Diangkat dari kisah nyata
Nama gue Refli Ardiansyah, tapi gue biasa dipanggil Ambonk, gue bukan orang hebat atau orang yang sok hebat, gue cuma pemuda biasa yang menjalani hidup gue apa adanya. Dan kali ini gue bukan untuk bercerita tentang hal yang muluk-muluk, tapi gue cuma ingin bercerita tentang perjalanan gue mengenal Indonesia dari dekat dan menikmati keindahannya lebih dekat, dan sekaligus ini adalah perjalanan gue mengenal apa itu cinta.
Dan karena itulah, cerita ini gue kasih judul Pendakian terindah.
Cerita ini berawal saat gue dan temen-temen berencana ingin ngadain reonian, setelah diskusi yang panjang akhirnya kami putuskan untuk melakukan perjalanan pendakian gunung Ciremai, karena menurut temen-temen, perjalanan ini bakal menjadi perjalanan yang seru dan menyenangkan. Dan juga menurut abang gue, yang lebih dulu pernah ke gunung itu beberapa tahun yang lalu, gunung ini adalah salah satu gunung terindah yang pernah didakinya. Dan dari cerita itu gue semakin penasaran, dan jiwa petualang gue makin tertantang.
Setelah jauh-jauh hari menyiapkan perbekalan, terutama latihan fisik beberapa minggu sebelumnya, dan kini tibalah hari yang ditunggu-tunggu.
***
Sabtu, 15 agustus 2015. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, tepat pukul 22.00wib gue sudah stanby di titik kumpul yang telah disepakati bersama, tapi sayangnya sudah 15 menit gue disini ternyata dari ketujuh temen-temen gue, tak satupun yang sudah menampakkan batang hidungnya.
Setelah ditunggu cukup lama, akhirnya gue telpon temen gue untuk mastiin keberangkatannya.
"Woy bray, bijimane nih rencananya, kok belum pada nongol siih lu lu pade...???" Ucap gue dengan nada setengah ngomel-ngomel karena saking sebelnya menunggu lama.
"Sabar bos, gue lagi dijalan nih kena macet... Jangan kuatir kita udah di bus nih, mungkin sekitar 20 menitan nyampe..." Jawabnya enteng.
"Buset daah lama amat lu bray... Gue udah jamuran disini, udah ky' preman terminal nih, udah kusut nih muka ane.." Ucap gue lagi.
"Hahahaa... Ky' gak tau jam karetnya anak Endonesah aja lu Bonk... Oke deh, biar lu gak berasa lama, temen gue yang katanya mau gabung ama kita, katanya udah sampai di terminal juga bray, ntar gue smsin nomer hp nya aje yee.. Do'i cewek cantik bray dijamin lu suka deh..." Jawab Aldi sok memberi solusi.
"Dalam kondisi ky' gini gue gak peduli cewek ato cowok bray, yang penting lu lu pade cepet sampe sini trus kita berangat..." Jawab gue sewot.
Setelah Aldi mengirim sms no hp temennya yang mau gabung, dan gue hubungi tuh anak, akhirnya kita ketemuan tepat di pintu keluar terminal Kampung Rambutan ini.
Seperti yang Aldi bilang, do'i lumayan cantik dan baik lagi. Cuma gue amang udah sewot dari sebelumnya, jadi gak ngaruh buat hati gue.
Tepat jam 11 malem rombongan temen-temen gue baru pada dateng, tanpa basa-basi dan berbincang-bincang lama, kamipun langsung membeli tiket bus dan langsung memulai perajanan menuju terminal Cirebon.
Perjalanan kami lalui sungguh sangat menyenangkan, dari balik jendela gue menikmati pemandangan jalanan pantura, setiap jengkalnya gue nikmati sepetuh hati, hingga tak terasa gue terlelap dalam bangku bus yang sempit ini.
***
Tepat jam 4 dini hari kami sampai di terminal Harjamukti Cirebon dan saat menurunkan barang bawaan insiden pertama dalam perjalanan ini terjadi, cerriel gue yang isinya tenda dari minjem ternyata gak ada bro..!!! bisa dipastikan cerriel gue pasti kebawa rombongan lain yang tadi satu bus sama gue, dan mereka tadi turun dijalan sebelum masuk ke terminal karena mau mendaki via Palutungan.
Kejadian ini sungguh membuat semangat gue ngedrop seketika, rasanya gue enggan meneruskan perjalanan ini.
"Ayoo dunk Bonk, jangan terlalu dipikirin, gue yakin cerriel lu bakal balik lagi, gue yakin pendaki itu pasti gak sengaja ngambil carriel lu.." Ucap temen gue.
"Gimana gak stres bro, itu cerriel isinya perlengkapan gue semua, apalagi itu ada tenda, dari minjem temen abang gue lagi... Gimana gue jelasinnya ntar...???" Jawab gue putus asa.
"Yaudah yang penting kita berdo'a aja, moga cerriel lu bisa balik lagi, tapi untuk saat ini kita kudu tetep nglanjutin perjalanan ini...
Gak mungkin gara-gara insiden ini kita batal mendaki...
Masalah baju lu mungkin kita-kita bisa minjemin, dan masalah tenda kita kan bawa tenda 3 jadi saat ini kita masih ada 2 tenda, cukuplah buat bersepuluh" Ucap Sapot bijaksana.
Karena saran dari Aldi dan Sapot akhirnya gue mantepin tetep melanjutkan perjalanan, dan perjalanan dilanjutkan naik minibus ke Linggar Jati.
Sesampai nya di Linggarjati kami menurunkan barang-barang bawaan, sebagian ngurus perizinan sebagian lagi mengecek ulang logistis dan perbekalan, disini terasa ramai oleh hiruk pikuk para pendaki yang ingin merayakan hari kemerdekaan dipuncak Ciremai, setelah semua selesai temen-temen putuskan untuk istirahat sejenak untuk meluruskan badan, tapi gue lebih milih menghindar dari keramaian dan menikmati suasana sejuknya di pegunungan.
Disini gue bener-bener menikmati kegegaran udara pagi dikaki gunung, fajar yang mulai terang diujung timur.
"huuufff,,, pantes jaman kolonial dulu, Linggar Jati ini jadi tempat favorit para penguasa, super indah suasananya..." Guman gue dalam hati sambil menghirup dalam-dalam udara pagi yang menyegarkan paru-paruku.
Saat gue sedang asyik dan bercumbu dengan kesendirian, tiba-tiba ada yang datang dan menegor,
"Hey mas Ambonk..." Ucap cewek yang mendekati dan duduk disamping gue.
Seketika gue cuma bisa bengong, gak nyangka cewek semalem ternyata cantiknya luar biasa, saat ini gue bener-bener terkejut, seakan gue melihat dua matahari terbir dipagi ini, yang satu dari arah timur dan yang satu dari arah barat lalu duduk tepat di samping gue ini, Gue bener-bener nyesel semalem cewek yang gue cuekin ternyata begitu indah dipagi ini.
"Lho kok bengong aja mas...???" Ucap cewek itu sambil melambaikan tangannya tepat dimuka gue, gue tetep bengong gak tau mau bilang apa lagi.
Belum selesai gue bengong datang lagi satu matahari yang memancarkan cahanya tak kalah silau dari sebelumnya. Yaa, satu lagi gadis cantik datang disisi gue, serasa gue diapit dua matahari.
Seketika cerriel gue yang hilang terlupakan, beban dipundak seakan lenyap tak bertuan, pegel-pegel setelah lelah perjalanan pun jadi seger lagi, gue merasa saat ini berada ditaman bidadari.
Pagi ini walau terasa gugup, obrolan terjadi begitu akrabnya, yang membuat pagi itu terasa luar biasa.
Yaa, Novitha dan Ayuni cewek yang semalem gue cuekin ternyata cantiknya luar biasa di pagi ini.
"Ini bener-bener pendakian terindah.. " hati gue berucap lirih.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Sebelum melakukan pendakian semua team berkumpul dengan formasi melingkar seperti biasa, breafing dan berdo'a.
Seperti biasa Sapot selaku ketua team mengatur manajemen perjalanan.
"Adrian, lu sama Tiar gw tunjuk sebagai team lider, karena lu yang udah beberapa kali kesini dan gw yakin lu lebih hapal jalurnya... Sementara Adit sama Gendut lu gw tunjuk sebagai team penyapu karena gw yakin badan kalian lebih kuat dan sikap kalian yang lebih pakem..." sapot memberi pengarahan dalam manajemen perjalanan.
"Karena dalam suatu team pendakian, yang merasa tubuhnya paling kuat biasanya dia diposisi paling belakang untuk mengawasi teman-temannya yang didepan. Bukan malah sebaliknya yang kuat didepan sementara yang lemah dibelakang, ini sangat berbahaya, jadi yang lemah akan makin tertinggal...
Oiya, sementara yang lain tetap diposisi tengah, jarak kita jangan saling berjauhan, agar kita tetap selalu dalam pengawasan satu sama lain..." lanjut Sapot sebagai orang yang dituakan di kelompok kami.
Setelah semua paham tugas masing-masing, mereka siap memulai perjalanan yang sesungguhnya. Dengan sebelumnya diawali dengan do'a bersama.
"Ayoo kita tos dulu sebelum berangkat..." Ucap Adit dengan menyodorkan tangannya dan diikuti yang lainnya. Dengan posisi membentuk formasi melingkar mereka menyatukan tangannya sembari berucap.
"Binzah Alon Jaya, yeeesss...!!!" kami kompak berteriak sambil menggambrengkan tangan.
Perjalan pun terasa lebih menyenangkan karena ditemani team yang kompak dan ada 2 gadis yang sangat baik. Yang tentunya tugas gue menjaga kedua gadis ini tetap dalam kondisi aman. Hehehe...
Dan gue merasa ini perjalanan yang sangat mengesankan.
"Ini bener-bener pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Setelah perjalanan sekitar 20 menit, tibalah kami di pos Cibunar atau sering disebut camping ground, disini suasana sangat ramai, sangatlah ramai untuk ukuran lahan datar di hutan, walaupun camping ground ini sangat luas tapi tetap terasa penuh sesak oleh tenda dan hiruk pikuk aktivitas para pendaki yang mau je puncak atau anak-anak remaja yang hanya ingin kemping, disini juga terdapat warung-warung yang menyediakan makanan, termasuk gorengan +cabe nya yang masih panas dan menggoda selera.
Tanpa pikir panjang gue langsung duduk di bangku yang ada di warung itu, diikuti temen-temen yang lain.
Tanpa waktu lama teh anget dan gorengan pun langsung segera bergantian melewati tenggorakan dan langsung mengisi rongga-rongga yang ada di perut kami.
"Yaa, karena kami sangat lapar, sangatlah lapar..." Jawab hati gue walau gak ada yang nanya.
Setelah perut sedikit terisi makanan, barulah kami segera bagi tugas, sebagian istirahat dan solat karena disini ada musholah dan disekitar musholah itu juga terdapat makam. Dan disini lah sumber mata air terakhir, karena sepanjang perjalanan sudah tidak terdapat lagi sumber air.
Gue, bersama Adit dan Gendut kebagian jatah ngambil air.
"Ndut semua botol- botol yang semalem udah diringsek-ringsekin, ayoo kita tiup-tiupin lagi..." Perintah gue pada Gendut sambil niup botol-botol bekas air minum sisa dari bus semalem.
Karena botol kosong bisa dikempeskan agar gak memakan tempat saat dibawa dan jika hendak diisi tinggal ditiup dan botol akan kembali seperti semula.
Cara seperti ini sangat disarankan saat kita hendak membawa botol-botol kosong dan sangat memungkinkan bisa dimasukan ke cerriel. karena sangat tidak safety jika kita membawa sampah botol dalam keadaan bentuk utuh yang berjumlah banyak dibawa dalam kantong trasbag atau karung lalu dipegang sambil menuruni jalur.
"Oiya kalo udah, kita isi semua botol itu..." perintah gue lagi.
"buset dah, apa gak berat nih Bonk kalo diisi semua...???" Jawab Gendut.
"Iyaa Bonk, ini pasti berat banget..." Jawab Adit ikut menimpali.
"Ingat bro, tim kita ada 10 orang, dan tiap orang membutuhkan 4 liter air tiap harinya, sementara kita estimasi perjalanannya kurang lebih 2 hari perjalanan. Jadi bisa diitung sendiri bro..." Jawab gue menjelaskan, karena gue dapet ilmu ini dari abang gue.
"10 x 4 x 2 = 80 liter
Walah... Berarti kita kudu bawa air sebanyak itu Bonk...???" Tanya Gendut tetep ngeyel.
"Yaa itu itung-itungan manajemen air nya bro... Kuat gak kuat itu wajib dibawa dan itu sumber kehidupan kita...
Lagian kan itu buat bersepuluh, jadi kalo dibagi paling kita bawanya cuma 5 botol/orang" Jawab gue dengan lagak sok pengalaman.
"Tapi kan kalo turun ujan kita bisa manfaatin air ujan Bonk..???" Tanya Gendut lagi.
"Yaa, walaupun musim hujan kita tetap mempersiapkan air dari bawah, apa kita bisa menjamin bahwa nanti akan turun hujan...???
Tapi musim bisa juga menjadi pertimbangan, kita bisa mengurangi sedikit bawaan air kita, tapi tetap seoptimal mungkin...
Dan jangan lupa, payung dan plastik ukuran lebar disiapkan, jadi sewaktu-waktu saat ngecamp turun hujan, kita bisa nampung air, tapi kalo turun hujannya pas kita jalan, kita gak bisa menampung sama sekali... Jadi membawa air dari bawah seoptimal mungkin itu hukumnya wajib...!!!" Jawab gue tegas.
Setelah gue jelasin panjang lebar, akhirnya mereka nyambung juga, dan bergegas mengambil air sesuai yang dibutuhkan.
Setelah semua persediaan air tercukupi dan semua telah siap perjalanan dilanjutkan kembali, seperti biasa gue bagian ditengah-tengah rombongan, jadi ini kesempatan gue untuk lebih dekat dan lebih akrab dengan Ayuni dan Vitha.
Yaa, perjuangan gue gak sia-sia, gue merasa kedua cewek ini lebih dekat sama gue ketimbang sama temen-temen gue yang lain. Dan perjalanan pun terasa sangat menyenangkan.
"Ini bener-bener pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Pos demi pos kami lalui, walau dengan peluh dan keringat tapi perjalanan ini tetap terasa menyenangkan, setelah melewati pos Kandang Amis lalu segera kami memasuki pos Kandang Kuda yang termasuk pos 4.
Trek yang menanjak dan curam serasa landai jika gue selalu dekat dengan bidadari-bidadari yang cantik ini, apalagi jika melihat senyum Vitha yang manisnya luar biasa,
"Ooh hati gue klepek-klepek kalo liat tuh bibir... Manis bangett...
Madu tawon hutan ciremai pun akan kalah manis dibanding senyum Vitha ini..." Hati gue terus ngigo akan kecantikan Vitha.
Tak berapa lama, tiba-tiba.
"Nguuung... Nguuung... Nguuung..." Entah dari mana datangnya tiba-tiba ada tawon datang muter-muter di sekitar gue. Dan langsung
"juuZz... Jedeeerrr..." leher gue disengat tawon tersebut.
"Aaaahhh... Tolong... Tolong..." mulut gue reflek teriak sekenceng-kencengnya.
Seketika gue lepas keril lalu gue guling-guling kesakitan, sontak temen-temen yang lain langsung menghampiri dan ikut-ikutan panik.
"Lu kenapa Bonk...???"
"Woy sadar Bong, ayoo sadar..." Ucap temen-temen gue panik karena liat gue guling-guling sambil megang pangkal leher bagian belakang.
Bahkan diantara mereka ada yang membaca ayat-ayat suci dan disangkanya gue kesurupan.
Setelah agak lama gue mulai tenang tapi tetep merintih kesakitan.
"Gue kesengat tawon bro,,, sakit banget kayak kesamber gledek bro... Panas banget..." Gue menjelaskan sambil agak teriak dan panik.
Tiba-tiba, "JedueeeRrrr....!!!" gledek menyambar salah satu pohon disekitar kami.
"Woy makanya jangan asal ngomong lu Bonk..." ucap Aldi mengingatkan.
"Iya Al, tapi ini bener2 sakit banget... pokoknya sakittt..." jawab gue sambil nahan rasa sakit.
"Oke, tenang bonk, mana, mana yang tersengat, itu sengatnya kudu lekas dicabut biar racunnya kagak makin nyebar..." Tanya Adit menjelaskan.
"Di pangkal leher gue Dit, sakit banget dit..." Jawab gue sambil menujukan bekas sengatannya.
"Baik bentar gue cabut dulu tuh sengat nya..." Ucap Adit sambil mencabut sengatnya dengan kuku jarinya yang memang agak panjang.
"Oke, setelah dicabut, kompres dengan air dingin agar didaerah bekas sengatan adem dan cenderung mati rasa, ini akan menghilangkan rasa sakit... Setelah dikompres kita langsung olesi dengan pasta gigi..." Adit mencoba mengobatiku dengan mengolesi pasta gigi.
"Kenapa pakai pasta gigi Dit...???" Tanya Gendut heran.
"Karena pasta gigi mengandung zat Alkalin yang berfungsi menetralkan racun, zat Alkalin ini bersifat asam. Bahkan beberapa pasta gigi mengandung gliserin yang berfungsi menyerap racun akibat sengatan tawon, ini mungkin belum banyak orang-orang yang tau...
Makanya kalian harus tau dan diinget-inget..." Adit mencoba menjelaskan.
Benar saja beberapa menit setelah sengat dicabut dan dikompres air dingin, lalu diolesi odol, pundak gue langsung terasa adem dan gak kaku lagi, sakitnya pun jg sedikit berkurang.
Setelah insiden ini, dan kebetulan waktunya juga udah jam 12 siang dan tak jauh ada shelter pos 4 yang lumayan luas, jadi perjalanan kami hentikan untuk sekedar memasak dan istirahat, sekaligus juga untuk menenangkan hati gue dan memberi waktu buat pundak gue yang masih sakit.
Setengah jam kemudian nasi dan lauk pauk berikut sayur sudah mateng, dan tak perlu menunggu lama kami menyantapnya dengan lahap.
***
Waktu menunjukkan jam 1 siang, ini artinya perjalanan kudu dimulai, setelah packing kembali peralatan masak dan logistik, perjalanan dilanjutkan dan tak lupa diawali dengan do'a.
Perjalanan pun terasa menyenangkan, karena perut dan kondisi medan yang tidak gersang seperti gunung-gunung pada umumnya. Di gunung Ciremai ini walau medannya menanjak dan curam tetapi kondisi hutannya masih terjaga. Ini yang membuat sepanjang perjalanan tetap adem walau disiang bolong.
Tapi tak berapa lama kami berjalan, tanjakan curam yang mengerikan segera menghadang. Yaa ini yang disebut tanjakan Seruni. Tanjakan yang menguras tenaga dan tanjakan yang memacu adernalin para pendaki.
"Sini Vit gue bawain kerilnya..." ucap gue basa basi yang basi.
"Gak aah mas, mas Ambonk kan baru aja bawa keril gede gantian sama mas Adit... pasti cape...
Lagian keril gue kan kecil mas, jadi gue masih kuat kok..." jawab Vitha sambil tersenyum manis.
"Yaudah punya lu aja Ayuni biar gue bawain..." ucap gue lagi pada Ayuni cari-cari kesempatan pedekate.
"Gak mas makasih... Ayu masih kuat kok..." jawab Ayuni sambil teraipu malu, dengan pancaran matanya yang manja.
"Gue ngeliat dari tatapan kedua cewek ini, kaya'nya dua-duanya naksir gue deh..." ucap hati gue pede.
"Aah kepedean banget nih gue, gak gak gak... ini hanya perasaan gue aja..." hati gue terus bergejolak.
Yaa, apapun itu yang pasti pendakian ini sungguh berarti dalam hidup gue, dan ini yang pertama kalinya mendaki ditemenin sama cewek-cewek yang sangat perhatian.
"Ini sungguh pendakian terindah..." lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
Tanjakan demi tanjakan telah kami lalui, mulai dari merunduk saat jalur tertutup pohon yang tumbang, bahkan sampai mendaki dengan berpegangan akar-akaran karena curamnya medan, dengan medan yang seperti ini membuat gue sering menolong Vitha dan Ayuni, sesekali gue menjulurkan tangan saat gue berada diatas tanjakan, lalu tangan Vitha dan Ayuni yang lembut itu tak bosan-bosannya gue pegang dan gue tarik bak spiderman yang menolong kekasihnya yang hendak terjatuh. Dan hal seperti inilah yang gue suka dari sebuah pendakian.
"Ini bener-bener pendakian terindah.. " lagi-lagi hati gue berucap kata-kata itu.
"Yaa,,, pendakian terindah..." diulangi lagi.
***
Tak terasa kami sudah sampai di pos Bapa Tere tepat jam 3 sore. Tapi di pos ini tak ada tanah lapang, hanya sebuah tulisan yang tertempel di pohon yang tak memungkinkan untuk istirahat lama-lama. Dan dari pos inilah gerimis mulai turun rintik-rintik.
"Gimana nih Pot, mau mendirikan tenda disini apa lanjut lagi...??? Fisik gue udah mulai ngedrop nih..." ucap Tiar putus asa.
"Kita gak mungkin ngecamp disini, disini gak memungkinkan untuk mendirikan tenda... kita cari tempat didepan aja yang lebih luas...
Lagian ini cuma gerimis kabut, gak bakalan jadi ujan..." jawab Sapot selaku ketua.
"Iya, gak lama lagi setelah pos ini didepan ada pos Batu Lingga yang disana jg terdapat shelter yang cukup luas..." ucap Adrian yang sudah hafal jalurnya.
Setelah istirahat bentar dan diskusi akhirnya perjalanan dilanjutkan lagi menuju pos Batu Lingga.
Kali ini medan dan treknya makin ekstrim, sesekali kita harus berpegangan akar-akaran dan memilih pijakan untuk kaki karena jalurnya sangat terjal.
Tepat beberapa saat sebelum sampai di pos Batu Lingga Adrian memberi petunjuk.
"Setelah tanjakan ini, diatas ada tanah lapang yang datar dan disitulah pos Batu Lingga..." Adrian memberi semangat yang memang sudah hafal jalurnya.
Dengan tubuh yang lemah karena memang sudah ngedrop dari pos Bapa Tere, Tiar dengan semangatnya melangkah mencoba mendahului yang lain, setelah hampir sampai di atas, beberapa meter sebelum shelter, tiba-tiba Tiar terjatuh.
"Braakk..." "aaaahhh..." tiar berteriah kesakitan setelah tubuhnya terpelanting jatuh ke tanah.
Seketika kami semua berlari mendekatinya.
"Tiar, Tiar lu gak papakan...???" ucap Sapot sembari panik.
"Kaki gue pot, kayaknya keseleo nih, aaahhh..." ucap Tiar sembari merintih.
Semua orang pasti tak akan menduga bahwa edelweis di pos 3 itu akan menyadarkan kita semua, akan arti pentingnya sebuah upaya pelestarian alam.
***
Jalur pendakian gunung Gede-Pangrango disetiap weekend pasti selalu ramai oleh para pendaki yang ingin melepas penat dari rutinitas kesehariannya.
Tak terkecuali hari ini, saat matahari sedang belo-belonya memancarkan terik sinarnya, namun siang itu pacarannya tak mampu menembus perisai lebatnya kanopi yang menyelimuti seluruh tubuh Gede-Pangrango.
Dibawah perisai itu nampak para pecandu ketinggian sedang merayap menyusuri jalur setapak untuk sebuah pemuas hasrat pengembaraannya.
Tepat di pos 3 nampak seorang pendaki cilik berteriak-teriak pada ayahnya penuh suka cita.
"Horee... puncak, puncak, puncak...
Sebentar lagi sampai puncak...!!!" Teriak Cika, anak umur 7 tahun sembari berlari berputar-putar mengelilingi ayahnya.
Teriakannya seketika memecah kesunyian, menggugah para jiwa-jiwa kelelahan yang sedang bersandar pada sebatang pohon-pohon besar disekitar tanah datar di pos 3.
Sontak sang ayah terkejut,
"Cika sayang, perjalanan kita masih jauh...
Saat ini kita baru sampai pos 3, jadi yang sabar yaa sayang..." bujuk sang ayah menundukan tubuhnya sambil mengelus rambut Cika.
"Aaahh si adek berisik aja nih, kak Ical mau istirahat tau..." ucap sang kakak sewot sembari bersandar pada tembok bangunan pos 3 itu.
"Tapi Yah, waktu kita ke gunung Papandayan, Ayah kan pernah bilang kalo kita sudah mencium harum edelweis, itu menandakan kita sudah hampir sampai di puncak Yah...???" Ucap Cika polos dengan mata menatap raut muka sang ayah yang makin terheran dibuatnya.
"Itu kan gunung Papandayan dek, jalurnya gak sejauh di gunung ini..." lagi-lagi sang kakak menimpali dengan nada gujih.
Sang ayah tetap tenang, sambil berjongkok dihadapan buah hatinya yang sangat ia sayangi. Dengan sesekali membelai rambut Cika.
"Iyaa sayang, nanti kalo kita sudah mendekati puncak, kita akan di sambut harum semerbak bunga ketinggian itu...
Mata kita akan disuguhi pemandangan yang sangat indah, disana terhampar bunga-bunga suci nan abadi, bunga edelweis namanya, bunga yang mampu menghapus lelah para jiwa-jiwa yang kelelahan setelah lama perjalanan..." jelas sang ayah dengan nada mendayu. Dan sang ibu tetap diam disamping sang ayah dengan senyumnya yang ramah.
"Bukankah disini kita sudah merasakan itu Yah...???" Ucap Cika polos.
Nampak kedua orang tuanya makin heran, terlihat jelas kerutan-kerutan di kening, matanya menyempit dengan kaca mata yang melingkari matanya. Menambah kesan heran di wajah sang ayah.
"Apa maksudmu nak...???" ucap sang ayah dengan tangan yang menempel di pipi Cika
"Lihat Yah,,, disana sudah ada bunga itu..." ucap Cika dengan jarinya yang menunjuk ke arah bangku yang terbuat dari beton, yang ada disamping kanan pos 3 itu.
Ya, diatas bangku itu telah tergeletak seikat bunga edelweis yang telah merekah.
Sepontan semua pendaki yang ada disana langsung mendekat,
"Gila' kelakuan siapa nih, berani-beraninya memetik bunga yang langka ini, gak tau etika..." ucap salah satu pendaki.
"Ini bukan pecinta alam namanya, ini perusak alam...!!!" Celetuk pendaki lain.
Seketika suasana menjadi riuh redam, puluhan pendaki mengerubuti dengan cacian-cacian kasarnya.
Yang bikin suasana makin panas, saat ada dua orang pendaki yang mendekat dan melontarkan kata-kata kotor, menghujat sipemetik edelweis, tetapi setelah itu mereka malah langsung menghilang berjalan menuruni jalur.
Sontak Ical sang kakak langsung menuduh dua pendaki itu,
"Ini pasti pekerjaan dua pendaki tadi, kita semua kan baru mau naik, sementara dia sudah berjalan turun..." ucap Ical sambil menunjuk arah jalur turun, yang diiyakan oleh semua pendaki yang ada disana.
Suasana makin tegang, kabut yang datang tak mampu mendinginkan suasana.
Sang ayah mencoba menepuk pundak Ical agar tidak berpikiran negatif pada seseorang yang belum tentu kebenarannya.
Dalam suasana yang semakin kacau, tiba-tiba sang adik berteriak ditengah kerumunan.
"Lihat Yah ada surat di tembok itu..." ucap Cika sembari menunjuk secarik kertas yang sengaja ditempel oleh seseorang.
Setelah sang ayah mengambil, mereka pun bersama-sama membaca surat itu.
****
Untuk siapa pun yang menemukan bunga ini.
Mungkin kalian akan menganggapku sibodoh yang tak tau aturan...
Mungkin kalian akan menghujatku dengan makian kata-kata kotor tak beraturan...
Tapi apapun itu aku akan terima, karena ini mutlak dari kesalahanku...
Aku melakukan pendakian ini salah satu tujuanku memang memetik bunga abadi ini, karena aku ingin membuktikan pada seseorang yang aku sayangi, bahwa cintaku suci dan akan abadi seperti bunga edelweis ini...
Walaupun aku tau, tindakan ini tercela...
Bahkan hati kecilku selalu berontak akan tindakanku ini...
Tepat sedetik setelah memetik bunga ini, batinku terbebani rasa bersalah yang teramat dalam...
Satu langkah meninggalkan pohon itu, beban di pundakku terasa semakin berat...
Tapi demi membuktikan rasa cintaku pada sang pujaan hati, aku tetap semangat untuk melangkah walaupun beban itu makin terasa barat...
Hingga disini di pos 3, aku tak mampu lagi melangkah, tulang belulangku terasa lunglai, nafas yang kuhirup terasa sesak di dada, dan seikat bunga edelweis ini yang membuat beban dipikiranku makin membebani...
Dan di pos 3 inilah aku sadar, bahwa untuk membuktikan ketulusan cinta tak harus mengorbankan kecintaanku pada alam semesta...
Sekali lagi maaf beribu maaf...
Bagi yang menemukan bunga ini, tolong kembalikan pada pohonnya semula,
Pohon itu berada di baris ketiga tepat setelah memasuki Surya Kencana, Pohon itu paling besar diantara yang pohon lainnya, bunganya lebih rimbun dan ranting-rantingnya menjurus ke segala sisinya...
Dan bunga ini aku petik dari ranting disebelah barat daya dari pohon itu...
Tolong ikatkan kembali bunga ini pada ranting itu...
Agar hatiku kembali tenang dari rasa bersalah yang selalu menghantam...
Dan sebelumnya terimakasih atas kebaikannya...
Gede-Pangrango 27 mei 2015
Ttd
PENDAKI BODOH
****
"Lihat lah nak, betapa telah menyesalnya orang yang memetik bunga ini, jadi tak perlu kita menghujatnya mereka akan sadar dengan sendirinya...
Karena biasanya, orang-orang yang memetik bunga ini, bukan karena mereka sengaja berbuat jahat, tetapi biasanya mereka adalah orang-orang yang belum mampu mencapai pendewasaan dalam menghayati kecintaannya pada alam yang indah ini...
Sudah sepantasnya kita sebagai individu-individu yang telah mengerti akan kelestarian alam, saling mengingatkan kepada mereka yang masih dangkal dalam pemikirannya tentang alam...
Dengan ajakan-ajakan yang baik, dengan teguran-teguran yang halus saat kita melihat langsung seseorang yang sedang melukai alam yang kita cinta ini, akan jauh lebih menyentuh dan membuka hatinya dari pada kita harus menghujat dan memakinya...
Karena sekeras apaun kita menghujat, jika tanpa kesadaran dari hatinya sendiri, maka tak akan berpengaruh apapun baginya...
Yang ada mereka akan main kucing-kucingan dengan kita atau petugas-petugas penjaga hutan..." ucap sang ayah sembari mengucap rambut anaknya.
"Baik Yah, aku ngerti..." ucap Ical sembari menundukan kepala.
"Oiya satu lagi, lihat ini...!!! dalam surat ini tertulis tanggal 27 mei, ini menandakan bahwa surat ini ditulis tiga hari yang lalu, ini berarti tidak mungkin dua pendaki yang kamu tuduh itu pelakunya...
Jadi mulai sekarang jangan negatif thinking dulu pada seseorang sebelum kita mempunyai bukti yang jelas..." ucap sang ayah menjelaskan.
"Iya Ayah, aku paham, maafin Ical yaa..." ucap Ical penuh sesal.
"Baiklah, mari lanjutkan lagi perjalanan kita dan kembalikan bunga ini pada pohonnya, sebagai simbolis bahwa kita peduli pada alam ini..." ajak sang ayah sembari berdiri dan siap-siap melanjutkan perjalanan.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya, dengan satu pembelajaran baru tentang arti pemahaman dari nilai sebuah pendakian itu sendiri.
Dan semoga kelak generasi-generasi kita berikutnya adalah generasi-generasi yang peduli, generasi yang lebih peka terhadap kelestarian alam negeri ini.
Semoga saja, Amin...
================SEKIAN===============
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada nama atau peristiwa kejadian yang sama, itu hanya kebetulan belaka...
By: Ahmad Pajali Binzah
=====================================
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pendakian Terindah
Pagi itu saat semua sudah berkumpul, Faisal dan teman-temannya siap berangkat untuk melakukan pendakian gunung, yang nanti pada akhirnya akan menjadikan perjalanan yg penuh cerita horor bagi mereka.
Mereka ber-enam yaitu Faisal, Ratih, Dea, Subhan, Rio dan Arya, mereka adalah sahabat sejak sama-sama masih kecil.
#Faisal,
Sebagai pencetus ide dan sekaligus pemimpin rombongan, dengan sikapnya yang ambisius dan keras kepala yang kadang sering membuatnya bersikap otoriter.
#Ratih,
Dengan sikap yg lembut dan sedikit minder juga penakut.
#Subhan,
Umurnya memang lebih tua, membuat sikapnya lebih dewasa dan lebih religi.
#Arya,
Sikapnya yang tenang, berwibawa dan cenderung pendiam.
#Dea,
Sicewek cerdas dan cekatan, dia juga berpacaran dengan Arya.
#Rio,
Teman akrab Arya karena dari SD sampai kuliahpun selalu barsama, mempunyai karakter yg penakut namun emosian.
Mereka semua adalah teman satu kampung yang dari kecil sering bermain bersama.
Tapi sejak lulus SMA mereka jarang bertemu, Faisal yg kuliah di Jakarta, Rio dan Arya sama-sama kuliah di Jogja, Dea kuliah di Semarang sementara Ratih dan Subhan tidak melanjutkan pendidikannya. Mereka berdua memilih membantu usaha orang tuanya.
Setelah sekian lama berpisah mereka ingin mengadakan reonian bersama, yaitu mereka merencanakan pendakian disalah satu gunung yang tak jauh dari kota mereka.
Faisal yang sudah lama menekuni hobi mendaki gunung, dialah yg punya ide sebelumnya dan sekaligus dianggap lider bagi teman-temannya.
***
Setelah perjalanan melewati jalan pegunungan menembuh jarak yang lumayan jauh, berkelok-kelok menyusuri punggungan dan lebatnya perkebunan. Menggunakan mobil angkutan bak terbuka, siang itu mereka sampai di suatu pertigaan jalan menuju desa terakhir dikaki gunung Kemulan.
"Huuft akhirnya sampai juga, walaupun jalannya banyak yang rusak dan sangat melelahkan, tapi perjalanannya asyik juga..." ujar Faisal sambil melompat dari mobil yang dicarternya.
"Iyaa, walaupun ini masih satu kabupaten tapi baru kali ini aku kesini..." ujar Subhan.
"Yaudah yuukk,,, turun-turunin barang bawaannya..." ajak Arya.
Setelah membayar mobil yang mengantar mereka, mereka pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki memasuki jalan kecil menanjak menuju desa Sengari, desa terakhir sebelum memasuki gunung Kemulan.
Sore itu, sekitar pukul 15.30wib sampailah mereka di desa yang dituju, desa yg sangat terpencil dengan akses jalan yang menanjak dan rusak, di desa inipun hanya berdiri beberapa rumah yg letaknyapun cukup berjauhan, menurut info desa ini dihuni sekitar 70 kepala keluarga yg terdiri dari beberapa dusun, saat mereka memasuki gerbang desa suasanya sangat sunyi, hanya suara deringan serangga gunung yg mendering-dering.
"Maaf bu, mau numpang tanya... rumahnya pak kades dimana yaa...???" Tanya Faisal pada seseorang yang kebetulan lewat.
"Ooh iyaa rumah pak kades ada di sebelah sana, jalan ini lurus nanti diatas tanjakan itu ada rumah menghadap ke selatan, itu rumahnya mas.." jawab orang itu penuh keramahan.
"Baik, makasih yaa bu..." jawab Faisal dengan senyum khasnya.
Merekapun bergegas menuju rumah pak Kades.
"Tok tok tok...!!!" "Assalamualaikum..." Subhan mengetuk pintu.
Tak lama kemudian ada seorang ibu-ibu membukakan pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam..." jawab itu itu sembari membuka pintu.
"Maaf bu, apa bener ini rumah pak kades..." tanya Faisal.
"Iya bener, silahkan masuk... bapaknya masih didalem baru mandi... nanti saya pangilkan dulu..." ucap ibu itu sambil mempersilahkan masuk.
"Baik bu..." ucap Faisal dan kawan-kawan.
Tak lama kemudian nampak seorang bapak-bapak yang belum terlalu tua datang menemui mereka, bisa ditebak bapak itu adalah pak kades.
"Monggo diminum dek airnya..." ucap pak kades sembari duduk.
"Baik pak baik pak" jawab mereka serentak.
"Kok tumben adek-adek ini datang bertamu ke desa kami, ada keperluan apa yaa...??? Dari mana asal adek-adek ini...???" Tanya pak kades membuka pembicaraan.
"kami dari kota madya pak, kami kesini cuma pingin jalan-jalan aja pak...???" Ucap Rio sambil terbata-bata.
"Ooo... gitu thoo... silahkan saja jalan-jalan ke desa kami, disini memang jarang ada orang pendatang jadi kadang warganya agak risih dan terkesan malu-malu, tapi sebenarnya mereka baik-baik kok, dan kami sangat senang jika ada yang datang berkunjung ke desa kami... atau kalo gak keberatan kalian bisa kok menginap di rumah ini..." jelas pak kades panjang lebar.
"Iyaa makasih pak, tapi maksud kedatangan kami kesini mau minta izin untuk mendaki gunung kemulan pak..." ucap Faisal menjelaskan.
"Apa...??? Maksudnya mau mendaki gunung Kemulan...??? Tapi disana penuh bahaya dek... bahkan kami-kami ini jarang ada yang berani kesana, terlalu angker dan berbahaya nak..." jelas pak kades dengan nada heran.
"Tapi pak, kami sudah persiapkan perlengkapannya pak, Insya'Allah kami baik-baik saja pak... kami juga sering mendaki gunung kok pak..." bujuk Faisal.
"Bukan aku gak mengizinkan dek, tapi menurut kami ini sangat berbahaya, hutan disana jarang dijamah, bahkan jalan setapakpun masih belum ada menuju ke puncak, dan disana ada yang namanya hutan larangan, hutan yang sangat keramat... aku takut kalian kenapa-napa disana..." jelas pak kades penuh kekhawatiran.
"Kami sudah perhitungkan semuanya pak, kami juga sudah minta izin dari kampus dan kepolisian di tempat kami pak..." bujuk Rio.
"Baiklah kalau begitu, semoga kalian baik-baik saja, karena aku yakin kalian punya skill dan pengetahuan yang baik... tapi aku sarankan sebaiknya malam ini kalian tidur disini dulu, soalnya hari sudah sore nak..." ucap pak kades menawarkan rumahnya.
"Maaf pak takut merepotkan, dan juga rencananya kami akan mendirikan tenda saja di daerah danau tak jauh dari pintu hutan..." Arya menjelaskan.
" baiklah kalau begitu, saya hanya bisa berpesan, baik-baik diperjalanan, jangan neko-neko bersikaplah sopan walaupun mungkin disana gak ada orang..." pesan pak kades.
"Baik pak, sebelum kesorean, kami pamit dulu pak..." jawab mereka serentak.
Setelah pamit dan merapikan barang-barang bawaan, mereka melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan dusun dan dilanjut jalan setapak melewati ladang-ladang penduduk.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, karena dari batas kampung jalan sudah sangat terjal dan menanjak, melewati sawah dan ladang penduduk.
"Huuft,,, walau meelahkan namun pemandangannya sangat indah..." ucap Arya dengan nada lirih sambil menghela nafas.
Hari itu nampak sudah sangat sore, mereka terus berjalan menuju batas hutan.
Sesaat sebelum memasuki hutan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seorang kakek tua renta yang berdiri diatas batu besar tepat dipunggir jalur.
"Mau kemana hai anak muda...???" Tegur kakek misterius itu.
Serentak semua terkaget bukan kepalang, bahkan Ratih sempat hampir terpental saking terkejutnya.
"A'aa anu anu, kami kamii mau puncak gunung Kemulan kek..." ucap Faisal dengan nada terbata-bata.
"i'iiyaa kek kami mau masuk hutan..." Arya menimpali dengan nada ketakutan.
"TUNGGU...!!! Tunggu dulu...!!! Kalian tidak boleh masuk hutan ini, ini hutan larangan... Pergiii... pergiii... pergiii kalian dari sini... ini sangat berbahaya buat kalian..." ucap kakek misterius dengan nada menghardik.
"Tapi kek, niat kami baik kek, kami tidak ada maksud apa-apa..." ucap Faisal menjelaskan.
"Tidak, aku tidak akan mengizinkan kalian masuk, kalian bisa celaka...!!!" Terang kakek misterius.
"Tolong kek, hari sudah mulai gelap, tolong izinkan kami memasuki hutan, kami ingin bermalam di dekat danau tak jauh dari sini, karena menurut informasi tak jauh memasuki hutan disana ada danau yang sangat jernih dan indah..." Faisal membujuk.
"Aku peringatkan sekali lagi pergiii... pergiii kalian dari sini...!!!" Hardik kakek misterius itu.
"Tapi kek, tolong..." Dea mencoba memohon.
"Tidak, jika kalian nekat memasuki hutan ini, dan bermalam didekat danau, aku pastikan besok pagi kalian sudah menjadi mayat yang tak bernyawa... Dan sekarang kalian harus pergi dan pulanglah, jika kalian tidak ingin menyesal...!!!" Kakek itu mengusir.
"Sal, ada baiknya kita urungkan niat kita, sepertinya kakek ini tidak main-main..." Subhan berbisik membujuk Faisal sambil menarik tangannya.
"Tidak Han, aku yakin kakek ini orang gila, lihat pakaiannya semua sudah rombeng..." bisik Faisal pada Subhan.
"Hai lancang sekali mulutmu anak muda, aku tegaskan sekali lagi, jika kalian nekat memasuki hutan ini, kalian tidak akan selamat...
Didalam hutan sana setelah melewati danau kalian akan dihadang ular yang besar, makin ke dalam disana kalian akan dihadang ribuan ular yang berbisa, jika makin menjauh memasuki hutan kalian akan menemu air terjun sakral, yang airnya sangat jernih tempat para bidadari dan dewa mensucikan diri...
Dan dari situlah perjalanan kalian akan menanjak melewati hutan berlumut dan berkabut tebal, mata kalian akan tertutup kabut pekat, hingga untuk saling memandang diantara kalian saja tidak akan bisa, disanalah tempat iblis dan dedemit bersarang...
Kalian juga akan menemui jurang-jurang yang dalam dan bukit-bukit yang berlapis, disana tempat hidup para macan kumbang dan binatang buas lainnya...
Dan apabila kalian memang sanggup menggapai puncak, disana hanya kau temui ujung yang sangat sempit yang dikelilingi jurang yang dalam dan anginnya sangat kencang bak badai di neraka. Bahkan kalian akan sulit menemui jalan kembali dan akhirnya tersesat dikegelapan hutan...
Aku yakin kalian tidak akan bisa selamat dari perjalanan itu, keculai jika kalian memang orang-orang sakti... hahahhaaa..." jelas kakek itu dengan suara yang berkumandang bak malaikat pencabut nyawa.
Tak lama kemudian kabut datang dengan angin yang sangat kencang, dan anehnya kakek itu menghilang seketika seakan melayang bersama kabut yang datang.
"Haahh... aneh sekali, kenapa kabut datang secepat itu...??? Ayo Faisal kita kembalii..." teriak mereka semua sembari panik dengan angin yang makin kencang.
"Baiklah ayoo, ayoo kita kembali..!!!" Faisal dan teman-temannya lari meninggalkan pintu hutan penuh dengan ketakutan.
Hari sudah gelap, waktu menunjukkan pukul 7 malam, dengan keadaan yang kelelahan akhirnya mereka sampai dirumah pak kades lagi, berniat untuk menginap dirumah pak kades. Setelah menceritakan semuanya, pak kades pun tak keberatan mengizinkan mereka menginap di rumahnya.
"Hahahaaa,,, diminum dulu tehnya biar kalian lebih tenang... disana memang begitu, makanya kamipun enggan masuk hutan jika tidak ada kepentingan yang mendesak, karena biasanya kakek itu memang sering mencegah siapapun orang asing yang hendak masuk hutan, kakek itu adalah sesepuh dari warga kami juga beliau adalah juru kunci dari gunung Kemulan, bahkan konon pernah dikabarkan kakek itu sudah meninggal, tapi kami belum bisa memastikan, karena beliau kadang masih menemui jika kami masuk hutan sana..." jelas pak kades.
"Jadi beliau itu juru kuncinya pak...???" Tanya Subhan.
"Iya nak, karena itulah banyak dari para pendaki yang mencoba memasuki hutan tapi akhirnya mengurungkan niatnya seperti kalian, beliau memang yang menjaga hutan itu, beliau sudah bertahun-tahun tinggal dihutan, beliau tak punya tempat tinggal tetap, karena hutanlah tempat tinggalnya...." jelas pak Kades lagi.
"Oooo..." ucap Ratih sambil menggut-manggut.
"Baiklah lebih baik kalian tidur dulu, agar besok pagi kalian lebih segar saat bangun dan pulang ke rumah dengan semangat..." pak kades mempersilahkan untuk istirahat.
***
Setelah istirahat yang nyeyak dirumah pak kades, pagi itu suasana sangat sejuk, jalanan nampak sepi, udara masih bercampur kabut tipis dengan cahaya matahari yang mulai mengintip memancarkan cahaya emasnya.
Tapi Faisal sudah nampak terbangun lebih dulu menikmati pemandangan itu di depan rumah pak kades, kadang sesekali berjalan di sekitar kampung sambil memandangi pegunungan yang berlapis-lapis dengan gunung Kemulan ditengahnya.
"Dari sini sungguh nampak indah sekali gunung itu, aku sungguh ingin mencumbui hutanmu wahai gunung Kemulan yang anggun..." ucap Faisal dalam hati sambil duduk di sebuah batu tak jauh dari rumah pak Kades.
Tiba-tiba Arya datang sembari membawa dua cangkir kopi.
"Ngopi dulu kawan, biar hangat badan kita..." celetuk Arya.
"Hmm,,, mantep pagi-pagi gini ngopi..." ucap Faisal sambil nyeruput kopi dalam cangkir.
Dari depan rumah pak kades Subhan datang menghampiri.
"Sal, jam berapa kita berkemas dan siap-siap untuk pulang...???" Tanya Subhan.
Sejenak mereka terdiam, nampak Faisal menatap keatas seraya berfikir ulang tentang rencananya.
"Aku bingung Han, terus terang dari tadi aku selalu berpikir, kita pulang atau tetap melanjutkan perjalanan ini, aku masih penasaran dengan puncak gunung Kemulan itu Han..." jawab Faisal.
"Gila kamu Sal, itu gak mungkin Sal...!!! Selama ini gak ada pendaki yang masuk hutan itu, lagian disana sangat berbahaya seperti yang diramalkan kakek itu, kalo kita nekat masuk, kita pasti tidak akan selamat..." jelas Subhan dengan nada tinggi.
"Justru itu, aku tidak percaya ramalan kakek itu, aku ingin membuktikan kebenarannya..." jawab Faisal ngotot.
"Hee,,, kamu mau ngorbanin nyawa kami semua demi ambisimu yg tidak masuk akal itu...???" Subhan menghentak.
"Justru kamu yang tidak masuk akal, percaya mitos-mitos yang bodoh itu... kamu itu pengecut...!!!" gertak Faisal.
"Heey,,, sudah sudah sudah... jangan bertengkar kalian..." Dea dari kejauhan lari mencoba melerai.
Arya yang dari tadi disana juga hanya bisa diam saja.
Tak lama kemudian Rio dan Ratih datang.
"Ada apa ini...???" Tanya Ratih.
"Tanya saja sama Faisal, apa yang sebenarnya terjadi..." jawab Subhan sewot.
"Ada apa Sal...???" Tanya Rio.
"Aku punya ide lagi Rio, gimana kalo perjalanan ini tetap dilanjutkan, aku yakin kita akan mampu sampai puncak gunung itu..." ucap Faisal sembari menunjuk gunung Kemulan.
"Haaah... gila kamu Sal, itu sangat berbahaya..." ucap Rio.
"Iyaa itu sangat berbahaya, aku tidak mungkin ikut, lagian pak kades pasti tidak mengizinkan kita kesana...!!!" Ucap Ratih jutek.
"Apa kalian tidak ingin menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki dipuncak gunung Kemulan sepanjang sejarah...??? Masalah izin, bilang saja kita cuma mau ngecamp di danau dipinggir hutan sana... pasti beres..." Ucap Faisal merayu.
"Tidak, itu ide konyol... itu hanya ambisi pribadimu saja..." Subhan menolak.
"Baik, kalaupun kalian tidak setuju, biarpun sendiri, aku kan tetap melanjutkan perjalanan ini ke puncak..." tegas Faisal.
"Gila,,, itu sangat berbahaya Sal...!!!" Ucap Arya yang dari tadi hanya bisa termenung.
"Yaah gila atau tidak, ini adalah sudah menjadi keputusanku, akupun tidak memaksa kalian untuk ikut denganku..." Tekat Faisal.
"Heeh itu sangat bodoh Sal..." ucap Rio mengingatkan.
"Baik, kalo kalian gak mau ikut, silahkan kemas barang bawaan kalian dan silahkan pulang, biar aku sendiri disini dan nenyiapkan pendakian ke puncak..." ucap Faisal nekat.
Semua terdiam, tak ada yang bergeming apalagi bergerak meninggalkan tempat itu.
"Heei,,, ada apa dengan kalian...???" Gertak Faisal.
Dan semuanya masih tetap diam.
"Baiklah jika kalian tidak mau bergerak, aku yang terlebih dahulu berkemas dan mulai mendaki ke puncak..." tambah Faisal sembari pergi meninggalkan teman-temannya.
"Tunggu..." ucap Dea.
Seketika Faisal berhenti dan menengok ke arah Dea.
"Aku ikut kamu Sal, aku gak mungkin membiarkanmu sendirian melakukan perjalanan yang sudah lama kita siapkan ini..." jelas Dea.
Faisal nampak tersenyum dan menghampirinya.
Dan tak lama Arya juga mendekat.
"Aku juga ikut kamu Sal..." ucap Arya sembari menepuk pundak Faisal.
"Kalo Arya ikut, aku ikut juga..." ucap Rio.
"Tapi kamu ikut bukan karena pacar kamu Dea ikut kan Arya...?? Dan kamu Rio, ikut bukan karena semata-mata sahabatmu Arya ikutkan...???" Tanya Faisal.
"Gak penting apa itu alasannya, yang jelas kami tetap ikut denganmu Sal..." jelas Arya.
Faisal lantas menghampiri Subhan dan Ratih.
"Kalo kalian gak mau ikut dengan kami, aku akan mengantarmu sampai di pertigaan jalan raya kemaren, aku akan meminjam motor pak kades, sampai disana aku akan mencarikanmu angkutan. Aku juga ada beberapa barang yang harus aku beli disana..." ucap Faisal sambari merangkul Subhan dan Ratih untuk mendinginkan suasana.
"Faisal, Arya, semua nya, kesini sarapan dulu..." teriak pak kades menawarkan sarapan dari depan rumahnya.
"Baik pak..." jawab Arya sembari mendekat.
Setelah masuk kerumah pak kades, disana sudah tersaji aneka khas menu sarapan.
"Waahh... sedap-sedap sekali makanannya pak, jadi ngrepotin nih... hehehee..." ucap Subhan.
"Yaaah cuma ala kadarnya saja nak... ayoo dimakan bareng-bareng sudah lama aku gak merasakan makan rahat bareng-bareng kaya' gini..." ucap pak kades dengan nada bercanda.
Setelah selesai sarapan Faisal minta izin untuk berkemah di dekat danau dan sekalian meminjam motor pak kades untuk mengantar Subhan dan Ratih pulang.
Dan pak kadespun dengan senang hati meminjamkan motornya.
Sembari menunggu Faisal datang, teman-teman yang lain berkemas packing barang-barang bawaannya.
Tak lama kemudian Faisal datang dengan membawa beberapa barang yang baru saja dibeli dari pasar yang tak jauh dari kampung itu.
Setelah semuanya rapi, mereka berpamitan lagi sama pak kades untuk berniat melanjutkan petualangannya yang sempat tertunda.
"Baik kalo begitu kami pamit dulu pak, makasih atas bantuannya selama ini..." ucap Faisal.
"Hhmm... santai aja nak Faisal, kami sangat senang kedatangan anak-anak muda seperti kalian... jangan lupa tetap hati-hati diperjalanan, walau sebenarnya aku tidak mengizinkan, tapi aku yakin kalian akan baik-baik saja kalau sekedar berkemah disana..." ucap pak kades.
"Baik pak makasih banyak..." ucap Faisal.
"Oia, kalo kalian mau pulang nanti jangan lupa mampir dulu kesini lagi, biar kami gak menghawatirkan kalian..." ucap pak kades lagi.
"Baik pak, insya'Allah kami pasti mampir lagi pak..." ucap Arya sambil melambaikan tangan.
***
Ini adalah petualangan empat anak manusia yang penuh ambisi, tanpa menghiraukan apapun mereka hanya tertuju pada satu impian, puncak gunung Kemulan, puncak gunung yang angker dan sakral.
Padahal gunung itu penuh dengan rintangan, dari waktu ke waktu daerah itu terlindungi oleh mitos dan memang tak pernah terjelajahi sebelumnya.
Secara geologi kawasan itu berbentuk berbukit-bukit yang menjadikan siapapun yang masuk akan mudah tersesat, apalagi disana hutannya sangat rapat dan selalu ditutupi kabut sepanjang musim, membuat keadaan lembab dan sangat gelap sepanjang waktu.
Mungkin karena inilah yang menjadikan kawasan ini menjadi angker dan disakralkan oleh penduduk setempat.
Tapi apapun keadaan itu, rasa penasaran keempat pemuda ini menjadikan mereka tak menghiraukan semua larangan.
"Hahahaaa... ini adalah petualangan terbesarku, yang akan tercatat dalam sejarah hidupku bahkan sejarah dunia, bahwa akulah orang yang pertama menginjakkan kaki di puncak yang paling sakral itu...
Dan buat setan dan dedemit disana, menyingkirlah kalian...!!!
Aku sang manusia dewa hendak menembus istana kalian yang tertutup itu.. hahahaa..." ucap Faisal dalam hati penuh keangkuhan. Sembari berjalan menuju hutan rimba yang diiringi Arya, Dea dan Rio. Mereka berempat melangkah dengan pasti.
============BERSAMBUNG============
Untuk kelanjutannya KLIK DISINI
Sebelum melanjutkan ceritanya jangan lupa ambil nafas panjang dulu, karena ceritanya akan lebih seru dan mendebarkan.
Banyak kejadian yang akan menimpa keempat petualang ini.
Malapetaka apa yang akan mereka alami...???
Yuukk silahkan dilanjut, klik link diatas...

















