Perjalanan kali ini masih tentang Petungkriyono. Yaa, karena daerah ini memang menyimpan sejuta pesona dan daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang datang berkunjung ke tempat ini. Terlebih bagi kami yang memang terlahir sebagai warga Pekalongan. Walau sebenarnya Petungkriyono bukan lagi destinasi wisata lokal, namun sudah mencakup sekala nasional.
Oke, gak usah bertele-tele. Mari kita mulai reviewnya untuk membahas tentang wanawisata Curug Lawe di Petungkriyono.
Untuk menuju kawasan ini, terlebih dahulu harus menuju Petungkriyono. Kalau kita dari Pantura (kota Pekalongan) kita menuju ke selatan. Atau baca di artikel saya yang ini: Menjelajahi Petungkriyono, detail demi detail.
![]() |
| Start awal dari rumah saya di desa Jrebeng Kembang, Karangdadap. Memakan waktu sekitar 1jam 30menit perjalanan santai. |
![]() |
| Plang petunjuk arah |
![]() |
| Land mark baru Petungkriyono. |
![]() |
| Saat perjalanan kita akan disuguhi pemandangan sawah dan hutan. |
Setelah perjalanan sekitar satu jam, kita sampai di gerbang curug Lawe yang ada di kanan jalan.
Untuk memasuki kawasan wanawisata ini, kita akan ditarik retribusi sebesar Rp 5.000/orang dan parkir sebesar Rp 2.000/motor. Jadi kalau berboncengan dengan sepeda motor berdua total yang harus dikeluarkan yaitu Rp 12.000,-
Namun harga tiket segitu serasa cukup murah jika dilihat dari pengelolaannya yang cukup baik, karena untuk fasilitas disini cukup lengkap, mulai dari parkir yang adem dan rapi, juga banyak terdapat deretan warung, disini juga terdapat mushola, MCK, camping ground, jalan yang mulai ditata, dan yang terpenting ada tempat yang lagi hits dikalangan anak muda yang suka narsis yaitu pohon selfie.
![]() |
| Gerbang selamat datang curug Lawe. |
![]() |
| Kondisi parkiran. |
![]() |
| Santai sejenak diwarung untuk sekedar menikmati kopi Owa Jawa. |
![]() |
| Menu sederhana namun istimewa. |
![]() |
| Mushola |
![]() |
| Gerbang menuju area camping ground. |
Setelah kita memasuki gerbang dan sejenak bersantai-santai ria di warung untuk sekedar menikmati secangkir kopi "Owa Jawa" yang khas Petungkriyono.
Perjalanan dilanjutkan menuju pohon selfie, berjalan melewati jalan yang cukup lebar sekitar 5 menit.
![]() |
| Kondisi jalan menuju pohon selfie. |
![]() |
| Menikmati pemandangan yang super spektakuler. |
![]() |
| Pas buat santai. |
![]() |
| Sebenernya disini banyak pohon yang telah dipasang papan untuk selfie, namun kami tidak sempat memotret satu persatu. |
![]() |
| Jangan lupa selfie. |
![]() |
| Selfie bareng team. |
Setelah melepas lelah santai sejenak dan berselfie-selfie ria, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi air terjun.
Tetapi bagi kalian yang mempunyai keterbatasan waktu dan fisik yang kurang prima, apalagi mengajak balita dibawah 3 tahun sebaiknya urungkan niat untuk ke lokasi air terjun. Karena selain memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 1 jam 15 menit dari lokasi pohon selfie, juga untuk menuju kesana aksesnya sangat sulit, selain terjal dan naik turun bukit juga melewati hutan belantara dan tebing-tebing licin.
![]() |
| Perhatikan petunjuk arah biar gak kesasar. |
![]() |
| Foto di pos ujung jalan batu, sebelum memasuki jalur setapak. |
![]() |
| Plang petunjuk arah. |
![]() |
| Jalur setapak membelah hutan rimba. |
![]() |
| Melewati tebing yang cukup licin, harap berhati-hati. |
![]() |
| Jangan lupa narsiZz... |
![]() |
| NarsieZz lagii... hahaa... |
Namun setelah pergulatan yang cukup menantang dan memakan waktu lama, akhirnya kita akan sampai di titik tujuan utama, yaitu curug Lawe.
Dan sesampainya disini, semua itu kan terbayar oleh kesejukan dan keindahan yang disajikan curug ini.
Karena disini kita akan terasa berada jauh dari kehidupan kota, apalagi pengunjung yang sampai ke titik ini relatif sedikit. Pengalaman kami kemaren yang notabene hari libur lebaran, sesampainya kami di air terjun tidak ada pengunjung lain, baru setelah 15 menitan ada pengunjung lain yang datang.
So, kalau mau kesini sebaiknya ajak rombongan, minimal 3 orang. Untuk mengantisipasi kesepian dijalan.
![]() |
| Inilah curug Lawe itu. |
![]() |
| Curugnya sangat tinggi. |
KESIMPULAN
Kelebihan:
● lokasi wisata ini masih tergolong baru dan masih alami, jadi udara dan keindahannya masih terjaga.
● harga tiket yang masih tergolong murah dan terjangkau. Cocok bagi wisatawan berkantong pas-pasan.
● fasilitas yang cukup memadai, dan masih dalam proses membangun. Sehingga kenyaman akan masih terus ditingkatkan.
● jarak dari lokasi wisata lain di Petungkriyono relatif dekat, jadi bisa digabung ke lokasi lain untuk satu kali perjalanan.
● bagi pecinta kopi, lidah dan selera kita akan dimanjakan oleh kopi asli Petungkriyono. Yang mempunyai cita rasa khas tersendiri.
● harga makanan di warung yang ada di lokasi pun cenderung murah dan masuk akal. Jadi jangan ragu-ragu untuk mampir ke warung untuk sekedar membeli gorengan dan kopi nikmat.
● kejenihan airnya masih sangat segar dan bersih. Membuat suasana lebih menyenangkan sepanjang perjalanan melipir di sungai.
● jalur relatif aman, banyak petunjuk jalan dan disetiap tebing yang licin telah terpasang tangga dan tali pegangan.
Kekurangan:
● jarak tempuh dari gerbang sampai lokasi air terjun sangatlah jauh. Sehingga bagi yang kebetulan fisiknya kurang prima akan sangat melelahkan.
Saran saya semoga kedepannya motor bisa dibawa masuk hingga mendekati air terjun.
● dari lokasi pohon selfie ke air terjun tidak terdapat gasebo atau gardu, jadi jika terjadi hujan di perjalanan kita tidak bisa berteduh.
Saran saya sebaiknya bawa jas hujan sendiri.
● walau lokasi ini tergolong bersih, tapi di setiap pos-pos tidak menyediakan tong sampah. Hanya kubangan tanah sebagai tempat sampah.
Saran saya jangan buang sampah sembarangan, sampah wajib dibawa kembali.
Dan saran saya untuk mengelola, sebaiknya di titik-titik tertentu disediakan tong sampah, agar kebersihan tetap terjaga.
● kurangnya informasi di lokasi wisata, terbukti waktu saya kembali dari air terjun banyak para pengunjung yang hendak menuju kesana, padahal waktu itu sudah sekitar jam 4 sore. Dan saya sendiri yang menyarankan kepada mereka untuk mengurungkan niatnya karena waktu tidak memungkinkan.
Saran saya sebaiknya kita datang sebelum jam 2 siang. Karena jika kita inginbke lokasi air terjun dibutuhkan minimal 3 jam PP.
Jika sudah terlanjur sore, sebaiknya kita sampai pohon selfie saja.
Dan saran saya kepada pengelola, sebaiknya ditempatkan petugas di pos-pos tertentu untuk memantau dan memberi informasi kepada pengunjung. Jika sudah jam 3 sore sebaiknya jalur menuju air terjun ditutup.
● jalur terlalu ekstrim dan tidak cocok untuk balita.
Saran saya jika membawa balita dibawah 3 tahun sebaiknya jangan ke lokasi aie terjun, cukup di pohon selfie saja.
● lokasi wanawisata ini tergolong susah diakses dengan angkutan umum. Jalurnya juga tidak bisa dilewati bus ukuran besar.
Saran saya sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi.
Penilaian saya pribadi:
Kenyamanan nilai 90
Akses ke lokasi nilai 70
Pelayanan nilai 80
Fasilitas nilai 80
Kesejukan nilai 95
Kejernihan air nilai 100
Debit air nilai 60
Demikian review perjalanan saya ke curug Lawe, Petungkriyono. Semoga dapat membantu bagi teman-teman yang ingin pelancong kesana.
Semoga bermanfaat...
Salam Rimba, Salam Lestari
Saya Ahmad Pajali Binzah
*************************************
*************************************
Kawasan Petungkriyono memang menyimpan sejuta keindahan alam yang mampu membuat hati kita decak kagum saat menikmati keindahannya.
Dan sebenarnya masih banyak spot-spot yang belum terekspos oleh khalayak umum. Salah satunya lokasi yang baru saja kami kunjungi ini. Yaa, masyarakat lokal menyebutnya kedung Sipingit, atau nama populernya adalah black canyon Pekalongan.
Lokasi aliran sungai yang di kiri kanannya terdapat tebing bebatuan hitam dengan air segar yang berwarna hijau kebiruan yang membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona dan ingin lekas menyeburkan diri untuk berenang.
Sebenarnya untuk menikmati destinasi wisata ini sudah ada basecamp wahana petualangan yang memang mengelola secara resmi kawasan kedung Sipingit ini, yaitu "Welo Asri".
Dan saya pribadi menyarankan bagi teman-teman yang ingin berwisata kesini menggunakan jasa Welo Asri, selain sangat safety juga tingkat kenyamanan dan kesenangan kita sangat diutamakan. Karena kita akan diberi peralatan yang lengkap dan dipandu serta didampingi oleh para kru yang profesional.
Namun kita harus merogoh kocek yang lumayan untuk dapat menikmati wahana ini, yaitu sebesar Rp 75.000/orang. Harga yang sesuai untuk sebuah petualangan yang aman dan menyenangkan.
Bagi teman-teman yang berkantong kecak, saya ada opsi lain agar bisa menikmati kesegaran bermain air di Kedung Sipingit ini secara gratiss tiss tiiisss...
Tentunya kita harus menyiapkan fisik dan mental yang prima. Namun sekali lagi saya tetap menyarankan untuk menggunakan jasa "Welo Asri" untuk menjamin keselamatan kita dalam bertualang.
Sekali lagi tips ini hanya untuk kamu-kamu yang memang bermental petualang dan suka bermain dengan resiko.
Oke, kita mulai reviewnya.
Untuk mencapai kedung Sipingit, kita terlebih dahulu menuju ke Petungkriyono tepatnya di desa Kayupuring. Setelah sampai di kawasan ini, kita cari titik yang terdekat dengan aliran sungai, yaitu kita berhenti dan memarkirkan kendaraan kita di sekitar jembatan, Lokasi jembatan letaknya sekitar 500m sebelum basecamp Welo Asri.
Setelah kita parkir kendaraan (pastikan kunci ganda agar lebih aman) kita melipir mengikuti jalan tadi, karena jika kita langsung mengikuti aliran sungai jalurnya sangat terjal dan berbahaya. Jadi sebaiknya kita lewat jalan raya, lalu sekitar 300m berjalan kaki menuju utara, kita akan menemui jalur setapak disebelah kiri jalan. Kita ikuti saja hingga akhirnya kita akan sampai di tepi aliran sungai.
Setelah itu kita ikuti aliran sungai ini menuju keatas (selatan) karena lokasi kedung Sipingit ini berada diatas aliran sungai. Setelah berjalan beberapa saat sampailah kita di lokasi yang kita tuju, Kedung Sipingit, surga tersembunyi di belantara Petungkriyono.
Disini kita tidak menemukan sipapun, disini juga suasana sangat sepi dan sangat asri. karena lokasi ini memang bukan untuk umum, kita bisa berenang dan bermain air sepuasnya, namun kita harus berhati-hati dan tetap mengutamakan faktor keselamatan. Selain arus yang sangat deras juga kedalam air yang sangat dalam. So, buat yang tidak bisa berenang lebih baik main dipinggir-pinggir saja.
Sekali lagi, tips ini hanya untum kamu-kamu yang suka tantangan dan punya jiwa petualang yang tinggi.
Kalau masih ragu lebih baik mundur...
Jangan lupa, jaga keindahan dan kelestarian alam ini, agar generasi penerus kita tetap bisa menikmati keindahan alam yang maha spektakuler ini...
Selamat Bertualang...!!!
Jika review dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran tentang kondisi disana secara real, silahkan tonton video berikut ini:
Petungkriyono, mungkin bagi sebagian orang masih asing didengar, tetapi bagi masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, khususnya buat saya sendiri yang asli Pekalongan, nama Petungkriyono sudah tak asing lagi di telinga. Karena tempat ini sudah menjadi salah satu tujuan wisata di Pekalongan, bahkan akhir-akhir ini nama Petungkriyono mulai dikenal luas.
Menurut informasi dari data Pemerintah, Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi kawasan Dieng bagian utara. Luas wilayah 7.358,523 Ha yang sebagian besar adalah hutan Negara seluas 5.189,507 Ha (84%). Luas pemukiman hanyalah 119,652 Ha (16 %) dari luas wilayah. Kecamatan Petungkriyono secara geografis terletak di bagian selatan wilayah Kabupaten Pekalongan dengan batas :
Utara : Kecamatan Talun
Selatan : Kecamatan Wanayasa Kab. Banjarnegara.
Timur : Kec. Bandar Kabupaten Batang.
Barat : Kecamatan Lebakbarang.
Hutan Petungkriyono juga termasuk daerah kawasan lindung terbaik di Jawa Tengah, selain karena hutannya yang masih sangat luas, disini juga terdapat hutan yang benar-benar masih alami, bisa dikatakan hutannya masih perawan. Juga kontur topografinya yang berbukit-bukit, yang menjadikan kawasan ini terlindungi dari tangan-tangan jail manusia.
Agar lebih mengerti apa itu arti kawasan lindung, mungkin penjabaran dibawah ini sedikit memberikan wawasan kepada kita.
Hutan lindung (protection forest ) adalah
kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu untuk dilindungi, agar fungsi-fungsi ekologisnya --terutama menyangkut tata air dan kesuburan tanah-- tetap dapat berjalan dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya.
Sedangkan kawasan lindung memiliki pengertian yang lebih luas, di mana hutan lindung tercakup di dalamnya. Keppres no 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung menyebutkan[3] :
„Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.“
Oke, terlepas dari data pemerintah tentang wilayah Petungkriyono, saya disini ingin membahas tentang asyiknya bertualang menjelajah jengkal demi jengkal bumi Petungkriyono, detail demi detail keindahan alam Petungkriyono. Semua akan saya rangkum dalam artikel ini.
***
Yuukk kita mulai...!!!
Untuk mencapai kecamatan Petungkriyono, ada dua sarana tranportasi, naik angkutan umum dan kendaraan pribadi.
Untuk angkutan umum, dari terminal Pekalongan naik bus Binatu jurusan pasar Doro, dari pasar Doro dilanjutkan naik mobil bak terbuka menuju kecamatan Petungkriyono.
Tapi kali ini saya ingin membahas tentang petualangan dengan kendaraan roda dua, alias naik motor atau sering disebut touring.
Dari terminal Pekalongan berkendara selama kurang lebih 25 menit kita akan sampai di pasar Doro.
Setelah sampai di pasar Doro sebaiknya kita belanja makanan kecil atau cemilan jajanan pasar, karena di pasar Doro ini termasuk pasar tradisional jadi banyak dijumpai pedagang-pedagang jajanan pasar.
Dan perjalanan saya kemarin mampir ke pasar ini untuk belanja jajanan pasar seperti, klepon, nogosari, ketan, wajik, lepet, puci-puci, awuk-awuk, rempeyek, semangka, DLL. (Habis 25 ribu udah dapet banyak). Dan jangan lupa untuk menghemat budget sebaiknya membeli air minum, rokok dan barang-barang lain disini, karena tentunya semakin memasuki daerah pedalaman dan mendekati objek wisata tentunya semua barang akan menjadi lebih mahal.
Kecuali kalau kita mempunyai pola pikir ingin memberi pendapatan pada penduduk lokal. Itu tergantung individu masing-masing.
Setelah selesai berbelanja, perjalanan dilanjutkan mengikuti jalan aspal ke arah selatan, melewati perkebunan karet milik perhutani. Setelah berkendara sekitar 10 menit sampailah kita di pertigaan jalan, jika ke arah kiri menuju perkebunan teh Jolo Tigo, sedangkan lurus ke arah Petungkriyono, dan di pertigaan inilah terdapat gerbang kawasan lindung Petungkriyono.
Setelah memasuki gerbang kawasan lindung, kita akan melalui jalan aspal dengan kiri-kanan jalan berupa hutan belantara yang masih terjaga keasriannya, dan bisa dikatakan hampir tak tersentuh tangan manusia, karena disepanjang jalur ini tidak diperbolehkan siapapun untuk memanfaatkan hutan sebagai lahan perkebunan atau ladang, apalagi berburu binatang liar.
Jika kita beruntung, kita bisa melihat kera-kera yang bergelantungan di dayang pohon-pohon, suara burung dan bunyi-bunyian serangga khas pegunungan juga akan selalu kita dengar berdering-dering sepanjang perjalanan.
Menurut informasi, hutan Petungkriyono ini termasuk habitatnya macan kumbang atau macan tutul.
Selama perjalanan kita akan jarang menemui tempat yang agak lapang dan terang, karena selain kanan jalan terdapan jurang (jalan selalu melipir punggungan) juga karena biasanya pohon-pohon belukar menutupi pinggir jalan, tetapi biasanya beberapa minggu sekali petugas akan rutin membersihkan tepian jalan.
Tetapi untuk keseluruhan kondisi jalan selalu dalam keadaan baik dan layak dilalui baik motor maupun mobil roda empat ukuran sedang. (Bus dan truk besar tidak memungkinkan lewat sini)
Setelah berjalan kira-kira 10 menit dari gerbang kawasan lindung kita akan sering menemukan air terjun kecil jika saat musim penghujan airnya akan deras namun jika kemarau biasanya debitnya akan kecil. Kita juga bisa berhenti sejenak untuk istirahat lagi, tetapi untuk mobil akan sulit parkir karena bahu jalan sangat sempit.
Karena perjalanan kami kebetulan pada musim kemarau, jadi beberapa air terjun mini dalam keadaan kering, cuma ada tiga yang masih teraliri air. Tapi jika musim penghujan perjalanan akan lebih menyenangkan karena disepanjang jalan kita akan sering menemui air terjun mini.
Setelah berkendara sekitar 25 menit melewati rindangnya hutan belantara, kita akan menemui gapura kecil disebelah kiri-kanan jalan, yang menandakan batas hutan alami, dan dilanjutkan memasuki hutan perkebunan atau ladang penduduk.
Setelah melewati batas hutan lindung, dan melewati pekebunan dan ladang, kita bisa istirahat di salah satu warung kopi tradisional asli Petungkriyono. Bahkan di pinggir-pinggir jalan banyak yang menjajakan kopi bubuk asli olahan kampung daerah setempat dengan diolah secara tradisional, yang diberi brand "Owa Jawa". Menurut informasi sebagian keuntungan akan didonasikan untuk pelestarian Owa Jawa dan binatang-binatang lainnya yang dilindungi.
Dan di warung kopi sederhana ini, juga dijadikan sebagai basecamp RIVER TREKKING, sebuah wahana petualangan air jeram dengan menggunakan ban besar dan pelampung badan, untuk menyusuri keeksotisan suangai Welo dengan panjang trek 2km dan waktu tempuh 2-3 jam.
Tapi karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa mencicipi serunya petualangan air ini. Hanya sempat berbintang dengan guide-nya saja.
Setelah beristirahat dan melanjutkan perjalanan kita akan memasuki perkampungan penduduk. Dan biasanya jarak dari kampung ke kampung sangat jauh dan di pisahkan ladang atau bukit.
Setelah melewati kampung demi kampung, sawah demi sawah kita akan sampai di pertigaan kecamatan Petungkriyono, dan 500m sebelum kecamatan kita bisa berhenti sejenak menikmati gardu pandang. Dari gardu pandang ini kita bisa menikmati pemandangan pemukiman disekitar kecamatan yang sudah lumayan ramai dan padat. Dan deretan pegunungan yang berbukit-bukit. Tapi sayangnya gardu pandang ini agak kurang terawat karena memang usianya sudah sekitar 10 tahunan. Jadi pemandangannya juga sudah tertutup pepohonan karena pepohonan disekitarnya memang sudah besar-besar.
Setelah santai sejenak di gardu pandang dan menikmati pemandangan yang tersaji, kita bisa melanjutkan perjalanan ke pusat kecamatan Petungkriyono yang tak jauh dari sini. Di kecamatan terdapatnya kantor polisi, masjid, warung-warung, pertokoan, dan di pertigaannya terdapat tugu monumen perjuangan.
Jika kita hendak ke puncak Kendalisodo, setelah melewati pertigaan kecamatan kita ambil ke kiri. Disana akan ada gang kecil yang ada plang penunjuk jalan menuju puncak gunung Kendalisodo. Dan di kampung ini juga terdapat basecamp-nya.
Puncak Kendalisodo merupakan puncak tertinggi di pegunungan Petung Kriyono, juga termasuk puncak tertinggi di Pekalongan. Untuk mencapai puncak tersebut kita membutuhkan waktu kurang lebih 1jam pendakian.
Tapi jika kita mau menuju tempat wisata air terjun curug Muncar dan curug Bajing dari pertigaan kecamatan perjalanan dilanjutkan ke arah kiri mengikuti petunjuk jalan yang sudah tersedia.
Setelah berkendara sekitar 500 meter kita akan menjunpai lagi pertigaan lagi, disana ada plang petunjuk jalan, jika lurus ke arah bumi perkemahan dan wisata kebun stroberi, sedangkan ke kiri kearah curug Muncar dan curug Bajing.
Karena pertimbangan waktu kami memilih menuju curug Bajing dan curug Muncar. Karena dulu kami juga sudah pernah berkunjung ke kebun stroberi. Jadi untuk kali ini kami fokus ke air terjun.
Perjalanan ke lokasi wisata air terjun, kita akan disuguhi pemandangan ladang-ladang penduduk yang didominasi sayur-sayuran seperti tomat, kol, cabe, wortel, kentang, DLL. Kita juga bisa menikmati padang rumput yang indah serta bukit-bukit yang hijau.
Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit dari pertigaan kecamatan, kita akan sampai di pintu masuk wisata air terjun Curug Bajing.
Untuk melihat keindahan jengkal demi jengkal curug Bajing silahkan KLIK DISINI
Setelah dari curug Bajing, perjalanan kami langsung ke curug Muncar yang tak jauh dari sini. Kurang lebih 15 menit perjalanan naik motor.
Curug Muncar terletak di lereng gunung Ragajambangan, tepatnya di desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.
Demikian ulasan saya tentang Petungkriyono, semoga bisa menjadi referensi bagi teman-teman yang ingin melancong ke daerah pegunungan Petungkriyono ini...
Selamat bertualang....
=====================================
Ahmad Pajali Binzah
July 22, 2015
New Google SEO
Bandung, IndonesiaMenurut informasi dari data Pemerintah, Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi kawasan Dieng bagian utara. Luas wilayah 7.358,523 Ha yang sebagian besar adalah hutan Negara seluas 5.189,507 Ha (84%). Luas pemukiman hanyalah 119,652 Ha (16 %) dari luas wilayah. Kecamatan Petungkriyono secara geografis terletak di bagian selatan wilayah Kabupaten Pekalongan dengan batas :
Utara : Kecamatan Talun
Selatan : Kecamatan Wanayasa Kab. Banjarnegara.
Timur : Kec. Bandar Kabupaten Batang.
Barat : Kecamatan Lebakbarang.
Hutan Petungkriyono juga termasuk daerah kawasan lindung terbaik di Jawa Tengah, selain karena hutannya yang masih sangat luas, disini juga terdapat hutan yang benar-benar masih alami, bisa dikatakan hutannya masih perawan. Juga kontur topografinya yang berbukit-bukit, yang menjadikan kawasan ini terlindungi dari tangan-tangan jail manusia.
Agar lebih mengerti apa itu arti kawasan lindung, mungkin penjabaran dibawah ini sedikit memberikan wawasan kepada kita.
Hutan lindung (protection forest ) adalah
kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu untuk dilindungi, agar fungsi-fungsi ekologisnya --terutama menyangkut tata air dan kesuburan tanah-- tetap dapat berjalan dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya.
Sedangkan kawasan lindung memiliki pengertian yang lebih luas, di mana hutan lindung tercakup di dalamnya. Keppres no 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung menyebutkan[3] :
„Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.“
Oke, terlepas dari data pemerintah tentang wilayah Petungkriyono, saya disini ingin membahas tentang asyiknya bertualang menjelajah jengkal demi jengkal bumi Petungkriyono, detail demi detail keindahan alam Petungkriyono. Semua akan saya rangkum dalam artikel ini.
***
Yuukk kita mulai...!!!
Untuk mencapai kecamatan Petungkriyono, ada dua sarana tranportasi, naik angkutan umum dan kendaraan pribadi.
Untuk angkutan umum, dari terminal Pekalongan naik bus Binatu jurusan pasar Doro, dari pasar Doro dilanjutkan naik mobil bak terbuka menuju kecamatan Petungkriyono.
Tapi kali ini saya ingin membahas tentang petualangan dengan kendaraan roda dua, alias naik motor atau sering disebut touring.
Dari terminal Pekalongan berkendara selama kurang lebih 25 menit kita akan sampai di pasar Doro.
![]() |
| Jalan dari kota Pekalongan menuju pasar Doro |
Setelah sampai di pasar Doro sebaiknya kita belanja makanan kecil atau cemilan jajanan pasar, karena di pasar Doro ini termasuk pasar tradisional jadi banyak dijumpai pedagang-pedagang jajanan pasar.
![]() |
| Pasar Doro |
Dan perjalanan saya kemarin mampir ke pasar ini untuk belanja jajanan pasar seperti, klepon, nogosari, ketan, wajik, lepet, puci-puci, awuk-awuk, rempeyek, semangka, DLL. (Habis 25 ribu udah dapet banyak). Dan jangan lupa untuk menghemat budget sebaiknya membeli air minum, rokok dan barang-barang lain disini, karena tentunya semakin memasuki daerah pedalaman dan mendekati objek wisata tentunya semua barang akan menjadi lebih mahal.
Kecuali kalau kita mempunyai pola pikir ingin memberi pendapatan pada penduduk lokal. Itu tergantung individu masing-masing.
Setelah selesai berbelanja, perjalanan dilanjutkan mengikuti jalan aspal ke arah selatan, melewati perkebunan karet milik perhutani. Setelah berkendara sekitar 10 menit sampailah kita di pertigaan jalan, jika ke arah kiri menuju perkebunan teh Jolo Tigo, sedangkan lurus ke arah Petungkriyono, dan di pertigaan inilah terdapat gerbang kawasan lindung Petungkriyono.
![]() |
| Plang petunjuk jalan sebelum pertigaan gerbang rimba |
![]() |
| Gerbang rimba, kawasan lindung |
![]() |
| Tepat dibawah gerbang ada plang peringatan |
Setelah memasuki gerbang kawasan lindung, kita akan melalui jalan aspal dengan kiri-kanan jalan berupa hutan belantara yang masih terjaga keasriannya, dan bisa dikatakan hampir tak tersentuh tangan manusia, karena disepanjang jalur ini tidak diperbolehkan siapapun untuk memanfaatkan hutan sebagai lahan perkebunan atau ladang, apalagi berburu binatang liar.
Jika kita beruntung, kita bisa melihat kera-kera yang bergelantungan di dayang pohon-pohon, suara burung dan bunyi-bunyian serangga khas pegunungan juga akan selalu kita dengar berdering-dering sepanjang perjalanan.
Menurut informasi, hutan Petungkriyono ini termasuk habitatnya macan kumbang atau macan tutul.
![]() |
| Keadaan jalan setelah memasuki kawasan lindung |
![]() |
| Di beberapa lokasi, sinar matahari jarang tembus ke lantai jalan |
![]() |
| Plang peringatan di pinggir jalan, di tengah-tengah rimba |
![]() |
| Jalan yang membelah hutan belantara |
![]() |
| Jalan yang berkelok |
Selama perjalanan kita akan jarang menemui tempat yang agak lapang dan terang, karena selain kanan jalan terdapan jurang (jalan selalu melipir punggungan) juga karena biasanya pohon-pohon belukar menutupi pinggir jalan, tetapi biasanya beberapa minggu sekali petugas akan rutin membersihkan tepian jalan.
Tetapi untuk keseluruhan kondisi jalan selalu dalam keadaan baik dan layak dilalui baik motor maupun mobil roda empat ukuran sedang. (Bus dan truk besar tidak memungkinkan lewat sini)
![]() |
| Hanya di titik tertentu bahu jalan yang lebar |
![]() |
| Parkir dulu mumpung ada tempat yang luas |
Setelah berjalan kira-kira 10 menit dari gerbang kawasan lindung kita akan sering menemukan air terjun kecil jika saat musim penghujan airnya akan deras namun jika kemarau biasanya debitnya akan kecil. Kita juga bisa berhenti sejenak untuk istirahat lagi, tetapi untuk mobil akan sulit parkir karena bahu jalan sangat sempit.
![]() |
| Air terjun pertama yang kami temui di pinggir jalan yang masih teraliri air |
![]() |
| Air terjun mini dua tingkat |
![]() |
| Biarpun mini tetap oke buat background selfie |
![]() |
| NarsiZz dulu |
![]() |
| Air terjun mini yang kedua |
![]() |
| Kalo musim penghujan, debit air tentunya akan lebih besar dan lebih deras |
Karena perjalanan kami kebetulan pada musim kemarau, jadi beberapa air terjun mini dalam keadaan kering, cuma ada tiga yang masih teraliri air. Tapi jika musim penghujan perjalanan akan lebih menyenangkan karena disepanjang jalan kita akan sering menemui air terjun mini.
Setelah berkendara sekitar 25 menit melewati rindangnya hutan belantara, kita akan menemui gapura kecil disebelah kiri-kanan jalan, yang menandakan batas hutan alami, dan dilanjutkan memasuki hutan perkebunan atau ladang penduduk.
![]() |
| Gapura rimba |
![]() |
| Hutan pinus, yang tak serimbun hutan belantara |
![]() |
| Air terjun ke tiga, tapi airnya sudah mulai tiris |
![]() |
| Persawahan penduduk yang berbatasan dengan hutan belantara, yang dipisahkan oleh sungai dibawahnya |
![]() |
| Terasering, tetap indah walau belum musim tanam |
![]() |
| Persawahan yang berbatasan dengan hutan alam |
Setelah melewati batas hutan lindung, dan melewati pekebunan dan ladang, kita bisa istirahat di salah satu warung kopi tradisional asli Petungkriyono. Bahkan di pinggir-pinggir jalan banyak yang menjajakan kopi bubuk asli olahan kampung daerah setempat dengan diolah secara tradisional, yang diberi brand "Owa Jawa". Menurut informasi sebagian keuntungan akan didonasikan untuk pelestarian Owa Jawa dan binatang-binatang lainnya yang dilindungi.
Dan di warung kopi sederhana ini, juga dijadikan sebagai basecamp RIVER TREKKING, sebuah wahana petualangan air jeram dengan menggunakan ban besar dan pelampung badan, untuk menyusuri keeksotisan suangai Welo dengan panjang trek 2km dan waktu tempuh 2-3 jam.
Tapi karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa mencicipi serunya petualangan air ini. Hanya sempat berbintang dengan guide-nya saja.
![]() |
| Warung kopi sederhana, pas buat santai |
![]() |
| Kopi asli produksi warga lokal |
![]() |
| Ngopi sambil nyemil jajan pasar, yang kami beli dipasar Doro. Jangan semua jajan dikeluarin, nanti yang punya warung tau, coz disini cuma beli kopinya aja... hehehe... |
![]() |
| Ngopi sambil menikmati pemandangan |
![]() |
| Pelapung untuk wahana petualangan air |
![]() |
| Poster River Trekking |
Setelah beristirahat dan melanjutkan perjalanan kita akan memasuki perkampungan penduduk. Dan biasanya jarak dari kampung ke kampung sangat jauh dan di pisahkan ladang atau bukit.
![]() |
| Kampung yang diapit sawah dan hutan perbukitan |
![]() |
| Numpang narsiZz dulu |
![]() |
| Biarpun sawah, tapi diseberang sana tetap hutan belantara |
![]() |
| Persawahan penduduk, jika musim penghujan atau musim tanam akan terlihat lebih hijau |
Setelah melewati kampung demi kampung, sawah demi sawah kita akan sampai di pertigaan kecamatan Petungkriyono, dan 500m sebelum kecamatan kita bisa berhenti sejenak menikmati gardu pandang. Dari gardu pandang ini kita bisa menikmati pemandangan pemukiman disekitar kecamatan yang sudah lumayan ramai dan padat. Dan deretan pegunungan yang berbukit-bukit. Tapi sayangnya gardu pandang ini agak kurang terawat karena memang usianya sudah sekitar 10 tahunan. Jadi pemandangannya juga sudah tertutup pepohonan karena pepohonan disekitarnya memang sudah besar-besar.
![]() |
| Plang petunjuk jalan ke gardu pandang |
![]() |
| Perjalanan menuju gardu pandang |
![]() |
| Gardu pandang |
![]() |
| View dari gadu pandang |
![]() |
| Pemukiman penduduk jika dilihat dari atas |
Setelah santai sejenak di gardu pandang dan menikmati pemandangan yang tersaji, kita bisa melanjutkan perjalanan ke pusat kecamatan Petungkriyono yang tak jauh dari sini. Di kecamatan terdapatnya kantor polisi, masjid, warung-warung, pertokoan, dan di pertigaannya terdapat tugu monumen perjuangan.
![]() |
| Petunjuk jalan di pertigaan kecamatan |
![]() |
| Kantor polisi kec. Petungkriyono |
![]() |
| Tugu di pertigaan kecamatan Petungkriyono |
Jika kita hendak ke puncak Kendalisodo, setelah melewati pertigaan kecamatan kita ambil ke kiri. Disana akan ada gang kecil yang ada plang penunjuk jalan menuju puncak gunung Kendalisodo. Dan di kampung ini juga terdapat basecamp-nya.
Puncak Kendalisodo merupakan puncak tertinggi di pegunungan Petung Kriyono, juga termasuk puncak tertinggi di Pekalongan. Untuk mencapai puncak tersebut kita membutuhkan waktu kurang lebih 1jam pendakian.
![]() |
| Basecamp pendakian ke puncak Kendalisodo |
![]() |
| Hutan yang berbukit |
![]() |
| Puncak Anoman Kendalisodo |
Tapi jika kita mau menuju tempat wisata air terjun curug Muncar dan curug Bajing dari pertigaan kecamatan perjalanan dilanjutkan ke arah kiri mengikuti petunjuk jalan yang sudah tersedia.
Setelah berkendara sekitar 500 meter kita akan menjunpai lagi pertigaan lagi, disana ada plang petunjuk jalan, jika lurus ke arah bumi perkemahan dan wisata kebun stroberi, sedangkan ke kiri kearah curug Muncar dan curug Bajing.
Karena pertimbangan waktu kami memilih menuju curug Bajing dan curug Muncar. Karena dulu kami juga sudah pernah berkunjung ke kebun stroberi. Jadi untuk kali ini kami fokus ke air terjun.
Perjalanan ke lokasi wisata air terjun, kita akan disuguhi pemandangan ladang-ladang penduduk yang didominasi sayur-sayuran seperti tomat, kol, cabe, wortel, kentang, DLL. Kita juga bisa menikmati padang rumput yang indah serta bukit-bukit yang hijau.
![]() |
| Padang Rumput yang ditengah-tengahnya terdapat sungai kecil |
![]() |
| Ladang dan perbukitan |
Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit dari pertigaan kecamatan, kita akan sampai di pintu masuk wisata air terjun Curug Bajing.
![]() |
| Pintu masuk wisata curug Bajing |
![]() |
| Curug Bajing dari kejauhan, jika musim penghujan suasana akan nampak lebih hijau dan asri |
![]() |
| Saung dengan background curug Bajing |
![]() |
| Jembatan bambu |
![]() |
| Curug Bajing dari dekat |
![]() |
| Siap meluncur lagi ke curug Muncar |
Untuk melihat keindahan jengkal demi jengkal curug Bajing silahkan KLIK DISINI
Setelah dari curug Bajing, perjalanan kami langsung ke curug Muncar yang tak jauh dari sini. Kurang lebih 15 menit perjalanan naik motor.
Curug Muncar terletak di lereng gunung Ragajambangan, tepatnya di desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.
![]() |
| Jalur menuju curug Muncar |
![]() |
| Jembatan ikon curug Muncar |
![]() |
| NarsiZz dulu |
![]() |
| Aliran air dari curug Muncar |
![]() |
| Curug Muncar jika dilihat dari atas |
![]() |
| Berfoto dengan background air terjun |
Demikian ulasan saya tentang Petungkriyono, semoga bisa menjadi referensi bagi teman-teman yang ingin melancong ke daerah pegunungan Petungkriyono ini...
Selamat bertualang....
=====================================
BACA JUGA:
Info Lengkap Curug Blanten, Pekalongan.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
*****
Checklis Perlengkapan Mendaki Gunung
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Semeru via Watu Rejeng turun via Eyek-Eyek
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung































































































