lupa..."
Semoga perjalanan kisah ini mampu menginspirasi kita semua... Semoga...
============SEKIAN============

























































