Episode (9/10)
Perjuangan cinta Sejati (inti cerita)
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Setelah Wingsang pergi meneruskan perjalanan pulang ke Majapahit, aku memutuskan untuk kembali ke ibu kota Sunda Galuh, memperjuangkan cinta yang aku miliki, karena bagiku lebih baik menantang mara bahaya untuk sebuah kebahagiaan cinta dari pada harus berdiam diri tanpa merasakan manisnya cinta, karena hakekatnya cinta memang harus diperjuangkan.
Sesampainya di ibu kota aku menyamar sebagai pedagang daging rusa dan daging kambing di pasar dekat istana. Dengan harapan masih ada kemungkinan menyusup ke istana jika ada kesempatan untuk bertemu Dewi Larasati.
Benar saja, baru beberapa hari berjualan daging, aku mendapat pesanan dari juru masak istana, daging rusa dan daging kambing untuk diantar ke dapur istana.
Saat mengantar daging, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, saat melihat Dewi Larasati sedang berjalan di taman, aku langsung berusaha menemuinya.
"Ssstt... Laras..." aku memanggil lirih saat melihatnya sedang berjalan di taman.
Lalu aku mengatakan kalau aku tidak jadi pulang ke Majapahit, aku putuskan untuk tinggal di Sunda Galuh untuk manjadi pedagang di pasar dekat istana, dan sejak saat itu Dewi Larasati sering menyamar menjadi wanita biasa untuk bisa leluasa ke pasar menemui aku. Larasati sering membantuku seharian berjualan daging dipasar, dia juga sering membawakan aku makanan, dia memang wanita berdarah biru namun tetap bersahaja. Kerena itulah aku makin sayang padanya.
Hari berganti, minggu berlalu dan bulan terus berjalan, hubunganku dengan Larasati makin dekat, gelora asmara di jiwa seakan makin erat susah untuk dilepaskan.
Hingga disuatu hari, ada salah satu orang Istana yang mengetahui keberadaan kami dan mata-mata itu telah mengetahui semuanya tentang kami. Hingga kabar itu tembus ke baginda Prabu Bunisora. Dan akhirnya beliau memerintahkan pengawal kerajaan untuk menyeret kami untuk dihukum.
"Lancang sekali kau...!!!
Sudah aku beri kabaikan namun kau berani melawan titahku...!!!
Dikasih hati minta jantung...!!!" suara Prabu Bunisora menggelagar lantang, seakan seisi istana tergoncang bagai ada gempa yang melanda.
"Maaf baginda, aku sangat mencintai putri baginda...
Aku tak bisa hidup tanpanya..." jawabku pelan menghiba.
"Tidak mungkin...!!!!
Aku tidak mungkin menjilat ludahku sendiri, aku sudah putuskan menerbitkan larangan kerabat istana untuk menikah dengan pihak Majapahit, apalagi dengan laki-laki berkasta Sudra sepertimu...!!!" Prabu Bunisora makin marah tak terkendali.
"Pengawal, seret dia keluar istana, penggal kepalanya di depan penduduk Sunda Galuh, untuk menunjukan aku tidak main-main dengan ucapanku..." raja Bunisora berteriak keras memerintahkan pengawal untuk menghukum mati aku.
Kali ini aku hanya diam, tenang tanpa memohon ampun atau pun berontak, karena aku ingat pesan sahabatku Wingsanggeni bahwa sebagai prajurit harus siap menghadapi kematiannya kapanpun dan dimanapun.
Lalu aku diseret keluar istana, dihadapan orang-orang pasar kedua tanganku dipegang erat dan aku harus menunduk untuk siap dipenggal kepalaku. Sementara didalam istana putri Dewi Larasati terus menangis menghiba pada ayahnya untuk mengampuni aku.
"Wahai para penduduk Sunda Galuh, hari ini kita menyaksikan orang yang berani melawan titah raja, dan sebagai hukumannya dia harus dihukum mati hari ini juga..." teriak Jayadipati, panglima kerajaan yang terkenal sadis dan kejam.
Dalam hatiku bertanya-tanya,
"Apakah ini akhir dari petualanganku, apakah ini akhir dari kisah hidupku, apakah aku harus mati sebagai penentang titah raja, seorang yang berdarah Jawa yang mencintai gadis berdarah Sunda. Tapi apapun itu, aku menghadapi kematian ini untuk membuktikan kekuatan cinta pada dunia...." hatiku terus berkata-kata.
Kedua tanganku dipegang erat oleh para prajurit Sunda, kakiku ditendang agar aku roboh berlutut di hadapan algojo, punggungku diinjak menekan ke depan agar leher dan kepalaku siap untuk dipenggal, aku melihat Jayadipati mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di atas leherku.
Sementara orang-orang hanya bisa menatapku dengan wajah tegang sembari menahan nafasnya dengan detak jantung yang berdebar kencang. Wajah-wajah tegang terukir disemua orang yang menyaksikan kejadian ini.
Saat pedang yang ada di tangan Jayadipati siap diayunkan tepat di leherku, tiba2 deru suara kaki kuda menderu-deru mendekati kami.
"Hiaa... Hiaaa...Hiaaaa...
Kdugruk... kdugruk... kdugruk... kdugruk..." suara sepatu kuda menderu-nderu mendekat ke arah kerumunan.
Dari kejauhan aku melihat sahabatku Wingsanggeni datang ke arahku, dengan pedang yang diangkat tinggi-tinggi pada tangan kanannya sembari terus memacu kudanya.
"Tungguu...!!!!
Kalau kalian berani hadapi aku...!!!" dari jauh Wingsang berteriak lantang.
Seketika semua perhatian tertuju ke arahnya, kerumunan warga seketika pecah menghindari serudukan kuda jantan nan gagah. Semua orang minggir menghindar dari terjangan kuda Wingsang.
Jayadipati yang siap memenggal kepalaku perhatiannya seketika langsung pada Wingsanggeni.
Setelah mendekat kudanya langsung menendang ke arah Jayadipati, panglima sekaligus algojo itu seketika tubuhnya langsung terpental jatuh ke tanah.
Semua prajurit yang memegangi tubuhku langsung dihajar dengan pedangnya.
"Sena, cepat larii...!!!
Cepat selamatkan dirimu... Jangan hirauakan aku..." perintah Wingsang sembari menghajar pasukan lawan.
Sesaat setelah terjadinya keributan ini dari dalam istana nampak Dewi Larasati berlari ke arahku, aku pun langsung menghampirinya lalu mengajaknya melarikan diri, disaat bersamaan kuda kesayanganku datang lalu aku dan Dewi Larasati langsung naik ke atas kuda itu dan siap pergi meninggalakan kekacauan.
Dari jauh aku melihat Wingsang sedang bertarung melawan Jayadipati beserta puluhan prajurit Sunda Galuh, nampak disana sangat kacau sekali namun aku harus pergi mengikuti perintah sahabatku.
"Sungguh, kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri pengorbanan dari seorang sahabat yang rela mengorbankan nyawanya demi sahabat seperjuangannya. Kau memang seorang ksatria sejati Wingsang, aku bangga pernah mengenalmu..." ucap hatiku seraya meneteskan air mata yang tak sanggup melihat pengorbanan dari sahabatku sendiri.
*****
Aku dan Dewi Larasati pergi ke arah selatan menuju kaki gunung Salak, disana aku rasa lebih aman untuk masa palarianku sementara ini.
Malam itu, aku dan Dewi Larasati sedang istirahat di tengah hutan di lereng sebelah timur gunung Salak. Membuat bivak dari ranting kayu dan dedaunan untuk sekedar istirahat dan tidur, kami juga membuat api unggun untuk menghangatkan udara gunung yang dingin menusuk tulang.
"Sungguh berani sahabatmu itu akang, rela mengorbankan nyawanya untuk kita berdua..." ucap Dewi Larasati sembari menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Begitulah Wingsanggeni, dia sangat setia kawan dan rela berkorban demi aku... dari sejak aku bertemu dengannya dia selalu mendampingi perjakananku, dia benar-benar sahabat sejati..." ucapku mengenang keberanian sahabatku.
"Aaahh kata siapa...???" tiba-tiba sosok yang sedang kami ceritakan datang dan duduk disamping kami.
"Wingsang...???" tanyaku kaget.
"Hahahaaa... kamu kira aku sudah mati hanya karena menghadapi prajurit yang jumlahnya tak seberapa itu...???" ucap Wingsang dengan nada bercanda.
"Aaahh syukurlah sobat, kita masih bisa bertemu lagii... aku sangat senang sekali..." ucapku seraya merangkul pundak sahabatku itu.
"Iyaa mas, kami sangat menghawatirkanmu..." ucap Dewi Larasati mengiyakan ucapanku.
"Oiya, ngomong-ngomong kenapa kamu gak jadi kembali ke Majapahit...???" Tanyaku lagi.
"Hahaa... tidak mungkin aku setega itu meninggalkanmu kawan, apalagi aku sudah diberi amanat kakek Sasora untuk setia menjaga keselamatanmu dalam perjalanan ini...
Dan sebetulnya dari Caruban (Cirebon) aku nengikuti gerak gerikmu kemanapun kamu pergi...
Tapi aku sengaja mengawasimu dari kejauhan karena aku tidak mau mengganggu dua orang sejoli yang sedang dimabuk cinta..." ucapnya sambil meledekku.
"Aahh mas bisa aja..." Dewi Larasati pun tersipu malu.
"Jadi bagaimana menurutmu rencana kita selanjutnya Wingsang...???
Apa kita langsung pulang ke Majapahit bersama Dewi Larasati...???" tanyaku bimbang untuk menentukan arah.
"Jangan dulu Sena, jika pelarian kita menuju Majapahit kita akan memberi masalah baru untuk Majapahit, kedua kerajaan yang sedang dilanda ketegangan ini akan semakin memanas dengan kasus yang kita bawa...
Ini masalah pribadi jangan sampai dibawa ke ranah yang lebih besar..." ucap Wingsang penuh perhitungan.
"Jadi kita sebaiknya kemana...???
Apa kita akan terus di tanah Pasundan ini...???" tanyaku lagi.
"Tidak, itu sangat berbahaya...
Untuk sementara waktu, satu atau dua hari kita bisa tinggal disini, untuk memantau perkembangannya sembari mengatur strategi...
Seperti yang kita tau, bahwa pihak istana masih gencar-gencarnya mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk mencari keberadaan kita..." jawab Wingsang menjelaskan.
"Apa sebaiknya pelarian kita kearah barat Wingsang, menyeberangi selat Sunda menuju tanah Suwarnadwipa (Sumatera)...???" tanyaku memberi ide.
"Yaa, itu ide yang bagus, jika kita ke tanah Suwarnadwipa kita akan jauh lebih aman...
Baiklah, sebaiknya kita istirahat dulu, besok kita bicarakan lagi..." ucap Wingsang sembari membaringkan tubuhnya diatas tumpukan rumput yang telah dilapisi daun pisang.
*****
Pagi itu masih terasa sunyi, namun sinar mentari sudah mengusik kebekuan udara malam, yang menggantikan galap menjadi terang.
Aku terbangun dari tidur nyenyakku yang telah menghapus lelah dalam tubuhku. Tapi aku mendapati tempat tidur Wingsang sudah kosong.
"Kemana Wingsang...???" tanya hatiku.
"Laras, Wingsang menghilang Laras..." aku membangunkan Laras yang sedang tertidur pulas.
"Waahh, kemana dia...???" jawabnya sembari mengusap kedua matanya.
"Kalian pada kenapa siihh, gaduh amattt..." tiba-tiba Wingsang datang dengan memanggul seekor rusa buruannya.
"Bruukk...!!!" Wingsang membanting hasil buruannya itu tepat dihadapan kami.
"Waahh keren sekali niihh, hari ini kita makan enakk..." ucapku penuh kegembiraan.
Pagi itu seekor rusa dipanggang di hadapan kami lalu setelah matang sedikit-demi sedikit daging empuknya masuk mengisi perut kami.
"Inilah perjalananku, inilah kisah hidupku, apapaun yang terjadi nanti akan aku hadapi...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan..."
============ BERSAMBUNG ============
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI
Ahmad Pajali Binzah
September 21, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaPerjuangan cinta Sejati (inti cerita)
Untuk awal cerita silahkan KLIK DISINI
Setelah Wingsang pergi meneruskan perjalanan pulang ke Majapahit, aku memutuskan untuk kembali ke ibu kota Sunda Galuh, memperjuangkan cinta yang aku miliki, karena bagiku lebih baik menantang mara bahaya untuk sebuah kebahagiaan cinta dari pada harus berdiam diri tanpa merasakan manisnya cinta, karena hakekatnya cinta memang harus diperjuangkan.
Sesampainya di ibu kota aku menyamar sebagai pedagang daging rusa dan daging kambing di pasar dekat istana. Dengan harapan masih ada kemungkinan menyusup ke istana jika ada kesempatan untuk bertemu Dewi Larasati.
Benar saja, baru beberapa hari berjualan daging, aku mendapat pesanan dari juru masak istana, daging rusa dan daging kambing untuk diantar ke dapur istana.
Saat mengantar daging, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, saat melihat Dewi Larasati sedang berjalan di taman, aku langsung berusaha menemuinya.
"Ssstt... Laras..." aku memanggil lirih saat melihatnya sedang berjalan di taman.
Lalu aku mengatakan kalau aku tidak jadi pulang ke Majapahit, aku putuskan untuk tinggal di Sunda Galuh untuk manjadi pedagang di pasar dekat istana, dan sejak saat itu Dewi Larasati sering menyamar menjadi wanita biasa untuk bisa leluasa ke pasar menemui aku. Larasati sering membantuku seharian berjualan daging dipasar, dia juga sering membawakan aku makanan, dia memang wanita berdarah biru namun tetap bersahaja. Kerena itulah aku makin sayang padanya.
Hari berganti, minggu berlalu dan bulan terus berjalan, hubunganku dengan Larasati makin dekat, gelora asmara di jiwa seakan makin erat susah untuk dilepaskan.
Hingga disuatu hari, ada salah satu orang Istana yang mengetahui keberadaan kami dan mata-mata itu telah mengetahui semuanya tentang kami. Hingga kabar itu tembus ke baginda Prabu Bunisora. Dan akhirnya beliau memerintahkan pengawal kerajaan untuk menyeret kami untuk dihukum.
"Lancang sekali kau...!!!
Sudah aku beri kabaikan namun kau berani melawan titahku...!!!
Dikasih hati minta jantung...!!!" suara Prabu Bunisora menggelagar lantang, seakan seisi istana tergoncang bagai ada gempa yang melanda.
"Maaf baginda, aku sangat mencintai putri baginda...
Aku tak bisa hidup tanpanya..." jawabku pelan menghiba.
"Tidak mungkin...!!!!
Aku tidak mungkin menjilat ludahku sendiri, aku sudah putuskan menerbitkan larangan kerabat istana untuk menikah dengan pihak Majapahit, apalagi dengan laki-laki berkasta Sudra sepertimu...!!!" Prabu Bunisora makin marah tak terkendali.
"Pengawal, seret dia keluar istana, penggal kepalanya di depan penduduk Sunda Galuh, untuk menunjukan aku tidak main-main dengan ucapanku..." raja Bunisora berteriak keras memerintahkan pengawal untuk menghukum mati aku.
Kali ini aku hanya diam, tenang tanpa memohon ampun atau pun berontak, karena aku ingat pesan sahabatku Wingsanggeni bahwa sebagai prajurit harus siap menghadapi kematiannya kapanpun dan dimanapun.
Lalu aku diseret keluar istana, dihadapan orang-orang pasar kedua tanganku dipegang erat dan aku harus menunduk untuk siap dipenggal kepalaku. Sementara didalam istana putri Dewi Larasati terus menangis menghiba pada ayahnya untuk mengampuni aku.
"Wahai para penduduk Sunda Galuh, hari ini kita menyaksikan orang yang berani melawan titah raja, dan sebagai hukumannya dia harus dihukum mati hari ini juga..." teriak Jayadipati, panglima kerajaan yang terkenal sadis dan kejam.
Dalam hatiku bertanya-tanya,
"Apakah ini akhir dari petualanganku, apakah ini akhir dari kisah hidupku, apakah aku harus mati sebagai penentang titah raja, seorang yang berdarah Jawa yang mencintai gadis berdarah Sunda. Tapi apapun itu, aku menghadapi kematian ini untuk membuktikan kekuatan cinta pada dunia...." hatiku terus berkata-kata.
Kedua tanganku dipegang erat oleh para prajurit Sunda, kakiku ditendang agar aku roboh berlutut di hadapan algojo, punggungku diinjak menekan ke depan agar leher dan kepalaku siap untuk dipenggal, aku melihat Jayadipati mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di atas leherku.
Sementara orang-orang hanya bisa menatapku dengan wajah tegang sembari menahan nafasnya dengan detak jantung yang berdebar kencang. Wajah-wajah tegang terukir disemua orang yang menyaksikan kejadian ini.
Saat pedang yang ada di tangan Jayadipati siap diayunkan tepat di leherku, tiba2 deru suara kaki kuda menderu-deru mendekati kami.
"Hiaa... Hiaaa...Hiaaaa...
Kdugruk... kdugruk... kdugruk... kdugruk..." suara sepatu kuda menderu-nderu mendekat ke arah kerumunan.
Dari kejauhan aku melihat sahabatku Wingsanggeni datang ke arahku, dengan pedang yang diangkat tinggi-tinggi pada tangan kanannya sembari terus memacu kudanya.
"Tungguu...!!!!
Kalau kalian berani hadapi aku...!!!" dari jauh Wingsang berteriak lantang.
Seketika semua perhatian tertuju ke arahnya, kerumunan warga seketika pecah menghindari serudukan kuda jantan nan gagah. Semua orang minggir menghindar dari terjangan kuda Wingsang.
Jayadipati yang siap memenggal kepalaku perhatiannya seketika langsung pada Wingsanggeni.
Setelah mendekat kudanya langsung menendang ke arah Jayadipati, panglima sekaligus algojo itu seketika tubuhnya langsung terpental jatuh ke tanah.
Semua prajurit yang memegangi tubuhku langsung dihajar dengan pedangnya.
"Sena, cepat larii...!!!
Cepat selamatkan dirimu... Jangan hirauakan aku..." perintah Wingsang sembari menghajar pasukan lawan.
Sesaat setelah terjadinya keributan ini dari dalam istana nampak Dewi Larasati berlari ke arahku, aku pun langsung menghampirinya lalu mengajaknya melarikan diri, disaat bersamaan kuda kesayanganku datang lalu aku dan Dewi Larasati langsung naik ke atas kuda itu dan siap pergi meninggalakan kekacauan.
Dari jauh aku melihat Wingsang sedang bertarung melawan Jayadipati beserta puluhan prajurit Sunda Galuh, nampak disana sangat kacau sekali namun aku harus pergi mengikuti perintah sahabatku.
"Sungguh, kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri pengorbanan dari seorang sahabat yang rela mengorbankan nyawanya demi sahabat seperjuangannya. Kau memang seorang ksatria sejati Wingsang, aku bangga pernah mengenalmu..." ucap hatiku seraya meneteskan air mata yang tak sanggup melihat pengorbanan dari sahabatku sendiri.
*****
Aku dan Dewi Larasati pergi ke arah selatan menuju kaki gunung Salak, disana aku rasa lebih aman untuk masa palarianku sementara ini.
Malam itu, aku dan Dewi Larasati sedang istirahat di tengah hutan di lereng sebelah timur gunung Salak. Membuat bivak dari ranting kayu dan dedaunan untuk sekedar istirahat dan tidur, kami juga membuat api unggun untuk menghangatkan udara gunung yang dingin menusuk tulang.
"Sungguh berani sahabatmu itu akang, rela mengorbankan nyawanya untuk kita berdua..." ucap Dewi Larasati sembari menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Begitulah Wingsanggeni, dia sangat setia kawan dan rela berkorban demi aku... dari sejak aku bertemu dengannya dia selalu mendampingi perjakananku, dia benar-benar sahabat sejati..." ucapku mengenang keberanian sahabatku.
"Aaahh kata siapa...???" tiba-tiba sosok yang sedang kami ceritakan datang dan duduk disamping kami.
"Wingsang...???" tanyaku kaget.
"Hahahaaa... kamu kira aku sudah mati hanya karena menghadapi prajurit yang jumlahnya tak seberapa itu...???" ucap Wingsang dengan nada bercanda.
"Aaahh syukurlah sobat, kita masih bisa bertemu lagii... aku sangat senang sekali..." ucapku seraya merangkul pundak sahabatku itu.
"Iyaa mas, kami sangat menghawatirkanmu..." ucap Dewi Larasati mengiyakan ucapanku.
"Oiya, ngomong-ngomong kenapa kamu gak jadi kembali ke Majapahit...???" Tanyaku lagi.
"Hahaa... tidak mungkin aku setega itu meninggalkanmu kawan, apalagi aku sudah diberi amanat kakek Sasora untuk setia menjaga keselamatanmu dalam perjalanan ini...
Dan sebetulnya dari Caruban (Cirebon) aku nengikuti gerak gerikmu kemanapun kamu pergi...
Tapi aku sengaja mengawasimu dari kejauhan karena aku tidak mau mengganggu dua orang sejoli yang sedang dimabuk cinta..." ucapnya sambil meledekku.
"Aahh mas bisa aja..." Dewi Larasati pun tersipu malu.
"Jadi bagaimana menurutmu rencana kita selanjutnya Wingsang...???
Apa kita langsung pulang ke Majapahit bersama Dewi Larasati...???" tanyaku bimbang untuk menentukan arah.
"Jangan dulu Sena, jika pelarian kita menuju Majapahit kita akan memberi masalah baru untuk Majapahit, kedua kerajaan yang sedang dilanda ketegangan ini akan semakin memanas dengan kasus yang kita bawa...
Ini masalah pribadi jangan sampai dibawa ke ranah yang lebih besar..." ucap Wingsang penuh perhitungan.
"Jadi kita sebaiknya kemana...???
Apa kita akan terus di tanah Pasundan ini...???" tanyaku lagi.
"Tidak, itu sangat berbahaya...
Untuk sementara waktu, satu atau dua hari kita bisa tinggal disini, untuk memantau perkembangannya sembari mengatur strategi...
Seperti yang kita tau, bahwa pihak istana masih gencar-gencarnya mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk mencari keberadaan kita..." jawab Wingsang menjelaskan.
"Apa sebaiknya pelarian kita kearah barat Wingsang, menyeberangi selat Sunda menuju tanah Suwarnadwipa (Sumatera)...???" tanyaku memberi ide.
"Yaa, itu ide yang bagus, jika kita ke tanah Suwarnadwipa kita akan jauh lebih aman...
Baiklah, sebaiknya kita istirahat dulu, besok kita bicarakan lagi..." ucap Wingsang sembari membaringkan tubuhnya diatas tumpukan rumput yang telah dilapisi daun pisang.
*****
Pagi itu masih terasa sunyi, namun sinar mentari sudah mengusik kebekuan udara malam, yang menggantikan galap menjadi terang.
Aku terbangun dari tidur nyenyakku yang telah menghapus lelah dalam tubuhku. Tapi aku mendapati tempat tidur Wingsang sudah kosong.
"Kemana Wingsang...???" tanya hatiku.
"Laras, Wingsang menghilang Laras..." aku membangunkan Laras yang sedang tertidur pulas.
"Waahh, kemana dia...???" jawabnya sembari mengusap kedua matanya.
"Kalian pada kenapa siihh, gaduh amattt..." tiba-tiba Wingsang datang dengan memanggul seekor rusa buruannya.
"Bruukk...!!!" Wingsang membanting hasil buruannya itu tepat dihadapan kami.
"Waahh keren sekali niihh, hari ini kita makan enakk..." ucapku penuh kegembiraan.
Pagi itu seekor rusa dipanggang di hadapan kami lalu setelah matang sedikit-demi sedikit daging empuknya masuk mengisi perut kami.
"Inilah perjalananku, inilah kisah hidupku, apapaun yang terjadi nanti akan aku hadapi...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan..."
============ BERSAMBUNG ============
Untuk akhir cerita silahkan KLIK DISINI
Episode (3/10)
Tragedi Perang Bubat
(Untuk awal cerita KLIK DISINI)
Setelah pertempuran di kerajaan Banggai dan berhasil menyatukan Banggai dibawah panji Majapahit, akhirnya sebagian prajurit ditarik kembali ke Trowulan dan sebagian lagi masih bertahan untuk membangun kembali kerajaan Banggai yang telah hacur luluh lantak.
Dan aku termasuk prajurit yang ditugaskan kembali ke Trowulan menjaga ibu kota Majapahit.
Sesampainya di Trowulan aku dan rombongan disambut dengan upacara adat yang begitu megah, sebagai sambutan bagi prajurit yang pulang dengan kemenangan perang.
Tari-tarian dan sorak sorai penduduk menggambarkan kegembiraan, tak lupa berbagai sajian makanan menghiasi arak-arakan disepanjang jalan.
Yaa inilah kemenangan terbesar untuk Majapahit, karena setelah ditaklukkannya Banggai secara otomatis seluruh wilayah Nusantara telah disatukan dalam naungan panji Majapahit.
Hanya wilayah kerajaan Sunda galuh yang tidak masuk kekuasaan Majapahit karena memang ada hubungan kekerabatan, karena raja pertama Majapahit raden Wijaya adalah masih keturunan raja Sunda dan pesan dari Tribuanatunggadewi sendiri yang mewanti-wanti pada Gajah Mada agar tidak menyerang kerajaan Sunda Galuh.
Inilah sebab kerajaan Sunda Galuh tidak ditaklukan dalam pewujudan pemersatu wilayah Nusantara dibawah panji Majapahit.
Akhirnya Gajah Mada menemukan ide atau cara lain untuk menyatukan wilayah Sunda menjadi bagian dari Majapahit, yaitu perkawinan politik.
Dan Hayam Wuruk sendiri memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.
Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.
Setelah rombongan pengantin tiba, raja Hayam Wuruk memerintahkan utusan agar rombongan dipersilahkan istirahat di pesanggrahan lapangan Bubat.
Sementara rombongan dari negeri Sunda sedang menurunkan perbekalan dan mempersiapkan upacara pernikahan, tiba-tiba timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.
Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit.
Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai permaisuri, melainkan sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara.
Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu. Belum sempat sang Prabu mengambil keputusan, Gajah Mada mohon undur diri menuju Bubat.
Tak berapa lama nampak Gajah Mada keluar dari istana lantas memanggilku dan pemimpin-pemimpin prajurit lain dan aku pun menghadap,
"Ada apa gerangan tuan memanggil kami..." tanya kami.
"Kalian semua, kumpulkan semua prajurit, kita akan menuju lapangan Bubat...!!!" Perintah Gajah Mada dengan tegasnya.
Tanpa tanya-tanya lagi kami langsung mengikuti perintah sang jendral.
Setelah semua pasukan terkumpul, kami langsung berangkat ke Bubat.
Sampai disana nampak para rombongan orang-orang Sunda sedang sibuk menurunkan dan merapikan barang bawaannya.
"Jaka Sasena...!!!" Panggil Gajah Mada.
"Siap Tuan...!!!" Sahutku.
"Kamu dan semua pasukan siap dibelakangku, tunggu komando dariku...!!!" Perintahnya.
"Baik Tuan...!!!" Sahutku lagi.
Tak berapa lama datang raja Lingga Buana menemui Patih Gajah Mada, "maaf jendral besar yang kami hormati, ada apakah gerangan maksud kedatangan jendral ke camp kami dengan membawa pasukan begitu banyaknya...???" Tanya raja Sunda penuh wibawa dan keanggunan.
"Maksud kami datang kesini hanya untuk mempertegas bahwa pernikahan putri Dyah Pitaloka dengan raja kami Raden Hayam Wuruk tidak perlu acara resmi dan mewah, karena ini hanya simbolis bahwa kerajaan Sunda Galuh mengakui tunduk kepada kami dan putri Dyah Pitaloka sebagai upeti kepada raja kami...!!!" Tegas Gajah Mada lantang tanpa basa-basi.
Seketika raja Linggabuana terkejut, matanya membelalak kaget bukan kepalang. Tak menyangka Mahapatih Gajah Mada yang terkenal sangat ksatria mempunyai kelicikan bak ular kadut. Raja Linggabuana marah,
“Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami...???
Kami ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti sama seperti dari Nusantara...
Kami lain, kami orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.
Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan...
Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang
Jipang...
Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur...
Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng diparang dan mati...
Pasukanmu bubar dan melarikan diri...
Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri...
Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan...
Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup...
Sekarang, besar juga kata-katamu...
Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing...
Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat...
Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk...
Menipu orang berbudi syahdu...
Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!” ucap prabu Linggabuana penuh amarah.
Serta merta memberikan penolakan terhadap Gajah Mada,
“Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri...
Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, kami tiada akan ‘silau'.....!!!!" Lanjut prabu Linggabuana penuh keberanian.
"Kami siap menumpahkan darah demi harga diri kerajaan Sunda, hidup Sunda Galuh... hiduuupp...!!!"
Dengan sorak-sorai rombongan orang-orang Sunda mendukung rajanya.
Aku merinding mendengarnya, kata-kata penuh kiasan namun tajam, yang menggambarkan keberanian rakyat Sunda Galuh dalam membela harga diri negerinya.
Sang Tuan Patih Gajah Mada seketika marah, seakan-akan robek telinganya mendengarkan kata-kata pedas raja Sunda dan rakyatnya.
Tak berpikir panjang patih Gajah Mada, tak bisa menahan amarahnya dan langsung memberi komando,
"Rawe-rawe rantas malang-malang putung....!!!! Seraaang...!!!" Seketika terjadi keos, perang tak terhindarkan.
Aku yang berdiri tepat di belakang patih Gajah Mada dengan jelas menyaksikan tragedi ini, dimana perang tak seimbang, rombongan pengantin dari Sunda yang hanya berjumlah kurang lebih 90 orang harus berhadapan dengan kami pasukan Majapahit dengan ribuan pasukan.
Aku hanya bisa terdiam menyaksikan ini semua, menurutku ini tidak cocok disebut perang, ini lebih tepat disebut pembantaian, dimana semua rombongan Sunda dibantai habis-habisan tanpa tersisa, tak terkecuali maha Prabu Linggabuana sang raja Sunda juga ikut gugur dalam peperangan ini. Tapi dengan perlawanan yang pantang menyerah tak sedikit pasukan Majapahit yang gugur di medan perang.
Tapi dari sini aku melihat bagaimana sikap patriotisme dijunjung tinggi, demi membela tanah airnya, bahkan rela nyawa harus melayang.
Aku hanya berdiri tegak ditengah peperangan, bukan untuk membunuh atau dibunuh, tapi aku ingin menyaksikan detik demi detik pertempuran yang telah tercatat dalam sejarah, dimana darah berhamburan mengucur membasahi bumi pertiwi, suara dentingan pedang nyaring melengking.
***
Setelah perang usai, aku dan pasukan lain ditugaskan menjaga keamanan disekitar lapangan Bubat, dan yang lain mengubur mayat-mayat yang gugur dimedan perang.
Dan tak lama kemudian Gajah Mada maju ketengah-tengah lapangan dan berorasi,
"Dengan berakhirnya perang ini, dan terbunuhnya raja Sunda Galuh, berarti tanah Sunda adalah menjadi bagian dari kerajaan Majapahit, dan akhirnya terpenuhilah sumpahku untuk mempersatukan bumi Nusantara dibawah kibaran panji Majapahit..." teriak Gajah Mada dengan mengangkat kerisnya tinggi-tinggi seakan ingin membelah langit.
Dan disambut riuh semua prajuritnya, "Horeee... hidup Majapahit... hidup Majapahit..." semua sorak sorai penuh kebanggaan.
Tapi dalam hati kecilku berkata,
"ini bukan peperangan ala ksatria,
ini adalah pembantaian dengan strategi penuh kelicikan...
Walau aku terlahir sebagai orang Jawa, tapi aku sama sekali tidak bangga atas kemenangan ini...
Aku lebih menghargai sikap raja Sunda yang rela mati terhormat demi kehormatan kerajaannya...
Jika memang sejarah ini benar adanya, aku sungguh kecewa..." gumamku dalam hati.
Tiba-tiba lamunanku terpecah oleh suara yang memanggilku bak halilintar, "Hei Jaka Sasena...!!! kenapa kau dari tadi hanya diam bak patung batu...??? Apa kau tidak bangga pada kemenangan ini...???" Tegur Gajah Mada tegas tapi seram.
Seketika aku terperanggah kaget bukan kepalang,
"Maaf tuan aku gak tau lagi harus berbuat apa tuan..." jawabku panik.
"Baik, sekarang kau aku tugaskan menjaga para rombongan putri Sunda, jangan sampai mereka melarikan diri, mereka akan aku jadikan tawanan agar kerajaan Sunda Galuh benar-benar tunduk dan takluk mengakui kekalahannya..." ujar Gajah Mada lagi.
Akhirnya aku dan rombongan segera menuju ke sisi timur lapangan Bubat, di pesanggrahan sebelah timur Bubat telah nampak putri-putri dari kerajaan sunda, banyak anggota keluarga kerajaan yang ikut, banyak anak-anak dan orang-orang tua, mereka nampak sedih mendengar semua laki-laki dalam rombongan telah gugur di medan perang.
Mereka duduk bersila dan berbaris rapi di halaman pesanggrahan, semua menggenakan pakaian putih, bersila dengan pisau belati di tangan masing-masing ada yang hanya memegang tusuk konde ada juga yang memegang bambu runcing.
Nampak putri Dyah Pitaloka duduk bersila dibarisan paling depan, tak berapa lama matanya menatap padaku dan dengan anggukan kepalanya yang memberi isyarat memanggilku.
Akupun mendekat padanya dengan penuh keraguan, mungkinkah dia akan membunuhku atau akan menyanderaku,
"Jangan Sena...!!! Lihat tangan mereka, meraka membawa senjata tajam, kau bisa dibunuhnya..." ucap Wingsanggeni mengingatkanku sembari ketakutan.
Tetapi aku tetap mendekat kearah mereka. Aku yakin mereka tidak akan melukaiku.
Setelah aku sampai didepannya, putri Dyah Pitaloka membisikan sesuatu di telingaku,
"aku yakin kau bukan bagian dari mereka, aku yakin kau mampu mengemban tugas ini, tolong sampaikan ini ke negeri Sunda, sampaikan kabar kami yang sesungguhnya pada istana...!!!" Bisik Dyah Pitaloka sembari memberi sepucuk surat agar disampaikan ke istana dan sebuah liontin sebagai tanda bukti bahwa aku utusannya.
Setelah aku mundur beberapa langkah, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, rombongan putri melakukan bela pati (bunuh diri), putri Dyah Pitaloka menusuk jantungnya sendiri menggunakan tusuk kondenya dan diikuti oleh segenap perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa, baik bangsawan ataupun abdi.
Angin berhembus dengan semilirnya mengantar jiwa-jiwa suci menuju nirwana, suasana seketika hening, cuaca mendung mendamaikan suasana, bersama darah yang mengalir pelan keluar dari singgasananya, raga-raga yang tak bernyawa terbaring tenang penuh keanggunan, harum wangi semerbak memancar kesegala penjuru mengharumkan namanya ke pelosok negeri.
"Inilah tradisi para leluhur kita dalam menjaga kehormatannya, mempertahankan semboyan hidup mulia atau mati terhormat..." gumamku dalam hati sembari melangkah pelan meninggalkan pesanggrahan.
***
Dalam tragedi ini seluruh rombongan dari negeri Pasundan gugur dalam medan perang dan sejarah akan mencatatnya sebagai Perang Bubat, yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M.
Dan tragedi ini kelak akan merusak hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian hingga era modern, hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.
Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana.
Kebijakannya antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri tiluaran , yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit.
Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.
Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki "Prabu Wangi" (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya.
Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.
Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga sampai zaman modern.
Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung , ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau "Majapahit". Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.
***
***
Ahmad Pajali Binzah
February 01, 2015
New Google SEO
Bandung, IndonesiaTragedi Perang Bubat
(Untuk awal cerita KLIK DISINI)
Setelah pertempuran di kerajaan Banggai dan berhasil menyatukan Banggai dibawah panji Majapahit, akhirnya sebagian prajurit ditarik kembali ke Trowulan dan sebagian lagi masih bertahan untuk membangun kembali kerajaan Banggai yang telah hacur luluh lantak.
Dan aku termasuk prajurit yang ditugaskan kembali ke Trowulan menjaga ibu kota Majapahit.
Sesampainya di Trowulan aku dan rombongan disambut dengan upacara adat yang begitu megah, sebagai sambutan bagi prajurit yang pulang dengan kemenangan perang.
Tari-tarian dan sorak sorai penduduk menggambarkan kegembiraan, tak lupa berbagai sajian makanan menghiasi arak-arakan disepanjang jalan.
Yaa inilah kemenangan terbesar untuk Majapahit, karena setelah ditaklukkannya Banggai secara otomatis seluruh wilayah Nusantara telah disatukan dalam naungan panji Majapahit.
Hanya wilayah kerajaan Sunda galuh yang tidak masuk kekuasaan Majapahit karena memang ada hubungan kekerabatan, karena raja pertama Majapahit raden Wijaya adalah masih keturunan raja Sunda dan pesan dari Tribuanatunggadewi sendiri yang mewanti-wanti pada Gajah Mada agar tidak menyerang kerajaan Sunda Galuh.
Inilah sebab kerajaan Sunda Galuh tidak ditaklukan dalam pewujudan pemersatu wilayah Nusantara dibawah panji Majapahit.
Akhirnya Gajah Mada menemukan ide atau cara lain untuk menyatukan wilayah Sunda menjadi bagian dari Majapahit, yaitu perkawinan politik.
Dan Hayam Wuruk sendiri memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.
Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.
Setelah rombongan pengantin tiba, raja Hayam Wuruk memerintahkan utusan agar rombongan dipersilahkan istirahat di pesanggrahan lapangan Bubat.
Sementara rombongan dari negeri Sunda sedang menurunkan perbekalan dan mempersiapkan upacara pernikahan, tiba-tiba timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.
Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit.
Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai permaisuri, melainkan sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara.
Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu. Belum sempat sang Prabu mengambil keputusan, Gajah Mada mohon undur diri menuju Bubat.
Tak berapa lama nampak Gajah Mada keluar dari istana lantas memanggilku dan pemimpin-pemimpin prajurit lain dan aku pun menghadap,
"Ada apa gerangan tuan memanggil kami..." tanya kami.
"Kalian semua, kumpulkan semua prajurit, kita akan menuju lapangan Bubat...!!!" Perintah Gajah Mada dengan tegasnya.
Tanpa tanya-tanya lagi kami langsung mengikuti perintah sang jendral.
Setelah semua pasukan terkumpul, kami langsung berangkat ke Bubat.
Sampai disana nampak para rombongan orang-orang Sunda sedang sibuk menurunkan dan merapikan barang bawaannya.
"Jaka Sasena...!!!" Panggil Gajah Mada.
"Siap Tuan...!!!" Sahutku.
"Kamu dan semua pasukan siap dibelakangku, tunggu komando dariku...!!!" Perintahnya.
"Baik Tuan...!!!" Sahutku lagi.
Tak berapa lama datang raja Lingga Buana menemui Patih Gajah Mada, "maaf jendral besar yang kami hormati, ada apakah gerangan maksud kedatangan jendral ke camp kami dengan membawa pasukan begitu banyaknya...???" Tanya raja Sunda penuh wibawa dan keanggunan.
"Maksud kami datang kesini hanya untuk mempertegas bahwa pernikahan putri Dyah Pitaloka dengan raja kami Raden Hayam Wuruk tidak perlu acara resmi dan mewah, karena ini hanya simbolis bahwa kerajaan Sunda Galuh mengakui tunduk kepada kami dan putri Dyah Pitaloka sebagai upeti kepada raja kami...!!!" Tegas Gajah Mada lantang tanpa basa-basi.
Seketika raja Linggabuana terkejut, matanya membelalak kaget bukan kepalang. Tak menyangka Mahapatih Gajah Mada yang terkenal sangat ksatria mempunyai kelicikan bak ular kadut. Raja Linggabuana marah,
“Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami...???
Kami ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti sama seperti dari Nusantara...
Kami lain, kami orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.
Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan...
Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang
Jipang...
Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur...
Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng diparang dan mati...
Pasukanmu bubar dan melarikan diri...
Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri...
Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan...
Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup...
Sekarang, besar juga kata-katamu...
Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing...
Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat...
Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk...
Menipu orang berbudi syahdu...
Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!” ucap prabu Linggabuana penuh amarah.
Serta merta memberikan penolakan terhadap Gajah Mada,
“Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri...
Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, kami tiada akan ‘silau'.....!!!!" Lanjut prabu Linggabuana penuh keberanian.
"Kami siap menumpahkan darah demi harga diri kerajaan Sunda, hidup Sunda Galuh... hiduuupp...!!!"
Dengan sorak-sorai rombongan orang-orang Sunda mendukung rajanya.
Aku merinding mendengarnya, kata-kata penuh kiasan namun tajam, yang menggambarkan keberanian rakyat Sunda Galuh dalam membela harga diri negerinya.
Sang Tuan Patih Gajah Mada seketika marah, seakan-akan robek telinganya mendengarkan kata-kata pedas raja Sunda dan rakyatnya.
Tak berpikir panjang patih Gajah Mada, tak bisa menahan amarahnya dan langsung memberi komando,
"Rawe-rawe rantas malang-malang putung....!!!! Seraaang...!!!" Seketika terjadi keos, perang tak terhindarkan.
Aku yang berdiri tepat di belakang patih Gajah Mada dengan jelas menyaksikan tragedi ini, dimana perang tak seimbang, rombongan pengantin dari Sunda yang hanya berjumlah kurang lebih 90 orang harus berhadapan dengan kami pasukan Majapahit dengan ribuan pasukan.
Aku hanya bisa terdiam menyaksikan ini semua, menurutku ini tidak cocok disebut perang, ini lebih tepat disebut pembantaian, dimana semua rombongan Sunda dibantai habis-habisan tanpa tersisa, tak terkecuali maha Prabu Linggabuana sang raja Sunda juga ikut gugur dalam peperangan ini. Tapi dengan perlawanan yang pantang menyerah tak sedikit pasukan Majapahit yang gugur di medan perang.
Tapi dari sini aku melihat bagaimana sikap patriotisme dijunjung tinggi, demi membela tanah airnya, bahkan rela nyawa harus melayang.
Aku hanya berdiri tegak ditengah peperangan, bukan untuk membunuh atau dibunuh, tapi aku ingin menyaksikan detik demi detik pertempuran yang telah tercatat dalam sejarah, dimana darah berhamburan mengucur membasahi bumi pertiwi, suara dentingan pedang nyaring melengking.
***
Setelah perang usai, aku dan pasukan lain ditugaskan menjaga keamanan disekitar lapangan Bubat, dan yang lain mengubur mayat-mayat yang gugur dimedan perang.
Dan tak lama kemudian Gajah Mada maju ketengah-tengah lapangan dan berorasi,
"Dengan berakhirnya perang ini, dan terbunuhnya raja Sunda Galuh, berarti tanah Sunda adalah menjadi bagian dari kerajaan Majapahit, dan akhirnya terpenuhilah sumpahku untuk mempersatukan bumi Nusantara dibawah kibaran panji Majapahit..." teriak Gajah Mada dengan mengangkat kerisnya tinggi-tinggi seakan ingin membelah langit.
Dan disambut riuh semua prajuritnya, "Horeee... hidup Majapahit... hidup Majapahit..." semua sorak sorai penuh kebanggaan.
Tapi dalam hati kecilku berkata,
"ini bukan peperangan ala ksatria,
ini adalah pembantaian dengan strategi penuh kelicikan...
Walau aku terlahir sebagai orang Jawa, tapi aku sama sekali tidak bangga atas kemenangan ini...
Aku lebih menghargai sikap raja Sunda yang rela mati terhormat demi kehormatan kerajaannya...
Jika memang sejarah ini benar adanya, aku sungguh kecewa..." gumamku dalam hati.
Tiba-tiba lamunanku terpecah oleh suara yang memanggilku bak halilintar, "Hei Jaka Sasena...!!! kenapa kau dari tadi hanya diam bak patung batu...??? Apa kau tidak bangga pada kemenangan ini...???" Tegur Gajah Mada tegas tapi seram.
Seketika aku terperanggah kaget bukan kepalang,
"Maaf tuan aku gak tau lagi harus berbuat apa tuan..." jawabku panik.
"Baik, sekarang kau aku tugaskan menjaga para rombongan putri Sunda, jangan sampai mereka melarikan diri, mereka akan aku jadikan tawanan agar kerajaan Sunda Galuh benar-benar tunduk dan takluk mengakui kekalahannya..." ujar Gajah Mada lagi.
Akhirnya aku dan rombongan segera menuju ke sisi timur lapangan Bubat, di pesanggrahan sebelah timur Bubat telah nampak putri-putri dari kerajaan sunda, banyak anggota keluarga kerajaan yang ikut, banyak anak-anak dan orang-orang tua, mereka nampak sedih mendengar semua laki-laki dalam rombongan telah gugur di medan perang.
Mereka duduk bersila dan berbaris rapi di halaman pesanggrahan, semua menggenakan pakaian putih, bersila dengan pisau belati di tangan masing-masing ada yang hanya memegang tusuk konde ada juga yang memegang bambu runcing.
Nampak putri Dyah Pitaloka duduk bersila dibarisan paling depan, tak berapa lama matanya menatap padaku dan dengan anggukan kepalanya yang memberi isyarat memanggilku.
Akupun mendekat padanya dengan penuh keraguan, mungkinkah dia akan membunuhku atau akan menyanderaku,
"Jangan Sena...!!! Lihat tangan mereka, meraka membawa senjata tajam, kau bisa dibunuhnya..." ucap Wingsanggeni mengingatkanku sembari ketakutan.
Tetapi aku tetap mendekat kearah mereka. Aku yakin mereka tidak akan melukaiku.
Setelah aku sampai didepannya, putri Dyah Pitaloka membisikan sesuatu di telingaku,
"aku yakin kau bukan bagian dari mereka, aku yakin kau mampu mengemban tugas ini, tolong sampaikan ini ke negeri Sunda, sampaikan kabar kami yang sesungguhnya pada istana...!!!" Bisik Dyah Pitaloka sembari memberi sepucuk surat agar disampaikan ke istana dan sebuah liontin sebagai tanda bukti bahwa aku utusannya.
Setelah aku mundur beberapa langkah, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, rombongan putri melakukan bela pati (bunuh diri), putri Dyah Pitaloka menusuk jantungnya sendiri menggunakan tusuk kondenya dan diikuti oleh segenap perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa, baik bangsawan ataupun abdi.
Angin berhembus dengan semilirnya mengantar jiwa-jiwa suci menuju nirwana, suasana seketika hening, cuaca mendung mendamaikan suasana, bersama darah yang mengalir pelan keluar dari singgasananya, raga-raga yang tak bernyawa terbaring tenang penuh keanggunan, harum wangi semerbak memancar kesegala penjuru mengharumkan namanya ke pelosok negeri.
"Inilah tradisi para leluhur kita dalam menjaga kehormatannya, mempertahankan semboyan hidup mulia atau mati terhormat..." gumamku dalam hati sembari melangkah pelan meninggalkan pesanggrahan.
***
Dalam tragedi ini seluruh rombongan dari negeri Pasundan gugur dalam medan perang dan sejarah akan mencatatnya sebagai Perang Bubat, yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M.
Dan tragedi ini kelak akan merusak hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian hingga era modern, hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.
Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana.
Kebijakannya antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri tiluaran , yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit.
Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.
Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki "Prabu Wangi" (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya.
Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.
Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga sampai zaman modern.
Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung , ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau "Majapahit". Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.
***
Sejak kejadian itu, beberapa hari ini kota Majapahit tak seperti biasanya, istana nampak sepi, tidak ada aktifitas kenegaraan, bahkan para prajurit sebagian diperbolehkan kembali kerumah masing-masing untuk istirahat, hiruk-pikuk pasar juga tak seramai biasanya, bahkan kalangan keluarga istana seakan menutup diri.
Aku dan Wingsanggeni serta beberapa prajurit yang berasal dari padepokan Mpu Sasora memilih pulang untuk beberapa hari.
Setelah kami sampai di padepokan Mpu Sasora dan menceritakan kejadian dihari kemaren, Mpu Sasora nampak bingung dan tak menyangka sama sekali,
"Hmmm... jadi begitu kejadiannya...???" Jawab Mpu Sasora menanggapi laporan kami.
"Aku tak menyangka Gajah Mada yang begitu ksatria bertindak ceroboh seperti itu dan sangat tidak terpuji..." lanjutnya lagi.
"Iyaa guru, bahkan kabarnya prabu Hayam Wuruk saat ini dirundung kesedihan yang mendalam atas gugurnya calon permaisurinya beserta rombongan keluarga dari pasundan... Dan saat ini beliau hanya mengurung diri di istana dan kabarnya hubungan prabu Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada saat ini sedang merenggang..." Wingsanggeni mencoba menjelaskan keadaan istana.
"Iya guru, istana saat ini seakan tak ada aktifitas kenegaraan, bahkan kami diizinkan pulang untuk sementara waktu..." jawab murid yang lain.
"Baiklah kalau begitu, kalian silahkan istirahat dulu, agar pikiran dan batin kalian tenang..." perintah Mpu Sasora.
"Baik guru..." jawab serentak para murid.
Saat mereka pergi meninggalkan Mpu Sasora, aku tetap diam dan tetap menghadap Mpu Sasora.
"Sasena, kenapa kamu masih disitu... apakah kamu tidak mau istirahat nak...???" Tanya Mpu dengan nada pelan.
"Guru, ada yang ingin aku ceritakan guru..." jawabku dengan nada rendah.
"Ada apa Sena, ceritalah padaku..." bujuk Mpu Sasora.
"Begini guru....." akupun menceritakan panjang lebar tentang kejadian di Bubat, detail demi detail aku ceritakan juga kejadian di pesanggrahan putri, di sebelah timur Bubat dan tentang titipan surat dari kanjeng Dyah Pitaloka untuk istana Kawali di Sunda Galuh.
"Hmmm,,,, jadi begitu ceritanya... aku pribadi turut prihatin dan berduka cita atas kejadian itu, dan turut bangga atas bela pati kaum putri dari pasundan dalam membela kehormatannya..." kata Mpu Sasena penuh kesedihan.
"Jadi apa yang harus aku lakukan dengan surat ini guru...???" Tanyaku penuh kebimbangan.
"Sebaiknya kamu antarkan surat itu ke negeri sunda, laksanakan mandat yang diberikan putri Dyah Pitaloka kepadamu yaitu untuk menceritakan kabar ini kepada istana Kawali di kerajaan Sunda Galuh... Dan kamu sendiri yang harus kesana..." ucap Mpu Sasora memberi penjelasan.
"Baik guru, aku sendiri yang akan kesana, untuk membuktikan aku laki-laki sejati yang selalu menjalankan tugas dengan baik..." jawabku dengan gagah berani.
"Tapi aku tak tau jalan menuju kesana guru..." lanjutku lagi dengan nada nyengir.
"hahahaaa.... jangan kuatir nak, nanti aku beri petunjuk arah kesana... jadi sebaiknya kamu istirahat dulu, besok aku persiapkan semua bekal untukmu..." jelas Mpu Sasora penuh bijaksana.
"Baik guru, aku pamit dulu mau istirahat..." akupun mengundurkan diri menuju gubuk yang biasa kami tinggali bersama-sama murid Mpu Sarora yang lain, dan mungkin ini bisa dibilang asrama padepokan.
***
Pagi ini, udara terasa dingin membuat tidurku makin pulas seakan malas bangun, tapi setelah tengok kanan-kiri sudah tak ada orang, ternyata pagi ini aku bangun paling siang, setelah aku buka pintu ternyata hari sudah terang, matahari telah memancarkan sinarnya walau belum terlalu terik.
Setelah aku melangkah keluar untuk menjemur tubuhku untuk menghangatkan otot-ototku, nampak pemandangan yang sangat indah di sekitar padepokan ini, nampak pepohonan yang tumbuh rimbun, kabut tipis yang selalu hadir setiap pagi, nampak juga sebagian murid-murid Mpu Sasora berlatih beladiri, sebagian lagi nampak sedang memulai aktifitas melebur dan menempa baja, ada juga yang sedang menyapu membersihkan halaman dari dedaunan yang jatuh, sungguh pemandangan yang sering aku lihat sebelum aku menjadi prajurit bayangkara.
"Hmmm,,, sudah lama sekali aku tak merasakan pagi di tempat ini... aku merasa damai ditempat ini..." gumamku dalam hati sambil meregangkan otot-ototku dengan senam sederhana didepan asrama.
Tiba-tiba dari kejauhan ada yang memanggilku.
"Jaka Sasena... kesinilah...!!!" Panggil Mpu Sasora dari kejauhan.
"Baik guru..." akupun berlari mendekat.
Disana telah menunggu Mpu Sasora dan temanku Wingsanggeni sambil merapikan barang-barang dan dua ekor kuda.
"Hee Sena, bangunmu siang sekali kawan...??? Dari tadi guru sudah menunggumu disini...???" Ujar Wingsanggeni.
"Heheheeee... Iyaa nih tidurku pulas banget Wing..." jawabku pada Wingsanggeni.
"Maaf guru, aku kesiangan..." jawabku menghadap Mpu.
"Maaf guru, aku kesiangan..." jawabku menghadap Mpu.
"Gak apa-apa,,, kamu memang kecape'an... Dan ini, perbekalanmu sudah aku siapkan berikut kuda kesayanganku ini untuk menemani perjalananku, aku jamin kuda ini paling cepat larinya dibanding kuda-kuda lain yang ada di tanah Majapahit ini hehee..." jelas Mpu Sasora sambil menepuk-nepuk leher kuda dengan perawakan gagah ini.
"Baiklah, sebaiknya kamu mandi dulu, sesudah itu kamu kesini lagi..." lanjut Mpu lagi.
"Baik guru..." jawabku menuju kamar mandi dengan semangatnya.
***
Setelah selesai semua aku kembali menuju kediaman Mpu Sasora lagi, dan didalam kediamannya Mpu Sasora dan temenku Wingsanggeni telah menungguku.
"Kulonuwun..." ucapku sembari mengetuk pintu.
"Kulonuwun..." ucapku sembari mengetuk pintu.
"Monggoo... silahkan masuk nak..." jawab Mpu halus.
"Ini semua perbekalanmu sudah aku siapkan untukmu, jadi selama diperjalanan kamu jangan kuatir lagi, peta dan segala macamnya sudah aku siapkan...." ucap Mpu Sasora.
"Terimakasih guru..." jawabku sambil menganggukkan kepala.
"Dan ini temanmu Wingsanggeni biar mendampingimu selama perjalanan, aku yakin Wingsanggeni bisa menjagamu, karena ilmu kanuragannya sudah lumayam pandai untuk menghadapi segala sesuatunya nanti..." Mpu sasora memberi wejangan.
"Baik guru Terimakasih..." jawabku lagi.
"Baiklah, mari kita sarapan dulu..." Mpu Sasora mempersilahkan kami untuk dijamu makanan yang spesial.
Setelah selesai sarapan dan mendengarkan wejangan dari Mpu Sasora, akhirnya kamu keluar dengan dua kuda yang sudah menunggu.
Nampak semua murid Mpu Sasora sudah berkumpul mengelilingu kami, setelah pamit pada Mpu dan semua murid yang ada disini, aku dan Wingsanggeni lalu segera naik ke punggung kuda siap melakukan perjalanan.
"Baik Mpu aku pamit... do'akan semoga kami selamat dalam menunaikan tugas ini..." ucapku pada Mpu dan teman-teman semua.
"Tunggu dulu nak, ini untukmu semoga kalian berdua baik-baik saja..." ujar Mpu Sasora sembari memberiku sebilah keris.
Aku yakin keris ini bukan keris sembarangan dari bentuk dan pamornya sangat artistik dan aku yakin keris ini adalah keris kesayangan Mpu Sasora karena aku sering melihat beliau merawat keris ini dengan sangat hati-hati.
Dan apapun itu, semoga keris ini bermanfaat dalam perjalananku ini seperti apa yang diucapkan Mpu Sasora.
Aku yakin keris ini bukan keris sembarangan dari bentuk dan pamornya sangat artistik dan aku yakin keris ini adalah keris kesayangan Mpu Sasora karena aku sering melihat beliau merawat keris ini dengan sangat hati-hati.
Dan apapun itu, semoga keris ini bermanfaat dalam perjalananku ini seperti apa yang diucapkan Mpu Sasora.
"Amin.... makasih guru..." sahutku sembari senyum.
"Hati-hati nak, sampaikan salamku pada orang-orang Sunda Galuh..." ucap Mpu sembari melambaikan tangan.
"Baik guru..." jawabku sembari menunggang kuda meninggalkan padepokan Mpu Sasora.
"Hiaa hiaaa hiaaa..." akupun berteriak memacu kuda semakin cepat.
Saat sampai di gapura kota Trowulan tiba-tiba aku dihadang beberapa penjaga,
"Berhenti...!!!" Teriak seorang penjaga. Dan sontak kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disekitar gapura.
"Berhenti...!!!" Teriak seorang penjaga. Dan sontak kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disekitar gapura.
Akupun menghentikan kudaku, tanpa turun dari pelana kuda, nampak Wingsanggeni agak emosi "Apa-apaan ini berani mengganggu perjalananku...!!!" Ujar Winsanggeni.
"Sabar Wing, mungkin mereka belum kenal siapa kita..." ucapku menenangkan.
Setelah penjaga itu mendekat dan melihat wajah kami ternyata mereka prajurit seperjuanganku.
"Sabar Wing, mungkin mereka belum kenal siapa kita..." ucapku menenangkan.
Setelah penjaga itu mendekat dan melihat wajah kami ternyata mereka prajurit seperjuanganku.
"Oh ternyata kalian, mau kemana kok nampak terburu...???" Ucap penjaga sembari nyengir.
"Kami disuruh Mpu Sasora untuk mencari sesuatu dihutan..." ucapku sambil tetap diatas kuda.
"Maaf Wingsang, Sena sudah mengganggu perjalanannya, kami kira siapa karena semenjak tragedi di Bubat kami disuruh memperketat penjagaan...
Baiklah kalau begitu sekarang silahkan lanjutkan perjalananmu..." penjaga itu mempersilahkan.
Baiklah kalau begitu sekarang silahkan lanjutkan perjalananmu..." penjaga itu mempersilahkan.
"Baik teman, terimakasih..." ucapku sembari melambaikan tangan.
"Hiaa hiaa hiaaa..." kami pun kembali memacu kuda begitu cepatnya meninggalkan kota Trowulan, ibukota Majapahit.
"Hiaa hiaa hiaaa..." kami pun kembali memacu kuda begitu cepatnya meninggalkan kota Trowulan, ibukota Majapahit.
***
"Dari sinilah petualanganku yang sesungguhnya akan segera dimulai, penjelajahan seorang petualang, menjelajahi sejengkal demi sejengkal tanah Jawa dari timur hingga menuju ujung barat, negeri Sunda Galuh...
Dan disetiap jengkalnya akan aku lalui penuh dengan cerita menarik...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan..."
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan..."
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kelanjutannya silahkan KLIK DISINI
Episode 4 sampai 7 menceritakan tentang sejarah berdirinya kota-kota di Jawa,
Jika ingin melewati sejarah dan kisah perjalanannya silahkan klik langsung inti cerita di episode 8 KLIK DISINI
Untuk kelanjutannya silahkan KLIK DISINI
Episode 4 sampai 7 menceritakan tentang sejarah berdirinya kota-kota di Jawa,
Jika ingin melewati sejarah dan kisah perjalanannya silahkan klik langsung inti cerita di episode 8 KLIK DISINI
















