Episode (4/10)
Sejarah kota Surabaya.
Untuk awal cerita KLIK DISINI
Ini adalah petualangan terbesarku, yang akan menyusuri bumi Jawa Dwipa dari pusat kerajaan Majapahit hingga ujung barat tanah Jawa yaitu kerajaan Sunda Galuh.
Saat melangkah keluar dari gerbang ibu kota, rasanya jiwa petualanganku bergetar hebat, jantungku berdegup kencang mengiringi kuda yang aku tunggangi memacu langkahnya menderu menyusuri jalan besar penghubung ibu kota dan pelabuhan raya di pesisir utara, Surabaya.
Ini adalah perjalananku, ini adalah kisah hidupku...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan.
****
Setelah memacu kuda ku begitu lamanya aku pun istirahat disuatu pasar yang cukup ramai, aku berhenti di warung untuk sekedar istirahat dan mengisi perut, juga sambil membiarkan kuda-kuda yang kami tunggangi memakan rumput dan tak lupa aku membeli garam dan gula aren untuk menambah stamina kuda-kuda kami.
"Kalau boleh tau, ini pasar apa yaa kek...??? Sejak dari Trowulan aku rasa ini pasar yang paling ramai sepanjang perjalanan kami...
Disini juga masyarakatnya sangat maju banyak rumah-rumah dan penginapan yang sudah tertata rapi...???" tanya Wingsanggeni pada warung sambil melahap makannya.
"Ini pasar Mojokerto nak, daerah paling strategis untuk transit dan istirahat karena ini memang daerah pertengahan antara Trowulan dan pelabuhan Surabaya, daerah ini memang ramai karena ini tempat transit para saudagar dan para petinggi kerajaan yang sedang lalu lalang di jalur perniagaan dan jalur utama.
Disini juga ada dermaga ditepi sungai Brantas, para kapal-kapal dagang dan kapal kerajaan sering istirahat disini setelah menempuh perjalanan yang melelahkan..." jawab kakek pemilik warung sambil mengaduk wedang jahe rempah pesanan kami.
"Ooohh pantesan daerah ini sungguh sangat maju dan berkembang, masyarakatnya juga sangat makmur..." jawab Wingsang Geni mengiyakan.
"Iya nak, ini berkat kemajuan dan perkembangan yang pesat dari kerajaan majapahit...
Ini nak diminum wedangnya, biar menambah stamina dalam perjalanan kalian...
Ngomong-ngomong kisanak ini dari mana mau kemana...???
Dilihat dari postur kalian, kalian pasti bukan orang sembarangan..." tanya kakek sambil meletakkan dua gelas wedang disamping kami.
"Aaahh kami pemuda biasa kek yang sekedar ingin jalan-jalan saja.." jawabku mencoba menutupi identitas kami.
"Tapi keliatannya tubuh kalian kekar-kekar, seperti prajurit saja...???" kakek itu mencoba bertanya lagi.
"Aahh itu karena kami sering bekerja di sawah membantu orang tua kami saja kek..." jawab Wingsang mengalihkan.
"Iyaa benar kek, hehhee..." aku pun mengiyakan ucapan wingsang.
"Oohh iyaa kek, disini kira-kira dimana yaa kami bisa bermalam...???" tanya Wingsang mengalihkan pembicaraan.
"Masalah losmen atau penginapan jangan kuatir nak, disini tempatnya para musyafir beristirahat. Jadi mau yang mahal atau mau yang paling murah banyak tersedia disini, kalau di sebelah sana, kebanyakan diisi oleh orang-orang berjubah dan berjenggot panjang, banyak yang bilang mereka itu saudagar dari tanah arab, sementara losmen yang di sebelah sana kebanyakan diisi oleh para saudagar dari kulit kuning yang bermata sipit, dan sebelahnya kebanyak dari tanah Hindustan...
Kalau yang di depan sana yang paling spesial adalah asrama yang dibuat khusus untuk menginap para abdi negara, entah itu keluarga istana atau prajurit, yang jelas komplek itu khusus untuk orang-orang kerajaan yang ingin beristirahat dalam perjalanannya...
Dan biasanya dari mereka semua banyak yang berkumpul disini untuk makan malam, mereka sangat akur walau berasal dari latar belakang dan negara yang berbeda..." jelas kakek itu panjang lebar.
"Aahh berarti kalau aku tunjukin tanda anggota prajuritku, aku bisa menginap di komplek depan sana, waahh keren niihh..." ucap hatiku berbungah-bungah.
"Jadi rencana kalian nanti akan menginap dimana nak...??? Kalau kalian tidak banyak uang, boleh kok menginap disini dengan cuma-cuma..." kakek itu menawarkan warungnya untuk kami tumpangi.
"Aaahh iya juga, kalau aku menginap disana pasti identitasku akan ketahuan oleh warga disini, dan juga didalam sana kami pasti diintograsi tujuan apa kami melakukan perjalanan ini, sementara saat ini ibu kota masih dalam keadaan genting..." ucap hatiku bimbang.
"Gimana nak...??? Kenapa kalian hanya melamun saja...???" ucap kakek itu lagi.
"Eee baik kek, kami menginap disini saja, sekalian kami bisa lebih banyak mendengar cerita dari kakek, sekalian kami memang suka yang gratis-gratis kek hehee..." jawabku nyleneh.
Paginya saat matahari memancarkan sinar jingganya yang menyinari dedaunan dan menghangatkan suasana di pagi ini setelah diguyur hujan semalam.
Aku dan Wingsang sudah terbangun dan sarapan dengan menu khas masakan kakek yang baik hati.
"Baik kek maturmuwun atas tumpangannya pada kami, kami sangat berhutang budi pada kakek..." ucap wingsang pamit.
"Hahaha.. tak mengapa nak, aku malah senang bisa mengenal kalian...
Lanjutkanlah perjalanannya, semoga perjalanan kalian menyenangkan...
Oiya untuk ke kota Surabaya silahkan mengikuti jalan ini saja, karena jalan ini merupakan jalan raya utama yang jalurnya mengikuti alur pinggir sungai Brantas yang akhirnya akan menuju pelabuhan Surabaya..."
"Baik kek makasih banyak... hia, hia, hiaaaa..." aku dan Sahabatku Wingsang Geni kembali memacu kuda dengan semangatnya.
***
Pagi itu setelah sarapan dan pamit pada kakek pemilik warung kami berdua melanjutkan perjalanan mengikuti jalan berbatu yang menjulur dari ujung selatan ke ujung utara, mengikuti kelok alur sungai Brantas, jalan ini jalan terbesar yang menghubungkan ibu kota Trowulan dengan pelabuhan terbesar yang terletak di pesisir Surabaya.
Hutan dan ladang pertanian kami lewati silih berganti, jika malam kami harus menginap di rumah warga kadang jika kemalaman di hutan kami harus tidur dengan bivak seadanya.
Sesekali kami menjumpai rombongan para saudagar yang membawa barang dagangan seperti kain sutra, tembikar dan barang-barang dagangan lain yang diangkut dengan pedati, menuju ibukota Trowulan.
Sementara banyak juga hasil pertanian dan rempah-rempah yang diangkut menuju pelabuhan untuk dijual ke negeri seberang.
Karena pada masa ini, Majapahit sebenarnya masih dalam masa keemasan. Sepanjang perjalanan sering aku jumpai warga dengan wajah yang sempringah dan bersinar menandakan era kemakmuran di negeri Majapahit.
***
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di kota terbesar kedua di negeri Majapahit, yaitu Surabaya, kota di pesisir utara dengan pelabuhan terbesarnya, hiruk-pikuk perdagangan yang terkenal hingga ke belahan bumi yang lain.
Kota yang terkenal akan keberaniannya melawan bahaya, dan juga kota bersejarah tentang berdirinya kerajaan Majapahit itu sendiri.
Yaa, di kota inilah dahulu para leluhur Majapahit berperang mempertaruhkan nyawanya mengusir pasukan Tar-Tar dari Mongol yang berhasil dipukul mundur oleh Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan Majapahit.
Bahkan hingga kini hari bersejarah itu ditetapkan sebagai hari jadi kota Surabaya (31 mei 1293).
Pasukan Mongol utusan Kubilai Khan itu yang datang dari laut digambarkan sebagai SURO (ikan hiu/berani) sementara pasukan Raden Wijaya dari darat digambarkan Boyo (buaya/bahaya) yang digabung menjadi Suroboyo atau dengan kata lain mengandung arti berani menghadapi bahaya.
"Inilah Surabaya Sena, kota dengan seribu pesona dan sejarahnya...
Selamat datang di kota kebanggan kita Sena..." ucap Wingsang padaku tepat di pintu gerbang kota Surabaya.
"Yaa, aku sangat senang berada disini Wingsang...
Kita bisa bebas menjelajahi kota ini tanpa dibebankan tugas negara... hhahaha..." ucapku dengan wajah sempringah sambil memacu kuda memasuki kota Surabaya.
"Tapi ingat kawan, ada tugas besar di pundak kita untuk secepatnya mengantar surat wasiat ke negeri Sunda Galuh..." teriak Wingsang sambil memacu kuda mengejar aku.
"Hahahaa, tapi setidaknya kita bisa sekedar santai menikmati perjalanan ini kawan... hia, hia, hiaaa..." ucapku lagi sambi memacu kuda lebih kencang.
Rasanya bisa senang bisa mengilingi dan mengenal lebih dekat dengan kota ini, di sini serasa berada di daerah lain seperti bukan di negeri Majapahit, rumah-rumah dan bangunan disini tak semuanya berbentuk joglo, banyak rumah yang dibangun menyerupai adat dan khas daerah asalnya dari pemiliknya. Karena di kota ini sudah sangat homogen penduduknya, mulai dari kerajaan-kerajaan sekitar bahkan sampai dari benua yang berbeda. Banyak pendatang-pendatang dari India, Arab, China bahkan Madagaskar dan Afrika yang menetap dan membentuk suatu komunitas disini. Namun semua hidup rukun harmoni dan selaras dengan budaya Majapahit.
Di kota ini aku juga merasakan nuansa yang sudah lama aku tak merasakannya lagi, yaa suara adzan yang berkumandang mengingatkanku pada zamanku, dimana Islam sudah menjadi agama mayoritas di nusantara ini. Tapi disini di zaman ini aku mulai merasakan kehadiran ajaran ini sudah mulai mewarnai kehidupan di bumi nusantara.
Yaa Islam dimasa ini sudah mulai berkembang di pesisir dan mulai menyebar ke bagian hulu. Di Surabaya ini nuansa islami sudah mulai kental mewarnai sendi-sendi kehidupan kota.
Hampir 60% penduduk Surabaya beragama Islam. Karena di sini selain penduduk lokal, banyak pendatang dari Arab, China, India yang mayoritas membawa dan mengajarkan agama Islam.
Dan keberadaan ini bukan tidak diketahui oleh petinggi kerajaan, namun memang konsep Majaphit dan leluhur masyarakat Jawa yang pada umumnya lebih terbuka dan menjunjung tinggi sikap toleransi.
****
Setelah berjalan menyusuri keramaian kota, akhirnya aku dan Wingsang sampai di pesisir pantai.
"Aaahh rasanya senang sekali bisa melihat pantai, udara yang semilir ini mendamaikan hati rasanya Wing..." ucapku pada Wingsang sambil menatap ke arah laut lepas dengan rambut panjangku melambai-lambai tertiup angin.
"Yaa, sebagai abdi dalem kita memang jarang ditugaskan keluar ibu kota, jadi pamandangan pantai seperti ini rasanya sangat menyenangkan..." jawab Wingsang sambil menuntun kudanya berjalan ditepi pantai.
"Oh iyaa Wing, ayo kita kesana karena kita sudah cukup lama bersantai-santai disini..." ajakku pada Wingsang sambil menunjuk arah Pelabuhan.
"Baiklah ayo kita kesana..." jawab Wingsang bersemangat.
Dan kami pun kembali memacu kuda menuju dermaga pelabuhan melewati tepian pantai. Nampak juga dari kejauhan para kapal-kapal Besar yang lalu-lalang di laut lepas. Di pelabuhan juga nampak kapal-kapak yang sedang bersandar bongkar-muat barang-barang dagangan.
"Inilah pelabuhan Surabaya Sena... pelabuhan paling ramai senusantara... disinilah pintu gerbang Majapahit dengan dunia luar..." jelas Wingsang dengan wajah berbinar.
"Yaa, dari sinilah Majapahit melebarkan sayapnya hingga seantero Nusantara..." akupun mengiyakan.
Pelabuhan ini sangatlah luas, banyak dermaga dengan kesibukan yang berbeda-beda. Ada dermaga khusus untuk kapal dagang Nusantara, ada dermaga khusus untuk kapal dagang antar benua, ada dermaga untuk angkutan orang yang ingin berlayar, bahkan ada dermaga khusus untuk kapal kerajaan yang siap untuk mengangkut pasukan perang.
"Ayoo Sena kita segera cari kapal yang siap mengantar kita berlayar ke kerajaan Sunda Galuh..." Wingsang mengajakku mencari kapal.
"Tapi tunggu dulu Wing, apa kita harus menempuh jalur laut...???
Apa gak bisa perjalanan ini ditempuh lewat jalur darat saja...???" tanyaku menolak.
"Jalur laut jauh menghemat energi, waktu dan biaya Sena...
Sebagai prajurit, menghemat energi jauh lebih penting dari pada memilih jalur lain yang belum tentu hasilnya dan penuh resiko.. karena dalam perjalaanan ini, kita tidak tau bagaimana sambutan kerajaan Pasundan nanti, apakah mereka bisa menerima kita ataukah perang yang mereka tabuhkan untuk kita...
Jadi dalam hal ini menghemat energi jauh lebih baik..." Wingsang mencoba menjelaskan.
"Tapi coba banyangkan, apa gunanya kakek Sasora memberi kita kuda ini, apa gunanya kakek Sasora memberikan kita keris untuk senjata, apa gunanya kakek memberikan kita uang yang cukup banyak kalo toh kita hanya diam sambil bersantai di dalam kapal...???
Apapun resiko diperjalanan nanti, baik itu rampok, penguasa lokal, bahkan sungai besar tanpa jembatan pun aku siap menghadapi... karena hakekatnya perjalanan ini perjalanan pengembaraan..." aku menjelaskan dengan nada tegas.
"Baik kalau itu maumu Sena, aku sebagai sahabat dan orang yang ditugaskan kakek Sasora untuk mendampingimu, siap untuk selalu ada dalam perjalananmu..." jawab Wingsang sembari menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan ini lewat jalur darat, kita susuri jalan besar ataupun jalan setapak, kita seberangi sungai walau tanpa jembatan, kita hadapi aral yang melintang, kita tunaikan tugas kita hingga di negeri Sunda Galuh...!!!
Percayalah, dari perjalanan ini kita akan menemukan pembelajaran hidup yang lebih berarti...
Rawe rawe rantas, malang malang putung...!!!!" ucapku penuh semangat.
Tak perlu menunggu lama, aku dan sahabatku Wingsanggeni memacu kudanya dengan semangat untuk menelusuri jengkal demi jengkal tanah Jawa menuju negeri Sunda Galuh.
****
Yaa, ini adalah petualnganku, inilah cerita hidupku...
Akan aku isi cerita ini dengan indah dan berarti...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan...
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Ahmad Pajali Binzah
September 13, 2016
New Google SEO
Bandung, IndonesiaSejarah kota Surabaya.
Untuk awal cerita KLIK DISINI
Ini adalah petualangan terbesarku, yang akan menyusuri bumi Jawa Dwipa dari pusat kerajaan Majapahit hingga ujung barat tanah Jawa yaitu kerajaan Sunda Galuh.
Saat melangkah keluar dari gerbang ibu kota, rasanya jiwa petualanganku bergetar hebat, jantungku berdegup kencang mengiringi kuda yang aku tunggangi memacu langkahnya menderu menyusuri jalan besar penghubung ibu kota dan pelabuhan raya di pesisir utara, Surabaya.
Ini adalah perjalananku, ini adalah kisah hidupku...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan.
****
Setelah memacu kuda ku begitu lamanya aku pun istirahat disuatu pasar yang cukup ramai, aku berhenti di warung untuk sekedar istirahat dan mengisi perut, juga sambil membiarkan kuda-kuda yang kami tunggangi memakan rumput dan tak lupa aku membeli garam dan gula aren untuk menambah stamina kuda-kuda kami.
"Kalau boleh tau, ini pasar apa yaa kek...??? Sejak dari Trowulan aku rasa ini pasar yang paling ramai sepanjang perjalanan kami...
Disini juga masyarakatnya sangat maju banyak rumah-rumah dan penginapan yang sudah tertata rapi...???" tanya Wingsanggeni pada warung sambil melahap makannya.
"Ini pasar Mojokerto nak, daerah paling strategis untuk transit dan istirahat karena ini memang daerah pertengahan antara Trowulan dan pelabuhan Surabaya, daerah ini memang ramai karena ini tempat transit para saudagar dan para petinggi kerajaan yang sedang lalu lalang di jalur perniagaan dan jalur utama.
Disini juga ada dermaga ditepi sungai Brantas, para kapal-kapal dagang dan kapal kerajaan sering istirahat disini setelah menempuh perjalanan yang melelahkan..." jawab kakek pemilik warung sambil mengaduk wedang jahe rempah pesanan kami.
"Ooohh pantesan daerah ini sungguh sangat maju dan berkembang, masyarakatnya juga sangat makmur..." jawab Wingsang Geni mengiyakan.
"Iya nak, ini berkat kemajuan dan perkembangan yang pesat dari kerajaan majapahit...
Ini nak diminum wedangnya, biar menambah stamina dalam perjalanan kalian...
Ngomong-ngomong kisanak ini dari mana mau kemana...???
Dilihat dari postur kalian, kalian pasti bukan orang sembarangan..." tanya kakek sambil meletakkan dua gelas wedang disamping kami.
"Aaahh kami pemuda biasa kek yang sekedar ingin jalan-jalan saja.." jawabku mencoba menutupi identitas kami.
"Tapi keliatannya tubuh kalian kekar-kekar, seperti prajurit saja...???" kakek itu mencoba bertanya lagi.
"Aahh itu karena kami sering bekerja di sawah membantu orang tua kami saja kek..." jawab Wingsang mengalihkan.
"Iyaa benar kek, hehhee..." aku pun mengiyakan ucapan wingsang.
"Oohh iyaa kek, disini kira-kira dimana yaa kami bisa bermalam...???" tanya Wingsang mengalihkan pembicaraan.
"Masalah losmen atau penginapan jangan kuatir nak, disini tempatnya para musyafir beristirahat. Jadi mau yang mahal atau mau yang paling murah banyak tersedia disini, kalau di sebelah sana, kebanyakan diisi oleh orang-orang berjubah dan berjenggot panjang, banyak yang bilang mereka itu saudagar dari tanah arab, sementara losmen yang di sebelah sana kebanyakan diisi oleh para saudagar dari kulit kuning yang bermata sipit, dan sebelahnya kebanyak dari tanah Hindustan...
Kalau yang di depan sana yang paling spesial adalah asrama yang dibuat khusus untuk menginap para abdi negara, entah itu keluarga istana atau prajurit, yang jelas komplek itu khusus untuk orang-orang kerajaan yang ingin beristirahat dalam perjalanannya...
Dan biasanya dari mereka semua banyak yang berkumpul disini untuk makan malam, mereka sangat akur walau berasal dari latar belakang dan negara yang berbeda..." jelas kakek itu panjang lebar.
"Aahh berarti kalau aku tunjukin tanda anggota prajuritku, aku bisa menginap di komplek depan sana, waahh keren niihh..." ucap hatiku berbungah-bungah.
"Jadi rencana kalian nanti akan menginap dimana nak...??? Kalau kalian tidak banyak uang, boleh kok menginap disini dengan cuma-cuma..." kakek itu menawarkan warungnya untuk kami tumpangi.
"Aaahh iya juga, kalau aku menginap disana pasti identitasku akan ketahuan oleh warga disini, dan juga didalam sana kami pasti diintograsi tujuan apa kami melakukan perjalanan ini, sementara saat ini ibu kota masih dalam keadaan genting..." ucap hatiku bimbang.
"Gimana nak...??? Kenapa kalian hanya melamun saja...???" ucap kakek itu lagi.
"Eee baik kek, kami menginap disini saja, sekalian kami bisa lebih banyak mendengar cerita dari kakek, sekalian kami memang suka yang gratis-gratis kek hehee..." jawabku nyleneh.
Paginya saat matahari memancarkan sinar jingganya yang menyinari dedaunan dan menghangatkan suasana di pagi ini setelah diguyur hujan semalam.
Aku dan Wingsang sudah terbangun dan sarapan dengan menu khas masakan kakek yang baik hati.
"Baik kek maturmuwun atas tumpangannya pada kami, kami sangat berhutang budi pada kakek..." ucap wingsang pamit.
"Hahaha.. tak mengapa nak, aku malah senang bisa mengenal kalian...
Lanjutkanlah perjalanannya, semoga perjalanan kalian menyenangkan...
Oiya untuk ke kota Surabaya silahkan mengikuti jalan ini saja, karena jalan ini merupakan jalan raya utama yang jalurnya mengikuti alur pinggir sungai Brantas yang akhirnya akan menuju pelabuhan Surabaya..."
"Baik kek makasih banyak... hia, hia, hiaaaa..." aku dan Sahabatku Wingsang Geni kembali memacu kuda dengan semangatnya.
***
Pagi itu setelah sarapan dan pamit pada kakek pemilik warung kami berdua melanjutkan perjalanan mengikuti jalan berbatu yang menjulur dari ujung selatan ke ujung utara, mengikuti kelok alur sungai Brantas, jalan ini jalan terbesar yang menghubungkan ibu kota Trowulan dengan pelabuhan terbesar yang terletak di pesisir Surabaya.
Hutan dan ladang pertanian kami lewati silih berganti, jika malam kami harus menginap di rumah warga kadang jika kemalaman di hutan kami harus tidur dengan bivak seadanya.
Sesekali kami menjumpai rombongan para saudagar yang membawa barang dagangan seperti kain sutra, tembikar dan barang-barang dagangan lain yang diangkut dengan pedati, menuju ibukota Trowulan.
Sementara banyak juga hasil pertanian dan rempah-rempah yang diangkut menuju pelabuhan untuk dijual ke negeri seberang.
Karena pada masa ini, Majapahit sebenarnya masih dalam masa keemasan. Sepanjang perjalanan sering aku jumpai warga dengan wajah yang sempringah dan bersinar menandakan era kemakmuran di negeri Majapahit.
***
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di kota terbesar kedua di negeri Majapahit, yaitu Surabaya, kota di pesisir utara dengan pelabuhan terbesarnya, hiruk-pikuk perdagangan yang terkenal hingga ke belahan bumi yang lain.
Kota yang terkenal akan keberaniannya melawan bahaya, dan juga kota bersejarah tentang berdirinya kerajaan Majapahit itu sendiri.
Yaa, di kota inilah dahulu para leluhur Majapahit berperang mempertaruhkan nyawanya mengusir pasukan Tar-Tar dari Mongol yang berhasil dipukul mundur oleh Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan Majapahit.
Bahkan hingga kini hari bersejarah itu ditetapkan sebagai hari jadi kota Surabaya (31 mei 1293).
Pasukan Mongol utusan Kubilai Khan itu yang datang dari laut digambarkan sebagai SURO (ikan hiu/berani) sementara pasukan Raden Wijaya dari darat digambarkan Boyo (buaya/bahaya) yang digabung menjadi Suroboyo atau dengan kata lain mengandung arti berani menghadapi bahaya.
"Inilah Surabaya Sena, kota dengan seribu pesona dan sejarahnya...
Selamat datang di kota kebanggan kita Sena..." ucap Wingsang padaku tepat di pintu gerbang kota Surabaya.
"Yaa, aku sangat senang berada disini Wingsang...
Kita bisa bebas menjelajahi kota ini tanpa dibebankan tugas negara... hhahaha..." ucapku dengan wajah sempringah sambil memacu kuda memasuki kota Surabaya.
"Tapi ingat kawan, ada tugas besar di pundak kita untuk secepatnya mengantar surat wasiat ke negeri Sunda Galuh..." teriak Wingsang sambil memacu kuda mengejar aku.
"Hahahaa, tapi setidaknya kita bisa sekedar santai menikmati perjalanan ini kawan... hia, hia, hiaaa..." ucapku lagi sambi memacu kuda lebih kencang.
Rasanya bisa senang bisa mengilingi dan mengenal lebih dekat dengan kota ini, di sini serasa berada di daerah lain seperti bukan di negeri Majapahit, rumah-rumah dan bangunan disini tak semuanya berbentuk joglo, banyak rumah yang dibangun menyerupai adat dan khas daerah asalnya dari pemiliknya. Karena di kota ini sudah sangat homogen penduduknya, mulai dari kerajaan-kerajaan sekitar bahkan sampai dari benua yang berbeda. Banyak pendatang-pendatang dari India, Arab, China bahkan Madagaskar dan Afrika yang menetap dan membentuk suatu komunitas disini. Namun semua hidup rukun harmoni dan selaras dengan budaya Majapahit.
Di kota ini aku juga merasakan nuansa yang sudah lama aku tak merasakannya lagi, yaa suara adzan yang berkumandang mengingatkanku pada zamanku, dimana Islam sudah menjadi agama mayoritas di nusantara ini. Tapi disini di zaman ini aku mulai merasakan kehadiran ajaran ini sudah mulai mewarnai kehidupan di bumi nusantara.
Yaa Islam dimasa ini sudah mulai berkembang di pesisir dan mulai menyebar ke bagian hulu. Di Surabaya ini nuansa islami sudah mulai kental mewarnai sendi-sendi kehidupan kota.
Hampir 60% penduduk Surabaya beragama Islam. Karena di sini selain penduduk lokal, banyak pendatang dari Arab, China, India yang mayoritas membawa dan mengajarkan agama Islam.
Dan keberadaan ini bukan tidak diketahui oleh petinggi kerajaan, namun memang konsep Majaphit dan leluhur masyarakat Jawa yang pada umumnya lebih terbuka dan menjunjung tinggi sikap toleransi.
****
Setelah berjalan menyusuri keramaian kota, akhirnya aku dan Wingsang sampai di pesisir pantai.
"Aaahh rasanya senang sekali bisa melihat pantai, udara yang semilir ini mendamaikan hati rasanya Wing..." ucapku pada Wingsang sambil menatap ke arah laut lepas dengan rambut panjangku melambai-lambai tertiup angin.
"Yaa, sebagai abdi dalem kita memang jarang ditugaskan keluar ibu kota, jadi pamandangan pantai seperti ini rasanya sangat menyenangkan..." jawab Wingsang sambil menuntun kudanya berjalan ditepi pantai.
"Oh iyaa Wing, ayo kita kesana karena kita sudah cukup lama bersantai-santai disini..." ajakku pada Wingsang sambil menunjuk arah Pelabuhan.
"Baiklah ayo kita kesana..." jawab Wingsang bersemangat.
Dan kami pun kembali memacu kuda menuju dermaga pelabuhan melewati tepian pantai. Nampak juga dari kejauhan para kapal-kapal Besar yang lalu-lalang di laut lepas. Di pelabuhan juga nampak kapal-kapak yang sedang bersandar bongkar-muat barang-barang dagangan.
"Inilah pelabuhan Surabaya Sena... pelabuhan paling ramai senusantara... disinilah pintu gerbang Majapahit dengan dunia luar..." jelas Wingsang dengan wajah berbinar.
"Yaa, dari sinilah Majapahit melebarkan sayapnya hingga seantero Nusantara..." akupun mengiyakan.
Pelabuhan ini sangatlah luas, banyak dermaga dengan kesibukan yang berbeda-beda. Ada dermaga khusus untuk kapal dagang Nusantara, ada dermaga khusus untuk kapal dagang antar benua, ada dermaga untuk angkutan orang yang ingin berlayar, bahkan ada dermaga khusus untuk kapal kerajaan yang siap untuk mengangkut pasukan perang.
"Ayoo Sena kita segera cari kapal yang siap mengantar kita berlayar ke kerajaan Sunda Galuh..." Wingsang mengajakku mencari kapal.
"Tapi tunggu dulu Wing, apa kita harus menempuh jalur laut...???
Apa gak bisa perjalanan ini ditempuh lewat jalur darat saja...???" tanyaku menolak.
"Jalur laut jauh menghemat energi, waktu dan biaya Sena...
Sebagai prajurit, menghemat energi jauh lebih penting dari pada memilih jalur lain yang belum tentu hasilnya dan penuh resiko.. karena dalam perjalaanan ini, kita tidak tau bagaimana sambutan kerajaan Pasundan nanti, apakah mereka bisa menerima kita ataukah perang yang mereka tabuhkan untuk kita...
Jadi dalam hal ini menghemat energi jauh lebih baik..." Wingsang mencoba menjelaskan.
"Tapi coba banyangkan, apa gunanya kakek Sasora memberi kita kuda ini, apa gunanya kakek Sasora memberikan kita keris untuk senjata, apa gunanya kakek memberikan kita uang yang cukup banyak kalo toh kita hanya diam sambil bersantai di dalam kapal...???
Apapun resiko diperjalanan nanti, baik itu rampok, penguasa lokal, bahkan sungai besar tanpa jembatan pun aku siap menghadapi... karena hakekatnya perjalanan ini perjalanan pengembaraan..." aku menjelaskan dengan nada tegas.
"Baik kalau itu maumu Sena, aku sebagai sahabat dan orang yang ditugaskan kakek Sasora untuk mendampingimu, siap untuk selalu ada dalam perjalananmu..." jawab Wingsang sembari menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan ini lewat jalur darat, kita susuri jalan besar ataupun jalan setapak, kita seberangi sungai walau tanpa jembatan, kita hadapi aral yang melintang, kita tunaikan tugas kita hingga di negeri Sunda Galuh...!!!
Percayalah, dari perjalanan ini kita akan menemukan pembelajaran hidup yang lebih berarti...
Rawe rawe rantas, malang malang putung...!!!!" ucapku penuh semangat.
Tak perlu menunggu lama, aku dan sahabatku Wingsanggeni memacu kudanya dengan semangat untuk menelusuri jengkal demi jengkal tanah Jawa menuju negeri Sunda Galuh.
****
Yaa, ini adalah petualnganku, inilah cerita hidupku...
Akan aku isi cerita ini dengan indah dan berarti...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan...
============ BERSAMBUNG ============
Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI
Episode 4 sampai 7 menceritakan tentang sejarah berdirinya kota-kota di Jawa,
Jika ingin melewati sejarah dan kisah perjalanannya silahkan klik langsung ke inti cerita di episode 8 KLIK DISINI
Waktu hari minggu kemarin (28/8) saat menghadiri pesta resepsi pernikahan salah satu team work Batik Binzah, lokasinya ada di daerah Tenjo kabupaten Bogor. Dalam benak saya setelah itu saya mau kemana...???
Setelah tanya kiri-kanan termasuk tanya sama mbah google akhirnya ketemu jawabannya, yaitu tak jauh dari daerah Tenjo terdapat lokasi wisata yang masih cukup baru yang masih ngehits dikalangan para pemburu spot berselfie-selfie ria. Yaa, lokasi tepatnya ada di kampung Cigaru, Desa Cisoka, kecamatan Cisoka, kabupaten Tanggerang.
Oke saya disini tidak mau membahas tentang acara resepsi dari team kami tersebut, tapi ingin mengulas lebih dalam dan lebih mengeksplore Danau yang airnya konon berwarna biru dan kadang bisa berubah-ubah warnanya itu.
Untuk bisa mencapai ke lokasi wisata Telaga Biru Cisoka atau sering disebut Danau Biru Cigaru (karena letaknya di kampung Cigaru), dari Jakarta lebih mudah ditempuh menggunakan angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi, karena jika menggunakan kendaraan pribadi tentunya akan memakan waktu dan energi lebih, selain macet jarak dari Jakarta ke Cisoka akan melewati jalur yang panjang, berbeda dengan menggunakan transportasi kereta api.
Dan sebagai backpacker saya akan membahas transportasi dengan angkutan umum.
Pertama-tama dari Jakarta kita menuju stasiun terdekat untuk membeli tiket KRL dengan tarif Rp 4.000,- jurusan stasiun Tigaraksa, Tanggerang.
Kerena tempat tinggal saya di Kebayoran Lama jadi saya memulai start perjalanan dari stasiun Kebayoran Lama, dari sini perjalanan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan kereta.
![]() |
| Harga tiket KRL hanya Rp 4.000,- |
![]() |
| Sebelum berangkat selfie-selfie dulu. |
![]() |
| Kita turun di stasiun Tigaraksa , Tanggerang. |
Setalah sampai di stasiun Tigaraksa kita bisa istirahat dulu di depan stasiun untuk sekedar bersantai ria sambil mencari informasi atau pun sekedar untuk mengisi perut sambil wisata kuliner, karena di depan stasiun ini banyak terdapat warung makan dan pedagang makanan gerobak.
Setelah itu kita bisa meneruskan perjalanan dengan naik angkot dengan tujuan pertigaan gang SMA N 08 Cisoka.
Untuk menuju pangkalan angkot, dari stasiun kita ke kiri jalan kaki sekitar 300m. Ketemu pertigaan belok kanan dikit, lokasipangkalan angkot tersebut ada di depan Indomaret. Atau tanya pada orang disana tempat dimana angkot itu mangkal.
Setelah naik angkot sekitar 30 menit kita akan sampai di gang SMA N 08 Cisoka, dari sini kita bisa naik ojek atau berjalan kaki (kalau jalan kaki mungkin akan memakan waktu sekitar 20 menit).
Karena waktu itu sopir angkotnya menawarkan diri untuk mengantar masuk sampai di depan gerbang lokasi wisata dan mau menunggu saya untuk mengantar sampai kembali ke stasiun lagi, setelah saya pikir-pikir ulang mengingat saya mengajak anak kecil dan hari menjelang sore (sekitar jam 3 sore) apalagi waktu itu langit agak mendung, jadi tawaran itu saya terima dan deal dengan harga Rp 65.000,- jadi kalo PP kena Rp 130.000,-
Lumayan sar-serlah sama naik ojek biayanya gak beda jauh, apalagi ditunggiun sampai jam 5 sore. Pokoknya serasa kaya' punya sopir pribadi dehh, hahaa...
![]() |
| Jalan kaki dikit biar sehat, didepan sudah keliatan kok tempat wisatanya... |
Sekedar tips, kalau naik ojek atau carter angkot sebaiknya turun sebelum gerbang wisata, karena jika jalan kaki kita tidak dipungut biaya tiket masuk. Karena para penjaga tiket hanya akan meminta restribusi pada para pengendara motor ataupun mobil saja.
Setelah berjalan sekitar 200m dari gerbang, kita akan sampai di Telaga Biru Cigaru. Disini kita akan disuguhi pemandangan danau yang katanya bekas penambangan pasir dengan air yang berwarna biru jernih. Konon katanya air disini bisa berubah-ubah warnanya sesuai keadaan cuaca, kalau pas panas terik airnya akan nampak lebih biru cerah dan terlihat dasar pasirnya yg putih, tapi kalau pas sore atau mendung gini airnya agak biru tua.
![]() |
| Ini dia Danau Biru Cisoka. |
![]() |
| Airnya nampak biru, apalagi kalau pas terik matahari, katanya warnanya akan lebih nyala biru. |
![]() |
| Jangan lupa selfie di Danau Biru. |
Di lokasi wisata ini terdapat dua danau, yang disebelah kanan airnya cenderung biru, namun yang disebelah kiri airnya cenderung kehijau-hijauan dan lebih luas. Walaupun airnya tak sebiru danau disebelahnya namun pemandangan di danau ini lebih asri karena disekitatnya masih ada pepohonan yang cukup lebat.
![]() |
| Ini dia danau disebelahnya, airnya nampak lebih kehijau-hijauan. |
![]() |
| Airnya berwarna hijau jernih, namun kalau terkena matahari katanya akan nampak lebih hijau. |
![]() |
| Jangan lupa selfie di Danau yang Hijau. |
![]() |
| Disini ada patung badaknya juga... Ini bukan iklan produk larutan lhoo... hehhee... |
![]() |
| Suasananya cukup tenang untuk santai. |
Di danau yang hijau ini juga terdapat perahu kecil yang bisa kita sewa untuk mengelilingi danau dengan tarif Rp 20.000,- dan kita akan diatar mengelilingi danau yang cukup luas dengan nahkodanya yang ramah dan siap menceritakan asal-usul tentang danau tersebut.
![]() |
| Disini ada perahunya juga. |
![]() |
| Bisa untuk praweding juga niihh... Ups, karena sudah terlanjur nikah, jadinya foto pascaweding aja dehh... hehhee... |
![]() |
| Jangan lupa selfie dari belakang biar sopir perahunya bisa ikut eksiZz... hehhee... |
Jika review dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran tentang kondisi disana secara real, silahkan tonton video berikut ini:
KESIMPULAN
Kelebihan:
• Telaga Biru Cisoka tergolong tempat wisata alam baru di daerah Tanggerang, jadi masih tergolong ngehits untuk saat ini, dan wajib kita kunjungi.
• Karena masih baru otomatis keadaannya masih cukup bersih.
• Transportasi menuju lokasi cukup mudah ditempuh dengan angkutan umum.
• Jarak tempuh dari ibu kota tergolong masih sangat dekat dan tidak membutuhkan biaya transport yang tinggi.
• Air danau yang sangat jernih dan keadan alam yang masih asri membuat pengunjung akan betah berlama-lama di danau ini untuk sekedar bersantai atau merefres otak.
• Di lokasi wisata banyak terdapat warung-warung kecil sehingga kita tidak perlu kuatir masalah makan atau jajan.
• Tarif masuk yang relatif murah, bahkan gratis jika kita tidak membawa kendaraan pribadi.
Kekurangan:
• Masih minimnya sarana dan prasarana pendukung seperti pembatas tebing, toilet, gardu pandang, tempat sampah dan area parkir yang memadai.
• Belum dikelola secara baik oleh pemerintah jadi terkesan hanya tempat wisata lokal yang dikelola oleh warga setempat.
• Untuk menjaga kejernihan air, disini dilarang mandi dan berenang di danau, jadi wisatawan hanya bisa menikmati pemandangannya saja. Walaupun katanya ada wacana untuk membangun kolam renang dan oemandian disini namun saat ini kita tidak bisa menikmati kejernihan air tersebut untuk berenang.
• Warung-warung kecil yang berjualan disekitar danau belum ditata rapih sehingga terkesan kumuh dan berantakan.
Mungkin ini saja yang bisa saya review tentang perjalanan saya kemarin ke Telaga Biru Cisoka.
Semoga artikel ini bermanfaat dan memberi gambaran tentang keadaan disana buat teman-teman yang ingin bertualang ke Telaga Biru Cisoka.
Selamat bertualang...
Salam lestari dari saya, Ahmad Pajali Binzah.
****************************************
****************************************
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Saat pertama kali mendengar kapal bersubsidi dari pemerintah diresmikan akhir Januari lalu, yaitu KM Sabuk Nusantara 46 (sekarang diganti Sabuk Nusantara 66), dalam bayangan saya pasti kapal ini sangat ramai diminati oleh para wisatawan khususnya warga Jakarta yang ingin berlibur ke Pulau Seribu. Tapi kenyataannya sudah 6 bulan lebih setelah diresmikan kapal ini tetap sepi peminat. Bahkan perjalanan saya kemarin pas hali libur (17/8/16) tetap saja sepi penumpang, jika dihitung kira-kira tak sampai 50 orang, itupun didominasi oleh pengunjung bapak-bapak yang hoby memancing, bukan wisatawan pada umumnya yang ingin snorkling atau bersantai menikmati pemandangan pantai. Padahal kapasitas daya angkutnya cukup besar yaitu mencapai 114 penumpang beserta 100 ton barang, jadi kalau tanpa muatan barang kapal ini bisa membawa sekitar 250 penumpang, (menurut pandangan saya banyak faktor dan beberapa alasan kenapa kapal ini sepi penumpang, nanti saya ulas di akhir tulisan ini).
Oke, saya disini cenderung ingin membahas perjalanan saya ke pulau Harapan yang notabine pulau terjauh yang di tempuh kapal KM Sabuk Nusantara 46.
Yuukk dimulai saja reviewnya...
Pertama-tama kita harus menuju pelabuhan Sunda Kelapa, karena kapal ini bersandar di pelabuhan tersebut. Lokasinya tepat di samping Batavia Marina.
Untuk mencapai lokasi ini kalau naik kendaraan pribadi dari Kota Tua gedung Fatahilah lurus saja ke utara maka akan mentok sampai di gerbang Pelabuhan Sunda Kelapa, lalu masuk kedalam setelah ada perempatan belok ke kanan, atau tanyakan pada orang disana pasti tau.
Kalau naik angkutan umum dari stasiun Kota naik busway turun di depan pelabuhan Sunda Kelapa.
Bagi yang membawa kendaraan pribadi baik mobil atau motor jangan kuatir masalah parkir, karena sekitar 500m sebelum lokasi kapal bersandar ada tempat parkir yg cukup luas dan aman. Yaitu di depan kantor Syah Bandar, tapi untuk tarif parkir lumayan agak mahal yaitu Rp 20.000,- untuk motor dan Rp 50.000,- untuk mobil. Tapi jika berbarengan bisa didiskon mobil+motor kena Rp 50.000,-
![]() |
| Kantor Syah Bandar, dihalaman kantor ini biasanya penumpang KM Sabuk Nusantara 46 memarkir kendaraannya disini. |
![]() |
| Nomor parkir. |
Sebaiknya sebelum naik kapal persiapkan dulu bekal makanan karena di dalam kapal tidak menyediakan makanan, hanya cafetaria yang hanya menyediakan snack dan minuman ringan. Itupun dengan harga 4x lipat dari harga pasaran.
Buat yang lupa bawa makanan jangan kuatir dulu, karena biasanya disekitar kapal ada ibu-ibu yang menjajakan nasi bungkus, gorengan, kopi dll. Biasanya langganan ibu ini adalah penumpang kapal dan para sopir truk dan ABK.
![]() |
| Penjual makanan keliling yang sering mangkal di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Perhatikan spion motornya, bisa sebagai tatakan buat nyeduh kopi. |
![]() |
| Kapal KM Sabuk Nusantara 46 sedang bersandar. |
Untuk masalah tiket, disini tidak ada loket penjualan tiket, jadi sekali datang bisa langsung masuk dan memilih tempat tidur, (karena didalam tidak ada tempat duduk) setelah kapal hendak berangkat barulah ada petugas yang datang menghampiri untuk menjual tiket, persis seperti naik bus Kopaja.
![]() |
| Tiket kapal seharga Rp 15.000,- |
![]() |
| Suasana diatas Kapal. |
![]() |
| Jangan lupa selfie. |
![]() |
| Emaknya pada mabok laut, anaknya tetap asyik bermain. |
Walau harga tiket relatif murah, yaitu Rp 15.000,-perpenumpang tapi untuk fasilitas keselamatan sudah sangat lengkap, baik dari pelapung, perahu darurat, pemadam kebakaran forteble, bahkan fasilitas pendukung sudah sangat nyaman seperti tempat tidur, pendingin ruangan (AC), televisi, cafetaria, toilet, dll.
![]() |
| Cafetaria menyediakan makanan dan minuman ringan. |
![]() |
| Dari kiri: toilet, pemadam porteble, lemari pelampung dan tempat tidur. |
![]() |
| Peraturan dan tata tertib. |
![]() |
| Suasana di dalam kapal, tidak ada tempat duduk tapi disediakan tempat tidur yang lebih nyaman. |
![]() |
| Jangan lupa tidur. |
untuk kecepatan kapal ini memang tergolong lambat, untuk mencapai pulau Harapan membutuhkan waktu hampir 5 jam perjalanan. (waktu tempuh tidak ada patokan tergantung cuaca, karena saat perjalanan pulang kemarin cuma sekitar 4 jam perjalanan). Tetapi kita bosan, kita bisa keluar ruangan untuk menikmati pemandangan, karena sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan gugusan pulau-pulau yang indah dengan hamparan laut yang jernih.
![]() |
| Pemandangan dari jendela. |
![]() |
| Pulau-pulau di sepanjang perjalanan. |
![]() |
| Hamparan laut yang jernih dan dangkal. |
![]() |
| Salah satu pulau disekitar pulau Kelapa. |
Menurut rencana dan jadwal semestinya kapal ini berlabuh di pulau Untung Jawa, pulau Tidung, pulau Pramuka dan pulau Kelapa. Tapi karena beberapa alasan, kapal ini hanya berlabuh di pulau Pramuka dan pulau Kelapa. Karena hanya ada dua pilihan akhirnya saya putuskan turun di pulau Kepala, walaupun rencananya saya ingin ke pulau Tidung.
Setelah perjalanan hampir 5 jam, kita akan sampai di pulau Kelapa, saat kapal bersandar kita akan disuguhi pemandangan yang sangat menyenangkan, yaitu dermaga sederhana yang berada tepat di depan kantor kecamatan, saat melihat kebawah airnya pun sangat jernih hingga terlihat dasarnya, sangat berbeda jauh dengan laut di Jakarta.
![]() |
| Pemandangan saat pertama kali turun di dermaga pulau Kelapa. |
![]() |
| Saat kita turun dari kapal, mata kita akan dimanjakan dengan hamparan air laut yang jernih yang dipenuhi ribuan ikan, jika dizoom air ini akan terlihat banyak ikan kecil. |
![]() |
| Jika dizoom, foto ini juga berisi ribuan ikan kecil yang berenang di air yang jernih. |
Dari dermaga perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju pulau Kelapa, karena dermaga dan pulau Kelapa dulunya pulau terpisah, yang kedua pulau itu dihubungkan dengan jalan beton sepanjang sekitar 700m.
Setelah berjalan sekitar 5 menit kita akan sampai di pulau Kelapa disini juga terdapat pertigaan, jika ke kiri kita akan memasuki pusat keramaian pulau Kelapa, jika ke kanan kita akan menuju ke pulau Harapan.
Pulau kelapa dan pulau Harapan ini juga dahulunya adalah pulau yang terpisah yang dibangun jalan untuk mempermudah moda transportasi kedua pulau tersebut.
![]() |
| Jalan yang menghubungkan dermaga dan pulau Kelapa, jalan ini disebut jalan kecamatan karena di dermaga terdapat kantor kecamatan. |
![]() |
| Jalan menuju pulau Harapan. |
Di Pulau Harapan tidak banyak lokasi wisata untuk bisa kita nikmati, karena di pulau ini sudah sangat padat oleh rumah-rumah penduduk hingga tak menyisakan ruang terbuka sedikitpun.
Tapi biasanya para wisatawan di pulau Harapan ini hanya transit untuk menyewa homestay, dan wisata sesungguhnya yaitu pulau-pulau disekitarnya.
Tapi untuk sekedar menikmati pantai, di sini juga sudah sangat menyenangkan, selain air nya sangat jernih jika sore atau malam suasanya cukup nyaman untuk jalan-jalan santai. Disini juga tersedia warung makan dan toko kelontong.
![]() |
| Dermaga di pulau Harapan, karena pulau Harapan punya dermaga sendiri yang lebih kecil. |
![]() |
| Di dermaga pulau Harapan ini memang tidak dilalui kapal besar seperti KM Sabuk Nusantara 46 tapi lalu lintas kapal kecil dan perahu nelayan dan wisatawan sangat ramai. |
![]() |
| Menikmati suasana di pantai dengan pemandangan pulau-pulau kecil. |
![]() |
| Jangan lupa selfie. |
![]() |
| Selfie lagiii... |
![]() |
| Selfie boongan, tanpa kamera, hahaa... |
![]() |
| Menikmati sunset dulu... |
![]() |
| Sunset yang berkesan. |
![]() |
| Malamnya pun tetap asyik untuk santai. |
![]() |
| Jangan lupa selfie. |
![]() |
| Istri saya ikut-ikutan selfie, hahaa... |
![]() |
| Gak mau kalah, selfie lagii... haha... |
![]() |
| Di pulau Harapan banyak warung makan, tapi paling enak disini. Rumah Makan pulau Harapan, lokasinya tepat di jalan utama depan dermaga. |
![]() |
| Menunya juga lengkap, dan rasanya pun sadaaappp... |
Jika review dan foto-foto diatas kurang bisa memberi gambaran tentang kondisi keadaan disana secara real silahkan tonton video berikut ini:
Tips dan info tambahan:
• kapal berangkat jam 8 pagi, usahakan satu jam sebelumnya sudah stanby di pelabuhan. Tapi jangan terlalu terburu-buru takut tidak kebagian tiket karena kapal ini jarang full capasity.
Dan menurut pengalaman saya dalam perjalanan kemaren 17/8/16 yang notabine hari libur tanggal merah, kapal tetap sepi dan hanya diisi tak lebih dari 50 penumpang.
• usahakan bawa bekal dari rumah karena di dalam kapal harga makanan dan minumannya sangat mahal.
• bagi yang suka mabuk perjalanan sebaiknya persiapkan obat anti mabuk karena kapal berjalan agak lambat dan bergoyang. Yang memungkinkan penumpang mabuk laut.
• kapal hanya berlabuh di pulau Pramuka dan pulau Kelapa, jadi pertimbangkan dua pilihan tersebut dan jangan berharap bisa melancong ke pulau Tidung atau pulau Pari, nanti bisa kecewa berat. Hahaa...
• untuk jadwal keberangkatan pada hari sabtu, senin, rabo. Sementara jadwal pulang ke Jakarta dari Kepulauan Seribu pada hari minggu, selasa dan kamis, sementara hari jum'at kapal off.
Jadi jika berangkat hari sabtu pulangnya minggu, jika berangkat hari senin pulangnya selasa, jika berangkat hari rabo pulangnya kamis. Semua keberangkatan baik dari Jakarta maupun dari Kepulauan Seribu tepat pukul 08.00wib.
• di pulau Kelapa banyak homestay milik warga setempat dengan harga sewa antara 200-300 ribu permalam, jadi jangan takut kehabisan, karena jumlahnya sangat banyak.
Untuk pengalaman saya kemaren saya menginap di homestay-nya ibu Ida, (nama suaminya) bapak Doyok, Rt 6/Rw 01 no 36 lokasinya yang lumayan nyaman dekat dengan gapura dan rumahnya hanya satu kamar dengan tarif Rp 200.000,- sudah AC, jadi kita tanpa risih karena tidak ada pengunjung lain di homestay ini (satu rumah satu kamar).
Tapi jika rombongan disana banyak homestay yang didalamnya ada 2 kamar (satu rumah dua kamar). Yang biasanya dipatok tarif Rp 300.000,-
• biasanya setiap homestay menawarkan jasa perahu untuk snorkling atau keliling ke pulau-pulau dengan biaya Rp 350.000/perahu.
*****
Masalah KM Sabuk Nusantara 46 jangan kuatir kehabisan tiket, karena menurut info kapal ini jarang terisi penuh oleh penumpang.
Menurut pandangan saya ada beberapa faktor yang membuat kapal ini sepi penumpang:
• kapal tidak berlabuh di pulau Tidung, sementara pulau Tidung adalah pulau yang paling favorit bagi wisatawan. Jadi disini pepatah lama berlaku, semurah apapun produk jika tidak dibutuhkan konsumen maka produk itu tidak akan laku dipasaran, sama halnya dengan kapal ini, walaupun pemerintah sudah mensubsidi 5,9M sehingga tatifnya hanya 15ribu, dengan tujuan untuk meningkatkan industri pariwisata di Pulau Seribu tapi jika jasanya tidak dibutuhkan wisatawan maka jarang wisatawan yang tertarik dan menggunakan jasa tersebut.
• kurangnya informasi kepada masyarakat khususnya warga Jakarta, sehingga sebagian besar masih ragu untuk berwisata dengan kapal tersebut.
• lokasi bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa yang notabine pelabuhan angkutan barang (CARGO) sehingga jarang diketahui calon penumpang.
• kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, seperti area parkir, loket pembelian tiket dan dermaga yang nyaman. Sehingga menjadikan nilai minus bagi kapal tersebut.
• banyaknya kapal penyeberangan lain yang menyediakan jasa yang sama, yaitu penyeberangan ke kepulauan seribu, dan mereka memberikan banyak keunggulan yang di tawarkan.
• jarangnya backpacker mania, atau lebih tepatnya wisatawan lebih suka menggunakan jasa agen perjalanan yang sudah dikemas perpaket, dan sebagian besar agen tersebut lebih suka menggunakan kapal ferri atau speedboad yang lebih cepat waktu tempuhnya.
Hal-hal itulah yang kemungkinan besar membuat kapal KM Sabuk Nusantara 46 sampai saat ini tetap sepi penumpang.
Mungkin ini saja review saya tentang perjalanan ke Pulau Seribu dengan KM Sabuk Nusantara 46, semoga bermanfaat dan selamat bertualang...
*****
Revisi karena ada perubahan:
Rabu (24/5) jajaran Kementerian Perhubungan, Pemprov DKI Jakarta serta PT. Pelni (Persero) melakukan Press Confrence Launching KM. Sabuk Nusantara (Sanus 66) rute Sunda Kelapa- Pulau Untung Jawa-Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa Kabupaten Kepulauan Seribu untuk mendukung Angkutan Lebaran 1438 H, tahun 2017.
PT. Pelni (Persero) diberi kepercayaan pemerintah dengan penugasan untuk mengoperasikan KM. Sanus 66 yang merupakan pengganti KM. Sanus 46 yang telah dioperasikan pada 28 Januari 2016 lalu. KM. Sanus 66 merupakan satu dari 46 kapal perintis di seluruh Nusantara yang pengoperasianya ditugaskan kepada PT. Pelni (Persero).
Berbeda dengan KM. Sanus 46 yang beroperasi dua hari sekali, KM. Sanus 66 akan beroperasi setiap hari dengan tarif Rp 15.000,- sudah termasuk asuransi. KM. Sanus 66 akan berangkat pada pukul 08.00 dari Pelabuhan Sunda Kelapa ke Pulau Untung Jawa-Pulau Pramuka-Pulau Kelapa dan Kembali ke Jakarta pukul 16.00 secara reguler atau berjalan setiap hari.
****************************************
****************************************
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung



































































