Suasana mendung menggelayut tanpa sudut.
Nampak dua anak manusia berdiri diantara ruang buram yang berselimut kabut.
Dia adalah Rey dan Raisya.
Dua anak manusia yang memiliki cinta diwaktu yang berbeda.
Wajah Rey nampak lusuh kumal, matanya sayu menatap Raisya tak seperti biasa.
Kedua tangannya memegang pipi Raisya lalu mencium keningnya penuh cinta.
Tanpa kata Rey membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi darinya. Melangkah pelan lalu hilang diantara kabut yang tebal.
"Rey mau kemana Rey...???" Teriak Raisya dengan wajah cemasnya.
Namun Rey tak menghiraukan, tetap melangkah tenang menembus kabut yang buram.
"Rey, Rey jangan tinggalin aku Rey..." Raisya berteriak sekencang-kencangnya. Mengejar Rey yang menghilang ditengah hamparan kabut.
Namun Raisya terus mencarinya dengan memanggil-manggil namanya, ditengah kepanikannya, tak sengaja Raisya terperosok ke dalam jurang yang dalam.
"Aaaahhhh....!!!!!" Raisya menjerit keras, tubuhnya jatuh kedalam jurang yang dalam.
Tapi,
Seketika Raisya terbangun dari tidurnya, yang ternyata itu hanya mimpi belaka.
"Alhamdulillah, ternyata cuma mimpi..." gumam Raisya dalam hati sembari nafasnya yang tersengal-sengal.
Tapi alangkah kagetnya Raisya saat lampu led kecil di handphone nya menyala yang menandakan ada pesan masuk untuknya.
Setelah dibuka, ternyata ada chat bbm dari Rey. Yang isinya sebait puisi.
"PERGI"
Jika kedatanganmu tak diharapkan,
Jika keberadaanmu hanya akan membawa masalah baginya,
Hanya ada satu pilihan, "PERGI"
Waktu 4 tahun sudah cukup untuk membawa beban di hatimu...
Turunkan beban itu, lalu "PERGI"
Terkadang "PERGI" akan terasa lebih baik dari pada harus bertahan memperjuangkan hal yang menyakitkan...
Bergegas "PERGI" melangkah menjauh darinya...
Karena "PERGI" bukan berarti meninggalkan, bukan berarti tak peduli...
"PERGI" adalah belaian terlembut untuk orang yang kita cintai yang tak mungkin kita miliki...
-Reyhan-
*****
Tak terasa air mata Raisya membasahi pipinya, memikirkan Rey yang selama ini ia abaikan.
"Maafin aku Rey..." bibir Raisya bergetar, berucap lirih dengan tatapan kosong dengan pikiran yang menuju pada penyesalan hatinya.
Namun ditengah lamunannya, ia terpikir sepintas ingin menemui Rey untuk menjelaskan penyesalannya.
"Yaa, aku harus menemui Rey, aku harus kesana..." hati Raisya berucap lirih, lalu segera bergegas menuju tempat dimana Rey biasa berada.
Tempat itu adalah warung mbok Minah, tempat Rey selalu membantu simboknya yang menekuni usaha warung makan nasi megono.
*****
Pagi itu udara masih terasa dingin, suasana kampung masih cukup sepi, lalu lalang kendaraan masih jarang, namun suasana sepi itu tidak berlaku untuk warung mbok Minah, warung yang terletak di pinggiran kampung yang berbatasan dengan sawah yang membentang.
Warung Mbok Minah yang sejak pagi buta warungnya sudah ramai oleh orang-orang yang ingin membeli nasi bungkus daun pisang untuk sarapan, dengan menu spesial megono.
Yaa, megono adalah masakan khas Pekalongan, sebangsa urap yang terbuat dari nangka muda yang dirajang kecil-kecil yang dimasak dengan bumbu dan rempah-rempah. Yang membuat nasi megono ini menjadi sangat sedap dan pas sebagai menu untuk sarapan.
Apalagi nasi megono buatan mbok Minah ini, dengan racikan dan bumbu yang tepat, serta bungkus daun pisang, membuat megononya menjadi idola bagi orang-orang yang ingin membelikan sarapan untuk anggota keluarganya, bahkan tak jarang banyak pembeli yang datang dari kampung sebelah, sengaja ingin menikmati megono made in mbok Minah.
*****
Namun saat mbok Minah sedang sibuk melayani pembeli yang sudah ngantri, tiba-tiba Raisya datang dengan agak terburu.
Seperti biasa, setelah sepedanya diparkir di depan warung, Raisya langsung masuk ke warung mbok Minah.
"Mas Rey... mas Rey...
Mbok, Mas Rey nya ada mbok...???" Tanya Raisya dengan tergesa-gesa.
Belum sempat dijawab oleh mbok Minah yang sedang sibuk melayani pembeli, Raisya langsung menuju halaman belakang, ke tempat dimana Rey berada.
Namun Raisya tak menemukan Rey, tempat menyuci piring yang biasa Rey membantu simboknya juga terlihat kosong tanpa Rey.
Lalu Raisya menuju bangku di belakang yang menghadap sawah juga tak ditemuinya Rey.
Raisya duduk di bangku yang terbuat dari bambu itu, dimana Rey biasa duduk sembari memandangi pematang sawah yang kadang sesekali menulis sesuatu di buku hariannya.
"Kamu dimana Rey...???
Kini saat aku benar-benar membutuhkan kamu, tapi kau malah pergi ninggalin aku Rey..." Hati Raisya berucap lirih.
"Rey sedang mendaki gunung Ndok..." jawab mbok Minah yang tiba-tiba duduk disamping Raisya, sembari membelai rambutnya.
(Ndok adalah nama panggilan khas Pekalongan untuk anak perempuan yang masih belia).
"Mendaki ke gunung mana mbok...???
Kok mas Rey gak bilang-bilang siihh...???" Tanya Raisya dengan nada agak sebel.
"Bukankah Rey pergi sama abangmu Fathir..???" Jawab mbok Minah singkat.
"Kok kak Fathir juga gak bilang-bilang aku mbok...???" Ucap Raisya dengan wajah cemberut.
"Seng sabar ndok...
Paling besok sore juga mereka sudah pulang..." ucap Mbok Minah menenangkan.
"Tapi aku takut kalo pulang nanti sikap Rey berubah mbok...
Soalnya tadi pagi Rey bbm yang gak biasanya..." ucap Raisya curhat pada mbok Minah dengan nada yang agak panik.
"Bukankah kamu sudah terbiasa hidup tanpa Rey...???" Jawab mbok Minah singkat sedikit menyindir. Karena mbok Minah tau betul kalau selama ini Raisya sering mengacuhkan Rey.
"Tapi sekarang aku sadar kalo aku ternyata butuh Rey, mbok..." Raisya menjelaskan.
"Yasudah, aku yakin semua akan baik-baik saja... tunggu saja saat Rey pulang besok, nanti simbok bantu jelaskan sama Rey..." ucap mbok Minah menenangkan.
Pagi itu hati Raisya sungguh gelisah, tak biasanya Raisya sekhawatir itu, Raisya yang semula cuek pada Rey tapi kali ini ada kegelisahan dalam hatinya.
Rey yang selama ini memberi perhatian penuh padanya, kini tak biasanya menulis kata-kata tentang "pergi". Entah apa itu arti kata-kata itu. Yang jelas kata-kata itu mampu membuat Raisya cemas.
"Sekarang aku baru sadar Rey, kamulah yang selama ini mampu bertahan memberikan perhatian yang tulus padaku meski kadang perhatian itu sering aku abaikan....
Maafin aku Rey..." ucap Raisya dalam hati.
*****
Sementara itu, di jalur pendakian gunung Merapi, Rey dan Fathir sedang berjalan melakukan pendakian menuju puncak gunung Merapi via Selo.
Mereka berdua sudah terbiasa mendaki gunung. Karena mereka sudah sahabatan sejak kecil dan kebetulan mempunyai hobi yang sama.
Ransel besar menempel di punggung mereka masing-masing, nafas yang berderu yang diiringi detak jantung yang memompa darah mengalir lebih cepat. Membuat keringatnya bercucuran lebih deras.
Kadang sesekali mereka istirahat untuk sekedar minum dan meregangkan otot.
Yaa, pendakian gunung Merapi tergolong jalur pendakian yang cukup ekstrim, bagaimana tidak gunung yang keliatannya kecil namun jalurnya penuh tanjakan yang menguras tenaga, apalagi jalur setelah batas vegetasi, disana selain treknya yang terjal juga penuh bebatuan dan pasir yang licin.
Tapi bagi mereka semua itu tak menjadi penghalang baginya, karena baik fisik dan perlengkapan, mental mereka juga sudah teruji.
*****
Sabtu, di pos 3 atau sering disebut Watu Gajah dimana ditempat ini terdapat batu besar dan disekitarnya terdapat tanah yang datar yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda, dari sini ke pos Pasar Bubrah sudak tidak terlalu jauh.
Saat itu waktu menandakan pukul 4 sore, Fathir sedang asyik memasak di depan tenda sembari menikmati secangkir kopi hitam yang masih panas, dengan sebatang rokok yang selalu membuat hangat suasana.
Semantara Rey lebih sibuk dengan buku catatannya, bermain dengan pena yang tulus membelai selembar kertas putihnya. Sembari sesekali menghisap rokok kretek dan memainkan asapnya.
Wajahnya tenang, pandangannya sesekali menerawang menembus kabut yang menggumpal di kejauhan. Yang sesekali tangannya mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
"Kaya'nya ada pujangga yang sedang nulis puisi niihh...???" Celoteh Fathir sambil mengaduk sayur sop yang tengah dibuatnya.
"Aaahh lu koki restoran bintang tujuh berisik aje luuhh..." jawabnya balik mengejek.
Namun Fathir sengaja tak menimpalinya lagi. Lebih memilih senyum dan menertawakannya.
Sementara Rey lebih memilih meneruskan menulis karena suasana waktu itu terlalu syahdu untuk dilewatkan tanpa mengutarakan isi hatinya lewat pena.
Tapi entah mengapa, di ending tulisan Rey menuliskan kata-kata:
"Jika memang aku tak mampu meneruskan kisahku untuk menjaga hatimu, setidaknya aku ingin kamu tau bahwa akulah orang yang tulus mencintaimu..."
Rey nampak tertegun, wajahnya sendu seperti ada sesuatu yang dipendam selama ini.
"Thir, seandainya aku mencintai adikmu, apa yang akan kamu lakukan...???" Rey tiba-tiba bertanya pada Fathir.
Fathir seketika terperanjat, tak percaya atas yang diucapkan sahabatnya. Cukup lama Fathir terdiam, lalu dia menjawab.
"Aaahh kaya' gak tau aja, Raisya pacaran sama Rendy saja aku gak setuju, apa lagi sama kamu yang aku sudah tau seperti apa busuk-busuknya kamu..." Fathir menjawab enteng, menganggap sahabatnya Rey bercanda.
"Tapi seandainya itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan ke aku...???" Rey kembali bertanya.
"Kenapa siihh kamu Rey...???
Seandainya itu terjadi, aku akan pukul dadamu tiga kali dan membentur-benturkan kepalamu di kepalaku.... puas kamu Rey... hahaa..." jawabnya bercanda.
Namun Rey tetap diam, nampak ada kesedihan yang mendalam yang selama ini ia simpan.
Tak bisa dipungkiri sebenarnya Rey sudah jatuh hati pada Raisya dari bertahun-tahun yang lalu, tapi Rey lebih memilih menyimpan perasaannya karena ia tak enak hati jika sahabatnya Fathir mengetahui, apalagi Raisya selama ini cuek padanya dan lebih memilih Rendy sebagai kekasihnya.
Namun melihat wajah Rey yang tetap termenung, Fathir mulai curiga atas apa yang diucapkan Rey.
Saat Fathir ingin menginterogasi lebih dalam, tiba-tiba cuaca menjadi lebih ekstrim.
kabut tebal bergumpal datang disertai angin kencang. tak butuh waktu lama, seketika hujan mengguyur sangat deras.
Mereka pun segera mengemas peralatan masaknya, lalu segera masuk ke tenda.
Tapi hujan tak kunjung reda, malah angin terasa makin kencang. Dengan raincoat warna merah yang kebal air, Rey nekat keluar tenda untuk mengecek keadaan.
Namun cuaca tak seperti biasa, feeling Rey berkata,
"Ini bukan hujan biasa, ini badai besar...!!!"
Lalu Rey kembali masuk ke tenda, memberi tau pada Fathir tentang cuaca diluar.
"Thir, aku yakin ini badai...
Kita harus mengambil keputusan...
Lebih baik kita kemas tenda kita lalu turun..." ucap Rey dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tapi kita belum muncak...???" Jawab Fathir keberatan.
"Sementara jangan pikirkan muncak dulu, ini tidak memungkinkan...
Ayoo kita berkemas lalu turun...!!!" Rey memberi saran.
Lalu Fathir mencoba melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya nongol keluar dari pintu tenda persis seperti kepala kura-kura yang keluar dari tempurungnya.
Seketika wajah Fathir berubah penuh kecemasan, melihat hujan yang turun tak seperti biasanya. Bahkan tenda yang biasanya baik-baik saja saat hujan, kali ini tenda mereka sering terhempas tertiup angin.
"Oke kalo begitu..." jawab Fathir dengan wajah panik.
Lalu mereka langsung mengemasi barang-barangnya. Tenda segara dibongkar dan dimasukkan ke keril. Dan setelah semua rapi, mereka pun siap berjalan turun.
Namun saat mereka hendak turun, Rey melihat di sekitar area Pasar Bubrah masih terdapat tenda dan banyak pula pendaki yang terjebak disana.
Rey berubah pikiran, di ingin menolong mereka yang masih berada diatas.
"Thir, kamu turun duluan...
Kasih tau para pendaki lain yang masih ngecamp di bawah untuk segera turun, karena cuaca terlalu ekstrim..." ucap Rey sembari menepuk pundak Fathir.
"Gila kamu Rey, diatas sangat berbahaya, belum genap jam 5 sore tapi langit sudah sangat gelap seperti ini, dan angin juga sangat kencang itu sangat berbahaya...
Ayoo kita turun bareng aja...!!!" Fathir mengajak Rey sembari menarik tangannya agar segera turun.
"Tidak Thir, aku harus keatas, banyak pendaki yang terjebak disana... kamu turun dulu kasih tau yang lain...
Ini pilihan yang terbaik Thir..." ucap Rey menyakinkan sahabatnya. Dibawah derasnya hujan dan sabetan angin yang mampu memporak-porandakan hutan.
Sesaat semua terdiam, menatap satu sama lain.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu Rey..." ucap Fathir dengan nada yang agak berteriak bersaing dengan suara guyuran hujan yang semakin deras.
Di tengah kepanikan tiba-tiba pohon sengon disamping mereka roboh diterjang angin.
Lalu tanpa pikir panjang Rey mendorong tubuh Fathir untuk segera turun.
"Cepat turun Thir cepat..." teriak Rey pada sahabatnya. Namun Fathir tetap diam.
Keduanya kembali terdiam, Rey mebuka kupluk raincoatnya dan membiarkan rambut panjangnya basah tersiram air hujan. Lalu Rey memeluk Fathir erat sembari berkata.
"Aku akan baik-baik saja sobat, kita harus menyelamatkan mereka...
Kita ketemu di basecamp, oke...!!!???" lalu Rey melepas pelukannya, merogoh kantong raincoatnya dan mengambil buku yang sudah terbungkus kantong kresek hitam.
"Seandainya ada sesuatu terjadi, titip ini buat Raisya..." ucap Rey sembari memberikan buku itu pada Fathir.
Mereka terdiam saling memandang. Dibawah guyuran air hujan mereka tak biasanya merasakan hal seperti ini.
Selang berapa lama, tanpa berucap lagi, Rey membalikkan badan dan menuju ke arah Pasar Bubrah.
Semantara Fathir berlari menuju bawah untuk memberi informasi pada pendaki lain untuk segera berkemas dan turun.
Ditengah ketegangan jiwanya, namun Fathir yakin Rey akan baik-baik saja, dia teringat sudah sering Rey mengambil keputusan ekstrim, walau membahayakan nyawanya sendiri namun Rey tetap baik-baik saja.
Dia teringat dulu waktu masih sekolah, saat terjadi tawuran dan mereka terkepung, Rey pernah menyelamatkan teman-temannya.
Dia menyuruh Fathir dan teman-teman yang lain untuk pergi, sementara dia menghadang musuh hanya dengan pentungan kayu seorang diri, saat Fathir dan yang lain sudah lari jauh tak terlihat, Rey yang sudah membuat musuhnya kesal, seketika lari dengan jurus langkah seribunya, sehingga musuh lebih memilih mengejar Rey dibanding Fathir, namun dengan tubuh Rey yang ramping membuat Rey mudah lari kesana-kemari melompati pagar pekarangan rumah warga dan akhirnya Rey lolos dari kejaran musuh.
Yaa begitulah karakter Rey yang senang mengambil resiko.
*****
Sementara itu, Fathir terus berjalan menuruni jalur menuju pos 2, di sana tenda yang masih berdiri yang kemudian Fathir berteriak kencang agar semua pendaki bergegas turun ke basecamp.
Seketika semua sigap berkemas dan membongkar tendanya masing-masing.
Hujan dan angin masih sangat kencang, banyak pohon-pohon yang roboh yang membuat jalur menjadi teramat sulit untuk di lalui.
Tepat jam 8 malam semua pendaki berhasil evakuasi ke basecamp. Namun ada beberapa pendaki yang masih terjebak diatas karena cuaca yang sangat ekstrim.
Team SAR segera diterjunkan untuk mengevakuasi pendaki yang masih terjebak diatas, suasana kepanikan nampak di basecamp, radio HT selalu berbunyi memberi informasi satu sama lain antar petugas team SAR.
Fathir dan beberapa pendaki lain yang baru saja sampai di basecamp langsung disambut oleh para relawan basecamp, diberi minuman hangat, sembari diinterogasi tentang keadaan diatas.
Untuk memberikan informasi kepada team SAR yang sedang menuju ke atas.
Setelah semua selesai, Fathir dan pendaki lain di persilakan istirahat.
Sementara suasana di basecamp masih tetap sibuk penuh kepanikan. Komunikasi lewat HT masih saling bersautan antar team SAR. Dan tentunya kabar badai di lereng Merapi pun langsung menyebar lewat media sosial.
Namun ditengah kepanikan itu, Fathir dengan tubuh yang lelah dengan pelan merebahkan tubuh di tikar yang telah disediakan.
Pikiran menerawang menuju pada sahabat yang masih diatas sana.
"Aku yakin kamu baik-baik saja Rey..." hatinya berisik lirih.
Pikiran terus menerawang membayangkan sahabatnya, lelah yang merobek jiwanya tak mampu melelapkan matanya untuk sekedar melepas lelah. Pikiran tetap tertuju pada Rey.
Seketika lamunannya tersentak saat Fathir teringat pada seonggok buku yang terbungkus kantong kresek hitam yang berada disampingnya.
Rasa penasaran berkecamuk dalam hatinya, ia pun ingin segera membuka dan ingin tau tentang tulisan Rey selama ini.
============BERSAMBUNG===========
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI
Dijamin akan lebih seru dan penuh haru..!!!
Diangkat dari kisah nyata
Penulis: Ahmad Pajali Binzah
Genre: Action - Romance
Pagi itu saat kabut tipis samar-samar masih menyelimuti hamparan sawah, bahkan sinar mentari pun belum mampu mengusir sang embun pagi yang setia membasuh dedaunan sesaat diguyur hujan. Nampak laki-laki tua sedang berjalan tertatih dengan tongkat kayu sebagai penopang langkahnya yang gontai, laki-laki tua itu memakai seragam loreng tentara kebanggaannya.
Dan bukan tanpa alasan laki-laki tua itu melakukan perjalanan sejauh itu, tak lain dan tak bukan dirinya ingin menepati janji yang pernah diucapkannya sewaktu masih muda dulu.
***
Kisah ini berawal sekitar 55 tahun yang lalu, saat sepasang kekasih yang saling mencintai, saling berjanji untuk setia sehidup semati, namun pada akhirnya harus terpisahkan oleh takdir.
Dia adalah Hardi Pramono yang sudah lama menjalin kasih dengan Sumiati gadis desa yang sederhana.
***
Waktu itu saat mereka berboncengan sepeda sepulang sekolah, melewati jalan raya Capgawen yang menghubungkan kecamatan Kedungwuni dan Karangdadap, saat itu jalan masih berbatu dan sepeda adalah transportasi utama, selain delman, becak dan pedati. Banyak juga lalu lalang pejalan kaki. Kadang sesekali ada mobil yang lewat itu pun hanya orang-orang tertentu yang mengendarai. Begitulah sekilas gambaran tentang kabupaten Pekalongan pada tahun 1960an.
Saat Pramono mengayuh sepedanya, tiba-tiba langit mendung menghitam,
"Jedeerr.... Deeerrr..." petir menyambar dua kali keras sekali.
Seketika Sumiati langsung memeluk tubuh Pramono dengan eratnya.
Lalu Pramono menghentikan sepedanya di gubuk tua bekas warung yang sudah tak ditempati lagi.
"Mas Pram aku takut sekali mas..." ucap Sumiati menggigil sembari memeluk erat kekasihnya.
"Jangan takut Sum, selama masih ada aku kamu akan baik-baik aja..." ucap Pramono menenangkan.
Sumiati pun merasakan ketenangan berada di dekapan tubuh Pramono.
"Tapi mas, aku takut kalo suatu saat nanti kita gak bisa bersama-sama lagi, aku takut kamu ninggalin aku mas..." ucap Sumiati dengan nada sedih.
"Percayalah Sum, itu gak akan terjadi, aku gak akan pernah ninggalin kamu...
Apapun yang terjadi aku akan berjuang mati-matian untuk kamu, tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiranku untuk meninggalkanmu...
Bukankah kamu tau, betapa aku sangat menyayangimu, bahkan jauh-jauh hari sebelum kamu menyayangiku...???
Ingat Sum, namaku Hardi Pramono, orang yang akan selalu mencintaimu seumur hidupku...
Lihatlah Sum, langit disana yang mulai gelap itu, tak sedikitku menggetarkan rasa tukutku...
ucap Pramono dengan nada yang optimis, lalu memeluk Sumiati dengan lembutnya.
"Apakah yang kamu ucapkan itu serius mas...???" tanya Sumiati lirih dengan tubuh yang masih memeluk Pramono.
Seketika Pramono melepaskan pelukan nya, dan menatap dalam-dalam mata Sumiati sambil mengangguk pelan.
Lalu Pramono melangkah menuju pematang sawah sambil berteriak.
"Hai langit, dengarlah aku berjanji...
Aku sangat mencintai Sumiati, sangat teramat sangat mencintainya...!!!
Selama aku masih hidup, selama itu pula aku akan berjuang untuknya, apapun yang terjadi aku tak akan pernah menyerah...!!!
Jika Tuhan mendengar janjiku, turunkan hujanmu wahai langit...!!!"
"Jedeerr... Deeerrr...!!!!"
Seketika petir menyambar dua kali keras sekali, dan hujan pun turun dengan derasnya.
Pramono tetap berdiri tenang di tengah sawah, melebarkan kedua tangannya dengan muka menengadah ke atas, sembari tersenyum menikmati tiap tetes air yang turun dari langit.
Lalu Sumiati berlari ke arahnya dan langsung memeluk tubuhnya.
Mereka pun saling berpeluk erat di bawah guyuran sang hujan, menikmati derasnya air yang membasahi tubuh mereka.
"Aku percaya padamu mas, demikian juga aku, aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapan pun..." ucap Sumiati dengan nada haru sembari tetap memeluk erat dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Pramono.
"Air hujan ini menjadi saksi betapa aku sangat menyayangimu Sum, aku berjanji akan berjuang untuk kebahagiaanmu, sampai kita benar-benar bersatu dan menua bersama...
Bahkan sampai salah satu dari kita harus menghembuskan nafas terakhir, entah itu kamu atau aku yang lebih dulu...
Tapi yang jelas saat itulah aku akan berada disampingmu, berpegang erat tangan kita dan saling menatap untuk yang terakhir kalinya..."
Begitulah janji mereka untuk tetap setia sehidup semati.
***
Tiga tahun Kemudian, Juli 1967. Mereka akhirnya lulus sekolah, setelah lulus Sumiati memilih untuk meneruskan pendidikan nya di jurusan keguruan, karena cita-citanya ingin mengabdi pada bangsa untuk menjadi guru, sementara Pramono memutuskan memilih untuk masuk akademi militer, karena ingin meneruskan perjuangan sang ayah yang juga tentara.
Dari sinilah benih-benih perpisahan itu bermula.
"Mas, kenapa kamu tetap ngotot ingin menjadi tentara...???
Kenapa gak bareng aku aja masuk sekolah keguruan...???
Biar kita bisa menjadi guru dan mengabdi untuk bangsa ini bersama-sama...
Bukankah kamu pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku mas...???"
Sumiati berharap kekasihnya mau ikut bersamanya di jurusan keguruan.
"Percayalah Sum, aku tak akan pernah Meninggalkanmu...
Aku memilih jalan ini karena wasiat dari ayahku dulu, sebelum ayah gugur di medan perang melawan penjajah, beliau berpesan pada ibuku agar kelak anaknya bisa meneruskan perjuangannya menjadi seorang tentara...
Bukankah menjadi tentara juga termasuk berbakti pada bangsa dan negara, guru dan tentara adalah profesi yang sama-sama mulia Sum..."
Ucap Pramono meyakinkan kekasihnya sembari memegang kedua tangan Sumiati dan menatapnya dalam.
"Tapi aku gak ingin seperti ibumu yang kehilangan orang yang sangat dicintainya karena berjuang membela negara..." Sumiati menangis lalu memeluk Pramono.
"Heeyy... jangan nangis sayang, sekarang ini kita sudah merdeka lebih dari 20 tahun, gak mungkin penjajah itu datang lagi... jadi jangan khawatir yang berlebihan yaa..." Pramono meyakinkan Sumiati dengan senyum manisnya.
Dibalik penampilan garangnya, Pramono tetap mempunyai sisi wajah yang meneduhkan, hingga setiap kali Sumiati menatap wajah Pramono kegundahan hatinya pun mereda.
***
Waktu berjalan begitu cepat, empat tahun kemudian setelah mereka lulus dan masuk di profesi yang dicita-citakan, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Mereka telah membuktikan, bahwa cinta mampu menyatukan mereka walau sisi pandang mereka jauh berbeda.
Tepat 26 maret 1972 mereka melangsungkan acara pernikahan dengan sederhana.
Dan beberapa bulan kemudian Sumiati pun mengandung anak pertama. Dan setelah lahir anak itu diberi nama Dirga Pranomo. Nama Dirga diambil dari kependekan kata Dirgantara, karena sang ayah berharap kelak anaknya mempunyai jiwa patriotisme yang tinggi.
***
Belum genap anaknya berumur satu tahun, tepat pada tahun 1975, pemerintah Republik Indonesia tengah melakukan operasi militer yang diberi sandi operasi Seroja di Timor Leste, melawan pasukan Fretilin (Front Revolusioner Independen Timor Timur) yang menginginkan kemerdekaannya.
Dan Pramono ditugaskan di daerah konflik tersebut, Timor Leste.
################################
Sebagai catatan:
Sejarah Timor Leste berawal dengan kedatangan orang dari Portugal pada awal abad ke-15 dan menjajahnya pada pertengahan abad itu juga.
Setelah terjadi beberapa bentrokan dengan Belanda, dibuat perjanjian pada 1859 di mana Portugal memberikan bagian barat pulau itu.
Pada tahun 1945 setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Timor Leste bagian timur masih tetap dibawah kekuasaan Portugal, sementara Timor Barat masuk wilayah Indonesia karena bekas jajahan Belanda.
Pada tahun 1975, ketika terjadi Revolusi Bunga di Portugal dan Gubernur terakhir Portugal di Timor Leste, Lemos Pires, tidak mendapatkan jawaban dari Pemerintah Pusat di Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang terjadi perang saudara, maka Lemos Pires memerintahkan untuk menarik tentara Portugis yang sedang bertahan di Timor Leste.
Setelah itu FRETILIN menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 28 November 1975.
Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi kevakuman pemerintahan di Timor Leste, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia).
Tak lama kemudian, kelompok pro-integrasi mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan FRETILIN yang berhaluan Komunis.
Ketika pasukan Indonesia mendarat di Timor Leste pada tanggal 7 Desember 1975, FRETILIN didampingi dengan ribuan rakyat mengungsi ke daerah pegunungan untuk untuk melawan tentara Indonesia. Lebih dari 200.000 orang dari penduduk ini kemudian mati di hutan karena pemboman dari udara oleh militer Indonesia serta ada yang mati karena penyakit dan kelaparan.
Setelah pertempuran sengit yang memakan waktu lama, pada akhirnya Fretelin berhasil dikalahkan. Timor Leste berhasil diambil alih dan namanya diubah menjadi Timor Timur yang menjadi propinsi ke 27 Republik Indonesia.
Namun setelah itu Ftetilin tetap melakukan serangan (dalam skala kecil) terus menerus. Dari yang sebelumnya perang terbuka beralih menjadi perang gerilya.
Hingga akhirnya pada tanggal 30 Agustus 1999 (setelah pemerintahan Soeharto tumbang dan digantikan Bj Habiebie) diadakan lah referendum, di bawah perjanjian yang disponsori oleh PBB antara Indonesia dan Portugal, dan mayoritas penduduk Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia.
Dan setelah itu Timor Leste resmi menjadi negara yang merdeka dan mendeklarasikan Republik Demokratik Timor Leste.
![]() |
| Dikutip dari: https://id.wikipedia.org/ |
################################
Kembali ke cerita:
Setelah pasukan TNI mendarat di kota Dili, Pramono ditugaskan ke lokasi Gunung Matebean, salah satu gunung tertinggi di Tanah Lorosae, Timor Leste, untuk membantu pasukan lain yang nyaris kalah ketika sepertiga dari jumlah pasukan Indonesia tewas.
Karena pasukan Fretilin yang sangat menguasai medan, dan jumlahnya yang lebih besar, pasukan TNI mulai terkepung. Bahkan pasukan yang dipimpin Pramono yang berjumlah 30 personel hanya tinggal tersisa 5 personel saja.
Disuatu malam, saat Pramono dan rekan-rekannya bersembunyi di tengah hutan, saat hendak istirahat ternyata keberadaannya telah diketahui musuh, dan malam itu mereka telah terkepung. Tiba-tiba suara tembakan menghentak memecah kesunyian malam. Puluhan peluru keluar dari moncong senapan musuh, tembakan demi tembakan mengarah padanya. Seakan tak memberi kesempatan pada mereka untuk menyelamatkan diri.
"Deerr...!!! Deerr...!!! Deerr...!!! Boomm....!!!" tembakan dan suara dentuman bom terus bergantian menyerang mereka.
Pramono dan kawan-kawan kocar kacir tak karuan, suasana kacau balau tak beraturan.
"Deerr...!!!" tak disangka satu peluru menembus lengan kiri Pramono.
Ditengah kepanikannya, tanpa pikir panjang Pramono sebagai komandan kompi memberi intruksi kepada anggotanya.
"Haryo, kamu bersama Sutan, Toni dan Ridwan cepat lari ke atas bukit itu, dibalik bukit itu banyak tentara kita... biar aku sendiri menghalau mereka...!!!" perintah Pramono sembari memegang lengan kirinya yang berlumuran darah.
"Tapi Pram...??? Aku gak mungkin ninggalin kamu disini... sangat berbahaya...!!! Kita harus tetap bersatu" jawab Haryo sembari panik. Sementara suara tembakan ke arah mereka terus meledak tanpa henti.
"Justru itu, kalo kita tetap bersama, kita semua akan mati ditangan mereka...!!!
Biar aku yang menghalau mereka, biar aku yang mengecohkan mereka...
Sementara kalian ke atas bukit itu, aku akan mencoba lari ke lembahan ke arah sungai di bawah sana...
Mereka akan mengejarku, sementara kalian naik ke bukit itu jangan menyalakan apapun dan jangan menembak sama sekali, biar jejak kalian tak terlacak...!!!" Pramono menjelaskan tak-tiknya sembari membalas tembakan kearah musuh.
"Deerr...!!! Deerr...!!! Deerr...!!! Boomm....!!!" tembakan dan suara dentuman bom terus bergantian menyerang mereka.
"Ayoo...!!! Serang mereka...!!! Mereka yang menjajah tanah kita, kita harus habisi mereka...!!!" teriak sang komandan pasukan Fretilin dengan bengis.
"Go...!!! Go...!!! Go...!!! Go...!!! Lakukan perintah sesuai tak-tik kita... cepat Haryo cepat...!!!" Pramono terus berteriak.
"Tidak Pram, lebih baik kami mati bersama dari pada membiarkanmu mati dikepung mereka...!!!" jawab Haryo sembari tetap membalas tembakan musuh.
"Bodoh, lebih baik mati satu untuk menyelamatkan yang lain dari pada semua mati sia-sia disini...!!!" jelas Pramono di tengah kepanikan.
"Tapi Pram...!!!???" Haryo memotong pembicaraan.
"Ini perintah...!!! Saya komandan kalian... cepat ikuti perintah...!!!" gertak Pramono.
"Lebih baik kami mati bersamamu Pram, aku bangga bisa mati bersamamu sebagai prajuritmu...!!!" ucap Toni yang sedari tadi fokus membalas tembakan lawan sambil bersembunyi dibalik pohon besar.
Sesaat semua terasa hening, walaupun sebenarnya musuh masih terus menembak dan menyerang. Pramono terharu mendengar ucapan kawan-kawannya yang rela mati bersama. Mereka saling memandang satu sama lain, seakan tak lagi menghiraukan tembakan musuh. Semua seakan siap mati ditempat itu.
"Deerr...!!! Deerr...!!! Deerr...!!! Boomm....!!!" tembakan dan suara dentuman bom terus bergantian menyerang mereka. Namun mereka seakan tak memperdulikannya.
"Tidak kawan, kalian tidak akan mati disini...
Lihat darahku sedari tadi telah tertumpah disini, ini menandan di tanah ini akan menjadi kuburanku...
Kalian harus tetap selamat, sebagai tentara aku bangga jika mati di medan perang..." ucap Pramono penuh semangat juang.
Mendengar itu, mereka seakan tak menghiraukan tembakan dan dentuman yang menyerang mereka, mereka seakan kagum pada sosok Pramono, seorang komandan yang rela mengorbankan jiwanya demi keselamatan prajuritnya.
"Oiya Haryo, jika kamu pulang nanti, titip salam buat istri dan anakku, katakan pada mereka bahwa aku sangat menyayangi mereka...
Jaga mereka baik-baik...!!!" ucap Pramono dengan mata yang berkaca-kaca.
Sesaat Haryo terdiam, dia tak tau apa yang sahabatnya ucapkan, dia hanya merasa itu adalah permintaan terakhirnya, dan tanpa sadar air matanya menetes tak tega meninggalkan sahabatnya harus mati ditempat ini.
Disaat kebekuan itu, tiba-tiba "Booomm...!!!" sebuah granat meledak tepat di dekat mereka.
"Ayoo cepat kalian pergiii...!!!
Go...!!! Go...!!! Go...!!!" teriak Pramono memberi intruksi.
"Tapi Pram...!!!???" jawab Haryo.
"Tidak ada tapi-tapian, aku komandanmu, lakukan perintah cepat...!!! Cepatt...!!!" perintah Pramono membentak. Lalu dia berdiri bergegas lari menuruni lembah sembari menembaki musuh.
"Deerr... deerr... deerr... deerr... deerr... deerr..." Pramono membabi buta memberondong ke arah musuh.
Sementara Haryo dan rekan-rekannya terpaku membisu melihat aksi heroik dari sang komandannya, hingga tak terasa mereka semua meneteskan air mata, lalu mereka berlari ke atas bukit tanpa melepas tembakan satupun. Mereka berlari merunduk menembus semak belukar menerobos pekatnya malam.
Sementara pasukan Fretilin terus mengejar ke arah tembakan Pramono. Mereka mengira musuhnya lari ke lembah. Dan akhirnya Haryo dan ketiga rekannya selamat dari kejaran pasukan musuh. Ini membuktikan strategi Pramono berhasil.
***
Sesampainya di atas bukit, Haryo dan ketiga kawannya istirahat, menyaksikan pasukan Fretilin menyerbu komandannya dengan berondongan peluru dan denduman granat. Mereka berempat menangis haru tak tega membayangkan nasib komandan sekaligus teman seperjuangannya.
"Selamat jalan kawan, kami bangga pernah mengenalmu, kamu adalah perwira tertangguh yang pernah kami kenal, sesungguhnya kamu tidak mati sia-sia..." ucap Haryo lirih sembari menahan tangisnya.
Lalu mereka meneruskan perjalanannya naik turun bukit dengan sikap siaga. Setelah pejalanan lama, menjelang pagi akhirnya mereka sampai di camp pasukan TNI, mereka pun disambut hangat oleh beberapa prajurit di sana, setelah istirahat dan mendapat pertolongan medis, mereka menceritakan kejadian mereka saat dikepung pasukan musuh dan semua yang ada disana tertunduk mendengar cerita heroik sang komandan kompi yang rela mengorbankan jiwa raganya.
"Selamat jalan kawan... semoga kamu tenang di alam sana... pengorbananmu tak akan pernah kami lupakan..." semua pasukan mengheningkan cipta.
Tahun 1976 setelah pertempuran berkecamuk, pasukan TNI kewalahan dan terkepung oleh pasukan Fretilin, atas alasan keamanan camp-camp di daerah pedalaman akhirnya ditarik mundur dan pasukan TNI hanya menguasai pusat-pusat kota, sementara daerah-daerah pedalaman masih dalam kekuasaan Fretilin.
November 1976 beberapa prajurit ditarik mundur untuk dipulangkan, untuk istirahat mengobati trauma setelah berbulan-bulan melakukan pertempuran sengit, dan Haryo juga ikut dipulangkan dalam rombongan itu.
***
Setelah sampai di Jawa dan tiba di maskas besar Yonif 407 Wonopringgo Pekalongan, Haryo langsung bergegas menghampiri rumah Sumiati, untuk menyampaikan kabar tentang suaminya yang gugur di medan perang.
Mendengar kabar itu, Sumiati langsung tersungkur tak kuasa menahan tangisnya. Sumiati berteriak histeris dan tak sadarkan diri.
Inilah alasan kenapa saat lulus sekolah dulu Sumiati melarang kekasihnya menjadi tentara, inilah alasan kenapa dia ingin kekasihnya menjadi guru sepertinya, karena dia benar-benar takut seperti ibunda Pramono yang ditinggal orang yang sangat disayanginya gugur di medan perang. Dan saat ini dia merasakan hal yang sama dengan ibu mertuanya itu.
Namun semua ini sudah terlanjur terjadi.
***
Berhari-hari Sumiati mengurung diri di kamarnya, banyak kerabat, teman dan saudara yang datang menjenguknya, tapi guratan-guratan kesedihan masih menghiasi wajah Sumiati. Kehilangan orang yang sangat disayangi sungguh-sungguh sangat menyiksa batinnya.
Apalagi saat Dirga Pramono buah hati mereka mulai belajar bicara, "papah" ucapan polos dari anaknya sungguh membuat hatinya semakin teriris, bagaimana tidak bocah satu tahun itu mulai belajar bicara dan kata "papah" adalah kata yang sering diucapkannya, sementara sosok yang disebut-sebut sang anak sudah pergi jauh meninggalkan mereka berdua.
Tapi bagaimanapun juga, Dirga satu-satunya yang bisa menghibur saat Sumiati benar-benar merindukan sosok suaminya.
Yaa, cita-citanya hanya satu, mendidik Dirga hingga besar dan menjadi anak yang berbakti pada bangsa dan negaranya seperti yang dicita-citakan suaminya.
***
Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun pun berganti, sebagai wanita normal hari-hari Sumiati merasa kesepian, apalagi setelah Haryo sering datang untuk menjenguk keadaan mereka, karena Haryo juga mendapat wasiat terakhir sahabatnya untuk menjaga Sumiati dan Dirga.
Lambat laun hati Sumiati mulai terbuka untuk memulai lembaran baru, dan Sumiati pun mulai tertarik dengan kebaikan Haryo, apalagi sebenarnya Haryo sedari masih SMA sudah menyimpan rasa cinta pada Sumiati, namun pada waktu itu Sumiati hanya mencintai Pramono.
Mungkin alasan itulah mengapa Haryo sampai saat ini belum menikah.
"Jadi itu alasan kamu sampai sekarang masih melajang mas...???" tanya Sumiati yang mulai akrab dengan Haryo.
"Iya Sum, jujur dari dulu aku sangat sayang sama kamu, tapi aku sadar kapasitasku, aku gak mungkin merebutmu dari Pramono sahabatku sendiri...
Karena bagiku cinta adalah sebuah ketulusan dan keikhlasan..." jawabnya sembari menunduk dengan mata yang berkaca.
"Jika kamu ada hati sedikit saja untukku, aku sangat senang Sum...
Bukan maksud aku lancang, tapi aku benar-benar serius ingin menikah denganmu...
Aku memang tak sehebat dia Sum,
Tapi aku siap menjadi suamimu dan selalu menjagamu Sum..." tambahnya lagi meyakinkan.
"Aku belum bisa mas, aku masih ingin sendiri dulu entah sampai kapan aku tak tau... walau sebenarnya kadang aku merasa kesepian dan butuh sosok pendamping lagi..." ucap Sumiati lembut dengan mata menerawang ke langit.
"Aku ngerti Sum, tapi aku akan menunggumu sampai kapanpun Sum, karena aku benar-benar sayang sama kamu Sum..." jelas Haryo sembari menggenggam tangan Sumiati. Dan Sumiati pun merasakan kehadiran sosok baru dalam hidupnya setelah mengenal lebih dekat dengan Haryo.
***
Beberapa bulan kemudian akhirnya Sumiati memutuskan untuk mau menerima cinta dari Haryo. Dan mereka pun melangsungkan upacara pernikahannya.
Akhirnya hari-hari Sumiati kembali berseri, ada kebahagiaan yang mengisi ruang hatinya, bahkan ternyata Haryo sosok yang sangat baik dan perhatian, dia tak hanya mencintai dirinya tetapi juga menyayangi Dirga anak dari suaminya dahulu. Walau sebenarnya dia takut jika sewaktu-waktu Haryo kembali diterjunkan ke medan perang.
***
Hampir satu tahun telah berlalu, kini Sumiati tengah mengandung anak dari Haryo. Merekapun sangat bahagia dan tengah menyiapkan kehadiran buah hatinya.
Disela-sela kebahagiaannya, suatu hari ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Sumiati pun bergegas membuka pintu, alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu itu, sosok yang selama ini telah dianggapnya telah hilang. Kini hadir kembali di hadapannya.
Yaa, dialah Hardi Pramono suami yang dulu sangat dicintainya kini kembali ada di hadapannya.
Suami yang dianggapnya telah gugur di medan perang ternyata dia masih hidup dan kini hadir di depan matanya.
"Mas Pram...???" ucap Sumiati terkejut luar biasa, antara tidak percaya apakah ini nyata atau hanya fatamorgana, bahagia, takut, canggung, sedih dan haru. Semua campur aduk dalam dirinya.
Sekejap Sumiati ingin memeluknya tapi dia ingat bahwa dia sudah bersuamikan Haryo. Sementara Pramono begitu bahagianya dapat melihat Sumiati kembali dan langsung memeluknya.
Tapi alangkah kagetnya dia, saat mengetahui orang yang dicintainya tengah hamil tua.
"Apa yang terjadi Sum...???" tanya Pramono dengan wajah terheran.
Seketika tangis Sumiati pecah, Sumiati menangis histeris langsung merobohkan tubuhnya, berlutut di hadapan Pramono.
"Maafin aku mas... maafin aku...
Aku mendapat kabar bahwa kamu telah gugur di medan perang, aku sangat sedih mas, aku sangat terpukul...
Hampir dua tahun aku bertahan sendiri berjuangan untuk membesarkan anak kita, tapi bagaimanapun juga anak kita butuh sosok ayah mas...
Hingga akhirnya aku putuskan nenikah lagi dengan Haryo mas...
Maafin aku mas... maafin akuuu...." Sumiati mengangis sesunggukan.
Mendengar itu hati Pramono hancur berkeping-keping, seakan dia juga ingin merobohkan tubuhnya. Namun dengan sekuat tenaga menahan tangisnya. Lalu kedua tangannya memegang bahu Sumiati dan mengajaknya berdiri.
"Kamu tidak bersalah Sum, sama sekali tidak bersalah...
Keadaanlah yang memaksa kita begini..."
Ucap Pramono menenangkan sembari memapah Sumiati masuk dan duduk disofa depan.
Tak berapa lama Haryo datang dari dalam.
"Pramono...???" ucap Haryo terheran dan sangat senang. Lalu ia lari mendekat.
Tapi saat melihat Sumiati menangis sesunggukan, dan menyadari semua yang terjadi lantas Haryo terpaku dan hanya menundukan kepala.
"Maafkan aku Pram..." ucap Haryo menunduk.
"Apanya yang perlu dimaafkan...???
Dalam hal ini tak ada yang bersalah..." jawab Pramono bijak, menyembunyikan kesedihannya, agar terlihat tetap terlihat tegar. Walau sebenarnya dalam hatinya hancur lembur berantakan.
Lalu Pramono mendekat dan memeluk sahabatnya itu.
"Kau tetap sahabatku Haryo, kau yang mampu menjaga Sumiati, tolong bahagiakan dia...
Mungkin kau yang ditakdirkan untuk menjadi penjaga hatinya..." ucap Pramono dengan nada menahan tangis.
Haryo pun tak kuasa menahan tangis.
Sementara Suniati hanya bisa tertunduk menangis di sofa itu.
"Sekali lagi maaf Pram, aku sungguh tak menyangka kamu berhasil selamat dari pertempuran itu..." ucap Haryo terheran.
"Ceritanya panjang Har..." ucap Pramono menunduk, seakan tak mampu membayangkan tragedi yang menimpanya.
Sesaat semua diam, seakan hening memberi jeda bagi mereka.
Lalu Pramono berusaha mengangkat wajahnya berusaha menceritakan kejadian demi kejadian yang dialaminya.
"Begini ceritanya Har..."
Pramono mencoba menceritakan awal trgedi itu.
============BERSAMBUNG=============
Kisah Selanjutnya KLIK DISINI
Untuk awal cerita KLIK DISINI
Waktu aku perintahkan kalian untuk melarikan diri ke atas bukit, aku sengaja memberondong musuh agar musuh mengejarku. Saat itu rasanya aku memang tak mungkin bisa selamat. Bagaimana tidak, puluhan bahkan ratusan tentara Fretilin mengejar dan mengepungku. Saat itu hanya ada dua pilihan, yaitu membunuh atau dibunuh.
Karena itulah aku putuskan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan, hingga akhirnya aku terkepung dan terjebak di tepi jurang, puluhan pasukan Fretilin mengepung dan menodongkan senjatanya ke arahku.
"Angkat tangan...!!!" gertak mereka menyuruhku menyerah.
Tak ada pilihan lain, aku jatuhkan senjata dan mengangkat kedua tanganku.
Mereka terus mendekat sembari tetap menodongkan senapannya padaku.
Nafas yang tersengal-sengal, detak jantung yang berdegup kencang dan kepanikan yang sangat luar biasa. Dan kali ini tak ada pilihan lain selain berharap pada keajaiban do'a.
"Yaa Allah, selamatkanlah aku...
Jika memang ini akhir dari ceritaku, cabut nyawaku saat ini juga, karena jika aku tertangkap oleh mereka niscaya mereka akan menyiksa ku hingga diambang batas nyawaku...
Yaa Allah aku siap mati saat ini...
Tapi jika ini bukan ajalku, tolong selamatkan hambaMU ini..." hatiku terus berdo'a dengan pikiran yang kacau balau antah brantah.
Tak terbayang jika aku harus menjadi tawanan mereka, pasti siksaan terberat akan mereka hujamkan padaku.
Karena dalam pertempuran ini, tak ada kata tebusan atau tukar tahanan. Jika tertangkap mereka, hanya ada dua kemungkinan menyebutkan kode sandi rahasia lalu dibunuh, atau bungkam dengan hujaman siksa hingga mati terbunuh karena tak kuasa menahan beratnya siksa.
"Yaa, tak ada alasan untuk menyerah, lebih baik aku mati diberondong puluhan peluru dari pada harus mati disiksa oleh mereka..." pikiranku tertuju pada satu keputusan.
Tanpa pikir panjang, sebelum mereka mendekat dan menangkapku, aku langsung melompat terjun ke jurang, derasnya air sungai di dasar jurang langsung menghanyutkan tubuhku.
"Deerr... Deerr... Deerr... Deerr... Deerr..."
Walau aku sudah terhanyut di aliran air, mereka tetap memberondong ke arahku. Tapi pekatnya malam dan derasnya arus sungai membuat tubuhku sukar terlihat dan tak satu pun peluru mengenai tubuhku.
Entah berapa jauh aku terhanyut hingga akhirnya tubuhku tersangkut di bebatuan sungai.
Dengan tubuh yang lemah aku berusaha ke tepi, kebetulan disana ada satu goa kecil yang menghadap tepat di tepi sungai, mulut goa itu sempit seukuran tubuhku, tanpa pikir panjang aku masuk ke dalamnya, dengan susah payah aku masuk lalu aku tutup pintu goa itu dengan rerumputan.
"Cepat cari dia sampai dapat, kita harus dapatkan dia hidup atau mati...!!!" aku mendengar semua yang diucapkan pasukan Fretilin, mereka terus menyisir tempat itu untuk mencariku.
Malam itu, dengan baju yang basah aku menggil kedinginan, hipotermia menyerangku hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.
Keesokan harinya aku terbangun, aku mencoba makan apa yang masih tersisa, aku mencoba bangkit untuk keluar namun aku masih melihat pasukan Fretilin menyisir semua lokasi tetap mencariku. Akupun hanya bisa terus bersembunyi di goa itu sampai kondisi benar-benar aman.
Yaa, mulai saat itu aku hanya keluar di malam hari, jika waktunya tiba aku mulai bergerilya mencoba menyerang mereka satu persatu, sengaja aku tak menggunakan senapanku karena aku tak ingin menimbulkan kegaduhan. Entah sudah berapa puluh pasukan musuh yang aku bunuh dengan tikaman belatiku, karena pada saat itu hanya dengan membunuh yang membuatku bisa bertahan hidup, karena saat kondisi seperti itu hanya ada dua pilihan, membunuh atau dibunuh.
***
Sudah hampir seminggu aku bergerilya mempertahankan hidupku, aku seperti kelelawar yang hanya keluar jika hari mulai gelap, aku juga persis dalam film Rambo yang seorang diri melawan pasukan musuh. Tapi ini bukan dalam adegan film, ini adalah kisah nyata hidupku. Kisah seorang tentara yang mempertahankan hidupnya ditengah kepungan musuh.
Rasanya tak mungkin bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup, karena sepanjang mata memandang, hutan ini dalam kekuasaan Fretilin. Tapi semangat juangku lebih besar dari kemungkinan hidupku yang memaksa aku harus terus bergerilya membunuh mereka satu-persatu.
Saat itu aku adalah orang yang paling diburu pasukan Fretilin, komandan mereka memerintahkan untuk menangkapku dalam keadaan hidup atau mati, bahkan misi untuk menangkapku seakan lebih utama dibanding misi awal mereka dalam memperjuangkan kemerdekaannya.
Tepat di hari ke-10, saat aku melakukan penyerangan, bahkan malam itu aku sudah membunuh belasan prajurit mereka, menjelang subuh pergerakanku terlacak.
"Angkat tangan...!!!!" dua orang anggota Fretilin menodongkan senapan ke arahku saat aku sedang menyeret salah satu dari mereka setelah mati aku tikam.
Aku hanya bisa mengangkat tanganku. Mereka pun mulai mendekat sambil teriak meminta bantuan,
"Wooyy... disini orang yang kita cari...!!!
Cepat kesini, aku menemukannya...!!!" sambil menodongkan senapan mereka berdua terus berteriak.
Dari jauh terdengar suara pasukan Fretilin yang mulai berdatangan.
Tanpa pikir panjang, pelan-pelan aku cabut belati yang ada di pinggangku. Beberapa detik kemudian aku lari ke arahnya dan dengan sigap aku tancapkan belatiku di leher tepat dibawah jakunnya.
"Hiaaattt...." "Cruuusss...!!!" seketika darah memuncar dari lehernya deras sekali. Pekatnya malam membuat gerakanku seperti iblis yang haus akan darah.
Lalu aku putar arah, berbalik menghujam pasukan Fretilin yang satunya, ayunan belatiku tepat menyayat mengenai leher bagian kiri merobek ke kanan, hingga luka menganga dengan darah mengucur kemana-mana.
Jika di slowmotion gerakanku persis dalam film-film action.
Dua prajurit Fretilin itu akhirnya tersungkur mati dengan bersimbah darah.
Saat kedua musuhku berhasil aku bunuh, pasukan Fretilin yang lain berdatangan, mereka langsung memberondong membabi buta ke arahku.
Aku dengan sigap lari ke arah jurang, tepat di bibir jurang beberapa detik sebelum aku meloncat, tembakan mereka mengenai tubuhku.
"Deerr... Deerr... Deerr... Deerr... Deerr..."
"Aaaahhh..." aku teriak kencang sekali, sungguh aku merasakan belasan peluru mengenai tubuhku.
Aku pun menjatuhkan diri jatuh ke jurang dengan aliran sungai yang deras, langsung menghanyutkan jasadku.
Dalam ketidak sadaranku, aku merasa mereka tetap memberondongkan tembakannya ke arahku, hingga beberapa peluru mengenai tubuhku lagi. Aku merasa sudah tak terhitung lagi peluru yang menembus tubuhku, bahkan air sungai yang menghanyutkan ku berubah memerah karena darahku.
Aku mulai benar-benar tak sadarkan diri. Tubuhku yang terombang-ambing terhanyut oleh derasnya sungai mulai tak terasa lagi, aku merasa ringan, terbang ke langit, aku seperti kapas putih yang terbang terhembus angin hingga tinggi sekali. Bahkan aku melihat bayangan-bayangan seperti malaikat yang siap menjemputku.
"Apakah ini rasanya mati...???
Apakah ini yang disebut perjalanan menuju akhirat...???
Apakah ini akhir dari ceritaku...???" hatiku terus bertanya-tanya, aku merasa terus terbang di pekatnya langit hitam.
Hingga sampailah aku di sebuah pintu besar penuh cahaya, di sana nampak seperti orang yang berjubah putih menunggu di kedua sisi pintu. Aku merasa terbang terus mendekat, semakin dekat aku merasa cahaya itu sungguh sangat terang menyilaukan. Aku mulai tersedot masuk ke dalamnya.
Tiba-tiba,
"Mas Pram, jangan tinggalin aku..." sosok Sumiati hadir yang entah dari mana datangnya sembari memegang erat tanganku.
"Mas Pram pernah janji gak akan ninggalin aku, kalaupun salah satu dari kita harus mati, kematian kita tidak seperti ini, jika saat itu benar- benar tiba, tangan kita akan saling menggenggam dan kita akan saling menatap untuk yang terakhir kalinya..." suara Sumiati menggema seperti suara peri dalam film-film fiksi.
Tarikan tangan Sumiati seakan kencang sekali hingga aku terseret lagi turun ke bumi.
"Aaaaahhhhh....!!!!!" teriakanku melengking panjang, aku merasakan sakit yang tiada tara, tertarik kembali ke lorong waktu dan kembali masuk ke jasadku.
"Aaahhh tolong...!!!" aku kembali bisa merasakan sakit yang di derita tubuhku, dan seketika terbangun dan bangkit dari kematianku.
"Tenang anak muda, kamu akan segera sembuh..." suara kakek-kakek sambil memeras kain untuk mengompres kening ku.
"Kamu sudah beberapa hari ini pingsan nak, aku dan cucuku yang menemukanmu di tepi sungai di sela-sela bebatuan...
Aku mencoba menolongmu dari luka-luka yang ada di tubuhmu..." kakek itu terus bercerita tentang kejadian itu, sembari mengolesi ramuan-ramuan tradisional ke luka yang ada di tubuhku.
"Aku kira kamu sudah mati nak, tapi aku lihat detak jantungmu masih sangat kencang, setelah aku bawa ke rumah, puji Tuhan luka-luka itu tidak ada yang menembus organ-organ yang vital dalam tubuhmu, kau benar-benar orang yang beruntung nak...
Entah berapa banyak peluru yang melobangi tubuhmu, tapi kamu berhasil selamat..." kakek tua itu terus melanjutkan ceritanya dengan nada pelan khas orang yang sudah tua.
Setelah beberapa hari dirawat oleh kakek itu, kondisiku mulai pulih.
"Kek, dimana baju seragamku, aku ingin segera pulang...???" tanyaku sembari bangkit dari tempat tidur.
"Seragammu sengaja aku kubur, aku sengaja menyembunyikan identitasmu dari orang-orang disini. Jika tidak, nyawamu akan terancam..." kakek itu memberi tau tentang semua yang terjadi.
"Ini wilayah kekuasaan Fretilin, semua orang yang ada di kampung ini dalam pengawasan Fretilin, dan semua penduduk disini memang penduduk Fretilin...
Ini basis Fretilin nak..." kakek tua itu meneruskan ceritanya.
"Termasuk kakek...???" tanyaku memotong ucapannya.
Kakek itu hanya menganggukan kepala.
"Tapi kalo kakek pendukung Fretilin, kenapa tidak membunuhku saja waktu menemukanku...???" aku bertanya heran.
"Karena aku melihat ada cahaya kehidupan di wajahmu..." ucap kakek singkat sembari menyeruput kopi lalu menghisap rokok yang terbuat dari tembakau yang diklinting dengan kulit jagung dan menyembulkan asapnya dengan santai, wajah kakek itu sungguh tenang dan meneduhkan.
"Tapi aku tetap ingin pulang kek...!!!
Aku tak bisa terus-terusan tinggal disini" aku ngotot sembari keluar dari kamar, meninggalkan kakek yang masih duduk di bangku di dekat tempat tidurku..
Tak berapa lama aku melangkah tiba-tiba terdengar suara tembakan dan teriakan-teriakan, dan bisa dipastikan itu pasukan Fretilin yang sedang patroli di daerah kekuasaannya.
"Brakkk...!!!" pasukan Fretilin masuk rumah kakek, sebagai kegiata patroli rutin mengecek kondisi wilayahnya.
"Siapa dia kek...???" ucap prajurit itu sambil menodongkan senapan ke arahku.
"Dia suami dari cucuku yang baru pulang dari kota Dili, dia mengungsi kesini karena kota Dili sekarang sudah tidak aman dan telah dikuasai oleh pasukan TNI..." kakek membelaku.
Tak berapa lama, para prajurit itu pergi meninggalkan kami untuk mengecek rumah yang lain.
"Kamu liat sendiri kan nak...???
Jangankan untuk pulang ke kotamu, untuk keluar dari kampung ini saja sangat berbahaya, mereka menguasai semua titik-titik di wilayah pegunungan ini...
Setiap sudut-sudut jalan dijaga ketat oleh mereka...
Dan perlu kamu tau, semua pasukan TNI telah ditarik mundur dan hanya menguasai sebagian kecil di kota-kota, sementara wilayah-wilayah pedalaman kami masih punya kendali..." jelas kakek itu sembari menyeduh teh hangat lalu memberikannya padaku.
"Minum teh teh ini nak, selagi masih hangat...
Teh ini aku buat dari berbagai racikan rempah-rempah, semoga teh ini membuat tubuhmu cepat pulih..."
Yaa, mulai saat itu pupus sudah harapanku untuk pulang, terpaksa aku lewati hari-hariku di kampung ini.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.
Akhirnya aku merasa nyaman tinggal di kampung ini, kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, makan dari hasil bumi, sangat sulit menemukan makanan kemasan disini, bahkan untuk minyak goreng pun kami membuatnya sendiri dari kelapa, karena semua jalur perniagaan terputus karena efek dari peperangan ini.
Tapi inilah kenyataan, kami semua merasa bahagia atas keterbatasan ini, menjadi petani dan hidup bersama warga yang sangat ramah. Apalagi cucu kakek Rehinaty de Raujo Teme, nama yang susah dieja oleh lidah-lidah orang Jawa seperti aku, tapi dia sangat cantik di mataku. Rambutnya yang keriting lebat, kulit yang lebih gelap dari kulitku yang sawo matang ini namun terlihat sangat bersih terawat, matanya yang belo hingga tatapannya terasa sangat menyenangkan hati.
Sungguh wanita yang sangat eksotis di mataku. Sesaat terlupakan beban-bedan yang ada di benakku. Aku benar-benar merasa beruntung bisa merasakan kehidupan seindah ini.
"Mas, kita kan udah kenal lama, dan aku merasa kita banyak kecocokan, kenapa mas gak segera meminangku aja mas...???
Padahal kakek dan warga disini sudah setuju kalo kita menikah..." ucap Rehinaty sembari mencuci baju di pinggir sungai, lalu duduk di batu besar setelah semuanya selesai.
"Itu tak mungkin Naty, jujur aku sudah punya istri dan dia sangat menyayangi aku, bahkan bayangan istriku lah yang membuat aku bangkit dari kematianku..." jelasku sembari memeras baju yang telah dibilas. Karena tugasku memang memeras setelah Naty menguceknya. Lalu aku duduk di samping Naty setelah semua cucian selesai diperas.
"Bukankah dalam agammu laki-laki berhak menikah lebih dari satu...???
Aku rela pindah keyakinan jika kita menikah nanti mas...
Dan aku juga yakin kakek pasti tak keberatan..." wajah manisnya memelas yang membuat dia makin manis.
"Aku tidak pernah berpikir ke arah situ Nat..." jelasku singkat menundukan muka.
"Baiklah kalo gitu mas, aku harap apapun yang terjadi nanti itu yang terbaik buat kita..." ucapnya pasrah sembari menatap awan yang bergumul seakan menyaksikan keserasian kami.
Tak bisa dipungkiri, Naty lah yang selama ini mengisi hari-hariku, aku sangat merasakan ketulusannya, sinar matanya menggambarkan betapa besar cintanya untukku, dan sebenarnya aku pun juga merasakan benih-benih cinta mulai tumbuh di hatiku. Cinta yang tak bisa dijelaskan dengan logika dan nalarku.
Bagaimana mungkin aku mencintai wanita yang berasal dari pihak musuhku, mungkin saja pasukan Fretilin yang aku bunuh selama ini adalah sanak saudaranya, karena sebagian besar laki-laki di kampung ini pergi menjadi pejuang Fretilin.
Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan perempuan yang berbeda dari latar belakang maupun keyakinannya, walaupun dia mulai mencoba memahami dan belajar tentang agamaku.
Bagaimana mungkin aku bisa menghianati Sumiati, istri yang selalu aku cintai dan aku pun pernah berjanji untuk setia sehidup semati dengannya.
Dan entahlah, aku tak mengarti apa yang terjadi pada hidupku ini.
"Maasss... maaasss...???
Kok jadi melamun gitu...???" suara Naty mengejutkan lamunanku.
"Oohh iyyaa... yuukk kita pulang..." aku pun segera menganggkat ember yang berisi baju-baju yang telah selesai dicuci, lalu segera berdiri mengajak Naty pulang.
***
Kini tak terasa hampir 3 tahun telah berlalu, aku mendengar kabar pasukan TNI mendapat bantuan dari Amerika Serikat, Australia dan negara-negara lain. Pesawat-pesawat tempur canggih berdatangan, senjata dan perlengkapan perang sudah mumpuni. Akhirnya pasukan Fretilin mulai berhasil ditumpas, basis-basis pendukung Fretilin pun berhasil dihancurkan, perkampungan dan wilayah-wilayah pendukung Fretilin juga diisolasi dan dibombardir, sehingga ladang dan persawaan rusak, yang mengakibatkan bencana kelaparan dimana-mana.
Tak cukup itu, pasukan TNI mulai merengsek masuk ke pedalaman-pedalaman pegunungan, tak memandang anak-anak, tua muda semua yang mendukung Fretilin dibantai habis-habisan. Aksi ini mereka namakan aksi pembersihan.
Mendengar kabar itu, aku pun merasa geram, aku seakan sangat membenci TNI padahal aku sendiri anggota TNI. Aku merasa benar-benar sudah menjadi bagian dari rakyat Timor Leste.
Hari ini, maret 1978 pasukan TNI mulai memasuki daerah-daerah pedalaman, dengan beringas mereka memporak-porandakan pemukiman di sekitar kampung kami, rumah-rumah dibakar, semua warga dikumpulkan. Disiksa diintrogasi satu-persatu untuk menunjukan persembunyian kantong-kantong markas Fretilin, jika tidak mau membuka mulut mereka langsung ditembak mati.
Ini memang perang, membunuh memang dibolehkan, tapi membunuh pihak sipil, apalagi anak-anak dan perempuan adalah tindakan keji yang tak berprikemanusiaan.
Aku memang terlahir sebagai seorang tentara, yang ditakdirkan untuk menjadi mesin pembunuh, tapi jiwa ksatria yang diturunkan dari ayahku yang membuat aku berperang dengan cara-cara ksatria pula.
Bahkan dalam ajaran agamaku dilarang keras membunuh dengan cara-cara keji seperti ini.
Saat ini aku sangat membenci TNI, aku muak strategi-strategi perang seperti ini.
Walaupun aku juga tau, pihak dari Fretilin juga melakukan hal sama demikian, membunuh dan membantai siapa saja yang memihak pada keintegrasian Indonesia.
***
Pagi ini tak seperti biasanya, ketenangan di kampung ini harus terusik oleh kedatangan tentara loreng yang tak asing lagi di mataku, mereka pasukan TNI yang melakukan penyisiran terhadap Fretelin yang masih tersisa.
"Deerrr... Deerrr... Deerrr... Deerr... Deerrr..."
suara tembakan yang bertubi-tubi mengawali kepanikan yang terjadi pada warga kampung kami.
Dengan cepat mereka mendobrak pintu-pintu rumah, menggeladah dan memaksa semuanya keluar dari rumah, semua warga dikumpulkan di tanah lapang, disuruh berbaris dengan muncong senapan yang selalu mengarah dan membidik mereka.
Aku benar-benar geram atas semua ini.
Melihat seragam TNI aku benar-benar muak. Mereka menendang dan memukuli kami jika tidak mau jongkok dan merunduk.
"Hentikaaann...!!!" seketika aku berdiri dan berteriak ke arah mereka. Saking tak kuatnya aku menyaksikan ini semua. Kesabaranku benar-benar habis.
Seketika aku ditendang langsung oleh mereka. Aku terpental jauh.
Tapi mental tentaraku kembali muncul, seakan aku tak merasakan sakit sedikit pun, apalagi gentar menghadapi mereka.
Mereka pun menodongkan senapan ke arahku. Aku tidak gentar sama sekali, bahkan penduduk kampung semua terheran menyaksikanku.
"Ayoo tembak akuu...!!!
Tembak komandanmu ini...!!!" aku berteriak ke arah mereka.
Mereka terdiam heran. Seakan mengerti arah pembicaraanku.
Lalu salah satu dari mereka yang berbadan kekar datang mendekatiku. Lantas seketika memukulku, aku yang terlelanting langsung bangkit lalu aku lepas kaosku sehingga memperlihatkan otot-ototku yang juga kekar, aku pun membalas memukulnya.
Suasanya menjadi sangat tegang, adu pukul pun tak dapat terhindarkan, sementara tentara yang lain hanya bisa diam sambil menodongkan senjata. Mereka seakan heran terhadapku, mengapa rakyat sipil seperti aku memiliki bela diri ala TNI.
Setelah laki-laki berbadan kekar itu tersungkur kalah, mereka mulai ketakutan dan melangkah mundur sambil tetap menodongkan senapannya kearahku.
"Ayoo tembak komandanmu ini...!!!
Ayoo tembak kalo kalian berani...!!!
Aku Letnat Hardi Pramono...!!!
Komandan kompi yonif 407...!!!"
Aku berteriak kencang penuh emosi, hingga air ludah pun memercik kemana-mana dengan keringat membanjiri wajah dan tubuhku.
Aku benar-benar seperti rambo dengan telanjang dada yang memperlihatkan otot-otot kekarku yang berlumuran keringat yang mengkilap.
"Baik kalo kau memang anggota dari kami, mana bukti keanggotaanmu...???" tanya salah satu dari mereka sambil tetap menodongkan senjata namun dengan wajah ketakutan. Terlihat tangannya gemetar memegang senapan itu.
Aku mendekat ke arah kakekku,
"Dimana kek dulu mengubur seragam TNI-ku...???" aku bertanya pada orang yang telah aku anggap orang tuaku sendiri.
"Didekat pohon mangga belakang rumah..." jawabnya lirih sambil mengarahkan pandangannya ke pohon besar di belakang rumah.
Aku langsung menuju tempat itu dan menggalinya.
"Lihat ini... lihatlah...!!!" aku menunjukan seragam kebesaranku yang sudah lapuk karena terkubur hampir 3 tahun.
Semua terdiam, entah apa yang ada dipikiran mereka. Tapi didalam kebekuan itu, tiba-tiba laki-laki kekar yang telah tersungkur itu bangkit.
"Yaa, aku ingat...!!!
Kamu komandan Yonif yang dikepung pasukan Fretilin 3 tahun yang lalu itu kan...???
Aku ingat sekali saat anak buahmu melintasi bukit untuk menyelamatkan diri dan bertemu pasukan kami.
Yaa, waktu itu mereka bercerita bahwa kamu adalah komandan yang rela mengorbankan nyawanya demi anak buahnya...
Kamu benar-benar ksatria Ndan..." laki-laki bertubuh kekar itu memelukku lalu menepuk-nepuk pundakmu.
"Kami bangga padamu..." laki-laki itu memberi hormat ala militer, dan diikuti semua pasukan TNI yang ada disitu.
Dengan kejadian ini, akhirnya kampung kami selamat dari pembantaian dan penghancuran, tidak seperti kampung-kampung lain yang harus porak-poranda karena dianggap basis Fretilin.
Penduduk disana pun semua terheran, tak menyangka bahwa selama ini aku yang dianggapnya bagian dari mereka, ternyata bagian dari TNI yang mereka anggap musuh dan yang mereka benci.
Tapi dilihat dari wajah mereka, setidaknya mereka tetap menganggapku sebagai penyelamat mereka.
Terutama Naty yang begitu bangga melihat aksi heroik ku, dan makin terpancar dimatanya perasaan cinta untukku.
Bahkan disaat aku harus pergi meninggalkan perkampungan itu, saat penduduk kampung bersedih, Naty lah yang wajahnya terlihat paling sedih, bahkan saat mobil jeep yang membawaku meninggalkan kampung itu makin menjauh, Naty lah yang masih bertahan dengan terus melambaikan tangan hingga aku benar-benar menghilang dari pandangannya.
Yaa, dialah orang yang selama 3 tahun ini merawatku dengan ketulusan, membangkitkan ku dari keterpurukan, membagi semua cerita dan pandangan-pandangan hidupnya padaku. Dan tak terasa ada rasa kehilangan saat aku meninggalkannya. Walaupun sesungguhnya saat ini adalah saat yang aku nanti-nantikan, saat do'a yang selalu aku panjatkan terkabulkan.
Tapi saat semua itu terjadi entah mengapa justru hatiku seakan tak ingin meninggalkan kampung itu.
"Sampai jumpa Naty, kalaulah wanita yang terbaik yang pernah aku kenal, kau wanita yang berasal dari pihak musuh namun mampu menjadi penyelamat hidupku...
Dan percayalah, suatu saat aku pasti merindukanmu...
Jaga dirimu baik-baik...!!!" gejolak batinku berperang dengan pikiranku.
***
Saat aku tiba di markas besar di kota Dili, aku disambut bak pahlawan. Berbagai penghargaan disematkan untukku.
Akupun diizinkan pulang, dan saat itulah aku merasakan kehidupan yang baru, bersiap menemui anak dan istriku, menjadi seorang suami dan ayah bagi mereka.
Aku sangat bahagia saat mengemas barang-barang bawaan ku dan bersiap diterbangkan ke kampung halaman, akhirnya aku bisa menjalani hidupku dengan damai.
*****************
*****************
*****************
"Begitulah kisah yang aku alami hingga aku sampai disini, pahit memang tapi inilah kenyataan hidup yang harus aku jalani..." kenang Pramono bercerita selama pelariannya yang tak terasa membuat air matanya menetes membasahi pipinya, begitu pula sahabatnya yang tak kuasa menahan tangis mendengar cerita perjuangan Pramono untuk bertahan hidup dan kembali.
Seketika Sumiati bersimpuh di kaki Pramono dengan tangis sesunggukan.
"Maafin aku mas... maafin aku...
Aku yang tak bisa sesetia kamu, aku yang tak bisa sesabar kamu... maafin aku atas semua ini..." tangis Sumiati pun pecah membuat suasana makin haru.
Lalu pramono memegang bahu Sumiati dan mengangkatnya untuk berdiri, Pramono yang sedari tadi duduk pun berdiri, dengan lembut mengusap air mata Sumiati, matanya memandang detil demi detil wajahnya, Pramono merasakan tak ada yang berubah dari Sumiati, semua sama seperti saat Pramono pertama kali mengenalnya, bahkan Pramono masih merasakan cinta disetiap tatapan mata sumiati.
Sumiati memegang tangan Pramono yang sedari tadi menempel di pipinya, menggenggam erat tangannya dan menciumnya penuh kehangatan, Pramono sangat merasakan penyesalah dan kesedihan Sumiati.
"Maafin aku mas... aku tak tau harus berbuat apa saat ini... aku benar-benar bingung mas, aku sangat, sangat..." belum sempat Sumiati berbicara panjang lebar, Pramono memotong ucapannya.
"Tidak Sum, tidak...
Kamu tidak pernah bersalah...
Ini semua kehendak yang maha kuasa, ini semua garisan takdir kita Sum...
Sebesar dan setulus apapun cinta kita, jika takdir berkata lain, maka semua akan terjadi sesuai garis takdir itu...
Percayalah sum, inilah takdir kita, inilah jalan hidup kita, dan aku yakin ini yang terbaik untuk kita..." dengan lembut Pramono menenangkan hati Sumiati.
"Tapi mas...???" masih nampak kegelisahan di wajah Sumiati.
"Percayalah Sum, bagaimanapun juga kamulah semangat hidupku, kamulah alasan mengapa aku bertahan sampai saat ini, dan sampai kita tua nanti...
Percayalah, ini adalah hakekat cinta yang sesungguhnya, bahwa mencintai tak harus saling memiliki..."
Mendengar kata-kata Pramono hati Sumiati mulai tenang, apalagi belaian kembutnya masih sama saat meraka menjalin kasih dimasa muda dulu.
"Aku kangen sama kamu mas..." bibir Sumiati berbisik lirih sembari menyandarkan kepalanya di dada Pramono, dan Pramono pun sengaja membiarkan mantan istrinya itu melepas kerinduannya. Pramono sangat mengerti perasaan Sumiati karena bagaimana pun juga perasaan mereka sama.
Beberapa saat kemudian, Pramono melepaskan pelukan Sumiati.
"Aku sangat mengerti perasaanmu Sum, tapi pahamilah bahwa sesungguhnya takdirmu bukan untuk aku, ada Haryo yang di ciptakan Tuhan khusus untukmu, untuk mendampingi sisa hidupmu, menemani perjalanan kebahagiaanmu..." ucap Pramono sembari menatap Sumiati, lalu memengok ke arah Haryo.
Haryo yang sedari tadi hanya terdiam termenung, kemudian dia mendekat.
"Lihatlah Suamimu ini Sum, betapa dia setia mendampingi hari-harimu, aku melihat di matanya ada cinta yang banyak untukmu..." ucap Pramono dengan tegar sambil menepuk pundak Haryo.
Akhirnya mereka pun mengusap mata dan saling tersenyum, memcoba tegar menghadapi semua yang terjadi. Mereka pun saling berpelukan bersama.
Tak berapa lama tiba-tiba sosok anak kecil berumur 4 tahunan keluar dari balik pintu kamar, sambil mengucek-ngucek matanya yang mengisyaratkan dia baru bangun tidur.
"Maaahh ada apa...???" ucapnya cedal dengan nada polos.
"Dirga Pramono..." bibir Pramono berucap lirih sembari mendekat lalu jongkok di hadapan bocah kecil itu.
"Om ini siapa kok tau nama Dirga...??? Dirga kok gak pernah liat om...???" mulut mungilnya berucap polos.
Pramono tak bisa berucap apa-apa lagi, ia terdiam menahan tangisnya, Pramono benar-benar terharu melihat anak kebanggaannya sudah tumbuh besar. Pramono pun langsung memeluknya erat-erat...
"Anakku... kamu anakku nak..." tangis Pramono pecah, dengan gugup Pramono terus memeluk dan menciumi Dirga.
"Yaa nak, dia ayah Dirga, dia ayah kandungmu nak..." Sumiati mendekat menjelaskan semuanya. Lalu mereka berdua memeluknya.
"Aku ayahmu nak...
Kamu adalah anak dari Letnan Hardi Pramono, komandan Yonif 407, kamu adalah cucu dari Soemardi Pramono pejuang kemerdekaan yang gugur dimedan perang nak...
Aku yakin, kamu akan tumbuh menjadi seorang Ksatria, karena di tubuhmu mengalir darah-darah patriotisme yang tinggi..." Pramono memberi sugesti pada Dirga.
Lalu memeluknya erat, mecoba melepas semua kerinduannya.
===========BERSAMBUNG===========
Bagaimana nasib Pramono selanjutnya...???
Apakah dia ingin meneruskan hidupnya dan menikahi Naty gadis dari tanah Timor...???
Dan bagaimana dengan kisah di hari tua mereka...???
Dijamin endingnya bakalan mengharukan...
Karena di ending cerita ini bakalan penuh konflik dan berisi tentang jawaban dari awal cerita...
Yuukk dilanjut lagi ceritanya, biar gak penasaran...!!!
Untuk ending cerita KLIK DISINI
Bagaimana nasib Pramono selanjutnya...???
Apakah dia ingin meneruskan hidupnya dan menikahi Naty gadis dari tanah Timor...???
Dan bagaimana dengan kisah di hari tua mereka...???
Dijamin endingnya bakalan mengharukan...
Karena di ending cerita ini bakalan penuh konflik dan berisi tentang jawaban dari awal cerita...
Yuukk dilanjut lagi ceritanya, biar gak penasaran...!!!
Untuk ending cerita KLIK DISINI
Prastyo Hardiano Binzah, seorang kontraktor dan pengusaha sukses di bidang property yang namanya sudah tak asing lagi di kalangan pembisnis-pembisnis property dikota metropolitan ini.
Dan kali ini mas Pras panggilan akrabnya, lagi-lagi memenangkan tender pembangunan gedung baru di salah satu kampus swasta di kota ini, saat dia datang untuk meninjau pengerjaan proyek itu, disitulah Prasetyo berkenalan dengan mahasiswi dikampus tersebut. Yang kelak akan menjadi sumber bencana dalam bahtera kehidupannya.
"Namaku Keisya..." Ucap gadis cantik nan sexy ini, sambil mengedipkan matanya dengan tatapan manja sembari menggigit bibirnya sendiri yang membuat Prasetyo langsung terpikat hati sejak pandangannya pertama kali.
Keisya namanya gadis terpopuler dikampus itu, wajahnya yang sangat cantik, rambutnya yang terurai sebahu, tatapan matanya yang menggoda dan body mulusnya yang mempesona, juga tato abstrak berwarna hitam-merah yang terlukis di pinggulnya yang selalu mengintip dari sela-sela kaos cingkrang yang selalu dipakainya, membuat hampir semua mahasiswa di kampus itu tergoda, bahkan banyak diantara mereka yang tergila-gila padanya, tak terkecuali Prasetyo.
Tapi sayangnya Keisya bukan gadis kelas ecek-ecek, dia seperti artis papan atas yang tak mau dipacari oleh cowok-cowok berkantong cekak, dia lebih memilih om-om pejabat atau pengusaha-pengusaha yang sudah benar-benar sukses. Bahkan seorang sekelas Prasetyo pun belum masuk kriteria levelnya.
Hal inilah yang membuat Prasetyo makin tergila-gila, semakin mengejarnya. Padahal biasanya Prasetyo lah yang sering dikejar-kejar gadis disekitarnya. Bagaimapun Prasetyo adalah sosok yang tampan, dengan perawakan tinggi proposional, dengan rambut cepaknya yang terkesan makin bersih, apalagi dengan kekayaannya yang cukup melimpah diusianya yang masih muda, tak heran banyak wanita yang jatuh hati padanya.
Tetapi kali ini Prasetyo harus bertekuk lutut pada gadis yang baru saja dikenalnya. Mempersembahkan seluruh hati dan segala cintanya.
"Keisya, aku sangat mencintaimu... Pliss mengertilah perasaanku ini, aku sangat membutuhkanmu..." Rayu Prasetyo sambil berteriak didepan kost Keisya. Tapi Kaisya tetap melangkah cepat meninggalkannya memasuki rumah yang ia sewa didekat kampus itu.
"Keisya...!!!" Teriaknya lagi.
Akhirnya Keisya berhenti dan kembali melangkah ke arah Prasetyo.
"Hey mas, aku tak percaya apa yang semua mas Pras ucapkan itu... Selama ini banyak kok orang seperti mas Pras ini, tapi ujung-ujungnya ternyata cowok pelit dan kere..." Ucap Keisya tanpa basa basi sambil jemarinya memainkan rambutnya yang terkesan menyeplekan ucapan Prasetyo.
"Jadi apa maksudmu Keisya...???" Tanya Prasetyo terheran.
"Iyaa mereka semua kere, gak bisa memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan hidupku yang gak murah ini... Ingat mas, di dunia ini gak ada yang gratis, semua pakai uang... Dan perlu mas Pras tau, aku lebih suka sama pejabat-pejabat yang royal...
Hhmm... Bagi aku mereka lebih menggoda... Dari pada cowok keren tapi kere..." Jelasnya.
"Lagian aku tau kok, mas Pras sudah berkeluarga juga, sama seperti om-om yang biasa mengajakku berkencan, tapi bedanya mereka berani membayarku mahal..." Imbuhnya.
Mas Pras sedikit tercengangang, terdiam sesaat.
"Ooo,,, jadi itu yang kamu pikirkan... Seperti yang orang-orang tau, uang bagiku tak ada artinya... Bahkan aku jauh lebih royal dari pejabat-pejabat itu, asal kamu mau, aku bisa berikan apa yang kamu ingankan Keisya..." Ucap mas Pras sambil menyentuh dagu Keisya dan mendekatkan wajahnya di wajah Keisya dengan senyum khasnya yang mengisaratkan ia siap memenuhi semua keinginan Keisya.
"Ini baru cowok yang gue cari..." Ucap Keisya dalam hati berbunga-bunga. Dengan mata yang berbinar-binar dan bibir yang makin menggoda.
"Oke dehh kalo begitu, ayuukk kita masuk mas, kita nikmati malam ini penuh kehangatan..." Ucap Keisya penuh manja dengan senyum yang menggoda sambil menarik dasi mas Pras menggiringnya masuk ke kost'an.
Malam itu menjadi awal dari cerita cinta terlarang, seorang gadis liar bertemu dengan laki-laki flamboyan. Permainannya yang agresif membuat Prastyo makin membara terbelenggu dalam dekapan eksotisme Keisya.
***
Cerita percintaan itu terus berlanjut. Hingga disuatu hari, setelah mereka selesai bercinta.
"Mas Pras, sebenarnya aku udah gak betah tinggal disini... Aku pingin tinggal ditempat yang lebih nyaman..." Ucap Keisya penuh manja yang masih dalam pelukan Prasetyo setelah selesai memadukan kisah cinta terlarangnya.
"Hmmm... Baiklah, nanti aku cariin apartemen yang mewah sepesial buat kamu yang paling cantik..." Jawab Prasetyo santai sambil menyolek hidung Keisya dengan jari telunjuknya, lalu mendekap erat tubuh mulusnya yang masih tanpa busana.
Prasetyo adalah sosok laki-laki yang flamboyan, walaupun mempunyai hubungan gelap dengan banyak perempuan diluar, tetapi dia tetap bisa menyembunyikannya dari sang istri.
Sebagai sosok pengusaha sukses, segala macam kehidupan malam pernah dia coba, dan baginya kehidupan ini adalah suatu kesenangan dunia yang tiada batasnya.
Tapi dari itu semua, hanya Keisya lah yang mampu membuat dia bertekuk lutut, semua permintaannya tak mampu dia tolak, perhiasan, apartemen, mobil mewah, kucuran dana setiap minggunya mencapai puluhan juta dan masih banyak lagi, karena baginya, tidak ada yang lebih bisa memberikan kepuasan batinnya selain cinta dari Keisya.
***
Waktu berjalan begitu cepat, satu tahun telah berlalu. Keadaan telah banyak berubah, Prasetyo yang terkenal sangat cerdas sekarang tak ubahnya seperti kerbau yang dicocol hidungnya.
Dia sudah tak sedinamis sebelumnya, langkahnya dikendalikan oleh cinta yang membutakan matanya. Pandangannya tak lagi tajam kedepan, hanya mampu sebatas paha dan selakangan.
Jarinya tak mampu lagi menunjuk tegas arah bisnisnya, tetapi hanya mampu sebatas merada dada dan puting-puting payudara.
Bibirnya tak mampu lagi berbicara indah saat presentasi didepan kliennya, kini bibirnya hanya bisa untuk melumat bibir-bibir sexy yang merah merona.
Dia terkungkung oleh nafsu dunia yang menyesatkan. Kini bisnisnya hancur berantakan, proyek-proyek yang dikerjakannya tak lagi menghasilkan seperti yang diharapkan para kliennya, tender-tender yang biasa dimenangkannya kini harus rela berpindah ke tangan perusahaan-perusahaan pesaing. Dan akhirnya kini perusahaannya dinyatakan pailit.
***
"Keisya, akhir bulan ini apartemen yang kita tinggali ini sewanya akan habis, aku tak mampu lagi memperpanjang sewanya... Dan sekarang kamu bebas, aku gak akan cemburu kamu akan bergaul dengan siapa, silahkan om-om mana yang akan kamu dekati, aku janji gak akan melarangmu lagi..." Ucap Prasetyo dengan wajah yang tertunduk tak mampu lagi menatap mata Keisya.
"Kenapa mas, apa mas Pras sudah gak cinta lagi sama aku...???" Tanya Keisya terkejut.
"Gak Keisya, sampai saat ini aku tetap cinta sama kamu, tapi keadaannya sekarang sudah berubah, perusahaanku telah pailit Keisya, aku sudah tak punya apa-apa lagi, jangankan untuk memenuhi kebutuhanmu, untuk keluargaku sendiri aku sudah tak sanggup..." Jawab Prasetyo dengan nada lemah.
"Apa mas...???" Ucap Keisya tak percaya. Semberi meletakkan bokongnya dikasur empuk di apartemen itu, menggigit jarinya dengan lemas. Sementara Prasetyo tetap berdiri lemah di hadapannya.
Sejenak semua terdiam, bibir-bibir mereka seolah kelu membeku, kamar mewah yang biasanya diisi gairah-gairah liar, kini dingin bak di kutup utara.
"Yaa,,, aku sudah tak punya apa-apa, sekarang aku izinkan kamu mencari laki-laki lain yang lebih kaya, yang mampu memenuhi semua keinginanmu..." Ucap Prasetyo sembari melangkah lesu meninggalkan kamar apartemen itu.
***
"Aku minta cerai...!!!
Ternyata kepercayaanku selama ini mas sia-siakan... Teganya kamu punya istri lagi diluar sana, aku gak nyangka mas...!!!" Bentak Melly, istri Prasetyo setelah mengetahui bahwa suaminya telah nikah sirih dengan Keisya.
Ternyata kepercayaanku selama ini mas sia-siakan... Teganya kamu punya istri lagi diluar sana, aku gak nyangka mas...!!!" Bentak Melly, istri Prasetyo setelah mengetahui bahwa suaminya telah nikah sirih dengan Keisya.
Istri yang selama ini tulus menemaninya, sosok yang selama ini penurut kini berubah seperti api yang berkobar yang sukar dipadamkan.
"Maafin aku Mell... Aku menyesal... Sekarang aku sadar bahwa kamulah yang terbaik untukku..." Prasetyo menangis tersedu-sedu, bersimpuh dihadapan istrinya.
"Wanita mana mas yang sanggup dimadu, diduakan cintanya... Apalagi sekarang bisnismu hancur karena pelacur itu... Apa yang bisa kamu banggakan lagi mas...???" ucapnya lagi penuh emosi.
"Braakk!!!" Mely membanting pintu rumah dengan membawa koper dan barang-barangnya. Wanita yang telah 3 tahun lamanya menjalani mahligai rumah tangga, kini harus pergi meninggalkan dirinya yang telah menghianati cintanya.
Prasyetyo tersungkur dalam kehancuran, seakan kakinya lemah tak mampu lagi mengejar langkah istrinya yang pergi meninggalkannya...
"Melly,,, jangan tinggalin aku...." teriak Prasetyo lirih yang diiringi air matanya yang tak mampu terbendung lagi.
Penyesalan yang datang diakhir cerita adalah hal yang sering terjadi. Padahal kasih sayang seorang istri yang tulus dalam menemani perjalanan hidup kita adalah sesuatu hal yang sangat berharga, yang seharusnya kita jaga. Namun bagi sebagian laki-laki kadang hal itu tak pernah terlihat, karena mata kita telah tertutup oleh gemerlap dunia, namun saat kegagalan menjegal langkah kita, barulah kita tersadar bahwa kita telah menyia-nyiakan istri yang selalu setia memeluk kita.
***
Yaa, ini adalah akhir dari kisah cinta yang dialami Prasetyo, penyesalan menghantui hari-harinya adalah buah dari apa yang ia lakukan sebelumnya.
Ditengah kehancurannya, dia harus kehilangan istri dan juga harus rela melepas istri sirihnya, Keisya. Wanita yang mampu membangkitkan gairah cintanya namun juga yang telah menghancurkan pundi-pundi kehidupannya.
"Aku tak bisa menyalahkan istriku yang pergi meninggalkan aku, karena aku telah menghianatinya dengan kebodohanku...
Aku juga tak bisa menyalahkan Keisya, karena bagaimanapun juga diantara kami tak ada ikatan cinta yang tulus, Keisya mau denganku hanya karena hartaku, saat aku tak memiliki apa-apa lagi sudah sepantasnya dia juga pergi..." Ucap hati Prasetyo.
Aku juga tak bisa menyalahkan Keisya, karena bagaimanapun juga diantara kami tak ada ikatan cinta yang tulus, Keisya mau denganku hanya karena hartaku, saat aku tak memiliki apa-apa lagi sudah sepantasnya dia juga pergi..." Ucap hati Prasetyo.
Pergolakan batinnya kian menjadi-jadi, penyesalan dan kesedihan mampu membuat Prasetyo makin terpuruk kedalam lembah kehancuran yang makin dalam.
Sudah hampir seminggu Prasetyo tak keluar rumah, dia hanya mengurung diri dikamar, bahkan dia sering melupakan rasa lapar yang menggerus perutnya. Hari-harinya diisi dengan lamunan-lamunan semu, sesekali merintih memanggil istrinya.
"Melly... Maafkan aku..." Ucap bibirnya lirih penuh lara.
Yaa, nama Melly lah yang sering iya panggil dalam lamunannya, merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan memeluk guling yang mengingatkan ia pada sang istri tercinta. Di tempat tidur itulah dia biasa menghabiskan hari-harinya dulu bersama istri tercinta sepulang bekerja, canda tawa yang dulu dirasakan kini sirna entah kemana.
"Melly,,, kamu dimana sayang, aku merindukanmu disini... Aku butuh kamu disaat-saat seperti ini... Melly, pliisss temui aku lagii..." Ucap bibir Prasetyo seperti orang gila, merintih berbicara sendiri bersama kesendiriannya.
Prasetyo masih tetap berharap sang istri kembali dalam pelukannya, selalu memanggil nama Melly di sela-sela lamunannya. Walau semua itu terasa sia-sia.
***
Setelah sekian lama hanya terebah ditempat tidur, Prasetyo mulai bangkit dari kasur empuknya, mencoba berdiri dengan tubuh yang lemah dan makin rapuh, karena sudah sekian lama dia tak pernah menghirup udara diluar rumah.
Bergegas bangun dari tempat tidur, Kakinya mulai memijak lantai kamar yang berdebu tak seperti dulu yang selalu bersih, teringat mbok Rasmi yang selalu setia membersihkan disetiap jengkal sudut rumahnya. Tapi mbok Rasmi sudah tak disini, teringat saat dia berbincang untuk terakhir kalinya.
"Mbok,,, mulai sekarang mbok boleh mencari pekerjaan lain, mbok boleh ninggalin aku sendiri disini..." Ucapnya penuh keputus-asaan.
"Tapi Den, mbok masih betah disini menemani Aden..." Jawab mbok Rasmi.
"Aku sudah tak punya apa-apa lagi mbok, mbok harus mencari orang lain yang bisa memberikan penghasilan pada mbok Rasmi, karena aku tau keluarga mbok di kampung masih membutuhkan kiriman dari mbok Rasmi..."
Ucap Prasetyo menjelaskan.
Hari itu adalah hari terakhir mbok Rasmi tinggal di rumah ini, membuat kesendirian Prasetyo makin terasa sendiri. Membuat debu-debu bersuka cita datang berbondong-bondong memenuhi semua sudut ruangan di rumah ini.
Prasetyo mulai berjalan meninggalkan tempat tidurnya membuka pintu kamar mandi dengan pelannya, mendekatlah dia di depan cermin yang tertempel di dinding.
Sejenak dia mulai termenung di depan cermin itu, menatap wajahnya yang tak sebersih dulu, wajahnya mulai tumbuh rambut-rambut halus disekitar bibir dan pipi bawahnya. Yaa,,, Kumis, bewok, jambangnya mulai tumbuh liar tak beraturan. Dia teringat dahulu, dirinya yang selalu rajin mencukur kumis dan bewoknya di kamar mandi hotel.
Dia melihat wajahnya persis seperti dalam iklan pisau pencukur rambut di televisi. Setelah keluar dari kamar mandi, kehadirannya pasti disambut gadis cantik yang sudah siap diatas kasur dengan seprey putih dengan tubuh bugil nan molek yang hanya tertutup selimut putih khas hotel berbintang. Yang akan mengantarkannya dalam kepuasan birahi yang memuncak.
Tapi kini, setelah keluar dari kamar mandi hanya bantal guling yang bisu yang selalu setia menunggunya diatas kasur itu.
Lalu Prasetyo melanjutkan langkahnya, membuka pintu kamar pelan tak bertenaga, menuju dapurnya yang kotor tak terurus lagi, dia mulai memanaskan air dan menyeduh kopi sendiri.
Teringat dahulu saat-saat berada dipuncak kesuksesan, saat pelayan cafe kelas atas membuatkan kopi spesial untuk dia dan rekan-rekan bisnisnya, diiringi musik jaz yang sayu-sayu yang mengiringi perbincangan membicarakan proyek-proyek besar dengan omset milyaran.
Tapi kini dia harus menyeduh secangkir kopi sendiri, membawanya ke teras depan rumahnya dengan tangannya sendiri.
Di teras depan rumahnya Prasetyo duduk menyandarkan tubuhnya di kursi sandar yang terbuat dari rotan di depan rumah.
Teringat dahulu saat dia duduk disofa empuk di ruang karaoke dengan ditemani gadis pemandu lagu yang tubuhnya syarat terbuka penuh nafsu yang menggoda hasratnya untuk mencumbu. Bahkan sering lantunan lagunya terlupakan karena berdurunya lumatan bibir gadis-gadis pemandu lagu itu yang tanpa jeda melumat bibirnya penuh nafsu.
Teringat dahulu saat dia duduk disofa empuk di ruang karaoke dengan ditemani gadis pemandu lagu yang tubuhnya syarat terbuka penuh nafsu yang menggoda hasratnya untuk mencumbu. Bahkan sering lantunan lagunya terlupakan karena berdurunya lumatan bibir gadis-gadis pemandu lagu itu yang tanpa jeda melumat bibirnya penuh nafsu.
Tapi kali ini dia hanya sendiri di kursi rotan dengan bersandar dan menerawang pada masa-masa itu. Yang membuat dirinya yang sendiri makin merasa sendiri.
Hanya secangkir kopi dan sebatang rokok yang menemaninya saat ini.
Setelah sebatang rokok menempel di bibirnya, dipantiknya korek api untuk menyalakan rokok kesukaannya. Teringat dahulu saat dia tak pernah menyalakan rokoknya sendiri, karena pasti ada gadis-gadis clubing yang selalu menyalakan korek api untuknya, dan lalu mengajaknya bergoyang turun melantai dihiasi sinar gemerlap di kegelapan, diiringi suara musik disko yang dimainkan oleh DJ kenamaan, bahkan tak jarang DJ memutarkan lagu khusus untuknya karena bagi sebagian orang yang ada di sana, nama Prasetyo Hardiano Binzah sudah tak asing lagi bagi mereka.
Uang jutaan rupiah sudah biasa dihabiskan dalam semalam, baginya kesenangan adalah segalanya.
Yaa,,, lagi-lagi dia dihadapkan kenyataan yang pahit, sekarang tak ada lagi lampu gemerlapan yang menyilaukan itu, yang ada sekarang hanya secercah sinar matahari yang menembus dari sela-sela dedaunan dari pohon rimbun yang tumbuh didepan rumahnya.
Jangankan gadis-gadis cantik, teman-temannya dulu yang selalu mengajaknya berpesta pun kini entah kemana, handpone yang dulu sering berdering kini berubah membisu tanpa suara bagai sebongkah batu bata yang siap tersusun menjadi dinding-dinding penjara yang siap mengurungnya, tak ada yang menghubunginya, tak ada yang memperdulikannya.
"Kini aku bukan siapa-siapa lagi, tak ada yang mau menemaniku apalagi peduli, aku bagai seonggok tubuh mati yang bernyawa...
Yaa,,, seonggok tubuh mati yang masih bernyawa..." Ucapnya dalam hati.
"Aku benar-benar rapuh saat ini, aku merasa tak pernah seputus-asa ini..." Ucapnya lagi.
Disela-sela kegalauannya, disela-sela keputusasaannya di teringat satu hal, pada Dia yang tak pernah meninggalkannya walau dirinya selalu meninggalkannya...
Pada Dia yang tak pernah melupakannya walau dirinya sering melupakannya...
Yaa,,, Dia adalah sang Pencipta alam semesta, Tuhan yang selalu memberi anugerah pada setiap hambanya. Tuhan yang maha Pengasih lagi maha Penyayang...
Seketika hatinya terenyuh, dia tak mampu membendung air mata penyesalannya lagi, lalu sekuat tenaga ia segera bangkit dari tempat duduk, bergegas pergi mendekat keran air yang ada di belakang rumahnya, dibasuhnya muka lengan dan bagian-bagian tubuhnya seperti yang disyaratkan dalam berwudhu, air yang membasahi kulitnya sangat terasa menyegarkan, menyejukkan dan memadamkan dari bara api yang selama ini membakar jiwanya. Diambilnya sarung dan sajadah yang entah kapan terakhir kali dipakainya.
Dalam sujudnya dia meletakkan seluruh hiruk-pikuk beban hidupnya, dalam tangan yang menengadah dan memanjatkan do'a-do'a seakan semangatnya terisi kembali seperti handpone yang tercolok dengan charger untuk mengisi batre yang telah lama habis.
Batinnya kembali tenang, udara segar yang mengalir melewati celah-celah fentilasi yang begitu kecilpun seakan terasa mampu menyegarkan paru-parunya.
Tubuhnya yang masih terbungkus sarung dan baju koko, tak terasa terebah dan terlelap diatas sajadah itu.
Dalam lelap tidurnya karena terlepas beban hidup yang membelenggu selama ini, tiba-tiba handpone-nya berbinyi "tluutt,,,Tluutt..." Dua kali dentingan handpone-nya mampu membuatnya terjaga dari tidur pulasnya.
Setelah diambilnya handpone itu, ternyata ada satu sms yang meminta untuk segera dibaca...
"Mas aku ada didepan rumah, tolong buka pintunya..." Sms dari wanita yang selama ini dikenalnya membuat Prasetyo langsung bergegas bangkit dari tidurnya, melangkah dengan semangat menuju pintu didepan rumah.
Mungkin inilah jawaban dari do'a yang ia panjatkan, seorang wanita yang dirindukannya kembali, yang akan mengobati kerinduan hatinya, menjadi penawar sakitnya.
Setelah dibukanya pintu itu, dihadapannya telah berdiri sosok wanita pujaan hatinya dulu, wanita yang menemaninya selama ini.
Seketika bibirnya tersenyum bahagia setelah melihat wanita itu berdiri tepat di hadapannya. Tak lama wanita itu langsung memeluk tubuh Prasetyo yang mulai kurus dan lemah.
"Maafin aku mas Pras, aku janji gak akan ninggalin kamu lagi..." Ucap wanita itu sambil mendekap erat tubuh Prasetyo.
Bibir Prasetyo tak mampu berucap apa-apa lagi, air matanya meleleh tak terasa, membanjiri kering batinnya yang tersiksa, dia hanya mampu memeluk erat tubuh pujaan hatinya.
Setelah berapa lama, wanita itu melepaskan pelukannya, dan memandangi wajah Prasetyo yang mulai lusuh penuh rambut-rambut halus yang memenuhi sebagian wajahnya.
"Kamu tetap ganteng mas, meski bewokan seperti itu..." Ucap wanita itu sambil tersenyum yang makin merekah, yang membuat hati Prasetyo makin berbunga-bunga.
Merekapun saling menatap begitu dalam dan lama, melepas kerinduan ini yang sekian lama terpisah.
"Keisya,,, akhirnya aku bisa memelukmu lagi hari ini... Aku sangat merindukanmu Keisya..." Bibir Pras berucap lirih. Yang diikuti anggukan Keisya yang mengisyaratkan ia mengerti apa yang dialami Prasetyo saat ini.
"Karena itulah mas aku datang kesini, aku tau kini kamu dalam keterpurukan, sementara istrimu pergi meninggalkanmu, jadi aku ingin menemanimu dan tak akan membiarkanmu dalam kesendirian mas..." Ucap Keisa sambil memeluk tubuhnya lagi.
"Ta'tapi aku sudah tak punya apa-apa lagi Kei..." Ucap Pras sambil ternbata-bata.
"Iya mas aku tau, tapi aku sekarang sadar, bahwa aku lebih membutuhkan cintamu dari pada hartamu...
Aku sadar bahwa hanya mas Pras lah yang mampu membuat hatiku bahagia, yang bisa membuatku benar-benar merasa nyaman...
Aku tak peduli lagi atas kemewahan dunia, hidup bersamamu lah yang mampu membuatku bahagia mas..." Ucap Keisa penuh cinta.
Aku sadar bahwa hanya mas Pras lah yang mampu membuat hatiku bahagia, yang bisa membuatku benar-benar merasa nyaman...
Aku tak peduli lagi atas kemewahan dunia, hidup bersamamu lah yang mampu membuatku bahagia mas..." Ucap Keisa penuh cinta.
"Seperti yang mas Pras selalu ucakan padaku, Bahwa hidup itu harus tetap optimist, harus tetap semangat apapun keadaannya...
Seperti yang mas Pras sering ucapkan, Jika aku menemukan mas Pras dalam keputus-asaan berarti itu bukan mas Pras...
Dan aku ingin orang yang ada dihadapanku ini adalah mas Pras, Prasetyo Hardiano Binzah...
Dengan embel-embel nama Binzah dibelakang nama lengkapmu, yang menandakan bahwa kamu adalah terlahir dari generasi Binzah yang terkenal ulet dan pantang menyerah itu...
Seperti yang mas Pras bilang, mas Pras adalah penemerus dari klan Binzah yang kuat, kamu harus seperti ayahmu atau kakek-kakekmu dulu...
Kuat, pemberani dan ulet...
Kuat, pemberani dan ulet...
Dan kamu adalah mas Prasku yang dulu, yang penuh gairah hidup...
Dan lagi umur mas Pras baru 33 tahun, itu artinya jalan kita masih panjang mas, kita pasti bisa melalui ini semua..." Ucap Keisa memberi semangat sembari meletakkan kedua tangannya di pipi Prasetyo.
Mengelus-elus kumis, jambang dan bewoknya yang mulai tumbuh di sebagian wajahnya.
Dan bagi Prasetyo, sentuhan itulah yang mampu menenangkan hatinya.
Aku ingin menjadi istrimu yang sah, aku ingin melahirkan anak dari benihmu mas, yang kelak akan menjadi generasi-generasi pengusaha yang hebat di negeri ini..." Imbuh Keisya meyakinkan Prasetyo.
Seketika Prasetyo memeluk tubuh Keisya dengan erat.
***
Akhirnya mereka memulai lagi awal dari cerita yang sesungguhnya, cerita dari ketulusan cinta, bukan cinta karena harta. Dalam dunia ini, semua bisa saja terjadi, semua bisa saja berubah. Dan manusia-manusia yang mau berubahlah mereka yang mampu memenangkan pergulatan hidup ini, yang mampu menemukan kebahagiaan yang sejati...
Semoga cerita ini mampu memberi inspirasi bagi kita semua... Semoga...
Terimakasih sudah membaca,
Saya Ahmad Pajali Binzah
Terimakasih sudah membaca,
Saya Ahmad Pajali Binzah
================SEKIAN===============
Baca juga cerpen tentang petualangan:








