Mimpi buruk yang selama ini menghantui tidurku, kini benar-benar terjadi.
Dalam mimpi itu tergambar jelas, bahwa aku terjebak di lebatnya belantara gunung Salak. Hingga di akhir mimpi itu aku melihat rombongan team SAR menandu seseorang yang tak asing lagi dalam hidupku, yaa aku melihat Rohman sahabatku berbaring ditandu.
Aku berteriak-teriak dari atas bukit, namun rombongan team SAR itu tetap tak mendengar, hingga kepala Rohman menoleh ke arahku, dengan pelan dan menangis dia berbisik,
"Selamat tinggal kawan..."
Lalu Rohman memejamkan matanya.
Seketika aku berteriak sekencang-kencangnya, namun para team SAR itu tetap berjalan tak menghiraukan.
Hingga akhirnya aku terbangun dari mimpi burukku.
*****
Dan hari ini mimpi itu benar-benar terjadi, aku dan sahabatku Rohman tersesat dalam belantara hutan gunung Salak, terpisah dari rombongan karena salah memilih jalur, berkutat-kutat tak menemukan jalan pulang. Dan parahnya kami mengalami insiden yang sangat menakutkan, aku dan Rohman terperosok dalam jurang saat mencoba mencari aliran air. Hingga kaki Rohman terluka sangat parah.
Kini sudah dua hari dari insiden itu, aku dapati Rohman masih terbaring lemah, tubuhnya menggigil merintih kesakitan, suhu tubuhnya sangat tinggi meski di tempat yang sedingin ini, kakinya bengkak, bahkan luka sobek di kakinya kini mulai membusuk.
Aku benar-benar takut dan tak tau harus berbuat apa, diam disini menemaninya hingga bantuan datang, aku rasa ini sama halnya pasrah menunggu kematian. Tapi jika aku melanjutkan perjalanan dengan membawa Rohman dalam keadaan seperti ini, itu juga tak memungkinkan. Dan aku juga tak mungkin tega meninggalkan sahabatku dalam keadaan seperti ini sendiri untuk mencari bantuan.
Apalagi aku melihat wajahnya begitu pucat, makin hari kondisinya makin memburuk, terbaring lemah tak berdaya.
Aku mencoba memeluknya untuk sekedar menenangkan batinku yang makin kacau, dan juga untuk mengisyaratkan bahwa aku sangat-sangat menyayanginya sebagai sahabatku.
Lalu aku bisikkan kata di telinganya lirih,
"Kamu pasti kuat Rohman, kamu adalah satu-satunya sahabat terbaikku..."
Lalu malam itu aku mencoba memejamkan mata untuk sekedar mengistirahatkan tubuhku dari rasa lelah.
*****
Saat fajar mulai berubah menjadi terang, sinar matahari mulai menerobos lewat sela-sela kanopi hutan, namun udara pagi masih terasa sangat dingin, bahkan bivak sederhana yang aku buat sama sekali tak mampu menangkal dinginnya angin pegunungan.
Aku kembali terjaga, seketika aku bangun dari tidurku dan masih aku dapati kondisi Rohman yang masih kritis.
"Tak ada pilihan lain, aku harus bertindak..." ucap hatiku lirih.
Aku langsung bergegas membongkar tas ransel bawaan kami, yang isinya hanya pakaian dan sedikit makanan, karena perlengkapan masak, tenda dan perlengkapan kelompok lain terbawa anggota yang lain.
Yaa dari tas ransel yang segede itu hanya berisi pakaian-pakaian saja, dan beberapa potong roti, mie instan dan snack-snack lain.
Ku sobek plastik pembungkus roti itu, lalu aku sodorkan ke mulut Rohman sembari berbisik,
"Makanlah kawan, ini untuk mengisi perutmu... karena aku yakin kamu pasti bertahan..."
Lalu membuka sedikit mulut Rohman, tanpa dikunyah lama roti itu ditelan, yaa walau sedikit setidaknya beberapa suap roti masuk ke lambung Rohman, dan itu sangat berarti bagi kesehatannya.
Lalu ku buka botol air mineral, ku coba bangunkan tubuhnya agar posisi sedikit duduk, diteguknya air itu masuk ke kerongkongannya dan somoga mampu menyegarkan tubuhnya.
Kembali aku baringkan tubuhnya lagi, ku selimuti tubuhnya dengan SB warna biru muda yang baru saja aku beli sebelum pendakian ini.
Lalu kembali aku bisikkan kata-kata di telinganya,
"Bertahanlah kawan, aku segera datang membawa pertolongan..."
Aku bergegas keluar dari bivak, baju-baju dan semua pakaian aku punguti, lalu aku memanjat pohon satu persatu, ku cantelkan baju, celana dan macam-macam kain di tiap dahan pohon di sekitar bivak hingga persis seperti hendak ada karnaval, agar siapapun yang melintas akan melihat dan mendatangi bivak itu, juga sebagai patokan jika aku kembali membawa pertolongan bersama team SAR.
Dan kini saatnya aku harus pergi meninggalkan Rohman sendiri, bertahan dari maut yang setiap saat siap menjemput.
Tak tega memang, tapi ini satu-satunya jalan yang terbaik untuk keselamatanya, aku harus pergi mencari bantuan agar nyawanya segera terselamatkan.
Tak banyak yang bisa aku bawa, aku sengaja meninggalkan beberapa potong roti dan air minum di samping Rohman, agar jika dia merasa lapar, tangannya mudah meraihnya dan menyantapnya. Sementara aku yang masih sehat ini, aku yakin mampu survive bertahan hidup di hutan ini. Apalagi aku juga pernah ikut pelatihan teknik-teknik suvival hingga aku yakin aku pasti bisa bertahan.
*****
Aku mulai berjalan menerobos semak-belukar, hingga tak terhitung lagi naik dan turun punggungan. Sesekali aku berhenti di lembahan untuk sekedar minum dari air yang mengalir dari mata air kecil. Kadang mencari pohon onje untuk aku makan sebagai pengganjal lapar.
Sesekali aku juga berteriak-teriak mencari pertolongan, berharap ada seseorang yang mendengar. Karena aku yakin, di hari keempat ini sejak aku dan Rohman terpisah dari rombangan, pencarian terhadap kami pasti sudah dimulai.
Namun dari semua teriakan-teriakan ku tak satupun mendapat balasan, ini menandakan bahwa posisiku masih sangat jauh dari jangkauan team SAR.
Hingga malam menjelang aku belum saja menemukan tanda-tanda jalur menuju desa terakhir, atau tanda-tanda team SAR yang sedang melakukan pencarian, aku merasa berkutat dan berputar-putar di tempat yang sama, tapi aku tetap tak peduli, aku terus berjalan hingga akhirnya aku merasa kelelahan, malam itu aku rebahkan tubuh diatas semak belukar, tanpa atap tanpa bivak. Tapi malam itu tidurku terasa pulas karena tubuh mungkin terlalu lelah.
****
Pagi ini aku terbangun dari tidurku, bergegas pergi melanjutkan perjalanan. Dan hari ini adalah hari kedua aku meninggalkan Rohman, atau hari ke enam sejak kami terpisah dari rombongan. Tapi belum ada sedikitpun tanda-tanda pencarian dari team SAR, bahkan perjalanan ku mencari pertolongan pun seakan berkutat di tempat yang sama, aku merasa dari kemarin masih disini-sini aja. Aku merasa seperti ada yang aneh dalam perjalananku ini.
Tetapi lagi-lagi aku tak peduli, aku terus melanjutkan perjalananku sembari berteriak-teriak meminta bantuan, walau tak satupun menerima sautan.
Dan di hari yang ke dua ini tubuhku benar-benar terasa letih, apalagi sempat diguyur hujan hingga semua baju dan celanaku basah, perutpun sudah jarang terisi.
Yaa sore ini menjelang maghrib, aku mulai tak sadarkan diri, tubuhku ambruk ke semak belukar di tepi sungai kecil. Aku merasa dingin teramat dingin, aku merasa lemah teramat lemah, hingga tubuhku menggigil tak karuan, yaa sore itu aku mulai pingsan tak sadarkan diri.
*****
Dan akhirnya pagi kembali menjelang, panas surya mampu menghangatkan tubuhku yang mulai kelelahan.
Pagi ini hari ketiga sejak aku meninggalkan Rohman, dan perjalanan ku mencari bantuan pun harus dilanjutkan.
Namun ada yang beda di pagi ini, entah kenapa pagi ini tubuhku terasa lebih ringan, melangkahpun terasa terbang melayang, padahal dihari sebelumnya untuk melangkahkan kaki satu langkah pun terasa berat. Tapi saat ini aku terasa tanpa beban.
"Aahh mungkin saja tubuhku sudah beradaptasi dengan suasana di hutan ini..." gumam hatiku lirih.
Aku kembali meneruskan perjalanan mencari bantuan, seperti hari-hari sebelumnya, aku terus berjalan menuruni lereng sembari berteriak-teriak meminta pertolongan. Namun lagi-lagi teriakanku tak membuahkan hasil.
Hari begitu cepat berlalu, tapi entah kenapa aku merasa masih terus berkutat-kutat di tempa yang sama. Aku merasa terjebak dalam angkernya hutan misterius ini.
Rasanya tak mungkin perjalananku selama berhari-hari tak menemukan jalan pulang, tak sedikitpun bertemu jalur memuju pemukiman, aku juga tak menemukan tanda-tanda team SAR sedang mencariku, padahal seharusnya mereka sudah sibuk menyisir hutan ini.
Aku mulai sadar bahwa ada yang aneh dalam perjalananku ini, kali ini aku meyakini bahwa aku telah tersesat dalam hutan misterius di alam yang berbeda.
Tapi aku tak mau terhanyut dalam perasaan yang aneh itu, yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya aku keluar dari hutan ini, menemukan pemukiman penduduk dan meminta pertolongan dan sahabatku Rohman bisa diselamatkan. Yaa itu saja yang aku inginkan.
*****
Dan akhirnya...
Yaa aku melihat serombongan team SAR berbaju orange sedang berjalan melakukan pencarian, terlihat jelas dari atas bukit ini.
"Tolooongg... aku disiniii...!!!!" Aku spontan berteriak sekeras-kerasnya.
Tanpa berpikir panjang aku lari menuruni bukit, mengejar rombongan team SAR itu agar mereka mengetahui keberadaanku.
Tapi lagi-lagi aku merasa ada yang aneh, sampai sedekat ini mereka tak mendengar teriakanku.
Hingga akupun terhenti karena terlalu lelah aku berlari. Membungkuk memegang lututku sembari menghembuskan nafas yang tersengal-sengal, persis seperti orang sedang rukuk dalam ibadah sholat.
Sesekali aku megusap keringatku yang bercucuran di kening sembari memandangi team SAR itu yang sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh dariku.
Dan alangkah kagetnya aku, aku melihat rombongan team SAR itu sedang menandu seseorang.
Seketika aku teringat pada mimpiku yang selama ini menghantuiku.
"Yaa ini persis seperti dalam mimpiku..." batinku berucap lirih dengan bulu kuduk yang terus merinding.
Hatiku langsung tergoncang, saat mengetahui orang yang sedang ditandu itu sahabatku sendiri, Rohman.
"Rohmaaannn...!!!" Aku kembali berteriak sekeras mungkin. Sembari berlari menghampiri rombongan itu.
Sambil berlari aku terus memandangi wajah Rohman, namun wajahnya tak menengok ke arahku tak seperti dalam mimpi itu. Aku melihat Rohman hanya berbaring kemah di tanduan.
Hatiku sungguh tak karuan, yang aku takutkan benar-benar menjadi kenyataan, Rohman benar-benar pergi meninggalkan aku.
Sesampainya aku pada rombongan yang membawa Rohman, dengan nafas yang masih tersengal-sengal aku langsung menghampiri tubuh Rohman,
"Rohman bangun Rohman, banguunnn...
Ini aku sahabatmu Rohman..!!!" Aku menangis histeris sembari menggoyang-goyangkan tubuh Rohman yang masih dalam tanduan. Tapi tubuhnya diam tak bergeming.
Pikiranku kacau, panik tak beraturan. Aku berteriak-teriak pada rombongan team SAR tapi mereka juga diam tak bergeming.
Seketika aku tersadar, ada yang aneh dengan semua ini. Lagi-lagi bulu kudukku berdiri, aku merinding ketakutan.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi...???" Tanya hatiku penuh ketakutan.
"Rojer rojer bisa diganti..." ucap salah satu team SAR berkomunikasi lewat radio HT.
"Disini diinformasikan tak jauh di titik 16 tepatnya di tepian aliran sungai kami menemukan satu lagi korban dalam keadaan meninggal... berbaju merah celana hitam dan di dompetnya terdapat identitas atas nama Afridal Prasetyo....
Korban diindikasikan meninggal karena serangan hiphotermia" ucap salah satu team SAR dalam radio HT.
Seketika aku terperanjat sejadi-jadinya, saat namaku disebut dalam percakapan itu sebagai korban yang meninggal dunia.
Yaa aku mulai sadar, sejak dua hari yang lalu tepatnya sore itu setelah tubuhku diguyur hujan, saat tubuhku roboh di tepian sungai itu, berarti sejak saat itu aku sudah tak berada di dunia ini lagi.
Pantas saja setelah kejadian itu paginya langkah ku terasa sangat ringan. Pantas saja aku tak pernah merasa lapar dan tak pernah merasa lelah lagi. Bahkan sedari tadi teriakanku tak didengar oleh para team SAR.
"Dan ternyata aku sudah....!!!???"
Sesaat setelah aku menyadari bahwa aku telah mati, rohku mulai terbang melayang ke atas bumi, dari ketinggian aku melihat sahabatku ditandu oleh sederetan rombongan team SAR, makin tinggi aku terbang, aku melihat gugusan gunung Salak yang maha megah, disanalah tubuhku bersemayam saat rohku terlepas dari ragaku.
Makin tinggi aku terbang, aku tak melihat apa-apa lagi, hanya segumpalan awan putih yang mengisi semua pandanganku.
"Yaa...
dan kini, aku telah mati..."
*********************************
*********************************
Kini, 6 minggu telah berlalu sejak kejadian itu, nampak seseorang berjalan tertatih dengan tongkat penyangga di kedua ketiaknya, berjalan terseok dengan kaki pincang menyusuri sebuah pemakaman yang tak jauh dari kampungnya.
Langkahnya terhenti tepat didekat gundukan tanah yang terpasang batu nisan yang masih terlihat baru dengan tulisan Afridal Prasetyo, lahir 12 maret 1995 - meninggal 09 oktober 2018.
"Fri, ini aku sahabatmu Rohman..." ucap laki-laki itu dengan nada haru. Air matanya tak lagi mampu terbendung.
"Andai saja waktu itu aku tak memaksakan diri untuk ikut pendakian itu mungkin saat ini kita masih bisa bersama-sama lagi...
Andai saja waktu itu aku ikuti nasehatmu bahwa kamu telah punya firasat buruk tentang pendakian itu, mungkin semua ini tak akan terjadi.
Maafkan aku Fri, Aku terlalu egois karena saking inginnya merasakan mendaki gunung seperti yang sering engkau ceritakan hingga aku tak mau mendengar nasehatmu. Bahwa pendakian itu butuh persiapan yang matang.
Yaa dengan kecerobohanku kerena fisikku yang belum siap mendaki, akhirnya kita tertinggal dari rombongan karena engkau rela menungguku yang sedang kelelahan...
Dan dengan kejadian itu kita salah memilih jalur dan akhirnya tersesat dalam lebatnya hutan...
Dan lagi-lagi atas kecerobohanku pula karena saking paniknya, kita berjalan tak tentu arah hingga akhirnya kita terperosok jatuh ke jurang.
Yaa dengan keadaanku yang terluka parah engkau buktikan kesetiaanmu pada sahabatmu ini. Kau rela pertaruhan nyawamu demi keselamatkanku.
Dan kini dengan kecerdasanmu pula aku selamat, karena baju warna-warni yang kau cantelkan di setiap pohon disekitar bivak itulah, yang membuatku mudah ditemukan oleh team SAR.
Namun atas kejadian itu kini kau telah pergi meninggalkan aku dan semua yang menyayangimu...
Tak hanya aku, teman, keluarga dan semua merasa kehilanganmu Fri, bahkan dunia pendakian pun ikut berkabung.
Kau adalah salah satu contoh dari sejatinya seorang pendaki gunung.
Bahkan sampai hari ini, 6 minggu telah berlalu, kesedihan dan penyesalan dalam hatiku belum bisa terobati...
Tapi aku selalu ingat kata-kata motivasimu, yang selalu kau pesankan untukku, bahwa hidup ini harus tetap terus berjalan, seburuk apapun kehidupan harus kita jalani, karena sesungguhnya semua yang terjadi sudah tertulis dalam suratan Illahi...
Yaa, aku mengerti kawan...
Aku harus tetap semangat melanjutkan hidup ini, seperti yang kamu selalu menyemangatkan padaku...
Karena semangatmu telah tertanam dalam hidupku...
Selamat jalan kawan, semoga engkau tenang di alam sana...
Percayalah, suatu saat aku pasti menyusulmu, hanya saja waktu dan seperti apa jalan kematianku, biarlah menjadi rahasia dari ketetapan yang maha Kuasa..."
============ SEKIAN ===========
Sesaat setelah aku pijakkan kaki turun dari minibus yang mengantarkan aku sampai di depan stasiun kereta di kota Solo ini, mataku langsung tertuju pada pemandangan yang menarik perhatianku. Pemandangan yang tak lazim dan mampu membuat hatiku bertanya-tanya, siapakah dia? Ada apa dengan dirinya?
Ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
"Aaahh masih lama ini keretanya, masih ada sekitar dua jam lagi..." gumamku dalam hati.
Lalu aku melangkah menuju warung kopi yang tak jauh dari stasiun. Ku lepaskan ransel besar yang selalu mencekik rongga dadaku agar semua sendi dan tulang punggungku terasa lega hingga aku bisa bernafas lepas.
Lalu aku memesan segelas es kopi capucino untuk mendinginkan seluruh kerongkonganku sembari mengamati seseorang yang membuat hatiku penasaran.
"Merhatiin apa mas...???" Tanya ibu pemilik warung sembari mengaduk gelas lalu menyuguhkan es capucino pesananku.
"Aahh gak kok bu..." jawabku singkat sembari menerima gelas besar yang berisi es capucino dan aku pun tak sabar untuk meminumnya.
Sesekali aku menengok ke arah pertigaan jalan sembari memperhatikannya. Lalu aku ambil gorengan hangat dan cabe rawit, langsung ku kunyah untuk sekedar mengganjal perut untuk mengusir rasa lapar.
"Iri... iri... iri... anan... anan... maju maju..." begitulah ucapannya untuk mengatur lalu lintas di pertigaan itu yang sedari tadi aku perhatikan.
Dengan tangan yang selalu tertekuk, pipi dan bibirnya tebal, mata sipit dan giginya gupis tak rata, postur tubuhnya yang gembul, Sorot matanya polos dan mimik wajahnya yang selalu datar.
Yaa, dialah anak keterbelakangan mental yang sedari tadi aku perhatikan, walau dengan kekurangannya ia sangat aktif mengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan jalan.
Dalam hati selalu bertanya-tanya, "dimanakah orang tuanya, bukankah anak seperti dirinya butuh perhatian dan pendidikan khusus?" Ucap hatiku penuh heran. Hingga aku lupa kalau aku sedang mengunyah gorengan.
Lalu anak yang sedari tadi aku perhatikan itu, berjalan terseok menuju warung dimana aku berada.
"Buk, es teh atuk yaa, dibung'us..." katanya dengan nada polos. Sembari mengusap keringatnya dengan haduk kecil yang mengalungi lehernya.
Setelah es teh pesanan jadi, dia pun merogoh kantong celananya dan memberikan uang receh tiga ribu rupiah dan langsung berjalan meninggalkan warung kopi ini.
"Dia anak idiot, orang-orang sini memanggilnya Situmbal..." celetuk pemilik warung.
Aku langsung terperanjat mendengar ucapan ibu pemilik warung dengan bahasa blak-blakan.
"Kenapa dipanggilnya Situbal bu...???" Aku kembali bertanya karena tak kuasa menahan rasa penasaran di pikiran ini.
"Sebenarnya dia bukan anak orang sembarangan..." jawab ibu itu sembari membersihkan meja lalu mengambil gelas dan piring bekas pembeli yang baru saja pergi untuk dicuci di ruang belakang.
Rasa penasaran yang kian menjadi, akhirnya aku beranikan diri untuk mengikuti anak itu. Tak lupa ku rogoh kantong celanaku lalu ku ambil uang lima puluh ribuan dan ku berikan ke ibu pemilik warung.
"Ini bu, aku ambil gorengan tiga sama es capucino... kembaliannya ntar yaa bu, sekalian aku titip tas ranselku dulu..." lalu aku segera berjalan mengejar anak tadi.
Ibu pemilik warung hanya bisa mengiyakan sembari menatapku penuh heran.
*****
Keluar dari warung aku sudah tak melihatnya lagi, tengak-tengok ke segala penjuru pun nihil ku dapati, tapi yang jelas dia berjalan ke arah timur dan tanpa pikir panjang aku langsung mengejar kearah anak itu pergi. Setelah beberapa lama aku berjalan sembari sesekali berlari kecil, dari jauh mulai terlihat seorang anak dengan kaos oblong biru yang berjalan terseok, tak lain itu pasti anak yang aku maksud.
Setelah mulai dekat, dan ingin aku dekati untuk aku ajak ngobrol agar aku lebih dekat mengenal dirinya. Namun anak itu malah menghindar dan belok ke gedung perkantoran yang megah, aku pun mengejarnya ke dalam hingga aku dihadang oleh security di gerbang.
"Maaf ada keperluan apa mas...???" Tanya security itu seakan tak mengizinkan aku masuk. Mungkin penampilanku yang lusuh dan kumel karena baru turun dari mendaki gunung hingga security itu seakan menganggapku tak layak masuk ke gedung perkantoran itu. Tapi bukankah anak tadi juga berpenampilan kumal bahkan lebih kumal dari aku?
"Ooh maaf pak, saya cuma ingin mencari teman saya yang barusan masuk kesana pak..." jawabku pada pak security itu.
"Ooh dia dek Apie steveanus...??? Dia kalau jam segini memang waktunya pulang..." jawab security itu menjelaskan, namun membuatku makin penasaran.
"Tapi bukankah dia baru saja jadi tukang parkir di pertigaan sana pak...???" Tanyaku dengan mimik wajah heran.
"Iyaa, tapi kalo sudah jam segini dia akan menemui ibunya untuk diantar pulang...
Dia anak bu Meilin pemilik perusahaan ini..." jawabnya security itu yang mampu mebuat hatiku terperanjat tak percaya.
Lalu aku mengurungkan niatku untuk masuk mengikuti anak itu, membalikkan badan berjalan meninggalkan gedung yang berdiri menjulang. Namun dari jauh aku melihat anak itu sedang ngobrol dengan seorang ibu.
Tapi alangkah terkejutnya aku, melihat bahwa ibu itu adalah ibu yang pernah ku temui di jalur pendakian gunung Lawu kemarin.
"Yaa, aku ingat betul ibu itu yang kemarin ketemu di sebuah petilasan di dalam kawasan Cemoro Sewu tepat sekitar 300m setelah memasuki gerbang pendakian..." ucap hatiku yakin, hingga tanpa sadar aku kembali mendekat.
Aku ingat betul ibu itu, dimana saat itu aku hendak mendaki, dan ibu itu baru saja keluar dari area bangunan pemujaan bersama asistennya.
"Habis ini kita mau kemana lagi bu...???" Ucap asistennya, wanita paruh baya yang selalu setia mendampingi tuannya.
"Habis ini kita ke gunung Kawi Jawa Timur, kita lanjut lagi ritual disana..." jawab ibu itu tenang sembari berjalan turun, menuju parkiran.
Aku yang berpapasan dan mendengar ucapan mereka serasa aneh, masih saja ada di kehidupan saat ini orang-orang menjadikan gunung sebagai tempat untuk sesembahan dan ritual hal-hal yang berbau mistik. Tapi saat itu aku tak terlalu peduli, karena bagiku gunung adalah suatu tempat yang indah untuk mendekatkan diri pada alam semesta beserta Sang Penciptanya.
*****
Lamunanku kembali terjaga lalu aku kembali memperhatikan percakapan Steve dengan ibunya.
Lalu aku mencoba melangkah lebih dekat lagi, mencoba mendengarkan percakapan mereka, walau tak terdengar jelas namun setidaknya aku tau apa yang mereka bicarakan dari mimik wajahnya.
"Ayo mama kita pulang..." ajak anak itu dengan suara besar agak cedal khas anak keterbelakangan mental, sembari merengek menarik-narik tangan ibunya.
"Steve, mama masih banyak pekerjaan, kamu pulang dulu saja biar diantar pak Karso..." jawab ibunya merayu Stave agar mau pulang diantar sopir.
Namun anak itu tetap ingin pulang bersama ibunya, terus menarik-narik tangannya. Lalu anak itu berlari meninggalkan ibunya yang sontak dikejar security gerbang.
"Jangan pak, biarkan dia pulang sendiri...
Sudah biasa seperti itu..." ucap ibu Meilin dengan nada judes, melarang security mengejarnya.
Bagiku ini pemandangan yang sangat kontras dimana anak yang berpakaian lusuh merengek minta diantar pulang oleh ibunya yang berpenampilan sangat rapi. Namun ibunya seakan tak peduli sama sekali.
"Dia tumbal pesugihan orang tuanya, bahkan ayahnya telah meninggal sesaat dia dilahirkan..." ucap kakek tua yang tiba-tiba datang sembari menepuk pundakku yang sedang khusu' memperhatikan perbincangan antara ibu dan anak yang sangat janggal itu.
Belum sempat aku bertanya lagi tentang Stave, kakek itu segera pergi dengan tongkat kayu dengan jalannya yang mulai membungkuk. Lalu hilang setelah menyeberang jalan tertutup lalu-lalang lalu-lintas jalan.
Dan kembali ku alihkan perhatianku pada Stave yang lari meninggalkan ibunya.
Melihat anaknya pergi seakan ibunya tak menghiraukan, ibu itu malah kembali masuk ke gedung, seakan tak mengkhawatirkan tentang kepergian anaknya.
Dari kejadian ini aku mulai bisa menyimpulkan bahwa keberadaan Stave baginya seakan sudah tak dianggap lagi. Pantas saja semua orang menyebutnya Situmbal. Tumbal keserakahan seorang ibu yang tak punya hati.
Jika memang cerita yang aku dengar ini benar adanya, atau hanya sebatas isu dan mitos belaka, namun apapun itu menelantarkan anak demi karirnya adalah sebuah tindakan yang tak pantas dilakukan oleh seorang ibu. Anak yang memiliki keterbelakangan mental bukanlah suatu aib atau beban bagi keluarga, namun sebagai orang tua justru seharusnya memberi perhatian lebih pada anaknya.
Di dalam lamunanku aku kembali tersadar bahwa aku sedang berada di kota orang, kembali ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
"Waduh 15 menit lagi keretanya datang..." ucapku dalam hati penuh kepanikan.
Dan akupun langsung lari menuju warung kopi untuk mengambil tas rangselku lalu segera menuju stasiun untuk melanjutkan perjalananku.
*****
Namun setelah aku sampai di warung kopi aku melihat banyak orang berkerumun tak biasa. Aku juga melihat ada bercak darah diaspal tapat di pertigaan yang menandakan ada bekas kecelakaan.
Lalu aku masuk ke warung kopi itu untuk mengambil tas ranselku, aku mencoba bertanya pada ibu pemilik warung.
"Ada apa bu, kok ramai di depan sana...???" Tanyaku sembari mengangkat tas ransel untuk ku gendong di punggungku.
"Itu mas, Situmbal kecelakaan..." jawab ibu itu singkat dengan raut wajah yang terlihat cemas.
Aku langsung terperanjat mendengar kabar itu, seakan tak percaya semua yang terjadi ini. Walaupun aku baru saja mengenal sosoknya, namun seakan aku ikut merasakan kehilangan.
Namun jam arloji yang melingkar di lenganku menunjukkan bahwa 5 menit lagi kereta akan datang. Dan tak ada waktu lagi selain harus bergegas pergi. Aku berlari menuju stasiun yang tak jauh dari warung itu, sembari sesekali menengok ke belakang melihat dimana orang-orang masih berkerumun di bekas kecelakaan.
"Apapun yang terjadi padamu, semoga semua ini yang terbaik Stave..." ucap hatiku sembari melangkah memasuki stasiun kereta api.
Sesaat setelah sampai di dalam stasiun, kereta pun datang tepat waktu, dengan nafas yang masih tersengal-sengal aku langsung naik dan mencari tempat duduk yang sesuai di tiket keretaku.
Dan aku pun duduk di samping jendela agar pandanganku lebih luas menikmati perjalanan.
Lalu kembali ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
Waktu menunjukkan pukul 13.35wib dan kereta pun berjalan sesuai jadwal keberangkatan.
Sesaat setelah sampai di dalam stasiun, kereta pun datang tepat waktu, dengan nafas yang masih tersengal-sengal aku langsung naik dan mencari tempat duduk yang sesuai di tiket keretaku.
Dan aku pun duduk di samping jendela agar pandanganku lebih luas menikmati perjalanan.
Lalu kembali ku angkat tanganku untuk melihat arloji yang melingkar di lenganku.
Waktu menunjukkan pukul 13.35wib dan kereta pun berjalan sesuai jadwal keberangkatan.
"Selamat tinggal kota Solo, selamat tinggal Stave...
Sebuah nama, sebuah kota yang tak mungkin ku lupa..."
Sebuah nama, sebuah kota yang tak mungkin ku lupa..."
Semoga perjalanan kisah ini mampu menginspirasi kita semua... Semoga...
============SEKIAN============
Suasana mendung menggelayut tanpa sudut.
Nampak dua anak manusia berdiri diantara ruang buram yang berselimut kabut.
Dia adalah Rey dan Raisya.
Dua anak manusia yang memiliki cinta diwaktu yang berbeda.
Wajah Rey nampak lusuh kumal, matanya sayu menatap Raisya tak seperti biasa.
Kedua tangannya memegang pipi Raisya lalu mencium keningnya penuh cinta.
Tanpa kata Rey membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi darinya. Melangkah pelan lalu hilang diantara kabut yang tebal.
"Rey mau kemana Rey...???" Teriak Raisya dengan wajah cemasnya.
Namun Rey tak menghiraukan, tetap melangkah tenang menembus kabut yang buram.
"Rey, Rey jangan tinggalin aku Rey..." Raisya berteriak sekencang-kencangnya. Mengejar Rey yang menghilang ditengah hamparan kabut.
Namun Raisya terus mencarinya dengan memanggil-manggil namanya, ditengah kepanikannya, tak sengaja Raisya terperosok ke dalam jurang yang dalam.
"Aaaahhhh....!!!!!" Raisya menjerit keras, tubuhnya jatuh kedalam jurang yang dalam.
Tapi,
Seketika Raisya terbangun dari tidurnya, yang ternyata itu hanya mimpi belaka.
"Alhamdulillah, ternyata cuma mimpi..." gumam Raisya dalam hati sembari nafasnya yang tersengal-sengal.
Tapi alangkah kagetnya Raisya saat lampu led kecil di handphone nya menyala yang menandakan ada pesan masuk untuknya.
Setelah dibuka, ternyata ada chat bbm dari Rey. Yang isinya sebait puisi.
"PERGI"
Jika kedatanganmu tak diharapkan,
Jika keberadaanmu hanya akan membawa masalah baginya,
Hanya ada satu pilihan, "PERGI"
Waktu 4 tahun sudah cukup untuk membawa beban di hatimu...
Turunkan beban itu, lalu "PERGI"
Terkadang "PERGI" akan terasa lebih baik dari pada harus bertahan memperjuangkan hal yang menyakitkan...
Bergegas "PERGI" melangkah menjauh darinya...
Karena "PERGI" bukan berarti meninggalkan, bukan berarti tak peduli...
"PERGI" adalah belaian terlembut untuk orang yang kita cintai yang tak mungkin kita miliki...
-Reyhan-
*****
Tak terasa air mata Raisya membasahi pipinya, memikirkan Rey yang selama ini ia abaikan.
"Maafin aku Rey..." bibir Raisya bergetar, berucap lirih dengan tatapan kosong dengan pikiran yang menuju pada penyesalan hatinya.
Namun ditengah lamunannya, ia terpikir sepintas ingin menemui Rey untuk menjelaskan penyesalannya.
"Yaa, aku harus menemui Rey, aku harus kesana..." hati Raisya berucap lirih, lalu segera bergegas menuju tempat dimana Rey biasa berada.
Tempat itu adalah warung mbok Minah, tempat Rey selalu membantu simboknya yang menekuni usaha warung makan nasi megono.
*****
Pagi itu udara masih terasa dingin, suasana kampung masih cukup sepi, lalu lalang kendaraan masih jarang, namun suasana sepi itu tidak berlaku untuk warung mbok Minah, warung yang terletak di pinggiran kampung yang berbatasan dengan sawah yang membentang.
Warung Mbok Minah yang sejak pagi buta warungnya sudah ramai oleh orang-orang yang ingin membeli nasi bungkus daun pisang untuk sarapan, dengan menu spesial megono.
Yaa, megono adalah masakan khas Pekalongan, sebangsa urap yang terbuat dari nangka muda yang dirajang kecil-kecil yang dimasak dengan bumbu dan rempah-rempah. Yang membuat nasi megono ini menjadi sangat sedap dan pas sebagai menu untuk sarapan.
Apalagi nasi megono buatan mbok Minah ini, dengan racikan dan bumbu yang tepat, serta bungkus daun pisang, membuat megononya menjadi idola bagi orang-orang yang ingin membelikan sarapan untuk anggota keluarganya, bahkan tak jarang banyak pembeli yang datang dari kampung sebelah, sengaja ingin menikmati megono made in mbok Minah.
*****
Namun saat mbok Minah sedang sibuk melayani pembeli yang sudah ngantri, tiba-tiba Raisya datang dengan agak terburu.
Seperti biasa, setelah sepedanya diparkir di depan warung, Raisya langsung masuk ke warung mbok Minah.
"Mas Rey... mas Rey...
Mbok, Mas Rey nya ada mbok...???" Tanya Raisya dengan tergesa-gesa.
Belum sempat dijawab oleh mbok Minah yang sedang sibuk melayani pembeli, Raisya langsung menuju halaman belakang, ke tempat dimana Rey berada.
Namun Raisya tak menemukan Rey, tempat menyuci piring yang biasa Rey membantu simboknya juga terlihat kosong tanpa Rey.
Lalu Raisya menuju bangku di belakang yang menghadap sawah juga tak ditemuinya Rey.
Raisya duduk di bangku yang terbuat dari bambu itu, dimana Rey biasa duduk sembari memandangi pematang sawah yang kadang sesekali menulis sesuatu di buku hariannya.
"Kamu dimana Rey...???
Kini saat aku benar-benar membutuhkan kamu, tapi kau malah pergi ninggalin aku Rey..." Hati Raisya berucap lirih.
"Rey sedang mendaki gunung Ndok..." jawab mbok Minah yang tiba-tiba duduk disamping Raisya, sembari membelai rambutnya.
(Ndok adalah nama panggilan khas Pekalongan untuk anak perempuan yang masih belia).
"Mendaki ke gunung mana mbok...???
Kok mas Rey gak bilang-bilang siihh...???" Tanya Raisya dengan nada agak sebel.
"Bukankah Rey pergi sama abangmu Fathir..???" Jawab mbok Minah singkat.
"Kok kak Fathir juga gak bilang-bilang aku mbok...???" Ucap Raisya dengan wajah cemberut.
"Seng sabar ndok...
Paling besok sore juga mereka sudah pulang..." ucap Mbok Minah menenangkan.
"Tapi aku takut kalo pulang nanti sikap Rey berubah mbok...
Soalnya tadi pagi Rey bbm yang gak biasanya..." ucap Raisya curhat pada mbok Minah dengan nada yang agak panik.
"Bukankah kamu sudah terbiasa hidup tanpa Rey...???" Jawab mbok Minah singkat sedikit menyindir. Karena mbok Minah tau betul kalau selama ini Raisya sering mengacuhkan Rey.
"Tapi sekarang aku sadar kalo aku ternyata butuh Rey, mbok..." Raisya menjelaskan.
"Yasudah, aku yakin semua akan baik-baik saja... tunggu saja saat Rey pulang besok, nanti simbok bantu jelaskan sama Rey..." ucap mbok Minah menenangkan.
Pagi itu hati Raisya sungguh gelisah, tak biasanya Raisya sekhawatir itu, Raisya yang semula cuek pada Rey tapi kali ini ada kegelisahan dalam hatinya.
Rey yang selama ini memberi perhatian penuh padanya, kini tak biasanya menulis kata-kata tentang "pergi". Entah apa itu arti kata-kata itu. Yang jelas kata-kata itu mampu membuat Raisya cemas.
"Sekarang aku baru sadar Rey, kamulah yang selama ini mampu bertahan memberikan perhatian yang tulus padaku meski kadang perhatian itu sering aku abaikan....
Maafin aku Rey..." ucap Raisya dalam hati.
*****
Sementara itu, di jalur pendakian gunung Merapi, Rey dan Fathir sedang berjalan melakukan pendakian menuju puncak gunung Merapi via Selo.
Mereka berdua sudah terbiasa mendaki gunung. Karena mereka sudah sahabatan sejak kecil dan kebetulan mempunyai hobi yang sama.
Ransel besar menempel di punggung mereka masing-masing, nafas yang berderu yang diiringi detak jantung yang memompa darah mengalir lebih cepat. Membuat keringatnya bercucuran lebih deras.
Kadang sesekali mereka istirahat untuk sekedar minum dan meregangkan otot.
Yaa, pendakian gunung Merapi tergolong jalur pendakian yang cukup ekstrim, bagaimana tidak gunung yang keliatannya kecil namun jalurnya penuh tanjakan yang menguras tenaga, apalagi jalur setelah batas vegetasi, disana selain treknya yang terjal juga penuh bebatuan dan pasir yang licin.
Tapi bagi mereka semua itu tak menjadi penghalang baginya, karena baik fisik dan perlengkapan, mental mereka juga sudah teruji.
*****
Sabtu, di pos 3 atau sering disebut Watu Gajah dimana ditempat ini terdapat batu besar dan disekitarnya terdapat tanah yang datar yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda, dari sini ke pos Pasar Bubrah sudak tidak terlalu jauh.
Saat itu waktu menandakan pukul 4 sore, Fathir sedang asyik memasak di depan tenda sembari menikmati secangkir kopi hitam yang masih panas, dengan sebatang rokok yang selalu membuat hangat suasana.
Semantara Rey lebih sibuk dengan buku catatannya, bermain dengan pena yang tulus membelai selembar kertas putihnya. Sembari sesekali menghisap rokok kretek dan memainkan asapnya.
Wajahnya tenang, pandangannya sesekali menerawang menembus kabut yang menggumpal di kejauhan. Yang sesekali tangannya mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Kaya'nya ada pujangga yang sedang nulis puisi niihh...???" Celoteh Fathir sambil mengaduk sayur sop yang tengah dibuatnya.
"Aaahh lu koki restoran bintang tujuh berisik aje luuhh..." jawabnya balik mengejek.
Namun Fathir sengaja tak menimpalinya lagi. Lebih memilih senyum dan menertawakannya.
Sementara Rey lebih memilih meneruskan menulis karena suasana waktu itu terlalu syahdu untuk dilewatkan tanpa mengutarakan isi hatinya lewat pena.
Tapi entah mengapa, di ending tulisan Rey menuliskan kata-kata:
"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."
Rey nampak tertegun, wajahnya sendu seperti ada sesuatu yang dipendam selama ini.
"Thir, seandainya aku mencintai adikmu, apa yang akan kamu lakukan...???" Rey tiba-tiba bertanya pada Fathir.
Fathir seketika terperanjat, tak percaya atas yang diucapkan sahabatnya. Cukup lama Fathir terdiam, lalu dia menjawab.
"Aaahh kaya' gak tau aja, Raisya pacaran sama Rendy saja aku gak setuju, apa lagi sama kamu yang aku sudah tau seperti apa busuk-busuknya kamu..." Fathir menjawab enteng, menganggap sahabatnya Rey bercanda.
"Tapi seandainya itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan ke aku...???" Rey kembali bertanya.
"Kenapa siihh kamu Rey...???
Seandainya itu terjadi, aku akan pukul dadamu tiga kali dan membentur-benturkan kepalamu di kepalaku.... puas kamu Rey... hahaa..." jawabnya bercanda.
Namun Rey tetap diam, nampak ada kesedihan yang mendalam yang selama ini ia simpan.
Tak bisa dipungkiri sebenarnya Rey sudah jatuh hati pada Raisya dari bertahun-tahun yang lalu, tapi Rey lebih memilih menyimpan perasaannya karena ia tak enak hati jika sahabatnya Fathir mengetahui, apalagi Raisya selama ini cuek padanya dan lebih memilih Rendy sebagai kekasihnya.
Namun melihat wajah Rey yang tetap termenung, Fathir mulai curiga atas apa yang diucapkan Rey.
Saat Fathir ingin menginterogasi lebih dalam, tiba-tiba cuaca menjadi lebih ekstrim.
kabut tebal bergumpal datang disertai angin kencang. tak butuh waktu lama, seketika hujan mengguyur sangat deras.
Mereka pun segera mengemas peralatan masaknya, lalu segera masuk ke tenda.
Tapi hujan tak kunjung reda, malah angin terasa makin kencang. Dengan raincoat warna merah yang kebal air, Rey nekat keluar tenda untuk mengecek keadaan.
Namun cuaca tak seperti biasa, feeling Rey berkata,
"Ini bukan hujan biasa, ini badai besar...!!!"
Lalu Rey kembali masuk ke tenda, memberi tau pada Fathir tentang cuaca diluar.
"Thir, aku yakin ini badai...
Kita harus mengambil keputusan...
Lebih baik kita kemas tenda kita lalu turun..." ucap Rey dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tapi kita belum muncak...???" Jawab Fathir keberatan.
"Sementara jangan pikirkan muncak dulu, ini tidak memungkinkan...
Ayoo kita berkemas lalu turun...!!!" Rey memberi saran.
Lalu Fathir mencoba melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya nongol keluar dari pintu tenda persis seperti kepala kura-kura yang keluar dari tempurungnya.
Seketika wajah Fathir berubah penuh kecemasan, melihat hujan yang turun tak seperti biasanya. Bahkan tenda yang biasanya baik-baik saja saat hujan, kali ini tenda mereka sering terhempas tertiup angin.
"Oke kalo begitu..." jawab Fathir dengan wajah panik.
Lalu mereka langsung mengemasi barang-barangnya. Tenda segara dibongkar dan dimasukkan ke keril. Dan setelah semua rapi, mereka pun siap berjalan turun.
Namun saat mereka hendak turun, Rey melihat di sekitar area Pasar Bubrah masih terdapat tenda dan banyak pula pendaki yang terjebak disana.
Rey berubah pikiran, di ingin menolong mereka yang masih berada diatas.
"Thir, kamu turun duluan...
Kasih tau para pendaki lain yang masih ngecamp di bawah untuk segera turun, karena cuaca terlalu ekstrim..." ucap Rey sembari menepuk pundak Fathir.
"Gila kamu Rey, diatas sangat berbahaya, belum genap jam 5 sore tapi langit sudah sangat gelap seperti ini, dan angin juga sangat kencang itu sangat berbahaya...
Ayoo kita turun bareng aja...!!!" Fathir mengajak Rey sembari menarik tangannya agar segera turun.
"Tidak Thir, aku harus keatas, banyak pendaki yang terjebak disana... kamu turun dulu kasih tau yang lain...
Ini pilihan yang terbaik Thir..." ucap Rey menyakinkan sahabatnya. Dibawah derasnya hujan dan sabetan angin yang mampu memporak-porandakan hutan.
Sesaat semua terdiam, menatap satu sama lain.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu Rey..." ucap Fathir dengan nada yang agak berteriak bersaing dengan suara guyuran hujan yang semakin deras.
Di tengah kepanikan tiba-tiba pohon sengon disamping mereka roboh diterjang angin.
Lalu tanpa pikir panjang Rey mendorong tubuh Fathir untuk segera turun.
"Cepat turun Thir cepat..." teriak Rey pada sahabatnya. Namun Fathir tetap diam.
Keduanya kembali terdiam, Rey mebuka kupluk raincoatnya dan membiarkan rambut panjangnya basah tersiram air hujan. Lalu Rey memeluk Fathir erat sembari berkata.
"Aku akan baik-baik saja sobat, kita harus menyelamatkan mereka...
Kita ketemu di basecamp, oke...!!!???" lalu Rey melepas pelukannya, merogoh kantong raincoatnya dan mengambil buku yang sudah terbungkus kantong kresek hitam.
"Seandainya ada sesuatu terjadi, titip ini buat Raisya..." ucap Rey sembari memberikan buku itu pada Fathir.
Mereka terdiam saling memandang. Dibawah guyuran air hujan mereka tak biasanya merasakan hal seperti ini.
Selang berapa lama, tanpa berucap lagi, Rey membalikkan badan dan menuju ke arah Pasar Bubrah.
Semantara Fathir berlari menuju bawah untuk memberi informasi pada pendaki lain untuk segera berkemas dan turun.
Ditengah ketegangan jiwanya, namun Fathir yakin Rey akan baik-baik saja, dia teringat sudah sering Rey mengambil keputusan ekstrim, walau membahayakan nyawanya sendiri namun Rey tetap baik-baik saja.
Dia teringat dulu waktu masih sekolah, saat terjadi tawuran dan mereka terkepung, Rey pernah menyelamatkan teman-temannya.
Dia menyuruh Fathir dan teman-teman yang lain untuk pergi, sementara dia menghadang musuh hanya dengan pentungan kayu seorang diri, saat Fathir dan yang lain sudah lari jauh tak terlihat, Rey yang sudah membuat musuhnya kesal, seketika lari dengan jurus langkah seribunya, sehingga musuh lebih memilih mengejar Rey dibanding Fathir, namun dengan tubuh Rey yang ramping membuat Rey mudah lari kesana-kemari melompati pagar pekarangan rumah warga dan akhirnya Rey lolos dari kejaran musuh.
Yaa begitulah karakter Rey yang senang mengambil resiko.
*****
Sementara itu, Fathir terus berjalan menuruni jalur menuju pos 2, di sana tenda yang masih berdiri yang kemudian Fathir berteriak kencang agar semua pendaki bergegas turun ke basecamp.
Seketika semua sigap berkemas dan membongkar tendanya masing-masing.
Hujan dan angin masih sangat kencang, banyak pohon-pohon yang roboh yang membuat jalur menjadi teramat sulit untuk di lalui.
Tepat jam 8 malam semua pendaki berhasil evakuasi ke basecamp. Namun ada beberapa pendaki yang masih terjebak diatas karena cuaca yang sangat ekstrim.
Team SAR segera diterjunkan untuk mengevakuasi pendaki yang masih terjebak diatas, suasana kepanikan nampak di basecamp, radio HT selalu berbunyi memberi informasi satu sama lain antar petugas team SAR.
Fathir dan beberapa pendaki lain yang baru saja sampai di basecamp langsung disambut oleh para relawan basecamp, diberi minuman hangat, sembari diinterogasi tentang keadaan diatas.
Untuk memberikan informasi kepada team SAR yang sedang menuju ke atas.
Setelah semua selesai, Fathir dan pendaki lain di persilakan istirahat.
Sementara suasana di basecamp masih tetap sibuk penuh kepanikan. Komunikasi lewat HT masih saling bersautan antar team SAR. Dan tentunya kabar badai di lereng Merapi pun langsung menyebar lewat media sosial.
Namun ditengah kepanikan itu, Fathir dengan tubuh yang lelah dengan pelan merebahkan tubuh di tikar yang telah disediakan.
Pikiran menerawang menuju pada sahabat yang masih diatas sana.
"Aku yakin kamu baik-baik saja Rey..." hatinya berisik lirih.
Pikiran terus menerawang membayangkan sahabatnya, lelah yang merobek jiwanya tak mampu melelapkan matanya untuk sekedar melepas lelah. Pikiran tetap tertuju pada Rey.
Seketika lamunannya tersentak saat Fathir teringat pada seonggok buku yang terbungkus kantong kresek hitam yang berada disampingnya.
Rasa penasaran berkecamuk dalam hatinya, ia pun ingin segera membuka dan ingin tau tentang tulisan Rey selama ini.
============BERSAMBUNG===========
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI
Dijamin akan lebih seru dan penuh haru..!!!
Dia bukan kekasihku, dia hanya pujaan hatiku. Tapi entah mengapa hanya dirinya yang selalu hadir dalam lamunanku, memberi imajinasi dalam kerinduan ini.
Dan kali ini aku ingin sekali mengajaknya bertualang mendaki gunung Prau, padahal tak pernah terbesit sedikit pun untuk mengajak kekasihku sendiri mendaki ke puncak gunung itu.
Yaa, karena kekasihku lebih suka bergelut pada pasir-pasir pantai yang kering dengan panas jiwanya dan bercumbu pada kerasnya batu karang, yang menyerupai dengan keras hatinya. Sementara dia, dia adalah sosok yang sejalan denganku, lebih suka dingin beku dan sejuknya aroma hutan cemara di pegunungan.
Kekasihku sangat keras hati dan emosional sementara dia sangat penyayang, begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan karakter mereka.
Dia yang selama ini aku puja-puja yang tak sepuja kekasihku sendiri, bahkan untuk jawaban "ya" dari bibirnya saja mampu membuat hatiku berbungah. Karena jawaban itu yang selama ini aku tunggu, jawaban yang menandakan dia mau ikut denganku untuk mendaki gunung Prau.
***
"Woow indah sekali mas..." kata-kata dari bibirnya saat turun dari mini bus tepat di depan basecamp Patak Banteng, yang mampu memberi gairah pada semangatku yang makin menggebu.
"Hal-hal seperti inilah yang membuat aku jatuh hati pada tempat-tempat dengan suasana serperti ini Princess..." jawabku pada Novita Angel pujaan hatiku, tapi aku sering memanggilnya Princess, karena dia begitu indah di mataku.
"Berarti kita sehati mas Fery, walau pengalaman ini yang pertama kali buat aku, tapi aku suka banget dengan tempat-tempat seperti ini..." jawab Novita dengan bibir yang tersenyum indah dengan mata yang berbinar memancar kesegala arah menikmati bukit-bukit disekitar desa Patak Banteng.
Jawabannya mampu menggetarkan hatiku yang telah lama beku, aku tak pernah merasakan sempringah seperti ini, bahkan saat bersama kekasihku sendiri.
"Ini belum seberapa Princess, di puncak sana kita akan disuguhi pemandangan dari serpihan surga yang terlempar ke dunia...
Kita akan berada di negeri diatas awan seperti pada dongeng-dongeng negeri kahyangan..." jawabku sembari menunjuk ke arah puncak gunung Prau. Yang disambut wajah Novita yang makin berbinar.
"Apa benar mas...??? Waaahh jadi penasaran..." wajahnya makin merona penuh suka cita.
Dan aku pun hanya menganggukan kepala dengan tatapan yang tak henti memandang wajah cantiknya.
Dan tak bisa dipungkiri, semenjak kehadirannya dalam hatiku, sosok kekasihku sendiri lambat laun terlupakan dan terganti oleh sosoknya yang anggun penuh cinta.
"Apakah aku selingkuh...??? Tidak aku tidak selingkuh, aku hanya mengikuti kata hatiku untuk pergi mencari sesuatu yang lebih indah dan lebih mengerti hatiku ini...
Karena hatiku terlalu lelah untuk tersakiti..." ucap batinku bergejolak.
***
Namaku Fery, laki-laki 27 tahun yang sudah 3 tahun menghabiskan hari-hariku untuk menghamba pada kekasihku, dan selama itu pula aku tak pernah merasa hatiku bahagia. Tak seperti saat ini saat aku bersama Princess menikmati petualangan yang sederhana ini.
Dan aku sangat merasa nyaman bersamanya.
Novita Angel adalah sosok gadis yang teramat cantik untuk terlahir di dunia ini, sosok yang teramat menarik terlahir sebagai manusia bumi, dia lebih pantas terlahir sebagai bidadari. Tak heran setiap keberadaannya mampu membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
Yaa, karena itulah aku memanggilnya Princess.
***
Setelah mengurus perizinan mendaki, kami langsung menapaki kaki-kaki kami mengikuti jalur setapak yang menghubungkan Patak Banteng dengan puncak Prau.
Yaa, jalur yang sangat terjal menguras tenaga namun tetap indah untuk di lewatinya.
"Aduh mas, cape'...
Gak nyangka ternyata mendaki gunung itu melelahkan yaa..." Novita mengeluh membungkukkan tubuhnya sembari mengusap keringatnya yang sudah mulai membanjiri seluruh wajahnya.
"Aaahh kata siapa, mendaki itu sangat menyenangkan Princess, bila kita bisa menikmati ritme-ritme yang harus kita lewati...
Tergantung dari sudut pandang yang mana kita melihatnya...
Lihatlah Princess, sekeliling kita yg gelap ini, walau disini terlalu pekat tapi pandanglah keatas, disana terdapat hamparan bintang yang menghiasi langit kita, dan juga lihatlah ke bawah, disana juga terdapat kerlap-kerlip indah lampu kota yang sungguh menawan, yang kadang terlupakan oleh kita karena terfokus pada terjalnya jalur dan pekatnya malam yang kita lewati ini...
Dan ini baru perjalanan malam, tapi saat fajar nanti pemandangan akan jauh lebih indah dari yang kita bayangkan..." jawabku menyadarkan Novita akan indahnya alam sekitar.
"Waahh iyaa yaa mas, kok dari tadi aku gak ngeh kalo ternyata pemandangannya sangat indah..." ucap Novita dengan wajah yang kembali berseri. Sembari menyebar pandangannya menikmati pesona Dataran Tinggi Dieng dari ketinggian.
"Hhmm... selayaknya kehidupan ini Princess, kadang kita lupa akan anugerah yang diberikan Tuhan pada diri kita, karena kita terlalu fokus pada kekurangan kita..." aku pun menjelaskan dengan nada sok bijak sambil tersenyum manis melihat wajah manis Novita yang makin manis.
"Okee, yuukk kita mulai lagi perjalanannya, yang penting kita jangan terfokus pada getirnya perjalanan, tapi fokuslah pada indahnya pemandangan yang disajikan disetiap jengkal perjalanan ini..." ucapku menyemangati Novita.
"Okee mas Fery.." jawab Novita dengan gaya lincah dan manja.
Pejalanan kembali dilanjutkan melewati jengkal demi jengkal jalur yang kian menantang, Novita yang semula mengeluh kini semakin antusias dalam melangkahkan kakinya ke tanah yang lebih tinggi.
Yaa, setiap langkah adalah menambah ketinggian, begitulah gambaran tentang perjalanan mendaki gunung.
Dan setapak demi setapak, setelah hampir 2 jam perjalanan kini kami sampailah di puncak gunung Prau.
"Subhanallah... Keren bangett mass viewnya..." sontak wajah Princess berbinar-binar menyaksikan pemandangan dari puncak Prau ini.
"Inilah surga yang tersembunyi itu Princess, dimana Tuhan sengaja menyembunyikannya dari hiruk-pikuk keramaian, hanya untuk kita Princess, kita yang mau berjuang mendaki...
Yaa, hanya para pendakilah yang bisa menikmati pemandangan seperti ini..." ucapku sembari menatap wajah sendu Princess, dengan kedua tanganku yang menyentuh pipinya.
Suasana pagi itu sangat syahdu, pesona golden sunrise dengan bayangan siluet gugusan Sindoro-Sumbing, dengan lautan awan nan luas tanpa batas, dari kejauhan nampak Merbabu-Merapi yang nampak kecil karena efek jarak yang membentang.
Dan puncak yang luas dengan bukit-bukit berjejer menghijau nan indah.
Inilah pemandangan khas puncak gunung Prau.
Disaat mentari mulai merayap mengusir pekat, aku dan Novita duduk diatas matras untuk menikmati keindahan momen ini detik demi detik, tanpa sadar Novita menyandarkan kepalanya di pundakku, membuat hatiku dak dik duk tak menentu.
Ini adalah rasa yg entah kapan terakhir kali aku merasakannya, romantisme kehidupan yang telah lama hilang, dan baru kali ini aku merasakan kabahagiaan dan kedamaian jiwa yang syahdu.
Saat suasana hening dan tenang, tiba-tiba hape ku berbunyi keras memecah kesunyian, seketika ku rogoh kantong celanaku dan ku angkat panggilan telpon itu, belum sempat aku berucap assalamualaikum, tiba-tiba terdengan suara yang sudah tak asing lagi di telingaku.
"Hey brengs*k kemana aja siihh lu, ditelpon susah amat...!!!!
Lu sengaja menghindar dari gw lu yee...
Gak pernah becus banget siihh jadi pacar...
Kapan lu bisa nganterin gw pergii...!!!!???
Gw bener-bener muak sama lu...!!!
Dan gw udah..."
"Tuutt... tuutt... tuutt..."
Tanpa pikir panjang aku langsung menutup telponnya, dan ku lempar hape ku ke dalam tas carriel yang berada disampingku.
"Siapa tuh mas Fery... Kok marah-marah gituu...???" tanya Novita dengan nada heran.
"Dia orang yang pernah aku ceritakan sama kamu..." jawabku singkat.
"Kenapa mas gak berusaha merubah sifatnya yang emosian itu...???" tanya Novia dengan nada pelan.
"Dulu sejak pertama menjalin hubungan dengannya, aku memang sudah tau karakternya, dan saat itu aku yakin kalo aku pasti bisa merubah sifatnya menjadi lebih baik...
Karena aku yakin bahwa setiap orang pasti bisa berubah seiring kedewasaannya...
Tapi pada akhirnya aku sadar, bahwa semua itu sudah menjadi wataknya, sementara watak itu tidak mungkin mudah dirubah begitu saja...
Dan kini aku mulai putus asa Princess..." jawabku lemah sambil menundukan wajah senduku.
"Yang sabar yaa mass..." ucap Novita sembari mengusap wajahku penuh kelembutan.
Lalu Novita kembali menyandarkan tubuhnya di pangkuanku, ketegangan yang terjadi di tubuhku kini sekejap berubah menjadi kedamaian dalam jiwa.
Seperti lembutnya awan yang membalut cakrawala...
***
Aku tak peduli apa yang akan terjadi esok hari...
Yang jelas, disini, diatas awan ini cintaku bersemi...
Hanya padamu Princess, yaa hanya padamu...
Karena kamulah yang mampu membuat aku merasa sedamai ini...
Hanya kamu yang mampu membuat hidupku lebih berarti...
Dan aku harap, kamu tetap mau menemani petualanganku...
Petualangan menjelajahi kehidupan ini...
Percayalah Princess,
Cinta ini cinta diatas awan, cinta yang penuh kelembutan...
Cinta ini cinta diatas awan, cinta yang penuh keindahan...
Karena seharusnya cinta itu penuh kasih sayang, selayaknya awan yang memberi keteduhan...
Seperti sikapmu yang meneduhkan hatiku...
I Love You Princess, I Love You...
================ SEKIAN ===============
By: Ahmad Pajali Binzah
Foto: googling
Baca juga cerpen tentang petualangan:
Oleh: Ahmad Pajali Binzah
Malang nasibku, saat kehadiranku seakan tak berarti apapun. Gaya hedonisme yang mereka anut seakan melupakan semua sumbangsihku selama ini. Dan kini, hatiku seakan hancur saat mendengar perkataan tuanku, tuan yang selama ini merawatku.
"Baik setelah semak itu dibersihkan, tolong pohon mangga di pojokan sana ditebang aja, biar kesannya lebih terang... karena kontrakan yang akan kita bangun harus terkesan bersih dan luas..." ucap pak Sapto pemilik lahan pada pak Kusen sang mandor bangunan.
***
Yaa, namaku pohon Mangga, mungkin ini juga kenapa gang disini diberi nama gang Mangga. Akulah satu-satunya pohon besar yang masih tersisa di daerah ini, setelah semua sahabat-sahabat sejenisku telah tumbang ditebang habis tergantikan beton-beton untuk pemukiman.
Aku saksi bisu dimana dulu disini didominasi hutan yang penuh pepohonan, diantaranya pohon mangga yang mendominasinya. Dan sungai yang ada di sebelah barat sana dulunya mengalirkan air yang jernih sebagai tempat minum para rusa dan banteng liar.
Dan di hutan ini pula dahulu para jawara Betawi singgah dan bersembunyi untuk mengatur siasat pertempuran melawan penjajah Belanda, dan kadang sesekali diantara mereka memetik buah mangga yang aku sajikan yang juga berebut dengan kera, musang atau kelelawar.
Bahkan sampai detik ini aku masih menjadi favorit anak-anak untuk bermain dan berteduh dari teriknya matahari, dan jika malam hari masih saja ada kelelawar yang entah dari mana datangnya selalu singgah di musim buah.
Dan kini semua kisah ini harus berakhir dan harus terakhiri. Karena tuanku sudah bulat mengambil keputusan untuk menebangku, menggantikan lahan yang sepetak ini menjadi deretan kontrakan 14 pintu.
***
Hari ini hari ke-3 dari pertama tuanku pak Sabto menyuruh pak Kusen untuk membersihkan lahan ini, dan kini tuanku datang lagi menjenguk keadaan lahan kosong sepetak ini.
"Bagaimana pak Kusen, apa semua sudah beres...???" tanya pak Sabto pada pak Kusen sang mandor bangunan, dengan tangan pak Sabto menjulur masuk ke kantong saku celana sebagai gaya khas nya saat berbicara. Sesekali tangan kanannya keluar dari saku celana untuk menunjuk tempat-tempat yang diperintahkan untuk dibersihkan.
Begitulah gaya pak Sabto sang pemilik sepetak lahan kosong yang akan dibangun kontrakan 14 pintu. Kumis tebal dan rambut klimis belah tengah, juga selalu menggenakan kemeja warna putih bergaris menjadi ciri khasnya.
"Semua telah beres pak, lihat saja semua telah bersih...
Tinggal menebang pohon mangga itu lalu semua lahan siap di pasang pondasi..." jelas pak Kusen sang mandor bangunan dengan perawakan kekar dan berkulit hitam legam.
"Baguss... kalo bisa hari ini juga pohon itu ditebang..." perintah pak Sabto yang langsung diiyakan sang mandor.
***
Oh Tuhan, apakah ini semua takdir yang digariskan olehMu...???
Ataukah memang kebanyakan manusia saat ini telah dibutakan oleh kepentingan ego atas nama ekonomi yang semu...???
Saat batinku bergejolak hebat, tiba-tiba pak Sabto mendekat dan memandangi rimbunnya daunku.
Aku mulai mensugestikan pikiranku agar bisa berbicara dengan tuanku.
"Tolong tuan, jangan tumbangkan aku...
Aku masih ingin mengabdi pada manusia...
Aku ingin menyelesaikan tugasku untuk mendinginkan dunia, hingga saatnya nanti aku menua dengan sendirinya..." pintaku pada pak Sabto.
Lalu pak Sabto merenung sambil tetap memandangi lebatnya daunku sambil berbicara dalam hatinya.
"Maaf, aku harus melakukan ini, demi membantu menafkahi anak istriku, karena sebentar lagi aku pensiun dan aku harus punya pendapatan lain agar nafkah keluargaku tetap terpenuhi, dan kontrakan inilah satu-satunya harapan kami..." jawab pak Sabto lirih dalam hatinya yang hanya aku yang sanggup mendengarnya.
Sesaat pak Sabto pergi meninggalkan sepetak lahan kosong yang akan dibangun kontrakan 14 pintu.
Tiba-tiba,
"Cetok... Cetok... Cetok..."
Kapak besi dengan ujung mengkilap tajam dan bogol hitam khas baja, dengan gagang kayu bulat yang dipegang penebang pohon anak buah pak Kusen, terus mengayun melukai tubuhku dengan dengan bertubi-tubi.
Sesekali berhenti karena kelelahan dan istirahat minum teh hangat dan menyulut rokok yang telah terjepit di kedua bibirnya.
Mulut itu terus mengeluarkan asap tebal seperti asap kereta yang keluar dari cerobongnya.
Saat penebang pohon itu sedang santai melamun, aku mencoba berbicara memohon padanya, dari hati ke hati.
"Tolong pak, jangan tumbangkan aku...
Aku masih ingin mengabdi pada manusia...
Aku ingin menyelesaikan tugasku untuk mendinginkan dunia, hingga saatnya nanti aku menua dengan sendirinya..." aku terus memohon memasuki pikiran penebang kayu yang sedang asyik melamun dengan rokok yang masih mengebul dari mulutnya.
"Maaf, aku hanya buruh kasar...
Aku hanya menjalankan tugas agar kami dibayar, sekedar untuk makan keluarga kami yang lapar..." jawab penebang pohon dengan wajah lesu karena lelah hendak menebang aku.
Saat perdebatanku dengan penebang pohon, datanglah pak Kusen dengan wajah yang sangar.
"Cepat lanjutkan menebangnya, jangan terlalu lama istirahat tanpa guna..." perintah pak Kusen dengan wajah makin legam.
Sebelum para penebang pohon itu mulai merobohkanku aku kembali mencoba berbicara dengan mandor itu.
"Tuan, tolong jangan tumbangkan aku...
Aku masih ingin mengabdi pada manusia...
Aku ingin menyelesaikan tugasku untuk mendinginkan dunia, hingga saatnya nanti aku menua dengan sendirinya..." pintaku dengan nada memelas padanya.
"Maaf, sebagai mandor bangunan tugasku hanya memberikan bangunan terbaik untuk sang pemesan..." ucap mandor dengan nada tegas lalu pergi menghilang.
Sesaat aku melihat pak camat dengan mobil mewahnya datang melintas dengan santainya.
"Stop pak camat, stop...!!!
Tolong hentikan semua ini, jangan tumbangkan aku...
Aku masih ingin mengabdi pada manusia...
Aku ingin menyelesaikan tugasku untuk mendinginkan dunia, hingga saatnya nanti aku menua dengan sendirinya..." aku menghiba pada pak camat yang seketika menghentikan mobilnya, namun hanya membuka kaca jendela mobilnya saja.
Lalu pak camat itu berbicara dalam hatinya,
"Maaf, sebagai pejabat pemerintahan kami tidak punya hak untuk melarang warganya untuk membangun rumah di lahannya sendiri selagi warga itu mempunyai izin IMB...
Dan sekali lagi, maaf kami tidak punya wewenang menghentikan ini"
Jawab pak Camat yang kemudian pergi melenggang dengan mobil mewahnya.
***
"Cetok... cetok... cetok..."
Penebang pohon itu terus mengayunkan kapaknya ditubuhku, rasa sakit ini tak seberapa jika dibandingkan kekhawatiranku akan efek yang akan ditimbulkan nanti...
"Bruuukkk...!!!"
Aku tumbang, roboh tak berdaya ditangan para penebang pohon yang terus menghujamiku dengan ayunan kapak saktinya.
Seketika rohku melayang, terbang pelan meninggalkan jazadku yang tumbang tersungkur, roboh ke tanah.
Saat rohku terbang, dari atas aku melihat semuanya, baru kali ini aku menyadari bahwa sekarang hijaunya bumi telah terganti oleh hutan beton yang meninggi, berjajar angkuh mencengkeram bumi.
***
Mungkinkah mereka lupa, atas apa yang kami berikan pada dunia, mungkinkah mereka juga lupa, bahwa banjir dan kekeringan adalah imbas dari sikap rakus mereka.
Wahai manusia, sadarkah kalian bahwa AC pendingin ruangan yang kalian pasang itu hanya mendinginkan kamarmu saja, namun akan memanaskan seisi dunia...
Wahai manusia, sadarkah kalian sumur resapan dan gorong-gorong yang kalian ciptakan tak akan mampu menampung limpahan air yang turun dari langit saat hujan menghujam, jika seluruh kulit bumi kau tutup dengan beton dan aspal...
Karena hakekatnya Tuhan telah menciptakan kami sebagai penyeimbang kehidupan di bumi...
Kamilah penyeimbang itu yang tak bisa tergantikan oleh apapun, tak terkecuali...
Dan pahamilah wahai manusia, kamilah para hijaunya pohon, yang hakekatnya penyelamat kalian di bumi ini...
Dari sengat panasnya matahari dan deru derasnya hujan...
Karena jika tampa kami,
Sinar matahari yang semula menyegarkan akan berubah menjadi ganas mematikan...
Rintik hujan yang semula menyejukkan akan berubah beringas menjadi limpahan air bah yang meluluh-lantakkan..
Maka lestarikanlah kami...!!!
===============SEKIAN===============
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
Ku pencet nomor hp-nya yang telah kuhafal sejak 5 tahun yang lalu, setelah nada sambung berbunyi, tiba2 terdengar suara lembutnya.
"Halloo... assalamualaikum..."
Sontak gemetar bibirku, alangkah bahagianya aku mendengar suara dari seseorang yg selama ini aku rindukan.
"Wa'alaikumsalam... ini aku Pris, Aldi. Gimana kabarmu...???"
Basa-basiku yg basi membuka percakapan.
"Oh kamu Al, kabarku baik2 aja"
Aku merasakan dingin sikapnya terhadapku, dari dulu dia memang tidak pernah antusias jika berbincang denganku, walau demikian tetap suaranya mampu membuat hidupku sembringah dan berbunga-bunga.
"Pris kenapa sih kamu gak pernah kelihatan dikampus? Kamu cuti yaa...??" Tanya ku lagi mencairkan dingin sikapnya.
"Iya banyak urusan yg harus aku selesaikan" jawabnya singkat.
"Tapi tolong jujur Pris, selama ini kenapa kamu menghindar dariku, sejak aku ungkapkan tentang perasaanku, kamu seakan menjauh dariku..."
"Aku gak apa-apa kok" jawabnya singkat.
"Tapi kenapa kamu berubah? Kalo kamu memang gak bisa mencintaiku, terus terang saja, aku sadar kok aku ini siapa, bukan menggantung seperti ini...??? Bukankah kamu tau bahwa aku mencintaimu sejak dari SMA, apa kamu tidak pernah mengerti perasaanku...???" Aku mencoba menjelaskan padanya dengan nada yang agak tinggi.
"Aku ngerti Al, tapi..."
"Tapi apa...???" Tandasku.
"Suatu saat kamu mengerti Al" jelasnya dengan nada dingin dan lemah.
"Apa maksudmu Pris...???"
Tiba-tiba "tut tut tut tut..." dia menutup telponnya.
Aku tak menyangka, orang yg selama ini aku puja-puja, aku kagumi begitu angkuhnya tak pernah mau mengerti perasaanku sama sekali.
Padahal maksudku menelponnya hanya ingin menanyakan kabarnya dan aku ingin menemuinya 4 hari lagi tepat dihari ulang tahunnya, tapi sayang sikapnya selalu dingin yang selalu memancing emosiku.
Untuk mendinginkan suasana akupun mengetik SMS untuknya:
"Maaf Pristy, aku gak pernah bermaksud berbicara kasar padamu, aku hanya kangen suaramu, aku hanya ingin sekedar tanya kabar, aku jg ingin ngasih tau, kalo besok aku mau mendaki gunung Slamet, selama 3 hari dan pulangnya aku ingin langsung kerumahmu tepat dihari ulang tahunmu, dan akan aku bawakan bunga edelweis untukmu sebagai ungkapan cintaku yg abadi untukmu, sekali lagi aku minta maaf jika telah menyakiti hatimu"
Yaahh,,, lagi-lagi sms ku tak di balas.
Sedih memang tapi inilah kenyataan.
Dan aku yakin apa kata orang-orang, bahwa cinta itu butuh pengorbanan...
Setelah malam makin larut, tapi mata enggan terpejam, pikiran melayang tanpa tujuan, "bisa gak bisa kudu merem nih, gaswaatt..." gumamku dalam hati.
Dan akhirnya terlelap juga aku dalam mimpi...
*****
Pagi ini, setelah bagun dan merapikan perbekalan yang sudah aku persiapkan beberapa hari sebelumnya. Dan ternyata teman-teman seperjuangan juga sudah menunggu diluar sejak aku belum bangun tadi.
Inilah tiba saatnya untuk bertualang melepas penat dan beban dipikiran.
"Cayooo... Gunung Slamet, i'm cooming... hahahaaa..."
Dan kami berlima melaju dengan naik angkot menuju terminal yang diteruskan dengan naik bus menuju kecamatan Moga kabupaten Pemalang, dan dilanjut ke desa Bambangan kabupaten Purbalingga.
Setelah perjalanan selama hampir 7 jam, akhirnya sampai juga di tempat yg ditunggu-tunggu, basecamp gunung Slamet.
Setelah mengurus perizinan, kamipun langsung mendaki menuju puncak...
*****
Tak terasa 7 jam telah berlalu, langkah kami semakin berat dan nafas semakin tersengal-sengal, kami putuskan untuk beristirahat dan bermalam di pos 7 atau sering disebut pos Samyang Kendit, karena disini pemandangannya sangat indah pas banget untuk mendirikan tenda, apalagi hari sudah mulai gelap.
Setelah tenda berdiri dan yang lain pada sibuk sendiri-sendiri, aku memilih duduk diatas batu besar sambil menikmati pemandangan kota Pemalang dengan lampunya yang kerlap-kerlip, "ooh sungguh indah alam ciptaanMU ini Tuhan,,, disini aku merasakan damai, sedamai suasana malam ini yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota... Subhanallah..." celetukku dalam hati.
Tiba-tiba Tedy sahabatku datang menghapiriku dengan membawa secangkir kopi.
"Ngupi-ngupi dulu lah bro, biar gak tegang kita, join-join secangkir berdua, hahahaa..." gaya khas bicaranya yg sudah tak asing lagi.
"Tau aje lu gw lagi butuh anget-anget" jawabku sambil menerima secangkir kopi.
"Wah perjalanan tadi bener-bener melelahkan ya bro, berasa mau pingsan tadi"
"Iya Ted, gw jg ngos-ngosan serasa dengkul mau copot" sahutku seraya bercanda.
"Hahahaa bisa aja lu... oia Al, sebenarnya ada masalah apa sii, kok gw perhatiin kaya'nya lu masih ada masalah...???" Tedy mencoba mengorek2 masalahku.
"Ah gak ada apa-apa Ted, lu aja kali yg sok teu..." jawabku santai.
"Ah kata siapa, feelingku biasanya gak salah lhoo... jujur aje deh sob, sapa tau gw bisa jadi pendengar yg baik, hehehee" rayu Tedy.
"Iya nih Ted, gw lg ada masalah ama Pristy" terang ku.
"Yah lagi2 maslah Pristy, emang di dunia ini cuma Pristy aja apa...??? Tapi gakpapa, namanya jg cinta... hehehee... ngomong-ngomong masalahnye apa nih...???" Tedy mencoba menghibur.
"Sampe sekarang gak ada jawaban dari do'i Ted, gw udah mulai putus asa..." keluhku.
"Jangan loyo gitu donk bro... cinta itu butuh pengorbanan meeennn..." dia coba memotivasi.
"Iya sii bro, tapi ini perjuangan gw yg terakhir, gw mendaki ini cuma ingin ngasih dia edelweis sebagai kado ulang tahunnya dan sebagai lambang cinta abadiku, kalo dia gak mau nerima juga ya sudahlah, mungkin perjuanganku harus diakhiri..." jelasku sembari menundukan kepala.
"Jangan sedih sob, gw selalu mendukung lu, dan gw yakin lu bakal bisa dapetin Pristy... okee...???" Tedy mencoba menghiburku lagi.
"Amin... makasih Ted"
"Oiya, yuk kita gabung ama temen2 yg lain, kita ngobrol didepan tenda aja..." ajak nya.
"Yups"
*****
Akhirnya pagi di pos Palawangan ini aku nikmati juga dengan segenap jiwa dan raga...
Dingin udara pagi dan hangat sinar mentari, kombinasi yang tepat untuk menyegarkan otot-otot tubuhku...
Setelah sarapan dan berkemas, kami harus melanjutkan pendakian, dari pos ini ke puncak gak makan waktu lama, kira-kira 1 jam kita akan sampai puncak gunung Slamet.
Dalam perjalananku menggapai puncak, saat nafasku kembali tersengal-tersengal karena melewati terjalnya jalur batu merah, tiba-tiba aku terpleset jatuh, "Braaakk" "uuhh,,, apes sekali aku" Dumelku dalam hati.
Tapi Alhamdulillah aku baik-baik saja dan saat aku ingin bangkit, ternyata tepat didepanku ada pohon edelweis yang mungil, seketika ingatanku terbang menuju satu nama, "Pristy, yaa Pristy satu2nya nama yg ada di hatiku" sebutku dalam hati.
Sebagai seseorang yang mencintai alam, pantang bagiku untuk memetik apapun yg merusak alam, termasuk bunga edelweis yang wanginya khas suasana ketinggian ini, bunga yang hanya bisa tumbuh di puncak-puncak gunung, bunga yang tak bisa layu dan tetap awet sepanjang masa yang melambangkan keabadian cinta.
Batinku tak ingin memetiknya, tapi cintaku kepada Pristy memaksa jemariku menggelayun untuk memetik setangkai bunga yang indah ini, "maaf sahabatku alam tercinta, bukan maksudku ingin melukai keindahanmu, memang sebagai manusia yang sangat tergantung padamu tak sepantasnya tidak menjaga keutuhanmu, tapi untuk kali ini aku harus memetik sedikit bagian darimu, atas nama cinta, cinta dalam hati yang terdalam" akupun memetik setangkai edelweis.
Setelah pergulatan batin yang lama, kini saatnya pergulatan fisik untuk menggapai puncak gunung Slamet yang kokoh tinggi menjulang.
Setapak demi setapak, keringat peluh berlumuran dengan butir-butir debu yg menempel dikulitku. Akhirnya....
"Allahu Akbar...!!!"
Aku langsung sujud syukur dipuncak tertinggi di Jawa Tengah ini, dengan perjuangan yang panjang akhirnya aku sampai juga di titik ini.
Titik dimana kita merasa kecil dihadapan sang pencipta alam yang maha Besar...
Titik dimana kita bisa menikmati keindahan alam ciptaanNYA yg maha Agung dengan makin mengAgungkan namaNYA...
Titik dimana kita berada ditempat paling tinggi dengan kerendahan hati...
Inilah titik itu, negeri diatas awan...
Indonesia yang sesungguh-sungguhnya...
Bangga, takjub dan rasa syukur menguasai jiwaku...
*****
Setelah sekitar setengah jam kami di puncak, dan puas berfoto-foto ria, akhirnya kami harus turun lewat jalur yang sama ketika mendaki.
Dan rencananya setelah sampai di bawah, kami putuskan menginap di basecamp dulu...
Dengan asumsi keesok paginya akan langsung melakukan perjalanan pulang kerumah dan jika dari basecamp pagi biasanya tidak sampai kemalaman dijalan...
Akhirnya setelah perjalanan naik-turun bus beberapa kali, sampailah kami di kota kelahiran... setelah turun dari bus, Tedy dan temen-temen yang lain pamit memutuskan pulang kerumah masing-masing,
"Oke Sob, gw balik dulu yee.. jemputan udah nunggu tuh, badan jg udah pada pegel2 semua, sampai ketemu lagi yaa,,, makasih perjalanannya... byeee..."
Setelah mereka pulang kerumah masing-masing, tinggalah aku sendiri di halte ini.
Ku rogoh kantong di jaketku, setangkai edelweis seakan mengajakku untuk menghampiri rumah Pristy.
"Yaa, aku harus menepati janjiku, sepulang dari gunung aku ingin langsung menemuinya"
Tak berapa lama berselang, sebuah angkot lewat akupun langsung sigap menyetopnya, akupun langsung naik menuju rumah Pristy...
20 menit berlalu, sampailah aku di gang rumah Pristi, "stop Pir, kiri kiri kiri..." angkotpun langsung berhenti, setelah membayar, kaki ku dengan semangatnya melangkah menyusuri sebuah gang yang agak lebar menuju rumah Pristy, wajah ceria pun muncul walau sehabis lelah mendaki, ini membuktikan bahwa cinta mampu memberi kekuatan lebih pada jiwa-jiwa yg lelah...
Setelah aku berjalan dan hampir sampai dirumah Pristy.
Sontak jantungku hampir copot...
Ada keramaian dirumah pristy...
Sambil berjalan mendekat, Hatiku terus bertanya-tanya,
"Ada apa ini...??? Ada hajatan apa di rumah Pristy...???
Jika memang ada hajatan, kenapa aku tak diundang...???"
"Ada apa ini...??? Ada hajatan apa di rumah Pristy...???
Jika memang ada hajatan, kenapa aku tak diundang...???"
Dueerrr...!!! Bagai pohon tersambar petir, seakan topan langsung memporak-porandakan peradaban di hatiku, serasa kilat menyambar-nyambar tak beraturan, seakan bumi tiba-tiba tergoncang dengan gempa 100 skala richter, seakan semua gunung meletus memuntahkan isi perutnya.
Aku merasakan dunia runtuh seketika.
Aku merasakan dunia runtuh seketika.
"Yaa Allah... semoga ini hanya mimpi...!!!" Tengisku dalam hati.
Aku sungguh tak kuasa melihat ini semua, aku bagaikan tamu tak diundang di tengah keramaian.
Kakiku seketika lunglai seakan tulang-belulangku meleleh bagai lava gunung berapi.
Aku sungguh tak kuasa melihat ini semua, aku bagaikan tamu tak diundang di tengah keramaian.
Kakiku seketika lunglai seakan tulang-belulangku meleleh bagai lava gunung berapi.
Yah ini adalah kenyataan, apapun yang terjadi aku harus tegar menghadapi.
Dengan langkah tertatih aku beranikan mendekat ke rumahnya, aku melihat orang2 sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, aku melihat bendera kuning menghiasi depan rumahnya, aku melihat orang-orang menangis dengan raut wajah sedih memuram..
Dengan langkah tertatih aku beranikan mendekat ke rumahnya, aku melihat orang2 sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, aku melihat bendera kuning menghiasi depan rumahnya, aku melihat orang-orang menangis dengan raut wajah sedih memuram..
"Ada apa ini...???" Hatiku terus bertanya-tanya.
"Semoga dugaanku salah...!!!"
Setelah sampai tepat di depan pagar pintu rumahnya semua orang memandangiku, mungkin karena tubuhku yang masih kumel dan berantakan, mungkin karena tas ceril yang masih tergendong di punggungku, mungkin juga....??? Entah apa lah, itu semua tidak bisa merubahku atas tanda tanya besar dibenakku...
"ada apa ini...???"
Tak lama berselang, nampak seorang ibu berkerudung hitam menggandeng anak kecil umur 11 tahunan. Yaah itu ibunya Pristy dan Della adiknya Pristy, aku mengenal Della karena dia sering ikut Pristy saat aku beberapa kali menemuinya.
Setelah sampai ibu itu menunduk dan mengusap air matanya, dengan wajah sedih beliau berkata sembari terbata-bata:
"Nak ini namanya Aldi yaa...??? Ini ada surat dari Pristy" tanya ibu sembari memberi secarik kertas.
Nampak Della menangis menjerit, aku langsung memeluknya...
Sambil menangis tersedu-sedu ia berkata:
"Kak Pristy bang, kak Pristy pergi bang... huhuhuuu..."
Deeerrr!!!! Lagi-lagi petir menyambar-nyambar di kepalaku... aku shock... hatiku hancur seketika...
Satu-satunya wanita yang aku cintai harus pergi meninggalkanku selama-lamanya...
Ternyata dia telah menyembunyikan sesuatu rahasia yang besar, dia menyembunyikan rasa sakitnya dan dia tidak ingin menyakiti siapapun...
Dan sekarang aku tahu, ternyata waktu aku menelponya sebelum aku mendaki, dia sedang dirumah sakit...
Dan dia menyembunyikan semua ini karena dia tak ingin menyakitiku...
"Ooh Tuhan, betapa mulianya pujaan hatiku ini, tapi mengapa Kau jemput dia begitu cepat....???"
Tanpa bisa berucap apapun, dengan tangan gemetar aku kuatkan untuk bisa membuka secarik kertas yang berisi tulisan tangan dari Pristy:
Dear Aldi yang baik hati,
Aku yakin kau akan datang mencariku, untuk memberi seuntai bunga edelweis seperti yang kamu janjikan padaku, karena aku yakin kamu adalah sosok laki-laki sejati dengan cinta sejatinya, yang pasti tak akan pernah mengingkari janji-janjinya...
Dan maaf seribu maaf, jika selama ini aku telah terlalu sering menyakiti hatimu tanpa pernah memberi penawarnya...
Aku yang selalu membuatmu kecewa tanpa pernah bisa memberimu harapan yang sempurna...
Aku yang selalu membuatmu kecewa tanpa pernah bisa memberimu harapan yang sempurna...
Aku tau yang aku lakuin ini salah, tapi aku yakin semua ini adalah yang terbaik untukmu...
Aku tak ingin kamu merasa kehilanganku saat kamu benar-benar memilikiku...
Dan aku hanya ingin kamu terbiasa hidup, meski tanpa aku disisimu...
Dan aku hanya ingin kamu terbiasa hidup, meski tanpa aku disisimu...
Percayalah Al, kita akan ketemu lagi dikeindahan surga, dimana kita bisa menimati kebahagiaan yang abadi...
Teruslah mendaki gunung-gunung yang tinggi...
Teruslah bertualang di rimba belantara kehidupan...
Dan teruskan langkahmu dengan keyakinan yang kamu miliki...
Agar kelak jika kita bertemu nanti, kamu punya segudang cerita yang akan selalu kamu ceritakan untukku...
Teruslah mendaki gunung-gunung yang tinggi...
Teruslah bertualang di rimba belantara kehidupan...
Dan teruskan langkahmu dengan keyakinan yang kamu miliki...
Agar kelak jika kita bertemu nanti, kamu punya segudang cerita yang akan selalu kamu ceritakan untukku...
Tetaplah rajin belajar Al dan jangan lupakan juga bekal akhiratmu, agar kamu punya bekal untuk menjemputku di surga nanti...
Goodbye my lovely,
Sejatinya kamulah cinta sejatiku yang selama ini aku rahasiakan...
Sejatinya kamulah cinta sejatiku yang selama ini aku rahasiakan...
Salam hangat dariku, Pristy
==============SEKIAN==============
NB: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada nama atau peristiwa kejadian yang sama, itu hanya kebetulan belaka...
By: Ahmad Pajali Binzah
*foto-foto diatas hanya ilustrasi, diambil dari koleksi pribadi dan dari berbagai sumber.
===================================
==============SEKIAN==============
NB: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada nama atau peristiwa kejadian yang sama, itu hanya kebetulan belaka...
By: Ahmad Pajali Binzah
*foto-foto diatas hanya ilustrasi, diambil dari koleksi pribadi dan dari berbagai sumber.
===================================
Baca juga cerpen tentang petualangan:




















