Petungkriyono, mungkin bagi sebagian orang masih asing didengar, tetapi bagi masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, khususnya buat saya sendiri yang asli Pekalongan, nama Petungkriyono sudah tak asing lagi di telinga. Karena tempat ini sudah menjadi salah satu tujuan wisata di Pekalongan, bahkan akhir-akhir ini nama Petungkriyono mulai dikenal luas.
Menurut informasi dari data Pemerintah, Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi kawasan Dieng bagian utara. Luas wilayah 7.358,523 Ha yang sebagian besar adalah hutan Negara seluas 5.189,507 Ha (84%). Luas pemukiman hanyalah 119,652 Ha (16 %) dari luas wilayah. Kecamatan Petungkriyono secara geografis terletak di bagian selatan wilayah Kabupaten Pekalongan dengan batas :
Utara : Kecamatan Talun
Selatan : Kecamatan Wanayasa Kab. Banjarnegara.
Timur : Kec. Bandar Kabupaten Batang.
Barat : Kecamatan Lebakbarang.
Hutan Petungkriyono juga termasuk daerah kawasan lindung terbaik di Jawa Tengah, selain karena hutannya yang masih sangat luas, disini juga terdapat hutan yang benar-benar masih alami, bisa dikatakan hutannya masih perawan. Juga kontur topografinya yang berbukit-bukit, yang menjadikan kawasan ini terlindungi dari tangan-tangan jail manusia.
Agar lebih mengerti apa itu arti kawasan lindung, mungkin penjabaran dibawah ini sedikit memberikan wawasan kepada kita.
Hutan lindung (protection forest ) adalah
kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu untuk dilindungi, agar fungsi-fungsi ekologisnya --terutama menyangkut tata air dan kesuburan tanah-- tetap dapat berjalan dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya.
Sedangkan kawasan lindung memiliki pengertian yang lebih luas, di mana hutan lindung tercakup di dalamnya. Keppres no 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung menyebutkan[3] :
„Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.“
Oke, terlepas dari data pemerintah tentang wilayah Petungkriyono, saya disini ingin membahas tentang asyiknya bertualang menjelajah jengkal demi jengkal bumi Petungkriyono, detail demi detail keindahan alam Petungkriyono. Semua akan saya rangkum dalam artikel ini.
***
Yuukk kita mulai...!!!
Untuk mencapai kecamatan Petungkriyono, ada dua sarana tranportasi, naik angkutan umum dan kendaraan pribadi.
Untuk angkutan umum, dari terminal Pekalongan naik bus Binatu jurusan pasar Doro, dari pasar Doro dilanjutkan naik mobil bak terbuka menuju kecamatan Petungkriyono.
Tapi kali ini saya ingin membahas tentang petualangan dengan kendaraan roda dua, alias naik motor atau sering disebut touring.
Dari terminal Pekalongan berkendara selama kurang lebih 25 menit kita akan sampai di pasar Doro.
Setelah sampai di pasar Doro sebaiknya kita belanja makanan kecil atau cemilan jajanan pasar, karena di pasar Doro ini termasuk pasar tradisional jadi banyak dijumpai pedagang-pedagang jajanan pasar.
Dan perjalanan saya kemarin mampir ke pasar ini untuk belanja jajanan pasar seperti, klepon, nogosari, ketan, wajik, lepet, puci-puci, awuk-awuk, rempeyek, semangka, DLL. (Habis 25 ribu udah dapet banyak). Dan jangan lupa untuk menghemat budget sebaiknya membeli air minum, rokok dan barang-barang lain disini, karena tentunya semakin memasuki daerah pedalaman dan mendekati objek wisata tentunya semua barang akan menjadi lebih mahal.
Kecuali kalau kita mempunyai pola pikir ingin memberi pendapatan pada penduduk lokal. Itu tergantung individu masing-masing.
Setelah selesai berbelanja, perjalanan dilanjutkan mengikuti jalan aspal ke arah selatan, melewati perkebunan karet milik perhutani. Setelah berkendara sekitar 10 menit sampailah kita di pertigaan jalan, jika ke arah kiri menuju perkebunan teh Jolo Tigo, sedangkan lurus ke arah Petungkriyono, dan di pertigaan inilah terdapat gerbang kawasan lindung Petungkriyono.
Setelah memasuki gerbang kawasan lindung, kita akan melalui jalan aspal dengan kiri-kanan jalan berupa hutan belantara yang masih terjaga keasriannya, dan bisa dikatakan hampir tak tersentuh tangan manusia, karena disepanjang jalur ini tidak diperbolehkan siapapun untuk memanfaatkan hutan sebagai lahan perkebunan atau ladang, apalagi berburu binatang liar.
Jika kita beruntung, kita bisa melihat kera-kera yang bergelantungan di dayang pohon-pohon, suara burung dan bunyi-bunyian serangga khas pegunungan juga akan selalu kita dengar berdering-dering sepanjang perjalanan.
Menurut informasi, hutan Petungkriyono ini termasuk habitatnya macan kumbang atau macan tutul.
Selama perjalanan kita akan jarang menemui tempat yang agak lapang dan terang, karena selain kanan jalan terdapan jurang (jalan selalu melipir punggungan) juga karena biasanya pohon-pohon belukar menutupi pinggir jalan, tetapi biasanya beberapa minggu sekali petugas akan rutin membersihkan tepian jalan.
Tetapi untuk keseluruhan kondisi jalan selalu dalam keadaan baik dan layak dilalui baik motor maupun mobil roda empat ukuran sedang. (Bus dan truk besar tidak memungkinkan lewat sini)
Setelah berjalan kira-kira 10 menit dari gerbang kawasan lindung kita akan sering menemukan air terjun kecil jika saat musim penghujan airnya akan deras namun jika kemarau biasanya debitnya akan kecil. Kita juga bisa berhenti sejenak untuk istirahat lagi, tetapi untuk mobil akan sulit parkir karena bahu jalan sangat sempit.
Karena perjalanan kami kebetulan pada musim kemarau, jadi beberapa air terjun mini dalam keadaan kering, cuma ada tiga yang masih teraliri air. Tapi jika musim penghujan perjalanan akan lebih menyenangkan karena disepanjang jalan kita akan sering menemui air terjun mini.
Setelah berkendara sekitar 25 menit melewati rindangnya hutan belantara, kita akan menemui gapura kecil disebelah kiri-kanan jalan, yang menandakan batas hutan alami, dan dilanjutkan memasuki hutan perkebunan atau ladang penduduk.
Setelah melewati batas hutan lindung, dan melewati pekebunan dan ladang, kita bisa istirahat di salah satu warung kopi tradisional asli Petungkriyono. Bahkan di pinggir-pinggir jalan banyak yang menjajakan kopi bubuk asli olahan kampung daerah setempat dengan diolah secara tradisional, yang diberi brand "Owa Jawa". Menurut informasi sebagian keuntungan akan didonasikan untuk pelestarian Owa Jawa dan binatang-binatang lainnya yang dilindungi.
Dan di warung kopi sederhana ini, juga dijadikan sebagai basecamp RIVER TREKKING, sebuah wahana petualangan air jeram dengan menggunakan ban besar dan pelampung badan, untuk menyusuri keeksotisan suangai Welo dengan panjang trek 2km dan waktu tempuh 2-3 jam.
Tapi karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa mencicipi serunya petualangan air ini. Hanya sempat berbintang dengan guide-nya saja.
Setelah beristirahat dan melanjutkan perjalanan kita akan memasuki perkampungan penduduk. Dan biasanya jarak dari kampung ke kampung sangat jauh dan di pisahkan ladang atau bukit.
Setelah melewati kampung demi kampung, sawah demi sawah kita akan sampai di pertigaan kecamatan Petungkriyono, dan 500m sebelum kecamatan kita bisa berhenti sejenak menikmati gardu pandang. Dari gardu pandang ini kita bisa menikmati pemandangan pemukiman disekitar kecamatan yang sudah lumayan ramai dan padat. Dan deretan pegunungan yang berbukit-bukit. Tapi sayangnya gardu pandang ini agak kurang terawat karena memang usianya sudah sekitar 10 tahunan. Jadi pemandangannya juga sudah tertutup pepohonan karena pepohonan disekitarnya memang sudah besar-besar.
Setelah santai sejenak di gardu pandang dan menikmati pemandangan yang tersaji, kita bisa melanjutkan perjalanan ke pusat kecamatan Petungkriyono yang tak jauh dari sini. Di kecamatan terdapatnya kantor polisi, masjid, warung-warung, pertokoan, dan di pertigaannya terdapat tugu monumen perjuangan.
Jika kita hendak ke puncak Kendalisodo, setelah melewati pertigaan kecamatan kita ambil ke kiri. Disana akan ada gang kecil yang ada plang penunjuk jalan menuju puncak gunung Kendalisodo. Dan di kampung ini juga terdapat basecamp-nya.
Puncak Kendalisodo merupakan puncak tertinggi di pegunungan Petung Kriyono, juga termasuk puncak tertinggi di Pekalongan. Untuk mencapai puncak tersebut kita membutuhkan waktu kurang lebih 1jam pendakian.
Tapi jika kita mau menuju tempat wisata air terjun curug Muncar dan curug Bajing dari pertigaan kecamatan perjalanan dilanjutkan ke arah kiri mengikuti petunjuk jalan yang sudah tersedia.
Setelah berkendara sekitar 500 meter kita akan menjunpai lagi pertigaan lagi, disana ada plang petunjuk jalan, jika lurus ke arah bumi perkemahan dan wisata kebun stroberi, sedangkan ke kiri kearah curug Muncar dan curug Bajing.
Karena pertimbangan waktu kami memilih menuju curug Bajing dan curug Muncar. Karena dulu kami juga sudah pernah berkunjung ke kebun stroberi. Jadi untuk kali ini kami fokus ke air terjun.
Perjalanan ke lokasi wisata air terjun, kita akan disuguhi pemandangan ladang-ladang penduduk yang didominasi sayur-sayuran seperti tomat, kol, cabe, wortel, kentang, DLL. Kita juga bisa menikmati padang rumput yang indah serta bukit-bukit yang hijau.
Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit dari pertigaan kecamatan, kita akan sampai di pintu masuk wisata air terjun Curug Bajing.
Untuk melihat keindahan jengkal demi jengkal curug Bajing silahkan KLIK DISINI
Setelah dari curug Bajing, perjalanan kami langsung ke curug Muncar yang tak jauh dari sini. Kurang lebih 15 menit perjalanan naik motor.
Curug Muncar terletak di lereng gunung Ragajambangan, tepatnya di desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.
Demikian ulasan saya tentang Petungkriyono, semoga bisa menjadi referensi bagi teman-teman yang ingin melancong ke daerah pegunungan Petungkriyono ini...
Selamat bertualang....
=====================================
Ahmad Pajali Binzah
July 22, 2015
New Google SEO
Bandung, IndonesiaMenurut informasi dari data Pemerintah, Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi kawasan Dieng bagian utara. Luas wilayah 7.358,523 Ha yang sebagian besar adalah hutan Negara seluas 5.189,507 Ha (84%). Luas pemukiman hanyalah 119,652 Ha (16 %) dari luas wilayah. Kecamatan Petungkriyono secara geografis terletak di bagian selatan wilayah Kabupaten Pekalongan dengan batas :
Utara : Kecamatan Talun
Selatan : Kecamatan Wanayasa Kab. Banjarnegara.
Timur : Kec. Bandar Kabupaten Batang.
Barat : Kecamatan Lebakbarang.
Hutan Petungkriyono juga termasuk daerah kawasan lindung terbaik di Jawa Tengah, selain karena hutannya yang masih sangat luas, disini juga terdapat hutan yang benar-benar masih alami, bisa dikatakan hutannya masih perawan. Juga kontur topografinya yang berbukit-bukit, yang menjadikan kawasan ini terlindungi dari tangan-tangan jail manusia.
Agar lebih mengerti apa itu arti kawasan lindung, mungkin penjabaran dibawah ini sedikit memberikan wawasan kepada kita.
Hutan lindung (protection forest ) adalah
kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu untuk dilindungi, agar fungsi-fungsi ekologisnya --terutama menyangkut tata air dan kesuburan tanah-- tetap dapat berjalan dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya.
Sedangkan kawasan lindung memiliki pengertian yang lebih luas, di mana hutan lindung tercakup di dalamnya. Keppres no 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung menyebutkan[3] :
„Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.“
Oke, terlepas dari data pemerintah tentang wilayah Petungkriyono, saya disini ingin membahas tentang asyiknya bertualang menjelajah jengkal demi jengkal bumi Petungkriyono, detail demi detail keindahan alam Petungkriyono. Semua akan saya rangkum dalam artikel ini.
***
Yuukk kita mulai...!!!
Untuk mencapai kecamatan Petungkriyono, ada dua sarana tranportasi, naik angkutan umum dan kendaraan pribadi.
Untuk angkutan umum, dari terminal Pekalongan naik bus Binatu jurusan pasar Doro, dari pasar Doro dilanjutkan naik mobil bak terbuka menuju kecamatan Petungkriyono.
Tapi kali ini saya ingin membahas tentang petualangan dengan kendaraan roda dua, alias naik motor atau sering disebut touring.
Dari terminal Pekalongan berkendara selama kurang lebih 25 menit kita akan sampai di pasar Doro.
![]() |
| Jalan dari kota Pekalongan menuju pasar Doro |
Setelah sampai di pasar Doro sebaiknya kita belanja makanan kecil atau cemilan jajanan pasar, karena di pasar Doro ini termasuk pasar tradisional jadi banyak dijumpai pedagang-pedagang jajanan pasar.
![]() |
| Pasar Doro |
Dan perjalanan saya kemarin mampir ke pasar ini untuk belanja jajanan pasar seperti, klepon, nogosari, ketan, wajik, lepet, puci-puci, awuk-awuk, rempeyek, semangka, DLL. (Habis 25 ribu udah dapet banyak). Dan jangan lupa untuk menghemat budget sebaiknya membeli air minum, rokok dan barang-barang lain disini, karena tentunya semakin memasuki daerah pedalaman dan mendekati objek wisata tentunya semua barang akan menjadi lebih mahal.
Kecuali kalau kita mempunyai pola pikir ingin memberi pendapatan pada penduduk lokal. Itu tergantung individu masing-masing.
Setelah selesai berbelanja, perjalanan dilanjutkan mengikuti jalan aspal ke arah selatan, melewati perkebunan karet milik perhutani. Setelah berkendara sekitar 10 menit sampailah kita di pertigaan jalan, jika ke arah kiri menuju perkebunan teh Jolo Tigo, sedangkan lurus ke arah Petungkriyono, dan di pertigaan inilah terdapat gerbang kawasan lindung Petungkriyono.
![]() |
| Plang petunjuk jalan sebelum pertigaan gerbang rimba |
![]() |
| Gerbang rimba, kawasan lindung |
![]() |
| Tepat dibawah gerbang ada plang peringatan |
Setelah memasuki gerbang kawasan lindung, kita akan melalui jalan aspal dengan kiri-kanan jalan berupa hutan belantara yang masih terjaga keasriannya, dan bisa dikatakan hampir tak tersentuh tangan manusia, karena disepanjang jalur ini tidak diperbolehkan siapapun untuk memanfaatkan hutan sebagai lahan perkebunan atau ladang, apalagi berburu binatang liar.
Jika kita beruntung, kita bisa melihat kera-kera yang bergelantungan di dayang pohon-pohon, suara burung dan bunyi-bunyian serangga khas pegunungan juga akan selalu kita dengar berdering-dering sepanjang perjalanan.
Menurut informasi, hutan Petungkriyono ini termasuk habitatnya macan kumbang atau macan tutul.
![]() |
| Keadaan jalan setelah memasuki kawasan lindung |
![]() |
| Di beberapa lokasi, sinar matahari jarang tembus ke lantai jalan |
![]() |
| Plang peringatan di pinggir jalan, di tengah-tengah rimba |
![]() |
| Jalan yang membelah hutan belantara |
![]() |
| Jalan yang berkelok |
Selama perjalanan kita akan jarang menemui tempat yang agak lapang dan terang, karena selain kanan jalan terdapan jurang (jalan selalu melipir punggungan) juga karena biasanya pohon-pohon belukar menutupi pinggir jalan, tetapi biasanya beberapa minggu sekali petugas akan rutin membersihkan tepian jalan.
Tetapi untuk keseluruhan kondisi jalan selalu dalam keadaan baik dan layak dilalui baik motor maupun mobil roda empat ukuran sedang. (Bus dan truk besar tidak memungkinkan lewat sini)
![]() |
| Hanya di titik tertentu bahu jalan yang lebar |
![]() |
| Parkir dulu mumpung ada tempat yang luas |
Setelah berjalan kira-kira 10 menit dari gerbang kawasan lindung kita akan sering menemukan air terjun kecil jika saat musim penghujan airnya akan deras namun jika kemarau biasanya debitnya akan kecil. Kita juga bisa berhenti sejenak untuk istirahat lagi, tetapi untuk mobil akan sulit parkir karena bahu jalan sangat sempit.
![]() |
| Air terjun pertama yang kami temui di pinggir jalan yang masih teraliri air |
![]() |
| Air terjun mini dua tingkat |
![]() |
| Biarpun mini tetap oke buat background selfie |
![]() |
| NarsiZz dulu |
![]() |
| Air terjun mini yang kedua |
![]() |
| Kalo musim penghujan, debit air tentunya akan lebih besar dan lebih deras |
Karena perjalanan kami kebetulan pada musim kemarau, jadi beberapa air terjun mini dalam keadaan kering, cuma ada tiga yang masih teraliri air. Tapi jika musim penghujan perjalanan akan lebih menyenangkan karena disepanjang jalan kita akan sering menemui air terjun mini.
Setelah berkendara sekitar 25 menit melewati rindangnya hutan belantara, kita akan menemui gapura kecil disebelah kiri-kanan jalan, yang menandakan batas hutan alami, dan dilanjutkan memasuki hutan perkebunan atau ladang penduduk.
![]() |
| Gapura rimba |
![]() |
| Hutan pinus, yang tak serimbun hutan belantara |
![]() |
| Air terjun ke tiga, tapi airnya sudah mulai tiris |
![]() |
| Persawahan penduduk yang berbatasan dengan hutan belantara, yang dipisahkan oleh sungai dibawahnya |
![]() |
| Terasering, tetap indah walau belum musim tanam |
![]() |
| Persawahan yang berbatasan dengan hutan alam |
Setelah melewati batas hutan lindung, dan melewati pekebunan dan ladang, kita bisa istirahat di salah satu warung kopi tradisional asli Petungkriyono. Bahkan di pinggir-pinggir jalan banyak yang menjajakan kopi bubuk asli olahan kampung daerah setempat dengan diolah secara tradisional, yang diberi brand "Owa Jawa". Menurut informasi sebagian keuntungan akan didonasikan untuk pelestarian Owa Jawa dan binatang-binatang lainnya yang dilindungi.
Dan di warung kopi sederhana ini, juga dijadikan sebagai basecamp RIVER TREKKING, sebuah wahana petualangan air jeram dengan menggunakan ban besar dan pelampung badan, untuk menyusuri keeksotisan suangai Welo dengan panjang trek 2km dan waktu tempuh 2-3 jam.
Tapi karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa mencicipi serunya petualangan air ini. Hanya sempat berbintang dengan guide-nya saja.
![]() |
| Warung kopi sederhana, pas buat santai |
![]() |
| Kopi asli produksi warga lokal |
![]() |
| Ngopi sambil nyemil jajan pasar, yang kami beli dipasar Doro. Jangan semua jajan dikeluarin, nanti yang punya warung tau, coz disini cuma beli kopinya aja... hehehe... |
![]() |
| Ngopi sambil menikmati pemandangan |
![]() |
| Pelapung untuk wahana petualangan air |
![]() |
| Poster River Trekking |
Setelah beristirahat dan melanjutkan perjalanan kita akan memasuki perkampungan penduduk. Dan biasanya jarak dari kampung ke kampung sangat jauh dan di pisahkan ladang atau bukit.
![]() |
| Kampung yang diapit sawah dan hutan perbukitan |
![]() |
| Numpang narsiZz dulu |
![]() |
| Biarpun sawah, tapi diseberang sana tetap hutan belantara |
![]() |
| Persawahan penduduk, jika musim penghujan atau musim tanam akan terlihat lebih hijau |
Setelah melewati kampung demi kampung, sawah demi sawah kita akan sampai di pertigaan kecamatan Petungkriyono, dan 500m sebelum kecamatan kita bisa berhenti sejenak menikmati gardu pandang. Dari gardu pandang ini kita bisa menikmati pemandangan pemukiman disekitar kecamatan yang sudah lumayan ramai dan padat. Dan deretan pegunungan yang berbukit-bukit. Tapi sayangnya gardu pandang ini agak kurang terawat karena memang usianya sudah sekitar 10 tahunan. Jadi pemandangannya juga sudah tertutup pepohonan karena pepohonan disekitarnya memang sudah besar-besar.
![]() |
| Plang petunjuk jalan ke gardu pandang |
![]() |
| Perjalanan menuju gardu pandang |
![]() |
| Gardu pandang |
![]() |
| View dari gadu pandang |
![]() |
| Pemukiman penduduk jika dilihat dari atas |
Setelah santai sejenak di gardu pandang dan menikmati pemandangan yang tersaji, kita bisa melanjutkan perjalanan ke pusat kecamatan Petungkriyono yang tak jauh dari sini. Di kecamatan terdapatnya kantor polisi, masjid, warung-warung, pertokoan, dan di pertigaannya terdapat tugu monumen perjuangan.
![]() |
| Petunjuk jalan di pertigaan kecamatan |
![]() |
| Kantor polisi kec. Petungkriyono |
![]() |
| Tugu di pertigaan kecamatan Petungkriyono |
Jika kita hendak ke puncak Kendalisodo, setelah melewati pertigaan kecamatan kita ambil ke kiri. Disana akan ada gang kecil yang ada plang penunjuk jalan menuju puncak gunung Kendalisodo. Dan di kampung ini juga terdapat basecamp-nya.
Puncak Kendalisodo merupakan puncak tertinggi di pegunungan Petung Kriyono, juga termasuk puncak tertinggi di Pekalongan. Untuk mencapai puncak tersebut kita membutuhkan waktu kurang lebih 1jam pendakian.
![]() |
| Basecamp pendakian ke puncak Kendalisodo |
![]() |
| Hutan yang berbukit |
![]() |
| Puncak Anoman Kendalisodo |
Tapi jika kita mau menuju tempat wisata air terjun curug Muncar dan curug Bajing dari pertigaan kecamatan perjalanan dilanjutkan ke arah kiri mengikuti petunjuk jalan yang sudah tersedia.
Setelah berkendara sekitar 500 meter kita akan menjunpai lagi pertigaan lagi, disana ada plang petunjuk jalan, jika lurus ke arah bumi perkemahan dan wisata kebun stroberi, sedangkan ke kiri kearah curug Muncar dan curug Bajing.
Karena pertimbangan waktu kami memilih menuju curug Bajing dan curug Muncar. Karena dulu kami juga sudah pernah berkunjung ke kebun stroberi. Jadi untuk kali ini kami fokus ke air terjun.
Perjalanan ke lokasi wisata air terjun, kita akan disuguhi pemandangan ladang-ladang penduduk yang didominasi sayur-sayuran seperti tomat, kol, cabe, wortel, kentang, DLL. Kita juga bisa menikmati padang rumput yang indah serta bukit-bukit yang hijau.
![]() |
| Padang Rumput yang ditengah-tengahnya terdapat sungai kecil |
![]() |
| Ladang dan perbukitan |
Setelah perjalanan kurang lebih 15 menit dari pertigaan kecamatan, kita akan sampai di pintu masuk wisata air terjun Curug Bajing.
![]() |
| Pintu masuk wisata curug Bajing |
![]() |
| Curug Bajing dari kejauhan, jika musim penghujan suasana akan nampak lebih hijau dan asri |
![]() |
| Saung dengan background curug Bajing |
![]() |
| Jembatan bambu |
![]() |
| Curug Bajing dari dekat |
![]() |
| Siap meluncur lagi ke curug Muncar |
Untuk melihat keindahan jengkal demi jengkal curug Bajing silahkan KLIK DISINI
Setelah dari curug Bajing, perjalanan kami langsung ke curug Muncar yang tak jauh dari sini. Kurang lebih 15 menit perjalanan naik motor.
Curug Muncar terletak di lereng gunung Ragajambangan, tepatnya di desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.
![]() |
| Jalur menuju curug Muncar |
![]() |
| Jembatan ikon curug Muncar |
![]() |
| NarsiZz dulu |
![]() |
| Aliran air dari curug Muncar |
![]() |
| Curug Muncar jika dilihat dari atas |
![]() |
| Berfoto dengan background air terjun |
Demikian ulasan saya tentang Petungkriyono, semoga bisa menjadi referensi bagi teman-teman yang ingin melancong ke daerah pegunungan Petungkriyono ini...
Selamat bertualang....
=====================================
BACA JUGA:
Info Lengkap Curug Blanten, Pekalongan.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
*****
Checklis Perlengkapan Mendaki Gunung
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Semeru via Watu Rejeng turun via Eyek-Eyek
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Pendakian gunung Merbabu selalu bisa membuat kesan tersendiri bagi para pendakinya, hal inilah yang menjadikan gunung ini menjadi salah satu gunung favorit bagi para pendaki, selain karena aksesnya yang mudah dituju juga sepanjang jalur perjalanannya kita akan disuguhi pemandangan yang sangat indah.
Untuk mendaki gunung Merbabu kita bisa melalui 5 jalur yaitu :
1. Jalur Selo (Boyolali)
2. Jalur Wekas (Magelang)
3. Jalur Cunthel (Magelang)
4. Jalur Thekelan (Magelang)
5. Jalur Swanting (Magelang, jalur baru)
Dan untuk kali ini saya ingin membahas tentang jalur Selo, karena jalur ini dinilai paling mudah diakses dan paling populer, pemandangannya juga lebih indah.
Untuk menuju basecamp pendaki Gunung Merbabu via Selo kita harus naik bus jurusan Magelang-Boyolali kemudian turun di Polres Selo. Setelah turun dari Selo perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek, karena tidak ada lagi angkutan yang menuju basecamp, jika ingin menghemat bisa juga dengan jalan kaki tetapi sedikit menguras tenaga.
| Berfoto ria di depan basecamp |
Setelah perjalanan naik ojek selama kurang lebih 15 menit dengan jarak 3km, sampailah kita di basecamp gunung Merbabu, lokasinya tepat sebelum gapura gerbang pendakian. Ada papan penujuk di depan basecamp sehingga para pendaki bisa dengan mudah menemukannya.
![]() |
| Suasana sekitar basecamp |
Setelah sampai di basecamp kita dapat melakukan registrasi dengan tarif Rp 15.000 per orang. Jika menitipkan motor dikenai biaya Rp 5000 per motor. Untuk registrasi cukup menggunakan KTP, SIM, atau kartu identifikasi lain, sebagai pendataan. Untuk batasan jumlah pendaki, gunung Merbabu tidak diberlakukan sistem kuota, jadi pendaki tidak usah repot-repot mendaftar jauh-jauh hari terlebih dahulu. Cukup datang dengan membawa kartu identitas saja.
Kecuali jika ada sesuatu hal yang bersifat darurat, seperti cuaca yang ekstrim, kebakaran hutan, terjadi longsor di jalur pendakian, DLL. maka kemungkinan pendakian ditutup.
| Gerbang pendakian gn. Merbabu |
![]() |
| Jalur awal pendakian masih rimbun, menerobos hutan |
Dari basecamp perjalanan dimulai dengan melewati gerbang pendakian Gunung Merbabu jalur Selo. Setelah itu kita akan berjalan di tengah hutan pinus yang biasanya digunakan sebagai camping ground. Dari sini jalur pendakian masih terbilang cukup landai dan jelas karena sepanjang jalan menuju Pos 1 terdapat banyak petunjuk arah yang bisa menuntun kita. Untuk menuju Pos 1 diperlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan.
Pos 1 sendiri berupa sebidang tanah yang bisa kita gunakan untuk mendirikan beberapa buah tenda saja. Pos ini terletak di tengah hutan sehingga pemandangan terhalang oleh pohon-pohon. Di pos 1 juga tidak ada bangunan atau shelter yang bisa kita buat berteduh ketika hujan, selain itu juga tidak ada sumber mata air disini.
| Batik Binzah di pos 1 |
| Jalur di pos 1 masih terasa adem |
Selepas Pos 1 menuju Pos 2 perjalanan dimulai dengan jalur yang masih landai yang membentang di tengah hutan tropis yang udaranya sejuk. Di tengah perjalanan kita akan menemukan pos bayangan. Sebelum pos bayangan ada tanjakan yang cukup terjal dan ini adalah trek terberat selama perjalanan menuju Pos 2. Diperlukan waktu sekitar 45 - 60 menit perjalanan untuk sampai di Pos 2.
Kondisi Pos 2 hampir sama dengan Pos 1 hanya berupa sebidang tanah tanpa adanya shelter. Pos ini juga berada di tengah hutan jadi masih tidak ada pemandangan yang bisa dilihat.
| Suasana di pos 2 |
Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Pos 3 yang kali ini jalur pendakian sudah mulai terbuka dan sudah mulai sedikit menanjak. Disini kita sudah bisa menyaksikan pemandangan lembah pegunungan dan bunga edelweiss yang tumbuh di lereng gunung. Untuk sampai di Pos 3 diperlukan waktu sekitar 30 - 45 menit.
Pos 3 ini berupa tanah datar yang cukup luas. Di pos ini pendaki bisa mendirikan banyak tenda. Disini medannya terbuka sehingga angin akan berhembus kencang karena tidak adanya pohon. Pemandangan di Pos 3 ini sangat indah dengan view Gunung Merapi yang mulai terlihat dengan jelas, nampak berdiri dengan gagah.
![]() |
| Edelweis dengan background gn. Merapi |
![]() |
| Jalur pendakian semakin gersang |
Untuk menuju Pos 4 kita harus melewati jalur yang bisa dibilang paling terjal sepanjang pendakian via Selo. Jalur yang dilewati berupa tanah merah yang sangat berdebu ketika musim kemarau dan akan sangat licin ketika hujan. Banyak percabangan di sepanjang jalan, tapi semua kan kembali mejadi satu sebelum tiba di Pos 4. Sebelum Pos 4 kita akan melewati sebuah tanah lapang yang bisa kita gunakan untuk mendirikan tenda. Pemandangan sepanjang perjalanan sangatlah indah dengan pemandangan padang savana yang membentang luas. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Pos 4.
![]() |
| Jalur terjal dengan vegetasi terbuka |
![]() |
| Keadaan jalur yg gersang, tidak ada tempat untuk meneduh dari sengatan matahari |
Pos 4 sering disebut Sabana 1 karena memang pos 4 terletak di pinggir sabana yang luas dan indah. Di pos 4 juga tidak ada shelter untuk berteduh. Biasanya para pendaki mendirikan tenda di dekat pohon untuk melindungi dari terpaan angin yang berhembus kencang.
![]() |
| Sabana 1 penuh dengan tenda yang warna-warni |
| Jalur makin terjal, kalo kemarau berdebu tp kalo penghujan licin |
| Kartini gunung |
Selepas pos 4 perjalanan dilanjutkan menuju Pos 5 atau banyak yang menyebutnya Sabana 2. Di sepanjang perjalanan kita akan melewati pemandangan yang menawan dan akan terlihat sabana 1 yang begitu indah jika dilihat dari tempat yang lebih tinggi. Kita harus melintasi padang yang terbuka dengan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Pos 5.
![]() |
| Padang Sabana yang luas |
![]() |
| Jalur yang terjal namun pemandangannya luar biasa |
Pos 5 letaknya berada di pinggir sebuah sabana. Di Pos 5 biasanya para pendaki mendirikan tenda untuk menginap sebelum dini hari melanjutkan perjalan ke puncak.
Sepanjang perjalanan menuju puncak kita akan menemukan banyak bunga edelweiss yang sangat indah. Jalur yang dilalui terus menanjak hingga sampai ke puncak. Jalur berada di area yang terbuka sehingga kabut dan angin langsung menerjang kita. Untuk sampai di puncak membutukan waktu sekitar 1 jam.
![]() |
| Sabana 2 |
| Menggapai puncak |
![]() |
| Gn. Merapi terlihat dari puncak Kenteng Songo |
| BenderaBatik Binzah berkibar di puncak Merbabu |
![]() |
| Salah satu anggota tim Batik Binzah yg alay, hahaa... |
![]() |
| Suasana puncak Kenteng Songo |
![]() |
| NarsiZz dulu |
| Perjalanan turun kita akan disuguhi pemandangan yang indah, nampak gn. Merapi terlihat jelas |
Tips dan saran sebelum pendakian:
* Gunung Merbabu termasuk gunung dengan kondisi medan terbuka, artinya sepanjang pendakian jarang ditemui hutan yang lebat, sebagian besar padang sabana, jadi untuk menghindari sengatan terik matahari, membawa krim sunblock hukumnya wajib, pakai pakaian yang tertutup, topi rimba dan jangan lupa bawa payung lipat.
* Cuacanya cukup ekstrim, jika siang terasa sangat panas, tetapi jika malam sangat dingin, antisipasi dengan sleeping bag, pakaian hangat. Agar wajah dan hidung tidak pecah dan mengelupas sebaiknya oleskan lotion pelembab dan lindungi hidung dengan kapas yang ditempel dengan plester, jangan pakai salonplas.
* Jalur sabana biasanya banyak percabangan dan banyak bekas aliran air hujan yang mirip dengan jalur, hal ini sangat mudah menyesatkan pendaki, jadi sebaiknya perjalanan dilakukan siang hari, kecuali jika musim pendakian atau jalur ramai.
* Perjalanan ke puncak membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam, jadi untuk menghindari terik matahari sebaiknya start mendaki sekitar pukul 13.00wib (sehabis dzuhur), dengan asumsi menjelang maghrib sudah bisa membuka tenda di pos 5, dan besoknya melanjutkan pendakian lagi sekitar pukul 03.30wib dini hari, agar bisa melihat Sunrise di puncak.
* Di puncak banyak terdapat kera-kera liar, sebaiknya hati-hati dan jangan biasakan memberi makanan pada mereka, agar tidak terbiasa makan makanan manusia.
* Untuk logistik bisa berbelanja di pasar Selo. Karena disini sangat lengkap mulai dari pasar tradisional, minimarket, ATM, warung makan dan juga kantor polisi.
* Untuk air sebaiknya bawa dari basecamp, karena disepanjang jalur tidak ditemui mata air.
* Jangan lupa sampah dibawa turun
Selamat mendaki, salam rimba salam lestari...
=====================================
BACA JUGA:
Info Lengkap Curug Blanten, Pekalongan.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
*****
Checklis Perlengkapan Mendaki Gunung
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Semeru via Watu Rejeng turun via Eyek-Eyek
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Kembali aku bersihkan carriel dan sepatu gunung serta alat-alat pendakian lain yang telah lama teronggok tak terpakai di gudang belakang rumahku. Ku tepuk-tepuk topi rimba dan debu-debu yang menempel pun beterbangan memenuhi ruang gudang di rumahku.
Sudah empat tahun lebih aku pensiun mendaki, bukan karena cidera otot atau tak punya waktu luang lagi, tetapi karena kecintaanku pada kekasihku, kekasih yang selalu memberiku imajinasi, hingga untuk membuatnya bahagia aku harus rela mengorbankan kecintaanku pada hobiku sendiri.
"Ini tentang cinta yang menentang kecintaan.." ucap hatiku yang susah aku ucapkan dengan bibirku. Sambil memakai topi yang entah kapan terakhir kali aku memakainya. Dengan tersenyum-senyum di depan cermin usang yang menempel di tembok yang mulai rapuh. Aku usap cermin itu dengan telapak tanganku agar bayangan wajahku terlihat lebih jelas yang menggambarkan kegantenganku dimasa lalu.
"Tapi apapun itu, demikian kecintaanku pada kekasihku, aku harus ikhlas meninggalkan kecintaanku pada hobiku..." ucap hatiku lagi. Dengan menatap atap-atap ruangan itu yang mulai lapuk tak tertata.
"Begitu cintakah aku pada dirinya hingga aku tega meninggalkan barang-barang kesayanganku ini begitu lamanya tak terurus disini. Hingga untuk menjemputnya lagi butuh kejadian yang sangat luar biasa dalam sejarah kehidupanku ini, yang mampu memporak-porandakan peradaban yang ada dalam jiwaku...???" tangisku sambil memeluk topi rimba kesayanganku dulu.
"Maafkan aku sobat, kaulah yang selama ini menemani perjalananku, melindungiku dari teriknya matahari yang menyambar dan membakar rambutku... Maafkan aku jika selama ini aku meninggalkankanmu di tempat sepengap ini..." ucapku meneteskan air mata dengan memandangi topi rimbaku, dan sesekali menatap carriel yang masih tergelantung di dinding ruangan itu.
Aku mendatangi carriel itu lalu ku gendong di punggungku, kupakai lagi topi rimba yang sedari tadi aku pegangi, dan bibirku dengan semangatnya berkata,
"Inilah aku, sang pendaki yang akan tetap mendaki... dan saat ini aku tetap menjadi aku seperti aku empat tahun yang lalu..."
Aku merasa begitu gagahnya berdiri di depan cermin, aku seperti menemukan kembali jiwaku yang telah lama hilang.
Teringat saat carriel dan topi ini aku kenakan, dengan sepatu gunung yang melapisi pijakanku, saat hendak mendaki gunung Merapi dan saat itu aku bertemu nenek tua yang sedang istirahat di batu besar di pinggir jalur, karena kelelahan setelah menggendong seikat kayu bakar yang dicarinya dari dalam hutan.
"Kamu nampak seperti tentara nak, gagah dan ganteng sekali dirimu..." ucap nenek tua yang pipinya mulai keriput mengikuti perjalanan usianya.
Aku hanya bisa mengucapkan "terimakasih" dengan bibir tersenyum dan hati yang tersanjung.
Tapi saat ini hatiku bertanya-tanya, kenapa aku yang seganteng ini harus tersakiti oleh penghianatan cinta...???
cinta yang selama ini aku perjuangankan, yang selama ini aku agung-agungkan...??? Empat tahun lamanya aku mengabdikan hidupku sepenuhnya untuk kebahagiaannya. Sejak masa-masa kuliah hingga memasuki gerbang dunia kerja.
Bahkan aku sampai tak mengerti kenapa aku bisa sebodoh itu, lebih bodoh dari sibodoh yang berpura-pura bodoh. Bagaimana tidak, sejak aku resmi menjalin cinta dengan dirinya, salah satu syarat dan yang diwanti-wanti olehnya yaitu aku harus berhenti mendaki. Bahkan untuk berkunjung ke sekretariat mapala dikampus pun harus minta izin terlebih dahulu, dan pasti aku mendapatkan jawaban dengan lemparan muka cemberutnya yang sangat kecut.
Padahal selama ini sekretariatlah yang menjadi rumah keduaku dimana saat jam kosong kuliah pasti aku sempatkan tidur dipaflon atas beralaskan sleepingbag dengan mp3 yang berteriak-teriak dikupingku yang tertutup headset.
Tapi lagi-lagi cinta telah membutakan hatiku, begitu luluhnya aku di hadapannya, jangankan untuk membantahnya, untuk tidak berkata "iya"pun bibirku tak sanggup menahannya. Jiwaku didekte oleh cinta buta yang membutakan pandangan batinku, bahkan aku malu pada laki-laki buta tukang pijit yang setiap malam lewat didepan rumahku dengan tongkat yang selalu menuntun langkahnya. Yang berbanding terbalik dengan kisahku, cinta yang seharusnya menjadi tongkat untuk menuntun langkahku, malah berbalik mencongkel kedua mataku.
"Pedih memang kisahku ini" ucap hatiku lirih.
Kalau disebut aku laki-laki beruntung, mungkin memang iya, karena dialah wanita terindah yang pernah aku miliki, wanita idaman yang selalu aku idam-idamkan. Impian yang menjadi kenyataan.
Bahkan saat pertama aku mengenalnya, tak terbayang olehku untuk memilikinya, karena begitu bersinar aura yang ada pada dirinya.
Tapi kalau dibilang aku laki-laki paling menderita, mungkin juga iya, bagaimana tidak kesetiaan dan kepercayaanku selama empat tahun lamanya harus berujung dengan penghianatan yang sangat menyakitkan. Janji setia sehidup-semati yang pernah terucap harus terkoyak oleh cinta segi tiga yang dibuat olehnya.
***
Suatu hari saat aku sedang memegang handphone-nya, ada sebuah pesan masuk yang seketika aku baca, sebuah tulisan yang tak terbayang sebelumnya, yang mampu menggoreskan luka di hati yang mendalam.
"Dia teman kantorku..." ucapnya ngeles dengan tatapan yang tak tentu arah, memencar entah kemana. Menunjukkan kebohongan yang keluar dari mulut manisnya.
Tak berapa lama handphone-nya yang masih ada di genggamanku bergetar lagi.
"Sayang kok gak dibales...???" Kata-kata dalam sms itu membuka tabir kebohongannya yang tak sanggup tertutupi oleh kebohongan berikutnya.
Rambut gondrong ku berubah memerah seperti lidah api dari neraka, semua iblis dan dedemit dari pasar bubrah pawai arak-arakan memasuki jiwaku, aku kesurupan, tubuhku menggigil dengan tangan yang bergetar, ular besar penghuni alas Roban pun datang melilit dadaku, meremukkan seisi kerongkonganku, hingga nafasku sesak tersengal-sengal. Darah pun terpompa mengalir deras ke ubun-ubunku, aku tak lagi bisa menahan emosi.
Seketika hape yang aku genggam, berubah menjadi puing-puing yang berserakan dilantai dengan suara "Praakk!!!" Pecah berantakan ke segala arah, persis menyerupai bentuk hatiku saat itu.
Handphone yang aku hadiahkan tepat di hari ulang tahunnya, yang seharusnya menjadi penghubung hubungan ini, malah menjadi belati tajam yang menikam punggungku dalam-dalam.
"Terimakasih, terimakasih atas kejutan penuh pelajaran ini...!!!" Ucap bibirku dengan tatapan tajam menatap wajahnya yang diselimuti rasa sesal yang merajam.
Lalu aku berjalan mundur dengan tetap menatap matanya yang berkaca, aku melihat bibirnya bergetar,
"Sayang maafin aku..." suaranya nampak berat penuh rasa bersalah, seraya merobohkan tubuhnya ke lantai dengan lutut sebagai penyokongnya. Tatapannya memang memilukan, menghiba memintaku untuk kembali memeluknya, tapi sayangnya luka di hatiku ini sudah teramat dalam.
Lalu aku membalikkan langkahku, berjalan kedepan meninggalkan dirinya yang tersungkur penuh sesal, dan aku angkat tangan kiriku yang melambai mengenyahkan, seakan berkata "masa bodoh dengan kehidupanmu..."
***
Sesampainya dirumah, kubuka pintu kulkas lalu kutenggak air dingin untuk mendinginkan kerongkonganku dari panasnya hati yang terbakar. Air yang mengalir dari teko plastik terus mengucur masuk ke rongga mulut serta meluber membasahi leher dan bajuku, "haaaahh... lega rasanyaa..." dengan nafas panjang serasa melegakan segala kekacauan yang ada dalam organ-organ tubuhku.
Dalam kegundahan hatiku yang mampu menguras air mataku, seketika anganku terbang melayang pada satu ruangan yang ada di belakang rumah, tempat dimana aku menyimpan semua alat-alat pendakianku.
"Yaaa... aku tidak sendiri, sahabat setiaku masih tetap setia menungguku didalam gudang itu..." ucap hatiku lirih sambil melangkah menuju ruang paling belakang rumahku.
"Welcome to my life once"
Selamat datang kehidupanku yang dulu...
Kehidupan dimana aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, menjadi diriku sendiri tanpa harus takut ada yang terluka...
===============SEKIAN===============
By: Ahmad Pajali Binzah













































































