Meme tentang motivasi
Meme tentang motivasi wirausaha
Meme tentang Cinta
Meme tentang hari ibu
Meme tentang galau
Meme tentang pernikahan
Meme tentang do'a
Mme cerita pendek (cerpen)
Meme tentang hujan
Meme wayang dan pepatah Jawa
Meme lucu
Semua meme diatas adalah hasil karya saya sendiri, jika ada yang suka silahkan di copas (download)
Terimakasih...
=================================
Ahmad Pajali Binzah
April 22, 2015
New Google SEO
Bandung, IndonesiaMeme tentang motivasi wirausaha
Meme tentang Cinta
Meme tentang hari ibu
Meme tentang galau
Meme tentang pernikahan
Meme tentang do'a
Mme cerita pendek (cerpen)
Meme tentang hujan
Meme wayang dan pepatah Jawa
Meme lucu
Semua meme diatas adalah hasil karya saya sendiri, jika ada yang suka silahkan di copas (download)
Terimakasih...
=================================
Baca juga cerpen tentang petualangan:
Gunung Cikuray adalah salah satu gunung yang berada di daerah Garut, Jawa Barat. Gunung yang mudah diakses terutama dari ibu kota Jakarta karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, tapi walaupun tidak terlalu jauh untuk mencapai gunung ini akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit jika dibanding dengan mendaki gunung Gede-Pangrango, gunung Salak, gunung Halimun, bahkan ke gunung Ciremai.
Hal itu dikarenakan tidak ada angkutan umum yang bisa mengantar kita sampai di titik awal pendakian, kita harus mencarter mobil atau menggunakan jasa ojek yang tentunya membuat biaya perjalanan makin tinggi dibanding kalau ada trayek angkutan umum. Berbeda dengan gunung gede yang terdapat trayek angkutan umum sampai di Cibodas, sebagai titik awal pendakian gunung Gede dan Pangrango.
Untuk mencapai kota Garut dari Jakarta biasanya via terminal Kampung Rambutan atau via Lebak Bulus dengan jurusan terminal Guntur, Garut.
Dengan tarif Rp 52.000,- (bulan April 2015). Dan untuk yang berangkat lebih dari jam 11 malam sebaiknya menggunakan bus dari terminal Kampung Rambutan. Karena saat kami berangkat via Kampung Rambutan hampir jam 00.30 dini hari suasana disana masih sangat ramai.
(Untuk temen-temen dari daerah lain silahkan mencari informasi lagi tentang tranportasi menuju ke terminal Guntur)
Dari terminal Guntur biasanya perjalanan dilanjutkan dengan angkot 06 menuju Cilawu, dapat turun di Sukamulya atau Cigarungsang, lalu dapat dilanjutkan dengan jasa ojek untuk menuju Stasiun pemancar Rp.35.000/orang. Tapi berhubung perjalanan kami tepat saat long weekend (3-5 april) jadi diterminal Guntur sudah banyak berjejer mobil bak dan angkot dengan tujuan langsung ke pemancar, tarifnya pun sudah dipatok Rp 45.000/orang, karena saat itu memang banyak sekali pendaki yang baru tiba di terminal Guntur dengan tujuan rata-rata gunung Cikuray dan Papandayan. Jadi secara otomatis gak ada acara tawar menawar lagi masalah tarif, jika tidak mau mobil akan segera dipenuhi oleh pendaki lain. Dan juga jika dibandingkan naik angkot 06 dan dilanjut naik ojek biayanya pun akan beda tipis. Jadi mau tidak mau naik mobil carter inilah satu-satunya pilihan terbaik.
Perjalanan dari terminal Guntur ke stasiun pemancar memakan waktu kurang lebih 1 jam 10 menit. Stasiun pemancar ini adalah sebuah lokasi ditengah-tengah perkebunan teh yang berdiri menara-menara pemancar dari berbagai stasiun televisi, karena disini mungkin dianggap letaknya yang sangat strategis.
Tapi di tengah perjalanan menuju pemancar saat memasuki perkebunan teh kita akan bertemu pos perkebunan, di situ kita di suruh mengisi buku tamu dan dikenakan biaya Rp. 10.000/orang.
![]() |
| Tiket masuk perkebunan teh dan area hutan |
Dengan biaya Rp 10.000,- sebagai restribusi suatu pendakian gunung memang tergolong standar, tapi kalau dilihat dari fasilitas yang ada terasa sangat memberatkan, karena biasanya dengan membayar biaya restribusi para pendaki akan mendapatkan fasilitas yang dibutuhkan, seperti basecamp yang luas dan nyaman untuk beristirahat ataupun tidur, fasilitas kamar mandi dan toilet gratis, persediaan air bersih, fasilitas listrik untuk charger hape, DLL. Tapi di pendakian gunung Cikuray ini tidak terdapat basecamp yang memadai itupun setelah pendataan para pendaki disuruh mengisi kotak seikhlasnya.
(Maaf ini hanya sebagai referensi dan perbandingan)
![]() |
| Mobil carter yg baru sampai di pos pemancar, nampak background lereng gunung cikuray yg tertutup kabut, dan para pendaki yg sedang memulai pendakian |
Setelah sampai di stasiun pemancar, kita bisa istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan perkebuanan teh yang cukup indah dan sejuk. Disini juga kita bisa mengambil persediaan air karena sepanjang jalur pendakian nanti tidak terdapat mata air. Disini juga tersedia toilet umum tapi saat kita masuk mau sekedar mengambil air bersih atau ke kamar mandi kita dikenakan biaya Rp 3.000,- tarif yang lumayan tinggi jika dibanding dengan pendakian ke gunung lain yang untuk mengambil air biasanya gratis tisss...
Tapi menurut informasi, jika pendaki tiba di pemancar pada malam hari, pintu menuju pengambilan air atau toilet tidak ada penjaganya.
![]() |
| Titik start pendakian, posisi disamping stasiun pemancar |
![]() |
| Berjalan mendaki meninggalkan pemancar |
| Cecklis ulang di puncak bukit teh, nampak stasiun pemancar |
Setelah dari pos ini perjalanan dilanjutkan menanjak mengikuti punggungan, kondisi jalan gersang, jika musim penghujan akan licin dan jika kemarau mungkin akan sangat berdebu. Tapi dari sini pemandangan sangat jelas, di atas akan terlihat punggungan yang mengarah ke puncak dan dibawah nampak perkebunan teh yang hijau dan di tengahnya terdapat stasiun pemancar.
Dari batas kebun teh ke pintu rimba memakan waktu sekitar 15 menit.
![]() |
| Jalur dari pemancar setelah melewati kebun teh menuju pintu rimba |
Perjalanan dari pemancar ke pos 1 memakan waktu sekitar 50 menit, dan dari pos 1 ke pos 2 memakan waktu kurang lebih satu jam. Di pos 2 terdapat selter yang muat sekitar 3 tenda. Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 kita akan menghadapi medan yang makin curam dan sempit, karena jalurnya diatas punggungan tipis.
![]() |
| Pos 2, biasanya pos ini digunakan hanya sebagai tempat istirahat sejenak, karena masih terlalu jauh dari puncak, jadi jarang yang mendirikan tenda disini. |
Rata-rata jalur pendakian ke puncak medannya sangat curam, bahkan saking terjalnya jalur, untuk mencari tempat untuk istirahat dan tidur sejenak saja sangat susah, tapi alhamdulillah kami nenemukan tempat yg bisa untuk menggelar jas hujan sebagai alas tidur dan meluruskan kaki.
![]() |
| Istirahat sambil menikmati pemandangan punggungan disebelah kanan jalur, disana hutannya pun masih sangat lebat dan alami |
Setelah tidur kurang lebih 40 menit perjalanan dilanjutkan menuju pos 3, dari pos 2 ke pos 3 memakan waktu 1 jam 30 menit. (Diluar acara tidur siang)
![]() |
| Dari pos 3 kami mulai diguyur hujan |
![]() |
| Hujan membuat jalur jadi becek dan semakin licin |
![]() |
| Mungkin karena keadaan lembab dan becek, ditengah perjalanan kami juga menemukan cacing tanah yang panjangnya hampir satu meter |
Dari pos 3 perjalanan dilanjutkan mendaki ke pos 4 dengan medan yang masih curam tapi masih ada beberapa titik yang landai, perjalanan sampai pos 4 memakan waktu sekitar 35 menit.
Dari Pos 4 Perjalanan dilanjutkan terus mendaki menuju Pos 5 membutuhkan waktu sekitar 40 menit dengan kemiringan yang lebih terjal seperti Pos 3 menuju Pos 4,
![]() |
| Walau hujan tetep narsis dulu di pos 5 |
Dari pos 5 ke dilanjutkan ke pos 6 dengan jarak yang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 40 menit kita akan sampai di pos 6. Dari pos ini kita dapat melihat lereng ke puncak dengan jelas dengan hutan yang masih sangat menutup lebat.
![]() |
| Sekitar pos 6 hujan mulai reda tapi suasana masih diselimuti kabut |
Dari pos 6 ke perjalanan dilanjutkan tetap menyusuri jalur punggungan yang sama, dengan medan yang terus menanjak, bahkan kita harus berpegangan akar-akar pepohonan. Perjalanan ke pos 7 memakan waktu sekitar 35 menit.
tapi karena perjalan dari pos 3 ke pos 7 ini kami selalu diguyur hujan dan jalur menjadi sangat licin, perjalanan menjadi sangat lambat. Mungkin jika jalur normal waktu tempuh perjalanan estimasinya akan lebih cepat.
![]() |
| Pos 7, tidak ada shelter untuk tenda hanya ditandai pohon dengan plang bertuliskan pos 7 |
Di pos 7 ini tidak ada shelter sama sekali hanya pohon besar yang di tempel plang bertuliskan pos 7. Untuk membuka tenda kita harus melanjutkan perjalanan lagi sekitar 10 menit menanjak, mungkin juga ini yang disebut pos bayangan. Disini terdapat selter yang cukup luas yang bisa menampung sampai belasan tenda. Dan disepanjang jalur ke puncak juga terdapat shelter-shelter kecil yg juga bisa mendirikan tenda, bahkan di puncak juga bisa untuk mendirikan tenda.
| Di atas pos 7 justru banyak lokasi untuk mendirikan tenda, disini juga masih banyak pohon besar sebagai pelindung dari terpaan angin |
Dan disini pula tempat paling strategis untuk bertenda karena hanya dibutuhkan waktu sekitar 5 menit ke puncak.
Bahkan dari shelter ini ke puncak terdapat shelter-shelter kecil yang bisa untuk mendirikan satu sampai dua tenda.
Dan kami memutuskan mendirikan tenda di area yang tidak jauh dari puncak tapi di area yang masih terdapat banyak pohon-pohon besar, agar terhindar dari terpaan angin yang dingin.
| Memasak di depan tenda |
Alhamdulilah tempat kami mendirikan tenda sangat strategis, selain aman dari angin dan terik matahari, juga sangat dekat dengan puncak mungkin hanya butuh beberapa langkah mendaki kurang lebih 3 menit sampai puncak.
Jika dihitung total, perjalan dari pos pemancar dimulai pukul 08.50wib dan tiba di tempat kami mendirikan tenda, pukul 17.30wib semua memakan waktu sekitar 8 jam 40 menit, tapi dari total waktu tersebut kami dijalan sempat tidur 40 menit, dijalur kami juga sempat memasak mie instan, dan di setiap pos kami pasti istirahat minimal 10 menit, seusai tanjakan tajam kami juga pasti istirahat (maklum pendaki manula :D) Apalagi di sepanjang perjalanan dari pos 3 selalu diguyur hujan yang menjadikan perjalanan makin lambat.
Jadi bisa dikira-kira sendiri estimasi waktunya jika hendak mendaki ke gunung Cikuray.
Setelah hari mulai gelap tenda kami telah berdiri dan menu makanan telah selesai dimasak. Setelah mengisi perut dan ngobrol-ngobrol santai dan dilanjutkan istirahat.
Setelah pukul 05.10wib alarm berbunyi dan kamipun bergegas menuju puncak untuk mengejar sunrise. Tapi kami kurang beruntung karena pagi itu cuaca masih mendung. Dan dipuncak telah dipenuhi puluhan pendaki yang juga menantikan saat-saat sunrise.
Tapi alhamdulillah pagi itu walau tak terlihat sunrise pemandangan masih cukup cerah untuk sekedar berfoto-foto ria.
![]() |
| Pemandangan dari puncak Cikuray, dengan background gunung Galunggung yang diselimuti kabut tipis |
![]() |
| Bendera Batik Binzah berkibar di puncak gunung Cikuray 2821mdpl. |
![]() |
| Menjelang siang nampak lautan awan membentang sejauh mata memandang |
Di puncak pemandangan sungguh sangat menakjubkan, setelah berjibaku dengan jalur yang terjal dan sangat melelahkan, apalagi sepanjang jalan pandangan tertutup rimbunnya hutan, membuat kita surprise saat tiba di Puncak, seperti halnya seseorang yang ditutup kedua matanya sekian lama dan tiba-tiba setelah dibuka dihadapannya telah terpampang lukisan yang sangat indah...
Hati akan berdecak kagum, "Subhanallah.... Sungguh luar biasa...!!!"
Di puncak kita disuguhkan pemandangan dengan deretan pegunungan yg sangat indah yang diselimuti kabut tipis, diantaranya gunung Papandayan disebelah barat, gunung Guntur di sebelah utara, dan deretan gunung galunggung dan pegunungan Telaga Bodas disebelah timur laut.
Dari puncak juga terlihat sangat jelas kepadatan kota Garut, jika malam hari akan nampak kerlap-kerlip lampu-lampu kota.
![]() |
| Pemandangan kota Garut menjelang sunrise |
![]() |
| Saya, dengan background gunung Papandayan |
![]() |
| Gunung Galunggung dari sudut pandang yang berbeda |
![]() |
| Gunung Guntur nampak dari kejauhan |
Tepat di puncak Cikuray terdapat bangunan permanen. Yang mungkin difungsikan sebagai tempat berteduh bagi para pendaki yang tidak membawa tenda. Bangunan itu sangat kokoh dengan ukuran kurang lebih 3x3 meter, dengan atap beton sehingga banyak pendaki yang nekat memanjat ke atapnya.
| Bangunan dipuncak Cikuray, nampak dari bawah |
![]() |
| Bangunan di puncak Cikuray, banyak pendaki yang nekat memanjat atap. Padahal itu dilarang dan sangat membahayakan diri sendiri serta orang lain |
![]() |
| Para pendaki di atap bangunan nampak siluet |
Tapi saat melihat bangunan tersebut saya sendiri sangat heran, gak biasanya ada bangunan tepat dipuncak gunung. Yang membuat seakan menjadi canggung dan mengganggu pemandangan. Sangat mengurangi keeksotisan sebuah puncak gunung, karena biasanya puncak gunung ditandai dengan tugu atau sekedar gundukan batu atau plang/plat bertuliskan "puncak".
Dan karena bangunan tersebut suasana puncaknya menjadi pudar alias kurang greget.
Saat kami sampai di puncak Cikuray suasanya jadi tak seperti dipuncak gunung pada umumnya, para pendaki banyak yang naik ke atap bangunan tersebut.
Untuk view pun jadi terhalang dan kurang luas sudut pandangnya.
Tapi apapun itu, tujuan pembanguan gedung itu tentu baik, yaitu untuk berlindung para pendaki dari udara dingin di puncak. Dan saya sendiri sempat memanfaatkan bangunan tersebut saat mendadak turun hujan.
Tapi sekali lagi yang terbesit dalam benak saya adalah alangkah baiknya jika banguan tersebut tidak didirikan tepat dipuncak Cikuray minimal kebawah dikitlah... heheheee... :D
Oiya untuk perjalanan turun dibutuhkan waktu sekitar 4 jam perjalanan. Dan dibutuhkan kewaspadaan yang ekstra karena perjalanan turun akan lebih sulit dan menyita konsentrasi.
====================================
Kesimpulan pendakian gunung Cikuray:
* keadaan hutan yang masih alami dan terjaga, dari awal pendakian (batas pintu rimba) sampai ke puncak Cikuray, hutan masih sangat lebat dan jarang sinar matahari menembus ke bawah. Jadi tidak perlu membawa sunblock atau lotion penangkal sinar ultraviolet. Tapi jangan sekali-kali merusak hutan dengan membuat jalur baru.
* biaya perjalanan yang lebih besar dari pada ke gunung lain dengan estimasi jarak yang sama. Karena tidak ada angkutan umum yang menuju ke titik awal pendakian (harus carter mobil atau ojek) dan juga adanya biaya tambahan seperti uang masuk kamar mandi di pemancar, pungutan seikhlasnya di basecamp dan tiket masuk yang relatif mahal. Jadi harus persiapkan uang saku yang lebih.
* medan pendakian yang curam dan terjal sangat menguras energi, dibutuhkan persiapan fisik yang cukup. Dan jangan lupa memakai sepatu trecking.
* sampah yang berserakan dimana-mana dan anehnya banyak pendaki yang memasukan air urinnya kedalam botol, entah itu mitos dilarang kencing sembarangan atau males keluar tenda atau memang banyak pendaki yang jorok. Sehingga banyak botol-botol berisi air kencing berserakan dimana-mana. Ini sangat aneh dan sangat mengganggu, karena air itu sampai kapanpun tidak akan meresap atau teruraikan. Dan para team bersih gunung pun pasti akan enggan untuk memungut botol tersebut.
Dan terpaksa saya dan teman-teman berinisiatif untuk menumpahkan isi-isi botol tersebut.
Jadi bagi pendaki yang ingin kencing, kencinglah sewajarnya jangan mengotori hutan dengan botol-botol kalian. Dan untuk semua pendaki diharap membawa kantong sampah untuk membawa turun kembali sampah non organiknya.
* jalur pendakian yang cukup jelas dan satu punggungan, jadi untuk mendaki dihari-hari sepi pun jangan kuatir tersesat. Asal selalu mengikuti jalur yang sudah ada. Jangan menerobos hutan untuk potong jalur.
* tidak ada sumber mata air di sepanjang jalur pendakian, jadi para pendaki harus membawa air sepenuhnya dari stasiun pemancar. Minimal 8 liter/orang atau kalau musim penghujan bawa payung atau plastik bersih untuk menampung air hujan.
* untuk suhu masih tergolong tidak terlalu dingin karena hutannya yang masih rapat jika dibanding gunun-gunung lain yang lebih tinggi dan gersang. Tapi tetap kita harus membawa jaket tebal dan sleeping bag.
* untuk tempat paling strategis mendirikan tenda adalah dari pos 7 sampai puncak, tapi sebisa mungkin hindari mendirikan tenda di puncak, karena selain udaranya yang sangat dingin dan kalo siangpun akan terpapar sinar matahari, juga sangat mengganggu pendaki lain yang hendak berfoto-foto, melakukan selebrasi atau sekedar berkeliling menikmati suasana puncak gunung.
Sekian dulu ulasan kami tentang pendakian gunung Cikuray, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya para pendaki gunung.
Jadilah pendaki yang santun, beretika dan peduli...!!!
Salam rimba, salam lestari....!!!
Saya Ahmad Pajali Binzah
=====================================
=====================================
BACA JUGA:
Info Lengkap Curug Blanten, Pekalongan.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
Info Lengkap Curug Lawe, Petungkriyono.
Info Lengkap Kedung Sipingit, Petungkriyono.
*****
Checklis Perlengkapan Mendaki Gunung
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Lawu
Pendakian Gunung Lembu
Pendakian Gunung Cikuray
Pendakian gunung Merbabu
Pendakian Gunung Papandayan
Pendakian Gunung Batu, Jonggol.
Pendakian Gunung Semeru via Watu Rejeng turun via Eyek-Eyek
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Situmbal
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pohon Terakhir
[Cerpen] Edelweis di Pos 3
[Cerpen] Aku Pendaki Kartini
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Kisah Cinta Sang Serdadu
[Cerpen] Pendakian Gunung Keramat
[Cerpen] Bunga Edelweis Untuk Pristy
[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit
[Cerpen] Badai Senja di Lereng Merapi
[Cerpen] Tentang Cinta Yang Bertentangan
[Cerpen] Karena Batu Akik Aku Jadi Playboy
[Cerpen] Jangan Rebut Aku Dari Istriku
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu
[Cerpen] Aku Tinggalkan Kekasihku Mati di Gunung
Perlengkapan kelompok
* Tenda
* peralatan masak
- nesting/trangia
- kompor lapangan +bahan bakar
- korek api
- pisau dapur
- piring, gelas, sendok
* parang
* tali rafia
* tisue basah/kering
* lilin
* terpal/flesit
* camera
* dirigen/botol air
* tresbag/plastik sampah besar
Perlengkapan pribadi
* pakaian tidur
- matras
- sleeping bag
- jaket tebal
- baju hangat
- celana panjang
- kupluk
- sarung tangan hangat
- kaos kaki
* pakaian treking
- sepatu & sandal gunung
- kaos lengan panjang
- celana panjang/pendek
- kacamata hitam
- topi lapangan
- masker
- sarung tangan
- gesper
* raincoat/jas hujan
* senter + batu batre cadangan
* daypack/ceril
* dompet +identitas diri +uang cash
* handpone +charger +powerbank
* kertas catatan +polpen
Logistik
* beras
* mie instan
* roti tawar/isi
* telor
* minyak goreng
* bumbu instan (kecap, saus dll)
* bumbu dapur
* abon
* krecek/krupuk
* sayuran segar
* buah-buahan
* susu
* coklat
* agar-agar
* teh, kopi, gula
* kacang hijau
* gula merah
* jahe
* kurma
* snack
P3K
* obat merah/betadine
* plaster +kain kasa/perban
* kapas
* multivitamin
* obat mag
* obat pusing
* obat diare
* obat masuk angin
* balsem
* minyak angin
* sunblock/loution handbody
* obat-obatan pribadi
Demikianlah perbekalan yang sering saya gunakan sebagai patokan checklist sebelum melakuakan perjalanan terutama pendakian gunung. Dan semua checklist diatas sifatnya tidak mengikat alias bisa disesuaikan dengan selera, kebutuhan dan kondisi.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Terimakasih.
By: Ahmad Pajali Binzah
====================================
Ahmad Pajali Binzah
March 21, 2015
New Google SEO
Bandung, Indonesia* Tenda
* peralatan masak
- nesting/trangia
- kompor lapangan +bahan bakar
- korek api
- pisau dapur
- piring, gelas, sendok
* parang
* tali rafia
* tisue basah/kering
* lilin
* terpal/flesit
* camera
* dirigen/botol air
* tresbag/plastik sampah besar
Perlengkapan pribadi
* pakaian tidur
- matras
- sleeping bag
- jaket tebal
- baju hangat
- celana panjang
- kupluk
- sarung tangan hangat
- kaos kaki
* pakaian treking
- sepatu & sandal gunung
- kaos lengan panjang
- celana panjang/pendek
- kacamata hitam
- topi lapangan
- masker
- sarung tangan
- gesper
* raincoat/jas hujan
* senter + batu batre cadangan
* daypack/ceril
* dompet +identitas diri +uang cash
* handpone +charger +powerbank
* kertas catatan +polpen
Logistik
* beras
* mie instan
* roti tawar/isi
* telor
* minyak goreng
* bumbu instan (kecap, saus dll)
* bumbu dapur
* abon
* krecek/krupuk
* sayuran segar
* buah-buahan
* susu
* coklat
* agar-agar
* teh, kopi, gula
* kacang hijau
* gula merah
* jahe
* kurma
* snack
P3K
* obat merah/betadine
* plaster +kain kasa/perban
* kapas
* multivitamin
* obat mag
* obat pusing
* obat diare
* obat masuk angin
* balsem
* minyak angin
* sunblock/loution handbody
* obat-obatan pribadi
Demikianlah perbekalan yang sering saya gunakan sebagai patokan checklist sebelum melakuakan perjalanan terutama pendakian gunung. Dan semua checklist diatas sifatnya tidak mengikat alias bisa disesuaikan dengan selera, kebutuhan dan kondisi.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
Terimakasih.
By: Ahmad Pajali Binzah
====================================
Baca juga cerpen tentang petualangan:
[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pendakian Terindah
[Cerpen] Aku Hanya Pendaki Gunung Lawu[Cerpen] Istri Muda
[Cerpen] Aku Benci Ibu
[Cerpen] Pendakian Terindah
Mendaki gunung adalah kegiatan yang akhir-akhir ini menjadi favorit untuk mengisi waktu libur. Tidak hanya digemari oleh anak muda tetapi juga para orang tua, remaja bahkan anak-anak siswa sekolah dasar.
Tapi sayangnya hal yang mulai populer dan mulai banyak peminat tersebut tidak diimbangi dengan pemahaman minimal tentang hal yang kurang atau tidak layak dilakukan saat mendaki atau saat sedang berkemah.
Untuk itu, sebagai insan yang mencintai lingkungan sudah seharusnya kita menjaga kelestariannya, dengan tetap menjaga etika-etika yang baik saat mendaki ataupun sekedar berkemah.
Berikut seharusnya etika seorang pendaki gunung:
1. Melapor/izin kepada pihak terkait sebelum mendaki
Hal ini untuk sekedar mencatatkan identitas diri dan juga mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk jika terjadi di hutan. Semisal jika kita belum turun dari waktu yang direncanakan biasanya perangkat desa akan mencoba mencari tahu atau bahkan tim SAR akan melakukan pencarian kedalam hutan.
2. Tidak membuang sampah sembarangan
Ini adalah masalah yang kongkrit dan kronis yang terjadi selama ini. Bisa dipastikan disetiap jalur pendakian pasti akan banyak sampah plastik yang bertebaran dimana-mana terutama di selter-selter tempat mendirikan tenda.
Sampah plastik wajib dibawa turun kembali.
3. Tidak merusak apapun yang ada di hutan
Kita bisa lihat disetiap selter atau tempat-tempat untuk mendirikan tenda pasti banyak dari beberapa pendaki yang menebang pohon untuk perapian atau sekedar membuat patok tenda, padahal jelas sebagai orang yang mengatasnamakan pecinta alam seharusnya menjaga alam bukan malah merusaknya.
Untuk itu diharapkan kita lebih bijak dalam menggunakan sumber daya yang ada, kalaupun kita butuh kayu sebaiknya pilih pohon yang sudah mati atau ambil ranting-ranting ditanah yang sudah kering.
Hindari membuat perapian, kalaupun mendesak pastikan api benar-benar padam saat kita akan meninggalkan. Untuk menghindari terjadinya kebakaran hutan.
Kasus yang serupa adalah tentang bunga edelweis, banyak para pendaki yang kurang paham dengan kelestarian pohon ini, alih-alih sebagai cendra mata atau oleh-oleh kita tanpa sadar mengabaikan kelestarian alam. Mungkin kita sering berfikir "memetik cuma setangkai tidak berpengaruh pada kelestarian" yaa itu benar tidak berpengaruh signifikan, tapi coba bayangkan jika tiap minggu di suatu gunung ada 5000 pendaki, dan setiap pendaki memetik satu tangkai edelweis, berapa luas padang edelweis yang akan rusak, itu baru seminggu coba jika dikalikan sebulan atau setahun, bisa dipastikan padang edelweis akan porak-poranda.
Contoh sederhana yang sering kita lihat adalah membuat jalur baru diluar jalur resmi, alih-alih memotong jalur agar lebih cepat, banyak dari para pendaki membuat jalur baru, padahal selain membahayakan diri sendiri karena bisa tersesat, juga secara pasti akan merusak hutan dan ekosistem di jalur baru tersebut. Bayangkan setiap kita membuat jalur baru berapa pohon yang akan kita tebang, berapa lahan yang kita terobos yang dapat mengganggu habitan binatang disekitar daerah tersebut, berapa semak yang akan kita roboh-robohkan dan tentunya penyebaran sampah plastik akan lebih luas. Karena bisa dipastikan setiap jalur pasti takkan luput dari sampah plastik.
4. Tidak mencemari sumber air
Kita harus tahu, bahwa mata air yg mengalir kecil itu adalah sumber kehidupan bagi penduduk yang hidup dibawahnya. Jadi jangan sekali-kali mencemarinya.
Gunakan sesuai keperluan, kalaupun kita harus menggunakannya untuk mencuci peralatan makan ataupun mandi, sebaiknya pilih aliran sungai yang agak besar yang dibawahnya tidak digunakan untuk minum penduduk. Dan jangan sekali-sekali menggunakan sabun atau deterjen.
5. Jika BAB menggunakan sistem gali lubang tutup lubang
Hal ini yang jarang dipahami oleh sebagian pendaki, khususnya pendaki pemula. Karena biasanya mereka seenaknya membuang sisa hasil pencernaannya disembarang tempat, bahkan di jalur pendakian. Selain dapat menjadi polusi udara dan polusi lingkungan juga sangat mengganggu pendaki lain.
Sebagai pendaki yang peduli lingkungan, sebaiknya jika hendak buang air besar harus lebih memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
-pilih lokasi yang aman, jauh dari aliran air dan jauh dari jalur pendakian jangan lupa pastikan aman dari binatang yang berbahaya.
-bawa air dalam botol khusus untuk membersihkan, bisa juga menggunakan tisu, jangan sekali-kali membersikannya di aliran air.
-gunakan sistem gali lubang tutup lubang. Jangan membuat ranjau untuk pendaki lain. Hal ini agar kotoran tidak mencemari lingkungan dan akan cepat terurai. Jika kita tidak membawa parang, bisa juga menggunakan kayu untuk menggali, atau bisa juga dengan mencabut seikat rumput karena biasanya rumput atau semak jika dicabut bekas akarnya akan membentuk lubang, setelah selesai hendaknya tutup kembali dengan rumput tadi seperti semula.
6. Mentaati norma-norma dan adat istiadat setempat
Ingat bahwa kita adalah tamu, hendaklah bersikap sopan dan arif, karena kita juga membawa nama baik kota asal kita. Saat kita memasuki hutan kita juga sebagai tamu, hendaklah menjadi tamu yang baik, jangan membuat kegaduhan yang dapat mengganggu flora dan fauna disana apalagi berburu. Jangan membawa minuman keras, jangan bertindak asusila atau hal-hal lain yang melanggar norma-norma di daerah setempat. Sekali lagi jaga nama baik kita dan kota asal kita.
Demikianlah penjabaran beberapa etika seorang seorang pendaki yang seharusnya kita miliki sebelum mendaki. Mungkin masih banyak lagi hal-hal yang lain yang tak tertulis baku tapi harus kita taati saat kita sedang mendaki atau berada di daerah tertentu.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua agar kita lebih arif saat berkegiatan dialam terbuka.
Selamat mendaki....
Salam rimba...!!! Salam lestari...!!!
By: Ahmad Pajali Binzah

























































































































































































