Sendang Drajat, sumur keramat yang berada dipuncak gunung Lawu itu menjadi awal dari kisah kejadian-kejadian yang akan menimpa Satriyo.
Satriyo, pemuda paruh baya yang sudah tujuh hari berada disekitar sumur Sendang Drajat. Bukan untuk semedi atau ngalap berkah seperti para peziarah-peziarah pada umumnya. Tapi sekedar melepas penat dari hiruk pikuk kehidupan dunia.
Umur satriyo memang sudah tak muda lagi, bulan depan genap 37 tahun. Namun hidupnya sering dihabiskan untuk keluar masuk hutan, bahkan tak jarang dia tinggal di hutan berminggu-minggu lamanya.
Perawakannya yang tinggi proposional, dengan rambut gondrong ikal sebahu, kumis dan bewoknya yang dibiarkan tumbuh liar, tatapan matanya tanjam seperti elang, gaya pakaiannya pun mencerminkan seorang pendaki gunung pada umumnya, selalu mamakai kaos oblong dan celana belel yang membuat penampilannya nampak kumel, namun dengan pembawaan yang tenang, sabar dan berwibawa membuat teman-teman sesama pendaki selalu segan dan menghormatinya.
Turun naik gunung dan keluar masuk hutan sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya, tinggal di daerah-daerah pedalaman pun sudah terbiasa, tak jarang dia mengembara di pedalaman Kalimantan, Sulawesi, Sumatra dll. Tetapi dengan begitu bukan berarti dia tak punya anak istri, bukan pula berarti dia seorang pemalas yang tak punya pekerjaan. Walau penampilannya nampak kumuh dan urakan sebenarnya dia seorang pekerja keras, dia pengusaha yang cukup sukses di daerahnya. Peternakan sapi, butik, konveksi, rumah makan dan pabrik produksi tahu-tempe hanya sebagian dari usahanya, banyak lagi bisnis-bisnis lain yang ia geluti.
Semua bisnisnya dia serahkan pada istri, adik dan saudara-saudaranya, tapi dia selalu rutin memantau setiap perkembangannya, bahkan tak jarang saat salah satu bisnisnya mengalami masalah, dia turun langsung mengambil alih kepemimpinannya. Bisa dipastikan saat dia menangani masalah di bisnisnya baru beberapa hari saja bisnisnya langsung kembali stabil, karena keputusan-keputusannya selalu tepat mengenai sasaran. Begitu pula Satriyo mengatasi masalah pada bisnis-bisnisnya yang lain.
Bahkan dia selalu berkata pada adik-adiknya,
"Jangan kuatir bisnis-bisnis kita akan mengalami kemunduran, selama aku dan generasiku masih ada, maka selama itu pula bisnis kita akan selalu terus maju dan berkembang, karena jiwaku selalu bersama bisnis-bisnis itu...
Dan tugas kalian hanyalah menjalankannya...
Jika ada masalah, segera panggil aku... percayalah masalah itu akan takut melihat kehadiranku..."
Begitulah kata-kata yang selalu ditanamkan pada adik dan saudara-saudaranya
Satriyo memang sosok yang cerdas tapi pakem, dia jarang bicara tapi kecerdasannya sangat luar biasa.
Walau kekayaannya yang melimpah tidak membuat dia sombong atau angkuh, tetapi justru membuatnya lebih bersahaja, dermawan dan rendah hati. Bukan mobil mewah atau pakaian branded yang dia pakai, justru motor butut dan baju-baju kumel yang selalu ia kenakan.
Begitulah sosok Satriyo, sosok pengusaha sukses namun tetap bersahaja. Begitu pula saat dia mendaki gunung Lawu ini, dia hanya mengendarai motor Honda CB100 bersama adik sepupunya yang masih kuliah semester dua, Antok namanya.
***
Dan kali ini sudah tujuh hari dia berkutat di puncak gunung Lawu, mulai dari warung mbok Yem sampai warung pak Prapto ia tinggali. Meraka sudah seperti keluarganya sendiri. Bahkan tak jarang dia menyendiri di petilasan-petilasan yang ada di puncak Lawu ini.
Malam ini saat dia duduk menyendiri mencari ketenangan jiwa di pendopo yang terletak di samping sumur Sendang Drajat yang terkenal keramat itu.
Dengan ditemani segelas kopi dan sebatang rokok yang membuat mulutnya selalu mengebul bak cerobong kereta Tawang Jaya.
Tiba-tiba nuansa mistis begitu terasa, pekatnya malam menambah horor suasana, angin pun bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang seakan berbisik ke telinganya dan berkata,
"Sudah saatnya pulang Satriyo..."
Seketika Satriyo langsung terkejut dan bangun dari lelap lamunannya. Dilihatnya kanan kiri ke semua penjuru Sendang Drajat itu, seakan dia tak percaya atas apa yang dia dengar. Dan sekali lagi angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang seakan berbisik dengan suara mirip nenek tua, jelas sekali.
"Cepatlah pulang nak, aku akan menuntunmu dan menjagamu..."
Seketika Satriyo berdiri, dengan tatapan matanya mencari dari mana asal sosok suara itu. Dan suasana pun menjadi sangat mistis, apalagi aura keramat yang dipancarkan dari sumur Sendang Drajat makin menjadi-jadi.
Tak seperti biasanya, sosok Satriyo yang pemberani kini seperti ketakutan yang sangat-sangat, bahkan untuk memandang kearah Sendang Drajat pun dia tak tak punya nyali.
Satriyo segera bergegas menuju warung pak Prapto yang tak jauh dari situ, dibangunkannya Antok yang sedang tertidur pulas.
"Ayo Tok kita pulang...." ucap Satriyo agak tergesah sambil mengemas baju dan perlengkapannya kedalam rangsel.
"Masa' malem-malem koyo ngene arep bali kang...???" jawab Antok yang masih ngantuk dengan logat bahasa khas Pekalongan.
"Aku ada urusan, dan kita harus segera pulang..." jawabnya lagi sembari merapikan ranselnya.
"Yowes kalo begitu kang, tapi aku mau pipis dulu..." jawab Antok sembil melangkah keluar menuju kamar mandi yang ada di samping warung pak Prapto.
***
Malam itu pula mereka bergegas turun, tak lupa sebelumnya dia pamit dan itung-itungan membayar makanan pada pak Prapto.
Dengan langkah yang lebih cepat dan suasanya yang tak seperti biasa, bau-bau dupa dan kemenyan selalu semerbak sepanjang jalan membuat aura mistis semakin terasa, pancaran sinar rembulan yang mengintip dari sela-sela dedaunan atap hutan semakin membuat suasana semakin terasa angker.
Yaa, tak bisa dipungkiri bahwa gunung Lawu ini masih dianggap sakral oleh masyarakat Jawa, bahkan yang biasanya Antok berjalan di belakang kini dia meminta agar selalu didepan. Mereka berdua terus melangkah turun menyusuri jalur setapak di kegelapan hutan.
Tepat pukul 03.00wib mereka sampai di gapuro basecamp. Suasana yang sebelumnya terasa mencekap kini berubah menjadi tenang. Mereka pun langsung masuk ke basecamp dan istirahat.
Karena saking lelahnya, tak terasa mereka langsung terlelap dalam tidurnya.
***
Dan paginya, tepat pukul 07.00wib mereka terbangun dan bergegas melanjutkan perjalanan pulang.
Tas rengsel pun ditata di belakang motornya dan diikat dengan posisi dibelakang joknya, persis seperti para pemudik yang hendak mudik lebaran.
Setelah semua rapi mereka pun segera memacu motor bututnya dan seperti biasa Antok yang didepan, karena Satriyo lebih senang dibelakang menikmati pemandangan. Hanya sesekali saja saat Antok kelelahan baru Satriyo menggantikannya didepan.
Perjalanan menuruni lereng ke arah barat melewati Tawang Mangu, disinilah mata Satriyo berbinar menikmati jengkal demi jengkal keindahan lereng pegunungan. Dengan pemandangan ladang yang nenghijau juga hutan-hutan yang merimbun
Dan perjalanan terus ke arah barat menuju kota Solo lalu dilanjutkan ke Pekalongan.
Sesampainya di Solo mereka istirahat disekitar keraton untuk mencari makan. Setalah makan mereka istirahat di bawah pohon beringin yang rindang tepat disamping gerbang keraton Surakarta.
"Kang kenapa siih kita semalem terburu-buru turun, tapi setelah turun kita malah santai-santai disini, bukannya tetep tancep gas biar cepat sampai rumah..." tanya Antok heran.
"Hmm... gak ada apa-apa Tok, aku merasa sudah terlalu lama di puncak, jadi pingin segera turun aja... dan kenapa kita istirahat disini, karena perjalanan menggunakan motor itu maksimal 2 jam harus berhenti istirahat... sangat berbahaya jika kita memaksakan terus berjalan..." jawab Satriyo tenang sambil menghisap sebatang rokok lalu menyebulkan asapnya dengan santai melewati mulut dan hidungnya.
"Tapi kenapa kali ini kita pakai motor sii kang...??? Bukannya biasanya waktu ke Semeru, Arjuna dan gunung-gunung lainnya kita naik kereta...???" tanya Antok lagi.
"Yaa,,, karena naik motor kita lebih santai dan bisa jalan-jalan sesuka hati...
Tapi pendakian menggunakan motor itu tidak disarankan untuk jarak jauh luar propinsi...
Jarak yang terlalu jauh akan sangat berbahaya karena setelah mendaki biasanya tubuh kita mengalami kelelahan yang hebat..." jawabnya dengan nada tenang.
Karena bagaimana pun juga mendaki menggunakan sepeda motor tidak dianjurkan untuk jarak jauh diatas 200km.
***
Setelah istirahat cukup, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan kembali, melewati jalan protokol kearah barat. Dengan kecepatan sedang mereka melintasi jalan kota yang padat.
Ditengah perjalanaan, tiba-tiba.
"Braakk..." motor mereka kesrempet mobil dan terjatuh.
Sontak orang-orang yang ada disana langsung berbondong-bondong datang menolongnya. Satriyo yang terpelanting pun segera bangun, dia melihat adiknya terkapar di aspal ditengah jalan dan sedang dikerubuti orang-orang. Sontak Satrio berteriak sambil bangkit mendekat.
"Antok...!!!!" teriak Satriyo sambil mendekat kearah Antok yang masih digotong orang-orang yang ada disana.
Antok yang digotong lalu dibawa ke tepi jalan tepat di depan toko kelontong. dengan tangan yang berdarah-darah. Lalu tak berapa lama Satriyo mendekatinya.
"Kamu gak apa-apa kan Tok...???" tanya Satriyo panik.
"Aku rak popo kang..." jawab Antok sambil membersihkan darah yang ada dilengannya. Dan salah satu orang yang disana memberikan obat merah padanya.
"Iya mas dia gak apa-apa cuma lecet dikit aja tangannya, masalah motor masih bisa dibetulin dibengkel ntar, yang penting masih bisa buat jalan..." jawab salah satu warga disana.
"Syukurlah... makasih pak atas pertolongannya..." jawab Satriyo dengan menganggukkan kepalanya menandakan ia sangat berterimakasih yang mendalam.
"Oiya mas itu mobil yang nyrempet disana coba mas samperin, sebelum orangnya kabur..." ucap warga yang lain lagi.
Satriyo pun segera mendekati mobil yang berhenti sekitar jarak 10 meter. Nampak sang pemilik mobil sedang mengecek bodi mobilnya.
setelah Satriyo mendekat lalu mencoba berbicara pada sang pemilik mobil.
"Maaf bu gimana tadi kronologisnya, itu adik saya terluka..." ucap Satriyo membuka pembicaraan.
"Lhoo... apa urusannya dengan saya.. wong kami ndak salah kok... yaa gak tante...???" ucap laki-laki muda pemilik mobil dengan nada ketus. Sambil minta diiyakan oleh tantenya yang semobil.
Kedua pemilik mobil itu bukanya menanggapi baik-baik, tetapi malah pasang wajah angkuh dan sombong.
"Mas dan ibu ini seharusnya punya etika, seharusnya kalau terjadi kecelakaan setidaknya hampiri dulu korbannya, dan saya tidak suka anda berbicara dengan tangan bersila dada seperti itu..." jawab Satriyo kesal.
Lalu pemilik mobil itu menurunkan tangannya tapi masih tetap bergaya angkuh.
"Hee,,, jangan sembarangan dengan kami yaa... kami punya kenalan banyak anggota..." ucap ibu pemilik mobil dengan nada mengancam.
"Lha terus...???" jawab Satriyo tenang.
"Baik kami akan panggil anggota, kita urus di kantor..." ibu itu mengancam dengan mencoba menelpon seseorang. Bisa dipastikan ibu itu memang bukan orang sembarangan, penampilannya dengan rambut pirang dan kacamata yang selalu melingkari matanya, cincin dan jam tangan mewah, dan logat bahasanya yang selalu minta dihormati, persis seperti istri-istri pejabat dinegeri ini.
Satriyo lantas kembali ke tempat Antok yang sedari tadi duduk di tepi jalan, lalu dia memesan teh manis di warung angkringan tak jauh dari situ.
"Pie kang...???" tanya Antok sambil menahan rasa sakitnya.
"Ora popo, pemilik mobil itu wonge agak sombong, biarin aja kita ikuti maunya..." jawab Satriyo sambil melihat kedua pemilik mobil itu sibuk menelpon kesana kemari dan dengan wajah panik.
Sementara Satriyo dan Antok tetap santai menikmati teh manis dan gorengan di warung angkringan.
Dari sini kita dapat melihat, dimana seseorang yang terbiasa hidup terhomat akan sangat takut jika keluar dari lingkaran kehidupannya apalagi menghadapi masalah diluar, lalu dia pasti akan berusaha meminta bantuan dan mengerahkan segala kemampuannya.
Sementara itu kita juga dapat melihat dimana seseorang yang lebih bersahaja dan sederhana akan lebih tenang dalam menghadapi masalah yang menghadang.
***
Sekitar 20 menit telah berlalu, akhirnya mobil polisi datang ke TKP, lalu mengajak mereka menyelesaikan dikantor polisi terdekat.
Setelah sampai di kantor polisi mereka dipertemukan untuk didamaikan.
"Maaf sebelumnya, apa bisa diperkenalkan dulu nama anda-anda ini...???" ucap pak polisi membuka pembicaraan
"Saya ibu Tutwuri Setianingsih, dan ini keponakan saya Hendrik..." jawab ibu itu.
"Saya Satriyo pak, dan ini adik saya Antok..." jawab Satriyo tenang.
"Oke saya tanya sama saudara Antok dulu sebagai yang mengendarai sepeda motor, jadi bagaimana kronologisnya mas Antok...???" tanya polisi yang berbadan kurus.
"Begini pak, saya naik motor dari arah timur mau menyalip mobil ibu ini, tapi saat saya sudah hampir berada didepan, tapi mobil ibu ini tidak memberi saya jalan sama sekali, tetap melaju dengan kecepatannya. Otomatis keseimbangan motor saya tidak bisa dikendaliakan, dan terjadilah insiden itu..." Antok menjelaskan kronologi dengan bahasa yang agak ngedok Jawa.
"Apa benar seperti itu ibu Tutwuri...???" tanya polisi pada ibu pemilik.
"Yaa dia mau nyalip saya, tapi saya tidak tau kejadian pastinya karena semua terjadi begitu saja, tapi yang pasti mobil kami berjalan tidak dalam kecepatan tinggi..." ucap ibu Tutwuri.
"Jadi posisi ibu ada di sebelah kiri...???" tanya polisi berbadan kurus.
"Iya benar, tapi kami mengendari mobil kami dengan kecepan stabil..." jawab Hendrik agak ngotot.
"Walaupun kecepatan stabil seharusnya anda memberi jalan saat ada yang mau mendahului, kalau gak mau didahului yaa ambil jalur kanan... Jangan asal stabil aja masa bodoh ada yang mau nyalip atau nggak yang penting terjang terus...
Dan saya dalam posisi benar karena menyalip dari kanan..." Antok juga ngotot.
"Memang seharusnya mobil berada dijalur kanan kecuali kalau mau berhenti atau mau belok kiri saja..." ucap polisi berbadan kurus seakan membenarkan pihak Antok.
Saat polisi berbadan kurus itu mau melanjutkan pembicaraannya tiba-tiba datang polisi berbadan gendut dengan perut yang menyembul kedepan.
"Maaf kalo boleh tau gimana kronologisnya ini..." tanpa basa-basi polisi gendut memotong pembicaraan.
Setelah dijelaskan dari awal, lalu polisi gendut itu berbicara panjang lebar dan membawa-bawa pasal undang-undang seakan tidak memberi jeda bagi yang lain untuk berbicara.
"Menurut hemat saya, mobil memang seharusnya ada di jalur kanan, tapi untuk mobil yang kecepatan rendah juga tidak salah ada di jalur kiri... jadi ibu ini tetap tidak bisa diberatkan secara undang-undang, apa perlu saya bacakan pasalnya...???" ucap polisi gendut panjang lebar seakan sekuat tenaga membela ibu Tutwuri.
"Tidak perlu pak...!!!" jawab Satriyo singkat memotong pembicaraan.
"Jadi dalam kasus ini ibu Tutwuri tidak bisa disalahkan dalam hal hukum, tapi biasanya dalam hal ini kalau ibu Tutwuri memberi bantuan atau kebaikan gak ada salahnya, tapi sifatnya suka rela, gak ada paksaan dalam hukum..." ucap polisi gendut tetap membela. Namun nampak kedua polisi itu mengisyaratkan pada ibu Tutwuri untuk memberi bantuan pada korban.
"ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun..." jawab ibu Tutwuri dan Hendrik pun juga mengiyakan dengan logat angkuh.
"Oke bu, kalau itu jalan pikiran ibu... tetapi logikanya jika mobil ibu dalam kecepatan rendah seharusnya mobil ibu mudah untuk didahului, tapi kenyataannya mobil ibu seakan tidak memberikan kesempatan pada kami untuk mendahului, warga disana sebagai saksinya...
Mungkin ibu tidak bisa disalahkan dalam hal hukum tetapi kami juga tidak dapat disalahkan dalam hal hukum juga, karena kami menyalip dari kanan...
Dan seharusnya dalam satu insiden yang kedua-duanya tidak bisa disalahkan, sementara ibu tak mengalami kerugian apa-apa, dan dipihak lain mengalami luka dan motornya juga rusak, apa ibu tak punya perasaan untuk sekedar peduli..." ucap Satriyo yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Dan ingat bu, waktu saya datang menghampiri ibu, apa yang saya ucapkan...???
Apakah saya menuntut anda...???
Apakah saya meminta bantuan kepada anda...???
Saya hanya datang menanyakan kepedulian ibu, seharusnya ibu punya etika saat terjadi insiden setidaknya ibu datang menjenguk keadaan kami yang terluka...
Bukan berhenti untuk mengecek mobil anda sendiri lalu berdiri dengan angkuhnya...
Bahkan warga dan orang-orang yang ada disana pun yang tak ada sangkutannya lebih peduli dan mau menolong kami...
Sementara anda yang bersangkutan hanya berdiri di mobil anda dengan kesombongan anda..." Satriyo menambahi.
Sejenak semua yang ada di sana terdiam.
Lalu ibu itu bicara lagi.
"Yang penting saya tidak bersalah dan sekali lagi, ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun..."
"Saya ulangi, ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun..." ibu Turwuri berbicara dengan angkuhnya.
"Iya memang dalam hal apapun ibu Tutwuri gak bisa dituntut sedikitpun..." ucap polisi gendut membela ibu itu.
"Maaf, dari awal siapa yang menuntut ibu, saya sama sekali tidak menuntut apapun...
Bahkan ibu sendiri yang sibuk menelpon kesana kemari melapor polisi...
Sementara kami hanya santai... kami hanya ingin etika dari ibu untuk datang ke kami menanyakan keadaan kami karena bagaimana pun juga kami sebagai korban..." jawab Satriyo tegas.
"Baik lah kalau begitu, karena ibu ini tetap teguh pada pendiriannya, jadi apakah mas-mas ini tidak keberatan...???" jawab polisi kurus mencoba menengahi.
"Dari awal saya tidak nenuntut apapun pak, cuma saya tidak suka dengan sikap ibu ini yang sangat keras hati..." jawab Satriyo.
"Yaa sudah... yang penting kita selesaikan dengan kekeluargaan... kita semua harus legowo..." ucap pak polisi kurus mendinginkan keadaan.
"Baik kalau begitu, saya minta dibuatkan surat pernyataan kalau kalian tidak akan menuntut kami..." ibu itu meminta polisi membuatkan surat pernyataan.
"Hhhmmm ibu masih takut kami menuntut...??? Nampak sekali ketakutan ibu yang seharusnya tak perlu ditakutkan... karena kami tak sejahat ibu..." jawab Satriyo santai dengan senyum khasnya seakan menertawakan sikap ibu itu.
Ibu itu lantas keluar bersama polisi gendut. Diluar nampak mereka asyik ngobrol sekaligus ingin menunjukan bahwa ibu itu mempunyai kedekatan dengan pejabat-pejabat kepolisian.
Benar saja, banyak anggota polisi yang datang langsung bersalaman dengan ibu Tutwuri, saking tunduknya pada ibu Tutwuri bersalaman pun seakan mereka seperti mau mencium tangannya.
Padahal sebagai aparat penegak hukum, tak sepantasnya menghormati seseorang terlalu berlebihan selain kepada atasan atau komandannya.
Tak seharusnya seorang penegak hukum menunjukkan kedekatannya dengan orang masih dalam kasus hukum.
Dan seharusnya, semua orang mempunyai kesetaraan yang sama dimata hukum.
Tapi inilah yang sering terjadi di negeri kita, orang yang mempunyai kekayaan dan kekuasaan akan cenderung kebal terhadap hukum.
***
Saat ibu Tutwuri diluar, sementara didalam kantor, nampak polisi sedang sibuk mengetik surat pernyataan, Satriyo menatap Hendrik dengan tajamnya. Dan Hendrik pun tak sengaja juga menatapnya. Nampak keduanya saling bertatapan sangat lama.
Dalam pandangan Hendrik yang melihat tatapan Satriyo yang sangat tajam itu, tiba-tiba dia melihat wajah Satriyo berubah menjadi sosok harimau dan mengaung tepat dihadapannya.
Seketika Hendrik berteriak ketakutan, seperti kesurupan.
"Haaahhh...!!! Haaahhh...!!! Haaahhh...!!!" teriak Hendrik histeris dengan kedua tangannya memegangi kepalanya.
Ibu Tutwuri langsung masuk mendekat pada Hendrik.
"Kamu kenapa Hen... kamu kenapa...???" ucap ibu itu ketakutan.
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang, kencang sekali.
Setelah berapa lama suasana kembali tenang.
Satriyo dan Antok pergi meninggalkan kantor polisi itu.
Mengendarai motor antiknya lagi, dengan gaya gembel jalanan. Menerjang jalan menikmati sepoy angin yang menerpa tubuhnya disepanjang jalan.
Tak berapa lama nampak mobil mewah yang dikendarai Hendrik dan ibu Tutwuri itu melintas menyalip motor butut mereka berdua.
Hingga sampai di pertigaan jalan tol, mobil itu belok ke kanan menuju jalan tol ke arah Semarang, sementara Satriyo dan Antok tetap berjalan lurus menuju utara.
Dijalan tol tersebut ibu Tutwuri nampak kesal dan terus berbicara pada Hendrik keponakannya:
"Orang-orang kumel kaya' gitu harus diberi pelajaran... dari penampilannya saja mereka pasti pengangguran yang gak punya pekerjaan... mereka mungkin berniat mau memeras kita, dasar gembel...!!!" Ibu itu terus ngomel terus, sementara Hendrik tetap diam melamun sambil nyetir.
"Hen... hendrik... kamu kenapa gak biasa-biasanya melamun terus seperti itu... ada apa kamu Hen... lagian tadi kamu juga teriak-teriak histeri sendiri dikantor polisi... ada apa Hen...???" ibu itu mencoba mengintrogasi.
"Aku takut tante, aku takut...
Laki-laki tadi menurutku bukan manusia biasa... dia siluman harimau... aku melihat tatapan matanya tajam sekali, dan tiba-tiba wajahnya berubah menjadi Harimau yang menyeramkan... mengaum didepanku tante... aku takut tante, sampai sekarang wajah itu tetap terbayang diotakku tante..." ucap Hendrik panik.
Mobil mereka melaju dengan kencangnya di jalur tol, satu jam kemudian mereka mulai ambil kiri dan keluar dari jalan tol.
Tak berapa lama mereka keluar mereka melaju mengendarai mobilnya masih dalam kecepatan tinggi menuju jalan utama
Hendrik terus melamun terbayang sosok harimau itu, hingga tiba-tiba Hendrik melihat sosok harimau itu lagi mengaum tepat didepan matanya. Seketika Hendrik berteriak bak kesurupan.
"Haaahhh...!!! Haaahhh...!!! Haahhh...!!!" Hendrik berteriak histeris lagi sambil kedua tangannya memegangi kepalanya.
Mobil pun lepas kendali dan menabrak pohon di pinggir jalan...
"Brakkk...!!!" mobil itu menghantam keras sekali, bemper bagian depan ringsek dengan mesin yang mengepulkan asap yang tebal.
Nampak ibu Tutwuri dan Hendrik berlumuran darah didalam mobil itu.
"Hen, kamu gak apa-apa kan Hen..." ibu itu berucap sambil menggoyang-goyang tubuh Hendrik, tak berapa lama Hendrik tersadar.
"Iya tante aku gak apa-apa... tapi kakiku kejepit tante... aaahhh..." ucap hendrik sambil merintih.
"Toloongg...!!! Toloongg....!!!" ibu Tutwuri terus teriak minta tolong.
Mereka terjebak dalam mobil itu sangat lama, mobil-mobil yang lewat pun seakan tak menghiraukan mereka berdua, tak ada warga atau orang yang kebetulan lewat, karena keluar dari tol memang jarang terdapat rumah warga atau warung-warung pinggir jalan. Jalur ini jalur sepi.
Karena bisa dipastikan, setiap terjadi kecelakaan yang selalu sigap menolong adalah warga setempat atau pemotor yang kebetulan lewat, akan jarang terjadi pengendara mobil yang ikut berhenti, apalagi peduli.
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang, kencang sekali.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba kebetulan ada motor yang lewat dan berhenti didepannya.
Pengendara motor itu berhenti dan turun dari motornya lalu mendekati mobil nahas tersebut yang dari jauh terdengar teriakan minta tolong. Dengan asap yang masih terus mengebul.
Setelah mendekat laki-laki itu berkata,
"Maaf bu, seperti yang ibu tadi katakan... ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun...
Sekali lagi, ini bukan kesalahan saya dan saya tidak bisa membantu apapun..." laki-laki itu ternyata Satriyo yang berucap tenang sambil tersenyum.
"Dan semoga saja kenalan-kenalan ibu yang katanya pejabat dan aparat itu mau membantu ibu saat ini... semoga saja..." lalu Satrio melangkah dengan pelan dan gagahnya meninggalkan mobil itu dengan santainya, kakinya melangkah pasti menggenakan sepatu gunung dengan celana jeans rombeng dan jaket belel, gayanya persis seperti koboy yang berjalan di dataran kering di Amerika sana.
Satriyo bukan orang yang kejam, tapi dia hanya ingin memberi pelajaran pada orang-orang yang dianggapnya sombong melebihi batas kewajaran.
"Heeyy siapa sebenarnya dirimu...???" tanya ibu Tutwuri sambil menahan rasa sakitnya.
Seketika Satriyo menghentikan langkahnya dan berkata:
"Aku hanya pendaki gunung Lawu..."
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, dengan aroma dupa dan kemenyan khas Sendang Drajat, angin itu bertiup kencang, kencang sekali.
============SEKIAN============
By: Ahmad Pajali Binzah
Foto: Chicco Jerikho
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
Tepat jam 7 pagi kami mulai bergegas meninggalkan pos Pangasinan ini, dengan diawali do'a dan semangat yang kembali membara setelah terlelap di bawah pohon Edelweis selama satu jam lebih.
Perjalanan menuruni sedikit lembahan yang dilanjutkan trek yang sangat terjal, disisi kiri-kanan jalur ditumbuhi edelweis yang saat ini sedang berbunga dan merekah. Membuat jalur yang curam pun terasa lebih menyenangkan.
Terlebih buat gue pribadi, dengan tangan yang selalu menggandeng Ayuni, apalagi saat ditanjakan yang curam, gue selalu menarik tangannya dari atas dan langsung memeluknya sesampainya dia berhasil sampai atas.
Puncak memang sudah terlihat sejak dari pos Pangasinan tadi, tapi saat dilalui ternyata begitu melelahkan, dan membutuhkan waktu hampir satu jam perjalanan.
Memang puncak Ciremai tidak bisa disepelekan.
Tetapi, setelah perjuangan yang begitu melelahkan, setelah pergulatan dengan debu dan keringat yang menjadi lumpur di kulit lalu mengering terpapar, setelah nafas yang menderu-deru yang mengiringi langkah demi langkah, akhirnya kini tepat jam 8 lebih 5 menit gue dan team berhasil menggapai puncak tertinggi gunung Ciremai.
Seketika kami berlima langsung sujud syukur di titik tertinggi di Jawa Barat ini. Setelah sujud dan mengucap Allahu Akbar sekenceng-kencengnya, kami saling berpelukan menandakan kebahagiaan setelah pergulatan lama dalam pencapaian ini.
Semua letih dan lelah terbayar sudah, keindahan yang tersaji mampu melunasi perih getir penggapaian puncak ini.
"Ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Tak berapa lama bendera segera dikibarkan, bendera Merah Putih berada dititik tertinggi sementara bendera Binzah berkibar bersama dibawahnya. Dan tak lupa kami langsung berfoto bersama, Mengabadikan moment-moment yang sangat berharga ini.
Botol coca cola sebagai kuncian segera dibuka menandakan kesuksesan dalam pendakian.
Segar rasanya meneguk coca cola yang masih berbuih di ketinggian ini, tanpa sadar Ayuni terlupakan yang sedari tadi berdiri menyaksikan keindahan alam dari puncak gunung ini.
Lalu aku mendekatinya,
"Selamat yaa,,, sekarang kita sudah di puncak... dan kita telah berhasil..." ucap gue sembari menyodorkan botol coca cola untuk Ayuni.
"Makasih mas Ambonk, gue bener-bener terharu, seneng banget bisa berdiri disini... ini yang pertama kalinya buat gue..." ucap Ayuni dengan tatapannya memancar ke segala sudut keindahan di puncak gunung ini.
"Dan semoga akan ada puncak-puncak yang akan teraih kelak oleh pijakan kakimu... karena keindahan Indonesia gak cuma ada disini..." jawab gue memotong ucapan Ayuni.
Saat gue sedang asyik ngobrol dengan Ayuni tiba Adrian datang.
"Bonk yuuk kita ikut upacara disana..." ajak Adrian sambil menunjuk di dataran yang ada di sekitar puncak yang sudah dipenuhi para pendaki yang akan melakukan upacara memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia yang ke 70 tahun.
Kami pun bergegas menuju tempat upacara, dan bergabung dengan barisan.
Karena gue ketua team, otomatis gue berada didepan dari kelompok gue. Dan tak berapa lama upacara pun dimulai.
Semua terjadi sangat hikmat apalagi saat lagu kebangsaan indonesia raya dikumandangkan.
Bergetar hati gue menyaksikan bendera merah putih berkibar di puncak gunung ini, seketika batinku berkata dengan tegasnya,
Disini, dipuncak gunung ini, salah satu titik tertinggi di negeri ini, tepat di bawah kibaran sang merah putih, aku dan rekan-rekan sesama pendaki, berdiri tegap menyanyikan lagu kebanggaan negeriku "Indonesia Raya" dengan penuh antusiasme...
Seketika anganku terbang di era 70 tahun yang lalu, dimana para pendahuluku berjuang gigih merebut kemerdekaan dari tangan penjajah yang membelenggu...
Berjuang dengan segenap jiwa dan raga hingga titik darah penghabisan,
berharap pemimpin-pemimpin setelahmu bisa meneruskan pejuangan....
Tapi kenyataannya...???
Pemimpin-pemimpin di era saat ini, mengisi kemerdekaan yang engkau wariskan dengan bergelimang fasilitas kemewahan, mengumbar nafsu keegoisan...
Seakan mereka lupa sikap patriotisme yang engkau ajarkan,
Atau mereka sengaja melupa dan menganggap kisahmu telah usang dimakan zaman...???
Tetapi,
Jangan bersedih pahlawanku...!!!
Jangan menangis para pendiri bangsaku...!!!
Lihatlah...!!!
Liahatlah kami masih berdiri disini...
Berdiri tegap tak terkoyah walau angin selalu menggoyah...
Mungkin langkah kami tak sekokoh langkahmu saat mengusir para penjajah itu...
Tapi setidaknya kami bukan mereka yang buta oleh kekuasaan dan kemewahan semu...
Karena kami adalah generasi-generasi yang siap meneruskan perjuanganmu dengan sikap patriotisme...
Puncak Ciremai 17 agustus 2015
***
Tiba2 ada seseorang yang nyolek tangan gue sambil ngomong,
"Woy bro, upacaranya udah selesai dari tadi kalee...
Ngapain lu masih berdiri aje dengan tangan yg masih hormat gitu...???
Ngelamun mulu lu...
Noohh yang lain pada ngetawain... Hahahaa..."
Ucap Aldi ngeledek, ngasih tau bahwa temen2 pendaki yang lain yang dari tadi ngliatin gue yang berdiri hormat di bawah bendera.
"Ups, sori bro... Gue keasyikan ngelamun, hehehee..." Jawab gue sambil cengar-cengir...
Yaa, begitulah gue.
Kalo udah ngelamun lupa deh segalanya. Tapi gue tetep bangga jadi diri sendiri, tanpa ada yang harus ditutup-tutupi atau berlaga sok cool atau sok ganteng. Karena kekonyolan gue yang membuat temen-temen gue merasa nyaman bereng gue.
Setelah makan dan ngopi, santai, dan ngobrol ngalor ngidul entah kemana, tak terasa kami sudah 3 jam berada di puncak ini, dan kini saatnya bersiap untuk turun.
Perjalanan turun pun kami lalui dengan santai, sambil menikmati pemandangan lereng utara. Semua terasa lengkap dengan tangan gue yang masih menggandeng Ayuni.
"Ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Setelah 2 jam perjalanan turun akhirnya sampai juga di pos Batu Lingga tempat dimana temen-temen gue yang lain. Seketika Sapot yang dari tadi telah menunggu kedatangan kami, langsung memeluk gue.
"Selamat sobat... gue bangga sama lu..." ucap Sapot sambil memeluk gue dan kemudian memeluk yang lain.
"Alhamdulilkah Pot perjalanan berhasil. Kita telah mengibarkan bendera merah putih dan bendera BINZAH di puncak tertinggi gunung Ciremai...." jawab gue bangga.
"Alhamdulillah... syukur kalo gitu, gue ikut bangga..." jawab Saput sambil menepuk-nepuk pundak gue.
"Oiya, seletah sesampainya kita disini, secara resmi kepimpinan gue serahin ke elu lagi Pot..." ucap gue sambil menyodorkan lipatan bendera.
"Oke kalo begitu, gue terima lagi..." jawab Sapot singkat.
Dan tak lama gue ngobrol, tiba-tiba Tiar yang sedari tadi duduk di depan kompor langsung teriak.
"Woy kawan sini dulu laah... apa lupa sama kawanmu ini..." ucap Tiar sambil menyeduh kopi dengan nada bercanda.
"wuuiiihhh... udah sembuh aje lu... gimana kabar kaki lu yang keseleo...???" jawab gue sambil mendekat.
"Alhamdulillah Bonk, udah lumayan enakan nih karena pijitan dari lu... dari tadi udah gue coba jalan-jalan di sekitar tenda ini, walau masih pincang tapi yang penting udah bisa diajak jalan..." jawabnya dengan nada senang.
Dan kami pun berkumpul mengitari kompor yang selalu memasak air untuk menyeduh kopi dan mengisi kembali gelas-gelas yang mulai tiris karena selau diseruput sang empunya sembari ngobrol santai.
Akhirnya kami lengkap berkumpul lagi setelah sekian lama terpisah karena tugas dalam team pendakian yang berbeda.
"Woy bro, ada kabar gembira nih..." ucap Sapot dengan semangatnya.
"Apa bro kabar apa bro...???" jawab Adit sedikit penasaran.
"Iya apa Pot ada kabar apa...???" Gendut menimpali makin penasaran.
"Begini kawan-kawan, setelah ditinggal kalian ke puncak, di tempat ini terjadi jalinan asmara yang sangat romatis bak Arjuna dan Srikandi nya... hahahaa..." jawab Sapot sedikit ngeledek.
"Emang siapa Pot yang baru Jadian...???" tanya Adrian makin penasaran.
"Si Tiar akhirnya jadian sama Vitha bro, setelah sekian lama terkapar dan dirawat sama perawat yang bernama Novitha Adriani alias Vitha... hahahaa..." jawab Sapot tanpa basa basi.
"Hahahhaa... cie... cie..." seketika semua pada ngeledek Tiar.
Sementara Tiar dan Vitha pun hanya senyum dan tersipu malu.
Tetapi entah kenapa hati gue seakan hancur mendengar kabar itu, kenapa cemburu masih merajai jiwa gue...??? Padahal gue sadar cewek secantik dan selincah Vitha gak mungkin bersanding dengan gue, dan itu sangat mustahil. Tapi rasa cemburu ini tetap tak bisa gue sembunyiin.
Sementara yang lain pada sorak sorai gue cuma bisa termenung, gak bisa nyembunyiin perasaan ini.
Tapi ditengah kegalauan hati gue, tiba-tiba Ayuni yang sedari tadi duduk disamping gue langsung menggenggam tangan gue. Seakan dia tau perasaan gue dan seakan dia juga bilang,
"Jangan kuatir mas Ambonk, masih ada gue disisi lu saat ini.."
Seketika bibir gue kembali tersenyum dan kegalauan ini pun segera terobati. Dan gue lebih merasa nyaman dengan Ayuni, dia gadis yang baik, yang selalu mengerti keadaan gue, penampilannya pun apa adanya. Dan disisinya lah gue merasa bahagia.
"Ayuni, gadis berkerudung nan ayu mempesona..." kata hati gue sambil memandang wajahnya.
***
Tepat jam 2 siang setelah makan siang dan tenda telah dirapihkan, kami mulai bergegas melanjutkan perjalanan turun meninggalkan pos Batu Lingga ini.
Perjalanan pun terasa lebih menyenangkan karena gue dengan Ayuni seakan sudah semakin sehati. Sepanjang perjalanan kami selalu bergandengan tangan, seperti sepasang kekasih yang belum resmi menjalin kasih.
"Ini sungguh pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Tapi menjelang petang tiba-tiba kabut datang dan tak berapa lama hujan turun begitu lebatnya walau dimusim kemarau. Mungkin benar kata orang, di gunung Ciremai ini hujan bisa turun kapan saja bahkan di musim kemarau.
Dan hujan membuat jalur yang terjal semakin licin, ditambah malam yang mulai gelap mebuat kami sering terperosok seperti main plosotan pada anak-anak TK.
Setelah berunding akhirnya kami putuskan untuk mendirikan tenda lagi dan bermalam di jalur ini. Dan kebetulan di sekitar sini ada tenda pendaki lain juga diantaranya ada tenda ranger.
Tenda segera dibangun, namun hujan masih saja turun, membuat suasanya menjadi sangat kacau.
Ditengah kepanikan dan ketergesah-gesahan mendirikan tenda, tiba-tiba Ayuni jatuh pingsan karena kedinginan.
"Ayu'...." gue berteriak dan langsung mendekat, memapahnya masuk ke tenda Ranger yang kebetulan mempersilahkan untuk masuk ke tendanya.
Seketika Sapot mendekat,
"Ayuni kenapa Bonk, kenapa dia..." tanya Sapot panik, karena bagaimana pun juga, Ayuni masih sepupunya.
"Gue juga gak tau Pot, dari tadi dia duduk kedinginan, sementara yang lain sedang sibuk mendirikan tenda..." jawab gue panik.
"Yaudah kita urus Ayuni, biar segera sadar... gue takut dia kena hipotermia, ini sangat berbahaya..." jawab Sapot sembari mengosok-gosok telapak kakinya.
"Pot biar Vitha gantiin bajunya Ayu' yang basah, biar diganti yang kering, kita tunggu diluar aja, sebelum tubuhnya makin kedinginan... dan kalian semua selesaiin mendirikan tenda nya, dan setelah itu ganti baju yang kering juga, karena cuaca sangat dingin..." ucap salah satu Ranger memberi arahan.
Setelah semua memakai pakaian kering, gue, Vitha, Sapot dan para Ranger disana segera memberi pertolongan pada Ayuni dengan menggosok-gosok telapak kaki dan tangannya. Sementara yang lain memasak air hangat di tenda yang satunya.
Tak berapa lama Ayuni siuman, tapi dia masih menggigil kedinginan. Ranger yang lebih berpengalaman memberi perintah agar Ayuni diselimuti sleeping bag, gue pun segera mengambil sleeping bag dan memberikan padanya, lalu ranger tadi juga memerintahkan agar Vitha memeluknya dalam satu sleeping bag dan sama-sama telanjang agar tranfer panas tubuh dari Vitha menghantar ke tubuh Ayuni.
Segera para laki-laki keluar tenda dan memberi kesempatan pada Vitha untuk memberikan pertolongan pada Ayuni.
Setelah keadaan Ayuni mulai membaik, dan air hangat pun sudah siap, segera dimasukan air hangat itu ke dalam botol lalu dibungkus dengan kaos atau handul dan diletakan dibagian ketiak, leher dan pangkal paha, Ayuni dalam kondisi yang masih terbungkus sleeping bag. Tubuhnya makin hangat.
"Kenapa gak diletakkan di jari atau telapaknya aja mas..." tanya Gendut pada ranger.
"Kalo botol diletakkan di jari, darah yang dingin akan terpompa masuk ke jantung dan otak, justru itu sangat berbahaya... jadi botol harus diposisi ketiak, leher dan sela-sela paha..." jelas ranger itu secara ilmiah.
Setelah kondisi Ayuni benar-benar membaik dan mulai bisa diajak komunikasi, kami semua terasa lega dan tak lupa kami langsung memberikan teh hangat padanya.
Dan suasana tenda pun serasa lebih hangat dan damai dari sebelumnya.
Alhamdulillah akhirnya semua baik-baik saja.
Setelah semua membaik, kami pindah ke tenda kami sendiri yang sudah rapi berdiri.
Setelah malam semakin larut dan rasa kantuk mulai menyerang kami, akhirnya tepat jam 10 malem kami terlelap dan istirahat.
***
Dan paginya setelah sarapan dan olahraga peregangan otot, tepat jam 9 kami berkemas dan melanjutkan perjalanan turun.
Tak lupa kami mampir ke tenda ranger dulu yang semalem membantu kami. Untuk sekedar pamit dan mengucapkan terimakasih.
Perjalanan turun pun dimulai, lereng-lereng yang curam membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian, dan setelah berjalan begitu lama, akhirnya kami sampai di pos pendaftaran lagi... alhamdulillah...
Lega rasanya bisa memasuki perkampungan lagi, setelah sekian hari berkecimpung dengan hutan belantara dan bejibaku dengan debu dan lumpur di jalur yang sangat terjal.
Dan tanpa diduga sebelumnya, ternyata setiap pendaki yang turun, di pos pendaftaran ini, para pendaki dihadiahi sertifikat sebagai kenang-kenangan atau sebagai bukti pendakian gunung Ciremai.
Setelah makan siang di warung dekat pos pendaftaran, kamipun bergegas melanjutkan perjalanan pulang. Tak lupa kami sempatkan mampir ke gedung bersejarah Linggarjati. Disini terdapat taman yang indah, kami sempatkan berkeliling ditaman itu.
Jika di taman seindah ini bersama Ayuni, hati ini serasa ingin bergoyang dan lalu bernyayi lagu-lagu india, dan diiringi musik hindustani dan gue juga membayangkan para sahabat gue juga ikut joget sambil menabur bubuk warna-warni.
Aaah, tapi sayang ini bukan dalam film bollywood, ini kisah nyata gue.
Tapi apapun itu gue tetep ngerasa bahagia.
"Ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Setelah turun sampai di jalan raya, kami segera naik bus jurusan Jakarta, dan di bus inilah kenangan yang yang tak terlupakan dalam hidup gue, gue duduk berdua bareng Ayuni, di bangku sebelah kiri baris ke 5 dari depan. Di perjalanan kami isi dengan canda tawa dan bercerita tentang keindahan-keindahan alam di negeri Indonesia. Dan yang bikin hati gue bahagia luar biasa, saat Ayuni tertidur dipundak gue, dak dik duk rasanya, bahkan kami tertidur bersama dengan begitu dekatnya.
Tak terasa jam menunjukan pukul 10 malem, dan bus yang kami tumpangi telah sampai di terminal Pasar Rebo. Kami pun bergegas turun, dan disinilah kami saling bertukar nomor handpone.
"Yaa, ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Tapi saat ini, setelah semua berpisah menuju rumah masing-masing hati gue merasa sepi, dan baru beberapa detik berpisah dengan Ayuni tapi rasanya udah kangen seperti berhari-hari tak bertemu.
Lalu gue duduk di bangku sambil menunggu angkot menuju rumah gue, tapi di hati gue merasa ada yang kurang.
Yaa, gue baru teringat lagi kalo cerriel gue ilang entah kemana...???
Seketika pikiran gue panik, pusing mikirin tenda yang dari minjem itu...???
"Aaahh gaswat nih, gimana cara njelasinnya nih...???" gumam hati gue panik.
Tapi ditengah kepanikan yang melanda, tiba-tiba handphone gue berbunyi, setelah gue angkat.
"Haloo,,, assalamualaikun...
Apa bener ini mas Refli Ambonk...???" tanya seorang laki-laki dari telpon.
"Iya ini gue Ambonk, maaf ini siapa yaa...???" jawab gue penasaran.
"Ini gue Supri, maaf gue kemaren pas mau ke Ciremai via Palutungan, gak sengaja ada cerriel yang kebawa kelompok gue..." jawabnya sambil menerangkan kronologisnya.
"Yang bener mas...??? Alhamdulillah... makasih mas..." jawab gue riang.
"Oiya mas tapi gimana mas tau nomor hp gue...???" tanya gue lagi.
"Kan di gantungan resletingnya ada tulisan nomor HP nya... oiya posisi mas Ambonk dimana nih, kalo gue lagi di bus sebentar lagi masuk terminal Pasar Rebo..." jawab dia.
"Oohh kebetulan gue juga baru nyampe pasar rebo mas, gue tunggu di depan pintu gerbangnya ya mas... sebelumnya makasih banget nih mas..." jawab gue antusias.
Yaa, akhirnya kegalauan ini terkhiri, ternyata gantungan kunci itu memberikan manfaat yang sempurna. Bener kata Adit, cerriel itu bukan diambil orang, tapi hanya kebawa kelompok lain tanpa sengaja, dan sejatinya sesama pendaki itu saudara...
Dan sebagai saudara, jika menemukan sesuatu pasti akan berusaha mengembalikannya. Dan saat ini gue telah membuktikannya.
Semua yang gue alami dalam pendakian ini, membuat bahagia dan berkesan selama hidup gue.
"Yaa, ini bener-bener pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
================SEKIAN===============
NB: cerita ini diilhami dari kisah nyata sahabat saya Refli Ambonk, dan foto-foto diatas diambil dari koleksi pribadi yang bersangkutan dan dari berbagai sumber. Jika ada foto yang menampilkan merk suatu produk (tas & air minum) bukan berarti kami bermaksud promosi atau ada maksud lain, ini hanya ilustrasi untuk menggambarkan dari cerita yang dimaksud.
Terimaksih telah membaca...
=====================================
Untuk awal cerita KLIK DISINI
"Ayoo kita angkat bareng, disana ada shelter yang aman buat berteduh..." perintah Sapot yang kemudian temen-temen yang lain dengan sigap mengangkat tubuh Tiar.
Setelah sampai di bangunan shelter yang agak luas, tubuh Tiar dibaringkan dengan beralaskan matras.
"Yang sakit yang mana Tiar...???" tanya gue.
"Pergelangan kaki sini Bonk..." jawab Tiar sambil menunjuk ke arah kaki kirinya.
"Ooohh jangan kuatir, kalo sakitnya di pergelangan biasanya hanya terkilir biasa, tapi kalo di ruas tulang, bisa jadi itu patah tulang, sangat berbahaya dan harus segera dievakuasi turun...." jawab gue santai karena kebetulan nenek gue emang tukang pijit keseleo yang sudah terkenal dikampung.
"Jadi gimana nih Bonk... apa perlu kita tandu turun ke basecamp atau kita minta pertolongan ranger di basecamp...???" tanya Vitha yang juga ikut panik.
"Dalam kondisi seperti ini, biasanya ranger enggan melakukan evakuasi, mereka akan berangkat jika kondisinya darurat, jika hanya keseleo atau hal-hal yang belum dianggap darurat mereka bisaanya gak merespon laporan tersebut..." jawab Adrian yang sudah hafal betul karakteristik ranger di gunung Ciremai ini.
"Lantas gimana nih kalo begitu.." tanya Gendut yang juga ikut-ikutan panik.
"Jangan kuatir, untuk keseleo seperti ini, gue masih bisa nanganin..." jawab gue sok ahli pijit.
"Oke, kita langsung aja praktekin yang diajarkan nenek gue dan sekaligus gue juga pernah liat di acara dr. Oz di tivi. Begini caranya:
Luruskan kaki, rileks dan buka sepatu Anda kemudian tarik ujung kaki dengan cara melakukan penekanan ujung ujung jari ke arah atas.
Lalu suruh si penderita jongkok, Namun tumit pada bagian belakang diangkat.
Jangan lupa kompres pada bagian yang terkiliir atau cedera dengan air dingin menggunakan handuk basah.
Setelah itu kita ikat kaki yang keseleo dengan perban atau kain agar persendiannya tidak bergeser lagi...
Dan usahakan dia istirahat jangan banyak bergerak selama 15 jam..." gue memberi penjelasan sekaligus mempraktekkan ilmu pemijatan yang gue dapet dari nenek.
Dan gak lama kemudian semua tindakan medis ala dr. Oz dan perpaduan ala nenek gue kelar juga.
***
"Oke, lebih baik kita segera mendirikan tenda, sebagian membangun tenda sebagian lagi memasak...
Untuk rencana selanjutnya kita breafing nanti setelah tenda dan masakan selesai..." perintah Sapot selaku ketua team.
Sembari membangun tenda gue terus memperhatiin Vitha yang dari tadi terus menemani Tiar yang terbaring sakit, gue merasa Vitha memang orangnya perhatian ke semua orang bukan cuma gue aja, dan benar ternyata gue selama ini cuma kege'eran... nyatanya Vitha lebih perhatian sama Tiar...
Setelah 30 menit kemudian tenda sudah berdiri dan semua makanan telah tersaji, setelah acara makan selesai, kami pun melanjutkan dengan obrolan yang membahas masalaah kami.
"Gimana nih Pot, perjalanan mau dilanjutkan apa besok kita turun aja...???" tanya Gendut membuka obrolan.
"Bagaimana pun juga pendakian ini harus berhasil sampai puncak, apapun yang terjadi..." jawab Sapot.
"Loh,,, Tiar kan sakit, kakinya butuh istirahat minimal 15 jam kedepan, jadi gak mungkin dia melanjutkan pendakian ini..." ucap Vitha khawatir.
Dari ucapan Vitha nampak jelas dia lebih perhatian sama Tiar, hati gue sangat hancur saat ini, gue hanya bisa menunduk saat yang lain berdebat mengatur ulang manajemen perjalanan.
Sementara itu Sapot mencoba menjelaskan dan mencari solusi,
"Yaa, gue tau itu... tapi dalam pendakian itu ada dua sistem, yaitu:
1. HIMALAYAN TACTIC
Adalah teknik atau sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang. Teknik ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam teknik ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sebagai team pendukung yang Cuma sampai di tengah perjalanan, maka pendakian ini bisa dikategorikan sukses.
2. ALPINE TACTIC ;
Adalah teknik pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Teknik ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.
Walau dalam skala kecil, anggap saja pendakian kita ini menggunakan sistem Himalayan tactic...
Jadi sekarang team kita bagi menjadi dua team, sebagian bertahan menjaga Tiar di tenda ini, dan yang lain melanjutkan pendakian hingga sampai di puncak...
Dan sekarang masalahnya siapa aja yang mau tetap di sini nemenin Tiar dan siapa saja yang ke puncak...???" jelas Sapot memberi pilihan.
Sejenak semua terdiam, memikirkan apa aja yang kudu dipilih, dan memperhitungkan kemampuan masing-masing mengingat sebagian dari kami fisiknya sudah mulai melemah.
Setelah beberapa lama, Sapot menegaskan lagi.
"Jadi siapa yang merasa masih sanggup melanjutkan ke puncak...??? Silahkan angkat tangan..." tanya Sapot tegas.
Semua masih tetap diam, belum berani mengambil keputusan.
Tak berapa lama Sapot berdiri diantara kami, menegaskan kembali pernyataannya dengan nada lebih tinggi.
"Baik sekali lagi, siapa yang masih kuat melanjutkan ke puncak.. ???
Kita gak mungkin hanya sampai disini, bendera merah putih dan bendera team kita harus berkibar di puncak...!!! Ayoo siapa yang rela berjuang demi bendera kebanggaan kita ini..." orasi Sapot sambil menganggkat kedua bendera yang masih terlipat.
Tak berapa lama, Adit angkat tangan, yang menandakan dia siap menjadi team puncak.
Selanjutnya diikuti Gendut, Adrian dan nampak ragu-ragu Ayuni juga ikut mengangkat tangannya. Dan akupun memberanikan diri ikut dalam team puncak.
"Baiklah, berarti sekarang yang akan melanjutkan ke puncak yaitu Adit, Gendut, Ardian, Ayuni dan lu Ambonk...
Sementara yang lain tetap disini menjaga Tiar sampai membaik..." jelas Sapot dengan tegas sambil menunjuk kami yang ikut ke puncak.
Gue ngeliat, Vitha tetap diam tak mengangkat tangannya, yang menandakan dia ingin tetap disini menemani Tiar.
"Yaaa... dugaan gue bener, do'i lebih perhatian sama Tiar... mulai saat ini gue gak boleh berharap lagi sama Vitha... perhatiannya sama gue dianggapnya temen biasa seperti perhatiannya ke yang lain, dan gue ngeliat dia memang lebih perhatian sama Tiar... yaa, gue kudu ikhlas... kudu ikhlas... harus ikhlas..." hati gue ngebatin.
Sementara itu Sapot kembali berorasi dengan nada tegas.
"Baiklah kalau begitu, buat temen-temen yang ikut team ke puncak, berarti nanti jam 2 dini hari harus bangun dan bersiap melanjutkan perjalanan ke puncak, dan untuk team puncak gue tunjuk Ambonk sebagai ketua teamnya..." jelas Sapot sambil menunjuk ke arah gue yang menandakan gue diangkat sebagai ketua team puncak.
"Apa ada yang perlu ditanyakan lagi...???" tanya Sapot sebelum menutup breafing.
Sejenak semua diam, yang menandakan semua paham apa yang dijelaskan Sapot tadi.
"Baiklah breaving kita tutup dan acara dilanjut bincang-bincang santai sambil ngopi.. " Sapot menutup breaving.
Setelah itu kami lanjutkan ngobrol-ngobrol santai, sambil ngopi ketawa-ketiwi sambil mendekat ke api unggun yang kami buat sengaja tak begitu besar, hanya menggunakan ranting-ranting kecil yang kering, walau apinya gak terlalu besar tapi cukup untuk menghangatkan suasana.
Sesekali gue perhatiin Vitha yang setelah breafing langsung masuk ke tenda memilih menemani Tiar yang berbaring di tenda sedari tadi.
Cemburu memang, sakit memang, patah hati memang, inilah keadaan gue saat ini, tapi gue tetep harus nyembunyiin ini semua biar temen-temen gak ada yang tau.
Dan tak berapa lama Ayuni datang dari lokasi dapur yang kami buat di sebelah tenda bagian belakang, do'i datang sambil membawa kopi di teko kecil.
"Yuukk tambah kopinya..." ucap Ayuni sambil menuang kopi ke gelas-gelas yang udah mulai kosong sambil melirik ke arah gue, lirikannya sangat manis, manis sekali... dak dik duk hati gue berdegup...
"Aaahh kenapa perasaan gue jadi seerrr sama Ayuni siih, padahal kan sebelumnya gue lebih seerrr sama Vitha... aaahh kacau nih..." ucap hati gue gak karuan.
Dan setelah menuang kopi, entah disengaja atau tidak, tiba-tiba Ayuni duduk disamping gue.
"Wuiihh... makin gak karuan nih perasaan gue..." hati gue terus bergejolak.
Yang sebelumnya gue nampak santai kini gue jadi salah tingkah, obrolan pun jadi terasa gak konsen.
"Woy Bonk lu kok jadi gugup kaya' gitu... gara-gara Ayu yang nglendot disamping lu itu yaa...???
Lu kan sekarang jadi ketua team, lu kudu gentelmen dunk... hahahaa..." ledek Adit sambil megang secangkir kopi lalu menyeruputnya.
"Hahahaa... segitu aja grogi...
Udah Yu' jangan deket-deket die, Ayu'nya sii maen nglendot aje... ntar lama-lama Ambonk kencing di celana lhoo... hahhaa..." ucap Gendut sambil ngelirik ke Ayu'.
Obrolan malam ini sunggung santai dan berkesan, bahkan secangkir kopi ini terasa lebih nikmat dari kopi mahal di restoran ternama.
Dan hal-hal seperti inilah yang gak mungkin ditemukan dimanapun kecuali disini, di pendakian-pendakian yang penuh kehangatan ini.
***
Dan malam pun makin larut, waktu menunjukan jam 9 malam, sudah saatnya kita tidur, karena nanti jam 2 dini hari kita harus bangun untuk melanjutkan perjalanan.
Lantas semua bergegas memasuki tenda, dan tenda yang sebenarnya berkapasitas 4 orang kini harus diisi 5 orang karena tenda yang gue bawa kini entah dimana.
Dan kami pun bersiap berselancar di mimpi yang indah.
**************************************
Ups,,, untuk para pembaca yang budiman, ceritanya sampai disini dulu yaa, karena gue kudu bobok manis, oke...???
Sementara buat para pembaca silahkan bikin kopi dan sruput-sruput sambil ngabisin sebatang rokok, ceritanya kita lanjut setelah gue kebangun nanti jam 2 dini hari..
Oiya, jangan lupa kalo alarm gak bunyi, tolong bangunin gue yaakk... hehehee.
**************************************
Tepat pukul 2 dini hari, hp gue berbunyi keras karena udah gue stel alarm nya.
Yaa, kini saatnya gue harus bangkit dan bergegas untuk memulai babak baru, pendakian ke puncak tertinggi di Jawa Barat ini.
Setelah packing dan persiapan telah selesai, kami berlima sudah siap melanjutkan perjalanan di kegelapan malam, bahkan Sapot yang tak ikut rombongan pun bangun sekedar melihat persiapan kami dan seremonial pelepasan.
"Bonk gue titip kawan-kawan sama lu, lu sekarang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi di team lu, lu kudu bisa memimpin mereka...
Oiya, gue juga titip Ayu, bagaimana pun juga dia masih sepupu gue, kalo ada apa-apa sama die, lu yang kudu tanggung jawab..." Sapot memberi kata-kata pelepasan sekaligus arahan ke gue.
"Siap komandan...!!!" jawab gue sembari becanda dengan tangan diangkat seperti gaya hormat ala militer.
Tepat jam 02.15wib gue beserta rombongan bergegas melangkah di tengah kegelapan, dengan bantuan penerangan headlamp yang terikat di kepala masing-masing, kami melangkah dengan mantapnya.
"Yaa,,, ini perjalanan gue, ini cara gue menikmati kabahagiaan hidup...
Sekali lagi nama gue Ambonk, gue bukan orang hebat yang sok hebat, gue hanya pemuda biasa yang mencoba mencari bahagia, dan inilah perjalanan gue mencari kebahagiaan itu...
Nama gue Ambonk kali ini gue menjadi pemimpin di team gue, team yang membawa bendera merah putih yang akan berkibar dipuncak tertinggi gunung Ciremai ini...
Dan nama gue Ambonk, gue pemimpin yang siap memimpin dengan gagah berani, siap mengambil keputusan demi kebaikan bersama dan kepentingan bersama...
Karena nama gue Ambonk..."
Kata hati gue menggebu-gebu mengiringi perjalanan ditengah kegelapan.
Tapi tiba-tiba....????
"Woy Bonk, kita salah jalan nih...
Gak mungkin jalur pendakian sesempit ini..." teriak Aldi yang mampu menghentikan kata-kata gue yang sedari tadi ncrocos terus dihati.
"Ups... apa iyaakk...???" jawab gue clingak-clinguk.
"Iya Bonk kita salah jalur, ini jalur tisu... liat aja tuh di sekitar lu banyak tisu..." ucap Adrian kalem, yang sudah berpengalaman dengan jalur Ciremai ini.
"Lah lu kan yang sudah hapal jalurnya... kenapa lu gak di depan aja, bukannya lu team leader...???"
Ucap gue ketus.
"Yaelah... gimana Adrian mau didepan, tadi pertama jalan aja lu langsung nyosor jalan duluan sambil ngalamun dan pesam-pesem sendiri..." jawab Gendut dengan gaya Betawi.
"Yaudah yuuk balik ke jalur, lu Adrian gue tunjuk lu sebagai team leader dan lu Gendut sebagai team sapu... sementara yang lain ditengah..." gue memberi perintah.
Tapi baru mau melangkah, tiba-tiba.
"Nyoookk ..!!!!" kaki gue nginjek yang benyek-benyek
"Alamaaakk... haduuuhh... apes bener gue malam ini..." teriak gue dengan nada memelas.
"Hahahaa... " seketika yang lain pun ikut ketawa.
Bahkan Sapot yang masih ditenda ikut ketawa ngeliat gue yang salah jalur masuk jalur tisu.
"Hahaha... makanya kalo jalan konsentrasi... hahahaa..." dari kejauhan Sapot berteriak, lalu masuk tenda untuk melanjutkan tidurnya.
Sementara gue beserta teman-teman team puncak dengan semangatnya melangkah menggapai puncak atap Jawa Barat.
Gue melangkah dengan pasti, sambil sesekali mengosek-osekkan sepatu gue ke tanah dan rerumputan agar sesuatu yang benyek yang nempel di sepatu gue berharap ilang dengan sendirinya.
"Ini nih alasan kenapa kita gak boleh buang aer sembarangan, selain bisa mencemari udara juga sangat menyakitkan kalo sampai keinjek pendaki laen..." mulut gue terus ngomel walaupun sambil ngos-ngosan karena treknya yang makin menanjak.
"Gue mah kalo BAB selalu gali lobang tutup lobang bro.. " jawab Gendut sok bener.
"Bagus lah kalo begitu, pokoknya kalo gue liat orang lagi buang aer gak model gali lobang, gue teriak-teriakin tuh orang biar malu sekalian..." mulut gue terus ngomel gak jelas.
"Laah, kalo yang lagi buang aer cewek gimana Bonk, lu belum teriak dia udah teriakin lu duluan... lu disangkanya mau ngintip... hahahaa..." semua pun ikut ketawa.
Guyonan demi guyonan selama perjalanan membuat lelah pun tak terasa, pos demi pos telah kami lalui. Dengan sesekali istirahat sekedar minum atau ngemil makanan kecil yang kami bawa.
Tepat pukul 5 sebelum fajar kami tiba di pos Pengasinan.
"Lihatlah kawan, ini adalah pos Pengasianan, pos terakhir sebelum sampai puncak...
Dan lihatlah disana... tanjakan itu akan mengantarkan kita sampai ke puncak tertinggi di Jawa Barat ini...
Dan lihatlah diufuk timur... Sang mentari sedang asyik mengintip kita dengan cahaya nya yang keemasan...
Dan inilah Indonesia yang sesungguhnya...
Kecantikan negeri kita yang sebenar-benarnya..." ucap Adrian menjelaskan.
"Wow... beatifull..." bibir Ayuni berucap dengan matanya yang berbinar-binar.
Gue yang sedari tadi bergulat dengan kegelapan, kini kembali dihadirkan dengan keindahan dunia yang sesungguhnya.
Nampak di hadapan gue dengan gagahnya puncak Ciremai yang berdiri tinggi menjulang, sementara di ufuk timur nampak warna keemasan yang mengindahkan pandangan alam, dan di samping gue telah berdiri seorang bidadari yang memancarkan aura ayu nya yang juga mampu mengindahkan hati gue...
Dan awanpun dengan anggunnya berbondong mengitari tanah dimana kami berdiri.
"Yaa... inilah negeri diatas awan..." bisik hati gue dengan mengambil nafas panjang untuk menghirup lebih banyak udara yang segar di pagi ini.
Entah semalem ngimpi apa, tiba-tiba tangan Ayuni dengan pelan memegang tangan gue, seketika hatiku berdegup lebih kencang. Bahkan gue tak sanggup memandang ke arahnya.
Bahkan untuk meliriknya gue tak punya nyali, tapi gue yakin ada cinta diantara kami.
Pagi ini sungguh pagi yang sangat romantis dalam sejarah kehidupan gue.
Entah berapa lama kami berpegangan tangan, tapi rasanya gue ingin terus memegang tangannya yang halus.
"Disini indah sekali ya mas...???" tanya Ayuni basa-basi.
"Iyaa... alasan inilah gue selalu mendaki... karena ditempat-tempat seperti inilah jiwa gue merasa damai..." jawab gue sok puitis.
"Tapi sayang ya mas, kita gak menuin sunrise dipuncak... gue gak bisa bayangin senengnya kalo pas sunrise dipuncak..." ucap Ayuni berandai-andai.
"Yaah mungkin belum rejekinya, gue yakin suatu saat lu bakal ngrasain sunrise dipuncak... dan semoga saja itu sama gue...." jawabku sambil ngrayu.
Gue ngeliat mata Ayuni tersipu malu, dan gue ngerasa ada cinta di hati Ayuni.
"Ini sungguh pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Ahmad Pajali Binzah
September 11, 2015
New Google SEO
Bandung, Indonesia"Ayoo kita angkat bareng, disana ada shelter yang aman buat berteduh..." perintah Sapot yang kemudian temen-temen yang lain dengan sigap mengangkat tubuh Tiar.
Setelah sampai di bangunan shelter yang agak luas, tubuh Tiar dibaringkan dengan beralaskan matras.
"Yang sakit yang mana Tiar...???" tanya gue.
"Pergelangan kaki sini Bonk..." jawab Tiar sambil menunjuk ke arah kaki kirinya.
"Ooohh jangan kuatir, kalo sakitnya di pergelangan biasanya hanya terkilir biasa, tapi kalo di ruas tulang, bisa jadi itu patah tulang, sangat berbahaya dan harus segera dievakuasi turun...." jawab gue santai karena kebetulan nenek gue emang tukang pijit keseleo yang sudah terkenal dikampung.
"Jadi gimana nih Bonk... apa perlu kita tandu turun ke basecamp atau kita minta pertolongan ranger di basecamp...???" tanya Vitha yang juga ikut panik.
"Dalam kondisi seperti ini, biasanya ranger enggan melakukan evakuasi, mereka akan berangkat jika kondisinya darurat, jika hanya keseleo atau hal-hal yang belum dianggap darurat mereka bisaanya gak merespon laporan tersebut..." jawab Adrian yang sudah hafal betul karakteristik ranger di gunung Ciremai ini.
"Lantas gimana nih kalo begitu.." tanya Gendut yang juga ikut-ikutan panik.
"Jangan kuatir, untuk keseleo seperti ini, gue masih bisa nanganin..." jawab gue sok ahli pijit.
"Oke, kita langsung aja praktekin yang diajarkan nenek gue dan sekaligus gue juga pernah liat di acara dr. Oz di tivi. Begini caranya:
Luruskan kaki, rileks dan buka sepatu Anda kemudian tarik ujung kaki dengan cara melakukan penekanan ujung ujung jari ke arah atas.
Lalu suruh si penderita jongkok, Namun tumit pada bagian belakang diangkat.
Jangan lupa kompres pada bagian yang terkiliir atau cedera dengan air dingin menggunakan handuk basah.
Setelah itu kita ikat kaki yang keseleo dengan perban atau kain agar persendiannya tidak bergeser lagi...
Dan usahakan dia istirahat jangan banyak bergerak selama 15 jam..." gue memberi penjelasan sekaligus mempraktekkan ilmu pemijatan yang gue dapet dari nenek.
Dan gak lama kemudian semua tindakan medis ala dr. Oz dan perpaduan ala nenek gue kelar juga.
***
"Oke, lebih baik kita segera mendirikan tenda, sebagian membangun tenda sebagian lagi memasak...
Untuk rencana selanjutnya kita breafing nanti setelah tenda dan masakan selesai..." perintah Sapot selaku ketua team.
Sembari membangun tenda gue terus memperhatiin Vitha yang dari tadi terus menemani Tiar yang terbaring sakit, gue merasa Vitha memang orangnya perhatian ke semua orang bukan cuma gue aja, dan benar ternyata gue selama ini cuma kege'eran... nyatanya Vitha lebih perhatian sama Tiar...
Setelah 30 menit kemudian tenda sudah berdiri dan semua makanan telah tersaji, setelah acara makan selesai, kami pun melanjutkan dengan obrolan yang membahas masalaah kami.
"Gimana nih Pot, perjalanan mau dilanjutkan apa besok kita turun aja...???" tanya Gendut membuka obrolan.
"Bagaimana pun juga pendakian ini harus berhasil sampai puncak, apapun yang terjadi..." jawab Sapot.
"Loh,,, Tiar kan sakit, kakinya butuh istirahat minimal 15 jam kedepan, jadi gak mungkin dia melanjutkan pendakian ini..." ucap Vitha khawatir.
Dari ucapan Vitha nampak jelas dia lebih perhatian sama Tiar, hati gue sangat hancur saat ini, gue hanya bisa menunduk saat yang lain berdebat mengatur ulang manajemen perjalanan.
Sementara itu Sapot mencoba menjelaskan dan mencari solusi,
"Yaa, gue tau itu... tapi dalam pendakian itu ada dua sistem, yaitu:
1. HIMALAYAN TACTIC
Adalah teknik atau sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang. Teknik ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam teknik ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sebagai team pendukung yang Cuma sampai di tengah perjalanan, maka pendakian ini bisa dikategorikan sukses.
2. ALPINE TACTIC ;
Adalah teknik pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Teknik ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.
Walau dalam skala kecil, anggap saja pendakian kita ini menggunakan sistem Himalayan tactic...
Jadi sekarang team kita bagi menjadi dua team, sebagian bertahan menjaga Tiar di tenda ini, dan yang lain melanjutkan pendakian hingga sampai di puncak...
Dan sekarang masalahnya siapa aja yang mau tetap di sini nemenin Tiar dan siapa saja yang ke puncak...???" jelas Sapot memberi pilihan.
Sejenak semua terdiam, memikirkan apa aja yang kudu dipilih, dan memperhitungkan kemampuan masing-masing mengingat sebagian dari kami fisiknya sudah mulai melemah.
Setelah beberapa lama, Sapot menegaskan lagi.
"Jadi siapa yang merasa masih sanggup melanjutkan ke puncak...??? Silahkan angkat tangan..." tanya Sapot tegas.
Semua masih tetap diam, belum berani mengambil keputusan.
Tak berapa lama Sapot berdiri diantara kami, menegaskan kembali pernyataannya dengan nada lebih tinggi.
"Baik sekali lagi, siapa yang masih kuat melanjutkan ke puncak.. ???
Kita gak mungkin hanya sampai disini, bendera merah putih dan bendera team kita harus berkibar di puncak...!!! Ayoo siapa yang rela berjuang demi bendera kebanggaan kita ini..." orasi Sapot sambil menganggkat kedua bendera yang masih terlipat.
Tak berapa lama, Adit angkat tangan, yang menandakan dia siap menjadi team puncak.
Selanjutnya diikuti Gendut, Adrian dan nampak ragu-ragu Ayuni juga ikut mengangkat tangannya. Dan akupun memberanikan diri ikut dalam team puncak.
"Baiklah, berarti sekarang yang akan melanjutkan ke puncak yaitu Adit, Gendut, Ardian, Ayuni dan lu Ambonk...
Sementara yang lain tetap disini menjaga Tiar sampai membaik..." jelas Sapot dengan tegas sambil menunjuk kami yang ikut ke puncak.
Gue ngeliat, Vitha tetap diam tak mengangkat tangannya, yang menandakan dia ingin tetap disini menemani Tiar.
"Yaaa... dugaan gue bener, do'i lebih perhatian sama Tiar... mulai saat ini gue gak boleh berharap lagi sama Vitha... perhatiannya sama gue dianggapnya temen biasa seperti perhatiannya ke yang lain, dan gue ngeliat dia memang lebih perhatian sama Tiar... yaa, gue kudu ikhlas... kudu ikhlas... harus ikhlas..." hati gue ngebatin.
Sementara itu Sapot kembali berorasi dengan nada tegas.
"Baiklah kalau begitu, buat temen-temen yang ikut team ke puncak, berarti nanti jam 2 dini hari harus bangun dan bersiap melanjutkan perjalanan ke puncak, dan untuk team puncak gue tunjuk Ambonk sebagai ketua teamnya..." jelas Sapot sambil menunjuk ke arah gue yang menandakan gue diangkat sebagai ketua team puncak.
"Apa ada yang perlu ditanyakan lagi...???" tanya Sapot sebelum menutup breafing.
Sejenak semua diam, yang menandakan semua paham apa yang dijelaskan Sapot tadi.
"Baiklah breaving kita tutup dan acara dilanjut bincang-bincang santai sambil ngopi.. " Sapot menutup breaving.
Setelah itu kami lanjutkan ngobrol-ngobrol santai, sambil ngopi ketawa-ketiwi sambil mendekat ke api unggun yang kami buat sengaja tak begitu besar, hanya menggunakan ranting-ranting kecil yang kering, walau apinya gak terlalu besar tapi cukup untuk menghangatkan suasana.
Sesekali gue perhatiin Vitha yang setelah breafing langsung masuk ke tenda memilih menemani Tiar yang berbaring di tenda sedari tadi.
Cemburu memang, sakit memang, patah hati memang, inilah keadaan gue saat ini, tapi gue tetep harus nyembunyiin ini semua biar temen-temen gak ada yang tau.
Dan tak berapa lama Ayuni datang dari lokasi dapur yang kami buat di sebelah tenda bagian belakang, do'i datang sambil membawa kopi di teko kecil.
"Yuukk tambah kopinya..." ucap Ayuni sambil menuang kopi ke gelas-gelas yang udah mulai kosong sambil melirik ke arah gue, lirikannya sangat manis, manis sekali... dak dik duk hati gue berdegup...
"Aaahh kenapa perasaan gue jadi seerrr sama Ayuni siih, padahal kan sebelumnya gue lebih seerrr sama Vitha... aaahh kacau nih..." ucap hati gue gak karuan.
Dan setelah menuang kopi, entah disengaja atau tidak, tiba-tiba Ayuni duduk disamping gue.
"Wuiihh... makin gak karuan nih perasaan gue..." hati gue terus bergejolak.
Yang sebelumnya gue nampak santai kini gue jadi salah tingkah, obrolan pun jadi terasa gak konsen.
"Woy Bonk lu kok jadi gugup kaya' gitu... gara-gara Ayu yang nglendot disamping lu itu yaa...???
Lu kan sekarang jadi ketua team, lu kudu gentelmen dunk... hahahaa..." ledek Adit sambil megang secangkir kopi lalu menyeruputnya.
"Hahahaa... segitu aja grogi...
Udah Yu' jangan deket-deket die, Ayu'nya sii maen nglendot aje... ntar lama-lama Ambonk kencing di celana lhoo... hahhaa..." ucap Gendut sambil ngelirik ke Ayu'.
Obrolan malam ini sunggung santai dan berkesan, bahkan secangkir kopi ini terasa lebih nikmat dari kopi mahal di restoran ternama.
Dan hal-hal seperti inilah yang gak mungkin ditemukan dimanapun kecuali disini, di pendakian-pendakian yang penuh kehangatan ini.
***
Dan malam pun makin larut, waktu menunjukan jam 9 malam, sudah saatnya kita tidur, karena nanti jam 2 dini hari kita harus bangun untuk melanjutkan perjalanan.
Lantas semua bergegas memasuki tenda, dan tenda yang sebenarnya berkapasitas 4 orang kini harus diisi 5 orang karena tenda yang gue bawa kini entah dimana.
Dan kami pun bersiap berselancar di mimpi yang indah.
**************************************
Ups,,, untuk para pembaca yang budiman, ceritanya sampai disini dulu yaa, karena gue kudu bobok manis, oke...???
Sementara buat para pembaca silahkan bikin kopi dan sruput-sruput sambil ngabisin sebatang rokok, ceritanya kita lanjut setelah gue kebangun nanti jam 2 dini hari..
Oiya, jangan lupa kalo alarm gak bunyi, tolong bangunin gue yaakk... hehehee.
**************************************
Tepat pukul 2 dini hari, hp gue berbunyi keras karena udah gue stel alarm nya.
Yaa, kini saatnya gue harus bangkit dan bergegas untuk memulai babak baru, pendakian ke puncak tertinggi di Jawa Barat ini.
Setelah packing dan persiapan telah selesai, kami berlima sudah siap melanjutkan perjalanan di kegelapan malam, bahkan Sapot yang tak ikut rombongan pun bangun sekedar melihat persiapan kami dan seremonial pelepasan.
"Bonk gue titip kawan-kawan sama lu, lu sekarang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi di team lu, lu kudu bisa memimpin mereka...
Oiya, gue juga titip Ayu, bagaimana pun juga dia masih sepupu gue, kalo ada apa-apa sama die, lu yang kudu tanggung jawab..." Sapot memberi kata-kata pelepasan sekaligus arahan ke gue.
"Siap komandan...!!!" jawab gue sembari becanda dengan tangan diangkat seperti gaya hormat ala militer.
Tepat jam 02.15wib gue beserta rombongan bergegas melangkah di tengah kegelapan, dengan bantuan penerangan headlamp yang terikat di kepala masing-masing, kami melangkah dengan mantapnya.
"Yaa,,, ini perjalanan gue, ini cara gue menikmati kabahagiaan hidup...
Sekali lagi nama gue Ambonk, gue bukan orang hebat yang sok hebat, gue hanya pemuda biasa yang mencoba mencari bahagia, dan inilah perjalanan gue mencari kebahagiaan itu...
Nama gue Ambonk kali ini gue menjadi pemimpin di team gue, team yang membawa bendera merah putih yang akan berkibar dipuncak tertinggi gunung Ciremai ini...
Dan nama gue Ambonk, gue pemimpin yang siap memimpin dengan gagah berani, siap mengambil keputusan demi kebaikan bersama dan kepentingan bersama...
Karena nama gue Ambonk..."
Kata hati gue menggebu-gebu mengiringi perjalanan ditengah kegelapan.
Tapi tiba-tiba....????
"Woy Bonk, kita salah jalan nih...
Gak mungkin jalur pendakian sesempit ini..." teriak Aldi yang mampu menghentikan kata-kata gue yang sedari tadi ncrocos terus dihati.
"Ups... apa iyaakk...???" jawab gue clingak-clinguk.
"Iya Bonk kita salah jalur, ini jalur tisu... liat aja tuh di sekitar lu banyak tisu..." ucap Adrian kalem, yang sudah berpengalaman dengan jalur Ciremai ini.
"Lah lu kan yang sudah hapal jalurnya... kenapa lu gak di depan aja, bukannya lu team leader...???"
Ucap gue ketus.
"Yaelah... gimana Adrian mau didepan, tadi pertama jalan aja lu langsung nyosor jalan duluan sambil ngalamun dan pesam-pesem sendiri..." jawab Gendut dengan gaya Betawi.
"Yaudah yuuk balik ke jalur, lu Adrian gue tunjuk lu sebagai team leader dan lu Gendut sebagai team sapu... sementara yang lain ditengah..." gue memberi perintah.
Tapi baru mau melangkah, tiba-tiba.
"Nyoookk ..!!!!" kaki gue nginjek yang benyek-benyek
"Alamaaakk... haduuuhh... apes bener gue malam ini..." teriak gue dengan nada memelas.
"Hahahaa... " seketika yang lain pun ikut ketawa.
Bahkan Sapot yang masih ditenda ikut ketawa ngeliat gue yang salah jalur masuk jalur tisu.
"Hahaha... makanya kalo jalan konsentrasi... hahahaa..." dari kejauhan Sapot berteriak, lalu masuk tenda untuk melanjutkan tidurnya.
Sementara gue beserta teman-teman team puncak dengan semangatnya melangkah menggapai puncak atap Jawa Barat.
Gue melangkah dengan pasti, sambil sesekali mengosek-osekkan sepatu gue ke tanah dan rerumputan agar sesuatu yang benyek yang nempel di sepatu gue berharap ilang dengan sendirinya.
"Ini nih alasan kenapa kita gak boleh buang aer sembarangan, selain bisa mencemari udara juga sangat menyakitkan kalo sampai keinjek pendaki laen..." mulut gue terus ngomel walaupun sambil ngos-ngosan karena treknya yang makin menanjak.
"Gue mah kalo BAB selalu gali lobang tutup lobang bro.. " jawab Gendut sok bener.
"Bagus lah kalo begitu, pokoknya kalo gue liat orang lagi buang aer gak model gali lobang, gue teriak-teriakin tuh orang biar malu sekalian..." mulut gue terus ngomel gak jelas.
"Laah, kalo yang lagi buang aer cewek gimana Bonk, lu belum teriak dia udah teriakin lu duluan... lu disangkanya mau ngintip... hahahaa..." semua pun ikut ketawa.
Guyonan demi guyonan selama perjalanan membuat lelah pun tak terasa, pos demi pos telah kami lalui. Dengan sesekali istirahat sekedar minum atau ngemil makanan kecil yang kami bawa.
Tepat pukul 5 sebelum fajar kami tiba di pos Pengasinan.
"Lihatlah kawan, ini adalah pos Pengasianan, pos terakhir sebelum sampai puncak...
Dan lihatlah disana... tanjakan itu akan mengantarkan kita sampai ke puncak tertinggi di Jawa Barat ini...
Dan lihatlah diufuk timur... Sang mentari sedang asyik mengintip kita dengan cahaya nya yang keemasan...
Dan inilah Indonesia yang sesungguhnya...
Kecantikan negeri kita yang sebenar-benarnya..." ucap Adrian menjelaskan.
"Wow... beatifull..." bibir Ayuni berucap dengan matanya yang berbinar-binar.
Gue yang sedari tadi bergulat dengan kegelapan, kini kembali dihadirkan dengan keindahan dunia yang sesungguhnya.
Nampak di hadapan gue dengan gagahnya puncak Ciremai yang berdiri tinggi menjulang, sementara di ufuk timur nampak warna keemasan yang mengindahkan pandangan alam, dan di samping gue telah berdiri seorang bidadari yang memancarkan aura ayu nya yang juga mampu mengindahkan hati gue...
Dan awanpun dengan anggunnya berbondong mengitari tanah dimana kami berdiri.
"Yaa... inilah negeri diatas awan..." bisik hati gue dengan mengambil nafas panjang untuk menghirup lebih banyak udara yang segar di pagi ini.
Entah semalem ngimpi apa, tiba-tiba tangan Ayuni dengan pelan memegang tangan gue, seketika hatiku berdegup lebih kencang. Bahkan gue tak sanggup memandang ke arahnya.
Bahkan untuk meliriknya gue tak punya nyali, tapi gue yakin ada cinta diantara kami.
Pagi ini sungguh pagi yang sangat romantis dalam sejarah kehidupan gue.
"Ini sungguh pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Entah berapa lama kami berpegangan tangan, tapi rasanya gue ingin terus memegang tangannya yang halus.
"Disini indah sekali ya mas...???" tanya Ayuni basa-basi.
"Iyaa... alasan inilah gue selalu mendaki... karena ditempat-tempat seperti inilah jiwa gue merasa damai..." jawab gue sok puitis.
"Tapi sayang ya mas, kita gak menuin sunrise dipuncak... gue gak bisa bayangin senengnya kalo pas sunrise dipuncak..." ucap Ayuni berandai-andai.
"Yaah mungkin belum rejekinya, gue yakin suatu saat lu bakal ngrasain sunrise dipuncak... dan semoga saja itu sama gue...." jawabku sambil ngrayu.
Gue ngeliat mata Ayuni tersipu malu, dan gue ngerasa ada cinta di hati Ayuni.
"Ini sungguh pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Tak terasa 30 menit kami di sini pos Pangasinan, pos terakhir sebelum puncak.
"Ayo Bonk kita kanjut lagi perjalanannya..." ucap Adit bergegas menggendong daypack nya.
"Entar dulu Bonk, kita tidur dulu disini sejam lagi... gue ngantuk berat nih..." ucap Gendut yang tetap rebahan beralaskan matras di bawah pohon edelweis.
"Tapi kalo sampai puncak diatas kesiangan disana pasti panas.. " jawab Adrian sepaham dengan Adit.
"Yaelah... inikan masih jam setengah 6, tiduran sejam gak mungkin kesiangan kalii..." jawab Gendut lagi.
"Gimana Bonk lanjut apa istirahat dulu...???" tanya Ayuni dengan nada lirih.
Seketika gue bingung nentuin keputusan, dan sekarang gue sadar ternyata menjadi pemimpin itu gak mudah. Dan Sapot telah mencontohkan pada gue gimana menjadi pemimpin yang baik, dia rela melepas ego mencapai puncak demi untuk menjaga anggotanya yang sakit di pos Batu Lingga. Dia rela menjaga Tiar disana.
Dia juga mampu mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga keutuhan dan kekompakan team, sementara gue ngurus temen-temen berlima aja susahnya bukan main. Dan sekali lagi gue salut sama Sapot, bukan hanya sebagai pemimpin tetapi juga sebagai sahabat.
Setelah pergolakan yang lama akhirnya gue putusin istirahat satu jam di pos Pangasinan ini, mengingat keselamatan dan kondisi fisik lebih utama.
Diangkat dari kisah nyata
Nama gue Refli Ardiansyah, tapi gue biasa dipanggil Ambonk, gue bukan orang hebat atau orang yang sok hebat, gue cuma pemuda biasa yang menjalani hidup gue apa adanya. Dan kali ini gue bukan untuk bercerita tentang hal yang muluk-muluk, tapi gue cuma ingin bercerita tentang perjalanan gue mengenal Indonesia dari dekat dan menikmati keindahannya lebih dekat, dan sekaligus ini adalah perjalanan gue mengenal apa itu cinta.
Dan karena itulah, cerita ini gue kasih judul Pendakian terindah.
Cerita ini berawal saat gue dan temen-temen berencana ingin ngadain reonian, setelah diskusi yang panjang akhirnya kami putuskan untuk melakukan perjalanan pendakian gunung Ciremai, karena menurut temen-temen, perjalanan ini bakal menjadi perjalanan yang seru dan menyenangkan. Dan juga menurut abang gue, yang lebih dulu pernah ke gunung itu beberapa tahun yang lalu, gunung ini adalah salah satu gunung terindah yang pernah didakinya. Dan dari cerita itu gue semakin penasaran, dan jiwa petualang gue makin tertantang.
Setelah jauh-jauh hari menyiapkan perbekalan, terutama latihan fisik beberapa minggu sebelumnya, dan kini tibalah hari yang ditunggu-tunggu.
***
Sabtu, 15 agustus 2015. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, tepat pukul 22.00wib gue sudah stanby di titik kumpul yang telah disepakati bersama, tapi sayangnya sudah 15 menit gue disini ternyata dari ketujuh temen-temen gue, tak satupun yang sudah menampakkan batang hidungnya.
Setelah ditunggu cukup lama, akhirnya gue telpon temen gue untuk mastiin keberangkatannya.
"Woy bray, bijimane nih rencananya, kok belum pada nongol siih lu lu pade...???" Ucap gue dengan nada setengah ngomel-ngomel karena saking sebelnya menunggu lama.
"Sabar bos, gue lagi dijalan nih kena macet... Jangan kuatir kita udah di bus nih, mungkin sekitar 20 menitan nyampe..." Jawabnya enteng.
"Buset daah lama amat lu bray... Gue udah jamuran disini, udah ky' preman terminal nih, udah kusut nih muka ane.." Ucap gue lagi.
"Hahahaa... Ky' gak tau jam karetnya anak Endonesah aja lu Bonk... Oke deh, biar lu gak berasa lama, temen gue yang katanya mau gabung ama kita, katanya udah sampai di terminal juga bray, ntar gue smsin nomer hp nya aje yee.. Do'i cewek cantik bray dijamin lu suka deh..." Jawab Aldi sok memberi solusi.
"Dalam kondisi ky' gini gue gak peduli cewek ato cowok bray, yang penting lu lu pade cepet sampe sini trus kita berangat..." Jawab gue sewot.
Setelah Aldi mengirim sms no hp temennya yang mau gabung, dan gue hubungi tuh anak, akhirnya kita ketemuan tepat di pintu keluar terminal Kampung Rambutan ini.
Seperti yang Aldi bilang, do'i lumayan cantik dan baik lagi. Cuma gue amang udah sewot dari sebelumnya, jadi gak ngaruh buat hati gue.
Tepat jam 11 malem rombongan temen-temen gue baru pada dateng, tanpa basa-basi dan berbincang-bincang lama, kamipun langsung membeli tiket bus dan langsung memulai perajanan menuju terminal Cirebon.
Perjalanan kami lalui sungguh sangat menyenangkan, dari balik jendela gue menikmati pemandangan jalanan pantura, setiap jengkalnya gue nikmati sepetuh hati, hingga tak terasa gue terlelap dalam bangku bus yang sempit ini.
***
Tepat jam 4 dini hari kami sampai di terminal Harjamukti Cirebon dan saat menurunkan barang bawaan insiden pertama dalam perjalanan ini terjadi, cerriel gue yang isinya tenda dari minjem ternyata gak ada bro..!!! bisa dipastikan cerriel gue pasti kebawa rombongan lain yang tadi satu bus sama gue, dan mereka tadi turun dijalan sebelum masuk ke terminal karena mau mendaki via Palutungan.
Kejadian ini sungguh membuat semangat gue ngedrop seketika, rasanya gue enggan meneruskan perjalanan ini.
"Ayoo dunk Bonk, jangan terlalu dipikirin, gue yakin cerriel lu bakal balik lagi, gue yakin pendaki itu pasti gak sengaja ngambil carriel lu.." Ucap temen gue.
"Gimana gak stres bro, itu cerriel isinya perlengkapan gue semua, apalagi itu ada tenda, dari minjem temen abang gue lagi... Gimana gue jelasinnya ntar...???" Jawab gue putus asa.
"Yaudah yang penting kita berdo'a aja, moga cerriel lu bisa balik lagi, tapi untuk saat ini kita kudu tetep nglanjutin perjalanan ini...
Gak mungkin gara-gara insiden ini kita batal mendaki...
Masalah baju lu mungkin kita-kita bisa minjemin, dan masalah tenda kita kan bawa tenda 3 jadi saat ini kita masih ada 2 tenda, cukuplah buat bersepuluh" Ucap Sapot bijaksana.
Karena saran dari Aldi dan Sapot akhirnya gue mantepin tetep melanjutkan perjalanan, dan perjalanan dilanjutkan naik minibus ke Linggar Jati.
Sesampai nya di Linggarjati kami menurunkan barang-barang bawaan, sebagian ngurus perizinan sebagian lagi mengecek ulang logistis dan perbekalan, disini terasa ramai oleh hiruk pikuk para pendaki yang ingin merayakan hari kemerdekaan dipuncak Ciremai, setelah semua selesai temen-temen putuskan untuk istirahat sejenak untuk meluruskan badan, tapi gue lebih milih menghindar dari keramaian dan menikmati suasana sejuknya di pegunungan.
Disini gue bener-bener menikmati kegegaran udara pagi dikaki gunung, fajar yang mulai terang diujung timur.
"huuufff,,, pantes jaman kolonial dulu, Linggar Jati ini jadi tempat favorit para penguasa, super indah suasananya..." Guman gue dalam hati sambil menghirup dalam-dalam udara pagi yang menyegarkan paru-paruku.
Saat gue sedang asyik dan bercumbu dengan kesendirian, tiba-tiba ada yang datang dan menegor,
"Hey mas Ambonk..." Ucap cewek yang mendekati dan duduk disamping gue.
Seketika gue cuma bisa bengong, gak nyangka cewek semalem ternyata cantiknya luar biasa, saat ini gue bener-bener terkejut, seakan gue melihat dua matahari terbir dipagi ini, yang satu dari arah timur dan yang satu dari arah barat lalu duduk tepat di samping gue ini, Gue bener-bener nyesel semalem cewek yang gue cuekin ternyata begitu indah dipagi ini.
"Lho kok bengong aja mas...???" Ucap cewek itu sambil melambaikan tangannya tepat dimuka gue, gue tetep bengong gak tau mau bilang apa lagi.
Belum selesai gue bengong datang lagi satu matahari yang memancarkan cahanya tak kalah silau dari sebelumnya. Yaa, satu lagi gadis cantik datang disisi gue, serasa gue diapit dua matahari.
Seketika cerriel gue yang hilang terlupakan, beban dipundak seakan lenyap tak bertuan, pegel-pegel setelah lelah perjalanan pun jadi seger lagi, gue merasa saat ini berada ditaman bidadari.
Pagi ini walau terasa gugup, obrolan terjadi begitu akrabnya, yang membuat pagi itu terasa luar biasa.
Yaa, Novitha dan Ayuni cewek yang semalem gue cuekin ternyata cantiknya luar biasa di pagi ini.
"Ini bener-bener pendakian terindah.. " hati gue berucap lirih.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Sebelum melakukan pendakian semua team berkumpul dengan formasi melingkar seperti biasa, breafing dan berdo'a.
Seperti biasa Sapot selaku ketua team mengatur manajemen perjalanan.
"Adrian, lu sama Tiar gw tunjuk sebagai team lider, karena lu yang udah beberapa kali kesini dan gw yakin lu lebih hapal jalurnya... Sementara Adit sama Gendut lu gw tunjuk sebagai team penyapu karena gw yakin badan kalian lebih kuat dan sikap kalian yang lebih pakem..." sapot memberi pengarahan dalam manajemen perjalanan.
"Karena dalam suatu team pendakian, yang merasa tubuhnya paling kuat biasanya dia diposisi paling belakang untuk mengawasi teman-temannya yang didepan. Bukan malah sebaliknya yang kuat didepan sementara yang lemah dibelakang, ini sangat berbahaya, jadi yang lemah akan makin tertinggal...
Oiya, sementara yang lain tetap diposisi tengah, jarak kita jangan saling berjauhan, agar kita tetap selalu dalam pengawasan satu sama lain..." lanjut Sapot sebagai orang yang dituakan di kelompok kami.
Setelah semua paham tugas masing-masing, mereka siap memulai perjalanan yang sesungguhnya. Dengan sebelumnya diawali dengan do'a bersama.
"Ayoo kita tos dulu sebelum berangkat..." Ucap Adit dengan menyodorkan tangannya dan diikuti yang lainnya. Dengan posisi membentuk formasi melingkar mereka menyatukan tangannya sembari berucap.
"Binzah Alon Jaya, yeeesss...!!!" kami kompak berteriak sambil menggambrengkan tangan.
Perjalan pun terasa lebih menyenangkan karena ditemani team yang kompak dan ada 2 gadis yang sangat baik. Yang tentunya tugas gue menjaga kedua gadis ini tetap dalam kondisi aman. Hehehe...
Dan gue merasa ini perjalanan yang sangat mengesankan.
"Ini bener-bener pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Setelah perjalanan sekitar 20 menit, tibalah kami di pos Cibunar atau sering disebut camping ground, disini suasana sangat ramai, sangatlah ramai untuk ukuran lahan datar di hutan, walaupun camping ground ini sangat luas tapi tetap terasa penuh sesak oleh tenda dan hiruk pikuk aktivitas para pendaki yang mau je puncak atau anak-anak remaja yang hanya ingin kemping, disini juga terdapat warung-warung yang menyediakan makanan, termasuk gorengan +cabe nya yang masih panas dan menggoda selera.
Tanpa pikir panjang gue langsung duduk di bangku yang ada di warung itu, diikuti temen-temen yang lain.
Tanpa waktu lama teh anget dan gorengan pun langsung segera bergantian melewati tenggorakan dan langsung mengisi rongga-rongga yang ada di perut kami.
"Yaa, karena kami sangat lapar, sangatlah lapar..." Jawab hati gue walau gak ada yang nanya.
Setelah perut sedikit terisi makanan, barulah kami segera bagi tugas, sebagian istirahat dan solat karena disini ada musholah dan disekitar musholah itu juga terdapat makam. Dan disini lah sumber mata air terakhir, karena sepanjang perjalanan sudah tidak terdapat lagi sumber air.
Gue, bersama Adit dan Gendut kebagian jatah ngambil air.
"Ndut semua botol- botol yang semalem udah diringsek-ringsekin, ayoo kita tiup-tiupin lagi..." Perintah gue pada Gendut sambil niup botol-botol bekas air minum sisa dari bus semalem.
Karena botol kosong bisa dikempeskan agar gak memakan tempat saat dibawa dan jika hendak diisi tinggal ditiup dan botol akan kembali seperti semula.
Cara seperti ini sangat disarankan saat kita hendak membawa botol-botol kosong dan sangat memungkinkan bisa dimasukan ke cerriel. karena sangat tidak safety jika kita membawa sampah botol dalam keadaan bentuk utuh yang berjumlah banyak dibawa dalam kantong trasbag atau karung lalu dipegang sambil menuruni jalur.
"Oiya kalo udah, kita isi semua botol itu..." perintah gue lagi.
"buset dah, apa gak berat nih Bonk kalo diisi semua...???" Jawab Gendut.
"Iyaa Bonk, ini pasti berat banget..." Jawab Adit ikut menimpali.
"Ingat bro, tim kita ada 10 orang, dan tiap orang membutuhkan 4 liter air tiap harinya, sementara kita estimasi perjalanannya kurang lebih 2 hari perjalanan. Jadi bisa diitung sendiri bro..." Jawab gue menjelaskan, karena gue dapet ilmu ini dari abang gue.
"10 x 4 x 2 = 80 liter
Walah... Berarti kita kudu bawa air sebanyak itu Bonk...???" Tanya Gendut tetep ngeyel.
"Yaa itu itung-itungan manajemen air nya bro... Kuat gak kuat itu wajib dibawa dan itu sumber kehidupan kita...
Lagian kan itu buat bersepuluh, jadi kalo dibagi paling kita bawanya cuma 5 botol/orang" Jawab gue dengan lagak sok pengalaman.
"Tapi kan kalo turun ujan kita bisa manfaatin air ujan Bonk..???" Tanya Gendut lagi.
"Yaa, walaupun musim hujan kita tetap mempersiapkan air dari bawah, apa kita bisa menjamin bahwa nanti akan turun hujan...???
Tapi musim bisa juga menjadi pertimbangan, kita bisa mengurangi sedikit bawaan air kita, tapi tetap seoptimal mungkin...
Dan jangan lupa, payung dan plastik ukuran lebar disiapkan, jadi sewaktu-waktu saat ngecamp turun hujan, kita bisa nampung air, tapi kalo turun hujannya pas kita jalan, kita gak bisa menampung sama sekali... Jadi membawa air dari bawah seoptimal mungkin itu hukumnya wajib...!!!" Jawab gue tegas.
Setelah gue jelasin panjang lebar, akhirnya mereka nyambung juga, dan bergegas mengambil air sesuai yang dibutuhkan.
Setelah semua persediaan air tercukupi dan semua telah siap perjalanan dilanjutkan kembali, seperti biasa gue bagian ditengah-tengah rombongan, jadi ini kesempatan gue untuk lebih dekat dan lebih akrab dengan Ayuni dan Vitha.
Yaa, perjuangan gue gak sia-sia, gue merasa kedua cewek ini lebih dekat sama gue ketimbang sama temen-temen gue yang lain. Dan perjalanan pun terasa sangat menyenangkan.
"Ini bener-bener pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Pos demi pos kami lalui, walau dengan peluh dan keringat tapi perjalanan ini tetap terasa menyenangkan, setelah melewati pos Kandang Amis lalu segera kami memasuki pos Kandang Kuda yang termasuk pos 4.
Trek yang menanjak dan curam serasa landai jika gue selalu dekat dengan bidadari-bidadari yang cantik ini, apalagi jika melihat senyum Vitha yang manisnya luar biasa,
"Ooh hati gue klepek-klepek kalo liat tuh bibir... Manis bangett...
Madu tawon hutan ciremai pun akan kalah manis dibanding senyum Vitha ini..." Hati gue terus ngigo akan kecantikan Vitha.
Tak berapa lama, tiba-tiba.
"Nguuung... Nguuung... Nguuung..." Entah dari mana datangnya tiba-tiba ada tawon datang muter-muter di sekitar gue. Dan langsung
"juuZz... Jedeeerrr..." leher gue disengat tawon tersebut.
"Aaaahhh... Tolong... Tolong..." mulut gue reflek teriak sekenceng-kencengnya.
Seketika gue lepas keril lalu gue guling-guling kesakitan, sontak temen-temen yang lain langsung menghampiri dan ikut-ikutan panik.
"Lu kenapa Bonk...???"
"Woy sadar Bong, ayoo sadar..." Ucap temen-temen gue panik karena liat gue guling-guling sambil megang pangkal leher bagian belakang.
Bahkan diantara mereka ada yang membaca ayat-ayat suci dan disangkanya gue kesurupan.
Setelah agak lama gue mulai tenang tapi tetep merintih kesakitan.
"Gue kesengat tawon bro,,, sakit banget kayak kesamber gledek bro... Panas banget..." Gue menjelaskan sambil agak teriak dan panik.
Tiba-tiba, "JedueeeRrrr....!!!" gledek menyambar salah satu pohon disekitar kami.
"Woy makanya jangan asal ngomong lu Bonk..." ucap Aldi mengingatkan.
"Iya Al, tapi ini bener2 sakit banget... pokoknya sakittt..." jawab gue sambil nahan rasa sakit.
"Oke, tenang bonk, mana, mana yang tersengat, itu sengatnya kudu lekas dicabut biar racunnya kagak makin nyebar..." Tanya Adit menjelaskan.
"Di pangkal leher gue Dit, sakit banget dit..." Jawab gue sambil menujukan bekas sengatannya.
"Baik bentar gue cabut dulu tuh sengat nya..." Ucap Adit sambil mencabut sengatnya dengan kuku jarinya yang memang agak panjang.
"Oke, setelah dicabut, kompres dengan air dingin agar didaerah bekas sengatan adem dan cenderung mati rasa, ini akan menghilangkan rasa sakit... Setelah dikompres kita langsung olesi dengan pasta gigi..." Adit mencoba mengobatiku dengan mengolesi pasta gigi.
"Kenapa pakai pasta gigi Dit...???" Tanya Gendut heran.
"Karena pasta gigi mengandung zat Alkalin yang berfungsi menetralkan racun, zat Alkalin ini bersifat asam. Bahkan beberapa pasta gigi mengandung gliserin yang berfungsi menyerap racun akibat sengatan tawon, ini mungkin belum banyak orang-orang yang tau...
Makanya kalian harus tau dan diinget-inget..." Adit mencoba menjelaskan.
Benar saja beberapa menit setelah sengat dicabut dan dikompres air dingin, lalu diolesi odol, pundak gue langsung terasa adem dan gak kaku lagi, sakitnya pun jg sedikit berkurang.
Setelah insiden ini, dan kebetulan waktunya juga udah jam 12 siang dan tak jauh ada shelter pos 4 yang lumayan luas, jadi perjalanan kami hentikan untuk sekedar memasak dan istirahat, sekaligus juga untuk menenangkan hati gue dan memberi waktu buat pundak gue yang masih sakit.
Setengah jam kemudian nasi dan lauk pauk berikut sayur sudah mateng, dan tak perlu menunggu lama kami menyantapnya dengan lahap.
***
Waktu menunjukkan jam 1 siang, ini artinya perjalanan kudu dimulai, setelah packing kembali peralatan masak dan logistik, perjalanan dilanjutkan dan tak lupa diawali dengan do'a.
Perjalanan pun terasa menyenangkan, karena perut dan kondisi medan yang tidak gersang seperti gunung-gunung pada umumnya. Di gunung Ciremai ini walau medannya menanjak dan curam tetapi kondisi hutannya masih terjaga. Ini yang membuat sepanjang perjalanan tetap adem walau disiang bolong.
Tapi tak berapa lama kami berjalan, tanjakan curam yang mengerikan segera menghadang. Yaa ini yang disebut tanjakan Seruni. Tanjakan yang menguras tenaga dan tanjakan yang memacu adernalin para pendaki.
"Sini Vit gue bawain kerilnya..." ucap gue basa basi yang basi.
"Gak aah mas, mas Ambonk kan baru aja bawa keril gede gantian sama mas Adit... pasti cape...
Lagian keril gue kan kecil mas, jadi gue masih kuat kok..." jawab Vitha sambil tersenyum manis.
"Yaudah punya lu aja Ayuni biar gue bawain..." ucap gue lagi pada Ayuni cari-cari kesempatan pedekate.
"Gak mas makasih... Ayu masih kuat kok..." jawab Ayuni sambil teraipu malu, dengan pancaran matanya yang manja.
"Gue ngeliat dari tatapan kedua cewek ini, kaya'nya dua-duanya naksir gue deh..." ucap hati gue pede.
"Aah kepedean banget nih gue, gak gak gak... ini hanya perasaan gue aja..." hati gue terus bergejolak.
Yaa, apapun itu yang pasti pendakian ini sungguh berarti dalam hidup gue, dan ini yang pertama kalinya mendaki ditemenin sama cewek-cewek yang sangat perhatian.
"Ini sungguh pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Tanjakan demi tanjakan telah kami lalui, mulai dari merunduk saat jalur tertutup pohon yang tumbang, bahkan sampai mendaki dengan berpegangan akar-akaran karena curamnya medan, dengan medan yang seperti ini membuat gue sering menolong Vitha dan Ayuni, sesekali gue menjulurkan tangan saat gue berada diatas tanjakan, lalu tangan Vitha dan Ayuni yang lembut itu tak bosan-bosannya gue pegang dan gue tarik bak spiderman yang menolong kekasihnya yang hendak terjatuh. Dan hal seperti inilah yang gue suka dari sebuah pendakian.
"Ini bener-bener pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Tak terasa kami sudah sampai di pos Bapa Tere tepat jam 3 sore. Tapi di pos ini tak ada tanah lapang, hanya sebuah tulisan yang tertempel di pohon yang tak memungkinkan untuk istirahat lama-lama. Dan dari pos inilah gerimis mulai turun rintik-rintik.
"Gimana nih Pot, mau mendirikan tenda disini apa lanjut lagi...??? Fisik gue udah mulai ngedrop nih..." ucap Tiar putus asa.
"Kita gak mungkin ngecamp disini, disini gak memungkinkan untuk mendirikan tenda... kita cari tempat didepan aja yang lebih luas...
Lagian ini cuma gerimis kabut, gak bakalan jadi ujan..." jawab Sapot selaku ketua.
"Iya, gak lama lagi setelah pos ini didepan ada pos Batu Lingga yang disana jg terdapat shelter yang cukup luas..." ucap Adrian yang sudah hafal jalurnya.
Setelah istirahat bentar dan diskusi akhirnya perjalanan dilanjutkan lagi menuju pos Batu Lingga.
Kali ini medan dan treknya makin ekstrim, sesekali kita harus berpegangan akar-akaran dan memilih pijakan untuk kaki karena jalurnya sangat terjal.
Tepat beberapa saat sebelum sampai di pos Batu Lingga Adrian memberi petunjuk.
"Setelah tanjakan ini, diatas ada tanah lapang yang datar dan disitulah pos Batu Lingga..." Adrian memberi semangat yang memang sudah hafal jalurnya.
Dengan tubuh yang lemah karena memang sudah ngedrop dari pos Bapa Tere, Tiar dengan semangatnya melangkah mencoba mendahului yang lain, setelah hampir sampai di atas, beberapa meter sebelum shelter, tiba-tiba Tiar terjatuh.
"Braakk..." "aaaahhh..." tiar berteriah kesakitan setelah tubuhnya terpelanting jatuh ke tanah.
Seketika kami semua berlari mendekatinya.
"Tiar, Tiar lu gak papakan...???" ucap Sapot sembari panik.
"Kaki gue pot, kayaknya keseleo nih, aaahhh..." ucap Tiar sembari merintih.

























